Sofia dan Nizam berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mereka saling berpegangan tangan dalam kebimbangan, dan dada yang seakan terasa sesak, sesekali pandangan mereka saling bertemu dengan tatapan penuh dengan keraguan.
Nizam membuka pintu kamar Nurmala, di sana terlihat Nurmala yang sedang duduk termenung menatap luas ke arah jendela memandangi langit dengan iris yang sesekali tak kuasa meneteskan air mata. Mereka perlahan mendekati Nurmala, Sofia duduk disampingnya dan meraih kedua tangan Nurmala yang terasa dingin.
"Nurmala, ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucapnya seraya menatap dalam iris matanya yang dipenuhi kepedihan.
"Hmmm, katakan saja," jawab Nurmala singkat bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.
"Nurmala syadiqah, aku ingin melamar mu untuk menjadi adik maduku istri keduanya bang Nizam," pintanya pada Nurmala, yang seketika mengalihkan pandangannya pada Sofia yang terlihat gugup. Nurmala mengernyitkan dahinya tanda tak senang dan kebingungan.
Tapi Nurmala tak langsung menjawabnya senyuman miris menyeringai dari sudut bibirnya, dan berkata, "bahkan sekarang kalian mengasihani ku, gadis cacat yang sebatang kara ini! lalu bagaimana dengan mu? apa kamu mampu berbagi suami dengan sahabatmu sendiri? ini gila!" tukasnya ketus dengan nada yang tinggi.
"Tapi Nurmala, aku harus bagaimana untuk bisa merawat mu? bang Nizam tidak mungkin membawa pulang wanita yang bukan mahramnya! katakan padaku jika kamu menemukan solusi yang tepat," Sofia mendesak Nurmala karena memang tak ada lagi jalan lain yang terlintas dalam pikirannya.
Mendengarnya Nurmala merasa benar benar tak berguna, ia merasa hanya akan menjadi benalu di antara Nizam dan Sofia. Air mata yang sudah berdesakan tak mampu lagi di bendung nya, Nurmala terisak begitu pilu kedua tangannya menutupi wajah sembabnya sambil menangis tersedu-sedu. "Aku harus apa? Aku memang sudah tak berguna!" isak nya lirih.
"Tak apa Nurmala, semuanya akan baik baik saja, jangan menangis seperti ini aku dan bang Nizam akan menjagamu," Sofia memeluk Nurmala sambil menepuk nepuk bahunya agar Nurmala merasa tenang.
"Aku anggap kamu menerimanya, Nurmala kamu akan menjadi adikku, dan aku akan menjagamu," ucap Sofia sambil meraih kedua tangan Nurmala yang masih menutupi wajahnya. Dengan lembut Sofia menghapus air matanya dan mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku Sofia, karena telah menjadi beban dalam hidupmu," ucapnya lirih sambil menatap dalam kedua bola matanya.
"Tidak Nurmala, kamu adalah orang yang aku sayangi bahkan kamu tak pernah meninggalkanku saat aku terpuruk. Sekarang saatnya aku membalas kebaikanmu padaku dulu," ujarnya lembut sambil menggenggam kedua tangannya.
Nizam hanya berdiri di sana menatap Nurmala, yang akan segera ia nikahi. Ia memang pernah berjanji pada almarhum ustadz Rifa'i untuk menjaga adiknya. Namun, ia tak pernah menduga bahwa janji yang pernah ia ucapkan di depan jenazah sahabatnya akan berujung dalam ikatan pernikahan.
Siang itu Sofia mendandani Nurmala dengan polesan make up natural, untuk menutupi wajah pucat nya.
Nurmala dan Nizam melaksanakan ijab kabul di rumah sakit sebelum Nizam membawa pulang Nurmala sebagai seorang pengantin. Suasana haru bercampur sedih menyelimuti hatinya, antara rela dan tak rela suaminya meminang sahabatnya sendiri. Namun, apa boleh buat ini semua sudah menjadi keputusannya, keputusan yang tentunya akan merubah hidupnya.
Di rumah setelah pulang dari rumah sakit.
Nizam menggendong Nurmala menuju kamar tidurnya, perlahan Nizam membaringkan tubuh Nurmala di atas tempat tidurnya, "Kamu istirahat ya," ucapnya gugup. Begitu juga dengan Nurmala yang hanya menganggukkan kepalanya. Setelah membaringkan Nurmala di atas tempat tidurnya, Nizam segera berlalu pergi meninggalkannya sendiri.
Nizam memasuki kamarnya dan melihat Sofia tengah berbaring di atas kasur sambil menutupi matanya dengan lengan kanannya, ia nampak seperti sedang tertidur. Namun, Nizam tau Sofia sedang menangis dalam diamnya.
"Sayang, kamu tidur?" Nizam memanggil Sofia sambil perlahan mendekatinya.
Nizam berbaring di sampingnya kemudian memeluk Sofia.
Samar terdengar isak tangis Sofia, yang tak mampu lagi ia sembunyikan. Meskipun ia yang meminta suaminya untuk menikahi Nurmala, namun, tetap saja dia adalah seorang wanita, dan di dunia ini tidak akan ada wanita yang benar-benar rela melepaskan suaminya untuk menikahi wanita lain.
"Maafkan abang sayang," Nizam berbisik di telinganya sambil mengusap pipinya yang terasa basah karena dibanjiri air mata.
Tak kuat lagi menyembunyikan air matanya Sofia langsung membalas pelukan suaminya, dan menangis dalam dekapannya.
"Menangis lah sepuas mu sayang, jangan menyembunyikannya dari abang, jangan simpan sendiri kesedihanmu biarkan abang ikut merasakan apa yang kamu rasakan," ucapnya sambil terus mengusap pucuk kepalanya. Tutur katanya yang lembut penuh dengan kasih sayang berhasil membuat Sofia merasa tenang. Cukup lama Sofia menangis hingga tertidur dalam pelukan suaminya.
Wussss...
Hembusan angin sore yang cukup kencang, berhasil menyibakkan rambut Sofia yang panjang terurai, bunyi ribut hentakkan jendela akibat tertiup angin berhasil membangunkan Sofia dari tidur nyenyak nya.
Perlahan Sofia menggeliatkan tubuhnya dan membuka kedua matanya, Sofia mengucek lembut kedua matanya yang masih terasa sepat.
Kedua matanya berkeliling menelisik setiap sudut kamarnya mencari keberadaan suaminya yang sudah tak lagi berada di sampingnya.
"Abang, bang Nizam!" Sofia memanggil Nizam yang tiba tiba saja menghilang dari tempat tidurnya. Sofia segera beranjak dari tidurnya dan meraih ikat rambut berwarna hitam dengan hiasan manik bunga mawar di atasnya, kemudian segera mengikat rambut panjangnya yang terurai indah.
Sofia berjalan mendekati jendela yang terus menghentak tertiup angin.
"Sudah sore, kenapa bang Nizam membiarkan jendela terbuka seperti ini sih!" cetusnya sambil menutup dan mengunci kembali jendela kamarnya.
"MashaAllah, sudah jam segini tapi aku lupa untuk menyiapkan makan malam," ucap Sofia sambil melirik jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya dan segera melangkahkan kakinya ke dapur.
Sofia berjalan melewati sebuah kamar dengan pintu terbuka lebar, kamar dimana Nurmala berada di dalamnya. Betapa terkejutnya dia saat menemukan suaminya sedang memeluk Nurmala. Langkahnya seketika terhenti, seketika bagaikan ada dentuman keras yang menghantam jantungnya. Untuk sesaat ia hanya diam terpaku seakan tak sanggup walau hanya untuk sekedar menggerakkan tubuhnya. Dentuman keras yang menghantam jantungnya, seakan memberikan sensasi sesak pada dadanya seolah tak ada oksigen di sekitarnya.
Sofia segera memalingkan pandangannya dan bersembunyi di balik dinding kamarnya, perlahan air mata keluar dari sudut matanya, "ya Allah, bagaimana aku bisa lupa kalau Nurmala sekarang sudah menjadi istrinya bang Nizam."
Sofia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia berdiri cukup lama di sana sambil merasakan hatinya yang terluka.
Di dapur sambil memasak makan malam, sesekali Sofia masih saja menyentuh kedua matanya agar air matanya tak kembali menetes, "Aku yang menyuruh bang Nizam untuk menikahi Nurmala, tapi aku tak pernah menyangka kalau rasanya akan sesakit ini," batinnya berdecak pilu. Bayangan Nizam yang sedang meluk Nurmala, terus menerus menari di pelupuk matanya. Sampai...
"Aaah," Sofia berteriak kesakitan. Tanpa sengaja ia telah mengiris jarinya.
"Astaghfirullah, sofia!" Nizam yang melihat jari istrinya terluka langsung meraih tangannya. Namun, Sofia reflek menarik tangannya kembali, "maaf bang!" cetusnya dan segera menundukkan pandangannya.
"Kamu kenapa sayang? Apa abang melakukan kesalahan?" Nizam bertanya-tanya setelah melihat ekspresi Sofia yang tak biasa.
"Tidak bang, bukan begitu! Aku... Jariku hanya merasa sakit saat tadi abang sentuh, maaf kalau abang tersinggung," ucapannya terbata bata, mengisyaratkan bahwa ia tak berkata jujur.
Nizam hanya tersenyum sambil mengelus pucuk kepala istrinya, dan seketika pandangan merekapun saling bertemu. Nizam tau benar apa yang dirasakan istrinya, melihat ekspresi istrinya yang sangat terlihat jika ia sedang terbakar api cemburu. Namun, Sofia bukanlah wanita yang pandai bersandiwara untuk menutupi perasaannya.
"Bang Nizam! tolong bantu Mala," Sayup terdengar suara Nurmala yang memanggil Nizam dari kamarnya, sehingga membuyarkan pandangan Sofia dan Nizam.
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).
Mimpi buruk! kali ini seakan-akan dia sedang berada dalam mobil itu, mobil dimana terakhir kali ia bersama keluarganya. Namun, suasananya begitu gelap dan sunyi asap hitam keluar dari mesin mobil mengepul ke udara, Nurmala duduk sendirian di dalam mobil yang rusak parah bahkan nyaris terbakar, ia melihat bapak dan abangnya yang bersimbah darah segar pergi begitu saja meninggalkan Nurmala sendirian didalam mobil nahas itu. Nurmala yang begitu panik terus berteriak sekencang kencangnya, sambil terus berusaha membuka pintu mobil yang terkunci. Namun, tak sedikitpun mereka menoleh kearahnya, jauh dan semakin jauh Nurmala semakin larut dalam mimpi buruknya.
"Bapak, abang! jangan tinggalkan Mala sendiri, tolong tolong keluarkan Mala dari sini tolong!" Nurmala bergumam dalam tidurnya. Lengannya meremas kuat selimut berwarna coklat yang dipakainya, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin seakan mengguyur tubuhnya. Tiba tiba terdengar samar seseorang memanggil namanya.
"Mala! Nurmala! bangun Nurmala, istighfar bangun Nurmala!" Nizam terus memanggil namanya tanpa henti. Sampai akhirnya Nurmala membuka kedua matanya dan terbangun dari mimpi buruknya.
Matanya terbuka lebar dan nafasnya memburu seperti habis lari maraton, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Astaghfirullah Haladzim," kalimat istighfar keluar dari bibirnya yang bergetar, diiringi isak tangis yang memilukan. Terlihat dengan jelas raut wajahnya yang nampak seperti orang yang ketakutan.
"Nurmala, kamu kenapa?" tanya Nizam panik. Setelah tanpa sengaja ia menemukan istri barunya yang nampak ketakutan dalam tidurnya.
"Aku...aku..." ucapnya lirih. Ia bahkan tak mampu untuk bercerita, sepertinya luka itu begitu dalam sampai menyisakan trauma dalam hidupnya. Setelah beberapa saat akhirnya ia mulai berbicara, dalam tangisnya. Sambil terbata bata ia berkata,
"aku takut bang, di sana gelap sekali aku sendirian, banyak darah dimana mana, bang Rifa'i dan bapak pergi meninggalkan aku sendirian, masih teringat jelas dalam ingatanku bau anyir darah segar yang penuh mengotori mobil itu, membuat kepalaku pusing dan mual," Tuturnya sambil terisak dan terbata bata. Menakutkan pastinya bila berada diposisi nya saat itu, apalagi karena kejadian itu Nurmala telah kehilangan seluruh anggota keluarganya. Wajar saja jika sekarang ia mengalami trauma yang berat dan butuh ekstra perhatian untuk mengatasi traumanya.
"Sudah tenanglah, sekarang abang ada di sini, jangan menangis lagi," ucap Nizam dengan lembut. Namun, Nurmala terus saja kembali menangis dihadapannya, membuat Nizam merasa iba.
"Aku takut untuk memejamkan mataku, aku takut berada di sana lagi," ucapnya terdengar lirih. Kedua sudut bibirnya menurun dan tangannya masih gemetar meski Nizam sudah berusaha menenangkannya.
Karena merasa iba, perlahan Nizam mendekatkan diri padanya dan memeluk Nurmala meski rasanya begitu canggung.
Nizam menepuk nepuk punggungnya supaya ia merasa tenang, dan agar ia tau bahwa ia tak lagi sendiri.
"Jangan menangis lagi Nurmala, abang akan berada di sini menemanimu, kamu tidak akan sendiri lagi," Nizam berkata dengan lemah lembut. Perlahan isak tangisnya tak lagi terdengar, Nizam segera melepaskan pelukannya dan menghapus sisa sisa air mata yang masih menempel membasahi wajah Nurmala yang sembab.
Tanpa mereka sadari Sofia telah menyaksikan mereka berpelukan di depan matanya sendiri, sehingga membuat Sofia dalam kesakitan.
"Tunggu sebentar, abang ambilkan minum untukmu," ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
Nizam pergi ke dapur hendak mengambil segelas air putih untuk Nurmala. Sesampainya di dapur ia melihat Sofia sedang sibuk memotong sayur sayuran, niat jahilnya muncul seketika, ia berjalan perlahan mengendap-endap untuk mengejutkan Sofia. Namun...
"Aaah," Sofia berteriak kesakitan. Tanpa sengaja ia telah mengiris jarinya.
"Astaghfirullah, sofia!" Nizam yang melihat jari istrinya terluka langsung meraih tangannya. Namun, Sofia reflek menarik tangannya dengan kasar, "maaf bang!" Sofia segera menundukkan pandangannya. Seketika suasananya terasa canggung seperti ada jarak di antara mereka.
"Kamu kenapa sayang? Apa abang melakukan kesalahan?" Nizam bertanya tanya setelah melihat ekspresi Sofia yang tak biasa.
"Tidak bang, bukan begitu! Aku... Jariku hanya merasa sakit saat tadi abang sentuh, maaf kalau abang tersinggung," ucapannya terbata bata, mengisyaratkan bahwa ia tidak berkata jujur.
Nizam hanya tersenyum tipis sambil mengelus pucuk kepala istrinya, Sofia pun menoleh pada Nizam dan dalam sekejap pandangan merekapun saling bertemu. Nizam tau benar apa yang dirasakan istrinya, melihat ekspresi istrinya yang sangat terlihat, jika ia sedang terbakar api cemburu. Namun, Sofia bukanlah wanita yang pandai bersandiwara untuk menutupi perasaannya.
"Bang Nizam! tolong bantu Mala!" Sayup terdengar suara Nurmala yang memanggil Nizam dari kamarnya, sehingga membuyarkan pandangan Sofia dan Nizam.
"Nurmala sudah memanggil abang, lebih baik abang menghampirinya sekarang, jangan biarkan dia menunggu," Sofia segera memalingkan wajahnya, Ia membuka keran air untuk membersihkan lukanya, "sssst" Sofia berdesis saat merasakan perih pada lukanya. Namun, luka kecil di jarinya tak sebanding dengan luka di hatinya. Nizam menghampiri Sofia, dari belakang ia memeluknya seraya mengecup mesra lehernya yang jenjang, dan segera pergi setelahnya dengan segelas air yang sudah ia janjikan untuk Nurmala.
Tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, ada apa? dan apa alasan Nizam memeluk Nurmala? sudah cukup membuat hatinya teriris. Yang ia tau hanyalah Nizam berpelukan dengan istri barunya tepat di depan matanya, meskipun ia tau itu memang sudah seharusnya. Namun, tetap saja terasa sakit baginya.
"Astaghfirullahalazim, kenapa aku seperti ini? sadar Sofia! sekarang Nurmala juga istrinya bang Nizam, apapun yang mereka lakukan itu memang sudah seharusnya, apalagi Nurmala sedang sakit dan depresi. Sudah selayaknya ia mendapatkan banyak perhatian," gumamnya dalam hati berusaha untuk tegar menerima takdir yang telah ia pilih sendiri.
Nizam kembali dengan segelas air untuk Nurmala, ia melihat Nurmala yang sedang kesusahan menyusun bantal untuknya bersandar, "sudah biar abang saja," ucapnya sambil meraih bantal dari genggaman Nurmala. Kemudian Nizam menyusun bantal bantal itu sampai terasa nyaman untuk Nurmala bersandar di atasnya.
"Terimakasih bang," Nurmala melirik Nizam yang masih berdiri di hadapannya kemudian segera menundukkan wajahnya. Nizam kemudian duduk berhadapan dengan Nurmala,
"ini, minumlah! agar kamu merasa tenang," Nizam mengulurkan tangannya dan memberikan segelas air yang di bawanya tadi.
Nurmala meraih segelas air putih yang di bawa Nizam dan langsung meminumnya.
"Terimakasih bang, bang Nizam ada yang ingin aku tanyakan," Nurmala tiba tiba bersikap misterius seperti ada sesuatu yang sangat penting yang ia ingin ketahui.
"Ya, katakan saja apa yang ingin kamu ketahui?" Nizam menjawabnya santai.
"Pada saat kecelakaan itu... Apa pelaku yang menabrak mobil kami selamat dari tabrakan itu?" tanya Nurmala dengan mimik wajah yang serius sambil mengernyitkan dahinya berusaha mengingat kejadian nahas hari itu.
"Hmm, ya dia selamat," Nizam sedikit bingung dalam menjawab pertanyaan Nurmala yang begitu tiba tiba.
"Apa orang itu sudah membayar atas perbuatannya?" Nurmala kembali bertanya, pertanyaannya membuat Nizam semakin gugup. Nizam nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Nurmala, dan terdiam sejenak dengan raut wajahnya yang serius.
"Sekarang apa yang harus aku jawab? apa Nurmala akan menerima kenyataan, bahwa orang yang sudah merenggut seluruh keluarganya, dan membuatnya lumpuh..." Nizam bergumam dalam hatinya. Sebelum Nurmala membuyarkan lamunannya.
"Kenapa diam saja bang?" Nurmala semakin penasaran setelah melihat mimik wajahnya yang mencurigakan. Namun, Nizam belum juga menjawab ia kembali teringat dengan keributan yang telah ia buat saat di kantor polisi.
"Apa yang kamu sembunyikan bang Nizam? kenapa abang tidak menjawab pertanyaan ku! bukankah aku berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?"