Bab 2

"Ricko memang yang baik ya, Ma,” puji Fathan saat dia sudah kembali berada di kamarnya.

”Mau dia?” tanya Aida datar.

“Mau banget, malah aku kasih uang bensin aja nolak. Katanya ada, hehehe.”

“Dia keliatannya emang anak orang berada di kampungnya, Mas. Teman-temannya juga katanya sering pinjam uang sama dia. Tapi anaknya memang sedehana dan gak banyak tingkah.” Aida menanggapi ucapan suaminya sesuai yang dia tahu tentang sosok Ricko.

“Iya, dia mau kok ikut ke undangan juga, Ma.” Fathan makin senang hatinya karena sang istri terlihat mau menerima usulannya.

"Aku sih gak masalah, asal Papa gak cemburu aja,” balas Aida mencoba memancing kepekaan dan perasaan suaminya.

"Hahahaha, Ricko keliatannya sangat baik dan masih polos. Masa iya papa harus cemburu sih? Lagian kan di kampung ada ibu dan bapak yang ngawasin kalian, heheheh," sangkal Fathan yang hanya dijawab Aida dengan memajukan bibirnya.

Tak lama kemudian Fathan kembali terbayang-bayang Donita, hingga dia tak kuasa menahan libido dan imajinasi nakalnya. Dalam menit berikutnya libido Fathan, sukses membuat Aida terkapar dalam amukan birahinya. Aida tak menduga suaminya kan memberikan layanana sebegitu hebtanya, padahal sudah lebih ari sebulan ddia tak disentuhnya. Malam itu Aida benar-benar bisa kembali mendapatkan suaminya yang perkasa dan dia pun bisa tidur dengan sempurna.

Kehidupan Aida sebagai seorang perempuan seharusnya teasa sempurna dan bahagia. Hampir tidak ada halangan berarti yang dirasakan dalam membangun rumah tangga yang harmonis samawa dengan suaminya. Semua berjalan dengan sewajarnya, sesuai dengan rencana yang ada di dalam benaknya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku universitas, Aida langsung menikah dengan Fathan yang sudah dipacarinya hampir setahun. Kebahagiaan dia sebagai seorang perempuan juga sebagai istri semakin lengkap dengan kehadiran anak pertama mereka, Feby. Serorang putri kecil yang lahir tak lama setelah mereka membangun mahligai rumah tangga.

Sejak saat itu, Aida semakin optimis dan bahagia dengan masa depannya. Di matanya, Fathan adalah suami yang benar-benar idaman semua istri. Seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab sebagai keluarga yang sempurna. Fathan begitu perhatian dan penyayang kepada istri dan anak semata wayangnya. Hal itu tidak pernah berubah menghiasi hari-hari mereka.

Impian Aida untuk menjadi wanita karir pun hilang dengan sendirinya pasca kelahiran putri kecilnya. Sebagai gantinya, Fathan membangun kost-kostan di samping rumah mereka. Pekarangan yang dulunya hanya ditumbuhi semak belukar, berganti menjadi sebuah bangunan sederhana dengan lima kamar tidur yang memadai. Semua kamar sudah terisi oleh lima mahasiswa dari beberapa kampus yang berbeda.

Letak rumah mereka sedikit jauh dari pusat kota. Namun sebagai salah satu kota yang banyak berdiri lembaga pendidikan tingkat tinggi dengan banyak kampusnya, kost-kost itu mereka dengan mudah memiliki penghuni. Lingkungan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota menjadi alasan utama para penghuni memilih kost di tempat mereka.

Namun tak ada gading yang tak retak. Akhir-akhir ini Aida merasakan kegelisahan yang diakibatkan adanya perubahan siklus kehidupan dia terutama di atas ranjang. Awalnya kehidupan ranjang mereka baik-baik saja, bisa saling memuaskan dan saling memberikan pelayanan terbaik. Namun seiring perjalanan usia perkawianan dan beratnya beban pekerjaan yang diemban Fathan, keadaan ranjang mereka mulai berubah.

Fathan mulai terkesan malas-malasan saat menjalankan kewajibannya memberikan nafkah batin pada istrinya. Aida yang masih memiliki gairah dan libido tinggi, tentu sangat tersiksa dengan keadaan demikian. Bahkan tak jarang dia harus menahan gairahnya itu hingga berminggu-minggu. Lama kelamaan Aida mulai merasa menjadi istri yang terabaikan di tempat tidur.

Aida sangat jarang menemukan kepuasan dalam hubungan intim dengan suaminya. Tak lebih dari lima menit Fathan berada di atas tubuhnya. Setelah itu dia tidur mendengkur, tanpa mempedulikan lagi bagaimana tersiksanya perasaan Aida. Persetubuhan yang terkesan apa adanya itu, dilakukan Fathan hanya beberapa kali dalam sebulan. Padahal sebelumnya, nyaris tiada hari tanpa kenikmatan ranjang yang dahsyat.

Terkadang Aida bertanya-tanya. Apakah suaminya punya wanita lain di luar sana, sehingga dia sudah tidak bergairah lagi dengan dirinya. Atau apakah Aida yang telah berubah tidak cantik lagi setelah melahirkan anak pertamanya? Dengan kenyataan seperti itu, Aida pun makin merasa tersisih. Terlebih lagi setelah mendengar gosip-gosip panas tentang suaminya.

Namun menurut teman, tetangga kompleks juga anak-anak kostnya yang terkadang sering iseng bercanda dengannya, Aida masih termasuk ibu muda yang segar dan sintal, mungkin karena baru punya anak satu dan masih rajin olah raga serta perawatan kecantikan walau di salon yang tidak terlalu mahal.

Terkadang Aida sering berlama-lama mematut diri depan cermin. Memperhatikan setiap bagian tubuhnya. Semua tampak masih sangat memesona seperti yang sering disampaikan banyak orang. Memang bentuk tubuhnya tidak selangsing saat dia masih berstatus gadis. Tapi masih sangat kencang tidak seperti beberapa teman arisannya yang sudah menimbun lemak di sana-sini.

Malam ini dia seperti kembali pada suasana satu atau dua tahun yang lalu, dimana Fathan selalu sukses membuatnya terkapar tak berdaya, tenggelam dalam lautan kenikmatan yang tiada batas. Hingga nyaris lupa dengan semua kecurigaan dan kegalauannya yang sejatinya senantias mengisi hari-harinya.

Saat suaminya berpamitan untuk dinas luar sampai senin sore, pikiran Aida kembali galau. Merasa jika suaminya bukan akan melaksanakan dinas luar, namun alasa karena tidak mau mengantarnya pulang kampung. Atau memang sudah ada janji dengan selingkuhannya. Aida ingin mentalakan pulang kampung, namun tidak mungkin juga dia lakukan karena tak enak pada keluarga besarnya di kampung.

^*^

Jum’at pagi yang belum terlalu terik. Matahari masih bersembunyi di balik pucuk-pucuk pohon, udara masih segar. Ricko sudah duduk di angkot tua yang akan membawanya ke kampus. Mobil buatan Nippon itu pasti berumur sekitar 3 tahun. Catnya sudah dekil, suara mesinnya seperti kakek-kakek yang sedang sakit TBC.

Penumpangnya belum banyak, hanya Ricko dan seorang laki-laki yang tampaknya pegawai kelurahan, lengkap dengan map-map bututnya. Sang sopir masih berteriak-teriak mengundang penumpang. Suaranya lantang sekali untuk sepagi ini. Ricko menatap arlojinya dan berharap mudah-mudahan tidak terlambat sampai di kampus.

Lima menit kemudian, datang tiga penumpang lagi. Lalu menyusul dua orang anak SD dengan tas di punggung mereka. Angkot sudah hampir penuh, tetapi sang sopir sepertinya masih menganggap kosong. Sementara para penumpang mulai menggerutu. Ricko melirik lagi arlojinya. Ah, masih ada waktu, tetapi, kalau angkot ini harus penuh dulu baru jalan, tentu waktu akan habis juga akhirnya.

Seorang ibu gemuk dengan tas belanja yang tak kalah gemuknya tergopoh-gopoh mendekat. Sang sopir yang ceking menyambutnya dengan penuh semangat, mencoba membantu memegangi tas si ibu, tetapi dia tampaknya terlalu kurus untuk tas itu.

Si ibu berhasil naik dengan susah payah, selain karena berat tubuhnya, juga karena angkot hanya menyisakan satu ruang saja. Itu pun untuk penumpang berbadan sedang. Akibatnya, penumpang yang lain terhimpit satu sama lain. Persis ikan asin yang ditumpuk dalam satu kotak kaleng rombeng. Ah, sialan! keluh Ricko dalam hatinya.

Akhirnya sang sopir pun menghidupkan mesin mobil tua terbatuk-batuk itu, lalu mulai bergerak seperti orang malas. Gerakannya tersendat-sendat, membuat para penumpang terhenyak-henyak saling berbenturan. Lalu, kesialan Ricko pagi ini memuncak ketika angkot yang ditumpanginya benar-benar mogok setelah berjalan tak lebih dari sepuluh meter.

Penumpang berhamburan keluar. Ricko mencoba membantu mendorong. Ibu gemuk belum lagi turun, sehingga angkot jadi terasa sangat berat, untung jalan agak menurun. Tetapi, walau dicoba berkali-kali, dan walau Ricko sudah berpeluh, angkot itu tetap ngadat. Akhirnya sang sopir menyerah. Angkot tidak jadi mengangkut penumpang, yang kini kembali bergerombol di pinggir jalan menunggu angkot berikutnya.

Ricko memang sedang sial.

Tiga angkot berikutnya selalu penuh, dan hanya mampu menampung satu orang setiap kalinya. Ricko terpaksa mengalah kepada dua anak SD dan si ibu gemuk. Sementara waktu cepat berlalu dan Ricko kini tahu bahwa dia pasti akan terlambat untuk kuliah pertamanya. Padahal, itu kuliah paling penting di semester ini, dan dosennya paling galak. Ricko menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ricko berdiri di pinggir jalan, berharap agar angkot yang berikutnya kosong. Ada satu angkot tampak di kejauhan menuju ke arahnya. Angkot itu berhenti dan menurunkan beberapa penumpang, sehingga Ricko yakin dia akan bisa naik kali ini.

Ricko pun bersiap maju agak ke tengah jalan untuk mencegat angkot itu. Namun tiba-tiba sebuah Honda Civic putih berhenti tepat di depannya. Ricko menepi kembali karena menyangka mobil itu akan parkir. Tetapi ternyata tidak. Mobil itu tetap di depannya dan kaca jendela depan kirinya terbuka perlahan dengan suara mendesing.

Ricko mengernyitkan dahi, mencoba mengintip ke ruang dalam yang agak gelap. ‘Apakah pembawa mobil ini salah seorang temanku?’ ucap Ricko penuh harap. Kalau ya, tentu dia bisa menumpang sampai ke kampusnya.

“Halo Oooom, Ilo!” Sebuah kepala kecil dengan rambut ikal dan pita merah menyembul. Tentu saja itu kepala Feby, gadis kecil putri kesayangan Fathan dan Aida. Gadis berusia tiga tahun setengah, penggemar kucing.

Ricko tersentak, dia bahkan lupa jika mobil yang ada di depannya adalah miliki Bu Aida, ibu kostnya.

“Hai!” sahut Ricko ramah walau masih agak sedikit terkejut.

“Ricko, mau kuliah, ya?” terdengar suara lain dari arah pengendara mobil. Ricko maju mendekat dan membungkukkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas.

“I..iya Bu, mau kuliah,” jawab Ricko agak sedikit gelagapan tak menduga akan bertemu dengan ibu kostnya di tengah jalan seperti ini.

“Mau ikut sampai kampus?” tawar Aida ramah dan Feby pun ikut memaksa Ricko untuk ikut bersama mereka.

Akhirnya Ricko menghenyakkan tubuhnya di jok belakang mobil yang ruang interiornya menyebarkan harum semerbak. Mobil pun segera melaju di antara puluhan angkot yang jalannya terkadang tak beraturan dan masih banyak yang bernasib seperti tadi, batuk-batuk.

“Eh, iya Ricko, kuliahnya jurusan apa?” tanya Aida sambil melirik dari kaca spion.

“Manajement, Bu,” jawab Ricko pendek.

Aida tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Ricko bisa melihat dari kaca spion, betapa manisnya senyum ibu kostnya itu. Ricko benar-benar tak menduga jka kesialannya pagi ini akan dengan cepat berubah menjadi sebuah keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sebenarnya ingin bukan yang pertama Ricko berada dalam mobil itu bersama dengan ibu kost dan anak lucunya, namun juga belum pernah dia berada dalam mobil itu tanpa kehadiran Fathan, suaminya Aida.

“Om Ilo mau cekolah juga ya?” celoteh si kecil Feby dengan cadelnya, sambil membalikkan tubuhnya menghadap Ricko.

“Iya,” jawab Ricko, “Feby mau sekolah di mana?” lanjutnya.

“Cekolah taman kanak-kanak. Tapi…tapi…. tapi, gak cuka cekolah!” jawab Feby menggemaskan.

“Loh, kenapa?” tanya Ricko pura-pura kaget. “Karena gak boleh bawa kucing, ya?” lanjut Ricko berempati.

Gadis kecil itu mengangguk-angguk cepat, rambutnya bertebaran menutup keningnya. Ricko senang sekali melihat gadis kecil ini, cantik, lucu dan tampak cerdas menggemaskan.

“Kenapa tidak minta kepada ibu gulu untuk membeli kucing?” Ricko kembali bertanya seraya menahan gemas, hanya beberapa kata yang bisa dia tirukan kecadelannya.

“Bu gulu nga cuka kucing… Bu gulu cuka cama donal bebek!” tukas Feby masih dengan cadelnya.

Ricko tertawa mendengar jawaban Feby dan Aida juga ikut tertawa kecil. Oh, merdu sekali tawa itu, pikir Ricko. Sebuah tawa campuran yang sangat pas antara tertawa manja dan tertawa geli.

Lalu Feby berceloteh terus sepanjang perjalanan, dan Ricko dengan senang hati menimpalinya. Aida sendiri tidak begitu banyak berbicara, tetapi selalu tertawa dengan tawanya yang memikat itu.

Sesekali Ricko melirik ke kaca spion, diam-diam memandangi wajah Aida yang menatap lurus ke depan mengawasi lalu-lintas. Wajah itu manis sekaligus anggun, juga tampak bersinar riang.

^*^

Bab 3

“Nanti pulang jam berapa, Rick?” tanya Aida dengan tetap tidak menolehkan pandangnya.

“Sekitar jam satu atau jam dua, Bu.” Ricko menjawab dan dia tahu kemana arah pertanyaan ibu kost cantiknya.

“Berarti nanti sore kita berangkat sekitar jam itu aja ya, Rick?” Aida menatap Ricko di kaca spion depannya.

“Siap!” jawab Ricko singkat sambil tersenyum manis membalas senyuman Aida.

Akhirnya, setelah sepuluh menit lebih sedikit, mobil menepi di depan kampus. Cepat-cepat Ricko mengucapkan terima kasih pada ibu kostnya, berkali-kali sampai dia merasa malu sendiri. Ricko turun dan berdiri di tepi jalan menunggu mobil itu pergi. Feby menyembulkan kepalanya sambil berteriak dadah pada Ricko.

Ricko melambaikan tangan ke arah Feby. Aida pun mengeluarkan tangannya ke atas dan melambai. Lalu, mobil itu menghilang di tengah keramaian.

Di gerbang kampus Ricko bertemu Frisca yang rupanya juga baru tiba dan melihat Ricko turun dari mobil yang dikendarai seorang wanita. Gadis itu seperti biasanya, tersenyum manis menyambut Ricko yang menambah cerah hari-hari kuliahnya. Sering kali Ricko heran sendiri, kenapa dia tidak bisa mencintai Frisca padahal dia sangat suka kepadanya.

“Gue gak tahu lu punya mobil, Rick” ucap Frisca sambil menggamit lengan Ricko.

“Aku memang tidak punya mobil. Itu tadi ibu kostku, kebetulan lewat sini mau ke pasar katanya,” jawab Ricko sedikit berbohong padahal dia sendiri tidak tahu mau kemana dulu ibu kostnya. Dia bahkan lupa bertanya basa-basi saat semobil tadi.

“Cantik ya ibu kost lu!” puji Frisca dan Ricko mendeteksi ada nada lain dalam ucapan gadis di sebelahnya.

“Hmm,” jawab Ricko pendek sambil mengangguk.

Mereka berjalan beriringan sepanjang koridor yang diteduhi tanaman merambat.

“Beruntung sekali kamu punya ibu kost cantik dan baik hati sampai mau nganterin lu ke kampus,” ucap Frisca lagi, kali ini dengan nada agak menggoda. Frisca memang selalu mnggodanya, tetapi Ricko sudah tahu dengan itu dan pun sudah kebal.

“Hmm,” gumam Ricko lagi sambil mengangguk lagi.

“Daripada naik angkot, lebih enak naik Honda Civic, ya?”

“Hmm..”

“Pasti ruangan dalam mobil itu harum semerbak. Tidak seperti angkot yang bau keringat penumpang,”

“Hmmm..”

“Pasti lu belum sarapan kan?” tanya Frisca tiba-tiba mengubah topik.

“Hmmm..”

Frisca mencubit pinggang Ricko gemas. Dari tadi pria ini cuma “hmmm” saja, mengindari ajakannya untuk mendiskusikan ibu kostnya.

Ricko tertawa dan berlari menghindari cubitan Frisca berikutnya. Lalu Frisca mengambil sebutir kerikil sebesar kuku jarinya, melempar ke arah Ricko namun tidak kena, justru mengenai punggung seorang mahasiswa lain, yang segera menoleh ke arah sang pelempar.

“Maaf, Mas, tidak sengaja!” ucap Frisca buru-buru sambil mendekat ke mahasiswa yang tampaknya lebih senior darinya itu. Ricko tertawa geli di kejauhan.

“Lain kali tanya dulu sebelum melempar,” ucap mahasiswa senior itu agak pura-pura ketus.

“Oh, ya? apa yang mesti aku tanyakan, Mas?” tanya Frisca merasa aneh mendengar perkataan sniornya itu.

“Tanya dulu, apakah saya mau dilempar atau tidak!” sergah si korban sambil berlalu dengan muka penuh kemenangan dan tertawa ngikik.

Frisca membanting kakinya dengan gemas, lalu berlari mengejar Ricko yang sudah jauh sekali dan tampknya dia pun masih belum selesai tertawa kecilnya.

“Besok aku gak masuk,” ucap Ricko saat mereka sudah duduk di bangku kantin.

“Oh ya, ada acara kemana?” Frisca menolehkan wajah pada Ricko yang tampak masih menahan sisa tawanya.

“Mau main dengan Zaenal ke rumah saudaranya di kampung.” Ricko kembali berbohong, karena kalau menjawab dengan ibu kost, pertanyaan Frisca akan bertambah panjang.

“Berapa hari?” Frisca kembali bertanya seraya mengernyitkan dahinya. Zaenal memang berkawan dekat dengan Ricko, namun dia juga berteman dengannya. Sejak kemarin dia tidak mendengar Zaenal punya rencana libur.

“Dua hari,” jawab Ricko seraya menoleh ke arah lain, tidak ingin dustanya terbaca. Ricko memang tidak biasa berbohong.

Obrolan Ricko dan Frisca terus berlanjut, bahkan saat mereka mengikuti perkuliahan sampai bubaran. Selama ngobrol dan diskusi Ricko selalu menghindar rencananya pergi ke kampung. Namun dia tahu Zaenal tidak akan masuk tiga hari karena ada keperluan lain ke rumah kakaknya di Jakarta.

“Berangkatnya kapan?” Frisca masih bertanya memastikan.

“Sore ini, setelah ngampus, langsung berangkat. Zaenal sudah duluan kayaknya.”

“Lu pake motor sendirian?” selidik Frisca dan Ricko terpaksa kembali mengangguk bohong.

Mereka pun berpisah. Frisca melaju dengan mobil jemputannya ke arah utara, sementara Ricko kembali naik angkot ke arah selatan menuju kostannya.

Saat tiba di kostan, seorang gadis kecil berambut ikal dengan pita merah dan gelang gemerincing berlari-lari menjemputnya. Mulut kecilnya ramai berteriak-teriak memanggil Ricko dengan cadelnya. Feby sangat senang dengan Ricko yang akan mengantarnya bertemu dengan kakek dan neneknya di kampung.

Ricko tersenyum memandang semua kejadian itu. Dia pun segera meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar kost. Setelah mengambil semua perlengkapan yang dimasukan ke dalam tas kecil, Ricko kembali menggendong Feby keluar dari kamarnya lalu membawanya masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman samping.

Ricko memeriksa mobil yang akan dibawanya ditemani Feby yang sudah tidak sabar dengan celotehannya yang tak pernah capek. Hingga Ricko tak menyadari kehadiran Aida di belakangnya.

“Sudah pulang, Rick,” sapa Aida yang sontak membuat Ricko menolehkan wajah.

Ricko tertegun memandangi seorang wanita yang memakai rok terusan panjang berwarna putih bersih tanpa pola. Dengan rambut sebahu tergerai lepas, dan sepasang anting mutiara yang juga menegaskan dominasi warna putih.

Di lehernya yang jenjang ada seuntai kalung perak dengan bandulan burung dara kecil berwarna putih. Bahkan sepatu sandalnya juga berwarna putih, terbuat dari kain jeans. Tas kecil yang tersampir di bahunya juga putih, terayun-ayun perlahan.

Ricko masih terpana menatap penampilan ibu kostnya yang sangat luar biasa. Cantik laksana bidadari yang sedang tersenyum ke arahnya. Gigi-giginya yang putih berderet rapi dengan indahnya.

“Udah siap, Rick?” Aida bertanya untuk membuat anak kostnya itu sedikit tersadar dari terpananya.

“Eh, su…su… sudah, Bu.” Ricko menjawab gelagapan.

Ricko mendadak nervous, sungguh-sungguh tak menyangka berhadapan dengan Aida yang tampak sangat berbeda dari biasanya bahkan dengan tadi pagi saat dia membawanya ke kampus. Bukan saja pakaiannya yang serba putih, tetapi juga serba menarik dan cemerlang. Matanya yang dihiasi bulu panjang lentik seringkali tampak berkerejap bercahaya. Bibirnya yang tersenyum seringkali seperti menyemburatkan sinar terang.

“Mama, mama Om Ilo udah ciaaaap…!” teriak Feby tak sabar yang sontak kembali menyadarkan Ricko.

Sekian detik berikutnya mereka pun sudah berada dalam mobil. Aida duduk di samping kiri menggendong Feby, sementara Ricko duduk tegang di belakang kemudi. Nervous dan sedikit gerah akibat jantungnya yang lebih berdebar dari saat tadi pagi bersama. Mungkin karena tadi Ricko duduk di belakang.

“Gak apa-apa kan ibu duduk di sini, Rick?” tanya Aida seraya menatap Ricko.

“Eh, gak papa Bu, iya kita berangkat sekrang ya, Bu.” Ricko masih sedikit gelagapan.

“Oh iya, Ricko baru pulang kuliah, ya. Udah makan belum? Jauh loh kita jalan, Rick.” Aida kembali menatap Ricko.

“Su..sudah Bu, sebelum pulang tadi makan dulu di kantin.” Ricko menjawab dengan cepat.

“Hmmm, nanti kalau lapar atau harus, kita bisa makan dulu di jalan ya. Ibu juga bawa sedikit cemilan, sih.”

“I.. iya, Bu,” jawab Ricko sambil menghidupkan mesin mobilnya.

Tak salah ucapan Aida, memang cukup jauh mereka jalan. Walau masih dalam lingkup satu kabupaten, namun untuk sampai ke kampung itu, butuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan. Terutama saat melewati kawasan hutan yang jalannya masih bebatuan. Salah satu kondisi alam yang dijadikan alasan oleh Fathan untuk tidak mengantar istrinya ke kampung.

“Rick pelan-pelan aja ya bawa mobilnya.” Aida berpesan dengan sangat lembut.

“Iya Bu,” jawab Ricko pelan.

“Eh, masih inget kan jalannya?” Aida baru ingat.

“Masih kok, Bu. Dari pertigaan dekat kantor kecamatan itu, tinggal lurus aja kan sampai ketemu sama Perkebunan Sawit, bener kan??” Ricko meminta konfirmasi untuk mematikan.

“Betul. Ternyata masih panjang juga ingatanmu, padahal udah lama and waktu itu kita ke sananya malam-malam banget ya?” Aida bertanya kagum.

“Iya, kan saya masih muda, Bu. Lagian belum terlalu lama juga, mungkin dua atau tiga bulan yang lalu, hehehe.” Ricko sedikit terkekeh.

“Iya betul, hehehe.” Aida pun tersipu-sipu.

Dua bulan yang lalu Ricko pernah diminta tolong oleh Fathan untuk mengantar mereka ke kampung orang tua Aida. Waktu itu sudah cukup malam. Aida dan Fathan terpaksa pulang kampung karena salah seorang paman Aida meninggal dunia secara mendadak.

Ketika itu Ricko yang membawa mobilnya hanya waktu itu Fathan yang duduk di sampingnya, sementara Aida dan Feby dudu di kursi belakang.

“Oh iya kalau besok pulang ke sini agak sore gak papa kan, Rick?” Aida sedikit merasa cemas. Takut mengganggu jadwal kegiatan Ricko besok.

Aida menyadari kalau sudah berada di kampung, biasanya tidak bisa cepat-cepat pulang kembali. Walau tujuan utamanya hanya sekedar undangan yang paling hanya satu atau dua jam, tetapi jika sudah bertemu dan kumpul dengan teman atau sanak saudara yang jarang ketemu, biasanya suka lupa waktu.

“Gak papa Bu, tenang aja. Kebetulan besok saya tidak punya jadwal apa-apa sampai senin. Paling di kostan juga tidur, hehehe,” jawab Ricko masih dengan nada santai walau mulai terkekeh.

“Oh syukur deh kalau gitu,” jawab Aida semringah. Ricko pun membalasnya dengan anggukan kepala sambil menghidupkan mesin mobil.

‘Heran sama Ricko. Kenapa betah banget di kamar, gak kaya yang lain, apalagi modelnya Donita. Kayaknya dia sih cuma jadiin kamarnya itu buat persinggahan doang.. Masa iya sih Ricko belum pacar? Lelaki seganteng dia gak mungkin belum punya pacar, tapi emang dia gak pernah bawa cewek ke kamarnya. Ricko emang beda banget sama yang lain,” lanjut Aida dalam hati.

Setelah membaca bismillah beberapa kali dalam hatinya, Ricko pun mulai mengendarai Honda Civic itu dengan tenang. Beruntung sekali saat di kampung halamannya dulu dia terbiasa mengendarai mobil dalam berbagai suasana hati dan medan perjalanan yang menegangkan. Medan jalan yang ditempuh kali ini memang reralitif baik, namun justru suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.

Entah mengapa, sejak tadi pagi ikut dengan mobil Aida, Ricko merasakan adanya getaran-gataran aneh dalam dirinya. Padahal selama ini sama sekali dia tidak pernah merasakan apapun terhadap ibu kostnya. Dia justru sangat menghormatinya karena Aida memang sangat baik dan ramah, selain cantik tentu saja.

Semua pemikiran Ricko yang berkecamuk itu bersumber dari prasangka hatinya yang masih sangat ketakutan akan jatuh cinta lagi pada orang yang salah. Ialah orang yang memiliki hubungan sangat dekat dengannya. Dalam artian dekat karena adanya ikatan lain, seperti karena pertemanan atau sejenisanya.

Sudah lebih dari tiga kali Ricko mengalami hal yang sama dan selalu berakhir dengan sangat menyakitkan. Dia harus memilih antara teman dan kasih yang pada akhirnya semua hancur.

Ricko tidak ingin ada hubungan apapun dengan Aida, selain hubungan antara anak dan ibu kost, terlebih lagi Aida sudah bersuami bahkan punya anak. Walau Ricko tahu bagaimana kelakuan Fathan di belakang istrinya. Namun dia pun tidak mau pengalaman pahit bersama Mitha, Ferlita dan Fauziah terulang kembali.

Hati Ricko tetap berharap tidak ada getar-getar apapun antara dirinya dengan Aida, walau benih-benih yang berakar dari kekagumanannya atas kecantikan dan kenaggunan seorang Aida, kini mulai dirasakannya.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED