Pagi harinya, cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden otomatis di kamar itu terasa menyilaukan. Aura mengerjap, kepalanya terasa berat karena semalaman dia nyaris tidak tidur. Di sampingnya, kasur sudah kosong. Dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, menandakan Gavin sudah bangun dan sedang bersiap.
Aura duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya. Bayangan kejadian di dapur semalam masih terekam jelas di kepalanya. Sentuhan tangan Adrian di lehernya seolah masih meninggalkan bekas panas yang menjalar. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa itu mungkin cuma pengaruh alkohol yang diminum Adrian, atau mungkin dia sendiri yang terlalu sensitif karena kelelahan. Tapi tatapan Adrian... itu bukan tatapan orang mabuk yang tidak sadar. Itu tatapan orang yang tahu persis apa yang dia mau.
"Eh, udah bangun, Sayang?" Gavin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Wajahnya segar, tampak sangat bersemangat. "Gila ya, air panas di sini tekanannya enak banget. Beda banget sama di kontrakan kita yang sering mati-matian."
Aura hanya tersenyum tipis. "Vin, kamu nggak merasa ada yang aneh sama Mas Adrian?"
Gavin berhenti menyisir rambutnya, dia menoleh lewat cermin dengan dahi berkerut. "Aneh gimana? Dia emang begitu, Ra. Pendiam, serius. Tapi dia orang paling loyal yang aku kenal. Kamu jangan terlalu dipikirin lah, mungkin kamu cuma kaget aja sama suasana rumah baru."
"Bukan itu, maksud aku..." Aura menggantung kalimatnya. Bagaimana cara mengatakannya? 'Gavin, kakak kamu menyudutkan aku di dapur semalam dan bilang aku ini tanggung jawabnya'. Kalau dia bilang begitu, Gavin pasti bakal menganggapnya bercanda atau salah paham. Gavin memuja Adrian seolah pria itu adalah malaikat pelindung mereka.
"Udah, mending kamu mandi sekarang. Kita ditunggu sarapan di bawah. Mas Adrian nggak suka kalau ada orang yang telat ke meja makan," potong Gavin sambil memakai kemeja kerjanya.
Aura menghela napas panjang dan melangkah ke kamar mandi. Di bawah kucuran air, dia mencoba membasuh rasa gelisahnya. Dia harus bersikap biasa saja. Dia harus menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh oleh intimidasi Adrian.
Begitu turun ke ruang makan, suasana sudah tertata rapi. Meja makan kayu jati yang panjang itu dipenuhi berbagai macam menu, dari nasi goreng sampai roti panggang. Adrian sudah duduk di kursi kebesarannya di ujung meja, sedang membaca tablet sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Bau kopinya yang tajam memenuhi ruangan.
"Duduk, Aura," kata Adrian tanpa mendongak. Suaranya datar tapi penuh perintah.
Aura duduk di samping Gavin, tepat berhadapan dengan Adrian. Dia merasa sangat tidak nyaman. Setiap kali dia mencoba menyuap makanannya, dia merasa mata Adrian sesekali melirik ke arahnya, memperhatikan cara dia memegang sendok, cara dia mengunyah, bahkan cara dia bernapas.
"Vin, mulai hari ini aku mau kamu fokus ke proyek di Cikarang. Aku udah minta sekretaris aku buat nyiapin semua laporannya. Kamu mungkin bakal sering pulang telat, atau kalau perlu nginep di sana beberapa hari," ucap Adrian santai sambil memotong steak kecil di piringnya.
Gavin tersedak sedikit. "Lho, Mas? Kok mendadak banget? Aku kan baru aja pindah ke sini. Kasihan Aura kalau ditinggal sendirian."
"Dia nggak sendirian. Ada banyak pelayan di sini. Ada aku juga," Adrian akhirnya mendongak, matanya bertemu dengan mata Aura. Ada kilatan provokasi di sana. "Lagian, kamu mau kan karir kamu naik? Ini kesempatan bagus. Kamu harus belajar tanggung jawab besar kalau mau jadi sukses kayak aku."
Gavin tampak bimbang, tapi sifat kompetitif dan rasa kagumnya pada Adrian mengalahkan segalanya. "Ya... kalau Mas bilang gitu, oke sih. Aku bakal usahain yang terbaik."
Aura meremas serbet di pangkuannya. Ini dia. Adrian mulai melakukan gerakannya. Dia sengaja menyingkirkan Gavin agar bisa bebas melakukan apa saja di rumah ini. "Vin, bukannya kamu bilang kemarin proyek Cikarang masih sebulan lagi?"
"Rencana bisa berubah, Ra. Dalam bisnis, siapa yang lambat bakal ketinggalan," potong Adrian dengan suara dingin yang membuat Aura terdiam.
Setelah Gavin berangkat kerja dengan terburu-buru, suasana rumah menjadi sunyi yang mencekam. Aura berniat langsung masuk ke kamarnya, tapi suara Adrian menghentikannya di depan tangga.
"Mau ke mana buru-buru?"
Aura berbalik perlahan. Adrian berdiri di sana, menyilangkan tangan di dada. "Aku mau beresin baju-baju ke lemari, Mas."
"Pelayan bisa ngelakuin itu. Sini, ikut saya ke perpustakaan sebentar. Ada yang mau saya bicarakan soal aturan rumah."
Aura ingin menolak, tapi kakinya seolah tidak punya pilihan. Dia mengikuti Adrian masuk ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Bau kertas lama dan kulit mendominasi ruangan itu. Begitu Aura masuk, Adrian menutup pintu dan menguncinya.
Klik.
Bunyi kunci itu terdengar seperti suara vonis penjara di telinga Aura.
"Mas, kenapa dikunci?" Aura mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang.
Adrian berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. "Saya nggak suka diganggu kalau lagi bicara serius. Kamu tahu, Aura... rumah ini punya aturan sendiri. Saya yang buat aturannya, dan semua orang yang tinggal di sini harus patuh."
Dia berhenti tepat di depan Aura. Kali ini dia tidak menyentuh, tapi kehadirannya yang dominan sudah cukup membuat Aura merasa tercekik.
"Aturan pertama, jangan pernah mencoba bohong sama saya. Saya tahu kamu nggak nyaman di sini. Saya tahu kamu takut sama saya. Tapi jujur aja, rasa takut itu yang bikin kamu kelihatan makin menarik di mata saya."
Aura mundur sampai punggungnya menabrak rak buku. "Mas, tolong... hargai Gavin. Dia sayang banget sama Mas."
"Gavin itu masih anak kecil. Dia nggak tahu apa-apa soal dunia ini, apalagi soal perempuan kayak kamu. Dia cuma tahu cara main-main, tapi dia nggak tahu cara memuaskan ego perempuan," Adrian mengulurkan tangan, kali ini jari telunjuknya mengusap bibir bawah Aura. "Kamu cantik, tapi kamu kelihatan kesepian di samping dia."
Aura memalingkan wajahnya. "Mas gila! Aku cinta sama suami aku!"
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang hambar dan dingin. "Cinta? Kita lihat berapa lama 'cinta' itu bertahan kalau setiap malam kamu bakal terus berpapasan sama saya di lorong gelap rumah ini. Kamu nggak bisa lari, Aura. Gerbang depan dijaga, semua CCTV ada di bawah kendali saya. Kamu milik Gavin di atas kertas, tapi di bawah atap ini... kamu milik saya."
Aura merasa dunianya runtuh. Dia baru sadar bahwa rumah mewah ini adalah labirin yang dirancang khusus untuk menjeratnya. Dia ingin berteriak, tapi dia tahu pelayan di luar pun tidak akan berani ikut campur urusan tuan besar mereka.
Adrian menarik diri, memberikan ruang bagi Aura untuk bernapas. Dia mengambil sebuah kunci dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja kerja. "Itu kunci kamar utama. Mulai sekarang, kamu nggak boleh kunci pintu kamar kamu dari dalam kalau malam hari. Alasannya? Keamanan. Saya harus bisa akses seluruh ruangan kalau ada keadaan darurat."
"Itu nggak masuk akal!" protes Aura.
"Di sini, apa yang saya bilang itu yang masuk akal. Sekarang, balik ke kamar kamu. Siapkan mental kamu, karena Gavin nggak bakal pulang malam ini. Dia bakal sangat sibuk di Cikarang... berkat saya."
Aura berlari keluar dari perpustakaan begitu Adrian membukakan pintu. Dia masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan langsung menangis di balik bantal. Dia mencoba menelepon Gavin, tapi ponsel suaminya tidak aktif. Dia merasa benar-benar terisolasi.
Sore harinya, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Aura, membawakannya sebuah kotak besar berwarna hitam. Di dalamnya ada sebuah gaun sutra berwarna merah marun yang sangat indah, tapi potongannya sangat berani. Ada sepucuk surat kecil di sana.
Pakai ini untuk makan malam. Jangan buat saya kecewa.
Aura melempar gaun itu ke lantai. Dia tidak mau jadi boneka Adrian. Tapi kemudian dia teringat kata-kata Adrian soal ayahnya. Adrian pernah bilang kalau perusahaan ayah Aura sedang kesulitan dan dia adalah salah satu investor terbesarnya. Ancaman itu memang tidak diucapkan secara langsung, tapi Aura tahu itu ada di sana, menggantung seperti pedang di atas kepala keluarganya.
Malam itu, dengan tangan gemetar, Aura memakai gaun itu. Saat dia bercermin, dia tidak mengenali dirinya sendiri. Dia tampak seperti wanita simpanan, bukan seorang istri yang sah.
Dia turun ke ruang makan. Adrian sudah menunggu, mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Saat melihat Aura, mata Adrian menyipit, memindai setiap lekuk tubuh Aura yang tercetak jelas oleh kain sutra itu.
"Cantik," gumam Adrian. Dia berdiri dan menarikkan kursi untuk Aura.
Makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Hanya ada suara denting sendok dan garpu. Aura tidak berani menatap Adrian.
"Kenapa nggak dimakan? Masakannya nggak enak?" tanya Adrian memecah kesunyian.
"Aku nggak nafsu makan, Mas."
"Kamu harus makan. Kamu butuh tenaga buat nanti malam."
Aura tersedak air yang sedang diminumnya. "Maksud Mas apa?"
Adrian hanya tersenyum misterius. Dia berdiri, berjalan memutari meja, dan berhenti di belakang kursi Aura. Dia meletakkan tangannya di bahu Aura, memijatnya pelan namun kuat. "Gavin baru aja telepon. Dia bakal nginep di Cikarang selama tiga hari ke depan. Katanya ada masalah teknis di lapangan. Kasihan dia, kerja keras demi masa depan kalian."
Tangan Adrian turun ke tulang selangka Aura, mempermainkan tali gaunnya. "Tapi di sini kita berdua. Cuma kita berdua, Aura. Nggak ada yang bakal ganggu."
Aura memejamkan mata erat-berharap semua ini cuma mimpi buruk. Tapi rasa hangat dari tangan Adrian dan bau parfumnya yang mendominasi indra penciumannya terlalu nyata. Dia terjebak dalam obsesi kakak iparnya sendiri, di rumah yang seharusnya menjadi tempat teramannya, dengan suami yang terlalu naif untuk melihat bahwa serigala itu ada di dalam keluarganya sendiri.
Aura merasa seolah oksigen di ruang makan itu mendadak hilang. Kata-kata Adrian soal Gavin yang tidak akan pulang selama tiga hari ke depan terasa seperti hantaman keras di dadanya. Dia ingin berdiri, lari ke kamar, dan mengunci pintu rapat-rapat, tapi tangan Adrian yang masih bertengger di bahunya terasa seberat timah. Pijatannya pelan, ritmis, tapi setiap tekanannya seolah mengirimkan pesan bahwa Aura tidak punya tempat untuk lari.
"Mas, tolong lepasin," bisik Aura dengan suara yang hampir pecah. Dia berusaha menjaga harga dirinya agar tidak terlihat terlalu gemetar, tapi dia gagal total.
Adrian tidak melepaskannya. Malah, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Aura. Aura bisa merasakan hawa panas dari napas pria itu. "Kenapa? Kamu takut sama saya, atau kamu takut sama perasaan kamu sendiri?"
"Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Mas selain rasa hormat sebagai kakak ipar. Itu aja," jawab Aura tegas, mencoba membangun benteng pertahanan terakhirnya.
Adrian terkekeh, suara rendah yang bergetar di tenggorokannya. "Hormat? Hormat nggak bikin jantung kamu detak secepat ini, Aura. Saya bisa ngerasain denyut nadi kamu di sini," Adrian menekan jari telunjuknya di leher Aura, tepat di atas urat nadinya yang berdenyut kencang. "Ini bukan rasa hormat. Ini rasa takut yang bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama ini Gavin nggak pernah bisa bangkitin dalam diri kamu."
Aura menyentak bahunya, memaksa diri untuk berdiri dan menjauh beberapa langkah. Dia menatap Adrian dengan tatapan penuh kebencian. "Mas bener-bener sakit. Gavin itu adik kandung Mas! Gimana bisa Mas punya pikiran sebusuk ini?"
Adrian berdiri dengan tenang, tidak merasa terganggu sama sekali dengan makian Aura. Dia malah menyesap sisa wine di gelasnya dengan elegan, seolah-olah mereka hanya sedang membicarakan cuaca. "Dunia ini nggak seputih yang kamu kira, Aura. Gavin itu lemah. Dia hidup di bawah bayang-bayang saya sejak kecil. Segalanya yang dia punya-mobil yang dia pakai, posisi kerja yang dia dapet, bahkan rumah yang dia tempatin sekarang-semuanya karena saya. Jadi, jangan naif. Cepat atau lambat, dia juga bakal kehilangan kamu karena ketidakmampuannya sendiri."
"Aku bukan barang yang bisa Mas ambil begitu aja!"
"Bukan. Kamu bukan barang. Kamu adalah obsesi yang belum selesai," Adrian berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi penuh intimidasi. "Dulu, waktu pertama kali Gavin ngenalin kamu sebagai pacarnya, saya udah tahu kalau kamu harusnya jadi milik saya. Saya cuma nunggu waktu yang tepat. Dan sekarang, waktu itu udah tiba."
Aura tidak tahan lagi. Dia berbalik dan lari menuju tangga. Dia mendaki anak tangga itu dua-dua, nyaris terjatuh karena gaun panjang yang dia pakai menghalangi langkahnya. Dia masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan segera memutar kunci.
Klik.
Suara kunci itu memberikan sedikit rasa lega, meskipun dia tahu Adrian punya kunci cadangan untuk semua pintu di rumah ini. Aura merosot di balik pintu, memeluk lututnya, dan mulai terisak. Dia merasa sangat kotor, bahkan meski Adrian belum melakukan kontak fisik yang jauh. Dia merasa dikhianati oleh situasi. Gavin, suaminya yang seharusnya melindunginya, malah menyerahkannya bulat-bulat ke kandang singa ini.
Dia mencoba menghubungi ponsel Gavin lagi. Satu kali, dua kali, sepuluh kali. Tetap tidak aktif. Aura melempar ponselnya ke atas kasur dengan perasaan frustrasi. Dia kemudian beralih ke jendela besar di kamarnya, melihat ke arah gerbang depan. Di sana, dua orang penjaga bertubuh tegap berdiri dengan waspada. Dia benar-benar terpenjara.
Malam semakin larut. Suara hujan yang tadi sore menderu kini berganti menjadi gerimis tipis yang menciptakan suasana makin sunyi. Aura mencoba memejamkan mata di atas kasur yang luas itu, tapi setiap suara sekecil apapun di koridor luar membuatnya terjaga. Dia membayangkan Adrian sedang berdiri di depan pintunya, memperhatikannya lewat celah bawah pintu, atau mungkin lewat kamera tersembunyi yang dia curigai ada di sudut-sudut plafon.
Sekitar jam satu pagi, Aura mendengar suara langkah kaki di lorong. Langkah itu berat dan berwibawa. Berhenti tepat di depan kamarnya.
Jantung Aura seolah berhenti berdetak. Dia menahan napas, matanya terpaku pada gagang pintu. Pelan-pelan, gagang pintu itu bergerak turun. Seseorang mencoba membukanya dari luar.
Ceklek.
Pintu tidak terbuka karena masih terkunci. Hening sejenak. Aura berharap orang di luar sana akan pergi. Namun, harapannya pupus saat dia mendengar suara logam beradu-bunyi kunci cadangan yang dimasukkan ke lubangnya.
Pintu terbuka pelan. Cahaya dari lorong masuk membentuk garis panjang di lantai kamar. Sosok jangkung Adrian berdiri di sana, siluetnya tampak begitu mengancam. Dia tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu, menatap Aura yang duduk gemetar di tengah tempat tidur sambil memeluk selimut.
"Saya kan sudah bilang, jangan dikunci," suara Adrian datar, tapi mengandung kemarahan yang tertahan.
"Keluar, Mas! Tolong keluar!" teriak Aura histeris.
Adrian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya tanpa menguncinya kembali. Dia berjalan menuju lampu meja di samping tempat tidur Aura dan menyalakannya. Cahaya remang-remang itu membuat wajahnya terlihat lebih lembut, tapi matanya tetap tajam seperti elang.
"Kenapa kamu harus mempersulit segalanya? Kamu cuma tinggal patuh, dan hidup kamu di sini bakal tenang. Semua kebutuhan kamu terpenuhi, keluarga kamu di rumah bakal aman, dan Gavin... dia bakal tetep punya karier yang bagus selama saya mau," Adrian duduk di tepi kasur, cukup dekat hingga Aura bisa mencium bau sabun mandinya yang maskulin.
Aura beringsut mundur sampai punggungnya menempel di kepala ranjang. "Mas ngancem aku? Mas mau pake keluarga aku buat maksa aku?"
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Itu bukan ancaman, Aura. Itu kenyataan. Saya punya kuasa untuk ngebangun atau ngehancurin apa pun yang saya mau dalam sekejap. Termasuk masa depan suami kamu yang tercinta itu."
Adrian mengulurkan tangan, kali ini dia meraih tangan Aura yang menggenggam selimut. Dia menarik tangan itu dengan lembut tapi penuh tekanan, lalu mengecup telapak tangan Aura. Bibirnya terasa dingin dan basah, membuat Aura merinding ketakutan sekaligus merasa mual.
"Lepasin..." rintih Aura.
"Kamu tahu, Aura? Gavin selalu cerita gimana kamu itu perempuan yang paling murni yang pernah dia temuin. Dia bangga banget bisa nikahin kamu. Tapi dia nggak tahu kalau di balik kemurnian kamu, ada api yang cuma saya yang bisa liat."
Adrian mulai menunduk, wajahnya mendekat ke arah leher Aura. Aura bisa merasakan kumis tipis Adrian bergesekan dengan kulitnya yang sensitif. Dia ingin melawan, ingin menampar pria itu, tapi tubuhnya seolah lumpuh oleh rasa takut yang luar biasa. Dia sadar, di rumah ini, tidak ada yang akan datang menolongnya. Pelayan-pelayan di bawah sana adalah kaki tangan Adrian. Gavin sedang bermimpi indah di tempat lain, sama sekali tidak menyadari istrinya sedang dalam bahaya.
"Mas, aku mohon... jangan lakuin ini. Mas masih punya hati, kan?" tangis Aura pecah.
Adrian berhenti sejenak, menatap mata Aura yang basah oleh air mata. Dia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, gerakannya hampir terasa seperti orang yang sedang jatuh cinta jika saja situasinya berbeda.
"Hati saya udah lama mati, Aura. Yang ada sekarang cuma keinginan buat menang. Dan malam ini, saya nggak akan minta lebih. Saya cuma mau kamu sadar siapa yang punya kendali di sini."
Adrian tiba-tiba berdiri. Dia tidak melanjutkan aksinya lebih jauh, membuat Aura sedikit bingung sekaligus lega. Adrian berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia menoleh kembali.
"Besok pagi, saya mau kamu sarapan sama saya di taman belakang. Tanpa penolakan. Pakai baju yang saya kirim tadi sore, yang belum sempat kamu pakai dengan benar. Kalau kamu nggak muncul... saya pastikan besok siang Gavin bakal dapet surat pemecatan dan ayah kamu bakal dapet tagihan hutang yang nggak akan sanggup dia bayar."
Tanpa menunggu jawaban, Adrian keluar dan menutup pintu. Aura jatuh tersungkur di atas bantal, terisak hingga suaranya serak. Dia merasa sedang ditarik ke dalam lumpur hisap. Semakin dia melawan, semakin dalam dia tenggelam.
Dia melihat ke arah jendela yang gelap. Malam itu terasa sangat panjang. Dia bertanya-tanya, apakah dia akan tetap menjadi Aura yang sama setelah semua ini berakhir, atau apakah dia justru akan hancur dan menjadi bagian dari koleksi pribadi Adrian Mahendra yang mengerikan. Satu hal yang pasti, hidupnya yang damai bersama Gavin sudah berakhir sejak mereka menginjakkan kaki di rumah ini.