Bab 2

Dalam perjalanan pulang aku mampir ke toko buah, membeli beberapa buah, yang katanya bisa meningkatkan kesuburan rahim. Seorang teman menyarankan agar aku rajin mengkonsumsi avokad dan buah naga, menurutnya seorang kerabatnya yang sudah sepuluh tahun menikah, dan belum dapat anak akhirnya hamil setelah rajin makan dua jenis buah itu.

Harapan adalah tujuan, untuk sampai pada tujuan banyak pilihan jalan yang harus ditempuh. Aku mengikuti setiap arah jalan yang disarankan, demi sampai pada tujuan. Avokad, dan buah buah naga--jalanku menuju harapan memiliki momongan. Selesai membeli buah, aku memesan taxi online untuk mengantarkan aku pulang ke rumah. Aku lirik jam yang melingkar di tangan kiri menunjukkan pukul tiga sore, masih ada waktu untuk menyiapkan menu makan malam nanti.

Taxi online meluncur dengan kecepatan sedang, untuk menghilangkan bosan aku mengambil handphone yang tersimpan di dalam tas. Ada lebih dari sepuluh kali panggilan tidak terjawab, semuanya berasal dari nomor Tesla suamiku. Ya Tuhan ... aku lupa mengabarinya, ditambah pula ponsel aku atur silent selama proses ruqyah berlangsung.

"Halo, Sayang," sapaku pada Tesla di ujung sana.

"Kamu ada di mana?" tanyanya.

"Baru selesai ruqyah, Sayang. Ini sudah jalan mau pulang," jelasku.

Sebelum panggilan berakhir, Tesla berpesan agar aku mengabarinya setelah tiba di rumah. Tesla memang begitu, dia selalu mengecek keberadaanku. Banyak teman berkata aku beruntung bersuamikan Tesla, seorang penulis, yang tidak cuma puitis dalam merangkai kalimat, tetapi juga romantis dalam bertindak. Dia tidak sungkan merangkulku di depan banyak orang, seakan dia ingin berkata dengan bangga; "Ini adalah istri saya." Dia juga kerap memberikan buket bunga, mengirimi aku sekotak coklat, atau menuliskan puisi. Lalu, dimintanya mahasiswa membacakan untukku. Tesla seperti pangeran impian, yang ada di dunia nyata, dan aku sangat beruntung menjadi permaisurinya.

Masih teringat dengan jelas, bagaimana dulu ketika pertama kali kami bertemu Tesla langsung menyatakan, bahwa dia ingin menjadi kekasihku. Aku tertawa, menertawakan kepolosannya. Tentu saja pernyataannya itu aku anggap sebuah candaan, saat itu aku berpikir dia pastilah seorang lelaki pengobral cinta. Lalu, setelah itu mengalirlah pesan-pesan romantis, yang masuk ke ponselku. Aku mulai risih karena, jujur saja aku tidak pernah diperlakukan begitu, dan aku tidak terlalu suka dengan itu. Kemudian, aku berkata padanya: "Maaf Tesla, Amy tidak mau pacaran," ucapku. Jawaban darinya, yang aku terima sungguh di luar dugaan. "Aku juga tidak ingin menjadikanmu seorang pacar, kamu tidak pantas menjadi pacarku. Bagiku, wanita sepertimu lebih pantas dijadikan istri, bukan pacar."

Aku kembali tertawa, karena menganggap kata-katanya lelucon para pengobral cinta. Kemudian, Pak Handoko--seniorku mendatangi ayah, dan berkata kalau kedatangannya diutus oleh Tesla untuk meminangku menjadi istri lelaki itu. Rumah kami menjadi gempar, ibu, abang, dan adikku tidak menyangka. Kalau seorang Amy tiba-tiba ada yang melamar. Karena, yang mereka tahu selama ini. Amy tidak pernah dekat dengan lelaki, lebih dari sekedar teman. Aku berkata pada mereka, Tesla juga hanya teman biasa bagiku. Kalau akhirnya dia menjadi teman hidupku, itu pasti takdir,i yang dituliskan Tuhan untukku.

Singkat cerita, tanggal pernikahan kami ditentukan. Aku, dan Tesla bersanding indah di pelaminan. Teman, dan sahabat bersukacita merayakan pernikahan kami. Semua tidak menyangka, seorang Amy, yang tidak pernah punya kekasih akhirnya menikah juga. Hari-hari selanjutnya menjadi hari, yang sangat membahagiakan, aku menjadi ratu Tesla. Tesla memboyong aku ke rumah orang tuanya, karena Tesla anak tunggal aku seperti menjadi anak perempuan di rumah itu. Jika banyak orang mengeluh tinggal serumah dengan mertua, tidak begitu denganku. Bagiku mama mertua adalah sahabat, kami saling berbagi apapun. Aku juga tidak merasa, diperlakukan sebagai pelayan di rumah mertua. Karena suamiku, benar-benar memperlakukan aku layaknya seorang ratu.

Tesla tidak pernah menuntut, aku harus melakukan ini dan itu. Di rumah itu ada pembantu, yang mengerjakan semuanya. Makan tinggal makan, pakaian tinggal pakai. Kemudian aku sendiri yang memilih ingin mandiri demi kenyamanan hati. Dengan alasan aku ingin melayani suamiku di rumah sendiri, maka kami pun terpisah dari orang tua, dan mertua. Setelah empat tahun usia pernikahan.

****

"Kamu dari mana?" todong mama, saat aku baru sampai di rumah.

Entah sejak kapan beliau tiba, kulihat sudah duduk di kursi teras.

"Dari ruqyah, Ma." jawabku, sambil membuka kunci pintu.

"Ruqyah rahimmu itu?" selidiknya.

Aku tersenyum kecut, mama selalu begitu sejak setahun lalu. Bicaranya tidak lagi memikirkan perasaanku.

Padahal, dulu beliau tidak begitu saat aku baru-baru menikah dengan Tesla. Setelah tahun ketiga pernikahan, dan aku belum juga hamil sejak itu mama berubah. Jujur saja alasan kepindahan kupun karena perubahan sikap mama, beliau selalu saja bertanya kapan aku hamil, dan memberinya cucu. Mama kerap menyindir dengan bercerita tentang anak teman, sahabat, dan kerabatnya, yang sudah momong anak padahal baru menikah. Mama juga rajin bertanya setiap bulan, apakah aku datang bulan atau tidak? Bila aku jawab aku sedang datang bulan, maka wajah mama langsung berubah masam.

"Datang bulan terus, apa kau tidak bosan? Kapan rumah ini akan ada tangis bayi, kalau setiap bulan kau selalu datang bulan?"

Begitu tajam kata-kata mama, seolah dia lupa soal anak itu hak prerogatif Allah. Aku dan Tesla sudah berusaha, tetapi jika Allah belum percaya, maka kami bisa apa?

Kata 'sabar' seumpama tanaman, yang terus kupupuk sejak dua tahun lalu, 'sabar' menanti hadirnya janin di rahimku. Juga 'sabar' menghadapi sikap bawel mama, yang sudah melampaui ambang batas kewajaran.

"Terus apa hasilnya? kamu kerasukan kan? Teriak-teriak kepanasan?" selidik mama.

Seakan dia membayangkan tubuhku dipenuhi oleh jin dan setan. Tidak dia pikirkan kalau perkataannya itulah, yang kemungkinan merubah sikapku menjadi sejahat setan.

"Nggak Ma, Amy baik-baik saja," ucapku tenang.

Aku mempersilahkan mama masuk, di dalam mama kembali berkata.

"Masa sih, kalau nggak ada gangguan mengapa kamu belum hamil juga?"

"Kata peruqyahnya, mungkin Allah tengah menguji kesabaran kita, Ma," jawabku.

Aku masih mencoba bersabar dengan sikap mama, agar tidak pecah perang saudara. Bukankah sikap sinis akan menyulut api permusuhan, bila tidak segera disiram dengan tetes air kesabaran?

"Ah, itu cuma teori. Mana ada Allah menguji diluar batas kesabaran hambanya, kamu tahu? Tesla itu sudah gak sabar mau momong anak, aku juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Cuma kamu saja, yang terlihat santai seperti tidak ada beban," cercanya.

Aku seketika membeku mendengar kata-kata mama, bagaimanapun aku ini manusia. Hatiku juga bisa terluka, kesabaranku juga bisa sirna kapan saja. Apa yang akan terjadi kalau aku usir wanita itu sekarang juga?

Bab 3

Aku tarik napas pelan dan aku hembuskan secara perlahan, tidak ada guna berdebat dengan mama hanya akan menimbulkan sakit di kepala. Aku berlalu menuju dapur, meninggalkan mama seolah tidak terjadi apa-apa. Aku simpan buah yang tadi aku beli lalu aku masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian, aku harus bergegas sebelum sore beranjak dan berganti malam, menu makan malam harus sudah tersaji sebelum Tesla pulang.

"Mama tidur di sini?" tanyaku pada wanita itu.

Tampak dia sedang membuat segelas kopi--minuman favoritnya, sudah biasa mama membuat sendiri minuman untuknya bila berkunjung ke rumah kami. Kata mama kopi buatanku tidak sesuai seleranya. Tidak mengapa, aku sama sekali tidak tersinggung. Malah sebaliknya, aku senang. Dengan begitu, aku tidak perlu repot bila mama datang.

"Enggak, Mama cuma singgah. Habis nganterin anak teman pindahan," jawabnya ditingkahi suara klinting sendok, yang beradu dengan gelas kopi.

Aku diam saja karena fokus mengeluarkan aneka bahan masakan dari kulkas, rencananya aku akan memasak dimsum udang--makanan kesukaan suami tersayang.

"Kalau begitu tunggu Tesla pulang saja, biar nanti diantar," ujarku.

"Kesorean, Papamu sudah di jalan kok dari kantor langsung jemput Mama kemari," jawab mama sebelum menyesap pelan kopi panasnya.

Mama menikmati kopinya di beranda belakang rumah, aneka tanaman bumbu dapur seperti: kunyit, serai, lengkuas, dan cabai. Menjadi pemandangan, yang selalu membuatnya kagum padaku. Mama pernah berkata: Andai rahimku sesubur tanaman yang kutanam, lima tahun pernikahan mungkin telah berbuah lima anak yang menggemaskan. Yah mama benar seharusnya aku sudah memiliki lima anak, andaikan anak-ana itu seperti boneka, atau tubuhnya bisa dibentuk dari adonan terigu. Namun, sepertinya mama lupa bahwa seorang anak, tidak jadi hanya dengan ritual seks saja.

Seorang anak hadir adalah atas izin dan kuasa Tuhan, Tuhanlah yang berhak menentukan. Siapa yang akan diuji dengan hadirnya seorang anak, siapa pula yang akan diuji dengan tidak hadirnya seorang anak. Ada orang yang tiba-tiba hamil hanya karena diperkosa, sementara aku yang berhasil menjaga kesucian hingga ke pelaminan, nyatanya belum juga hamil, meski setiap malam melakukan ritual seks dengan lelaki yang halal. Semua itu tentu atas kehendak-Nya, tugasku adalah berusaha dan terus berbaik sangka. Jika memang Tuhan percaya, suatu saat aku pasti hamil juga.

Setengah jam berlalu, saat aku tengah asik meracik bumbu terdengar sapaan salam di pintu. Papah mertuaku datang untuk menjemput istrinya, setelah sedikit berbasa-basi mama dan papah pun pamit pergi.

***

Pukul 21.30 WIB. Tesla belum juga tiba di rumah. Sebenarnya tadi dia sudah menghubungi aku dan mengatakan kalau masih ada, yang harus dia kerjakan di luar sana. Firasatku mengatakan Tesla kini sedang berada di rumah mamanya, biasanya memang begitu. Aku tidak mempermasalahkan, bukankah wajar seorang anak mengunjungi orang tuanya?

Mengapa aku tidak diajak?

Mungkin ada hal penting yang harus mereka bicarakan, bukan karena aku tidak boleh tahu tapi karena memang bukan hal urgen, yang aku harus segera tahu. Biasanya nanti Tesla akan bicara padaku, meminta pendapatku, baru setelah itu dibicarakan lagi bersama, untuk mempertimbangkan usul dariku. Karenanya aku tidak pernah cemburu, bila Tesla mengunjungi orang tuanya tanpa aku.

"Assalamualaikum," sapa Tesla di ambang pintu kamar.

Akhirnya, sosok yang aku pikirkan itu berdiri nyata di depan mata. Senyumnya bak tetes hujan yang membasah keringnya tanah, di musim kemarau.

"Waalaikumsalam. Sayang, kamu sudah pulang? Maaf ya, Amy gak dengar," sesalku sambil menghampiri dan menyalami tangannya.

Sejak kami pindah ke rumah sendiri, Tesla selalu membawa kunci cadangan. Alasannya sederhana tapi membuat aku berbunga-bunga.

"Aku kan sering pulang malam, kasihan kamu kalau harus bangun hanya untuk membukakan pintu," begitu alasannya.

Sementara Tesla berganti pakaian, aku ke dapur untuk memanaskan dimsum yang aku buat sore tadi. Entah apakah dia sudah makan atau belum, tugasku adalah menyiapkan.

"Sayang, aku sudah makan di rumah Mama, sini temani aku istirahat!" ajaknya. Benarkan dugaanku dia mampir ke rumah mamanya.

Aku membaringkan badan di sebelah Tesla. Kusandarkan kepala pada lengannya wangi aroma sabun yang menguar dari tubuhnya, membuat aku sedikit bergairah. Entahlah, mengapa aku selalu bergairah. Bukan karena besarnya keinginan untuk hamil saja, bagiku seks adalah kebutuhan yang selalu wajib dipenuhi Tesla untukku.

"Sayang, besok malam bisa pulang lebih awal?" tanyaku pelan.

"Hem … sepertinya bisa. Besok enggak terlalu banyak kelas," jawabnya, setelah terlebih dulu mengecup puncak kepalaku.

"Mau ke mana?" tanyanya, dengan tatapan menggoda.

"Dokter Dira, beliau minta kita datang berdua," jelasku.

dr. Dira, Sp.Og, dia adalah dokter kandungan tempat aku berkonsultasi. Selama ini memang hanya aku, yang menemui beliau. Sementara Tesla memang belum pernah diperiksa.

"Dokternya Wanita? Apa tidak masalah aku diperiksa olehnya?" tanya Tesla cemas.

Tesla memang selalu cemas bila berurusan dengan medis, dan tenaga medisnya seorang wanita. Sampai saat itu aku masih berpikir suamiku seorang, yang suci dan sangat menjaga diri dari orang, yang bukan mahramnya. Namun suatu hari nanti anggapanku akan berubah seiring kenyataan, yang nanti kutemukan didepan mata.

"Gak apa, Sayang. Hanya tanya jawab saja, tidak disentuh-sentuh kok," pujukku.

"Baiklah tapi benar ya, hanya tanya jawab," tekannya.

Aku mengangguk dan tersenyum mesra padanya, Tesla mendekatkan bibirnya ke bibirku, dan sedetik kemudian kami tenggelam dalam permainan, yang menggairahkan. Permainan, yang pasti menjadi impian oleh setiap manusia normal. Permainan, yang halal dilakukan jika terikat pernikahan. Permainan, yang haram bila dilakukan dengan orang, yang bukan pasangan sah. Akan semakin haram bila dilakukan dengan cara berganti-ganti pasangan.

Aku bersyukur, karena mengenal permainan ini setelah aku menikah dengan Tesla. Permainan ini memang sungguh nikmat wajar saja banyak,yang terjerumus melakukannya padahal belum menikah. Aku ingat, beberapa orang temanku terpaksa putus sekolah karena katanya mereka hamil diluar nikah, akibat pacaran dan mungkin tergoda mencoba permainan, yang memacu gejolak gairah.

Semasa kuliah tidak sedikit juga temanku yang terjerumus ke dalam seks bebas, I

ironisnya alasan mereka beragam. Mulai dari menyenangkan hati sang pacar, sampai dengan untuk mendapatkan uang. Apapun tujuan mereka, alasannya pasti sama. Bermula dari coba-coba, menjadi ketagihan, dan menjadi kebiasaan. Itu jugalah alasan mengapa dulu aku tidak mau pacaran, jujur saja aku takut bila harus berciuman karena menurut cerita teman-temanku yang pacaran, mereka melakukan ciuman. Aku tidak mau begitu, aku takut ketagihan, takut menjadi terbiasa, dan aku takut terjebak pada bisikan setan.

"Pacarmu akan merajuk, bila kamu tidak mau dicium. Apa bedanya teman sama pacar, kalau cuma jalan-jalan dan makan? Menjadi pacar itu dapat lebih dari apa yang didapatkan teman," papar mereka.

Ketika aku bertanya, "Apakah harus berciuman bila kita pacaran?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED