"Tapi apa?! Bicara yang jelas!"
Tabib Cole segera membungkuk diikuti tabib muda di belakangnya. "Maafkan hamba, Yang Mulia." Sorot matanya terlihat bingung melihat lantai yang dipijaknya.
Raja Theodore menatap cemas wajah pucat istrinya yang masih belum sadarkan diri.
"Yang Mulia, maafkan hamba. Luka sayatan Ratu teramat dalam sehingga hampir memutuskan urat besar darahnya, karena itulah mengapa darahnya sulit sekali dihentikan. Hamba sudah berusaha mengobatinya dengan ramuan obat-obatan agar darahnya berhenti, tapi itu hanya bersifat sementara. Hamba ,,,,"
Raja mendekati tabib Cole, ujung pedang panjang bergagang emas miliknya mengarah pada leher tabib Cole. "Kau bisa atau tidak menyelamatkan nyawa istriku?!"
Melihat ujung pedang berada depan mata, Tabib Cole segera bersujud. "Ampun Yang Mulia! Ampun, hamba memang bodoh."
"Ayahanda," Pisceso menenangkan Raja. "Kita harus tetap tenang. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah mencari jalan ke luar."
Pedang panjang kembali masuk ke dalam sarung besi yang dihiasi ukiran warna emas. Raja menghela napas, duduk kembali di tepi ranjang tua menatap wajah istrinya semakin memucat.
"Yang mulia," tabib kembali bicara. "Hamba baru ingat sekarang. Ada seseorang yang bisa menyelamatkan nyawa Ratu. Ilmu pengobatannya melebihi ilmu hamba."
Raja kembali bangun dari duduknya. "Cepat jemput orang itu!" serunya tegas. "Pengawal!" teriak Raja memanggil salah satu prajurit yang ada di luar.
"Tapi Paduka, orang ini tidak bisa ditemui dengan mudah." Wajah tabib malah terlihat ragu.
Kali ini Pangeran Pisceso yang mulai kesal. "Brengsek!" bentaknya galak dengan suara keras. "Kau dari tadi bicara berbelit-belit!"
Tabib Cole yang sudah tua hampir saja meloncat kaget, "i-iya, akan saya jelaskan!"
Belum tabib selesai bicara, sebuah anak panah beracun melesat masuk dari luar jendela kamar yang terbuka lebar bahkan hampir saja mengenai lengan kanan Pangeran Pisceso.
Prajurit yang berdiri depan pintu segera melihat ke luar jendela. Satu buah anak panah dari arah gelapnya malam kembali melesat masuk ke dalam kamar.
Belum tersadar dari rasa terkejut, pintu kamar dibuka paksa dari luar.
TRANG!
TRING!
TRANG!
Dua orang prajurit sedang berusaha menghalau satu pria bertopeng hitam yang merangsek masuk.
"Lindungi Ratu!"
Pangeran Pisceso langsung menarik pedang dari sarungnya.
TRANG!
TRING!
TRANG!
Dentang pedang saling beradu terdengar dimana-mana. Penginapan, tiba-tiba diserang orang-orang bertopeng hitam.
"Siapa mereka?!" dalam hati Pisceso bertanya pada dirinya sendiri. "Mereka sangat tangguh dan mahir memainkan pedang. Aku harus berhati-hati."
Sepasang mata dibalik topeng perak menatap tajam pada Pangeran Pisceso yang sedang lincah mengayunkan pedangnya ke kiri dan kanan untuk menghalau dua orang bertopeng hitam depan pintu kamar di mana Ratu Eleanor sedang terluka.
SEEET!
Tiba-tiba, pria bertopeng perak melesat ke arah Pangeran Pisceso sambil mengayunkan pedang panjangnya.
TRANG!
Pangeran Pisceso secepat kilat mengayunkan pedang kesayangannya menangkis ujung pedang pria bertopeng perak tersebut sampai timbul percikan api dari dua pedang yang beradu.
"Lumayan juga," gumam pria bertopeng perak tersebut dari balik topengnya, mundur beberapa langkah.
TRANG!
Pertarungan tak bisa dielak lagi. Pria bertopeng perak tersebut terus saja memburu Pangeran Pisceso. Lincah memainkan pedang, Pangeran Pisceso menilai pria bertopeng perak yang sedang bertarung dengannya adalah pemimpinnya.
Satu per satu prajurit dari kerajaan Voresham berguguran. Suara erangan kesakitan, teriakan dan dentang pedang saling beradu serta darah yang telah mengotori lantai menjadi pemandangan mengerikan di dalam penginapan.
"Lindungi Ratu!" teriak Axel, jenderal militer tertinggi di istana. Tanggung jawabnya sangat besar dalam melindungi keluarga istana.
Pangeran Pisceso masih berusaha menumbangkan pria bertopeng perak. Pedangnya begitu lincah terayun bersama angin sampai pada kesempatan di mana ujung pedangnya berhasil menggores tangan pria bertopeng perak tersebut.
CLAANG!
Pedang pria bertopeng perak jatuh. Kesempatan tidak disia-siakan, ujung pedang Pisceso langsung diarahkan kembali pada tubuh pria bertopeng perak tersebut, tapi ...
TRANG!
Sebuah pedang panjang menangkis pedang Pangeran Pisceso sampai tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang, tapi secepat kilat juga Pangeran Pisceso kembali maju dan mengayunkan pedangnya.
"Aaakhhh," jerit kesakitan dari orang yang menolong pria bertopeng perak tersebut begitu membahana. Darah segar pun menetes seiring dengan pedang yang tercabut.
Sementara itu, Raja dibantu Jenderal Axel sedang melindungi Ratu dari serangan orang-orang yang berusaha masuk ke dalam kamar.
"Paduka yang mulia, sebaiknya bawa Ratu dari sini!" pinta Axel. Suaranya beradu dengan dentang pedang.
Apa yang dikatakan Jenderal Axel benar adanya. Tanpa berpikir panjang lagi, Raja segera membuka jubah hitamnya untuk menutupi tubuh Ratu.
Dua orang bertopeng hitam berhasil dirobohkan Axel, Raja segera menggendong Ratu dan membawanya ke luar dari kamar.
TRANG!
Ujung pedang hampir saja membuat nyawa Raja melayang andai Jenderal Axel tidak menangkisnya dari samping.
Raja menggendong Ratu erat, kedua tangannya tidak bisa mengayunkan pedang. Prajurit yang melihat Raja segera melindungi dan membuat jalan agar Raja bisa pergi ke luar.
Melihat kedua orangtuanya terancam, kesabaran Pangeran Pisceso habis. Mendapat kesempatan untuk menghabisi pria bertopeng perak tersebut yang lengah karena perhatiannya tertuju pada Raja yang ke luar dari kamar, Pisceso segera mengayunkan pedangnya pada tubuh pria bertopeng perak tersebut.
"Aaakhh!" Jerit kesakitan pria bertopeng perak mengejutkan teman-temannya. Darah segar kembali menetes membasahi lantai ketika Pangeran Pisceso menarik ujung pedangnya dari tubuh pria bertopeng perak tersebut.
Melihat lawannya tumbang. Pangeran Pisceso segera melesat membantu Ayahanda tercinta yang menggendong Ratu.
"Pangeran! Cepat bawa Raja dan Ratu ke luar dari sini!" pinta Jenderal Axel.
"Siapa sebenarnya mereka ini? Permainan pedang mereka sangat hebat, banyak prajurit kita yang roboh."
"Sepertinya mereka orang-orang bayaran!" jawab Axel.
"Orang bayaran?" tanya Pisceso. "Maksudmu, mereka dibayar untuk membunuh kita?!"
"Sepertinya begitu Pangeran! Coba perhatikan tangan mereka. Di setiap pergelangan tangan kiri mereka ada tato ular, itu melambangkan perkumpulan mereka. Hamba pernah mendengar tentang mereka yang merupakan orang-orang bayaran dengan ilmu pedang yang cukup tinggi."
Tangan kiri Pisceso terkepal, "kurang ajar! Berani sekali mengusik keluargaku! Selidiki, siapa mereka sebenarnya?!"
"Perintah dilaksanakan Pangeran, tapi saat ini yang harus kita pikirkan terlebih dahulu yaitu menyelamatkan Raja dan Ratu!"
Apa yang dikatakan Axel benar. "Di mana tabib?!" tanya Pisceso tidak melihat keberadaan tabib Cole.
Orang yang ditanyakan datang dari arah belakang dengan wajah ketakutan. "Hamba di sini!"
Jenderal Axel kembali maju menghabisi satu per satu para pria bertopeng yang terbilang cukup tangguh, pedang bajanya lincah berayun menghabisi orang yang menghadang untuk membuka jalan agar Raja, Ratu dan tabib bisa ke luar dari penginapan yang telah menjadi lautan darah.
Raja menggendong erat Ratu Eleanor yang masih pingsan. Langkahnya begitu hati-hati mengikuti Jenderal Axel dari belakang diikuti tabib dan tentunya juga Pangeran Pisceso.
TRANG!
TRING!
TRANG!
Suara dentang pedang beradu terdengar di setiap tempat. Bau anyir darah tercium dimana-mana. Penginapan yang tadi begitu rapi sekarang nampak bagai sebuah rumah jagal.
Jenderal Axel berhasil membawa Raja dan Ratu serta tabib ke luar dari penginapan dengan dibantu beberapa prajurit. Segera mencari tempat tersembunyi di balik pohon dan bebatuan.
Raja menyandarkan tubuh istrinya dengan hati-hati pada batang pohon. Wajah cantiknya terlihat sangat pucat.
Tabib langsung memegang pergelangan tangan Ratu Eleanor. "Denyut nadinya semakin melemah. Kita harus secepatnya menolong Yang Mulia Ratu Eleanor.
"Itu tugasmu!" seru Raja pada tabib Cole. "Kepalamu yang akan menjadi taruhannya jika terjadi apa-apa dengan istriku!"
Wajah pucat pasi langsung menghiasi tabib Cole. "A-ampun paduka!"
Siapa yang tidak mengenal Raja Theodore, selain bijak dalam memimpin kerajaannya, Raja Theodore juga terkenal berdarah dingin. Setiap perintah yang ke luar dari mulutnya, itu harga mutlak yang tidak bisa dibantah.
SREET
DUAAR!
Tiba-tiba, kilatan cahaya menyilaukan mata membelah langit kelam diakhiri suara petir yang menggelegar. Padahal, bulan menggantung begitu indah menghias langit.
"Astaga!"
Setiap orang melonjak kaget, tapi tidak dengan tabib Cole. Kedua bola matanya malah berbinar. "Yang mulia! Pintu telah terbuka! Pintu telah terbuka!" teriaknya kegirangan.
Raja dan Pangeran Pisceso saling berpandangan tak mengerti.
"Lihat itu! Sinarnya sudah terlihat!" teriak tabib Cole. Jari telunjuk keriputnya mengarah pada bukit yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Lama-lama Pangeran Pisceso dibuat kesal juga dengan tingkah tabib yang selalu bicara ambigu.
SREET!
Pedang panjang kesayangan Pangeran Pisceso langsung mengarah pada leher tabib. "Bicara yang jelas atau mulutmu itu akan ku bungkam selamanya!"
Kedua bola mata Tabib Cole melebar, secepat kilat langsung bersimpuh. "Ampun Pangeran! Hamba akan jelaskan!"
Pedang masuk kembali ke dalam sarungnya. Pangeran Pisceso berdiri dengan gagahnya menatap tajam Tabib Cole.
Tabib Cole kembali berdiri. "Hamba akan menjelaskan semuanya, tapi Yang Mulia, lebih baik kita pergi ke tempat cahaya itu terlebih dulu."
Semua orang melihat ke arah bukit, di mana terlihat seberkas cahaya putih di antara kegelapan.
"Percaya dengan hamba, Paduka! Ratu bisa diselamatkan, jika kita pergi ke tempat di mana cahaya itu berada."
Raja Theodore dan putranya saling melempar pandang, seakan bicara dari hati ke hati.
Tanpa membuang waktu, Raja beserta beberapa prajurit akhirnya pergi menuju bukit di mana cahaya putih itu berada demi menyelamatkan Ratu Eleanor yang masih terkulai pingsan.
"Wow! Luar biasa!" Tabib Cole menyeruak melewati Jenderal Axel yang berjalan paling depan begitu sampai dan melihat cahaya begitu terang benderang bagai sebuah bintang berada di depan mereka semua.
"Apa itu?!" tanya Raja ikut takjub melihat cahaya menyilaukan mata.
Cahaya putih seukuran tubuh manusia mengeluarkan pijaran sinar yang begitu indah berada di samping batu besar.
"Pintu sudah terbuka. Ratu Eleanor bisa selamat!" seru Tabib Cole tak berkedip melihat cahaya yang ada di depannya.
"Pintu?!" tanya Raja dan Pangeran Pisceso bersamaan.
"Iya, betul! Pintu cahaya ini menuju ke dunia lain," jawab Tabib Cole penuh antusias.
"Hah?!" Pangeran Pisceso semakin bingung.
Melihat kebingungan diraut wajah Raja dan Pangeran Pisceso, Tabib Cole pun menjelaskan proses terjadinya cahaya yang bisa membukakan pintu sehingga akan menghubungkan antara dunianya dan dunia lain.
"Ini semua, hamba ketahui dari kedua orangtua hamba sendiri. Pintu cahaya ini, keluarga hamba menyebutnya dengan pintu cahaya langit, hanya bisa terbuka ketika seluruh bayangan umbra bumi jatuh menutupi bulan, sehingga matahari, bumi dan bulan berada tepat di satu garis yang sama."
"Jadi ini berkaitan dengan ilmu alam?!" tanya Raja Theodore sambil melihat cahaya putih di depannya yang memancarkan sinar berpijar begitu indah.
"Tepat sekali Yang Mulia," jawab Tabib Cole. "Cahaya bulan akan terlihat redup jika dibandingkan dengan saat bulan penuh karena semua kekuatannya terkumpul untuk membuka pintu langit yang ada di depan kita ini."
Raja manggut-manggut tanda mengerti. "Lalu, bagaimana caranya kamu menyembuhkan istriku dengan pintu cahaya langit ini?!"
Tabib jadi bungkam seribu bahasa. Wajah yang tadi berantusias menjelaskan tentang pintu cahaya langit, sekarang berganti penuh kebingungan.
"Tabib!" seru Raja melihat tabibnya malah membisu.
"A-ampun Yang Mulia Raja," ucap Tabib Cole menunduk menatap tanah basah yang dipijaknya. "Hamba hanya tahu, cerita ini dari leluhur."
Raja menatap tajam pada Tabib Cole. "Apa maksudmu?!"
Tabib Cole semakin dalam menunduk. "Hamba, hanya tahu tentang pintu cahaya langit ini dari leluhur hamba."
Melihat Tabib Cole semakin berbelit-belit membuat Pangeran Pisceso jadi kesal. Pedang kesayangan bergagang emas miliknya kembali ditarik ke luar dari sarungnya.
SREET!
"Kau ingin mempermainkan kami semua dengan cerita bohongmu itu?!" bentak Pangeran Pisceso mengarahkan pedang pada leher Tabib.
"Tidak, sama sekali tidak!" Tabib langsung menjatuhkan tubuh ke tanah dengan bertumpu pada kedua lututnya. "Ampun, Pangeran."
Jenderal Axel dari tadi hanya diam mendengarkan, datang mendekati Pangeran Pisceso. "Hamba pernah mendengar tentang cerita ini."
Semua orang sekarang terpusat melihat Jenderal Axel.
"Ibu pernah menceritakan tentang pintu langit waktu hamba masih kecil," sambung Jenderal Axel.
Tabib Cole serasa mendapat oasis dipadang pasir, segera bangun dan berdiri di depan jenderal Cole. "Betul bukan? Saya tidak berbohong."
Jenderal Axel membetulkan. "Iya. Saya pikir Ibuku hanya bercerita ilusi saja ternyata pintu langit memang benar adanya."
"Apa yang diceritakan Ibumu?!" tanya Pangeran Pisceso.
"Dibalik pintu cahaya langit ini, ada kehidupan lain," jawab Jenderal Axel. "Leluhur Tabib Cole semuanya bisa mengobati orang, salah satu dari mereka ada yang tinggal di sana, bahkan menurut Ibuku, banyak murid dari leluhur Tabib Cole menjadi Tabib sakti di dunia sana."
Tiba-tiba, angin di sekitar menjadi kencang. Udara disekeliling menjadi dingin.
"Gawat!" seru Tabib Cole panik melihat pintu langit. "Pintu cahaya langit ini tidak lama lagi akan tertutup!"
Melihat Tabib Cole panik, Raja ikut panik. "Cepat lakukan sesuatu! Jangan sampai pintu cahaya langit ini tertutup!"
Tabib Cole mendekati Raja. "Paduka yang mulia, sebelum pintu ini tertutup sempurna. Segera utus seseorang untuk membawa tabib sakti dari dunia sana untuk mengobati Ratu."
"Apa maksudmu?!" Bentak Raja.
"Seseorang harus melewati pintu cahaya langit ,,,,"
Dengan cepat Raja memotong ucapan Tabib Cole. "Kamu yang masuk ke dalam sana dan bawa tabib sakti dari leluhurmu ke sini!"
Wajah pucat ketakutan langsung menghiasi Tabib Cole. Tenggorokannya mendadak kering. "Ha-hamba ,,,,"
"Biar saya saja yang masuk ke dalam pintu cahaya langit itu, Paduka!" Jenderal Axel langsung menawarkan diri. Tak ada gurat ketakutan sedikitpun di wajahnya. "Hamba akan membawa tabib sakti dari sana untuk menyembuhkan Ratu."
"Jangan!" Larang Pangeran Pisceso.
Semua melihat pada Pangeran Pisceso yang melangkah maju mendekati Raja.
"Biar aku saja!" ucap Pangeran Pisceso tegas. "Jenderal Axel lebih dibutuhkan di sini untuk melindungi Ayahanda dan Ibu."
"Hamba setuju!" seru Tabib Cole. "Menurut hamba, lebih baik Pangeran saja yang masuk ke dalam pintu cahaya langit! Hamba lebih percaya pada Pangeran!"
Wajah keberatan nampak jelas di raut Raja Theodore, tapi apa yang dikatakan Tabib Cole ada benarnya.