Bab 2

"YOYO!" sebuah teriakan membuat Yoyo, dan perempuan paruhbaya di hadapan Yoyo menoleh ke sumber suara.

Seorang lelaki paruhbaya terlihat melangkah menghampiri Yoyo. Wajahnya terlihat agak tak suka, terlebih setelah melihat perempuan paruhbaya yang berdiri di hadapan Yoyo.

"Bapak!" panggil Yoyo sembari tersenyum tipis.

"Kaina!" panggil Bapak yang kini terfokus pada perempuan, yang pernah mengisi hari-harinya dulu.

Perempuan paruhbaya itu hanya menunduk, sama sekali tak mendongak menatap Bapak.

"Kamu baik-baik aja?" tanya Bapak pada perempuan itu, Yoyo merasa Bapaknya terlalu baik. Bapak tidak membenci Ibu sama sekali? Sungguh Yoyo tidak tahu terbuat dari apa hati Bapaknya itu.

"Yoyo mau balik ke asrama, Pak! Assalamualaikum!" kata Yoyo sembari mencium punggung tangan sang Bapak.

"Waalikumsalam, hati-hati!" kata Bapak membuat Yoyo yang tengah berjalan menjauh menganggukkan kepala.

Yoyo memutuskan tidak pergi, Ia memilih bersembunyi di salah satu pohon dekat Bapak, dan Ibunya berdiri.

"Kamu baik-baik aja, Kaina?" tanya Bapak lagi terdengar khawatir dan Yoyo mendengarnya.

Perempuan itu tak mendongak sama sekali, hanya terus menunduk sembari tangannya yang bergetar. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ibunya terlihat takut untuk menatap Bapak? Entahlah Yoyo memilih fokus mendengarkan saja, ketimbang memikirkan apa alasannya.

"Jangan menanyakan apa aku baik-baik aja atau nggak, Mas! Karena itu bukan urusan kamu meski aku nggak baik-baik aja," saut Ibu, akhirnya Yoyo memilih memanggilnya Ibu ketimbang terus menyebutnya perempuan itu.

Bapak terlihat tertawa getir. Yoyo jadi berpikir apa ini semacam romansa bertepuk sebelah tangan? Mungkinkah ini seperti Reren yang mencoba peduli pada Uji. Namun, Uji hanya bersikap biasa saja? Begitukah?

"Aku cuman nanya kabar kamu! Perkara kamu mau jawab baik ataupun enggak, itu juga nggak akan buat aku dikatakan sebagai seseorang yang berarti dalam hidup kamu!" kini Bapak kembali menyaut, wajahnya tenang seperti biasa.

Ibu terlihat agak tersentak, "Aku baik-baik aja, Mas!" jawab Ibu pada akhirnya.

Bapak terlihat menghela napas, "Bohong!" saut Bapak.

"Kamu nggak tahu, Mas! Jadi jangan menyimpulkan kalau aku berbohong!"

Bapak tertawa getir, "Kalau kamu nggak bohong! Lantas itu apa? Memar biru di pergelangan tangan? Memar biru di dahi kamu? Jangan bohongi aku seperti saat kamu bohong akan meninggalkan Hadi!" jelas Bapak sembari menunjuk pergelangan tangan Ibu yang membiru, dahi yang juga terlihat ada beberapa lebam, meski itu tertutupi poni. Sungguh Yoyo sedari tadi sama sekali tak melihatnya, apa kebencian Yoyo terhadap Ibu sudah terlalu dalam? Sehingga menutupi seluruh kekhawatirannya sebagai anak.

Ibu tercengang, menatap tak percaya bahwa mantan suaminya sejeli itu memerhatikannya.

"Ak-Aku cuma jatuh aja tadi!" kata Ibu membuat manik mata Bapak sepenuhnya menatapnya.

"Jangan bohong sama aku, Kaina! Aku tahu Hadi pasti yang melakukan ini sama kamu kan? Kamu ngapain sampai dia marah?"

Yoyo melebarkan matanya, Hadi? Ah pasti itu suami Ibunya, si perebut istri orang. Memang salah Ibu memilih lelaki itu, dan sangat bodoh menurut Yoyo. Ibu meninggalkan lelaki baik, dan tak pernah main tangan macam Bapak. Hanya demi lelaki bernama Hadi itu yang tempramennya tak baik, dan berani main tangan pada perempuan. Sungguh Yoyo benar-benar makin kecewa pada Ibunya.

"Jawab aku, Na!" kata Bapak sembari menatap Ibu, dengan pandangan terluka. Sungguh Yoyo benar-benar tak paham atas pemikiran sang Ibu, bisa-bisanya Ibu pergi meninggalkan Bapak yang jelas-jelas mencintainya. Oh Tuhan serumit inikah cinta orang dewasa? Sungguh Yoyo jadi benci saat tahu kalau Ia juga pasti akan beranjak dewasa.

Yoyo melihat Ibu hanya diam mematung, sama sekali tak berniat menjawab Bapak.

"Na! Kamu harus bisa bahagia! Tinggalin Hadi, dan cari bahagia kamu! Apa yang membuat kamu bertahan sama lelaki bedebah itu? Apa?" tanya Bapak menatap Ibu yang kini mulai menatapnya, "Hadi punya Apa, Na? Aku kecewa kalau ternyata kamu ninggalin aku demi Hadi bedebah itu, aku kecewa kamu lupain aku demi dia, dan aku juga terluka saat kamu memilih Hadi ketimbang anak kita Yoyo! Aku kira sumpah kita di hadapan Tuhan tidak akan pernah kita ingkari, tapi sayangnya kamu mengingkarinya, cinta yang sehidup semati itu hilang hanya karena bedebah bernama Ha..."

PLAKK...

Terdengar tamparan yang cukup keras, dan Yoyo bisa melihat sudut bibir Bapak mengeluarkan darah. Ibu benar-benar mencintai Hadi ternyata, terbukti Ia tidak terima setelah Bapak berulang kali menyebutnya sebagai lelaki bedebah.

"Jangan pernah menjelek-jelekan Hadi, Mas! Jangan pernah! Kamu nggak tahu dia, jadi nggak perlu menilai dia hanya dari sudut pandang kamu yang terluka, dan kecewa karena aku tinggalkan!" kata Ibu membuat Bapak menatapnya tak percaya. Sungguh Yoyo yang berdiri di balik pohonpun menganga tak percaya.

"Secinta itu kamu sama Hadi? Kurang bukti apa supaya kamu sadar kalau Hadi itu sering nyakitin kamu? Kamu pikir aku nggak tahu kalau Hadi sering main tangan sama kamu? Aku tahu, Na! Banyak dokter yang cerita ke aku! Tapi aku bisa apa? Saat kamu aja nggak pernah mau dengerin aku, kamu cuman mau dengerin Hadi!"

"Karena dia suami aku! Sementara kamu hanya bagian dari masa lalu aku!"

Jawaban Ibu barusan membuat hati Yoyo sakit, semudah itu Ibu mengatakan hal itu? Yoyo benar-benar benci pada Ibu, awalnya Yoyo kira Ia akan memaafkan sang Ibu. Tapi melihat barusan, Yoyo memutuskan akan terus berusaha untuk memotong benang yang terhubung antara Ia dan Ibu. Entah menggunakan apa, tapi Yoyo harus memotongnya agar semua yang terjadi dalam hidupnya tak lagi terhubung dengan benang, yang menghubungkannya dengan sang Ibu.

"Benar! Aku cuman masa lalu kamu! Tapi aku peduli sebagai sesama manusia, jangan kira aku peduli karena cinta! Udah hilang cinta itu entah kemana, sejak kamu bilang mencintai Hadi!" kata Bapak terlihat agak kecewa dan marah menatap Ibu.

"Aku mau kita ke pengadilan buat urus hak asuh anak!" kata Ibu tiba-tiba, yang tentu saja membuat Yoyo melotot tak percaya di balik pohon.

nampak menghela napas, lambat laun akhirnya terjadi juga. Hari di mana Ia harus berebut hak asuh anak dengan mantan istrinya.

"Dulu kamu kemana? Dulu saat Yoyo butuh kamu, sekarang saat dia udah bisa nentuin pilihan hidupnya kamu baru datang, kamu baru muncul dan bilang akan urus hak asuh anak!" kata Bapak menatap Ibu jengkel, "Kamu pikir membesarkan anak itu mudah, Na? Jangan harap kamu bisa mendapatkan hak asuh Yoyo! Aku yang udah besarin dia, dan aku juga yang akan melepas dia suatu hari nanti saat dia akan menikah! Jauhi Yoyo! Dia cuman anakku bukan anakmu!" kata Bapak membuat Yoyo yang berdiri di belakang pohon menatapnya.

"Dia anak aku juga! Kalau kamu nyuruh aku jauhin Yoyo! Itu artinya kamu egois, Mas!"

Bapak tertawa getir lagi, "Egois? Biarin sekali ini aja aku egois, biarin aku egois untuk kali ini, Na! Biarin untuk kali ini aja!" kata Bapak menatap Ibu sedih.

Yoyo yang berdiri di belakang pohon jatuh terduduk, menatap tak percaya semua yang terjadi. Mulai detik ini juga pasti hidupnya tak akan lagi tentram, terlebih setelah mendengar hak asuh anak.

"Aku pergi, Mas! Siapin pengacara untuk sidang!"

Bapak menatap tak percaya pada Ibu, yang kini melangkah meninggalkannya. Bapak kini berjalan dan memilih duduk di bangku taman, terlihat sekali Bapak frustasi.

Yoyo tidak bisa begini, akhirnya Yoyo memilih berlari pergi menjauhi taman kota. Ia benci hidupnya, benar Yoyo sungguh membenci hidupnya yang mengerikan ini.

Hingga saat Yoyo kelelahan berlari, di jembatan utama kota, yang terlihat sepi. Yoyo melihat siluet seseorang yang kelihatan akan melompat dari jembatan. Yoyo tidak mungkin membiarkan orang itu melompat ke sungai, di bawah yang sangat dalam itu. Yoyo berlari menghampiri.

"BERHENTI!" teriak Yoyo membuat seseorang yang akan melompat itu menoleh.

"Yo-Yoyo?"

Sama terkejutnya dengan orang itu, Yoyo jadi membeku di tempatnya.

TBC.

Bab 3

"BERHENTI! WOYY!" teriak Yoyo membuat seseorang yang akan melompat itu menoleh.

"Yo-Yoyo?"

Sama terkejutnya dengan orang itu, Yoyo jadi membeku di tempatnya.

"Lo ngapain di sini, Werkudara?" tanya Yoyo menatap lelaki yang kini sudah turun dari jembatan.

Lelaki itu adalah Werkudara, seseorang yang Yoyo ketahui sebagai anak kelas TKR. Yoyo kenal dengan Werkudara cukup dekat, sebab keduanya merupakan teman SMP dan kebetulan Yoyo pernah satu kelas dengannya.

"Gu-gue..."

Yoyo nampak menghela napas, "Lo mau loncat, Wer?" tanya Yoyo yang kini menatap langit.

Terlihat Werkudara wajahnya memucat, bulir keringat mulai turun dari dahinya.

"Ja-jangan bilangin Hasa, Yo! Gue mohon!" kata Werkudara menatap Yoyo memohon.

Yoyo tentu saja tahu, tahu semua tentang Hasa dan Werkudara yang ternyata bersaudara.

"Kenapa lo lakuin ini, Wer? Gimana kalo Hasa tau? Lo pasti abis di pukul sama dia," tanya Yoyo menatap Werkudara yang kini menunduk.

Yoyo tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Werkudara, Ia hanya tahu Werkudara memang tidak berhubungan baik dengan Hasa Kakaknya. Ya Yoyo hanya tahu itu saja, selebihnya Ia tidak pernah mencoba mencari tahu, sebab setiap orang punya privasi dan Yoyo tidak bisa memaksa Werkudara maupun Hasa untuk menceritakan padanya.

"Gue takut, Yo! Gue takut!"

Yoyo jadi sepenuhnya menatap Werkudara, takut? Takut apa? Entahlah Yoyo jadi bingung menatap Werkudara. Apa yang sebenarnya membuat Werkudara takut? Apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki ini?

"Lo takut? Kalo lo takut seharusnya lo nggak mencoba untuk loncat dari jembatan ini, Wer! Gila lo emang!" kata Yoyo setengah memarahi Werkudara. Werkudara memang lebih muda dari Hasa, begitupun dari Yoyo. Maka, alhasil Werkudara sering kali seperti seorang adik bagi Yoyo.

"Gue takut pulang ke rumah!"

Apa ini? Takut pulang ke rumah? Yoyo makin tak habis pikir, tak mengerti sebenarnya apa maksud takut dari Werkudara.

"Gue nggak paham, Wer!" kata Yoyo menghela napas.

"Iya nggak ada yang paham sama gue termasuk diri gue sendiri, Yo!"

Yoyo menghela napas, memilih mendekat ke jembatan. Melongok sungai di bawah yang memang dalamnya bermeter-meter.

"Kalau lo sendiri nggak paham! Gimana ceritanya orang lain bakal paham sama diri lo, asal lo tau Wer! Di dunia ini yang paham sama diri lo ya diri lo sendiri, nggak ada yang lain. Mau sedekat apapun orang lain sama lo, mereka nggak akan lebih baik dalam mengenal diri lo ketimbang diri sendiri!" kata Yoyo membuat Werkudara mendongak menatap langit malam ini.

"Gue sering kali mencoba memahami diri sendiri! Berusaha mencintai diri gue sendiri, tapi sering kali usaha itu di gagalkan atas kata-kata Papa ke gue, Papa sering marah-marah lewat telepon ke gue. Bilang kalo seharusnya gue emang nggak pernah lahir ke dunia, kalo seharusnya gue mati aja. Lantas apa hal itu nggak bikin gue makin menolak mencintai diri sendiri? Gue makin merasa bersalah karena telah di lahirkan, gue juga semakin merasa bersalah ke Hasa," tutur Werkudara membuat Yoyo menepuk bahu sahabatnya menyemangati.

"Bukan salah lo, Wer! Bukan salah lo ketika lo ada dan lahir di dunia, kalau bisa mungkin gue yakin lo akan menolak untuk lahir, menolak untuk ada di dunia! Tapi Tuhan itu punya rencana bagus, salah satunya dengan menghadirkan lo di hidup Papa lo, Mama lo, dan Hasa."

Werkudara menatap Yoyo dengan senyum getir, "Gue nggak pernah bisa berharap bahwa mereka akan menerima gue! Terbukti Papa selalu mukulin gue, Hasa yang selalu nyebut gue anak haram, cuman Mama dan Papanya Hasa yang peduli sama gue. Tapi sekali lagi gue harus sadar diri, kalo gue emang nggak diinginkan kehadirannya sama sekali," kata Werkudara yang kini mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

"Sejak kapan lo mimisan?" tanya Yoyo setelah melihat Werkudara mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, dan ternyata untuk menghapus darah yang keluar dari rongga hidung lelaki itu.

Werkudara tidak menjawab, memilih fokus membersihkan darah mimisannya.

"Lo sakit, Wer? Apa mereka tau lo sakit?" tanya Yoyo membuat Werkudara yang tengah fokus terbahak seketika.

"Hahahha, gue kan udah bilang, Yo. Nggak ada yang paham sama gue, maka meskipun gue sakit nggak akan ada yang tahu, dan menyadari itu!" jelas Werkudara membuat Yoyo menyernyit.

"Lo nggak bilang sama Mama lo? Atau sama Hasa?"

Werkudara terkekeh, "Nggak! Toh gue pengen ngasih kejutan buat mereka semua! Kejutan kematian gue!" kata Werkudara membuat Yoyo menatapnya heran.

"Jangan ngomong begitu! Lo nggak boleh ngomongin mati, di saat hati lo lagi nggak baik-baik aja, dengan mati nggak akan buat lo berhenti sakit, Wer. Terlebih waktu lo mau mati mendahului takdir, mungkin sakit di dunia akan hilang, tapi di akhirat justru rasa sakitnya akan bertambah berkali-kali lipat!"

Werkudara menatap Yoyo, "Lo boleh ngomong begitu, Yo. Karena apa? Karena lo belum pernah jadi gue, hidup lo terlalu mulus. Sedangkan gue? Buat napas aja rasanya gue terlalu berdosa, dan bersalah!" kata Werkudara dan berjalan pergi meninggalkan Yoyo yang termangu.

"Hidup gue mulus? Lo salah, Wer! Kita semua punya masalah masing-masing, tapi orang yang memang nggak pernah jadi kita, memang akan selalu menjudge dari sudut pandang yang menyenangkan, tanpa melihat sudut pandang sesungguhnya dari kita sendiri!" monolog Yoyo masih melihat punggung Werkudara, yang makin menjauh dari pandangan.

Andai saja Yoyo bukan sosok manusia, yang suka menyembunyikan keadaannya. Mungkin Ia akan dengan senang hati membeberkan semua masalahnya pada seluruh dunia, membiarkan dunia menatapnya sedih, membiarkan seluruh dunia mengasihaninya seperti seorang miskin, membiarkan seluruh dunia menatapnya iba. Sungguh bisa saja Yoyo melakukan itu, tapi sekali lagi Ia masih yakin bahwa Tuhan adalah pemilik solusi terbaik, masalah dalam hidupnya pasti akan berangsur selesai, tanpa harus Ia beberkan pada seluruh dunia.

***

Kamis

09.30

Hari libur.

Yoyo tengah berdiri mengantre di sebuah supermarket, dengan wajah kesal. Terlebih setelah beberapa kali antreannya di serobot orang. Ingin marah, tetapi Ia ingat kalau di sini banyak CCTV bisa-bisa Ia jadi viral.

"YOYO!" teriakan dari seseorang membuat Yoyo menoleh. Dan mendapati Arep tengah tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.

"Idih! Jangan bikin gue keserobot lagi dah," saut Yoyo agak sewot, pasalnya beberapa waktu lalu Yoyo sempat tak fokus, dan berakhir antreannya di serobot orang lain. Kesal sekali rasanya, tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin Yoyo membuat keributan, sementara si penyerobot sudah keluar dari supermarket. Yang ada Ia yang malu dan harus membayar denda akibat membuat keributan di tempat umum.

"Ye ileh! Gue di belakang lo! Nggak bakalan ada yang nyerobot!" kata Arep menepuk bahu Yoyo. Memang sedari tadi Arep berdiri mengantre di belakang Yoyo, tanpa lelaki itu sadari.

"Iye iye dah! Beli apaan lu, Rep?" tanya Yoyo masih menghadap ke depan, membuat Arep mendengus. Memangnya Arep ada di depan apa? Padahal jelas-jelas Arep di belakang Yoyo.

"Lo ngomong ama gue apa depan lo?" tanya Arep agak sewot.

"Ama lo lah!"

"Orang lu ngomong madep depan! Gue kan posisi di belakang lu! Apa mau sherlock aja, Yo?" tanya Arep meringis membuat Yoyo menoleh ke arahnya.

"Dih dih! Gue tuh takut kalo nggak fokus ke depan, ntar di serobot. Udah lama ngantre gue tuh," jelas Yoyo sewot.

TBC.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED