Tubuh Kenanga meluruh di dekat tempat tidur. Wanita itu membekap wajahnya dengan telapak tangan. Melihat keadaan sang istri yang syok, Dion mendekat. Dia menatap Risma dan memberi isyarat pada perempuan itu keluar dari kamar.
Sambil memberengut, Risma menurut. Sebelum keluar dari situ, Risma sempat melirik pada Kenanga sambil menyunggingkan senyum sinis. Puas sekali Risma melihat adik tirinya itu menangisi nasib.
Dion menyentuh pelan lengan Kenanga, tetapi lagi-lagi, Kenanga menepisnya. Dia merasa jijik melihat laki-laki yang selama setahun ini menjadi suaminya. Dion menarik napas panjang, lalu bersimpuh di depan sang istri.
"Aku tidak selingkuh dengan Risma, Sayang." Dion berkata lirih.
Dia tidak tahu harus memulai dari mana menjelaskan perihal hubungan rahasianya dengan Risma. Kenanga masih bergeming. Dia memeluk lututnya yang gemetar. Sedangkan air matanya kembali menetes ke pipi meskipun berulangkali dia seka.
"Kenanga, dengarkan penjelasanku dulu!" ucap Dion lagi.
Raut wajah Dion sendu dengan tatapan mata mengembun. Rasa sakit yang diberikan pada sang istri memang sangatlah dalam. Dion mengakui itu. Namun, ada alasan kuat dia harus melakukan hal menyakitkan itu.
Kenanga masih diam di posisi semula. Dadanya semakin sesak, bersamaan dengan air mata yang terus membasahi pipi. Sulit sekali menerima pengkhianatan ini.
"Kenanga!" Dion menyentuh lengan istrinya itu lagi. "Maafkan aku. Aku minta maaf telah menyakitimu, tapi aku harus menjel--"
"Pergi! Pergi, dari sini, Mas! Keluar!" teriak Kenanga sembari mendorong dada Dion sekuat tenaga.
Dion terjengkang dan buru-buru bangkit. Di depannya, Kenanga memberi tatapan nyalang sembari mengacungkan telunjuk tepat di muka Dion. Kenanga mengambil bantal lalu melemparnya ke segala arah.
Dia mengamuk di situ. Kenanga ingin menghancurkan seluruh isi kamar yang menjadi saksi sang suami berbagi kenikmatan dengan perempuan lain. Kamar yang juga menjadi saksi malam pertamanya dengan Dion dulu. Napas Kenanga tersengal menatap kasur yang sekarang tanpa seprei itu.
Sementara itu, Dion masih mematung menatap apa yang dilakukan istrinya. Kedua mata laki-laki itu pun berkaca-kaca. Dengan hati-hati, Dion mendekati Kenanga.
"Lakukan apa pun jika bisa membuatmu puas, Kenanga! Tapi dengarkan penjelasanku dulu!" ucap Dion masih berusaha meyakinkan hati istrinya.
Kenanga lantas berbalik dan menatapnya muak. "Apa kamu tidak dengar? Pergi dan tinggalkan kamar terkutuk ini! Aku muak melihatmu, Dion!" usirnya dengan suara datar.
"Kenanga ..."
"Apa kamu tuli atau tidak punya harga diri, hah?" bentak Kenanga emosi. Lantas dia pun tertawa sumbang. "Oh, Tuhan! Selain tak tahu malu, ternyata Engkau berikan aku suami yang tuli!" ucapnya lalu tertawa disertai derai air mata.
Dion menelan ludah berat mendengarnya. Bukan cacian itu yang membuatnya sedih. Melainkan sikapnya yang telah mendua, mengkhianati istri sebaik Kenanga. Bahkan, bukti pengkhianatan itu, sekarang tumbuh janin di rahim Risma. Istri sirinya!
"Cepat pergi sebelum aku teriak, Dion! Kamu mau ditangkap warga, lalu tubuhmu ditelanjangi dengan perempuan itu, diarak keliling komplek, hm?" Kembali Kenanga menyentak lamunan Dion.
Dion mengangguk pasrah. Langkahnya gontai keluar dari kamar. Kenanga menatapnya dengan hati semakin hancur bersamaan dengan rasa benci yang menggunung. Runtuh sudah harapan Kenanga membangun mahligai pernikahan sakinah mawadah warahmah bersama Dion.
Dion sempat menoleh pada Kenanga sebelum menutup pintu kamar dengan gerakan pelan. Langkahnya gontai menuruni anak tangga. Ternyata, Risma masih berada di ruang keluarga. Wanita hamil muda itu dengan santai menikmati sepotong apel hijau. Pandangan Risma tertuju pada layar televisi yang sedang menayangkan sebuah film romantis.
Dion mendengus kasar melihat kelakuan wanita itu. Lantas dia pun mendekat dan menarik tangan Risma. Risma mendongak setengah terkejut. Dia menatap protes pada suaminya.
"Apaan sih?
"Ayo, kita pulang!" ajak Dion sambil melirik ke arah anak tangga.
Risma tersenyum penuh arti. Senang rasanya melihat rumah tangga Kenanga di ambang kehancuran. Dengan begitu, dia bisa menguasai Dion seutuhnya. Keinginan Risma untuk menghancurkan Kenanga secara perlahan, kini mulai terlaksana. Dia pun mendapatkan jalan yang tepat, ketika Dion merespon cintanya.
"Kenapa sih, harus buru-buru? Padahal aku tidak apa-apa kalau kamu tidur di atas dengan Kenanga. Pasti kalian saling merindukan, kan, setelah hampir dua minggu tidak mendapatkan sentuhan Kenanga?" cerocos Risma ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Dion meliriknya sekilas, kemudian menggeleng samar. Laki-laki itu segera menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan car port. Meskipun dalam hati berat meninggalkan Kenanga sendirian, tetapi Dion ingin memberi waktu pada wanita itu untuk sendiri.
Selama dalam perjalanan menuju apartemen mereka, Dion dan Risma lebih banyak diam. Tepatnya, Dion memilih tidak menanggapi ucapan Risma yang selalu menyebut nama Kenanga. Tidak bisa dipungkiri, dia sangat merindukan istri pertamanya itu. Terlebih, Kenanga adalah wanita yang dia nikahi karena cinta.
"Ayo, turun! Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan nanti!" ucap Dion setelah memarkir mobilnya di underground parking.
Risma menoleh sekilas, lalu mengikuti suaminya itu membuka pintu. Tiba-tiba, dada Risma berdebar takut. Takut Dion lebih memilih Kenanga daripada dirinya. Dion menarik tangan Risma untuk memasuki lift.
"Dion, apa yang akan kamu bicarakan?" tanya Risma mulai khawatir.
Dia takut jika Dion akan membicarakan perihal perceraian. Risma tidak ingin berpisah dengan laki-laki itu meskipun hanya sebatas istri kedua. Risma juga sadar, sangat sulit menyingkirkan Kenanga dari hati Dion, tetapi bukan tidak mungkin.
"Em, Risma, untuk sementara kamu jangan mendekati Kenanga dulu! Biar dia ada waktu menenangkan diri. Mungkin untuk beberapa hari aku tidak pulang, aku harus menemaninya. Kamu setuju, kan?" tanya Dion dengan tatapan memohon.
Tidak ada lagi yang bisa Risma lakukan selain menyetujui. Meskipun di dalam hati sebenarnya tidak rela jika Dion lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kenanga.
"Baik, aku setuju. Tapi kamu jangan lupa keberadaan anak kita, Dion!"
"Aku tidak akan pernah melupakannya. Karena dia darah dagingku, cinta kita. Aku hanya ingin membuat Kenanga tenang."
"Apa kamu tidak ingin menceraikan Kenanga supaya kita bisa seutuhnya bersama?" tanya Risma sambil mengarahkan telapak tangan Dion ke perutnya yang masih rata.
Dion tercekat mendengar pertanyaan tidak disangka itu. Namun, dia memang harus mengambil sebuah keputusan yang tentu berat diterima oleh kedua istrinya itu.
****
"Apa kamu tidak berniat menceraikan Kenanga, Mas?" ulang Risma lagi.
Dion mengusap kasar wajahnya. Terdengar hembusan napas lelah dari bibir laki-laki itu. "Tolong, jangan bahas perceraian dulu, Risma! Aku harus memperbaiki situasi ini meskipun sangat sulit. Kenanga pasti marah besar padaku dan mungkin tidak akan memaafkanku!" ucapnya.
"Situasi tidak akan menjadi baik kecuali kamu memilih salah satu di antara kami, Mas!" sahut Risma mulai kesal.
"Ck!" Dion berdecak lirih. "Aku harus kembali ke rumah Kenanga! Kamu cepat tidur!" ucapnya lalu meraih kepala Risma dan menciumnya dengan sayang.
Risma mengangguk tak minat. "Baiklah. Tapi jika aku kangen kamu, jangan lupa luangkan waktu ke sini. Tidak ada protes!" sahutnya, lalu bangkit dan memeluk Dion dengan sikap manja.
Dion mengangguk. Dia manangkup wajah Risma dan menatapnya lembut. Laki-laki itu tersenyum samar, melhat sikap manja Risma. Risma memang berbeda dengan Kenanga. Istri pertamanya itu justru lebih mandiri. Dion jarang sekali mendengar Kenanga mengeluh.
Wanita itu lebih sering memendam masalah pekerjaan ataupun masalah pribadinya seorang diri. Namun, meskipun menjadi wanita mandiri, Kenanga tidak pernah melupakan kodratnya sebagai seorang istri. Dia selalu mendahulukan kepentingan Dion daripada dirinya.
Dion juga tidak mengerti karena begitu mudah berpaling dari Kenanga, padahal pernikahan itu baru berjalan satu tahun. Miris, justru wanita spesial lain di hati Dion adalah Risma, kakak iparnya sendiri.
"Apa yang kamu pikirkan? Bukankah kamu ingin pulang?" Pertanyaan Risma menyentak lamunan Dion.
Dion tersenyum kaku menatap mata Risma yang juga tengah menatapnya dengan kilat manja. Risma mengusap dada bidang Dion yang terbalut t-shirt lengan panjang itu dengan gerakan menggoda.
"Jangan menggodaku lagi, Risma! Ya, aku harus pulang sebelum semua menjadi kacau!" tegur Dion sambil memegang pergelangan tangan Risma.
"Apa kamu yakin akan pulang sekarang? Ayolah, tidak ada bedanya kamu pulang nanti atau sekarang. Kenanga masih marah sama kamu. Bukankah lebih baik kita mengulang apa yang tadi tertunda?" Risma mengerling manja sambil menelusupkan telapak tangannya ke dalam baju Dion.
Dion menelan ludah berperang melawan keinginan untuk menolak dan hasrat yang mulai bangkit di bawah sana. Laki-laki itu pun tersenyum, sambil menaikkan sebelah alis kemudian menyambar bibir Risma dengan lahap.
Kini keduanya kembali mengulang adegan panas tadi yang belum tuntas. Bahkan, lebih ganas. Desahan dan lenguhan manja saling bersahutan di ruangan apartemen yang tidak terlalu luas itu. Keduanya tidak terpengaruh dengan peristiwa beberapa jam lalu ketika Kenanga memergoki perselingkuhan mereka. Bahkan, Dion juga seolah lupa jika di tempat berbeda, Kenanga sedang bergumul dengan luka basah yang menganga.
"Ah, Sayang. Kamu benar-benar membuatku hilang kewarasan!" desah Dion sambil memeluk erat tubuh istri keduanya itu.
"Aku lebih suka begini, tidak ada yang menggangu kita, Sayang!" sahut Risma di antara deru napasnya. "Jadi, apakah kamu tidak akan berubah pikiran?" ulangnya sambil mengusap dagu Dion dengan kerlingan manja.
"Maksudmu!?"
Risma merebahkan tubuh dan berbaring miring menghadap Dion. "Jika ada yang kamu ceraikan, itu adalah Kenanga, bukan aku, Mas! Ingat, kan, dengan perjanjian kita?" tanyanya seolah mengingatkan, jika perjanjian di antara mereka telah mengikat Dion ke dalam sebuah hubungan terlarang.
Dion memejamkan mata dan menarik napas dilema. Sekarang, dia tidak bisa memilih. Rasa cintanya yang besar pada Kenanga sama besarnya dengan ketakutan meninggalkan Risma. Wanita kedua yang kini berada di pelukannya.
*
Dengan air mata yang terus menetes, Kenanga memasukkan beberapa bajunya asal ke dalam koper. Sesekali telapak tangannya menyeka air bening yang membasahi pipi mulusnya.
Gerakan tangan Kenanga terhenti manakala menyentuh sebuah kotak perhiasan. Kotak beludru yang berisi satu set perhiasan hadiah dari Dion kala meminangnya satu tahun lalu.
Kenangan indah di hari bahagia itu, dalam sekejap berubah menjadi sebuah luka yang dalam. Kenanga kembali terisak lirih. Sedetik kemudian, dia memejamkan mata dengan wajah mendongak, lalu menarik napas panjang.
"Aku tidak akan larut dalam luka ini, demi kamu!" ucap Kenanga sembari tersenyum getir.
Lantas, dia kembali menutup pintu lemari ketika dirasa tidak ada lagi yang perlu dibawa. Kenanga juga membiarkan kotak perhiasan itu tetap di sana.
"Mau ke mana kamu Sayang? Kita bicara dulu!" ucapan Dion yang sudah berdiri di ambang pintu kamar, menghentikan langkah Kenanga.
Wanita cantik itu menatapnya tanpa ekspresi, lalu tersenyum satu sudut. "Kamu datang lagi?" tanyanya datar.
Dion mendekat dengan tatapan tak berkedip dari istrinya itu. "Kita perlu bicara, Sayang. Ada sesuatu yang perlu kamu tahu sehingga aku be--"
"Berkhianat dengan kakak tiriku sendiri?" sahut Kenanga sinis. "Apa tidak ada perempuan lain selain dia?" lanjutnya dengan suara parau.
Dion menelan ludah. Laki-laki itu hendak memegang tangan Kenanga, tetapi dengan cepat ditepisnya. Kenanga lantas mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan dengan tatapan nanar.
"Kenanga, duduklah, kita bicara!" pinta Dion lirih.
"Berapa jam waktu yang kamu butuhkan untuk mengemasi barang-barangmu, Mas? Satu jam, dua jam? Pastikan besok pagi rumah ini sudah bersih dari benda-benda milikmu daripada aku membuangnya!"
Dion tidak menjawab. Dia justru menatap Kenanga dengan dalam. Wanita cantik yang telah terluka karena pengkhianatannya. Kenanga memang berhak mengusirnya. Namun, Dion tidak akan menyerah untuk mendapatkan maaf dari wanita itu.
Dion berpikir, saat ini Kenanga tengah terluka dan tidak bisa berpikir jernih. Namun, jika suatu saat nanti setelah mengetahui alasan perselingkuhan itu, mungkin Kenanga akan memaafkannya.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Kenanga segera beranjak, tetapi Dion segera menyambar tangannya. Kenanga yang sudah merasa jijik dan muak segera menepis tangan Dion.
"Baiklah, mungkin kamu perlu waktu untuk menenangkan diri. Tapi jangan pergi! Ini sudah terlalu larut, Kenanga!"
"Besok pagi, kunci rumah titipkan pada Pak Satpam! Ingat, jangan ada satu pun yang tertinggal!" ulang Kenanga tidak ingin berlama-lama.
Dion kembali menarik napas pelan. "Apa memang harus begitu, Kenanga? Apa tidak ada sedikit pun waktu untuk kita bicara?" tanyanya mulai putus asa.
"Tidak! Aku sudah mem--"
Tin! Tin!
Kenanga lantas menatap ke arah jendela kamar meskipun tidak bisa melihat mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Tidak ingin membuang waktu, Kenanga segera menarik koper keluar dari kamar tanpa bisa dicegah oleh Dion. Dion yang belum rela istrinya pergi, segera mengejar. Namun, langkahnya terhenti ketika mencapai depan pintu.
Sebuah mobil mewah yang pemiliknya begitu dikenal oleh Dion membukakan pintu untuk sang istri sembari tersenyum manis. Lirikan sinis laki-laki bertubuh jangkung itu, seolah menambah sesak dada Dion.
"Kamu bodoh, Bro!" ucap laki-laki itu sambil mengedipkan sebelah mata pada Dion yang masih berdiri mematung.
****