Bab 2

Satu tahun yang lalu ...

"Aku dipecat, Rani. Aku kehilangan pekerjaan!" ucap Mas Rudy sambil memberikan surat PHK dari tempatnya dia bekerja. Ia nampak lemas. Raut wajahnya cemberut. "Aku dipecat karena ada PHK besar-besaran di perusahaanku."

Pemecatan Mas Rudy merupakan hal yang kami takutkan sejak awal kami menikah. Sebab, kami sudah mendengar wacana akan ada PHK besar-besaran karena gelombang TKA yang masuk ke Indonesia waktu itu.

Sebenarnya, Mas Rudy adalah orang baik sebelum dirinya dipecat. Dia adalah sosok pria yang sangat bertanggung jawab dan patuh terhadap ibu mertua. Dia juga termasuk pria yang begitu lemah lembut. Bahkan, dia tak pernah meninggalkan ibadah sekalipun. Itulah mengapa, saat dia melamarku, tak ada keraguan sedikit pun di hatiku.

Akan tetapi, semuanya pun mendadak berubah di saat dirinya sudah dipecat dan kami tak memiliki penghasilan sama sekali karenanya.

Beberapa bulan di awal, kami hanya mengandalkan uang pesangon dari perusahaan Mas Rudy yang tak seberapa. Namun, rasanya uang itu tak cukup. Kami mengalihkan ke jualan, tetapi dagangan kami sepi dan berakhir ditutup.

Hingga suatu ketika, Mas Rudy bertemu dengan temannya saat masih bekerja dulu. Entah, apa yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai Mas Rudy mulai mengabaikan kehadiranku.

Semenjak itu, Mas Rudy selalu pulang larut malam. Bahkan, pernah dia tak pulang selama dua hari saat aku hendak melahirkan. Bahkan, telepon ibu mertua tak pernah diangkat dan pesanku tak pernah dibalas. Waktu itu, aku benar-benar merasa sendiri karena orang-orang yang harusnya berada di dekatku tak ada di sampingku.

Untungnya, waktu itu aku punya seorang teman yang mau meminjami aku uang untuk lahiran. Bahkan, dialah yang menungguku melahirkan di puskemas. Dia jugalah yang begitu senang karena kelahiran puteraku.

Hari demi hari pun kami lalui. Kehidupan kami semakin susah. Aku jarang makan demi menghemat pengeluaran, bahkan tubuhku langsung turun drastis karena tingkat stress yang kualami waktu awal-awal melahirkan. Karenanya, ASI-ku sampai kering dan menyebabkan Radit terus menangis. Untungnya, waktu itu temanku yang memberikanku pinjaman datang dan kembali memberikan pinjaman kepadaku. Dan akhirnya, keadaan Radit kembali pulih usai diberi susu formula.

Sementara itu, Mas Rudy terus fokus dengan ponselnya yang terisi game online. Dia bahkan mulai berkata kasar seperti anj*ing, bangs*at, dan masih banyak kata kasar lainnya yang membuat telingaku sakit. Dia juga sering sekali berteriak di saat jam tidur dan membuat Radit selalu terbangun karena mendengar suara teriakannya.

Hingga, suatu hari aku meminta izin kepada Mas Rudy agar aku diizinkan bekerja mengingat keadaan ekonomi kami semakin sulit. Ditambah, Mas Rudy juga tak pernah kunjung dipanggil meski dirinya sudah menyebar surat lamaran sejak pertama dirinya dipecat.

"Mas, aku izin mau kerja lagi."

Mas Rudy yang fokus dengan game di ponselnya tak menjawab diriku. Lalu tiba-tiba, dia berteriak. "Tol*l! Aku kalah mulu dari tadi." Ia kemudian menoleh ke arahku. Lalu, menatapku dengan tatapan tajam. "Apa katamu tadi?"

"Aku izin mau kerja lagi, Mas."

"Kau gila? Kau kan ada Radit. Kalau kau kerja, siapa yang ngurus Radit dan rumah ini, Beg*k?" ucap Mas Radit yang sudah sering menamaiku dengan sebutan beg*k, t*lol, dan sejenisnya.

"Untuk sementara, aku minta tolong Mas Rudy yang jaga Radit sampai Mas Rudy dapat kerja," ucapku. "Tapi, kalau urusan rumah kayak masak, cuci, nyapu, tetap aku lakukan sebelum aku jalan kerja."

Raut wajah Mas Rudy langsung berubah masam. "Enak aja! Ogah!"

"Tapi, Mas, kalau kita gak segera cari kerja, kita dapat uang buat beli makan dan beli keperluan Radit dari mana?" tanyaku.

"Ya, pokoknya aku gak mau."

Aku pun waktu bahkan sampai memohon-mohon. "Tolonglah, Mas."

Namun, tetap saja, Mas Rudy tak mengizinkanku.

Akan tetapi, aku tak mendengar ucapan Mas Rudy dan lebih memilih menjadi istri durhaka. Urusan perut di atas segalanya. Aku bisa menahan lapar berhari-hari, tetapi aku tak akan tega kalau sampai melihat anakku kelaparan lagi.

Karenanya, Mas Rudy mulai melakukan KDRT kepadaku saat mendengar aku berhasil diterima kerja di tempat laundry.

Kami juga sering bertengkar karena hal itu dan sering mengungkit pekerjaanku.

"Kenapa kau tak bilang kalau kau bekerja hah?" tanya Mas Rudy yang langsung mengunci pintu rumah usai aku ketahuan bekerja di tempat laundry. Mas Rudy bahkan sampai membawa Radit juga yang aku titipkan kepada tetanggaku dengan upah lima ribu per hari. Kemudian, dia segera memberikan Radit kepadaku.

Aku pun langsung memeluk Radit dan mendekapnya. "Kenapa aku harus bilang kepadamu, Mas? Sementara, kehidupan kita sudah sangat kesusahan. Ditambah, kau sendiri tak mau berusaha mencari kerja. Kalau aku tak bekerja, mau dapat dari mana uang buat makan dan beli susu buat Radit?"

"Aku bukannya tak mau cari kerja, Rani!" teriaknya hingga membuat Radit yang berada di pelukanku menangis. "Tapi aku belum dapat panggilan kerja. Kau paham tidak dengan posisiku?"

"Aku selalu paham, Mas, tapi Mas Rudy sendiri tak pernah paham dengan diriku," ucapku yang mulai mendebat ucapan Mas Rudy. "Aku juga kerja seperti ini karena untuk membiayai kehidupan kita, Mas. Bukan yang lain."

"Halah! Terserahlah apa katamu! Aku capek debat sama kamu terus! Tiap aku ngomong, pasti kamu lawan aku!" Mas Rudy langsung pergi detik itu juga dari hadapanku.

Malamnya, Mas Rudy mendiaman diriku. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya. Bahkan, makanan yang kusiapkan untuknya sampai tak dimakan. Ia bahkan tak tidur di ranjang yang sama denganku.

Esoknya ....

"Aku tak masalah kalau kerja. Aku pun tak masalah kalau aku jaga Radit," ucap Mas Rudy tiba-tiba. "Aku juga mau mengurus rumah sampai aku dapat kerja."

Aku yang sedang menyiapkan sarapan untuk Mas Rudy langsung sumringah mendengar ucapan Mas Rudy.

"Tapi ... ini semua gak gratis," ucap Mas Rudy. "Kau harus tetap membayarku. Kau kira, ngurus anak dan rumah gratis? Semua harus serba bayar."

Aku pun tak bisa menolak. Aku terpaksa menerimanya. Asal, aku tetap bisa bekerja.

Semenjak itu, aku mulai giat bekerja. Aku bahkan mengambil full shift agar bayaranku juga full.

Namun, aku justru merasa seperti dimanfaatkan oleh Mas Rudy. Ia selalu meminta uang kepadaku setiap tiga atau empat hari. Dia bahkan tak pernah lagi menyebar surat lamaran dan lebih banyak menghabiskan waktu bermain game. Bahkan, dia juga sampai membuat popok Radit penuh karena tak diganti sejak pagi. Dia juga bahkan tak memberi Radit makan.

Aku pun murka. Setiap pulang, aku selalu bertengkar hebat dengan Mas Rudy dan membuat diriku makin muak.

***

Bab 3

"Rani!" Suara ibu mertua membuyarkan lamunan diriku.

"Kenapa kau diam saja?" tanya ibu mertua. "Benar kan ucapan Rudy? Kau yang maksa-maksa kerja, sekarang kau belagak jadi korban."

"Saya bukannya belagak jadi korban, Bu," ucapku kepada ibu mertua. "Hanya saja, saya ...."

Ibu mertua langsung memotong ucapanku dan tak memberiku kesempatan bicara. "Apapun alasan kamu, kamu tetaplah salah. Sejak awal kamu yang mengajak perang dengan Rudy. Ya, gara-gara itu, terimalah akibatnya."

"Tapi, Bu, maksud saya, saya memang meminta untuk kerja karena keadaannya sangat kepepet," ucapku menjelaskan alasanku kepada ibu mertua agar ibu mertua keadaanku sebenarnya dan berharap ibu mertua mau terbuka pikirannya. "Saya juga terpaksa cari kerja karena uang pesangon dari perusahaan Mas Rudy sudah habis. Ditambah, Mas Rudy juga tak segera dapat penggilan kerja. Jadi, daripada saya diam, saya lebih memilih berinisiatif cari kerja sebab saya sendiri sudah punya banyak hutang untuk biaya kami sehari-hari. Bahkan, saat saya lahiran, saya juga sempat berhutang kepada teman saya ...."

Dan, ibu mertua langsung bungkam mendengar penjelasanku.

"Di saat saya bekerja, saya hanya minta hal sederhana dari Mas Rudy. Seperti mengurus Radit dan mengerjakan pekerjaan mudah lainnya, tapi nyatanya ...."

Ibu mertua tiba-tiba mengangkat tangannya ke arahku sebagai tanda kalau dirinya tak mau aku melanjutkan ucapanku. "Apakah pantas, seorang istri menjelek-jelekkan suaminya di hadapan orang lain?" tanyanya.

"Tapi, Ibu bukan orang lain. Ibu adalah ibu dari Mas Rudy."

"Terserah apa kata kamu, tapi bagi ibu, caramu itu salah, Rani. Seburuk-buruknya Rudy, dia tetaplah suamimu. Jangan sampai kau buka aibnya."

Aku langsung menundukkan kepala. Hatiku hancur. Sebab, di saat terpuruk seperti itu, tak ada satupun yang membela diriku.

***

Esoknya ...

"Mas, aku jalan kerja dulu," ucapku kepada Mas Rudy. "Kalau Mas Rudy mau makan, aku sudah masakkan sayur sup dan tempe."

"Yaa!" ucap Mas Rudy tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya terus-terusan fokus ke arah ponselnya. Bahkan, dia terlihat senyam-senyum sendiri. "Jalan aja sana. Kerja yang rajin ya, Ran."

"Iya, Mas," ucapku. "Radit biar aku bawa."

"Ya, terserah kamu lah. Suka-suka kau lah."

"Oh, iya, Mas, ada satu lagi."

Kini, Mas Rudy nampak kesal denganku. Terlihat dari sorot matanya yang langsung menatapku tajam. "Apa lagi?" tanyanya setengah membentak. "Kau buta kah kalai aku sedang main game?"

"Anu ... itu aku lagi cuci baju, aku minta tolong, nanti kalau udah selesai tolong dijemurin," kataku. "Soalnya aku sudah telat banget."

"Ya," jawab Mas Rudy singkat.

***

"Kok kamu udah masuk kerja, Ran? Katanya kamu lagi sakit?" tanya Tiara, owner tempat laundry. Ia seumuran denganku. Bahkan, dulu dia juga satu SMA denganku. Hanya, saja, nasib kami yang berbeda. Ia berasal dari keluarga kaya yang kehidupannya selalu disokong oleh kedua orang tuanya. Bahkan, dia juga dikenal memiliki keluarga yang cemara dan membuat anak sepertiku iri.

"Iya, Tia, aku terpaksa," ucapku kepada Tiara yang biasa aku panggil Tia. "Daripada aku di rumah malah stress, mending aku kerja aja. Oh, iya, gak apa-apa kan kalau aku bawa Radit?"

"Gak apa-apa, yang penting kamu kerjanya selesai."

Aku pun tersenyum lebar ke arah Tiara. Lalu, aku berkata, "Oh, iya, hari ini apa ada yang perlu dicuci?" tanyaku.

"Gak ada. Soalnya sudah selesai kemarin sore."

"Oh, gitu?"

Tiba-tiba, ponsel Tia berdering. "Eh, yuk masuk, sambil nunggu pelanggan, aku mau main game dulu, ya."

"Iya."

***

"Woah! Gila! Ternyata mereka sudah udah ada pasangan!" teriak Tia.

Aku yang sedang mengajak main Radit langsung teralihkan ke arah Tia. "Siapa yang kamu maksud, Tia?" tanyaku.

"Ini nih, Ran, ternyata couple yang selama ini menebarkan keuwuan, ternyata mereka pasangan selingkuh!" ucap Tia sambil menunjukkan game online yang mirip seperti game online yang dimainkan Mas Rudy. "Pasangan asli mereka bikin gaduh di sini!"

"Emang bisa ya orang selingkuh lewat game?" tanyaku dengan penuh penasaran.

"Ya bisa dong! Apalagi jaman sekarang udah canggih," ucap Tia. "Kamu pernah baca berita gak kalau ada artis yang selingkuh lewat aplikasi orange?"

"Enggak tahu, soalnya ponselku sudah kujual buat beli susu Radit."

"Yah, kamu gak up to date dong kalau gini," ucap Tia. "Padahal banyak lho, cara orang berselingkuh. Bahkan, lebih parahnya ada juga yang selingkuh lewat aplikasi c*nva dan Exc*l dengan alasan bertukar tugas kantor," lanjutnya. "Omong-omong, kenapa kamu tanya hal itu ke aku?"

"Oh, gak ada kok."

Kedua mata Tia mendadak menyipit. "Apakah kamu lagi ada masalah sama Rudy?" tanyanya.

Aku langsung menggeleng. "Gak ada kok. Mas Rudy mana mungkin selingkuh, dia kan gak ada duit."

"Yeee, jangan kira, Ran!" ucap Tia yang justru membuat diriku overthinking. "Malah ada lho cewek yang suka sama cowok yang macam suami kamu itu. Yang gak kerja dan 24 jam selalu ada buat ceweknya," lanjutnya yang ucapaannya memang suka ceplas ceplos dan sering tidak direm.

"Enggak, aku yakin Mas Rudy gak bakal nyelingkuhin aku kok."

"Yaaa, semoga saja."

Di saat bersamaan, datanglah seorang perempuan yang tak membawa sesuatu di tangannya. Kulitnya sangat putih dan tubuhnya mungil. Ia nampak malu-malu. Melihat dia, Tia langsung beranjak dari duduknya. "Ayo, masuk, Risa," ucapnya sambil menarik tangannya.

Perempuan bernama Risa itu segera mengekor di belakang Tia. Lalu, Tia memperkenalkannya kepadaku. "Ran, kenalin, ini karyawan baruku. Namanya Risa. Dia udah kerja mulai kemarin waktu kamu lagi sakit."

"Oh, hai, namaku Rani," ucapku sambil menjulurkan tanganku ke arah Risa.

"Iya, namaku Risa, Mbak," ucap Risa sambil membalas salamku.

Tia tiba-tiba berbisik di telinga Risa, tapi aku masih dengan jelas mendengar suaranya. "Jangan panggil dia mbak, dia umurnya sama kayak kita. Bahkan, bulannya pun masih lebih muda dia."

Pandangan Risa langsung teralihkan ke arahku.

"Gak usah berbisik, aku denger kok," ucapku.

Tia langsung nyengir kuda ke arahku.

"Emang Risa lahirnya bulan apa, Ti?" tanyaku.

"Bulan Januari, Mbak," jawab Risa. "Lebih tepatnya 1 Januari."

"Waduh! Jauh dong dengan aku. Aku lahir bulan Agustus."

Tia pun langsung memotong ucapan kami. "Nah, makanya, itulah kenapa aku minta dia jangan panggil kamu Mbak," ucapnya. "Ya, biar sekalian lebih akrab."

"Iya, aku setuju. Panggil saja aku Rani."

Risa nampak malu-malu. "Ya udah kalau gitu, aku panggil nama saja."

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED