Bab 2

Begitu duel maut antara Michelle dan Kai selesai, wanita itu langsung ambruk dan melepaskan pelukannya dari tubuh pria yang sudah memuaskannya malam ini.

Pria itu tertawa getir dan geleng-geleng kepala melihat sprei ranjang yang sudah berpisah dari busanya. Michelle sangat menakjubkan.

"Harusnya kau bertanya dulu siapa aku sebelum kita bercinta, Manis. Tunggu saja, aku pasti akan mencari tahu siapa kau sebenarnya," percuma saja Kai mengutarakan kemauannya. Michelle sudah tak berdaya karena langsung tidur.

Tubuh telanjang wanita itu segera ditutupi oleh kemeja besar Kai. Ia tak ingin mengotori selimut yang akan ternoda keringat mereka nantinya.

Kai langsung menjelajahi kerusuhan apa yang terjadi di Cloud Nine. Ia pelanggan VIP kelas atas, tentu saja dengan mudah informasi Cloud Nine langsung bisa didapatkannya.

"Halo, Kimberly. Aku Kai, apakah ada sesuatu yang terjadi di Cloud Nine. Sepertinya telingaku mendengar desas-desus kebisingan dari lantai bawah."

Bodoh! Padahal Cloud Nine tempat yang sangat kedap suara dan terjaga keamanannya. Mana mungkin Kai bisa mendengar apa yang terjadi dari kelas dibawahnya?

"Maaf kelalaian kami, Tuan Kai. Tadi segerombolan pria menuntut karena tak bisa mencari wanita bayaran mereka. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara mereka dan wanita yang menghilang itu. Tim kami akan segera menyelesaikannya." terang Kimberly dari balik telepon.

Ah, ternyata Kimberly sama polosnya. Ia lupa menanyakan kenapa Tuan Kai bisa tahu soal itu.

"Baiklah, terima kasih, Kim. Kembalilah bekerja dan tolong bawakan makanan kesukaanku besok pagi dua porsi, ya?"

"Dua porsi?" aneh rasanya, padahal setahu Kimberly Tuan Kai sangat jarang memesan sesuatu kecuali kalau memang sangat lapar.

"Yeah, aku sangat menyukai sarapan di tempat ini. Ada masalah?"

"Tidak ada, Tuan Kai. Baiklah, besok saya akan menyuruh pramusaji mengantarkan sarapan untuk anda. Selamat malam."

Klik.

Kai masih mematung sambil memainkan gagang telepon. Ia tak menyangka, wanita itu ternyata wanita bayaran. Sial! Apalagi saat melakukannya Kai lupa membawa pengaman. Ah, mungkin saja wanita itu sudah meninum pil yang biasa diminum oleh para jalang.

***

Kalau bukan karena pantulan cahaya matahari yang menyoroti wajahnya, Michelle tak akan segera membuka mata dan menyadari bahwa dirinya berada di tempat yang sangat asing.

Kepalanya berkedut hebat dan matanya masih kunang-kunang. Rasanya, di bawah sana kepemilikannya sangat perih untuk bergerak, apa yang sebenarnya terjadi? Dan sejak kapan tubuhnya memakai kemeja pria?

"Sudah bangun ternyata, aku sudah memesan sarapan untukmu. Makanlah, sepertinya kau butuh banyak makanan." suara seorang pria menyapa pendengarannya. Siapa pria itu? Dan kenapa Michelle tak bisa mengingat apa-apa?

"Siapa kamu?" tanya Michelle. Pengaruh obat dan winenya semalam benar-benar buruk untuk ingatannya.

Kai beranjak dari sofa dan mendekati Michella. Ia duduk di tepi ranjang dan mengamati wanita itu yang sangat terlihat berantakan.

"Harusnya, akulah yang bertanya seperti itu. Siapa dan kenapa kau bisa berakhir di kamarku? Apakah bercinta membuat anda melupakan semuanya, Nona?"

Lagi-lagi kepalanya berdenyut kencang. Ia ingin memuntahkan segala isi yang mengaduk-ngaduk perutnya.

"Maaf, bisakah aku memakai toiletmu sebentar? Ada yang tidak beres dengan perutku,"

"Kau sudah hamil? Secepat itukah, padahal baru sekali kita melakukannya." goda Kai dengan sengaja.

Michelle baru sadar kalau tubuhnya tidak mengenakan bra, buah dadanya menonjol sempurna. Dengan cepat wanita itu langsung menyilangkan tangan untuk menutupinya.

Kai terkekeh, lucu sekali melihat Michelle malu-malu. "Percuma saja kau menutupinya, Nona. Aku sudah melihat bentuk dan bahkan sudah merasakannya."

Glek. Michelle lupa-lupa ingat tentang kejadian semalam, apakah ia baru saja bercinta dengan pria itu?

"Bisakah aku meminjam pakaianmu? Dress milikku sepertinya sudah rusak,"

"Bukan aku yang merusaknya, tapi kau. Mungkin karena pengaruh obat kau jadi brutal dan ganas."

Karena tak ingin berdebat lebih lama, Kai mengalah dan mengambil handuk jumbo untuk wanita itu. Sekesal apapun dirinya pada Michelle, tetap saja Kai merasa berhak memperlakukan wanita itu dengan hormat. Toh, semalam ia mengakui permainan Michelle yang memang hebat diranjang.

"Ini, aku akan carikan apapun yang bisa kau pakai nanti. Di kamar mandiku sudah ada sikat gigi baru, kau bisa memakainya."

Michelle masih malu-malu untuk angkat bicara. Dengan cepat tangannya langsung menyambar handuk untuk menutupi kaki jenjangnya. "Terima kasih."

Cepat-cepat ia masuk ke kamar mandi, menuntaskan rasa mualnya yang sudah ditahan. Ia tak percaya akan berakhir di kamar mewah nan sempurna. Ah, ingatannya agak membaik setelah terguyur air. Jadi, pria itulah yang semalam menemaninya dalam situasi panas akibat obat perangsang.

Kai kembali membaca majalah pagi dengan ditemani kopi khusus tanpa gula. Ia sudah rapi dengan setelan kerja, tapi rasanya enggan untuk keluar dari Cloud Nine. Perasaannya tiba-tiba tak enak hati meninggalkan wanita itu sendirian di kamar VIP-nya. Padahal Kai tak perlu meragukan keamanan karena tak akan ada yang berani masuk ke ruangannya tanpa izin.

Klek!

Begitu pintu terbuka, Kai segera bangkit dan melemparkan hoodie yang sama jumbonya. "Pakai itu, aku tidak bisa membelikan bra baru untukmu karena terasa sangat aneh jika aku membelinya."

Muka Michelle langsung memerah. Kenapa sih pria itu selalu blak-blakan banget kalau ngomong? Meskipun semalam mereka sudah tahu tubuhnya masing-masing, tetap saja wanita itu malu untuk membahasnya.

"Mau ke mana kau?" tanya Kai saat Michelle hendak kembali ke kamar mandi.

"Tentu saja berganti pakaian, meskipun semalam kita bercinta tapi rasanya aneh harus berganti pakaian di depanmu bukan?"

Kai tertawa. Ternyata Michelle sangat polos sekali. "Kamarku menggunakan lensa photochromic, kau tak perlu khawatir aku akan mengintip." Kai langsung mengganti dinding kaca dan dalam sekejap berubah menjadi gelap.

"Lihat? Aku tak akan melihatmu berganti, silahkan gunakan kamar ini sesukamu."

Kai langsung keluar dan menutup pintu. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat. Gila! Ini kali kedua wajahnya berubah saat berhadapan dengan Michelle.

Cepat-cepat Michelle mengenakan hoodie yang hampir menutupi lututnya, ia merasa tubuhnya tenggelam karena memang sangat kebesaran.

"Hmm, terima kasih sudah memberikanku pakaian, aku harus pulang sekarang." ucap Michelle begitu keluar ruangan dan berdiri didekat Kai.

"Pulang? Kau pikir bisa lolos begitu saja? Dan di bawah sana aku yakin banyak yang mencarimu, kau yakin akan tetap pulang, Nona?"

Ah, kenapa Michelle lupa akan Gaston cs. Mereka memang biadab! Pasti sekarang ini Michelle sedang dicari dan apartemennya sudah tidak aman.

"Lalu, aku harus bagaimana?" tanyanya seolah meminta pertolongan.

"Pertama, aku sama sekali tak berminat dengan masalahmu. Dan kedua, aku tak suka privasiku diganggu. Tapi, karena aku pria normal, semalam kita tetap melakukannya. Dan terakhir, tinggalah di sini sampai aku memikirkan cara mengeluarkanmu dengan aman tanpa mengundang perhatian. Jujur, aku juga punya rumah untuk pulang."

"Hmm, maaf,"

"Tak masalah, mungkin sekarang sebaiknya kau makan karena nanti makanannya akan dingin. Jangan membuat ruanganku kotor karena ada makanan basi nantinya."

Michelle kembali menatap meja yang sudah terhidang banyak makanan. Ah, pria ini meskipun sangat judes tapi sepertinya tak berhati serigala.

Bab 3

Tanpa pikir panjang, Michelle langsung menyendok muesli, padahal wanita itu jarang sekali makan makanan rendah lemak. Lumayanlah, hitung-hitung diet.

"Kamu tidak makan?" selanya. Bagaimana pun juga rasanya aneh mengajak pria asing itu mengobrol, tapi mau bagaimana lagi? Michelle merasa hutang budi.

Kai tak merespon sama sekali. Matanya masih sibuk dengan majalah di tangannya. Meskipun otaknya tak bisa fokus karena kehadiran Michelle yang penuh banyak tanya, Kai berusaha bersikap sok tenang dan biasa saja.

Kini tubuhnya berpindah posisi dan menghadap Michelle. "Habiskan dan nanti barulah kita bicara," tegasnya dingin.

Brr! Michelle seperti kedinginan karena pria itu sangat tak hangat sama sekali. Ah, tak masalah karena mereka akan saling melupakan untuk ke depannya.

Seperti yang dibilang Kai sebelumnya, pria itu tak akan mengeluarkan suara sampai Michelle menghabiskan semua makanan yang sudah dipesan. Wanita itu memang kelaparan dari semalaman, apalagi ditambah dengan perang panas dengan Kai.

"Apa kau masih ingat namaku, Nona?" tanya Kai akhirnya. Percuma saja membaca majalah kalau otaknya tak bisa menangkap apa yang tergambar pada kertas. Ini semua karena wanita itu telah menyita perhatiannya.

Michelle nampak berpikir, tangannya saling bertautan karena tak menemukan jawaban yang akan dilontarkan. Malam tadi, saat mereka bercinta wanita itu memang tak mencari tahu dulu tentang pria yang menidurinya.

"Maaf, tapi aku hanya ingat namamu huruf depannya saja. Namamu diawali dengan huruf 'K' bukan?"

Pria itu agak tersinggung. Bagaimana mungkin Michelle bisa lupa begitu saja? Padahal semalam wanita itu mendesah dengan lantang menyerukan namanya. Ah, rasanya harga diri Kai sedikit terinjak.

"Lain kali, sebelum mengajak orang bercinta hapalkanlah nama mereka. Supaya kau bisa mendesah lebih lantang. Faham?"

Michelle langsung pucat pasi. Ia mana tahu kalau keadaannya akan begini. Dalam otaknya sama sekali tak pernah terpikirkan kalau akan bercinta dengan pria asing seperti Kai.

Ia mengulurkan tangan sebagai perkenalan resmi. Meskipun Michelle tak berniat untuk mengenal Kai lebih jauh, sepertinya kalau hanya mengetahui nama saja tak masalah.

"Aku Michelle Tsabina, terserah kamu kau manggil aku apa. Kamu?"

Rasanya Kai cukup tertantang karena wanita itu tidak sekaku tadi. "Aku Kai, dan lebih suka dipanggil seperti itu. Kau masih kuliah bukan?"

Michelle mengangguk. Dua semester lagi dirinya akan lulus dan berusaha untuk masuk ke perusahaan yang bisa mengubah nasibnya. Ia tak mungkin menjadi santapan pria hidung belang selama sisa hidupnya.

"Aku harus pergi karena aku seorang pria pekerja. Kau gak apa-apa kutinggal sendirian?"

Tentu saja Michelle kegirangan. Ia seperti kejatuhan durian nomplok lantaran bisa menikmati kemewahan kelas atas. "Memangnya aku bisa tetap di sini meskipun gak ada kamu?"

"Tenang saja, gak ada satu orang pun yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa izinku. Ah, aku lupa. Sebenarnya ada, kamu orangnya!" tunjuk Kai. Ia lalu tertawa seolah-olah itu sesuatu yang lucu baginya.

Begitu pria itu pergi, Michelle seperti merasakan menjadi tawanan di kamar berbintang. Ia berputar-putar sambil mendengarkan musik kesukaannya. Berjingkrak-jingkrak di ranjang layaknya orang gila. Kapan terakhir Michelle merasakan kebahagiaan selepas ini?

'Mumpung gak ada si tampan di kamar ini, mendingan aku mandi di bathup ah!'

Michelle segera menceburkan diri dan menikmati fasilitas secara gratis. Tubuh indahnya merasa basah oleh busa aroma mawar dan mint segar. Ternyata pria itu punya selera yang lumayan juga.

Meskipun wanita itu tinggal di apartemen yang harganya lumayan, tapi tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ruangan ini. Ini seperti ukuran rumah di lantai atas. Memiliki satu kamar tidur dengan luas kesukaan sultan, ruang tamu dengan sofa ukuran size. Bahkan Michelle akan tetap tidur puas meskipun hanya di atas sofa. Belum lagi dapur mini, yeah.. meskipun tak ada makanan dan minuman apapun selain air putih.

Apakah pria itu sering datang ke sini? Kenapa penjaga sangat kaget saat Michelle menyebut nomor kamar Kai? Sebegitu kayakah pria itu?

***

Kai hampir saja melemparkan ponselnya karena Brandon tak mengangkat telepon darinya. Saat ini pria itu tidak sedang menuju ke kantor tapi malah berdiri di depan butik khusus wanita. Ia ingin membelikan beberapa pakaian untuk Michelle dan tentu saja beserta pakaian dalam.

Sumpah! Racun apa yang ditularkan wanita itu ke sel otaknya? Baru kali ini seorang Kainando Patiwara kebingungan memperkirakan ukuran dada Michelle. Kalau terlalu kebesaran bagaimana? Apalagi kekecilan, pasti tidak nyaman bukan?

Satu-satunya orang yang bisa ia tanyai tentang tubuh wanita hanyalah Brandon. Sepupunya itu memang sangat cerdik saat mengukur bentuh tubuh wanita meskipun hanya satu kali lihat saja. Brandon adalah playboy kelas kakap yang selalu berhasil memikat deretan wanita cantik-seksi-menggairahkan. Dasar otak selangkangan!

"Pagi Mbak, bisa ke sini sebentar nggak?" Kai melambaikan tangan ke salah satu pegawai butik yang sedang menganggur. Sepagi ini butik memang belum ramai, hal itulah yang membuatnya gugup tak karuan. Sialan! Perasaan macam apa ini?

"Kekasih Masnya lebih suka model yang sport, sheer bra, nursing atau malah suka yang transparan?"

Kai menelan ludahnya kembali. Ia mana tahu selera para wanita tentang dunia bra. Pria itu lebih suka melihat wanita tanpa busana. Ah ralat! Maksudnya Kai menyukai Michelle tanpa memakai sehelai kain ditubuhnya.

"Random aja deh Mbak," Kai ragu-ragu untuk menyebut ukuran dada Michelle. Ia mencari situs pencarian dan menulis aktris wanita yang bentuk tubuhnya mirip dengan Michelle.

"Wah, ini sih ukuran yang sangat banyak disukai orang , Mas!" pegawai tersebut membungkus lebih dari lima stel pakaian dalam wanita beda warna beserta setelan pakaian santai. Tak mungkin Kai membiarkan wanita itu seharian memakai hoodie tanpa celana. Meskipun keliarannya sudah lenyap, sebagai pria normal Kai harus tetap waspada. Apalagi setelah tau semalam pria itu tidak memakai pengaman.

Kai segera pergi dari butik dan kembali ke rumahnya. Rumah yang hanya ada dirinya saja. Sebenarnya ada pembantu dan tukang kebun sekaligus mata-mata kepercayaannya.

"Pagi, Tuan Kai," sapa Ruben. Meskipun dari penampilannya hanya seorang tukang kebun, Ruben sangat cekatan dan bermata jeli. Kemampuan bahasa, otak cerdiknya, kekuatan tangannya saat menjatuhkan lawan di ring dan kepolosan wajah adalah skill yang ia miliki. Itulah mengapa Kai menempatkan Ruben di rumahnya dan memberi pekerjaan yang tak akan dicurigai banyak orang.

"Saya bawakan belanjaan anda Tuan,"

Cepat-cepat Kai menyingkirkan paperbag besar dari Ruben. Jangan sampai pria itu tahu apa yang dibelinya dari butik. Meskipun Ruben faham Kai pernah bermain dengan banyak wanita, baru kali ini tuannya membelikan pakaian dalam wanita. Apa kata Ruben nanti?

"Aku bisa membawanya sendiri Ruben!" Kai langsung berjalan masuk dan memasuki lift, tapi ia menoleh kembali dan berkata, "Tolong sampaikan pada Vera untuk membuatkan makan siang untukku agak banyakan. Vera pasti punya kotak makan, kan? Aku ingin dia menaruh makanan di dalamnya,"

Ruben hanya bisa mengangguk dan tidak bertanya apa-apa. Apalagi ini? Sejak kapan tuannya memilih cara yang ribet untuk makan? Dan tumben-tumbenan Kai mau membawa belanjaannya sendiri? Bahkan kunci mobil saja pria itu sering lupa karena tak pernah menyimpannya dengan baik. Beruntung Ruben sering menyuruh Vera untuk mengawai tuannya saat kelupaan tentang kunci mobil.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED