Bab 2

"Kamu yang memulai, kamu juga yang mengakhirinya. Ternyata, perasaan memang sebercanda itu."

-Sinner-

🍑🍑🍑

"Let's talk, Crystal Winter Oberoi." Kali ini suaranya terdengar begitu tajam dan dalam.

Sontak saja, Crystal menghentikan langkah kakinya, memejamkan matanya berusaha untuk tidak terlihat lemah yang akan berakhir menjadi tangisan. Dengan pergerakan lambat, ia membalikkan badannya, menatap seseorang yang telah memanggilnya, dia Austin. "Talk about what?"

"About you and me," katanya yang terus menatap Crystal dengan intens. Tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Ketika Austin selalu mendekat, mencari kesempatan untuk berbicara dengan Crystal, maka saat itu ia buru-buru pergi menjauh, sebisa mungkin menghindar dari Austin. Ia hanya tidak mau semua pondasi yang telah ditata sedemikian rupa, hancur seketika hanya karena sikap manis Austin padanya.

Crystal menggeleng lemah. "Ku pikir tidak ada yang perlu dibicarakan, Kak," jawabnya menekankan kata terakhir.

Austin bergerak maju, membuat Crystal berjalan mundur, ia menggelengkan kepalanya. "Stop, Kak!"

Setelah mengatakan itu, Crystal berbalik dan akan melangkahkan kakinya pergi, tapi gerakan cepat ketika Austin meraih pergelangan tangannya membuat rasanya Crystal ingin menangis. Ia benci ketika berada di saat seperti ini. "Ku mohon lepaskan," katanya menatap Austin dengan pandangan memohon.

Austin menggeleng, "Sangat banyak yang perlu kita bicarakan, Crys."

"Mengertilah, kau sudah dewasa. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Crystal mencoba untuk melepaskan pergelangan tangannya dari Austin, tapi gagal. Pria terlalu kuat untuk dilawan.

Tanpa banyak kata, Austin membawa Crystal menuju kamar gadis itu yang memang dekat dari tempat di mana mereka berada. Austin mengunci pintunya, lalu menatap Crystal dalam. "Aku merindukanmu," gumamnya mulai meraih tengkuk Crystal—berniat untuk mencium gadis itu.

Tapi dengan cepat Crystal menghindar, ia menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa melakukan ini, Kak."

"Why not, baby?"

"Kau sudah memiliki tunangan. Setidaknya, hargai perasaan tunanganmu itu."

"Kau cemburu?"

"Tidak, untuk apa?" balas Crystal berusaha menahan rasa nyeri di dadanya. "Please, leave me alone," lanjutnya dengan suara melemah.

Crystal membalikkan badannya dengan cepat, dan detik itu pula air matanya terjatuh. Ia menggigit bibir dalamnya, meredam tangisannya agar tidak bersuara. Ingin sekali, Crystal mengatakan dengan lantang jika ia cemburu, sangat cemburu setiap kali melihat Austin dengan tunangannya, atau pun bahkan jika pria itu hanya mengatakannya saja. Tapi semua itu tidak bisa dilakukannya, apa yang akan dikatakannya tertahan di kerongkongan.

Dengan pelan, Austin membalikkan tubuh Crystal. Ia sedikit terkejut ketika melihat mata gadis itu yang memerah dengan pipinya yang sudah basah.

Crystal memejamkan matanya. "Go away!" serunya dengan bergetar.

Austin menggeleng, ia memilih melangkahkan kakinya maju untuk mengikis jarak. "Don't cry, baby."

Baru saja Crystal akan menjatuhkan tubunya, tapi dengan sigap Austin menahan. Lalu memeluknya, mengusap surai gadis itu dengan lembut. Crystal memilih diam, tidak memberontak. "Ssst, tenanglah, baby."

"Kak ...."

"Hmmm?"

"Bisakah mulai saat ini sudahi semuanya? Tentang apa pun itu. Aku lelah, sungguh."

Kau sama saja membunuhku secara perlahan. Lanjut Crystal dalam hati.

🍑

Rasanya saat ini, Austin ingin memukul apa saja yang berada di dekatnya. Kalimat Crystal benar-benar membuatnya marah. Ia marah pada dirinya sendiri karena memainkan perasaan gadis itu. Austin sadar, keputusan yang ia ambil dua tahun yang lalu adalah kesalahan besar. Dengan membawa Lauren ke mansion, dan mengenalkannya pada keluarga. Lalu beberapa bulan kemudian, ia memutuskan untuk melamarnya.

Dan jika andaikan Crystal memintanya untuk menyudahi semuanya, Austin tidak bisa. Katakan ia egois tapi di sisi lain ia juga sangat mencintai adik kecilnya itu. Mencintainya sebagai seorang gadis. Dan Lauren, komitmen itu tidak bisa Austin hancurkan begitu saja dengan mengakhirinya. Ia yang memulai semuanya, tidak mungkin jika ia pun yang mengakhiri.

Rumit.

Austin berada di posisi yang sangat rumit dan membingungkan. Di satu sisi ada rasa cinta yang begitu besar, di sisi lain ada komitmen sebuah hubungan yang harus ia jaga.

Awalnya memang tidak pernah terlintas sedikit pun di benak Austin tentang komitmen pada seseorang. Tapi entah kenapa semua itu berubah ketika bertemu Lauren karena rasa kecewanya terhadap Crystal yang menolak untuk memulai sebuah hubungan dengannya. Austin pikir, memang tidak ada salahnya mencoba, dan mulai berkomitmen apalagi sepertinya daddy dan mommynya semakin tua dan enggan melihat Austin yang terus melajang.

Austin menghembsukan napas kasarnya, ia memejamkan mata untuk menetralkan napasnya yang tidak beraturan. Sepertinya ia butuh ketenangan saat ini.

Lauren's Apartment.

"Tumben kemari." Laura berjalan melangkahkan kakinya dengan membawa dua kaleng soda, lalu melemparkannya pada Austin yang langsung diterima dengan sigap oleh pria itu.

"Apakah tidak boleh?" tanya Austin menaikkan sebelah alisnya, tangan kanannya menarik penutup soda dan meminumnya.

Lauren ikut bergabung di sofa, duduk di samping Austin lalu mengedikkan bahunya ringan. "Hanya heran saja, biasanya kau paling malas jika ku suruh kemari," balasnya.

Austin terkekeh, menarik tubuh Lauren untuk mendekat dan meletakkan kepala wanita itu pada dada bidangnya untuk bersandar. "Aku hanya merasa jenuh di mansion."

"Kau tidak ada pekerjaan?" tanya Lauren mendongakkan kepala.

"Jika kau lupa, ini akhir pekan."

"Ah iya. Aku melupakannya," kekeh Lauren ringan dengan wajah polosnya.

"Mmm Austin, ada yang ingin ku katakan," gumam Lauren.

"Apa, babe?"

Lauren terlihat menghembuskan napasnya pelan, "Orang tuaku sudah menanyakan kapan kita akan meresmikan hubungan."

"Bukankah sudah resmi? Kita bertunangan."

Lauren bangun dari posisinya, lalu menatap Austin, menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu maksudku," katanya pelan.

"Lalu?" tanya Austin menaikkan sebelah alisnya.

"Pernikahan," jawab Lauren tanpa menatap manik mata Austin. "Orang tuaku menginginkan pernikahan kita segera dilaksanakan."

Bab 3

“Ketika permasalahan dengan orang lain, membuat seseorang dirugikan karena amarahnya.”

-Sinner-

🍑🍑🍑

Izzy berdeham kencang, saat ini ketegangan sedang terjadi di meja makan. Keluarga Oberoi sedang berkumpul, karena Izzy yang menginginkannya semua putra-putrinya datang untuk makan malam bersama. Tapi tiba-tiba yang tadinya suasana hangat menjadi tegang karena ulah satu orang, dia Austin. Bahkan para anak kecil pun merasakan ketegangan yang sedang terjadi.

Berawal dari Crystal yang meminta ijin pada Izzy mengenai niatnya untuk melanjutkan study di Paris. Dan tiba-tiba saja, Austin menyela dengan sentakan, mengeluarkan sederet kalimat menyakitkan dan menohok hati Crystal.

Sedangkan di sisi lain, Crystal terlihat menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Kedua tangannya menggenggam gagang pisau dan garpu dengan kuat. Kalimat Austin benar-benar membuat Crystal kecewa. “Kau ingin pergi dari mansion agar bisa bebas? Bersenang-senang dengan para pria, berkumpul dengan teman-temanmu yang tidak jelas tanpa sepengetahuan kami? Ingin menjadi jalang, eh?”

Jalang. Kata itu terngiang terus di otak Crystal.

“Austin cukup! Perkataanmu benar-benar keterlaluan, Mom kecewa padamu!” sentak Izzy menatap Austin dengan pandangan kecewa, bahkan pandangan wanita itu mengabur, jika Izzy mengedipkan matanya maka, air matanya pun sudah dapat dipastikan akan terjatuh detik itu juga. “Jangan pernah sekali-kali mengeluarkan kata biadab dan kotor itu lagi di depan Mom, Austin.”

“Kau yang mengatakannya pada Crystal tapi hati Mom ikut sakit mendengarnya. Kau sama saja menyebut Mommymu jalang!” lanjut Izzy lagi menyentak.

Crystal, gadis itu sudah menangis dalam diam. Tanpa banyak kata, ia berdiri dari duduknya dan memilih segera pergi dari meja makan––berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Autumn pun menggelengkan kepalanya, kecewa dengan Austin. “Aku kecewa padamu, Kak,” katanya sebelum pergi menyusul Crystal si adik kecilnya.

Di kamarnya, Crystal menelungkupkan wajahnya di balik bantal. Ia menangis dalam diam. Hatinya terlalu sakit mendengar pernyataan Austin. Seperti ada ribuan jarum yang menghantam secara bersamaan. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benak Crystal jika kata kotor itu akan keluar dari bibir kakaknya sendiri, sekaligus orang yang dicintainya.

Bayangkan saja, ketika seseorang yang sangat berarti bagimu. Mengatakan dirimu jalang. Bukankah itu tidak menyakitkan?

Sungguh, Crystal pun selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah kelahirannya di dunia adalah sebuah kesalahan? Jika ya, bolehkah Crystal berdoa pada Tuhan untuk mengambil nyawanya? Ia rasa, percuma dilahirkan jika tidak ada yang menginginkan kehadirannya.

Hingga elusan pada kepalanya membuat Crystal menarik bantalnya—menyingkirkannya, di sana salah satu kakak perempuan yang sangat dekat dengannya sedang tersenyum lembut ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Kakak,” gumam Crystal memeluk tubuh Autumn. “Apakah keberadaanku adalah kesalahan? Kenapa kak Austin selalu membenciku? Dia selalu saja mencari celah kesalahanku,” lanjutnya dengan suara bergetar.

Autumn yang mendengar itu memejamkan matanya, ia pun merasa nyeri ketika Crystal mengatakan kalimat itu. “Tidak... tidak. Kau bukan kesalahan, kau anugrah bagi keluarga kami.”

“Lalu... kenapa kak Austin berbicara seperti itu,” tanya Crystal.

“Dia sedang emosi, ada sedikit masalah dengan kak Lauren,” jelas Autumn yang memang tahu hanya dengan melihat gelagat Austin saja. Karena sejak pulang dari apartemen Lauren, kakaknya itu terlihat berbeda.

Crystal memejamkan matanya ketika mendengar nama Lauren. Ah, wanita itu. Tunangan kakaknya. Hampir saja ia melupakannya. Dalam hati Crystal tersenyum getir ketika menyadari kemarahan Austin berasal dari permasalahan dengan tunangannya sendiri dan berimbas pada dirinya.

“Kak, apa aku salah jika ingin melanjutkan studi ke Paris?” tanya Crystal. “Aku hanya ingin mandiri. Bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku untuk melakukan seperti apa yang dikatakan kak Austin.”

🍑

“Minta maaflah kepada Crystal, Kak.” Begitu Crystal tenang, Autumn segera menemui Austin ke kamarnya. Gadis itu bersedekap dada, menatap Austin tajam.

Austin hanya melirik Autumn sekilas sebelum akhirnya melanjutkan fokusnya pada sebuah benda elektronik di pangkuannya. “Pergilah, Autumn.”

“Aku tidak akan pergi sebelum kau meminta maaf pada Crystal, Kak,” balas Autumn dengan tajam. Ia menggeram ketika melihat sikap Austin yang biasa saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Aku hanya berbicara fakta. Jadi, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.”

“Ada! Kau menyebutnya jalang, Kak.” Tegas Autumn mengingatkan Austin. “Kau tahu, itu adalah kesalahan terbesarmu. Bagaimana bisa kau melampiaskan kekesalanmu pada Crystal.”

“Jika kau memiliki masalah dengan tunanganmu, selesaikanlah baik-baik. Kau begini justru membuat seseorang yang tidak tahu apa-apa terkena imbasnya,” lanjut Autumn. “Sungguh, ini pertama kalinya aku benar-benar kecewa padamu, Kak.” Tutup Autumn sebelum pergi dan itu membuat Austin fokus pada sorot mata Autumn yang memang benar-benar kecewa padanya.

Seperti sorot mata Crystal yang selalu menatapnya dengan kecewa. Bedanya, Austin melihat Crystal sebagai seorang gadis sedangkan Autumn murni sebagai sosok adiknya.

Austin meremas rambutnya dengan kasar, lalu memilih beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi ke kamar Crystal.

Austin sedikit bersyukur ketika tahu ternyata kamar Crystal tidak terkunci. Ia dapat melihat tubuh Crystal yang meringkuk membelakanginya. Dengan perlahan, Austin berjalan menghampirinya. Ternyata, Crystal sudah terlelap. Gadis itu begitu damai, Austin menyingkirkan surai-surai Crystal yang menutup wajah cantiknya. Ia sedikit terkejut ketika masih melihat bekas air mata yang sudah mengering di pipinya.

Tak bisa dipungkiri jika ternyata Crystal tertidur setelah menangis di hadapan Autumn. Meluapkan segala keluh kesahnya. “Baby,” gumam Austin mengusap-usap pelan pipi Crystal membuat gadis itu sedikit bergerak dari tidurnya dan melenguh pelan.

Austin terus mengusap-usap pipi Crystal membuat mata gadis itu perlahan terbuka. “Kenapa kau kemari?” tanya Crystal dengan ketus begitu penglihatannya menangkap sosok Austin dari jarak dekat. “Pergilah, aku ingin istirahat.”

“Tidak. Kau tidak akan istirahat,” kata Austin menggeleng tegas.

“Why? Apa kau masih kurang puas meluapkan kemarahanmu padaku?” tanya Crystal berusaha tersenyum meskipun sorot matanya tidak bisa berbohong jika menampilkan kekecewaan. Gadis itu bangun dari tidurnya, membuat mereka sekarang menjadi berhadapan.

“Katakan saja, aku akan mendengarkannya dengan baik,” lanjutnya dengan suara bergetar.

Austin menggeleng. “Ku mohon jangan katakan lagi,” kata Austin dengan mata berkaca-kaca. “Maaf, maafkan aku,” lanjutnya menarik tubuh Crystal untuk membawanya ke dalam pelukan.

Crystal diam, “Tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah. Kau benar, tidak seharusnya aku meminta ijin mom untuk melanjutkan studi ke Paris.”

Crystal menarik diri, ia terkejut ketika melihat Austin menangis. Dengan cepat, ia mengusap pipi Austin yang basah. “Kenapa kau menangis, kau tidak seharusnya menangis.”

“Karena aku kecewa pada diriku, bagaimana bisa kata itu keluar dari mulutku, sungguh aku menyesalinya, Crys.”

Crystal menggeleng. “Tidak ada yang perlu disesali. Jangan menangis, Kak. Aku sakit melihatnya,” balasnya dengan suara bergetar dan detik itu juga air matanya ikut keluar. Ia menangis.

“Ku mohon, jangan pernah menangis di hadapanku. Aku tidak bisa melihatnya,” lanjutnya menggelengkan kepalanya, menunduk. “Atau pertahananku akan runtuh,” katanya dengan melemas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED