Bab 2

Bab 2. Permainan Dimulai

=====

“Permisi!”

Wanita itu berlalu menuju kamarnya. Kamar yang disediakan Alisya untuknya. Dia adalah keponakan mertuanya. Sudah sangat lama ikut tinggal bersama mertuanya, bahkan sebelum Alisya dinikahi Fajar tiga tahun lalu. Orang tuanya tinggal di desa. Sejak kuliah dia tidak diizinkan nge-kos seperti mahasiswi lainnya. Itu sebab, dia tinggal di rumah Alisya juga, sejak sang mertua pindah ke rumahnya.

“Sebentar!”

Alisya akhirnya bersuara.

Perempuan yang hanya berbalut selimut tipis itu menghentikan langkah. Alisya berbalik, berjalan pelan menghampiri.

“Ikut aku!” perintahnya mendahului berjalan.

“Maaf, Sya! Maksud kamu apa?” Desy menolak mengikutinya.

Desy bahkan tetap enggan memanggil Alisya dengan sebutan ‘Kak’. Padahal usia mereka terpaut empat tahun. Desy tetap memposisikan dirinya sebagai rival dalam memperebutkan cinta Fajar.

“Ikut saja!” Alisya menarik lengannya dengan kasar.

Terpaksa wanita itu mengikuti langkahnya.

Alisya membawanya ke depan kamar mertua lalu mengetuk pelan. Wajah sang mertua tampak bingung. Namun, sesaat kemudian jadi mengetat. Terlihat kemarahan di wajah yang mulai keriput itu, karena dia merasa terganggu istirahat malamnya.

“Ada apa ini? Baru saja Mama mau terlelap, sakit kepalaku kalian buat! Tidak bisakah Mama berhenti berpikir sesaat saja! Enggak puas juga kalian nambah beban pikiranku yang sudah tua ini, ha!”

“Maaf, Ma. Sebentar saja mengganggu waktu istirahat Mama.” Alisya berkata pelan.

“Kamu itu, ya! Sekali aja pulang lebih awal, sudah mengganggu ketentraman rumah ini. Biasanya tidak pernah ada masalah malam-malam kami! Ada apa?” bentak wanita itu kasar.

“Ada apa ini?” tanya Intan keluar dari kamar ibunya sambil mengucek mata. Wanita muda itu terjaga karena mendengar teriakan ibunya.

“Intan! Kamu tidur di kamar Mama?” Alisya lebih terkejut.

“Iya, kenapa? Kakak kok heran?”

“Lho, terus yang nemani Rena tidur siapa? Kukira kamu masih belajar tadi makanya tidak berada di kamar Rena.”

“Ya, Kakaklah! Kan, kakak gak lembur malam ini! Masa aku juga yang jagain anak Kakak! Kakak, dong!” sungut Intan.

Alisya sekarang semakin paham. Ternyata adik iparnya pun sama wataknya dengan sang ibu. Sekali saja dia tak kerja lembur, semua menunjukkan protesnya. Tetapi, Alisya tidak kecewa. Justru dengan ini dia bisa membuka semua topeng yang dipakai oleh anggota keluarganya. Sekarang dia sudah mengerti apa yang sudah terjadi sebenarnya. Selanjutnya, tinggal menyiapkan cara untuk menyelesaikan semuanya.

“Sya! Udah malam, biarkan semua istirahat! Desy! Kamu ke kamar kamu aja!”

Fajar yang telah berpakaian rapi datang menyusul ke depan kamar ibunya.

Desy segera mengikuti perintah itu, tetapi Alisya spontan mencengkram lengannya.

“Sebentar, saya hanya mau bilang sama Mama, kalau Desy mencintai suami saya.” Alisya berkata datar.

“Apa maksud kamu?” Mertuanya melotot.

“Tidakkah Mama lihat dia? Keponakan Mama ini sedang telanjang. Apa perlu saya tarik selimut ini?” Alisya mencengkram selimut yang melilit tubuh Desy!”

“Terus kenapa kalau Desy tidur gak pake baju? Kamu keberatan?” Bukannya terkejut, ibu mertua justru mengumpat.

“Udahlah, Sya! Hentikan!” Fajar membujuknya.

“Desy telanjang di kamar saya, Ma! Dia dan Mas Fajar tidur di ranjang saya!”

“Bukan begitu! Sya! Kamu kenapa, sih?” Fajar gelisah.

“Desy!” Sang mertua menatap tajam keponakannya. Desy menunduk ketakutan.

Plak!

“Tatap Tante! Kenapa kau lakukan hal memalukan ini? Di mana harga dirimu!” Sebuah tamparan mendarat di pipi gadis itu.

Sempat Alisya terkejut. Tak menyangka kalau ibu mertua mau membelanya.

Plak!

“Kamu juga Fajar! Apa yang ada di pikiranmu? Kenapa kalian senekat ini?”

Kali ini tamparan dihadiahkan juga di pipi Fajar.

Fajar bergeming. Alisya sedikit lega karena merasa kalau sang mertua ada di pihaknya. Harapan baru terbit di hatinya. Tetapi, itu hanya sesaat saja.

“Ya, sudah! Kembali ke kamar kalian!”

Alisya terpana.

Setelah perempuan paruh baya itu mengamuk, menampar kedua mahkluk durjana itu, tiba-tiba mengakhirinya dengan damai! Alisya tersadar. Rupanya semua ini hanyalah drama. Sandiwara sedang diperankan oleh para wayang yang selama beberapa bulan ini dia beri makan dengan tetesan keringatnya.

“Kamu tidak kerja lembur malam ini karena mau istirahatkan? Ya, sudah, kamu istirahat saja, Sya!” usul sang mertua. Drama rupanya masih berlanjut.

“Permisi, Tante. Saya balik kamar saya!”

Desy melangkah mundur. Segera Alisya menangkap lengan kurus putih mulus dan tak berbalut itu.

“Kamu boleh masuk ke kamarmu, tetapi bukan untuk tidur. Kuberi kau waktu sepuluh menit! Kemasi pakaianmu!” Pelan, namun sangat jelas terdengar, Alisya memerintahkan.

“Apa? Maksud kamu apa, Sya?”

Bukan Desy yang protes dan keberatan, tetapi sang mertua.

“Maaf, ini memang rumah Mas Fajar, tetapi sebagai istrinya, saya keberatan kalau Desy tetap tinggal di sini!”

“Kamu tidak bisa mengusir Desy seperti itu! Desy tinggal di sini karena ….“

Ucapan mertuanya menggantung.

“Karena apa? Karena dia keponakan Mama?”

“Bukan hanya karena itu, pokoknya kamu tak berhak mengusir Desy! Kembali ke kamarmu. Desy, sana!”

“Desy, waktumu tinggal sembilan menit!” Alisya mengingatkan.

“Alisya! Kamu tidak bisa mengusir Desy!”

“Mama mau melindungi pezina di rumah ini?”

“Mereka mungkin khilap! Mereka ….“

Kembali ucapan mertuanya menggantung.

“Mereka apa, Ma? Mereka tidak berzina Mama bilang, lalu mereka melakukan apa?”

“Cukup! Pokoknya kamu tak boleh mengusir Desy! Ini rumah Fajar! Bukan rumah kamu!”

“Baik, kalau Desy tidak boleh pergi, maka saya yang pergi!”

Alisya langsung bergerak menuju kamar utama.

“Tidak! Kamu juga tidak boleh pergi!”

Alisya tersenyum miring. Umpan sudah dimakan. Selanjutnya tinggal menjalankan misi.

“Kalau Mama tidak mau saya pergi, maka Desy harus keluar dari rumah ini!” ancam Alisya tegas.

“Tapi, apa yang harus kita katakan pada Om Leo dan Tante Rani, Sya? Mereka mengira anaknya baik-baik saja tinggal bersama kita. Mereka pikir Desy kuliah dengan baik di kota ini. Mama merasa enggak enak sama mereka, Sya!”

“Saya tidak peduli! Terserah Desy mau tinggal di mana, yang penting tidak lagi di sini!”

“Baik, besok pagi Mama akan nelpon Leo. Biar Desy cari kos-kosan saja! Mama akan beri alasan bahwa Fajar kena PHK dan terpaksa rumah ini mau kita jual. ”

“Bagus! Tapi saya mau Desy keluar malam ini juga! Saya tidak bisa bernapas kalau dia masih ada di sini!”

“Lalu dia tidur di mana malam ini! Tidak usah berlebihan begitu, Sya!”

“Saya tidak peduli, pokoknya saya mau dia keluar sekarang juga, malam ini juga!”

“Des! Kamu ke rumah Tante Anis, aja, ya! Bilang nginap semalam, besok pagi sari kos-kosan! Intan! Pesankan taksi online buat Desy!”

Alisya melangkah pergi. Ini baru permulaan! Mereka semua, harus dikembalikan ke jalan yang benar, dengan caraku tentu saja, begitu batin Alisya.

*

Mengguyur seluruh tubuh dengan air, Alisya tak merasa dingin sedikitpun. Desy dan suaminya yang berbuat zina, tetapi dia yang merasa tubuhnya kotor. Dia jijik dengan tubuhnya sendiri.

Entah berapa lama sudah hubungan sepasang durjana itu. Entah berapa kali sudah mereka melakukan perbuatan menjijikkan itu. Setelah menyentuh Desy, lalu Fajar menyentuh tubuhnya. Itu yang membuat Alisya merasa jijik pada tubunya sendiri. Tak bisa dia bayangkan, bekas perempuan lain, menyatu lagi dengan bagian tertentu di tubuhnya.

Alisya mual mengingat itu, dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Nasi bekal dari rumah untuk makan siangnya tadi seketika keluar berikut lendir yang membuatnya bertambah mual.

Sengaja dia membawa bekal dari rumah, agar bisa irit. Supaya bisa menyarahkan gaji lengkap dengan bonus lemburnya secara utuh kepada sang mertua. Tetapi, ini balasan yang dia terima.

Bekal yang untuk jatah makan siang, sengaja dia bagi dua. Menyisakan separuhnya untuk makan malam, biar kuat saat kerja lembur. Kadang sayur dan lauknya hampir berlendir. Alisya telan dengan menghanyutkannya pakai air minum, yang penting perut bisa terisi. Begitu pikirnya. Sedikitpun dia tak menyangka, jika di rumah suaminya justru bermain lendir dengan gadis muda berstatus mahasiswa, keponakan sang mama.

“Mulai sekarang, tubuh ini tak akan pernah tersentuh lagi! Aku pastikan, Mas Fajar akan memetik buah dari apa yang dia tanam.” Lirih Alisya berbisik, di bawah guyuran air yang semakin dingin.

*

“Sya, mau ke mana?” Fajar menatap istrinya yang mengeluarkan selimut baru dari dalam lemari, lalu beranjak pergi.

“Aku tidur di kamar Rena.”

“Kenapa tidak di sini saja?”

“Maaf, kain sepre ranjang itu penuh dengan noda lendir, aku jijik tidur di situ!”

“Ok, meskipun sebenarnya tidak ada noda, tapi aku akan menggantinya. Tunggu, ya!”

“Tidak perlu. Aku mau menemani Rena. Kasihan dia tidur sendirian.”

“Aku akan minta Intan menemaninya!”

“Tidak usah, Mas. Kamu tidur saja! Selamat malam!”

“Sebentar!”

Alisya berbalik. “Apa lagi?”

“Ketika kamu mandi tadi, mama bilang kalau dia menggunakan uang simpanannya buat membayar taksi online yang mengantar Desy pergi. Ongkos plus tip buat sang supir, karena ini malam hari, takut Desy kenapa-napa di jalan.”

Alisya tersenyum miring. Jadi, ini alasan suaminya berbaik-baik membujuknya tidur di kamar itu. Agar dia mengganti uang mertua yang sudah terpakai buat membayar taksi plus tip untuk sang supir.

“Sudah laporannya? Kalau sudah, aku mau tidur, permisi!”

“Iya, maksud Mama, kamu jangan lupa menggantinya! Kamukan, berangkat pagi-pagi sekali, sebelum semua orang bangun. Jadi letakkan saja beserta uang belanja besok, juga jatah jajan dan uang bensin Intan kuliah di atas kulkas, begitu pesan Mama. Jatah uang rokok aku juga sekalian.”

Alisya tersenyum lagi, kali ini makin miring. Sayang sekali, Fajar tak bisa menangkap maknanya.

*

Pagi itu, Alisya terbangun saat terdengar azan Subuh. Setelah menunakan kewajiban dua rekaat, dia berkemas. Mempersiapkan bekal bekerjanya hari ini, juga putrinya Rena.

Saat terdengar klakson bus jemputan di ujung gang, segera Alisya meraih putrinya ke dalam gendongan. Dia berjalan ke luar rumah dengan penuh semangat tanpa meninggalkan uang belanja, jatah uang bensin Intan kuliah, dan jatah uang rokok buat Fajar.

*****

Bersambung.

Bab 3

Bab 3 Tak Meninggalkan Uang Belanja Sepeserpun

=====

“Mama?”

Gadis kecil itu mengerjapkan mata, di dalam gendongan Alisya.

“Eh, udah bangun putri mama? Maaf, ya, mama membuat kamu terbangun!”

Agak kesulitan, wanita itu berjalan menggedong anaknya sembari menenteng tas dan kresek palstik berisi bekal.

“Tita mau te mana, Ma?”

“Kamu ikut mama kerja, Sayang, maukan?”

“Holee! Mau, Ma. Tulunin Lena, aja! Lena mau dalan aja!”

“Oh, Rena mau jalan?”

“Iyah.”

Dengan masih agak sempoyongan, anak kecil itu berjalan dengan dituntun olah ibunya menuju ujung gang, di mana bus karyawan pabrik sarung tangan telah menunggu.

“Tumben anakmu ikut?” tegur Endah, teman satu pabrik tapi beda grup.

“Iya, nih. Di rumah gak ada yang jaga.”

Alisya memangku putrinya dan meletakan semua perbekalan di lantai bus, di dekat kakinya. Saat bus berguncang melintasi jalan yang berlubang, salah satu barang bawaannya tercampak ke bawah kursi bus di bagian depan.

“Tolong, Mbak! Itu kresek berisi pakaian ganti anak saya!” pinta Alisya.

“Repot banget kamu, Sya! Kerja bawa anak! Ketahuan mandor, bisa dipecat kamu!”

Alisya terdiam. Benar sekali apa yang dikatakan oleh salah satu temannya itu. Tetapi dia tak mungkin meninggalkan Rena di rumah. Sebentar lagi perang besar akan terjadi di rumah itu. Uang belanja, jatah Intan kuliah, uang rokok Fajar, uang buat mengganti ongkos taksi Desy tadi malam, tak sepeserpun dia tinggalkan di atas kulkas, seperti permintaan mertua dan suaminya.

Sebentar lagi salah satu penghuni rumah itu akan terbangun dan keributan akan segera dimulai. Jika Rena dia tinggal, Alisya khawatir dia akan menjadi sasaran kemarahan mereka. Itu sebab wanita itu nekad membawa Alisya hari ini.

“Ini!”

Endah menyodorkan kresek hitam yang tercampak ke depan tadi.

“Makasih, Mbak!”

“Kenapa putrimu tidak dititip saja? Itu buat kebaikan kamu, lho. Peraturanya kita gak boleh bawa anak saat bekerja!”

“Iya, Mbak.”

Alisya menelan saliva dengan susah payah. Berpikir keras di mana dia bisa menitipkan putrinya? Tidak ada. Orang tuanya tinggal di kampung, pun dengan keluarga dari pihaknya. Yang di dekat sini semua keluarga dari pihak suaminya. Tak mungkin dia menitipkan putrinya di sana.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Susah payah dia mengeluarkan benda pipih itu dari saku tas kerja.

“Lena duduk bawah aja, Ma!”

Putrinya beringsut turun dari pangkuan, menyadari sang mama kesulitan.

“Gak apa-apa, Sayang! Sini Mama pangku aja!”

Teleponnya masih saja berdering. Alisya mengabaikan dulu putrinya yang kini duduk anteng di lantai bus.

Alisya tercekat saat melihat layar ponsel, mertuanya menelepon.

“Hallo, Ma!” sapanya tetap sopan.

“Kamu di mana?”

“Di bus, mau kerja.”

“Turun!”

“Lho, kok turun?”

“Turun pokoknya, Fajar akan negejar kamu ke situ, udah sampai mana?”

“Untuk apa Mas Fajar ngejar saya, Ma?”

“Kamu lupa ninggalin uang belanja hari ini, ganti uang Mama tadi malam, jatah jajan Intan kuliah, juga jatah beli rokok Fajar! Kamu lupakan, ngeletakinnnya di atas kulkas?”

“Oh, iya, saya lupa,” Alisya pura-pura kaget.

“Lupa kamu bilang?”

“Maaf, ya, Ma! Sepertinya kalian harus makan apa adanya aja hari ini, ya! Tadi saat membuat bekal kerja, saya liat masih ada telur di kulkas tiga biji. Nah, dadar itu aja, Ma! Tapi harus irit, ya. Harus cukup untuk sekalian makan malam kalian. Maaaaaaf, banget, lho, Ma!”

“Gila, kau anggap apa kami makan hanya dengan lauk seperti itu? Gembel? Iya?”

“Ya, enggak, Ma. Tapi, kalau harus begitu, mau gimana?”

“Aku akan utang aja di warung si Mumun. Nanti malam kamu singgah situ sepulang lembur, langsung bayar!”

Alisya terdiam. Mertuannya ternyata punya jalan keluar. Tapi, Alisya tak kurang akal, setelah ini, dia akan menelpon semua pemilik warung di sekitar rumahnya, berpesan agar tak ada yang memberi izin kepada mertuanya untuk mengutang.

“Eh, kok diam?”

“Gak apa-apa, Ma.”

“Trus, itu, jatah harian si Intan sama jatah rokok si Fajar, aku duluanin pake uang simpananku. Nanti sore kamu ganti. Intan tiga puluh rebu, Fajar tiga puluh rebu, ongkos taksi Desy tadi malam tiga pulu lima rebu, totalnya seratus rebu. Harusnya Sembilan puluh lima rebu, sih. Lima rebunya anggap aja bunganya. Jelas?”

Alisya bergeming. Mencoba mencerna semua kalimat itu. Sama sekali dia tak paham jalan pikiran ibu mertuanya. Untuk biaya anaknya sendiri, kenapa dia yang dibebani, coba? Kalau jatah rokok Fajar, masih masuk akal karena dia adalah istrinya, dan sang suami masih belum mendapatkan pekerjaan baru. Tapi, jatah kuliah Intan? Bukankah mertuanya masih punya uang simpanan?

Tersadar perempuan itu, kalau dirinya ternyata telah diperas sedemikian kejamnya selama ini.

“Ingat, Sya! Ini uang simpanan Mama. Harus kau ganti! Dua hari lagi ada arisan keluarga besar Mama. Besok mau belikan baju baru mau dipake di acara itu, paham!”

Telepon diputus.

Suatu tekat kini terpatri di hati Alisya. Tak ada cara lain lagi selain berpisah dari Fajar.

*

“Rena tunggu di sini, Sayang! Jangan lasak, ya! Mama kerja!” titah Alisya mengingatkan putrinya, setelah selesai menyuapi anak itu dengan nasi goreng yang dibawanya dari rumah tadi.

“Iya, Ma. Lena duduk di cini, aja,” ucap bocah dua tahun itu sambil duduk di lantai, menyandarkan tubuh mungilnya di locker sang bunda.

“Pokoknya Rena gak boleh ke mana-mana. Kalau ketahuan sama Bos Mama, kita bisa diusir, deh!” Alisya membelai kepala putrinya. Rasa pilu menyeruak di hatinya.

“Iya, talau diucin, tita ndak bica mamam yagi, ndak bica beyik dadan, ndak bica beyik boneta, tayak punya Celin.”

Alisya memeluk putrinya, erat, seketika luruh titik air bening dari kedua sudut matanya. Segera menyeka, khawatir sang putri menyadari tangisnya.

“Sya! Ayo! Mesin udah mulai dihidupkan itu, kalau telat, ntar potong gajikan, sayang!”

Rika teman SMA-nya, juga temannya satu grup mengingatkan.

“Iya.”

Alisya melepas putrinya, langsung berbalik dan meninggalkan gadis kecil itu dengan berat hati.

“Tinggal dulu, ya, anak cantik. Kalau lapar, makan jajanannya itu, ya! Jangan ke mana-mana, lho!” Rika megusap kepala Rena.

“Iya, Ante!”

Bocah kecil itu tersenyum sambil melambaikan tangan. Boneka kecil dan kumal dia dekap dengan sebelah tangannya.

Alisya mungkin sangat sedih menempatkan putrinya di dekat locker seperti itu, tetapi sungguh berkebalikan dengan perasaan sang putri. Rena sangat bahagia bisa ikut mamanya ke pabrik. Meski tak bisa bersama-sama, tetapi dia bisa dekat dengan sang bunda. Dari pada di rumah, tak diurus, tak dipedulikan, sama sekali tak pernah dianggap ada oleh nenek, tante Intan, tante Desy, dan papanya. Belum lagi siksaan fisik yang sering dia terima. Itu sebab bocah itu tiada henti tersenyum bahagia.

*

“Yang semangat kerjanya semua! Hari ini Bos besar mau turun ke lapangan. Dia mau meninjau langsung ke pabrik. Pokoknya saat dia masuk nanti, kalian tak ada yang terlihat malas, ya! Ini ada hubungannya dengan usulan perwakilan buruh kemarin tentang kenaikan gaji. Mohon kerja samanya, ya!” Sang Mandor menyemangati.

“Siaaap, Kak!” Serempak grup Alisya menjawab.

“Kamu gak lembur nanti malam?” tanya Rika setelah sang mandor berlalu.

“Enggaklah, anakku enggak mungkin kubawa lembur juga, iyakan?”

“Parah banget, sih, keluarga lakikmu, sampai-sampai kamu gak tenang ninggali dia di rumah?”

“Iya, tadi malam saat aku pulang cepat, aku dapatin Rena tidur sendirian. Anak sekecil itu, lho! Berarti memang begitu selama ini. Aku memang enggak pernah ngecek kamarnya setiap pulang lembur, karena udah kecapean. Miris liat putriku diperlakukan seperti itu.”

“Iya, anakmu itu juga tampak kurang sehat, deh. Badannya kurus banget, kulitnya kusam, dan maaf, Sya. Tadi saat aku belai kepalanya ….“

Rika menggantung ucapannya.

“Kenapa, Ka?” Alisya penasaran.

“Maaf, tapi, ya, Sya! Di kepala anakmu, banyak kutu rambut!”

“Astaga!” Alisya tersentak.

“Maaf, lho, Sya! Aku gak bermaksud menghina.”

“Enggak apa-apa, Ka. Aku memang enggak pernah sempat mengecek kepala Rena. Bahkan aku tak sadar kalau dia sering garuk-garuk kepala.”

“Kamu terlalu fokus kerja. Di hari yang seharusnya kamu istirahat pun, kamu lembur. Kapan waktu kamu memperhatikan putrimu?”

“Iya, tagihan bulanan kami banyak banget, Sya. Saat di PHK, mobil Mas Fajar ditarik perusahaan, Mas Fajar seperti orang gila meraung-raung. Mertuaku mengusulkan membeli mobil sendiri dengan cara dicicil. Aku terpaksa menyanggupinya. Aku stres dengan tagihan mobil, listrik, air, belum lagi biaya sehari-hari. Itu sebab aku harus lembur setiap ada kesempatan. Kuharap, anakku diurus dengan baik oleh nenek ataupun tantenya. Ternyata, tidak.”

“Baguslah, kalau sekarang kamu sudah sadar. Berhenti berbakti kepada keluaga enggak punya hati itu! Kau layak bahagia, Sya, juga putrimu! Tinggalkan keluarga itu!”

“Iya, Ka. Itulah tekatku sekarang.”

“Sssst! Jangan ada yang ngobrol! Bos menuju kemari! Konsentrasi semua!”

Sang Mandor mengingatkan.

Semua fokus menekuni tugas mereka, tak ada yang bersuara lagi.

“Mammmmmma …!”

Kaget, semua mata tertuju ke sumber suara. Bocah dua tahun itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Tangan mungilnya berada di dalam genggaman sang Bos Besar, pemilik perusahaan sarung tangan terkenal itu.

*****

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED