"Mas Daris!" Panggil Rainaldi dan membuat Daris memberhentikan laju motornya.
"Ada apa?"
"Kebetulan lewat sini, jadi mau bertemu dengan Mas sebentar."
"Aku lagi terburu-buru. Kalau enggak ada hal yang penting, aku mau pamit duluan."
"Tunggu sebentar, Mas. Cuma mau nanya apa Raina baik-baik saja?"
Rainaldi memang sudah terbiasa bertanya kepada Daris tentang keadaan Raina. Selama beberapa tahun belakangan ini, Rainaldi selalu bertanya kepada Daris tentang keadaan, dan kondisi Raina.
"Seperti nya Rainaldi belum tau. Sebaiknya aku merahasiakan masalah ini darinya, kalau dia sampai tau bisa-bisa aku babak belur. Di pukul sekali oleh Raihan saja membuat pipi ku memar," batin Daris.
"Dia baik-baik saja seperti biasa. Kau, tidak perlu khawatir. Aku, benar-benar sedang sibuk saat ini. Lain kali kita bertemu lagi," ucap Daris sambil tersenyum tipis, kemudian ia menyalakan mesin motor nya dan melaju meninggalkan Rainaldi.
"Apa benar Raina baik-baik saja? Kalau kata, Mas Daris baik-baik saja berarti memang tidak terjadi apa-apa saat ini," gumam Rainaldi dan ia pun juga melajukan motornya meninggalkan area tersebut.
.....
Setelah pulang dari bekerja, Raina terus mengurung dirinya di dalam kamar. Kedua orangtua dan kakak perempuannya tidak bisa berbuat apa-apa. Raina tidak menghiraukan keluarganya yang terus-menerus mengetuk pintu kamarnya. Mereka hanya bisa mendengar suara tangis Raina.
Anehnya saat berada di tempat umum, Raina bersikap seperti biasa saja, seperti tidak terjadi masalah. Namun, ketika ia sampai di rumah, Raina langsung menumpahkan semua kesedihannya.
Berhari-hari sudah waktu terlewatkan, kondisi kesehatan Raina semakin menurun. Ia sampai harus bertengkar dengan Ayahnya karena tetap memaksa untuk pergi bekerja. Pada akhirnya Raina harus menuruti perintah orang tuanya untuk tetap berada di rumah.
"Tidak bisa seperti ini terus, kita harus melakukan sesuatu?" Ayah Raina mengajak istri dan anak tertuanya untuk berdiskusi.
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Dia bahkan tidak mau berbicara dengan kita," sahut Mama Raina.
"Ayah, akan mencari calon suami untuk Raina."
Mama dan Nanda yang merupakan kakak Raina saling melemparkan pandangan mereka, tentu saja mereka sangat terkejut dengan ide yang di berikan.
"Bukannya malah makin memperburuk keadaan, Raina. Bagaimana bisa, tiba-tiba kita harus menikahkannya dengan orang lain. Mama, tidak setuju."
"Nanda, juga tidak setuju."
"Lalu, mau sampai kapan kita membiarkan Raina seperti itu. Dia, harus memiliki seseorang di sampingnya untuk melupakan Daris. Ayah, akan menghubungi Raihan dan akan melanjutkan diskusi ini ketika dia sudah sampai." Pak Reza, beranjak dari duduknya dan mengambil ponselnya kemudian ia menghubungi Raihan.
Tidak butuh waktu lama, setelah lima menit, Raihan sampai di kediaman Raina.
Untuk saat ini Raina belum mengetahui rencana Ayahnya, karena ia masih saja terus mengurung diri di dalam kamar.
"Ada apa, pakde memanggil saya?"
"Duduk dulu. Ada yang ingin pakde diskusikan."
"Jangan di dengarkan omongan, pakde mu," ucap Mama Raina.
"Bagaimana menurut mu, kalau pakde menjodohkan Raina dengan orang lain, yang benar-benar mau menerima Raina."
"Pakde bercanda? Kita yang sudah bertahun-tahun kenal dengan Daris saja, bisa kena tipu. Apalagi kalau Raina di jodohkan dengan orang lain."
"Ya, enggak dengan orang lain juga. Yang pakde maksud orang lain seperti, kamu, Rainaldi dan Yuda. Yang jelas-jelas keluarga pakde itu kenal kalian dengan baik."
"Jadi maksudnya, pakde mau jodohin Raina dengan salah satu di antara kami, begitu?"
"Kalau itu bude setuju."
"Berarti pilihannya antara Rainaldi atau Yuda."
"Kamu kenapa langsung mundur. Kalian sudah berteman sejak lama, tidak mungkin kamu tidak pernah menyukai Raina?"
"Raihan, masih sedang memperbaiki hubungan dengan Yuli. Jadi, Raihan memilih untuk mundur. Masalah ini, biar Raihan yang akan berbicara dengan Rainaldi dan Yuda. Bude dan pakde jangan bicara apa-apa dulu dengan mereka. Mereka berdua belum mengetahui masalah yang menimpa, Raina."
"Pantas saja mereka tidak ada datang kerumah."
"Tapi, bukannya Yuda sudah memiliki pacar. Walaupun Yuda sudah tidak tinggal di Bandung lagi, yang kakak dengar Yuda menjalani hubungan jarak jauh."
"Apa salahnya kalau, Raihan bertanya lebih dulu padanya."
"Baiklah, masalah berbicara dengan Rainaldi dan Yuda, pakde serahkan kepada mu. Kalau bisa secepatnya, kamu kabari pakde."
"Apa Raina masih belum mau keluar kamar?" Tanya Raihan sambil matanya melihat ke arah pintu kamar Raina.
"Belum," jawab pakde singkat.
Raihan segera berjalan dan berdiri di depan pintu kamar, ia mengetuk-ngetuk pintu itu dan memanggil-manggil Raina. Masih sama seperti sebelumnya, Raina tidak mau menemui siapa pun.
.....
Raihan terlihat sedang berpikir dan ia juga bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan keinginan, pakde Reza kepada Rainaldi dan Yuda.
Ia tau betul kalau sampai saat ini Rainaldi masih memiliki perasaan terhadap Raina. Seharusnya dari awal ia sudah bisa memutuskan kalau Rainaldi lah, yang paling memungkinkan untuk bisa mendampingi Raina saat ini. Namun, setelah mengingat perbuatan Rainaldi terhadap dirinya, yang membuat hubungannya dengan Yuli jadi kandas, membuat Raihan harus berpikir berulang kali.
Di tengah kebingungannya ponsel Raihan berdering tertera nama Yuda di layar ponselnya, segera ia menjawab panggilan tersebut.
"Apa kau ada waktu hari ini?" Raihan langsung bertanya, padahal si penelpon belum sempat mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Ada apa? Kau seperti tergesa-gesa?" Tanya Yuda yang merasa heran.
"Kalau, kau tidak sibuk langsung datang sekarang ke klinik. Aku, akan menunggu mu."
"Apa ada masalah?"
"Jangan banyak tanya, langsung saja datang sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarakan."
"Baiklah."
Raihan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Sementara rasa khawatir Yuda semakin besar.
Awalnya, Yuda menghubungi Raihan untuk menanyakan kabar, Raina. Pasalnya ia tidak bisa menghubungi Raina selama beberapa Minggu belakangan ini. Namun, mendengar suara Raihan dari balik telepon saja, sudah membuat Yuda menduga bahwa ada sesuatu yang tidak beres saat ini. Yuda pun dengan cepat keluar dari rumahnya, dan langsung menuju ke klinik tempat Raihan bekerja, lebih tepatnya klinik tersebut milik Raihan. Setelah mendapat gelar Dokternya dan bekerja beberapa tahun di rumah sakit, Raihan memilih untuk membuka kliniknya sendiri.
Yuda yang telah sampai langsung masuk keruangan Raihan, dan kebetulan saat itu sedang tidak ada pasien.
"Kalau tidak ada pasien yang mendesak, kalian tangani saja dulu," Ucap Raihan kepada perawat yang bertugas dari balik pintu ruangannya.
"Apa ada masalah dengan, Raina?" Tanya Yuda.
"Benar. Ini bahkan masalah yang serius. Jadi, tolong dengarkan aku, dan jawab saja pertanyaan ku. Setelah itu, aku akan memberitahu mu masalah yang sedang di hadapi, Raina."
"Apa kau benar-benar memiliki pacar di Bandung? Aku, meragukan mu tentang hal itu. Aku, punya pengalaman tentang berpacaran, dan sikap orang berpacaran itu beda dengan orang yang masih sendiri. Jadi, untuk pertanyaan ini tolong jawab dengan jujur."
"Apa kau mencoba mengerjai ku?"
"Sudah ku bilang jawab saja pertanyaan ku. Semua yang ku tanyakan nanti pada mu itu akan sangat penting." Raihan melihat Yuda dengan tatapan serius.
"Itu... Sebenarnya... Bagaimana aku harus mengatakannya." Ucapan Yuda sedikit terputus-putus, ia sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaan dari Raihan. Tapi, karena situasi saat ini sepertinya mendesak, maka mau tidak mau ia harus menjawab dengan jujur.
"Aku, tidak punya pacar di sana. Sebenarnya sekalipun, aku belum pernah berpacaran," Jawab Yuda dengan sedikit malu-malu.
"Kenapa kau harus berbohong?"
"Supaya, aku punya bahan untuk bercerita lama-lama dengan Raina."
"Apa kau menyukai Raina?"
"Iya, aku menyukai nya."
"Bagaimana dengan sekarang?"
"Masih tetap suka dan mencintai nya, bahkan perasaan ku tidak pernah berubah dari waktu SMA. Tapi sekarang, aku sudah menyerah. Terakhir kali, Raina menghubungi ku, dia mengatakan akan segera menikah dengan Mas Daris. Jadi, kemungkinan aku akan mulai mencari pacar sungguhan, agar aku bisa melupakan perasaan ku pada Raina."
"Baiklah, jawaban mu sudah cukup dan aku percaya. Jadi, selama ini dugaan ku benar kalau kau hanya berpura-pura punya pacar di Bandung."
"Karena, aku sudah menjawab pertanyaan mu. Jadi, katakan sekarang apa sebenarnya yang terjadi pada Raina?"
"Raina, dia memutuskan hubungan dan pertunangannya dengan Mas Daris."
Yuda yang mendengarnya seketika kaget, bagaimana bisa dalam waktu satu bulan semuanya berubah seperti ini. Rencana ingin menikah dalam waktu dekat malah berakhir putusnya suatu hubungan.
"Bagaimana bisa? Kenapa mendadak Raina dan Mas Daris putus?"
"Mas Daris menghianati Raina. Bukan seperti perselingkuhan biasa, Mas Daris bahkan tidur dengan wanita itu."
"Apa dia sudah tidak waras, dia sudah bersama dengan Raina selama bertahun-tahun. Bahkan mereka sudah memutuskan untuk menikah. Kalau sudah tidak tahan, kenapa harus tidur dengan wanita lain. Padahal dia bisa saja mempercepat pernikahannya dengan Raina." Nada bicara Yuda meninggi, suaranya bahkan sampai terdengar keluar, hal itu terbukti ketika salah seorang perawat tiba-tiba membuka pintu ruangan Raihan. Perawat tersebut hanya memastikan kalau tidak ada kegaduhan yang terjadi di dalam.
"Kita gak bertengkar. Tidak ada apa-apa, kok," ucap Raihan melihat kearah perawat yang bekerja dengannya, setelah itu perawat tersebut menutup pintunya kembali.
"Pelankan suara mu, ini masalah sensitif."
"Aku emosi mendengarnya."
"Aku tau bagaimana rasanya. Saat pertama kali mendengarnya, aku langsung meninju wajahnya."
"Tidak cukup hanya dengan meninjunya. Raina, dia sangat semangat saat cerita padaku kalau mereka akan segera menikah. Lalu, Raina bagaimana keadaannya sekarang ini?"
"Menurut mu apa dia baik-baik saja? Keadaannya sangat buruk. Aku minta maaf padamu sebelumnya, karena tidak memberitahumu dari awal. Keluarga Raina yang lain bahkan tidak mengetahui hal ini. Orang luar yang tau permasalahan ini hanya aku dan kau. Dan... Jangan beritahu, Rainaldi. Dia tidak boleh tau hal ini."
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan beritahu. Ada satu hal yang paling penting yang ingin aku sampaikan juga. Ini keinginan dari, Pakde Reza. Dan aku harap, aku maupun pakde tidak membuat keputusan yang salah. Apa, kau mau menikah dengan Raina?"
Mendengar kalimat terakhir Raihan, membuat detak jantung Yuda hampir berhenti.
"apa kau bilang? Menikah dengan, Raina?" Tanya Yuda mencoba memastikan apa yang telah di dengarnya tadi.
"Benar... Pakde Reza, yang meminta ku untuk bertanya langsung padamu. Ah... Tidak, lebih tepatnya, pakde Reza memilih salah satu di antara kita bertiga. Namun, aku memilih mundur karena, aku masih mencintai Yuli. Pakde meminta ku untuk berbicara dengan mu dan Rainaldi. Tapi, belakangan ini Rainaldi bersikap agak aneh jadi, aku kurang yakin membicarakan masalah ini dengannya. Itu sebabnya aku melarang mu untuk membicarakan masalah ini dengannya. Kau, tau sendirikan bagaimana perasaan Rainaldi terhadap Raina."
"Justru itu, kenapa kau tidak berbicara lebih dulu pada Rainaldi dan malah memilih ku."
"Seperti yang ku bilang sebelumnya. Belakangan ini, sikap Rainaldi agak aneh dan mencurigakan, apa kau tidak merasakan perubahan pada Rainaldi?"
"Aku tidak terlalu memperhatikannya. Karena, selama ini aku menganggapnya sebagai saingan."
"Kalian mencintai orang yang sama, tapi cara kalian menunjukkannya sangat berbeda. Kita balik lagi membahas topik awal. Jadi, bagaimana? Kau setuju menikah dengan Raina?"
"Lalu bagaimana dengan Raina? Apa dia tau tentang ini?"
"Belum. Kami akan memberitahunya nanti setelah mendapat jawaban dari mu."
"Lalu bagaimana kalau Raina menolak?"
"Maka itu tugas mu untuk menyakinkannya. Pakde, bertindak sampai sejauh ini demi kebaikan Raina. Bila ada seseorang yang terus berada di sampingnya, maka dia bisa saja melupakan Daris."
"Pernikahan ini akan menjadi berat bagi Raina. Aku mungkin tidak masalah kalau ia belum bisa menerima ku sepenuhnya, karena aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun. Tapi Raina, mungkin dia akan merasa risih bila dekat dengan ku."
"Kalau begitu pikirkan cara bagaimana agar Raina tidak terganggu dengan kehadiran mu di setiap ia bangun tidur."
"Sesulit apapun dia menerima mu sebagai suaminya nanti, kalau kau terus bersikap perhatian padanya, hati Raina pasti akan luluh."
"Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan Raina."
"Oke, kalau begitu satu masalah ini telah terselesaikan. Nanti malam jam 8 malam, kau langsung datang kerumah Raina. Karena, kita harus bergerak cepat."
"Tapi, ada yang membuat ku penasaran sedari tadi. Bagaimana kalian bisa tau kalau, Mas Daris telah tidur dengan wanita lain. Kalau di pikirikan lagi, sepertinya tidak mungkin Mas Daris melakukan hal itu."
Raihan memberikan ponselnya pada Yuda dan memberikan bukti-bukti perselingkuhan Daris.
Yuda semakin kaget saat melihat foto dan video Daris saat sedang bersama wanita lain. Siapa pun yang mengenal Daris tidak akan menyangka kalau pria itu akan melakukan hal yang serendah itu.
"Apa Raina menerima bukti ini secara langsung?"
"Hmmm... Makanya sekarang keadaannya sangat kacau. Jadi, menikahkannya dengan pria lain adalah pilihan yang tepat, walaupun terkesan sangat ekstrim."
"Baiklah, sekarang aku sudah paham dengan situasinya. Tetapi, apabila Raina tetap bersikeras untuk tidak mau menikah, aku akan mundur. Bagaimanapun, keputusan Raina paling penting. Karena, pernikahan tidak bisa di paksa."
"Kita akan memikirkan langkah selanjutnya, kalau Raina menolak. Untuk sekarang kita hanya perlu mencoba berbagai cara."
"Ya, sudah kalau begitu aku pulang dulu, aku perlu berpikir untuk mencari cara supaya bisa membujuk Raina."
"Semoga saja jalan yang kita pilih ini bisa membantunya." Raihan mengantar Yuda sampai pintu depan klinik.
Perasaannya masih belum bisa tenang, karena perjalanannya masih panjang untuk mengobati luka di hati Raina.
Ketika hendak masuk kembali ke dalam klinik, ia melihat Yuli di halaman depan. Ada rasa bahagia di hati Raihan, namun di sisi lain ada juga rasa kecewa.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Yuli yang kini sudah berdiri di depan Raihan.
"Masuklah!"
"Tolong buatkan minum!" Pinta Raihan kepada salah seorang perawat.
Raihan dan Yuli berjalan memasuki ruangan pribadi milik Raihan yang letaknya masih di dalam klinik.
"Apa mereka sudah balikan?"
"Kalau di lihat dari wajahnya Yuli, kayaknya enggak, deh."
"Terus..."
"Jangan bergosip. Kalian di gaji untuk bekerja? Verbedent bad pasien yang baru pulang tadi!" Salah satu perawat yang sudah senior langsung menghentikan perbincangan antara perawat yang lain. Ia hanya tidak ingin ada rumor aneh yang tersebar, sehingga bisa membuat Raihan menjadi tidak nyaman.
"Ada apa? kamu sampai datang menemui ku disini."
"Aku sudah memikirkannya selama beberapa bulan belakangan ini. Dan aku menyadari kesalahan ku." Yuli tertunduk saat berbicara dengan Raihan, ia tidak berani menatap wajah pria itu.
"Ini bukan pertama kalinya. Kau selalu memulai pertengkaran dengan ku, dengan alasan kalau kau tidak menyukai, aku yang dekat dengan Raina. Kali ini kau bahkan yang memintanya secara langsung untuk menjauhi ku."
"Karena, kau tidak pernah mau mendengarkan aku untuk menjauhinya."
"Alasannya tetap sama kan, kau takut kalau aku mungkin akan jatuh hati pada Raina. Selama bertahun-tahun kita menjalin hubungan, permasalahannya hanya itu-itu saja. Raina sudah berpacaran, dia sudah bertunangan. Apalagi yang harus kau cemburui."
"Padahal aku sudah senang, karena kalian akhirnya akur. Lalu, apa yang tiba-tiba membuat mu berulah lagi?"
"Ada seseorang yang mengatakan kalau Raina pernah menyukai mu. Jadi, aku takut kalau dia mungkin akan mencoba menggoda mu."
"Kau tau, bagaimana perasaan ku saat Raina menjauhi ku, tanpa alasan. Saat itu membuat ku bingung, aku merasa tidak melakukan kesalahan. Tapi, tiba-tiba dia menjauhi ku begitu saja. Bahkan dia menganggap ku seperti orang lain saat kita berpapasan di jalan."
"Aku tau, aku yang salah karena terus berusaha untuk memisahkan kalian."
"Jadi, siapa orang yang mengatakan omong kosong itu pada mu? Apa Rainaldi?"
Yuli langsung mendongakkan kepalanya, sebagai pertanda kalau memang Rainaldi lah orangnya.
Raihan tersenyum kecut sebagai ungkapan rasa kecewanya. Bagaimana bisa sahabat yang ia percayai selama ini, berusaha untuk memisahkannya dengan Raina.
"Jadi, apa tujuan mu datang kemari?"
"Aku ingin minta maaf. Pada akhirnya aku tidak bisa berpisah dari mu. Aku berpikir hubungan kita tidak bisa berakhir begitu saja. Apalagi Rainaldi tidak menepati janjinya."
"Apa yang dia janjikan pada mu?"
"Aku sadar konsekuensinya kalau aku meminta mu untuk meninggalkan Raina, kau pasti akan memarahi ku. Jadi, Rainaldi berjanji agar hal itu tidak terjadi. Ia akan berusaha untuk membujuk mu agar kau tidak meninggalkan aku. Tapi, kenyataannya setelah pertengkaran kita, dia tidak melakukan apa-apa, bahkan dia memblokir nomor ponsel ku."
Apa sebenarnya yang ada di pikiran anak itu, kenapa ia harus bertindak sampai sejauh ini. Sekeras apapun Raihan berpikir ia tidak bisa menemukan jawabannya. Bertanya secara langsung kepada Rainaldi adalah pilihan yang paling tepat. Tapi, dari pada itu, masalah Raina paling mendesak. Mungkin untuk sementara waktu ia harus berpura-pura tidak tau sambil mengawasi Rainaldi dari kejauhan. Ternyata perubahan yang ia lihat dari Rainaldi bukan hanya firasat belaka. Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres dari Rainaldi.
"Kalau dari beberapa bulan yang lalu kau langsung mengaku seperti ini, mungkin hubungan kita tidak akan serumit ini. Aku, sengaja tidak mendesak mu, dan menunggu sampai kau mengakui kesalahan mu sendiri."
"Lalu, apa kau mau memaafkan aku?"
"Memangnya kesalahan kamu yang mana, yang tidak pernah aku maafkan. Sekali lagi aku tekankan, aku tidak bisa jauh dari Raina bukan karena aku mencintai nya sebagai seorang wanita. Tapi, dia adalah kakak dan juga adik bagi ku, seperti itulah ikatan kami. Aku, mungkin akan berhenti perduli padanya ketika ia sudah menikah nanti. Jadi, tolong jangan pernah cemburu lagi."
"Itu berarti kau sudah memaafkan aku." Terlihat senyum Yuli yang merekah.
"Tapi, aku masih marah pada mu. Untuk beberapa minggu kedepan aku akan sibuk. Aku tau memperbaiki hubungan kita adalah penting. Tapi, aku harus menyelesaikan masalah yang lebih penting lagi. Jadi, untuk saat ini jangan menghubungi ku dulu. Kalau aku sudah menyelesaikannya, aku yang akan datang padamu."
"Kau janji."
"Apa aku pernah melanggar janji ku?"
"Baiklah aku akan menunggu. Karena, ini kesalahan ku. Aku akan menganggap ini sebagai hukuman."
Kemudian Raihan dan Yuli keluar dari ruangan, ia mengedarkan pandangannya mencari perawat yang ia suruh untuk membawa minuman tadi.
"Mana Aldi?" Tanya nya.
"Iya, Dokter saya di sini." Aldi langsung menghampiri Raihan.
"Bukannya tadi saya menyuruh mu untuk membawakan minuman?"
"Maaf, saya tidak berani masuk, karena suasananya sangat mencekam. Sebelum masuk tadi saya mengintip sedikit dari balik pintu."
Raihan hanya menghela napasnya melihat kelakuan Aldi, maklum saja perawat itu baru beberapa bulan bekerja di klinik. Waktu itu Aldi menyaksikan pertengkaran hebat antara Raihan dan Yuli. Mungkin saat ini ia masih menyimpan rasa trauma.
Disaat Yuli hendak pergi dari klinik, terlihat Rainaldi yang datang, kedua orang tersebut pun berpapasan tanpa saling menegur. Yuli melihatnya dengan tatapan sinis, sementara Rainaldi hanya lewat begitu saja tanpa menoleh ke arah Yuli.
Kenapa dia ada disini? Apa dia memberitahu Raihan? Pertanyaan itu muncul di benak Rainaldi, ia mulai merasa gusar. Namun, sudah terlanjur kedatangannya sudah terlihat oleh Raihan. Sehingga mau tidak mau ia harus tetap menemui Raihan, seperti niat awalnya.