Bab 2

BAB 2 – Di ranjangmu ada siapa?

Akhirnya mereka tiba di pintu exit, Srikandi segera melakukan finger scan untuk merekam kehadirannya hari itu. Dia memastikan finger scan-nya benar-benar terbaca. Terkadang bos reseknya itu, tidak mau tanda tangan, ketika ada permasalahan absensinya di bagian payroll.

Arjuna segera masuk ke mobilnya. Dia tidak pernah menggunakan supir, alasannya pada pak Bagaskara adalah untuk cost saving, sebetulnya dia tidak mau ada yang melaporkan pada ayahnya, ke mana dia pergi setelah pulang dari kantor.

Srikandi berjalan mengikuti marka pejalan kaki untuk karyawan, sebelah kiri di dalam garis kuning. Jalan itu menghubungkan parkiran yang ada di pintu belakang tembus ke gate exit security yang ada di depan lobi. Arjuna mengendarai mobilnya dan melewati sekretarisnya begitu saja, jangankan menawari tumpangan, sekedar basa-basi mengucapkan duluan pun tidak pernah.

Srikandi sedang berdiri dan fokus pada layar ponselnya, memesan transportasi online. Seketika, suara klakson mengagetkannya.

Tin Tin

“Ayo Sri, udah malem. Aku anterin pulang.” Bisma membuka jendela setengah. Kepalanya menyembul dari balik jendela mobil yang kacanya dia turunkan setengah.

“Mas Bisma duluan aja, aku udah pesen ojol, kasian kalau cancel nanti bonusan trip mereka hangus.” Wanita itu ternyata lebih memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Bisma tersenyum memaklumi, kemudian menutup kembali kaca mobil Alphardnya dan berlalu meninggalkan gerbang.

Tak lama kemudian, ojol yang dipesan Srikandi datang. Dia segera menerima helm yang diberikan pengemudinya dan segera melaju menuju kostannya di paviliun kelas menengah. Sebuah pavilun mini yang di dalamnya, hanya ada kamar tidur dan kamar mandi. Dapur dan ruang tengah milik bersama. Srikandi memang merantau ke kota itu, meninggalkan ibunya yang janda dan adiknya yang baru satu hari yang lalu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Mobil berwarna putih yang dikendarai oleh Arjuna bukan melaju ke arah kediamannya. Dia berbelok ke sebuah apartement di mana Cantika, kekasih sekaligus mantan sekretarisnya tinggal di sana. Arjuna keluar dari mobil dan membawa serta laptopnya, karena belum mengecek pekerjaan Srikandi untuk meeting besok.

Dia berjalan memasuki lobi apartemen. Security yang jaga sudah begitu familier dengannya yang hampir setiap hari mampir ke sana setiap pulang kerja. Bagi Arjuna, Cantika adalah candu, dia bisa mendapatkan kesenangan ketika bersama dengannya. Security menganggukan kepala, memberikan ucapan selamat datang untuk tamunya.

Arjuna membalas sapaannya, kemudian berjalan menuju lift dan menekan angka tujuh. Lantai di mana kamar kekasihnya berada. Lift melaju tidak terasa, akhirnya Arjuna tiba di tempat yang ditujunya. Dia segera keluar dan menuju kamar paling pojok milik Cantika. Sesampainya di sana, dia mengeluarkan kartu akses dari sakunya. Malam itu dia hendak memberikan kejutan pada kekasihnya setelah membuatnya kesel karena dia tidak bisa mengantarnya ke salon sore tadi.

Ceklek

Handel pintu terbuka. Apartemen mini itu hanya memiliki sekat menggunakan lemari dengan desain unik yang membatasi ruang depan dan kamar tidurnya. Hanya lampu temaram yang terlihat berpendar, Arjuna berjalan hati-hati agar tidak membangunkan kekasihnya yang pastinya sudah terlelap. Namun semakin dekat dengan tempat yang dituju, semakin terdengar suara aneh. Apakah kekasihnya belum tidur dan sedang menonton video.

Namun seketika dia menjatuhkan laptop yang ditentengnya. Kedua matanya membulat melihat siluet dua orang manusia yang tengah bergumul mesra di atas tempat tidur. Napas memburu dengan tangan gemetar, Arjuna menekan saklar lampu dan terlihatlah adegan yang membuat darahnya mendidih, sampai ke atas kepala. Kedua orang yang tengah melayang itu, terkejut dengan keadaan yang tiba-tiba terang.

“Cantika!” teriak Arjuna. Wanita itu terlihat kaget dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Ar-Arjuna, Sayang? K-Kamu katanya gak bisa ke sini?” Wajahnya merah ketakutan, suaranya gemetar. Dia tidak menyangka jika Arjuna akan datang malam itu.

“Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi, dengan mulut kotormu.” Arjuna menendang rak lampu tidur, menumpahkan amarah yang memuncak.

Brak!

Kemudian dia mengambil tas laptopnya yang terjatuh. Matanya melirik sinis ke arah lelaki yang masih tengah mengenakan pakaian.

“Lelaki panggilan, teruskan saja, aku tak sudi menjadi pengganggu di antara kalian.” Dengan sinis dan nada penuh tekanan, dia menatap tajam pada lelaki yang memang dia akui wajahnya cukup lumayan.

“S-s--ssayang!” Cantika berusaha turun dari ranjang dengan membalut tubuhnya menggunakan selimut.

“Cih,” ucap Arjuna dengan jijik sambil melirik sekilas pada wanita yang berjalan menuju ke arahnya.

“Ini, aku tak butuh ini lagi!” Arjuna melemparkan kartu akses apartement pada wajah Cantika yang sudah merah padam. Entah apa yang wanita itu rasakan.

“Ak-aku bisa j-jelaskan semuanya!” Wanita itu mencoba memberikan penawaran.

“Aku tidak butuh penjelasan apapun, mulai saat ini, jangan cari aku lagi!” Arjuna setengah berteriak dengan mata membulat penuh kemarahan. Kemudian dia berjalan keluar pintu dan membantingnya dengan sekuat tenaga.

Bab 3

Arjuna mengemudikan mobilnya dengan membabi buta. Beruntung otaknya masih sejalan. Akhirnya dia sampai depan gerbang rumah megahnya. Security segera membukakan pintu. Dia mengangguk pada majikannya yang baru saja memasuki halaman. Arjuna memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia berjalan dengan gemerusuh. Diambilnya anak kunci dari sakunya dan segera dibukanya pintu utama.

Dia memasuki rumah dengan wajah kusut. Kepalanya tertunduk. Dia tergesa-gesa menaiki anak tangga. Tanpa sadar, sepasang mata pak Bagaskara menatapnya dengan menggelengkan kepalanya. Lelaki paruh baya itu tengah mengambil ponsel miliknya yang tadi tertinggal di ruang tengah. Baru saja naik dan belum sempat masuk kamar, terlihat putranya datang dengan wajah terlihat berantakan. Namun lelaki itu tak akan menegurnya sekarang, yang ada hanya akan memicu keributan tengah malam.

Hubungannya dengan Arjuna sedang tidak baik, semenjak dia mengganti Cantika dengan Srikandi. Gadis yang direkrutnya langsung dari universitas. Dia melihat keseriusan dan kerja keras dari wajah gadis itu. Dari tipe wajah dan penampilan, Srikandi bukanlah tipe penggoda. Itulah yang pak Bagaskara simpulkan. semenjak interviewnya dengan gadis itu.

Arjuna melempar tas laptopnya ke atas tempat tidur. Dia menendang meja kecil yang tertata rapi dekat sofa, hingga terpental. Dia benar-benar marah. Tapi dia tidak tahu harus berbicara pada siapa. Dia ingin meluahkan semua kekesalan itu.

Setelah itu dia menjatuhkan tubuh lelahnya, berbaring melintang tak jelas. Dipejamkan matanya, namun bayangan yang menyesakkan itu tak mau pergi.

“Aarrgghhhhh!” Akhirnya dia berteriak dengan keras. Sekeras yang dia bisa. Beruntung kamarnya dilengkapi dengan sistem kedap suara, sehingga tidak ada yang mendengarnya. Tetesan bening mengalir dari sudut matanya. Lelaki angkuh itu akhirnya menangis.

Hampir setengah jam, sebelum akhirnya dia sadar, belum memeriksa slide presentasi untuk meeting besok. Arjuna memaksakan diri. Dia meraih tas laptop yang tadi dilemparnya. Segera dia keluarkan benda itu dari dalamnya. Dinyalakannya, namun sepertinya batterynya habis. Dia beralih ke sofa dan mencolokan kabel charger pada stop kontak listrik yang ada di sana. Namun laptopnya masih tidak mau menyala. Sepertinya benturan tadilah penyebab kerusakan itu.

Arjuna terdiam sejenak. Dia mengambil ponselnya yang tegeletak, terlihat ada puluhan miscall dari kontak yang diberinama CantikaCintaku. Dia abaikan, kemudian dia memilih satu kontak dan menghubunginya.

“Hallo Sri,” ucapnya.

”Halo, iya Pak!” Terdengar jawaban dari ponsel yang diloudspeakernya. Suara sedikit serak dari wanita yang ada diseberang teleponnya.

“Besok meeting jam berapa?” tanyanya.

“Hmmm, jam sembilan Pak,” jawab wanita itu.

“Bisa tolong kontak toko elektronik langganan kita malam ini, siapkan laptop yang sama dengan punya saya, besok saya ambil,” ucap Arjuna.

“Laptop, Bapak kenapa?” suara serak itu bertanya.

“Itu urusan pribadi saya, kamu gak usah ikut campur.” Arjuna menutup teleponnya dan melemparnya ke tengah tempat tidur.

Sementara itu, di bilik sebuah paviliun. Seorang gadis tengah mengumpat kesal.

“Dasar bos gak punya moral, bangunin orang seenaknya, nyuruh semaunya, siapa juga yang mau ikut campur urusan pribadinya? Ih, ogah,” gerutunya. Sementara tangannya tetap menjalankan perintah dari otaknya untuk mencari kontak toko elektronik langganan kantornya.

“Hmm ... malem-malem gini masa nelepon, WA aja, deh!” Akhirnya Srikandi mengirimkan pesan terkait permintaan bosnya.

[Mba, maaf ganggu malem-malem, besok pagi bos aku mau laptop yang baru, tolong siapin, spesifikasinya, samain kayak yang dulu, kalau ada yang lebih bagus, tawarin aja. Mba hapal ‘kan seleranya? PO dan lainnya menyusul ya, nanti saya urus di jam kerja.] Kemudian Srikandi melanjutkan tidurnya.

“Eh, tadi mimpi apa ya, kayaknya tadi aku seneng banget.” Dia menatap langit-langit sambil terlentang, mengingat-ingat mimpinya yang terputus oleh gangguan roaming malam-malam.

“Ah, aku lupa, tapi tadi rasanya bahagia banget, kok bisa lupa, ya?” gumamnya sendirian.

“Ah sudahlah, bikin lagi aja mimpi yang baru, mumpung malam masih panjang,” gumamnya sambil memejamkan matanya. Baru saja dia hendak terlelap, ponselnya berdering.

BosGalak

Muncul tulisan yang membuat dia menghela napas panjang. Ada apa lagi orang itu menelpon malam-malam.

“Halo Pak, udah saya pesenin ya, tenang aja, bye!” Kali ini Srikandi langsung menebak pertanyaan yang akan keluar dari mulut atasannya.

“Saya bukan mau nanya itu,” suaranya terdengar dingin. Srikandi mencebik kesal. Biar sepuasnya dia meledeknya mumpung tidak ada di hadapannya. Kalau ada, mana ada keberanian.

“Terus?” Srikandi bertanya lagi.

“Tadi saya udah check slide presentasi yang kamu kirim lewat HP, itu minta revisi untuk bagian dua slide terakhir, tolong tambahkan juga possibility improvement yang kita punya, terus hidden satu item tentang beberapa project yang sempat tersendat karena short material,” ucapnya panjang lebar, menyebalkan.

“Besok ya, Pak, saya benerin ‘kan meetingnya juga besok, saya masih ada waktu satu jam buat revisi kok,” ucap Srikandi dan sambungan telepon itu kembali terputus tanpa permisi.

Mata gadis itu membulat kesal. Dia memaki sendiri ponsel yang dipegangnya. Seolah-olah dia adalah manusia yang membuatnya dua kali kesal malam ini.

“Bos menyebalkaaan!” Teriaknya tanpa suara. Sebagai akhir dari omelannya. Gadis itu mematikan ponselnya dan segera membenamkan dirinya dibalik selimut.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED