Aku sudah berlari hingga sejauh ini, menghindarimu secepat yang kubisa. Bersembunyi di tempat yang tak terkena seberkas cahaya agar aku tak bisa tertangkap bayanganmu, bahkan tak bisa melihat bayanganku sendiri supaya aku tak perlu melihat ke belakang. Jadi, kumohon jangan kembali lagi, wahai si Masa Lalu.
[Alexandria Serenata Atmadya — Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy]
“Eunghh, sa-sakit,” rintihku saat itu, tapi dia sepertinya menulikan diri dan tak mau beranjak sedikit pun dari atas tubuhku. Aku bisa merasakan sentuhannya di permukaan kulitku. Panas, itulah yang kurasakan waktu itu dan sialnya masih bisa kuingat sampai detik ini. Entah itu berasal dari tangannya atau mungkin juga dari tubuhku atau bisa saja dari tubuh kami berdua yang sedang terbakar hasrat?
Seharusnya sore itu aku bisa bersuara lebih lantang, mencoba memaksa kedua mataku untuk terbuka lebih lebar, lalu mendorongnya menjauh untuk menyadarkannya agar dia berhenti. Namun sayangnya, di ambang batas kesadaranku semuanya seakan sia-sia. Bahkan matahari senja yang terakhir kulihat sedang mengintip dari balik tirai nyatanya tak bisa menyinari seisi kamar, tak juga wajahnya yang sekarang mulai semakin samar dalam ingatanku. Namun, itu tak berlangsung lama karena wajah malaikat kecilku terlihat semakin mirip dengannya, mungkin? Pasti wajahnya sedikit berubah, ‘kan? Wajah tampan yang menyesatkan itu.
“Lex! Lexa! Kamu kenapa bisa ngigau gak karuan kayak gini sih? Astaga! Badanmu panas banget. Udah dibilang masuk setengah hari aja biar kamu bisa ke dokter, malah kamu gak mau dengerin, ish!” cerocos Ayana panik. Suara cemprengnya membuat kepalaku semakin sakit, konon lagi teman-teman editor lain di luar ruanganku.
Ayana Tan adalah sahabat sekaligus editor-in-chief di tempatku bekerja selama hampir lima tahun ini. Dia memang orang yang perhatian meskipun terkadang irit bicara terutama jika jadwal kami lagi padat-padatnya.
Setelah membasahi kerongkonganku dengan beberapa teguk air dibantu Ayana, akhirnya aku menuruti perkataannya untuk pulang lebih dulu. Setidaknya aku bisa membuatnya menghemat tenaga karena berhenti mengomel dan mengkhawatirkanku berlebihan. Maklumlah ya, sesama anak rantau pasti rasa senasib sepenanggungannya terasa banget. Apalagi kami saat ini sedang berada jauh di negeri orang. Padahal jam kantor tinggal dua jam lagi, nanggung banget ‘kan? Tadinya kami berdua berencana untuk lembur lagi hari ini, tapi ternyata aku lagi-lagi ketahuan sedang memaksakan diri.
“Pantesan kamu gak ngebalesin chatku! Aku udah ngerasa kalau ada yang gak beres. Kamu bandel banget emang kalau dibilangin, Alexandria Serenata Atmadya! Ini kamu yakin bisa berangkat sendirian, Lex?” tanya Ayana memastikan untuk yang terakhir kali.
“Bisa, bisa. Udah jangan berlebihan gini, Bu. Gak enak sama yang lainnya,” lirihku sambil membereskan berkas di atas meja kerjaku. Aku terus memberinya kode melalui tatapan dan bahasa tubuhku untuk mengingatkan kalau jam makan siang kami sudah lewat dari tadi. Siapa sih yang tidak merasa sungkan jika Ayana bersikap seperti ini? Lebih tepatnya aku paling tidak suka jika dijadikan bahan gosip tak sedap seakan aku sedang diistimewakan, bukan dilihat karena prestasiku. Ini perusahaan besar, jadi wajar jika ada pihak yang bermain politik di dalamnya, ‘kan?
Kulirik Ayana memutar bola matanya kesal, “Udah, biar Raina aja yang bantuin beresin mejamu.”
“Eh, i-iya biar saya saja, Bu.” Raina ternyata dari tadi ada di ambang pintu ruanganku.
“Thanks, udah beres kok, Raina. Saya nitip temen-temen sebentar ya,” ucapku sambil tersenyum pada Raina. Dia adalah salah satu senior editor di sini. Raina menanggapiku dengan anggukan sambil terus mengawasiku, dia berjaga jika seandainya tubuhku mendadak oleng karena memang aku sedang pusing berat.
Aku kembali menatap ke arah Ayana, “Nanti kalau udah disuntik vitamin aku balik lagi ke kantor, kita hari ini janjian lembur, ‘kan?”
Mendengar kalimatku barusan kedua wanita di depanku melotot dengan ekspresi tak percaya. Sepertinya kok aku barusan salah ngomong, ya?
“Masih nekat juga gak mau istirahat?! Biar aku ajuin surat resignmu sekarang juga ya, Lex!” ancam Ayana yang kutanggapi dengan senyuman dan wajah polos. Maksudnya sih biar Ayana berhenti mendengus terus-terusan, tapi sepertinya tidak berhasil.
“Iya, iya. Saya izin cuti kurang dari setengah hari aja kalau gitu, Bu,” kataku setengah sewot ditanggapi dengan deheman oleh Ayana.
Raina berjalan di sampingku saat kami menuju ke arah lift. Tadinya aku menolak ditemani apalagi kalau sampai dipapah seperti aku sedang sakit keras saja, tapi dia rupanya lebih takut dengan ancaman Ayana ketimbang aku. Jelas saja Raina yang saat ini masih menjadi salah satu senior editor akan lebih takut dengan titah seorang chief editor, ketimbang perkataan seorang managing editor sepertiku.
✧✧✧
Sudah sore hari saat aku keluar dari klinik dokter di dekat daycare putriku. Rencananya aku akan langsung menjemput Fillea setelah menebus resep yang tadi diberikan oleh dokter padaku.
“Mooooommyyyyy,” sapa gadis kecil cantik berpakaian serba pink dengan rok model tutu saat melihatku masuk ke ruang tempat penitipan anak untuk menjemputnya.
Setelah berpamitan pada para pengasuh di sana aku segera menggendong putriku untuk pulang ke apartemen kami.
“Lea belajar apa hari ini, Nak?” tanyaku seperti biasa, aku tak ingin melewatkan perkembangan putri pintarku sedetik pun.
Mata Fillea mengerjap-ngerjap memandangiku, ia tersenyum sebentar sebelum menjawab, “I learn ...,”
“Eits, Indonesian dong. Sama Mommy harus bicara pakai bahasa, oke? Kalau di daycare boleh speak in english,” tegurku sambil memeluk gemas tubuh malaikat kecilku.
Fillea tertawa geli, lalu kedua tangannya memeluk leherku, “Loh, Mommy atit?” tanyanya setelah merasakan perbedaan suhu tubuh kami.
“Cuma sedikit, Sayang,” jawabku cepat saat melihat kedua mata Fillea berkaca-kaca. Ia memang setakut itu saat melihatku sakit, apalagi jika aku sampai tak kuat turun dari tempat tidur. Karena dia tahu itu artinya kami harus terpaksa berjauhan sampai aku sembuh agar tak menularkan virus padanya.
Beginilah keseharian kami semenjak aku membawanya pindah ke apartemen. Menjauh dari masa lalu dan semua kenangan buruk yang bisa kembali menghantui kami kapan saja, tapi semoga saja tidak. Aku sudah lelah jika harus berlari lagi. Aku ingin hidup tenang dengan putri cantikku. Meskipun itu artinya aku harus sembunyi sampai ia dewasa dan membutuhkan kehadiran seorang wali untuk mengesahkan pernikahannya kelak, tapi itu masih bisa dibicarakan nanti, ‘kan? Yang jelas aku ingin tetap menjaganya dan memilikinya untuk diriku sendiri selama yang aku bisa sebelum dia menemukan pria yang tepat untuk menemani langkahnya.
Seperti biasa saat kami tiba di apartemen maka aku akan melepaskan peranku sebagai seorang editor dan menggantinya menjadi seorang ibu penuh waktu untuk gadis semata wayangku. Maksudnya jika sudah di rumah maka aku tak mau diganggu siapa pun. Apalagi kalau itu berurusan dengan pekerjaan yang bisa kuselesaikan saat jam kerja besok, tentu saja kecuali jika masalahnya genting. Sebenarnya bukan hanya ibu, tapi aku harus berperan sebagai seorang ayah untuknya. Meskipun ada seorang pria yang biasanya dia panggil dengan sebutan papi, tapi aku berusaha agar Fillea tidak terlalu lengket dengannya. Bagaimanapun sejak awal Fillea Deandra adalah tanggung jawabku, karena dia hanya milikku.
“Yeaaayy kita mamam omelet,” ucap Fillea setelah aku meletakkan piring khusus miliknya di atas meja yang menyatu dengan kursi bayinya, lengkap dengan segelas jus buah segar kesukaannya. Aku tak tahu ini meniru siapa, tapi dia lebih suka jus buah segar daripada susu setelah mencoba rasanya untuk pertama kali. Dia hanya mencari susu saat terbangun malam hari, itu pun sangat jarang setelah dia mulai belajar mengenal makanan pendamping.
“Tumben nyebutnya omelet, Nak? Biasanya telurrr,” kataku mengajari huruf tersulit untuk putri pintarku.
“Ndak ndak ndak ni omelet, Mommy,” celetuknya lagi. Ia memang terkadang suka mengganti kosa kata tertentu yang memiliki huruf menantang untuk diucapkan dengan sebutan yang sama meskipun terkadang si cantik ini harus mengingat cukup lama agar bisa menemukan padanan katanya.
“Hmmm, arrrroma teluurrrrr,” ujar seorang pria dari arah ruang tengah. Ia juga ikut menggoda Fillea yang sekarang sedang mencebik hampir menangis.
“Uuuh, si Cantiknya Papi kok mukanya gini?” pria yang menyebut dirinya Papi itu seketika panik saat melihat air mata Fillea sudah siap meluncur deras.
Aku sengaja beranjak dari meja makan untuk menyiapkan sepiring makan malam lagi. Biar saja dia kebingungan menenangkan Fillea agar tidak menangis. Salah sendiri baru datang sudah menggoda anak pintarku padahal dia tahu kami sudah mau makan.
“Aduh, Lex. Eh, Mom ini gimana udah hampir meledak bomnya?”
Setelah kata meledak diucapkan, seperti tombol yang baru diaktifkan maka seketika itu juga Fillea berteriak kencang meluapkan rasa kesalnya disertai tangisan geram, “Huwaaaaa!! Mommyyyyy!!” tangis Fillea sekuat tenaganya.
“Tuh kaaan, udah tahu anak cantiknya gak bisa kalau diledekin terus. Emang sukanya jahil aja sih,” tegurku pada pria yang sekarang pasrah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari kedua tangan mungil Fillea.
Aku mendekat untuk menghapus air matanya sambil perlahan mencekal kedua tangan mungil anakku, mengarahkan pandangannya ke mataku, “Anak pintar, tangannya Fillea ini buat mamam, berdoa, belajar. Kalau buat mukul nanti sakit semua, Nak. Tangan Lea jadi sakit, yang kena pukul apalagi,” ujarku memberi pengertian. Fillea terisak kecil sambil menatapku. Aku tahu hatinya masih dongkol, lututku menyenggol kaki pria di sampingku. Aku beranjak untuk duduk di kursiku setelah mengecup kedua tangannya.
“Maaf ya, Tuan Putrinya Papi. Papi tadi tuh beneran laper berat gara-gara menghirup aroma telur buatannya Mommy,” ucap pria berbadan tegap ini menjelaskan maksudnya agar bisa berdamai dengan putri kecilku.
Tanpa dia duga Fillea yang sudah mengulurkan kedua tangannya untuk meminta maaf dengan cara mencium pipi Juan malah kembali menangis tepat di telinga si papi dan membuat pria malang itu panik lagi.
“Kalau ngajak baikan jangan ngucapin kata yang pakai banyak R dong, Pi,” tegurku.
“Astaga, salah mulu deh gue. Maaf ya, Sayang. Maafin, Papiiii,” kata si papi memelas, membuat Fillea mulai tersenyum, “Nah, gini kan kelua- eh, muncul cantiknya.”
“Oke, sekarang kita mulai mamamnya ya. Pimpin doa, Pi,” celetukku ditanggapi pelototan dari Juan. Aku tersenyum jahil, jelas saja karena kami memang berbeda keyakinan makanya dia tak mungkin memimpin doa sebelum makan.
Aku memimpin doa sebelum makan yang diamini oleh bibir mungil Fillea. Ya, Juan adalah teman yang selama ini menjadi salah satu tempat berbagi sedikit cerita selain Phoebe dan Ayana. Sebenarnya Ayana satu-satunya yang tak tahu tentang keberadaan Fillea selama ini. Kalau soal Phoebe, justru dialah yang mengajakku masuk ke perusahaannya. Ia semakin percaya setelah melihat pengalamanku sejauh ini dan mungkin juga karena dia sering mengamati caraku mendidik malaikat kecilku. Berbeda dengan pria yang saat ini sedang menghabiskan makan malam bersama kami.
Juan De Luca. Pria baik hati, tapi sayangnya bermulut pedas yang pada akhirnya kubuat terlatih mengganti popok bayi. Dia juga yang selalu aku repotkan saat Fillea tiba-tiba tak enak badan atau butuh sesuatu ketika hari sudah terlalu malam semenjak tiga tahun lalu. Ah, hari-hari itu sungguh penuh perjuangan dan air mata. Sejak saat itu pula dia bersikeras meminta dirinya dipanggil papi oleh gadis pintarku yang sekarang sibuk menyuapkan sesendok lauk dan kentang tumbuk bergantian.
“Tumben hari ini gak lembur?” tanyaku setelah kami berdua selesai makan. Sudah menjadi kebiasaan saat kami menunggu Fillea menyelesaikan acara makannya maka kami akan sedikit saling bertukar cerita tentang apa pun yang terjadi dengan kami di luar rumah.
“Belum, mulai bulan depan bakal lembur lagi dan yang bakal lembur bukan cuma aku, tapi kamu juga,” jawab Juan setelah meneguk habis jus buah segarnya.
“Loh, kok aku juga? Habis nikahannya Ayana minggu depan kan aku mau ngajuin cuti bulan depan buat ngajak Lea liburan,” protesku bingung.
“Dia belum bilang emangnya? Hari ini surat tugasmu udah keluar. Isinya bulan depan kita berdua pindah ke Jakarta. Eh, kita bertiga,” jelas Juan enteng. Ia sesekali membuka mulutnya sambil mendekat ke arah tangan kanan Fillea untuk menerima potongan sayur cincang yang ditemukan Fillea di dalam kentang tumbuknya. Anakku memang jeli, padahal aku sudah mencincang wortelnya sehalus mungkin, tapi setiap ia menemukan potongan wortel yang agak besar, tangan kanannya otomatis langsung terulur ke arah Juan untuk menyingkirkan potongan sayur itu dari jemari kecilnya.
Aku tertawa geli melihat kelakuan kedua orang berbeda usia di depanku. Terkadang mereka bisa sangat akur, di lain waktu mereka membuat kepalaku pusing dengan teriakan dan celotehan mereka. Aku pura-pura tak melihat ke arah Fillea, karena setiap kali aku memandangnya sedang mengeluarkan mode pemilih makanan maka dia akan langsung menunduk takut. Padahal aku tak pernah memarahinya, cuma aku tak berhenti memberinya pengertian tentang baiknya sayur untuk tumbuh kembangnya.
Kata Juan aku sedang berubah menjadi seorang penyair jika mode parentingku sudah aktif. Mau bagaimana lagi? Tanggung jawab untuk mendidik Fillea ada padaku sampai ia bisa membuat keputusan saat dewasa kelak. Tentu saja aku harus memberikan pondasi yang kuat agar dia juga bermental tangguh meskipun gadisku itu hanya mengenal aku sebagai orang tuanya di dunia ini.
Jakarta, ya? Apa sudah waktunya bagi kami untuk kembali sekarang? Bagaimana jika nanti ada yang mengenali kami? Mengenali Fillea? Melihat kemiripan wajah Fillea dengan seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya? Apalagi kalau sampai mereka merebut putriku dan akhirnya mereka mengakuinya sebagai keturunan mereka dan memisahkan kami dengan paksa?
“Papi, Mommy atit,” celoteh Fillea saat Juan membantunya mencuci mulut dan kedua tangannya.
Juan menoleh ke arahku yang diam-diam sedang minum obat pereda demam. Aku hampir saja tersedak saat ia menatap tajam ke arahku. Aku memberi kode dengan tanganku, “Udah, dilarang jadi rapper. Besok juga pasti sembuh. Aku nitip kelonin anakku, ya. Ntar kuantar ke tempatmu pas dia udah siap mau tidur.”
“Gak! Aku bawa sekarang aja daripada kamu nularin virusmu ke si Cantik. Princess, ikut bobok sama Papi, ya? Biar Mommy bisa istirahat dan cepat sembuh. Kalau Mommy udah sembuh, bulan depan kita bisa jalan-jalan naik pesawat. Okay?” bujuk Juan sambil menatap mata Fillea dengan satu tangan menirukan gerakan pesawat lepas landas. Putri kecilku mengangguk antusias sambil tersenyum lebar. Ia memang sepertiku, suka sekali bepergian. Sebenarnya sama seperti pria itu juga. Ah, kenapa sih aku selalu mengingatnya terus hari ini? Bikin kesal aja!
Sepertinya Sang Maha Atas Segalanya sedang merindukanku. Memang seingatku sudah lama semenjak aku menangis meraung-raung saat mengadu tentang betapa tak adilnya apa yang kualami saat itu. Hari-hari sebelum aku melihat wajah mungil yang selalu kupandangi sebelum tidur. Setelah putri kecilku hadir, semua teriakan keputus asaan itu berubah menjadi rangkaian doa agar kami berdua selalu kuat menghadapi masa depan. Tanpa kusadari doaku akhirnya menjadi sesingkat itu, dan hanya berisi permohonan agar hidupnya selalu dikelilingi kebahagiaan serta kami selalu dicukupkan oleh-Nya.
[Alexandria Serenata Atmadya — Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy]
Kalimat Juan tentang lembur setelah mereka berdua sampai di Jakarta memang benar-benar menjadi kutukan yang nyata. Sejak tiba di ibu kota tercinta hari itu, rutinitas Juan dan Alexa selalu sama. Dari rumah ke kantor saat matahari baru terbangun, lalu pulang saat matahari terlelap. Begitu terus tiap hari hingga sore ini, mereka harus bekerja sama untuk mengelola anak cabang perusahaan The Breslin Media, bagian dari The Breslin Corp dan Levanchois Royal Holding. Perusahaan ini dibuat untuk mengelola proyek terbaru milik dua perusahaan induk itu yang memutuskan untuk membuka sebuah platform menulis berbayar dan pasar terbesarnya ada di Asia.
“Juaaan, makan apa nih kita malam ini?” tanya Lexa lemas ditambah memelas sambil menatap ke arah Juan di balik meja kerjanya, ia menopang kepala menggunakan tangan kirinya. Tak lama kepalanya menyandar pada sandaran sofa ruang kerja Juan setelah sikunya terasa mulai kesemutan. Rasanya tenaga Lexa sudah habis terkuras, tapi ia lebih tak tega saat melihat keadaan Juan saat ini. Menurutnya pria yang terlihat lumayan tampan hanya jika dia diam itu pasti jauh lebih lelah daripada Lexa. Mungkin saja saat ini Juan sudah di ambang stres.
Setelah mereka bertiga tiba di Cengkareng pagi itu, Lexa terus saja merasakan beberapa keanehan. Mereka bertiga dijemput oleh mobil perusahaan. Itu sih masih wajar, yang tak wajar adalah jenis mobilnya yang cukup mewah untuk kelas karyawan seperti mereka berdua. Apalagi saat sopir mengemudikan mobil yang mereka tumpangi ke sebuah cluster elit di kawasan elit pula. Tentu saja Juan memberi kode pada Alexa agar tak banyak bertanya selama masih ada orang lain di sekitar mereka, tapi setelah Lexa melihat travel bagnya ikut dibawa ke dalam bersama dengan beberapa tas berisi barang-barang penting milik Juan maka saat itu juga dia melotot meminta penjelasan. Belum lagi saat ia menyadari semua box khusus ekspedisi berisi barang milik mereka bertiga tersusun rapi di ruang keluarga.
Setelah para asisten rumah tangga dan penjaga rumah berkenalan dengan mereka lalu kembali mengerjakan tugasnya masing-masing, barulah Juan bercerita jika ia sekarang sudah naik jabatan menjadi seorang COO. Makanya ia meminta Lexa untuk menemaninya tinggal bersama Fillea di rumah besar itu. Tentu saja Lexa protes karena Phoebe sudah setuju untuk memberikan fasilitas apartemen yang jauh lebih dekat dengan kantor karena dia juga sudah naik jabatan, tapi semua usahanya sia-sia. Bahkan Lady Boss mereka mengatakan agar dia menuruti perkataan sahabat pria mereka ini. Benar-benar rencana yang licik, ‘kan?
Namun, akhirnya Lexa sadar dengan maksud kedua sahabat sekaligus bosnya. Mereka tidak setuju jika Fillea dititipkan di tempat penitipan lagi. Jakarta dan New York itu berbeda, jelas mereka tak ingin mengambil banyak resiko. Lexa sih setuju saja dengan berbagai pertimbangan yang masuk akal meskipun dia juga menyadari ada alasan lainnya. Jika ia tak bisa fokus dengan pekerjaannya karena selalu mengkhawatirkan keadaan Fillea setiap kali harus lembur maka kinerja Lexa pasti tak akan maksimal, jika sudah begitu pastinya akan berdampak pada pekerjaan seluruh tim dan juga perusahaan mereka pastinya. Ah, apa pun alasannya yang jelas dia bersyukur karena kedua bosnya itu adalah orang-orang yang pengertian dan selalu mendukung anak buahnya yang memang produktif dalam bekerja.
“Aku sebenarnya lagi kangen berat sama masakanmu, Lex, tapi aku cukup sadar diri kok. Kamu pasti capek banget soalnya beberapa hari ini langsung ketiduran padahal baru banget masuk kamar. Tadi siang aku udah bilang ke bu Mia kalau kita makan malam di rumah meskipun pulang larut. Lagian Princess pasti udah gak sabar nungguin kita pulang,” jelas Juan memakai kembali jas yang ia gantung di dekat meja kerjanya.
Mereka berdua bersiap pulang, Lexa mengikuti Juan dari belakang. Sedikit memberi jarak agar tak menimbulkan kecurigaan lebih jauh. Saat di dalam lift mulut Lexa sudah gatal untuk menegur pria jangkung di sampingnya, “Kalau sekretarismu atau karyawan lain tadi denger kamu ngomong apa, pasti besok bakalan rame ini kantor. Mereka bisa ngira kita pasangan suami istri beneran, Bos!”
Juan tak menanggapi perkataan sahabatnya, tapi dari pantulan pintu lift di depan mereka bisa Lexa lihat bibir Juan sedang tersenyum jahil. Lihat saja nanti, dia bertekat tak akan berhenti mengoceh setelah perutnya terisi penuh.
✧✧✧
Sesampainya di kediaman Juan, terdengar suara gelak tawa makhluk paling centil nan ceria yang selalu bisa menghidupkan suasana di mana pun dia berada, “Aunty Scenow White, kapan holiday ke syini? Lea kangen mainan di taman schambil makan hotdog, kentang, chipts, ice cream. Oh, cotton candy juga! Mommy gak atsik, gak bolehin Lea makan itu scemua,” celoteh Fillea pada seseorang yang ia panggil Snow White.
Alexa dan Juan sengaja melangkah pelan saat mendengar pengakuan dosa kecil dari bibir mungil si Princess. Saking tak mau merasa malu, si Centil itu sengaja mencampur kosa kata bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia setiap kali harus mengucapkan huruf r. Setidaknya dia bisa sedikit tersenyum lega saat hampir bisa melafalkan huruf s dengan caranya sendiri sejak satu bulan ini. Sepertinya dia berusaha keras sejak kejadian telur hari itu. Padahal para orang dewasa di sekelilingnya tak pernah mengejek atau memaksanya harus cepat bisa. Perkembangan setiap anak kan berbeda-beda.
“Sst! Ini kan our secret, Princess. Kalau nanti Mommy tiba-tiba datang, gimana hayo? Bisa habislah kita kalau sampai ketahuan. Coba nanti Aunty lihat kapan bisa jenguk kalian, okay? Aunty juga curious sama rendang, nasi kuning, dan teman-temannya. Hemm pasti enak banget, ya? Adiknya Fillea jadi super hungry nih.” Phoebe ikut menyamakan cara bicaranya dengan putri kecil Lexa sambil sesekali mengelus perutnya yang belum terlihat buncit. Akhirnya wanita itu bisa merasakan juga sensasi bahagianya menjadi seorang ibu.
“Gotchaaaa!!” Alexa tiba-tiba muncul di layar gadget mereka, wajahnya persis di atas kepala Fillea. Saking kagetnya Fillea dan Phoebe berteriak nyaring hingga tablet mereka bergeser dari tempatnya.
“Mommyyyy!!” teriak Fillea dan Phoebe bersamaan. Alexa tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi keduanya. Mereka kompak merajuk sampai Lexa harus merayu dengan berbagai cara sebelum akhirnya dia dibuat menyetujui permintaan duo jahil beda usia. Masalahnya keduanya sengaja membuat permintaan itu seperti tiga permintaan khusus dari dongeng anak-anak yang akan mereka tagih suatu saat nanti. Wah, benar-benar membuat Alexa ketar-ketir menebaknya.
”Hey, Aunty Snow White. Jangan ngajarin anakku macem-macem, ya! Perasaanku mulai gak enak nih,” ujar Lexa menatap kedua orang berbeda usia di dekatnya bergantian. Sifat jahil Fillea terasah sejak dini karena ia sering belajar langsung dari Juan dan Phoebe. Lexa bahkan sering kali dibuat kuwalahan setiap kali Fillea sedang sangat aktif dan jahil. Gadis kecilnya bisa bertanya tanpa henti tentang apa pun yang membuatnya penasaran. Apalagi jika mereka sedang berada atau berkunjung ke tempat baru.
✧✧✧
Esok harinya di Great Star Inc.,
Bagaikan petir di siang bolong, Alexa tidak bisa berpikir jernih saat mengangkat telepon dari Juan, “Lex, aku tunggu di lobi. Kita ke rumah sakit East Medical Centre punya Hwan sekarang. Tadi aku udah hubungi dia dan katanya udah kasih tahu tim dokter khusus buat rawat Fillea. Ini Fillea lagi dalam perjalanan dibawa ke IGD.”
Juan merangkul tubuh Lexa saat mereka menunggu di depan pintu pembatas IGD. Tubuh Alexa bergetar, ia menggigil sambil menangis saat melihat malaikat kecilnya tak sadarkan diri dengan bibir dan beberapa bagian tubuh yang terlihat membengkak, napasnya pun masih terlihat berat.
Clemira menghampiri Alexa dan Juan, “Tunggu bentar yo, Ren. Fillea udah ditangani sama ahlinya kok. De’e tuh dokter yang baru gabung sama tim kami, pas banget barusan balik dari Jerman, Ren. Tadi Hwan langsung nelpon aku, de’e nyuruh aku ikutan ngawasin anakmu soale Hwan inget kalau aku kenal sama kamu. Wis, kamu tenang dulu, yo. Nek kamu gini pasti anakmu juga ngerasa loh. Apa kamu ndak kasian sama si kecil?”
“Iya, Mbak. Makasih tadi langsung ke sini buat nanganin anakku. Padahal Mbak baru balik dari Roma habis acara nikahannya Hardin, ‘kan?”
“Halah, wis ndak usah pakai acara sungkan segala. Kamu udah tak anggep adikku sendiri. Berarti Fillea itu juga ponakanku, makanya kamu ndak usah khawatir. Aku sama yang lain pasti bakalan observasi Fillea terus. Kamu tenang wae, yo?”
“Oh iya, Mbak Cle nih kenalin temen sekaligus bosku. Namanya Juan,” Lexa memperkenalkan Clemira dan Juan, “Neneknya Mbak Cle ini tetanggaku pas masih di Jawa dulu.”
“Pas masih di Jawa? Emange di sini ndak termasuk pulau Jawa opo?!” omel Clemira. Dia sangat sensitif dengan penyebutan tempat seperti ini jika yang berbicara bukanlah orang luar pulau Jawa atau sekalian saja dari luar Indonesia. Apalagi dirinya juga sudah kenyang dibilang bule nyasar.
Juan dan Alexa tersenyum mendengar perkataan Clemira. Juan jadi penasaran soal sesuatu, “Jadi, Mbak Clemira udah lama banget ya kenal Lexa? Dia biasa dipanggil Ren kalau di rumah?”
“Iyo, kami biasa manggil dia Renata dan ndak cuman kenal lagi, tapi paham buwanget. Sampai pacar-pacarnya Ren aja aku ngerti kok.”
“Apa sih, Mbak? Ssst! Jangan nggosip toh.” Alexa salah tingkah saat mendapat serangan tak terduga. Padahal dia tadi tidak bisa mengeringkan air matanya, tapi Clemira sudah membuatnya ketar-ketir. Lexa tak mudah tahu apa yang ada di pikiran Clemira sejak dulu.
Clemira dan Juan memang sengaja mencairkan suasana. Mereka tahu perasaan seorang ibu jika melihat buah hatinya sedang sakit. Pasti dia menyalahkan diri karena tak bisa menjaga kondisi anaknya, padahal itu bukanlah hal yang perlu ditakutkan selama tak terlambat memberikan pertolongan pertama sebelum mencari bantuan pada para tenaga kesehatan.
Tanpa mereka bertiga sadari ada seseorang dengan jas snellinya menatap ke arah mereka berdiri. Lebih tepatnya hanya menatap ke arah Alexa saja, “Ata? Itu Renata, ‘kan? Alexandria Serenata Atmadya?” gumamnya dengan mata tak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Lexa. Pria ini rupanya dokter di rumah sakit ini juga. Ia penasaran dan memutuskan untuk mendekati mereka. Langkah kakinya melambat saat ia bisa mendengar percakapan mereka dari balik pilar.
Mereka bertiga memang mengobrol, tapi Lexa hanya sesekali menimpali karena ia terus fokus melihat ke tempat di mana Fillea berada. Tak berselang lama seorang dokter menghampiri mereka, “Walinya Fillea Deandra Himawan?” panggil pria berjas snelli yang baru mengalungkan stetoskop ke lehernya.
Mereka terperanjat karena alasan yang berbeda-beda. Dokter di balik pilar terperanjat saat mendengar nama pasien yang berada dalam IGD, sedangkan Lexa dan dokter yang baru saja menghampiri mereka tak menduga jika mereka akan bertemu lagi, sementara Clemira terkejut karena ia baru mengingat sesuatu, lain lagi dengan Juan yang terkejut karena reaksi kedua orang di dekat mereka. Apalagi saat mengetahui mereka berdua sepertinya sudah saling kenal karena keduanya menyapa dengan nama panggilan masing-masing secara bersamaan.
“Ren?!”
“Ngga?!”
“Eh, itu di dalam anakmu, ya?”
“Iya, Ngga. Eh, Mas. Fillea Deandra Himawan itu anakku,” jawab Lexa tanpa sadar meremas lengan Juan. Ia merasa takut jika pria di depannya membawa kabar tak baik. Saat Juan merasakan tangan Lexa kembali bergetar, seperti biasanya ia merangkul erat pundak sahabatnya untuk menenangkannya.
Melihat bahasa tubuh kedua orang di depannya, dokter anak itu berusaha tersenyum sambil melihat apakah keduanya memakai cincin serupa, “Aku pediatriknya Fillea. Dia kena alergi, sekarang kami butuh izin kalian buat melakukan tindakan lebih lanjut, boleh?” sambung dokter anak yang menangani Fillea.
“Silakan, Dokter Erlangga. Saya akan mengurus semua prosedur yang dibutuhkan,” jawab Juan memutuskan secara sepihak setelah membaca nama yang terbordir di saku snelli milik Erlangga.
Erlangga mengangguk, lalu segera pamit ke dalam dengan raut wajah yang sulit ditebak. Sementara Lexa masih belum melepaskan cengkeramannya dari kemeja Juan bagian pinggang. Juan menunduk agar bisa berbisik, “Ini kalau gak dilepas aku gak bisa ke depan loh, Ren.”
Lexa mengernyit, ia menoleh sambil menatap tajam, “Kok sekarang ngikutin orang-orang ini sih manggilnya? Lagian siapa yang nyuruh kamu ke depan? Fillea Deandra itu anakku, aku walinya! Udah, kamu tungguin sini aja sama Mbak Cle,” ketusnya memberi peringatan.
Lexa bergegas ke meja administrasi untuk mengurus semua keperluan Fillea termasuk jika nanti dia harus dipindahkan ke ruang rawat inap. Semenjak Lexa meninggalkan area IGD dia tak pernah berjalan sendirian. Dokter misterius di balik pilar sejak tadi selalu mengikutinya sampai ketika Lexa kembali ke tempat Clemira dan Juan berada.
Setelah hasil diagnosa Fillea keluar dan dia bisa dipindahkan ke ruang rawat inap barulah Alexa bisa bernapas sedikit lega. “Juan, kamu balik aja. Tidur di rumah biar nyaman. Besok juga ‘kan kamu harus berangkat pagi karena ada meeting. Aku bisa jagain Lea sendiri, aku izin selama dia di sini, ya?”
Juan tersenyum sambil mengusap kepala Lexa, “Gak usah pakai izin juga emang udah seharusnya kamu lebih mikirin Lea dalam keadaan gini, Ren. Aku nurutin kamu biar gak kepikiran soal hal lain termasuk ngekhawatirin tidurku. Kamu chat aja apa yang perlu aku ambilin dari rumah. Besok pagi sebelum ke kantor aku mampir ke sini dulu.”
“Makasih, Bos. Ngomong-ngomong kamu serius nih mau ngikutin mereka manggil aku pakai nama Renata? Kayak aneh banget kalau kamu yang ngomong,” ujar Lexa mencari alasan. Sebenarnya dia agak risih saat mereka memanggilnya Renata karena nama itu mengingatkannya pada saat-saat berat sebelum Fillea terlahir ke dunia.
Lexa tak bisa protes lagi saat melihat Juan mengangguk antusias sambil tersenyum, “Sekarang, ini adalah kehidupan baru kita di Jakarta. Jadi, lupakan apa pun yang ada di State dan kita mulai semuanya dari awal dengan nama kesayangan dari orang-orang yang menyayangimu. Tadi dokter jutek itu udah kasih aku beberapa informasi berguna pas kamu lagi ngurus administrasi.” Mulut Juan mengaku dengan entengnya.
Tanpa pria itu sadari hati Lexa merasa seperti diremas saat pria bertubuh jangkung ini memberikan tamparan tak kasat mata padanya, “Bagus bener, baru dateng udah punya kawan nggosip,“ ejek Lexa sambil mendecih kesal.
“Kami gak nggosip kok karena semua itu fakta. Kamu juga jangan lupa istirahat, aku sengaja mindahin Lea ke ruangan VVIP ini biar kamu sama Lea bisa ngerasa lebih bebas dan nyaman. Kamu sekarang Chief Editor, Ren. Masa anakmu dirawat di ruang rawat kelas 1 sih?”
“Buruan balik daripada ngomongin hal gak guna di sini. Nyaman apaan orang ini rumahnya penyakit, bukan rumah beneran!” Lexa melengos setelah menegur Juan. Selamanya ia tak akan pernah bisa akur dengan yang namanya rumah sakit, apalagi tadi Juan juga sempat tak sengaja mengingatkannya tentang banyak hal yang selalu berusaha ia lupakan selama ini.