"Jadikan dia bodyguard?" Aramis menunjuk Drystan yang menganga lebar akibat syok berat. Aramis mengamati Drystan lekat-lekat, mencari sesuatu dalam diri laki-laki muda yang terlihat lemah di matanya itu. "Kenapa?" Dia menoleh ke arah anaknya yang berbinar melihat Drystan seolah Drystan merupakan berlian.
"Dia tampan, Ayah!" Avyana berkata dengan nada riang. "Aku ingin dia." Dia memasang wajah memelas.
Aramis menaikkan alisnya, lalu melirik ke belakang, berdiri secara rapi para anak buahnya yang juga terdapat pengawal pribadi Avyana. "Kamu sudah memiliki lima bodyguard. Masih kurang?"
Avyana menaruh jarinya di dagu seakan sedang berpikir. "Iya. Kurang. Biar jumlahnya genap." Dia mengangguk. "Kalau ada enam, aku bisa terlindungi dari segala sisi. Dua di kanan, dua di kiri, satu di belakang, dan satu di depan." Dia berkata dengan nada serius.
Aramis menatap sang anak dalam, Avyana mengerjap-ngerjapkan matanya memohon. "Ayah, aku mohon." Aramis mempertimbangkan permohonan anak kesayangannya itu dengan penuh perhitungan.
Drystan menggaruk pipinya. Menjadi bodyguard seorang anak mafia? Dia memegang lehernya, apakah dia akan ditembak mati jika melakukan kesalahan? Apakah nyawanya akan dalam keadaan baik-baik saja? Dia melirik ayah dan ibunya yang bengong, sama syoknya seperti dirinya. Drystan menekuri lantai, dia belum mendapatkan pekerjaan, apakah menjadi bodyguard wanita seksi itu merupakan pekerjaan yang diberikan Tuhan padanya?
Drystan mendongak, memandangi bos mafia dan anaknya yang sedang berdebat. Lalu dia melihat orang tuanya. Sukar meneguk saliva ketika membayangkan pria berkepala plontos itu menarik pelatuk pistol yang moncongnya mengarah ke pelipis ayahnya itu. Dia tidak mau kehilangan siapa pun, walaupun setiap manusia pasti akan menemui ajalnya, tetapi setidaknya jangan meninggal karena ditembak yang seolah-olah dipaksa untuk pergi meninggalkan dunia ini.
Dia harus memohon agar ayahnya dilepaskan, dia akan bekerja apa pun itu demi melunasi utang ayahnya yang menggunung. "Pak." Drystan menatap Aramis lurus, pura-pura berani. Padahal wajahnya bercucuran air keringat.
"Kenapa?" Aramis memelototi Drystan.
Nyali Drystan menciut. Dia menarik dan mengembuskan napasnya secara perlahan, jangan takut, mereka sama-sama manusia ciptaan Tuhan. "Tolong lepaskan ayah saya. Saya berjanji, akan melunasi semuanya. Beri saya waktu selama satu bulan. Lagi pula, Anda bisa lihat sendiri, ayah saya tidak kabur dan tidak berniat melakukannya."
Orson mengangguk. "Saya berniat akan membayarnya. Beri saya waktu." Lalu matanya melebar, baru teringat jumlah nominal uang hasil penjualan yang tidak dia setorkan selama dua bulan. Dia berbisik pada Drystan. "Totalnya 50 juta."
Tentu saja Drystan memelotot mendengar perkataan ayahnya. Otaknya pecah memikirkan mencari uang sebanyak itu dalam waktu satu bulan. Dia harus bekerja di berapa tempat? Jangankan 50 juta, memegang dan melihat uang lima juta saja tidak pernah! Gila. Ini gila. Dia meraba perutnya, apakah dia menjual satu ginjalnya? Dia pernah mendengar, orang-orang rela menjual ginjal mereka demi membeli sebuah ponsel. Ini merupakan solusi untuk mendapatkan uang secara cepat. Masalah kesehatan, itu dapat dipikirkan nanti.
"Bisa mencari uang segitu selama satu bulan?" Aramis melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Drystan dan Orson secara bergantian dengan pandangan meremehkan. "Saya sedang tidak mempermasalahkan uang, tetapi saya kecewa pada kau yang tidak jujur. Padahal kau sudah bekerja dengan kami selama tiga tahun."
Drystan memelotot. Tiga tahun? Jadi, selama tiga tahun ini ayahnya bekerja sebagai pengedar obat-obatan terlarang? Astaga. Kenapa dia sama sekali tidak tahu? Dia celangak-celinguk, di mana ayahnya menaruh obat-obatan terlarang itu? Pintar sekali menyembunyikannya.
Sama halnya dengan Drystan, Isabel juga terkejut-kejut. Suaminya pasti memilih bekerja penuh risiko itu demi membiayai pengobatannya. "Kenapa?" Dia menatap sang suami, dia tidak punya tenaga untuk marah.
Orson menghela napas berat. "Maaf." Hanya kata itu yang dapat terucap di bibirnya.
Seorang pria dengan dua tindik di telinganya memberikan tablet ke Avyana yang sedang memandangi wajah Drystan dengan mata yang berbinar-binar. Avyana membaca huruf demi huruf yang merangkai menjadi kalimat yang memberikan informasi mengenai riwayat kehidupan Orson dan keluarga, yang juga memuat tentang Drystan secara lengkap. Dia mengulas senyuman lebar. "Drystan."
Jantung Drystan berdebar sangat kencang ketika suara yang mengalun lembut dan sedikit menggoda itu mengucapkan namanya. Dia tidak berani mendongak.
"Ayah, Drystan baru lulus kuliah satu minggu lalu dan sampai sekarang dia belum bekerja. Biarkan dia menjadi bodyguard-ku. Anggap saja Drystan dijadikan sandera, agar pak Cordner segera membayar uang yang dia ambil dan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya." Avyana menatap Aramis penuh harap. Dia akan berjuang hingga papanya mengizinkan dia membawa pulang Drystan untuk dia pekerjakan sebagai pengawal pribadinya.
Aramis bertatapan dengan Avyana. Selalu saja, anaknya bertindak dan menginginkan hal dengan seenaknya.
Drystan mengerjapkan matanya. Kalau dia menjadi bodyguard anak mafia itu, nyawa ayahnya akan selamat? Apakah para mafia itu tidak akan ingkar janji? "Ayah."
Orson menggelengkan kepala. "Tidak. Ayah tidak mengizinkanmu." Orson tahu apa yang terkandung dalam pikiran Drystan. Dia tidak akan membiarkan Drystan masuk dalam lingkungan mafia yang tentu saja nyawa selalu menjadi taruhan.
"Ayah jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja." Drystan berbisik seraya melirik pria berkepala plontos yang tampaknya tidak berniat menyimpan pistolnya itu, apakah tangannya tidak pegal?
"Tidak." Orson menggeleng tegas. "Kamu tidak tahu, bahaya apa yang akan mengancammu!"
"Aku tahu, Ayah. Jangan mengkhawatirkan aku. Aku pasti bisa menjaga diri. Selagi aku menuruti perintah mereka, nyawaku selamat." Drystan berucap yakin, bertolak belakang dengan jantungnya yang berdebar-debar seperti akan meledak dan pancaran mata yang ketakutan.
Isabel yang sedang berjongkok, mundur agar dapat melihat Drystan yang berada di sebelah kiri suaminya. "Drys." Mata cokelat terang Isabel memancarkan ketakutan, kekhawatiran, dan kegelisahan. Ibu mana yang merelakan anaknya bekerja dengan para penjahat?
Drsytan tersenyum lebar, menenangkan ibunya. "Tidak apa, Bu."
Di sisi lain, Avyana masih berjuang mendapatkan izin papanya. Dia merengek seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan permen lolipop. "Ayah, aku mohon."
"Kenapa kamu menginginkan dia?" Garis wajah Aramis yang keras dan tegas membuat siapa pun takut, tetapi tidak berlaku pada Avyana yang bahkan berani masuk ke kamarnya untuk tidur bersama ketika mengalami mimpi buruk atau hujan deras disertai petir yang menyambar.
"Karena dia tampan." Avyana menjawab ringan. "Dia tampan, Ayah. Seperti model."
Aramis menatap Avyana sangat datar. Seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal itu, karena pasti seperti itulah jawaban yang terlontar dari mulut anaknya itu. Dia melirik Drystan yang sedang berbisik-bisik dengan orang tuanya.
"Ayah." Avyana memegang tangan sang ayah seraya mengikis jarak. "Ayah bisa jadikan Drystan sebagai bahan untuk mengancam pak Cordner. Seperti biasa." Dia mengukir senyuman miring.
Aramis selalu lemah apabila menyangkut Avyana. Segala permintaan anaknya itu pasti akan dia turuti. "Apakah dia mau?"
Senyuman sangat lebar mengembang di wajah cantik Avyana. Lampu hijau sudah dia dapatkan. Kini waktunya dia membujuk Drystan. Dia menghampiri laki-laki bermata hijau yang sedang berbincang dengan sang ibu, dia berjongkok di depan Drystan.
Drystan kaget, dia memundurkan wajahnya yang sangat dekat dengan anak mafia tersebut.
"Hai, Drystan. Perkenalkan, namaku Avyana." Dia mengerlingkan matanya, menggoda.
Drystan sukar meneguk salivanya. Cantik, tetapi hawanya menyeramkan. Apa karena Avyana merupakan anak mafia? Pastinya Avyana juga seorang mafia. Entah kenapa otaknya membayangkan masa depan yang nanti akan dia hadapi penuh dengan kengerian dan ketegangan.
"Apakah kamu mau menjadi bodyguard-ku?" Avyana mencolek dagu Drystan, bibir bulat dan tebal yang berwarna merah merona itu dimonyongkan seakan ingin mengarahkannya ke bibir kering Drystan.
Jantung Drystan berdetak tidak tenang. "A-apakah kalian akan melepaskan Ayahku?"
"Bukan, bukan melepaskan." Avyana menggoyangkan jari telunjuknya di depan Drystan. "Setiap orang yang memutuskan untuk bekerja dengan kami, tidak akan pernah bisa mengundurkan diri. Itu sudah tertera di kontrak."
Drystan menjilat bibirnya yang kering, tetapi tindakannya itu membuat Avyana ingin mendaratkan bibirnya ke bibir Drystan. "Jadi, kalian hanya akan membiarkan Ayahku hidup?"
"Iya." Avyana mengangguk. "Sebenarnya, bukan hanya pak Cordner yang seharusnya meninggal hari ini, tetapi kamu dan ibu kamu juga."
Drystan ternganga. Avyana berkata dengan ringan dan ceria, seolah nyawa adalah hal yang sama sekali tidak berharga baginya. "Apakah kau akan menepati janjimu?"
"Iya." Avyana mengangguk, tenang. "Ayahku selalu menepati janji yang telah dia buat dan aku pun akan memastikan ayahku menepatinya."
Drystan menatap Avyana lurus dengan durasi lumayan lama, tidak ada tanda-tanda kebohongan di mata dan wajah wanita cantik dan seksi itu. Justru Avyana senyum-senyum kegirangan ditatap sedalam itu oleh Drystan. "Oke. Aku mau bekerja sebagai bodyguard-mu." Demi nyawa orang tuanya. Dia tidak peduli dan memikirkan keselamatannya sendiri. Asalkan dia bisa menolong orang tuanya yang telah membesarkannya dengan susah payah. Mungkin inilah bentuk bakti yang bisa dia lakukan.
"Drystan! Kamu jangan gila. Jangan melakukannya demi Ayah!" Orson memelototi anak tunggalnya itu.
Drystan tersenyum lemah. "Tidak apa, Yah. Ini demi nyawa kita bersama."
"Drystan." Air mata Isabel tidak kunjung berhenti mengalir membasahi pipi dan lehernya. Anaknya berkorban demi nyawa mereka bertiga. Apakah tidak ada cara lain?
"Tuan Burcardo, saya mohon, berikan saya waktu selama satu bulan ini dan saya janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Orson menangkupkan tangannya di depan dada dengan mata yang memohon belas kasih Aramis yang berdiri kokoh seperti tembok beton.
"Harusnya Bapak berterima kasih kepada saya. Karena dengan Drystan menerima tawaran saya bekerja sebagai bodyguard saya, hari ini Bapak dan keluarga tidak jadi menemui malaikat maut. Dalam dunia kami, tidak ada istilah tawar-menawar. Oh, jangan lupa, berterima kasihlah pada Drystan yang memiliki wajah tampan rupawan, yang telah memikat hati saya." Avyana berkata tepat di telinga Orson, tetapi perkataannya dapat didengar oleh semua yang ada di ruangan. Orson meneguk salivanya dengan bulu kuduk yang berdiri tegak, sedangkan Isabel hanya dapat menangis sesenggukan.
Drystan memejamkan matanya. Semoga ini adalah keputusan yang benar; semoga di masa yang akan datang, dia tidak menyesal; semoga dia dapat menjaga nyawanya dengan baik dan benar.
"Sudah diputuskan. Mulai hari ini, Drystan Cordner merupakan bodyguard-ku." Avyana mencolek dagu Drystan seraya mengedipkan sebelah matanya. "Kamu akan menanda tangani kontrak kerja, ketika sampai di rumah kami." Dia berdiri, melemparkan senyum bahagia ke Aramis yang hanya dapat menghela napas panjang menanggapi perbuatan anak kesayangannya itu.
Avyana menoleh ke Drystan yang sedang menekuri lantai. "Bangunlah, kita akan bergegas pergi. Sudah terlalu lama di sini."
Drystan memejamkan matanya, sebelum bangkit dia memberikan kantong plastik belanjaan yang dari tadi dia peluk itu kepada ayahnya yang berlinang air mata. "Ayah, tolong jaga Ibu. Jangan mengkhawatirkan aku." Dia tersenyum sangat lebar, berusaha mengenyahkan perasaan takut dan gelisah yang melanda hatinya. Dia akan menghadapi takdir hidupnya ini dengan tegar.
Orson hanya menatap Drystan, tidak ada kata yang dapat dia lontarkan. Mulutnya terasa terkunci. Hanya air mata yang melaju tanpa henti membasahi pipinya.
Drystan berjalan ke arah ibunya yang menangis tersedu-sedu. Dia memeluk ibunya erat. Entah kapan lagi mereka bisa bertemu, semoga suatu hari nanti dia diizinkan untuk menemui orang tuanya. Tangis Isabel semakin menjadi, terdengar memilukan. Hingga membuat air mata Drystan meluncur, padahal sekuat tenaga dia menahan bendungan di matanya. "Ibu, jangan lupa makan dan minum obat. Jangan lupa kontrol dan melakukan cuci darah. Jangan makan makanan sembarangan." Dia berkata dengan nada suara yang bergetar hebat, beruntung dia dapat lancar mengucapkannya. Dia mengusap-usap punggung ibunya yang bergetar. Suara tangisan ibunya akan selalu terngiang dalam alam pikirannya. "Ibu jangan begadang terus, harus tidur." Dia terkekeh. Menghilangkan perasaan sedih dan takut yang berkecamuk.
Isabel berusaha menenangkan dirinya. Dia mengelus lembut rambut anaknya. "Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa makan dan tidur," lirih Isabel, tidak sanggup berpisah dengan sang anak.
Avyana memperhatikan mereka bertiga dengan tatapan tidak terbaca. Keluarga yang harmonis. Si anak sangat menyayangi orang tuanya dan orang tuanya rela melakukan apa pun demi si anak. Yah, seperti itulah Avyana mendeskripsikan keluarga kecil itu berdasarkan apa yang dilihatnya sekarang.
Dengan berat hati, Drystan bangkit lalu menghampiri Avyana. Takut-takut menatap mata cokelat Avyana. "Bisakah beri aku waktu untuk mengambil beberapa pakaian?"
Sejenak Avyana terdiam, terpesona oleh wajah tampan Drystan yang disempurnakan dengan mata warna hijau itu. "Aku beri waktu 5 menit."
"Terima kasih." Drystan segera berlari ke kamarnya, memasukkan baju dan celana yang ada di lemari ke dalam tas ransel. Dia tidak akan lagi menangis, dia menerima tawaran pekerjaan ini demi nyawa orang tuanya.
Aramis berdiri menjulang di depan Orson yang masih berjongkok dengan moncong pistol berada di pelipisnya. Jika Avyana tidak meminta hal yang aneh, kini Orson dan keluarganya hanya tinggal nama dan mereka buang ke tempat tersembunyi. Aramis menatap Orson sangat tajam seolah sedang menembak kepala pria tua itu. "Kau harus tetap mengembalikan uang itu, saya beri waktu 3 bulan. Saya akan menambahkan jumlah obat-onatan yang kau edarkan dan harus terjual habis. Jika kau tidak mengembalikan uang 50 juta itu atau kau melakukan hal seperti ini lagi, nyawa anakmu yang akan menjadi taruhan." Dia berkata penuh penekanan di setiap patah kata. Suaranya yang berat dan serak membuat bulu kuduk Orson merinding bukan main.
"Iya. Saya janji." Orson mengatupkan tangannya, memohon. "Tolong tepati janji Anda dan jangan bunuh anak saya."
Aramis mengangguk. "Kau telah mengecewakan saya. Sekarang lakukanlah sesuai perintah agar saya kembali percaya padamu." Dia melirik Isabel, ngeri melihat banyak plester di tangan wanita bertubuh kurus itu. "Saya tidak pernah mengingkari janji yang telah saya buat."
"4 menit." Ternyata Avyana menghitung, beruntung Drystan tidak melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Entah apa yang akan terjadi jika dia melewatinya.
Drystan mengeratkan pegangannya pada tali tas ransel berwarna hitam itu. Dia menatap orang tuanya lekat-lekat, dia mengangguk seraya memaksakan senyuman. Kemudian dia ditarik oleh salah satu anak buah Aramis untuk berjalan di belakang Avyana, dia tidak melepas pandangannya dari orang tuanya hingga dia keluar dari unit apartemen. Dia memilih menekuri lantai dengan jantung yang berdegup sangat kencang seiring dia melangkah. Semua pria berpakaian serba hitam yang berdiri di sepanjang lorong menunduk hormat pada Aramis dan Avyana.
Avyana mempersilakan Drystan untuk masuk ke mobilnya. Sebelum ke dalam, Drystan memandangi gedung apartemen yang selama 10 tahun ini menjadi tempat bernaung dia dan orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ternyata di mobil terdapat dua pria berpakaian serba hitam duduk di kursi depan. Wajah mereka tanpa ekspresi, seperti robot. Drystan bergidik ngeri, apakah wajahnya juga akan berubah seperti para pria itu? Dia akui, dia memang jarang tersenyum, mungkin karena beban hidup yang dia pikul membuatnya sulit untuk sekadar tersenyum lebar dengan tulus.
Drystan menyadari satu hal, kenapa halaman mendadak kosong? Bukankah tadi banyak anak-anak kecil yang mengerubungi lima mobil mewah warna hitam ini? Dan biasanya jam segini anak-anak bermain bola. Ke mana mereka? Kenapa sunyi seperti kuburan? Sama sekali tidak terlihat ada orang yang berkeliaran. Apakah ini perbuatan para mafia?
"Drystan." Avyana memanggil nama laki-laki yang tubuhnya kaku dan tegang itu dengan lembut dan sensual. Drystan menoleh ragu. Avyana menutup kedua mata Drystan dengan kain panjang berwarna hitam yang tebal.
"Kenapa?" Drystan kaget. Berbagai pikiran buruk bergentayangan di otaknya. Apakah dia akan dibunuh? Lalu bagaimana dengan orang tuanya?
"Jangan panik." Avyana berbisik. "Hanya agar kamu tidak melihat jalan dan menghafalnya."
Drystan sukar meneguk salivanya. Gila. Mereka sudah mempersiapkan ini sedemikian rupa. "Jangan khawatir. Aku tidak akan kabur. Demi orang tuaku." Dia terkejut ketika mobil berjalan yang membuat tubuhnya terdorong ke depan.
Avyana tersenyum miring. Drystan sangat menyayangi orang tuanya. "Di mana ponsel kamu?"
Drystan mengerutkan keningnya. "Kenapa kau mencari ponselku?"
"Agar tidak ada yang melacak keberadaanmu." Avyana merogoh saku kemeja Drystan tanpa persetujuan si empunya, tentu saja Drystan terkaget-kaget.
"Kenapa kau asal merogoh!" Jantung Drystan berdebar sangat kencang. Wanita ini gila.
Avyana tertawa renyah melihat wajah Drystan yang memerah padam. "Di mana? Atau aku akan merogoh kantong celanamu."
Drystan ingin memelotot, tetapi yang dia lihat hanya kegelapan dan Avyana tidak dapat melihat pelototannya. "Jangan." Dia merogoh kantong celananya untuk mengambil benda pipi warna putih itu. "Tolong segera kembalikan."
Avyana terkekeh. Dia memberikan ponsel itu pada bodyguard sekaligus asistennya yang duduk di sebelah kursi kemudi, yang langsung mengerti apa yang harus dia lakukan pada ponsel jadul itu. "Tenanglah, Drystan. Aku pasti akan mengembalikannya." Dia mencolek dagu laki-laki yang mengenakan kemeja merah bata itu.
***
Kain yang menutup mata Drystan dilepas oleh Avyana sesampai mereka di mansion mewah dan kokoh milik Aramis. Drystan keluar dari mobil, dia terpana melihat ke sekelilingnya. Dia seperti berada di istana. Lalu dia menggeleng, setelah teringat di mana dia sekarang. Ini bukan waktunya untuk dia mengagumi apa pun. Karena selama berada di sini, satu saja kesalahan yang dia perbuat, nyawanya dan orang tuanya dalam bahaya. Drystan meneguk salivanya yang entah ke berapa kalinya itu. Dia didorong oleh salah satu bodyguard Avyana yang terdapat tindikan di hidung. Dia mengekori Avyana dengan perlahan, di belakangnya ada seseorang yang mengarahkan moncong pistolnya ke kepala Drystan, membuat keringat membanjiri wajah dan tubuhnya.
"Siapa lagi itu?" Adrastus, pria yang tidak mengancing kemejanya itu memperlihatkan tubuh kekarnya yang terdapat tato gambar naga melintang di sepanjang dadanya. Dia menatap Drystan yang menekuri lantai dengan tajam.
"Biasa. Adikmu itu tidak bisa melihat laki-laki berwajah tampan." Aramis duduk di sofa empuk berwarna hitam. Di ruang tamu bukan hanya ada Adrastus, tetapi juga dua wanita berpakaian seksi yang sedang menemani anak sulungnya itu. Para anak buahnya dan bodyguard Avyana berdiri tegap memutari sofa yang berada di ruang tamu, mengunci rapat mulut mereka dan tidak melepas kacamata hitam.
"Bodyguard baruku." Avyana menyentuh punggung Drystan, sontak tubuh laki-laki itu merinding bukan main. Avyana mengangkat wajah Drystan agar menatap kakaknya. "Perkenalkan, dia kakakku, namanya Adrastus." Avyana menyuruh Drystan memperkenalkan dirinya sendiri.
Drystan menenangkan jantungnya yang bergemuruh hebat. "Nama saya Drystan Cordner." Dia menunduk lagi, karena hawa yang menguar dari tubuh Adrastus membuatnya merinding dan tatapan matanya mengintimidasi.
Adristus mengamati Drystan dari atas sampai bawah, meneliti penampilan laki-laki yang tubuhnya gemetar itu yang tampak lemah di matanya. "Coba buka bajumu."
Drystan memelototi lantai. Apakah dia tidak salah dengar?
"Kakak! Jangan, aku tidak akan sanggup melihatnya." Avyana menjerit-jerit kegirangan seraya mengelus pelan lengan Drystan.
"Buka kancing kemejamu. Aku ingin melihat bentuk tubuhmu." Adrastus curiga, sepertinya otot Drystan tidak terbentuk.
"Kak!" Avyana menggeleng, tetapi sebenarnya dia penasaran. Aramis menikmati minumannya, sedangkan dua wanita milik Adrastus itu senyum-senyum penuh arti.
Adrastus menarik tangan Drystan yang pasrah ke ruangannya, Avyana mengikuti mereka dengan langkah riang seraya senyum-senyum.
Di ruangan, Adrastus segera memerintahkan hal yang sama pada Drystan. "Letakkan tas ranselmu di lantai dan buka kancing kemejamu." Adrastus melipat kedua tangannya di depan dada.
Drystan menurut, dia menaruh tas di lantai, tetapi ragu untuk membuka kancing kemejanya. Dia melirik Avyana yang berdiri di sebelah kakaknya, mata cokelat wanita itu berbinar-binar.
"Cepat!"
Dengan cepat Drystan melepas satu persatu kancing kemejanya, terlihatlah perutnya yang sedikit membuncit itu.
Adrastus menepuk jidatnya. Sudah dia duga. Dia pusing dengan adiknya yang suka mengoleksi pria berwajah tampan.
Mata Avyana melebar, ingin rasanya dia meraba setiap inci tubuh Drystan. Dia menepuk kedua pipinya. Astaga. Kenapa pikirannya selalu seperti ini apabila berhadapan dengan pria tampan?
Drystan memeluk tubuhnya yang kedinginan dan juga malu. Apakah dia sudah boleh mengancing kembali kemejanya?
Adrastus melirik Avyana lewat ekor matanya. "Apa yang kamu suka dari dia? Dia tidak cocok menjadi bodyguard!"
"Dia tampan, Kak." Avyana mendekati Drystan, lalu mengelus pipi laki-laki itu. "Lihat wajahnya yang terlalu tampan ini. Sebelum dia direkrut oleh agensi model atau artis, lebih baik aku duluan yang mengambilnya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan laki-laki yang sangat rupawan ini."
Helaan napas panjang terembus dari hidung mancung Adrastus. Adiknya memang gila dan aneh.
Drystan bingung, apakah dia perlu berterima kasih pada Avyana yang beberapa kali mengatakan bahwa wajahnya tampan? Tetapi kenapa dia merasa seperti barang yang harus segera dibeli karena edisi terbatas?