Aveline mencoba mengumpulkan dirinya, tetapi rasa dingin yang terpancar dari kamar besar itu membuatnya merasa semakin kecil. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa berat, seolah-olah menjadi beban nyata atas penderitaan yang baru saja dimulai. Ia memandang keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion, tapi keindahan itu tak sedikit pun mampu mengusir kepedihan yang dirasakannya.
Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dalam kebencian seseorang yang bahkan tidak kukenal dengan baik? pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri.
Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak. Aveline buru-buru menyeka air matanya dan mencoba berdiri tegak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.
"Nyonya, ini makan malam Anda," kata wanita itu dengan suara datar.
Aveline hanya mengangguk lemah. "Terima kasih."
Namun, pelayan itu tidak beranjak. Ia berdiri diam, memandangi Aveline dengan raut wajah penuh simpati. "Maafkan saya jika terlalu lancang, Nyonya. Tapi... jika Anda butuh sesuatu, saya ada di dapur. Nama saya Marlene."
Ada sedikit kehangatan dalam suara Marlene yang membuat Aveline merasa tidak terlalu sendiri. "Terima kasih, Marlene. Aku sangat menghargai itu," jawabnya pelan.
Setelah Marlene pergi, Aveline duduk di sofa kecil di dekat jendela dan mencoba makan, meskipun selera makannya hilang sepenuhnya. Ia tahu ia harus tetap kuat. Jika tidak, ia mungkin tidak akan bertahan di bawah kendali Gabriel.
Di sisi lain mansion, Gabriel duduk di ruang kerjanya yang megah, ditemani sebotol anggur dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya. Namun pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan. Ia terus memikirkan wajah Aveline yang basah oleh air mata di dalam mobil tadi.
"Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," gumamnya sendiri. Namun, tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya kebencian.
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Masuk," katanya singkat.
Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan sikap hormat. "Bos, semua sudah berjalan sesuai rencana. Leonard Harper mulai bertanya-tanya kenapa Anda menikahi putrinya begitu mendadak."
Gabriel menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia terus bertanya-tanya. Pada akhirnya, dia akan tahu bahwa ini semua untuk menghancurkannya."
Pria itu mengangguk sebelum bertanya ragu, "Dan Nyonya... bagaimana dengan dia, Bos? Dia terlihat sangat ketakutan."
Gabriel mendongak, tatapannya tajam. "Dia bukan urusanmu. Dia hanya alat dalam permainan ini. Tidak lebih."
"Baik, Bos." Pria itu keluar dengan cepat, meninggalkan Gabriel sendirian dengan rencana jahatnya.
Malam itu, Aveline tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di atas ranjang besar yang terasa seperti gua kosong. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Gabriel yang penuh kebencian kembali menghantuinya.
Ketika ia akhirnya bangkit untuk mencari segelas air, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melihat Gabriel berjalan menuju ruang kerja, masih mengenakan setelan jas.
Apa yang dia lakukan larut malam seperti ini? pikir Aveline. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
Ia memutuskan untuk mengikuti Gabriel dengan langkah pelan, memastikan dirinya tidak terdengar. Sesampainya di depan ruang kerja, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Gabriel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, tetapi penuh amarah.
"Dia akan membayarnya dengan nyawanya," kata Gabriel tegas. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Leonard Harper akan jatuh, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya."
Aveline menahan napas. Ia tahu ayahnya bukan pria sempurna, tetapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Leonard hingga Gabriel begitu membenci keluarganya?
"Dan gadis itu?" tanya suara di telepon.
Gabriel terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada dingin. "Dia hanya bagian dari rencana ini. Tidak lebih. Jangan terlalu memikirkannya."
Kalimat itu menghantam Aveline seperti tamparan keras. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya tanpa membuat suara.
Setelah menutup pintu, ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Aku tidak lebih dari alat untuk pria itu. Apa aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini? pikirnya dengan putus asa. Namun di sudut hatinya, muncul tekad kecil yang perlahan tumbuh.
"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya dengan suara bergetar. "Aku harus tahu kenapa dia begitu membenci ayahku."
Aveline memandang keluar jendela yang kini gelap gulita. Ia tahu jalannya tidak akan mudah, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.
Di ruang kerjanya, Gabriel duduk diam setelah menutup telepon. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. Ia tahu rencananya berjalan dengan baik, tetapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, wajah Aveline terus muncul di pikirannya.
"Dia bukan siapa-siapa," bisiknya pada diri sendiri. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Di balik semua kebenciannya, ada sesuatu dalam diri Aveline yang mulai menggoyahkan pertahanannya.
Dan itu membuat Gabriel semakin marah pada dirinya sendiri.Aveline mencoba mengumpulkan dirinya, tetapi rasa dingin yang terpancar dari kamar besar itu membuatnya merasa semakin kecil. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa berat, seolah-olah menjadi beban nyata atas penderitaan yang baru saja dimulai. Ia memandang keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion, tapi keindahan itu tak sedikit pun mampu mengusir kepedihan yang dirasakannya.
**Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dalam kebencian seseorang yang bahkan tidak kukenal dengan baik?** pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri.
Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak. Aveline buru-buru menyeka air matanya dan mencoba berdiri tegak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.
"Nyonya, ini makan malam Anda," kata wanita itu dengan suara datar.
Aveline hanya mengangguk lemah. "Terima kasih."
Namun, pelayan itu tidak beranjak. Ia berdiri diam, memandangi Aveline dengan raut wajah penuh simpati. "Maafkan saya jika terlalu lancang, Nyonya. Tapi... jika Anda butuh sesuatu, saya ada di dapur. Nama saya Marlene."
Ada sedikit kehangatan dalam suara Marlene yang membuat Aveline merasa tidak terlalu sendiri. "Terima kasih, Marlene. Aku sangat menghargai itu," jawabnya pelan.
Setelah Marlene pergi, Aveline duduk di sofa kecil di dekat jendela dan mencoba makan, meskipun selera makannya hilang sepenuhnya. Ia tahu ia harus tetap kuat. Jika tidak, ia mungkin tidak akan bertahan di bawah kendali Gabriel.
---
Di sisi lain mansion, Gabriel duduk di ruang kerjanya yang megah, ditemani sebotol anggur dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya. Namun pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan. Ia terus memikirkan wajah Aveline yang basah oleh air mata di dalam mobil tadi.
"Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," gumamnya sendiri. Namun, tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya kebencian.
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Masuk," katanya singkat.
Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan sikap hormat. "Bos, semua sudah berjalan sesuai rencana. Leonard Harper mulai bertanya-tanya kenapa Anda menikahi putrinya begitu mendadak."
Gabriel menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia terus bertanya-tanya. Pada akhirnya, dia akan tahu bahwa ini semua untuk menghancurkannya."
Pria itu mengangguk sebelum bertanya ragu, "Dan Nyonya... bagaimana dengan dia, Bos? Dia terlihat sangat ketakutan."
Gabriel mendongak, tatapannya tajam. "Dia bukan urusanmu. Dia hanya alat dalam permainan ini. Tidak lebih."
"Baik, Bos." Pria itu keluar dengan cepat, meninggalkan Gabriel sendirian dengan rencana jahatnya.
---
Malam itu, Aveline tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di atas ranjang besar yang terasa seperti gua kosong. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Gabriel yang penuh kebencian kembali menghantuinya.
Ketika ia akhirnya bangkit untuk mencari segelas air, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melihat Gabriel berjalan menuju ruang kerja, masih mengenakan setelan jas.
**Apa yang dia lakukan larut malam seperti ini?** pikir Aveline. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
Ia memutuskan untuk mengikuti Gabriel dengan langkah pelan, memastikan dirinya tidak terdengar. Sesampainya di depan ruang kerja, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Gabriel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, tetapi penuh amarah.
"Dia akan membayarnya dengan nyawanya," kata Gabriel tegas. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Leonard Harper akan jatuh, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya."
Aveline menahan napas. Ia tahu ayahnya bukan pria sempurna, tetapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Leonard hingga Gabriel begitu membenci keluarganya?
"Dan gadis itu?" tanya suara di telepon.
Gabriel terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada dingin. "Dia hanya bagian dari rencana ini. Tidak lebih. Jangan terlalu memikirkannya."
Kalimat itu menghantam Aveline seperti tamparan keras. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya tanpa membuat suara.
Setelah menutup pintu, ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. **Aku tidak lebih dari alat untuk pria itu. Apa aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini?** pikirnya dengan putus asa. Namun di sudut hatinya, muncul tekad kecil yang perlahan tumbuh.
"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya dengan suara bergetar. "Aku harus tahu kenapa dia begitu membenci ayahku."
Aveline memandang keluar jendela yang kini gelap gulita. Ia tahu jalannya tidak akan mudah, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.
Di ruang kerjanya, Gabriel duduk diam setelah menutup telepon. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. Ia tahu rencananya berjalan dengan baik, tetapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, wajah Aveline terus muncul di pikirannya.
"Dia bukan siapa-siapa," bisiknya pada diri sendiri. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Di balik semua kebenciannya, ada sesuatu dalam diri Aveline yang mulai menggoyahkan pertahanannya.
Dan itu membuat Gabriel semakin marah pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, matahari baru saja terbit, tetapi mansion Alaric sudah tampak sibuk. Para pelayan berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka, sementara suasana tetap dingin seperti penghuninya.
Aveline terbangun dengan mata sembab akibat tangisan semalam. Ia memandang cermin besar di kamar yang menunjukkan pantulan dirinya. Gadis di sana tampak asing-pucat, lemah, dan penuh ketakutan.
Namun, hari ini ia memutuskan untuk tidak membiarkan dirinya larut dalam penderitaan. Ia membersihkan wajahnya, mengganti gaunnya dengan pakaian sederhana yang ia temukan di lemari, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan.
Di ruang makan, Gabriel sudah duduk di ujung meja panjang, mengenakan setelan hitam yang rapi. Ia tampak seperti sosok sempurna seorang pria kaya dan berkuasa, tetapi dinginnya tatapan matanya segera mengingatkan Aveline pada kenyataan pahit yang harus ia jalani.
"Pagi," sapa Aveline pelan, mencoba mencairkan suasana.
Gabriel mengangkat pandangannya, menatap Aveline dengan ekspresi datar. "Kau tidak perlu berbasa-basi, Aveline. Duduk dan makan."
Aveline menghela napas, lalu duduk di kursi yang cukup jauh darinya. Sepiring roti panggang dan secangkir teh telah disiapkan untuknya.
Mereka makan dalam keheningan yang canggung. Aveline ingin sekali bertanya tentang apa yang ia dengar semalam, tetapi ia tahu Gabriel tidak akan menjawab dengan jujur.
"Aku ingin keluar," ucap Aveline tiba-tiba.
Gabriel berhenti menyantap makanannya, menatapnya tajam. "Untuk apa?"
"Aku hanya ingin berjalan-jalan. Aku tidak bisa terus-menerus terkunci di dalam rumah ini," jawab Aveline dengan hati-hati.
Gabriel tersenyum sinis. "Kau tidak terkunci. Tapi ingat ini, Aveline, dunia luar tidak aman untukmu. Banyak orang yang mungkin mengincarmu sekarang karena kau adalah istriku."
Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Sudah kubilang, jangan banyak bertanya," potong Gabriel tajam. "Kalau kau ingin keluar, kau harus pergi dengan pengawal. Tidak ada tawar-menawar."
Aveline merasa kesal dengan sikap otoriter Gabriel, tetapi ia tidak ingin memperpanjang argumen. "Baiklah. Aku akan pergi dengan pengawal."
Gabriel melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu. "Eric, kau temani dia. Pastikan dia tidak pergi ke tempat yang mencurigakan."
Eric, pria berpenampilan tegap dengan rambut hitam pendek, mengangguk hormat. "Baik, Tuan."
Beberapa jam kemudian, Aveline dan Eric berada di sebuah taman kecil di pusat kota. Aveline menghirup udara segar, mencoba menikmati kebebasan singkatnya. Namun, ia tahu Eric mengawasinya dengan ketat.
"Kau tidak perlu mengikutiku terlalu dekat," kata Aveline sambil memutar badannya ke arah Eric.
Eric tersenyum tipis. "Tugas saya menjaga Anda, Nyonya. Jika sesuatu terjadi, Tuan Gabriel tidak akan memaafkan saya."
Mendengar nama Gabriel membuat hati Aveline kembali berat. "Dia selalu seperti itu?" tanyanya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang pria yang kini menjadi suaminya.
Eric terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tuan Gabriel adalah pria yang sangat protektif... dalam caranya sendiri."
Aveline mengerutkan kening. "Protektif? Sepertinya itu bukan kata yang tepat. Dia lebih seperti tiran."
Eric tidak membalas. Ia tahu lebih baik untuk tidak terlalu banyak berbicara.
Aveline akhirnya menyerah. Ia melanjutkan berjalan sambil memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Namun, ketika ia sedang duduk di bangku taman, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar.
Seorang pria dengan jas abu-abu berdiri di seberang jalan, menatapnya dengan tatapan tajam. Aveline tidak mengenalnya, tetapi ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Eric," panggilnya dengan suara kecil.
Eric segera mendekat. "Ada apa, Nyonya?"
"Lihat pria di sana," bisik Aveline, menunjuk ke arah pria itu. "Dia terus menatapku."
Eric menoleh, dan wajahnya langsung berubah serius. "Tetap di sini," katanya sebelum berjalan ke arah pria itu.
Namun, sebelum Eric bisa mendekat, pria itu masuk ke dalam mobil hitam dan melaju pergi.
Eric kembali dengan wajah tegang. "Kita harus kembali ke mansion sekarang," katanya tegas.
"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aveline bingung.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo."
Sesampainya di mansion, Gabriel sudah menunggu mereka di ruang tamu. Tatapannya penuh kemarahan saat melihat Eric dan Aveline masuk.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara dingin.
"Seorang pria mencurigakan mengawasi Nyonya di taman," lapor Eric. "Saya tidak sempat menangkapnya. Dia kabur."
Wajah Gabriel mengeras. Ia menoleh ke arah Aveline. "Apa kau baik-baik saja?"
Aveline terkejut mendengar nada khawatir di suara Gabriel, meskipun itu hanya sesaat. "Aku baik-baik saja. Tapi siapa pria itu?"
"Itu bukan urusanmu," jawab Gabriel cepat. "Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar lagi tanpa izinku."
"Apa? Tapi-"
"Tidak ada tapi, Aveline!" potong Gabriel. "Kau istriku sekarang, dan aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jangan membuatku marah."
Aveline merasa frustrasi, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Gabriel. Ia hanya bisa kembali ke kamarnya dengan hati yang penuh pertanyaan.
Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Gabriel? Pikir Aveline sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya.
Sementara itu, Gabriel berdiri di ruang kerjanya, menatap foto keluarga Aveline yang ia letakkan di mejanya. Rahangnya mengeras.
"Leonard Harper," gumamnya dengan suara rendah. "Permainan ini belum selesai."**Bab 1 (Lanjutan): Jejak Kebencian**
Keesokan harinya, matahari baru saja terbit, tetapi mansion Alaric sudah tampak sibuk. Para pelayan berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka, sementara suasana tetap dingin seperti penghuninya.
Aveline terbangun dengan mata sembab akibat tangisan semalam. Ia memandang cermin besar di kamar yang menunjukkan pantulan dirinya. Gadis di sana tampak asing-pucat, lemah, dan penuh ketakutan.
Namun, hari ini ia memutuskan untuk tidak membiarkan dirinya larut dalam penderitaan. Ia membersihkan wajahnya, mengganti gaunnya dengan pakaian sederhana yang ia temukan di lemari, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan.
Di ruang makan, Gabriel sudah duduk di ujung meja panjang, mengenakan setelan hitam yang rapi. Ia tampak seperti sosok sempurna seorang pria kaya dan berkuasa, tetapi dinginnya tatapan matanya segera mengingatkan Aveline pada kenyataan pahit yang harus ia jalani.
"Pagi," sapa Aveline pelan, mencoba mencairkan suasana.
Gabriel mengangkat pandangannya, menatap Aveline dengan ekspresi datar. "Kau tidak perlu berbasa-basi, Aveline. Duduk dan makan."
Aveline menghela napas, lalu duduk di kursi yang cukup jauh darinya. Sepiring roti panggang dan secangkir teh telah disiapkan untuknya.
Mereka makan dalam keheningan yang canggung. Aveline ingin sekali bertanya tentang apa yang ia dengar semalam, tetapi ia tahu Gabriel tidak akan menjawab dengan jujur.
"Aku ingin keluar," ucap Aveline tiba-tiba.
Gabriel berhenti menyantap makanannya, menatapnya tajam. "Untuk apa?"
"Aku hanya ingin berjalan-jalan. Aku tidak bisa terus-menerus terkunci di dalam rumah ini," jawab Aveline dengan hati-hati.
Gabriel tersenyum sinis. "Kau tidak terkunci. Tapi ingat ini, Aveline, dunia luar tidak aman untukmu. Banyak orang yang mungkin mengincarmu sekarang karena kau adalah istriku."
Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Sudah kubilang, jangan banyak bertanya," potong Gabriel tajam. "Kalau kau ingin keluar, kau harus pergi dengan pengawal. Tidak ada tawar-menawar."
Aveline merasa kesal dengan sikap otoriter Gabriel, tetapi ia tidak ingin memperpanjang argumen. "Baiklah. Aku akan pergi dengan pengawal."
Gabriel melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu. "Eric, kau temani dia. Pastikan dia tidak pergi ke tempat yang mencurigakan."
Eric, pria berpenampilan tegap dengan rambut hitam pendek, mengangguk hormat. "Baik, Tuan."
---
Beberapa jam kemudian, Aveline dan Eric berada di sebuah taman kecil di pusat kota. Aveline menghirup udara segar, mencoba menikmati kebebasan singkatnya. Namun, ia tahu Eric mengawasinya dengan ketat.
"Kau tidak perlu mengikutiku terlalu dekat," kata Aveline sambil memutar badannya ke arah Eric.
Eric tersenyum tipis. "Tugas saya menjaga Anda, Nyonya. Jika sesuatu terjadi, Tuan Gabriel tidak akan memaafkan saya."
Mendengar nama Gabriel membuat hati Aveline kembali berat. "Dia selalu seperti itu?" tanyanya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang pria yang kini menjadi suaminya.
Eric terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tuan Gabriel adalah pria yang sangat protektif... dalam caranya sendiri."
Aveline mengerutkan kening. "Protektif? Sepertinya itu bukan kata yang tepat. Dia lebih seperti tiran."
Eric tidak membalas. Ia tahu lebih baik untuk tidak terlalu banyak berbicara.
Aveline akhirnya menyerah. Ia melanjutkan berjalan sambil memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Namun, ketika ia sedang duduk di bangku taman, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar.
Seorang pria dengan jas abu-abu berdiri di seberang jalan, menatapnya dengan tatapan tajam. Aveline tidak mengenalnya, tetapi ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Eric," panggilnya dengan suara kecil.
Eric segera mendekat. "Ada apa, Nyonya?"
"Lihat pria di sana," bisik Aveline, menunjuk ke arah pria itu. "Dia terus menatapku."
Eric menoleh, dan wajahnya langsung berubah serius. "Tetap di sini," katanya sebelum berjalan ke arah pria itu.
Namun, sebelum Eric bisa mendekat, pria itu masuk ke dalam mobil hitam dan melaju pergi.
Eric kembali dengan wajah tegang. "Kita harus kembali ke mansion sekarang," katanya tegas.
"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aveline bingung.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo."
---
Sesampainya di mansion, Gabriel sudah menunggu mereka di ruang tamu. Tatapannya penuh kemarahan saat melihat Eric dan Aveline masuk.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara dingin.
"Seorang pria mencurigakan mengawasi Nyonya di taman," lapor Eric. "Saya tidak sempat menangkapnya. Dia kabur."
Wajah Gabriel mengeras. Ia menoleh ke arah Aveline. "Apa kau baik-baik saja?"
Aveline terkejut mendengar nada khawatir di suara Gabriel, meskipun itu hanya sesaat. "Aku baik-baik saja. Tapi siapa pria itu?"
"Itu bukan urusanmu," jawab Gabriel cepat. "Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar lagi tanpa izinku."
"Apa? Tapi-"
"Tidak ada tapi, Aveline!" potong Gabriel. "Kau istriku sekarang, dan aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jangan membuatku marah."
Aveline merasa frustrasi, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Gabriel. Ia hanya bisa kembali ke kamarnya dengan hati yang penuh pertanyaan.
**Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Gabriel?** Pikir Aveline sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya.
Sementara itu, Gabriel berdiri di ruang kerjanya, menatap foto keluarga Aveline yang ia letakkan di mejanya. Rahangnya mengeras.
"Leonard Harper," gumamnya dengan suara rendah. "Permainan ini belum selesai."