Buntalan Gamis Dan Daster Bekas Dari Mertua
"Begini, Bu. Aku ingin membelikan Kiara pakaian untuk ia kenakan di acara resepsi pernikahan Cindi nanti," ujar Galih menjelaskan.
Bu Farah, ibunya Galih meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Galih, pakaian ibu banyak, bagus-bagus lagi. Gamis ibu juga masih selemari penuh yang tidak terpakai. Semuanya pas di tubuh istrimu. Buat apa membeli yang baru kalau yang ada masih lebih dari cukup? Jangan ajari istrimu untuk berboros, Nak! Cari uang itu susah. Apa kau ingin istrimu hidup bergelimang kesenangan, sedangkan kau sendiri yang kesusahan mencari pendapatan"
Galih terdiam mendengar ibunya bicara. Entah mengapa meskipun hatinya bertolak belakang dengan apa yang ibunya katakan, namun hatinya terasa segan dan lidahnya terasa kelu meskipun untuk sekedar mengutarakan pendapatnya sendiri.
"Bu, sekali ini saja aku mohon, aku kepingin membelikannya gamis baru yang ia pilih sendiri di butik langganan ibu," dengan ragu-ragu Galih mencoba untuk bicara kembali.
"Buat apa kau ingin mengajaknya ke butik langganan ibu? Harga di sana tidaklah main-main. Sudahlah, Galih. Hentikan omongan konyolmu,"
Galih memandang langit-langit ruangan. Ada rasa iba menyelimuti hatinya tatkala membayangkan wajah sendu Kiara yang tadi meminta dibelikan gamis.
"Galih, kau satu-satunya anak laki-laki ibu. Ibu menaruh harapan besar padamu. Ibu berharap kamu bisa membimbing adik dan mbakmu. setelah ayahmu tiada, kau adalah tulang punggung dari keluarga kita. Jadi bijaklah sebagai suami. Jangan turuti semua kemauan istrimu. Karena itu bisa membuatnya manja. Kalau dia banyak keinginan, suruh saja dia cari uang sendiri. Maaf, bukan ibu bermaksud jahat. Tapi itu demi kelangsungan hidup kalian. Seandainya saja dia bekerja, tentu saja pemasukan ekonomi akan bertambah. Dia..."
"Cukup, Bu!" Galih memotong pembicaraan ibunya.
"Kenapa? Kamu rela membentak ibu demi Kiara?" Bu Farah bangkit dengan melotot.
"Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud membentak. Tapi aku kurang setuju ibu menyarankan Kiara untuk bekerja. Dia sedang hamil anakku, Bu. Tidak mungkin aku membiarkan dia kecapean bekerja,"
"Kalau kau tidak ingin melihat Kiara kecapean bekerja karena sedang hamil, maka kau juga harus menasehatinya agar jangan banyak keinginan ini dan itu. Jadi istri itu harus kudu nurut. Kau tahu ajaran agama bukan? Istri itu harus patuh pada suami. Sebagai istri saja Kiara sudah nampak sebagai pembangkang, apalagi nanti sebagai ibu dari anakmu. Bisa-bisa kepalamu dia injak-injak. Jadi lelaki jangan mau terlalu dikuasai sama wanita. Pertahankan harga dirimu, Nak. Pertahankan takdirmu sebagai suami. Jangan lemah karena istri. Dan satu lagi yang terpenting, jangan pernah kau merendahkan ibumu ini demi perempuan itu. Dia hanyalah orang lain yang kebetulan kau nikahi dan kau bawa ke rumah ini,"
Kali ini Galih benar-benar tutup mulut dengan ucapan sang ibu.
Iya merasa serba salah, susah menimbang antara buah pemikiran sang ibu dengan kejujuran di hati kecilnya. Entah ada rasa tidak setuju dengan nasehat dari mulut sang ibunda.
Namun karena rasa hormat yang dijunjungnya sedari kecil, membuat Galih merasa ragu dan sungkan untuk menyangkal ucapan Bu Farah.
Sebentar kemudian, terlihat Bu Farah memasuki kamarnya yang berukuran cukup luas.
***
"Kiara ...!" Terdengar suara ibu mertua memanggil-manggil dari ambang pintu kamar kami.
"Ya, Bu," aku berjalan mendekatinya.
"Ada apa Bu?" Aku bertanya.
"Ini, untukmu. Itu lumayan banyak dan masih bagus semua. Nanti aku akan minta tambahan sama Megan. Dia juga mau punya banyak pakaian yang sudah tidak terpakai lagi."
Ibu mertuaku menyodorkan sebuah plastik putih besar dihadapanku.
Setelah itu Bu Farah melangkah keluar.
"Oh ya, kurasa kau tidak perlu lagi membeli yang baru, itu sudah lebih dari cukup" sambungnya sebelum benar-benar pergi.
Penasaran kucoba membuka plastik hitam yang tadi ia sodorkan.
Mataku menitikan tetesan bening. Di dalam plastik tersebut ternyata berjubel-jubel potongan gamis dan daster bekas.
Seperti biasa, nampak potongan-potongan gamis keluaran beberapa tahun yang lalu dengan warna yang mulai memudar.
"Astagfirullahaladzim, dia pikir siapakah aku ini? Sehingga patut untuk memakai dan mengenakan pakaian bekasnya setiap saat,"
"Tak akan pernah kupakai lagi pakaian-pakaian ini, akan kubuktikan bahwa aku bisa membeli semuanya bahkan lebih dari yang selama ini kalian kenakan,"
Bersambung...
Jangan Manjakan Istrimu!
Kruikkkh...
Terdengar bunyi khas dari perutku. Aku tersadar, hari telah menjelang siang. Aku belum juga makan.
Astaga, ini berbahaya untuk janin di perutku. Aku meninggalkan adonan kue yang sudah kukerjakan sedari pagi.
Berjalan menuju rak piring. Mengambil satu dan mulai mengisinya dengan nasi.
Kubuka tudung.
Hmm ...!
Harum semerbak aroma kari ayam menggugah seleraku.
"Kiara, karii yang ini buat Megan, Kiara!. Kau tahu, Megan caoek kerja. Sebentar lagi dia akan pulang. Pasti lapar. Kan kasihan." Tutur Bu Farah sembari menarik kembali kari ayam itu dari hadapanku, lalu menyimpannya ke dalam lemari.
Astaga...
Pupus sudah harapanku untuk makan kari ayam yang menggugah seleraku tadi.
Aku menelan ludah.
Seketika selera makanku hilang. Menyaksikan lauk yang tersisa hanyalah sisa lauk kemarin.
"Nasib, nasib. Nasib menumpang hidup di rumah mertua." Aku membatin.
Dengan langkah lunglai aku menuju kamar. Membaringkan tubuh dan memejamkan mata, berharap lupa akan kari ayam tadi.
Ku elus perutku yang membesar.
"Maafkan Ibu Nak! Jikalau kau tak mendapat kebahagiaan semasa di perut, semoga saja kau bisa hidup nyaman dan layak seusai terlahir ke dunia," aku berharap.
"Kiara...!"
Berteriak lagi tuh mulut Bu Farah.
"Adonan kue belum selesai. Ingat, Kiara. Kalau bekerja itu jangan setengah-setengah. Selesaikan dulu satu-satu, baru kerjakan yang lain. Ini boro-boro. Malah tiduran. Hamil itu jangan terlalu di manja. Semua wanita juga pernah hamil kok. Tapi tidak segitu juga manjanya."
Kebiasaan. Kalau mengomel, Bu Farah tidak tanggung-tanggung. Berderet-deret panjang hingga seperti gerbong kereta api.
"Maaf, Bu. Saya kecapean. Mau istirahat sebentar." Jawabku.
Krieet...
Pintu kamarku terbuka.
"Ck... ck ... ck ...! Ini rupanya. Tiduran..! santai sekali kerjaanmu. Lihat sana, kerjaanmu belum selesai sama sekali," ocehnya lagi.
"Maaf, Bu. Aku juga butuh istirahat. Benar-benar capek aku, Bu." "Memangnya capek ngapain ajah? Baru mengolah adonan segitu. Udah ngelu aja kerjaannya.
Tin... Tin...
Terdengar suara klakson sepeda Motor Mas Galih pulang kerja.
Buru-buru Bu Fatiah keluar.
Tidak kupedulikan Mas Galih. Aku tetap berbaring. Tubuh ini benar-benar penat dan letih.
Sebentar kemudian, Mas Galih muncul.
"Istirahat, Dek?" Tanyanya.
"Iya, Mas. Aku capek." Jawabku.
Syukurnya mulut Mas Galih tudak menurunkan sifat sang Ibu.
"Ya, istirahatlah. Mungkin Adek memang kecapean. Lagian pula, untuk kesehatan bayi kita juga. Wanita hamil memang jarus cukup beristirahat," ujarnya.
Mertuaku yang berdiri di ambang pintu nampak bersungut-sungut.
Aku tidak tahu apakah Mas Galih sadar akan arti sungut Bu Farah atau tidak, ketika kudengar suara Mas Galih berujar, "Tidak apa-apa, Bu. Sesekali Kiara tidur siang. Kan penting juga buat wanita hamil," ucap Mas Galih lagi.
Tanpa bicara, Bu Farah melangkah keluar dengan wajah suram.
***
"Galih, entah berapa kali ibu harus bilang sama kamu, Kiara itu jangan terlalu dimanja. Ngelunjak dia nanti. Lihat! Coba kau lihat! Itu pekerjaan ibu," Bu Farah menunjuk ke arah adonan-adonan kue yang tadi di kerjakan oleh Kiara.
Perlahan Bu Farah mendekati adonan kue dan mengulek-ulek. Padahal sedari pagi itu adalah pekerjaan Kiara.
"Sedari pagi ibu bekerja, bersusah payah. Membuat kue sendiri. Agar apa? Agar busa berhemat. Supaya bisa menghemat uang untuk acara pernikahan Cindi nanti," ucap Bu Farah.
"Sedangkan istrimu, kau tahu? Sedari pagi tiduran mulu kerjaannya. Tidak mau untuk sekedar membantu ibu di dapur," sambung Bu Farah lagi.
"Mungkin Kiara sedang capek, Bu. Namanya saja wanita hamil." Balas Mas Galih lagi.
"Apaa?"
Bersambung...