Bab 2

Sudah beberapa jam ini Livy resah menghitung tagihan bulanan yang bertebaran di atas meja makannya. Wanita cantik berusia 30-an tahun yang terlihat sepuluh tahun lebih muda itu berulang kali mengusap rambutnya yang tidak gatal.

Ia membolak-balik belasan kertas berisi deretan angka. Tagihan listrik, telepon, air, televisi kabel, pulsa, internet, kartu kredit, cicilan motor, cicilan mobil, pembayaran kredit kontrak rumah dan cicilan kredit biaya rumah sakit mertua. Jumlah terhutang sangatlah besar dan tiap bulannya seakan jumlah itu selalu bertambah besar karena bunga yang ditanggung juga meningkat. Bunga berbunga yang seperti tiada akhir, derita para pengguna kredit.

“Huff...”

Livy menarik napas panjang, mencoba melerai stress dari dalam pikirannya. Ia menyisihkan surat-surat tagihan dan mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat yang berisi tagihan kredit pinjaman pembangunan rumah. Albert dan Livy memang tengah membangun sebuah rumah di kawasan pinggir kota karena sudah bosan selama ini mengontrak terus.

Sayangnya, rumah yang sedang mereka bangun saat ini menurut Livy terlalu besar dan mewah untuk ukuran mereka, bukannya tidak suka, ia hanya merasa dengan kondisi keuangan saat ini mereka belum siap membangun rumah sebesar itu, terlebih dengan kredit di tempat lain yang belum lunas terbayarkan. Terlalu gegabah membayar kredit begitu besar sementara kebutuhan lain belum terlunasi.

Livy sering membujuk Albert agar berhemat karena dia tahu untuk membangun rumah seperti yang diinginkan Albert akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan seandainya mereka mengambil kredit, maka biaya berikut bunganya akan sangat besar karena mereka kemungkinan mengambil kredit tanpa jalur KPR.

Albert selalu saja hanya tertawa dan mengatakan istrinya terlalu banyak khawatir. Namun saat menyesuaikan keuangan rumah tangga dan tagihan hari ini, Livy tahu kekhawatirannya beralasan, ini yang dinamakan besar pasak daripada tiang, pemasukan mereka minim sementara hutang terus membengkak. Saat memeriksa catatan pemasukan Livy bisa menarik napas lega, untungnya jumlah anggaran yang mereka kumpulkan bulan ini cukup untuk membayar semua tagihan. Paling tidak cukup untuk bisa bertahan hidup hingga beberapa bulan kedepan.

Livy berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih hati-hati dalam hal keuangan. Dia berniat memaksa Albert untuk lebih bijaksana. Paling tidak mereka bisa memotong anggaran untuk kartu kredit dan kembali ke pembayaran tunai. Bunga yang ditarik oleh bank untuk kartu kredit sangatlah besar dan membuat mereka mengalami defisit akibat terlalu mudah belanja. Entah bagaimana caranya mereka harus bisa menutup kartu kredit yang dimiliki.

Sebelumnya tiap kali hendak memotong kartu kredit permintaan Livy selalu ditampik oleh Albert. Suami Livy itu selalu mengulang-ulang kata-kata andalannya, kalimat yang sama yang sekarang bagaikan di-loop berulang di benak Livy.

Jangan khawatirkan masa depan, karena semuanya belum terjadi. Jangan pula khawatirkan masa lalu, karena apa yang terjadi sudah tidak bisa diulangi. Lebih baik kita nikmati apa yang ada pada saat ini dengan berpikiran positif. Percayalah, semua akan baik-baik saja.

Seandainya mengesampingkan kesulitan finansial yang dialami keluarganya, kehidupan Livy sangatlah sempurna. Menikah saat berusia muda setelah lulus kuliah, dia memiliki suami tampan dan berpenghasilan mapan, dua anak yang hebat dan pintar, keluarga yang mandiri yang tidak bergantung pada orang tua.

Nikmat mana lagi yang didustakan? Dia amat mencintai Albert dan suaminya itu memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi satu keluarga sederhana. Bersama kedua putranya yang masih kecil, ibu muda yang cantik ini memiliki segala yang mereka inginkan. Hanya sayangnya, mereka tidak punya tabungan di bank seandainya sewaktu-waktu diperlukan pengeluaran mendadak.

Livy tersenyum saat teringat pada kedua anak kebanggaannya. Danny, putranya yang paling besar baru saja naik kelas 2 SD, sedangkan adiknya Dion sebentar lagi akan masuk ke TK B. Keduanya anak cerdas dan membanggakan, namun mengingat kebutuhan mereka yang makin hari makin banyak, senyum Livy memudar. Alat tulis, buku dan seragam semakin mahal. Belum lagi Danny sudah dekat waktunya kursus untuk menambah pelajaran di luar sekolah, tentu biaya yang dibutuhkan akan sangat besar kalau mereka mengadakan hal tersebut.

Livy mencari amplop berisi uang belanja bulanan yang biasa diberikan Albert. Begitu menemukannya, Livy langsung menghitung uang yang diberikan Albert bulan ini.

"Kok aneh…? Tumpukannya terasa lebih tipis, jangan-jangan…."

Livy menghitung jumlah uang yang ada di sana. Keningnya berkerut. Livy menghitungnya lagi. Ibu muda yang cantik itu meneguk ludah.

"Kok… cuma segini?"

Takut salah, sekali lagi Livy menghitung ulang.

Tidak! Dia tidak salah hitung! Memang cuma segini.

Betapa kagetnya Livy begitu tahu jumlah pemberian uang belanja bulan ini sangat sedikit. Tidak akan mencukupi kebutuhan rumah tangga selama sebulan. Livy tidak meminta uang belanja yang berjuta-juta, cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Tapi jumlah uang yang mepet itu ternyata masih dipotong lagi oleh Albert. Mana suaminya itu juga tidak bilang diambil untuk keperluan apa.

Livy menarik napas panjang, tangannya menjulur mengambil smartphone, jemari lentiknya lincah menyusuri layar sentuh. Albert belum juga membaca pesan WhatsApp darinya sejak siang tadi. Kemana saja dia? Livy tidak suka mencampuri pekerjaan Albert, tapi karena sudah hampir jam pulang, ia beranikan diri memencet nomor sang suami.

Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan. Jawaban dari operator sana.

Livy mencoba telepon kantor.

“Selamat sore. Ini dengan istri Pak Albert, apa bisa disambungkan dengan beliau?” Livy menunggu sebentar, “oh sudah pulang sejak tadi ya? Baik terima kasih, Nona. Iya tidak apa-apa, saya hubungi ponselnya saja. Iya, terima kasih….”

Livy meletakkan gawainya dengan terheran-heran. “Kemana lagi dia? Bukannya pulang malah keluyuran?!”

Saat itu juga terdengar pintu depan terbuka, langkah kaki yang sangat dihapal Livy masuk ke ruang tamu. Panjang umur. Lega sekali Livy suaminya sudah pulang.

“Maaa, aku pulang. Masakin air, ya. Aku mau mandi air panas. Lelah sekali. Hari ini pekerjaanku gila-gilaan.”

Belum sempat Livy berdiri dan menyambut suaminya, Albert sudah masuk kamar dan ambruk di tempat tidur. Livy hanya menghela napas panjang dan menyiapkan ceret untuk memasak air.

Sayangnya Livy tidak tahu, Albert sebenarnya menyimpan rahasia.

Tanpa sepengetahuan Livy, Albert sebenarnya memiliki hobi lain yang tidak sehat. Sudah bertahun-tahun Albert berjudi tanpa sepengetahuan Livy. Bahkan dia adalah seorang pemain judi yang sudah akut. Sebelum pulang hari ini pun dia menyambangi arena taruhan dan di luar rumah tadi dia menyobek-nyobek kupon taruhannya karena lagi-lagi salah memasang nomor. Perhitungannya meleset jauh padahal jumlah uang yang dijadikan taruhan tidak sedikit. Itulah sebabnya kenapa kali ini dia pulang ke rumah dengan sangat lesu.

Bersambung ...

Makin seru saja bukan. Baca terus yuk

Bab 3

“Pa, kenapa bulan ini isi amplop coklat Mama berkurang banyak, ya? Kan tidak cukup untuk bayar macam-macam sebulan?” Livy mencoba berhati-hati menanyakan perihal jumlah uang belanja sembari merapikan sepatu dan tas kerja Albert, ketika ia memasuki kamar dan menemui suaminya tergeletak lemas di ranjang.

“Mama sih cuma butuh untuk membayar tagihan dan belanja saja, tidak perlu lebih. Tapi sepertinyanya yang bulan ini tidak cukup untuk membayar semuanya.”

Masih berbaring di ranjang, Albert menjawab dengan kepala masih terbenam di bantal, “santai saja, Ma. Ada kok. Aku cuma pinjam sebentar untuk membeli keperluan kantor sama beberapa koleksi. Besok pasti aku ganti. Tenang saja.”

Suara lembut Albert membuat hati Livy luluh. Si cantik itu sangat mencintai suaminya dan dia tahu Albert juga memujanya. Yah, memangnya kenapa kalau suaminya itu sedikit boros? Uang belanja adalah uang Albert juga, sehingga kalau dia memang memerlukannya, tidak ada salahnya Livy rela. Apalagi Albert sudah memberikan banyak hal untuk Livy dan anak-anaknya. Albert sudah membuai mereka dengan harta benda dan kasih sayang berlimpah.

Tiba-tiba saja tangan Albert menarik Livy hingga rebah di ranjang. Livy tertawa kecil sembari meronta dan mencoba bangkit.

“Shhh, anak-anak belum tidur. Jangan aneh-aneh ah,” Bisik Livy pada suaminya yang tiba-tiba saja ‘menyerangnya’. Sekali dua kali Livy melirik ke arah pintu kamar dan berharap kedua anaknya tidak tiba-tiba muncul.

“Lah, kenapa aku tidak boleh bersenggama istriku sendiri?”

“Pa! Bahasanya kok jorok gitu? Kampungan!”

“Hm, kalau dulu aku tahu akan menikahi perempuan lugu, aku pasti protes keras pada almarhum Ayah dan Ibumu,” canda Albert. “Mereka membesarkan seorang anak perempuan yang pintar dan cantik jelita tapi naif luar biasa.”

“Tidak lucu. Memang kenapa kalau aku anak kemarin sore yang naif atau lugu? Salah sendiri kamu mau menikah sama aku.”

Albert mengamati istrinya. Rambut panjang indah menggelora, bulat mata indah dengan bulu mata yang lentik, pipi halus tanpa bercak ataupun jerawat, kulit mulus seputih susu, buah dadanya masih membusung kencang, pinggang langsing, pinggul sempurna di atas bokong yang bulat merangsang dan kaki jenjang yang sangat menawan.

Saking mempesonanya, dulu pernah sekali waktu, seorang agen iklan meminta Livy menjadi model iklan sabun mandi terkenal, namun Livy menolaknya karena ia hanya ingin menjadi ibu rumah tangga biasa. Sejak menikahinya hingga kini, Albert selalu mengagumi kemolekan istrinya yang hampir sempurna, anugerah terindah yang pernah ia miliki. Kemanapun Livy pergi, mata para kaum Adam selalu mengikuti alunan anggun gerak tubuhnya. Sungguh Albert seorang lelaki yang beruntung.

Tangan-tangannya dengan nakal menjelajahi perut Livy. Masih seperti perut seorang gadis remaja, padahal kenyataannya sudah melahirkan dua orang anak.

“Bukan naif dan lugu ya? Hmm... kalau begitu kamu ini wanita konservatif," seru Albert.

“Maksudnya?” tanya Livy.

Albert mulai menyesal memulai percakapan ini.

Livy sangat lugu dan naif dalam hal bercinta dan berpenampilan. Pakaian yang dikenakan istrinya selalu sopan dan tidak pernah menonjolkan keindahan tubuhnya. Livy juga bukan seorang petualang di ranjang. Dia pemain seks yang amatir dan monoton. Berciuman, saling raba lalu bercinta dengan posisi missionary. Selalu begitu, tidak ada inovasi posisi, tidak ada perubahan, konvensional.

Sekali dua kali, Albert bisa melakukan gaya yang lebih lebih menantang, tapi istri Albert itu tidak pernah mengijinkan kemaluan sang suami menyentuh bagian sensitif belakangnya dalam kondisi apapun, anal sex adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Walaupun Livy pernah mengatakan kalau istilah doggie style itu juga merendahkan diri sama seperti binatang, namun dalam kondisi ‘panas’ Livy biasanya menyerah pada keinginan suaminya.

Di awal pernikahan mereka, Albert pernah mencoba melakukan oral seks pada bibir kewanitaan Livy, tapi istrinya itu langsung menjerit dan melonjak-lonjak marah. Dia menghardik Albert dan menandaskan kalau kemaluan mereka kotor dan tak layak dicium atau dijilat.

Livy tidak pernah mengerti kenapa Albert ingin menjilati bibir kemaluannya yang merupakan sumber penyakit. Sebaliknya pun begitu. Suatu ketika sesaat setelah Albert meminta Livy mengulum miliknya, istrinya itu langsung mengunci diri di dalam kamar mandi dan tidak mau keluar selama dua jam. Sejak saat itu Albert tidak pernah meminta posisi yang aneh-aneh lagi. Asal bisa menyentuh istrinya, posisi missionary pun jadilah.

“Jadi? Kok malah bengong? Ayo jelasin! Kenapa konservatif?” lanjut Livy. “Apa karena aku ini kolot dan konvensional? Bukan wanita murahan? Bukan wanita yang kamu suruh apa-apa aja mau? Digulingkan kesana kesini terus buka paha?”

“Duh, kejauhan nih. Kenapa jadi begini ya? Sudahlah. Lupakan saja.”

“Tidak mau ah. Kan kamu yang memulai percakapan ini, jadi aku ingin mendengar lanjutannya. Kenapa aku ini wanita konservatif?”

“Yah, Mama kan memang tidak ingin mencoba hal-hal baru saat bercinta denganku, jadi....”

“Aku melakukan apa yang menjadi tugasku,” kata Livy penuh emosi. “Aku sudah berusaha menjadi seorang istri yang baik, setia, selalu melakukan apa yang kamu minta dan telah memberimu dua orang anak yang cerdas! Masih kurang?”

“Iya… iya… Maafkan Papa, ya? Kamu benar, Mama sayang, aku minta maaf.” Albert mengalah. Dia berusaha mengembalikan mood sang istri yang nampaknya mulai naik pitam. Tangannya kembali bergerak menggerayang.

“Malas!” tolak Livy sambil menepis tangan Albert yang mulai meremas bukit kembarnya. livy bangkit dari ranjang. “Itu airnya sebentar lagi siap.”

Albert memahami nada suara istrinya yang tinggi dan memiringkan badan untuk mengecup bibir Livy. Albert bagaikan mengecup sebatang es batu. Dingin, dan tanpa membuka mulut. Setelah mencium bibir Albert tanpa ekspresi, Livy melangkah keluar kamar. Albert ikut bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.

Entah kenapa, setelah duabelas tahun menikah dan hapal dengan sifat-sifat Livy, dia dengan bodohnya memutuskan untuk membicarakan hal yang menyinggung perasaan istrinya. Kalau sekarang malas, nanti malam pasti juga ditolak kalau minta jatah. Suami Livy itu terpaksa menyelesaikan semua nafsu sendirian di kamar mandi untuk melepas hasrat birahinya.

Bukannya bisa menikmati Livy, malah harus kerja sendiri di kamar mandi.

Sial sekali ini, dasar sial. Gerutu Albert.

***

Mr. Ransom adalah pensiunan Militer berusia 62 tahun dengan tubuh tambun dengan kulit hitam kecoklatan akibat terlalu sering berjemur di bawah sinar matahari. Wajahnya sudah dipenuhi keriput, matanya kuning kemerahan dan rambut keritingnya mulai membotak. Wajahnya bukan wajah seorang pria tua yang simpatik, bahkan cenderung buruk rupa.

Bersambung…

Makin penasaran saja bukan dengan kisah 3 kakak beradik ini. Ikutin terus yaa

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED