Bab 2

BERBAHAYA BERURUSAN DENGAN ORANG KAYA

Pukul 5 sore tepatnya, ketika staff berhambur keluar dari ruangan kantor. Nayana berjalan gelisah menuju lift.

Masih sama, pesan begitupun panggilan telfon dari Nayana tidak Adam angkat. Hari ini, sudah 40 kali dia menelpon namun tak ada jawaban. Kabar Adam seakan menghilang sepenuhnya. Keringat semakin deras, pakaian lusuh dan wajah kucel nya setelah bekerja membuat dia terlihat seperti orang frustasi. Ditambah lagi dengan masalah pribadinya.

Hal-hal remeh yang biasanya Adam lakukan untuknya sudah tidak ada. Seperti menanyakan apakah sudah makan atau belum dan bercerita hal-hal remeh sebelum tidur. Sekarang tidak ada lagi. Dunia di sekitarnya terasa hampa tanpa kehadiran atau kabar dari sang kekasih.

"Kenapa wajahmu kusut begitu Nay?" mengetahui gelagat Nayana yang aneh, Rara bertanya penasaran. Wanita itu tidak pernah tidak peduli dengan Nayana. Meski mereka baru mengenal satu sama lain selama 2 tahun.

Kemudian Nayana menggeleng sambil tersenyum tipis untuk menutupinya. Dia tidak mau kegelisahannya dilihat orang.

"Engga! Engga ada apa-apa."

Hingga lift terbuka, Nayana masih belum sadar dengan lamunannya.

"Nay! Kamu kenapa sih?! Ayo masuk!" Rara dengan terpaksa menarik Nayana masuk ke dalam lift. Nayana tenggelam dalam pikirannya sendiri seperti orang linglung. Orang-orang di sekitarnya terlihat kesal karena Nayana mengganggu jalan masuk mereka.

"Kamu kenapa sih? Malah bengong di depan pintu! Ada apa?" Rara kembali bertanya, namun Nayana hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tak lupa dengan senyuman palsunya.

"Gak papa, cuma lelah aja. Kamu tahu kan hari ini kerjaanku banyak banget."

Rara mengangguk memahami, semua orang memang nampak lelah tidak terkecuali dia.

Dan seketika suasana di dalam lift hening. Semua orang sibuk dengan hpnya. Begitu juga Nayana, sibuk memandangi pesan yang tak terbalas.

Lalu beberapa menit kemudian, hp digenggaman tangannya bergetar. Meruntuhkan kegalauan sebelumnya, akhirnya penantiannya berbuah manis. Adam membalas pesannya. Namun senyum Nayana yang merekah tadi dalam sekejap pudar. Saat tahu, pesan itu bukan dari Adam melainkan dari nomor asing.

[Pergi ke hotel Giasa lantai 8 pukul 7 malam nanti, kamu akan tahu kebenarannya]

Setelah membaca pesan tersebut, kedua alis Nayana berkerut. Pesan itu sangatlah aneh. Nomor asing yang tidak bernama itu menyuruhnya melakukan sesuatu. Bahkan anak TK pun bingung harus bereaksi apa.

"Kebenaran? Kebenaran apa maksudnya?" gumamnya bingung.

Nayana memindai orang-orang di sekitarnya yang tengah sibuk dengan dirinya masing-masing. Lalu memandangi Rara di sampingnya yang sibuk mendengarkan podcast dengan headset bluetoothnya. Nayana ingin memberitahu Rara, namun dia mengurungkannya dan memilih diam.

Nayana mengedikkan bahu, menganggap pesan itu adalah pesan iseng belaka.

"Yah paling nomor iseng," batinnya berucap lalu mencoba mengabaikan pesan tersebut.

Nayana kembali menunggu pesan dari Adam. Gelisah seperti sebelumnya. Saat ini pesan dari Adam lebih penting dari yang lainnya. Dia menggigit kuku-kukunya tanpa sadar. Namun lagi-lagi, yang dia dapati adalah pesan peringatan dari nomor asing tadi.

Ting! Pesan kembali masuk.

[Jika kamu mengabaikan pesanku, kamu akan menyesal selamanya]

Kedua mata Nayana membulat lebar.

Ini jelas sebuah pesan ancaman. Meski itu adalah ancaman halus. Akan tetapi Nayana memilih bungkam dan tidak panik. Entah apa yang diinginkan orang di balik nomor asing ini. Kini Nayana terjebak dilema, apakah harus mengabaikannya atau tidak?

Lift telah terbuka, Nayana berjalan keluar dengan lambat dibanding staff yang lain. Bahkan dia juga kehilangan jejak Rara. Nayana memang sengaja berjalan lebih lambat dan menuju ke tempat yang sepi karena dia memutuskan untuk menelpon nomor asing barusan.

Nayana memencet tombol memanggil, tak di sangka penunjuk durasi di layar mulai bergerak dan bertambah.

"Halo! Anda jangan coba mengancam saya ya! Saya tahu anda cuma mau mengerjai saya kan?!" ketika Nayana sudah masuk dalam sambungan dan mengatakan beberapa kata, panggilan itu malah terputus.

"Sialan! Kenapa dimatikan?!" makinya.

Namun Nayana belum menyerah, dia kembali menelpon nomor asing tersebut namun lagi-lagi belum selesai dia berkata, orang di seberang telpon sengaja memutuskan panggilannya.

"Dasar penipu!" Nayana memaki puas setelah panggilan kembali tersambung kelima kalinya kemudian dengan cepat memutusnya.

Wanita itu menyugar rambutnya frustasi. Masalah Adam belum selesai, kini malah dapat serangan iseng dari nomor asing.

"Hufftt! Hari gini masih ada orang yang nipu lewat nomor hp," Nayana membuang napas kasar kemudian melenggang pergi.

Motornya melaju melintasi jalan raya yang mulai menanjak melewati gedung-gedung pencakar langit. Tinggi jalan layang itu hampir sama dengan 5 lantai gedung-gedung di sampingnya. Nayana memandang dari kejauhan. Memandang tepat di depan sana berdiri kokoh hotel Giasa berlantaikan 39 lantai itu dengan penuh gemerlap cahayanya.

Nayana membawa motornya melipir ke pinggir jalan. Dia mengecek jam di hpnya yang menunjukkan pukul 18:57. Lalu kembali memandangi hotel Giasa dengan perasaan bimbang sekaligus penasaran.

"Kebenaran apa yang aku dapat? Kalau aku pergi ke sana? Aku jadi penasaran," gumamnya dalam hati.

Setelah lama berpikir, di hati kecilnya muncul dorongan yang kuat sehingga membuatnya memilih untuk datang ke sana. Sesampainya di area pelataran, Nayana disambut pemandangan yang serba mewah dan mahal. Mulai dari mobil-mobil yang terparkir, style mereka, bahkan wangi parfum ala miliuner dan jutawan memiliki aroma yang khas. Aroma-aroma kekayaan yang tidak dimiliki orang sembarangan.

Di saat itu, Nayana merasa telah dibodohi karena datang ke tempat yang tidak seharusnya dia datangi. Lagi, rasa penasaran menahannya untuk pergi jadi dia tetap melangkah masuk ke sana.

Seorang staff hotel tiba-tiba mendatanginya di area lobby. Bahkan wanita berseragam batik dipadukan rok mininya itu sudah tersenyum ramah sebelum menyampaikan kalimatnya. Nayana sedikit canggung dengan pelayanan yang ramah ini.

"Nona, salah satu anggota badan amal ya? Mari ke atas, saya tunjukkan lantai delapan."

Sontak saja Nayana terkejut, dia memindai penampilannya sendiri. Blazer biru navy, kemeja putih dan celana hitam formal. Apakah ini penampilan seorang anggota filantropi?

"Penampilanku mirip anggota badan amal?" Nayana merasa heran sendiri. Namun cukup membuatnya geli.

Nayana mengedikkan bahunya sebelum mengikuti kemana staff hotel itu membawanya. Mungkin penampilannya malam ini adalah keberuntungannya. Jika tidak, mungkin Nayana sudah diusir keluar dari hotel ini.

Staff itu membawanya menaiki lift lalu menunjukkan lantai 8. Saat pintu lift terbuka, lalu lalang manusia dengan barang branded berlalu lalang di hadapannya. Orang-orang berkumpul dari berbagai etnis, suku dan bangsa. Dari bermata sipit, hingga mata bulat. Kulit hitam hingga kulit yang paling putih berkumpul di sini. Kedua mata Nayana berbinar terpana.

"Mari, saya pergi dulu nona." staff tadi pergi meninggalkannya.

"Terimakasih."

Setelah staff itu pergi, Nayana kebingungan. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus berpura-pura santai di tengah-tengah mereka? Tentu ini bukan dunianya jadi dia merasa tidak aman dan nyaman.

Hatinya semakin gelisah, sehingga dia memutuskan ingin keluar dari situ.

"Aku gak nyaman di sini, lebih baik aku keluar saja. Mungkin saja aku sudah dibodohi." Nayana bergegas pergi.

Namun belum sepuluh langkah terlampaui, seseorang tak sengaja menubruk Nayana. Bahkan jus jeruk yang dibawa pria itu tumpah ke bajunya.

"Maaf, jus jeruk ku tumpah.. akhh sepertinya aku sudah menumpahkan jus jeruk ku ke dua kalinya." suara orang yang menabraknya terdengar merasa bersalah.

Nayana hanya bisa memaki dalam hati sambil mengusap jas nya dengan sapu tangan miliknya. Nayana panik, lalu mengangkat kepalanya dan memperhatikan sekelilingnya. Dia tidak mau menjadi tontonan. Ternyata dugaannya salah, orang-orang itu tidak ada yang memperhatikan. Lalu dilihatnya penampilan pria itu, jas formal berwarna biru navy yang senada seperti yang dia pakai. Serta kacamata besar yang bertengger di hidungnya.

Nayana langsung menunduk dan meminta maaf. Dia langsung menebak hanya dengan melihat auranya itu. Aura orang kaya.

"Maafkan saya." mendengar Nayana meminta maaf, pria itu merasa bersalah padanya.

"Nona jangan seperti itu, akulah yang salah, jadi seharusnya aku yang meminta maaf," ucapnya dengan ramah.

Nayana tersenyum segan tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin urusannya lebih panjang.

"Mau saya bantu bersihkan?" tawar pria tersebut. Kantung matanya nampak tersenyum dari balik kacamatanya.

Nayana langsung menolak dengan menepis pelan uluran tangan pria tersebut dengan sopan. Bagaimanapun dia tidak mau membuatnya tersinggung.

"Oh gak perlu, biar saya yang bersihkan sendiri."

Merasa gugup, Nayana akhirnya pergi ke toilet.

Di pintu masuk toilet, lagi-lagi dia tak sengaja bersenggolan dengan seseorang. Kali ini karena dia yang tak hati-hati. Seorang wanita modis bergaun merah menyala mengaduh dengan wajah dongkol.

"Kamu buta ya?!" wanita itu memaki dengan bibir tebalnya yang berwarna merah menyala lalu meringis palsu. Mimik ketusnya natural, seakan sudah dimilikinya sejak lahir.

Jelas-jelas senggolan tadi tidaklah keras. Tapi Nayana percaya beberapa orang kaya mudah marah dan berlagak keras di depan orang yang lemah.

Menyadari ini tempat bahaya untuknya, lebih baik Nayana segera meminta maaf untuk mencari aman.

"Maaf nona, saya tidak sengaja. Saya buru-buru tadi."

Nayana menunduk hampir 90 derajat. Wanita itu mencebik, memutar bola matanya malas tanpa memaki lagi. Seakan memaki orang seperti Nayana hanya akan menguras tenaga.

Wanita itu menyapu bahunya yang terkena senggolan tadi seperti membersihkannya dari hal menjijikan yang menempel di bajunya.

"Lain kali hati-hati!"

Nayana hanya tersenyum kikuk. Dia menghela napas panjang sambil memperhatikan punggung yang terbuka itu melenggang pergi. Body nya seksi dan tinggi tubuhnya ideal. Meskipun menyebalkan, Nayana mengagumi wanita itu. Dia pasti dicintai banyak pria karena parasnya. Bahkan Nayana yang memiliki gender yang sama pun ikut terpukau.

Kembali, dia menyadari dimana dia sedang berdiri.

"Aku gak boleh gegabah di sini, berlama-lama di sini bisa menambah masalah lain, berurusan dengan orang-orang kaya sangatlah berbahaya. Lebih baik aku pergi."

Bab 3

KEBENARAN

"Sayang, kamu habis dari mana?"

Langkah kaki Nayana terhenti, lalu menoleh ke arah suara yang terdengar sangat familiar di telinganya.

Pria tampan yang memakai tuxedo hitam dengan tatanan rambut yang rapih ala tentara mengulurkan tangannya sembari menghampiri wanita bergaun merah itu. Tangannya terulur menarik pinggang seksi itu mendekat, menempel mengikis jarak di antara mereka. Seperti pasangan romantis yang baru saja terpisah. Wanita secantik dewi itu tidak menolak, bahkan mengusap bahu pria di sampingnya dengan lembut dan menggoda.

"Aku habis dari toilet sayang, barusan ada perempuan miskin menyebalkan nabrak aku, lihat gaun aku! Kotor dan bau gara-gara dia."

Wanita berambut panjang hitam bergelombang dan dibiarkan terurai tersebut mengadu manja, memanyunkan bibirnya seperti sedang memamerkan bibirnya yang seksi dan merah merona. Dia menunjukkan noda di bajunya, jus jeruk tumpahan yang tak sengaja menempel akibat bersenggolan dengan Nayana.

Kemudian tangan pria itu naik membelai kepalanya lembut dengan senyuman yang tulus. Tatapannya menunjukkan bahwa dia tergoda dengan kemolekan kekasihnya. Bahkan dia merasa beruntung, memiliki kekasih seorang model papan atas.

"Mana ada perempuan miskin di sini sayang, ini acara kenegaraan. Bukan orang sembarangan yang bisa masuk ke sini. Semuanya datang dengan menggunakan undangan khusus."

"Mana kutahu, mungkin dia salah satu pelayan di sini. Penampilannya saja katro begitu." wanita itu mencebik kesal. Dengan telaten, pria tentara itu membantu membersihkan gaunnya dan bersuara dengan lembut menenangkan kekasihnya.

"Sudah jangan marah-marah lagi, nanti cantiknya luntur bagaimana?" katanya berusaha menggoda kekasihnya.

Reflek, wanita itu menepuk bahu prianya sambil tersipu malu.

"Ckkk! Sayang! Jangan gombal deh!"

Mereka terkekeh bersama dan saling menggoda satu sama lain. Bahkan kebahagiaan mereka tidak disadari adalah penderitaan bagi orang lain.

Tak tahan melihat paras kekasihnya yang cantik, pria tentara itu mencium pipi kekasihnya dua kali.

"Tiba-tiba mencium sih, kan malu dilihat orang."

Pria itu tidak peduli dengan persepsi orang lain, hanya peduli dengan reaksi kekasihnya yang menggemaskan.

"Di sini banyak orang terkenal, kamu bisa tambah koneksi dengan kecantikanmu. Aku suka kalau kamu dikenal orang lain sebagai kekasihku."

"Kamu lupa ya? Kalau aku ini juga terkenal? Koneksiku sudah ada dimana-mana, kamu gak perlu khawatir. Yang aku butuhkan cuma kekasih yang perhatian dan baik seperti kamu."

Di sudut ruangan, Nayana menyaksikan bagaimana sikap dan percakapan keduanya. Muncul perasaan geram dan rasa ingin mencabik-cabik. Adam Delano dan wanita yang berpapasan dengannya tadi ternyata memiliki hubungan spesial. Ditambah selingkuhannya itu mengatainya perempuan miskin. Hatinya terhina dan hancur berkeping-keping.

"Adam! Teganya kamu membohongiku! Kamu beralasan pergi bertugas ke luar kota hanya untuk berselingkuh!"

"Aku sudah sabar menemanimu dari nol selama 3 tahun hingga berhasil menjadi seorang tentara. Tapi balasan ini yang aku dapatkan darimu? Kau kejam Adam! Cintamu hanya cinta palsu! Dasar bajingan!" Nayana menahan kalimatnya hanya di bibir.

Urat-urat di wajahnya tercetak jelas. Bahkan sekarang suhu wajahnya semakin memanas. Adam selalu berkata bahwa dia bisa menerima kekurangan Nayana, awalnya Nayana sangat bersyukur ada pria tulus seperti Adam. Namun pada akhirnya, laki-laki akan selalu memilih yang lebih cantik.

Nayana ingin sekali pergi ke sana dan menampar Adam lalu berteriak tepat di wajahnya. Tapi di hadapan semua orang kaya itu, membuat Nayana berpikir dua kali.

"Diana, bagaimana kalau kita menikah Minggu depan? Sepertinya aku sudah tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya." Adam membawa Diana dalam pelukannya. Menatap wanita itu lamat-lamat. Seperti yang biasanya Adam lakukan padanya.

Dengan wajah terkejut wanita itu bertanya.

"Menikah?! Secepat itu? Kita bahkan baru kenal belum genap setahun. Sudah terburu-buru begitu." bahkan raut wajah wanita itu berubah ragu.

"Ya! Kamu tahu kan alasannya? Aku takut kamu berubah pikiran. Aku juga takut keluargamu berubah pikiran."

Emosi semakin memuncak di kepalanya. Deru napas Nayana semakin cepat, dadanya bergemuruh hebat setelah mendengar kalimat lamaran itu. Seolah Adam benar-benar melupakannya. Melupakan rencana pernikahan mereka berdua yang akan dilakukan 5 bulan ke depan. Laki-laki itu sudah kehilangan akal.

"Bagaimana bisa Adam melamar wanita lain bahkan dalam waktu secepat itu? Sedangkan aku sendiri? Bagaimana denganku? Bagaimana dengan nasibku ke depannya? Jadi cinta dan sayangnya selama ini apakah hanya kepalsuan? Apa laki-laki memang mudah pindah ke lain hati?"

Nayana lemah, hancur dan tubuhnya ambruk tak mampu berdiri tegap lagi.

"Adam Delano bajingan!" Nayana menggeram. Gigi-giginya bergemeretakan. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Buru-buru dia merogoh hpnya dari tas, menelpon nomor Adam. Dengan harap pria itu kali ini menerima telfonnya.

Nayana memperhatikan pria itu menjauh dari keramaian setelah beberapa kali menolak telfonnya. Tanpa sadar dipanggilan ke delapan, telfon itu sudah tersambung. Suara Adam yang masuk membuatnya terkesiap.

"Halo sayangku, maaf ya telfonnya baru aku angkat. Aku bener-bener sibuk akhir-akhir ini. Tugas penjagaan semakin padat. Aku juga rutin latihan fisik, jadi tidak bisa meluangkan waktu buatmu, maaf ya." suara kepalsuan itu terdengar memuakkan baginya. Nayana berdecih muak.

Nayana tak buru-buru menjawab, yang dia lakukan adalah mengikuti kemana Adam berjalan dan berdiri sekarang. Dan Nayana berdiri tepat di belakangnya sejauh 10 meter. Barulah dia menjawabnya.

"Lihat di belakangmu Adam." suara Nayana terdengar dingin dan penuh penekanan. Dia memanggil pria itu dengan namanya, bukan sebutan sayang lagi.

"Kenapa sayang? Kenapa aku harus lihat ke belakang? Memangnya ada apa?"

"Sekarang lihat di belakangmu! Cepat!" tukas Nayana geram.

Hanya dengan kepalanya, Adam menoleh ke belakang, lalu ketika netranya benar-benar melihat jelas siapa sosok di belakang sana. Adam memutar tubuhnya 180 derajat dengan ekspresi terkejut.

Masih dengan hp di telinga, Adam membeku dengan bola mata membulat sempurna.

"Nay, kamu kenapa ada di si...?"

Lewat sambungan telfon yang belum terputus, Nayana menyela ucapan Adam.

"Adam, kita putus! Kita batalkan pernikahan kita."

Suaranya begitu dingin dan pasrah. Adam terdiam beberapa saat setelah mendengarnya, mencerna tiga kata pertama yang diucapkan Nayana barusan.

"Pu-putus? Bagaimana bisa begitu?"

"Nay! Naya! Tunggu Nay! Aku bisa jelaskan!"

Adam segera mengejar Nayana yang sudah berlari mendahuluinya. Pria itu mencebik kesal, saat tahu sambungan telfon telah terputus. Padahal masih banyak yang ingin dia sampaikan. Tapi semuanya percuma bagi Nayana. Dan Adam semakin kesal, saat dia kehilangan jejak Nayana di hotel Giasa.

"Kemana dia?" Adam menopang tubuhnya ke lutut dengan napas tersengal-sengal.

***

"Berengsek! Bajingan! Akhhhhhh!"

Di tempat sepi dan redup pencahayaan, Nayana meraung-raung kesakitan. Memukul dadanya beberapa kali yang terasa seperti tertancap belati. Sakit yang teramat sakit.

Di sudut tempat itu, dia akan merasa aman. Dimana tidak akan ada orang yang melewatinya ataupun melihatnya. Jadi orang tak akan ada yang peduli sampai sekeras apapun suaranya. Betapa jelek ekspresinya. Mereka tidak akan menganggap tangisannya aneh.

Tas nya terus bergetar, hpnya berdering tanpa henti. Nayana mengabaikan panggilan dari Adam, entah ke berapa kalinya sampai dering itu terdengar menjengkelkan. Pria itu cukup berupaya untuk menjelaskan di kala semuanya telah berakhir.

Perkataan Rara benar, Adam juga manusia yang bisa melakukan pengkhianatan. Dia bukan malaikat ataupun nabi yang terhindar dari perbuatan seperti itu.

Gagal hubungannya dengan Adam, menjadi akhir kepercayaan Nayana terhadap laki-laki. Hatinya sudah mati dan tidak akan terbuka untuk siapapun lagi.

"Semua laki-laki sama saja, kamu yang selalu terlihat sayang dan cinta padaku, selalu membelai kepalaku, selalu mendengarkanku saat bicara, nyatanya kamu juga sama bajingannya dengan laki-laki di luar sana! Suka mempermainkan perempuan dan bersikap palsu! Aku benci kamu Adam!" teriakannya diiringi isak tangis yang terdengar sendu.

Kesal dengan deringan telfon yang menggangu telinganya. Nayana segera memblokir nomor Adam. Namun notifikasi baru menarik perhatiannya. Dia menyeka air matanya sebelum jemarinya menggulir layar ke atas, lalu terbukalah isi pesan baru.

[Sudah melihat kebenarannya kan?]

Matanya mengerjap-ngerjap, tangisnya mulai mereda. Pesan yang singkat itu terdengar seperti keangkuhan.

"Sebenarnya siapa orang ini?" dia bergumam pelan. Rasa penasaran semakin menghinggapinya.

[Suka tidak dengan pertunjukkannya? Bagus kan?]

[Kekasih tentaramu itu tidak pantas memiliki dua wanita di sampingnya]

Kedua alis Nayana bertaut. Jari-jemarinya mulai bergerak membalas pesan tersebut.

[Apa kamu orang yang aku kenal?]

Kemudian orang itu kembali membalas.

[Jika ingin tahu siapa aku, besok jam 12 siang, di restoran Diamond Nine]

Kedua alis Nayana bertaut.

"Restoran Diamond Nine?"

"Ini kan restoran di dekat tempat kerjaku?" gumamnya heran.

Karena rasa penasaran yang besar, akhirnya tanpa pikir panjang Nayana membalas pesan itu.

[Oke]

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED