Bab 2

"Aku harus tanya Papa, kenapa tiba-tiba mereka berpisah,” gumam Clara dengan raut wajah serius. Tangannya masih sibuk dengan kemudi dan menatap jalanan yang terlihat padat karena memang masih jam kantor. Semua karyawan berebut jalan agar sampai di kantor dan tidak terlambat. Kali ini, Clara bahkan sampai memutar jalan ke kampus dan memilih mendatangi kantor papanya lebih dulu. Tidak lupa, dia juga terpaksa memindahkan jam kuliahnya agar tidak tertinggal mata kuliah.

Clara menghentikan laju kendaraan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Sejenak, dia menarik napas dalam dan membuang perlaha, berusaha mengontrol emosinya. Dia tidak bisa bersabar untuk menanyakan kebenaran mengenai hubungan kedua orang tuanya. Selama ini dia melihat keduanya tampak harmonis, membuatnya merasa terguncang ketika mendengar kabar tersebut. Ditambah sang mama yang tidak memberikan alasan sama sekali, membuat Clara semakin penasaran.

Clara kembali melajukan mobil ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Dalam pikirannya, dia hanya ingin segera sampai dan memastikan semuanya. Dia berharap jika semua yang dikatakan sang mama adalah sebuah kebohongan. Hingga dia sudah berada di halaman kantor sang papa, membuatnya memberhentikan mobil dan langsung keluar.

Clara baru akan melangkah ketika melihat sang papa yang tengah berpelukan dengan wanita lain. Refleks, kedua matanya menyipit, mencoba memastikan jika pandangannya memang benar. Hingga dia merasa memang tidak salah melihat. Pria yang berdiri tidak jauh darinya adalah sang papa. Dengan tenang, Clara melangkahkan kaki.

“Apa-apaan ini,” gumam Clara. Pandangannya masih tertuju lurus, menatap tajam ke arah Dave dan Hayu yang terlihat begitu mesra. Hingga Clara berhenti dan menatap lekat.

“Jadi, ini alasan kenapa Papa dan Mama akan berpisah?” tanya Clara dengan tangan mengepal dan rahang mengeras. Rasanya tidak terima dengan apa yang dilakukan sang papa. Mamanya begitu mencintai papanya, terus kenapa pria tersebut malah mendua?

“Clara, kamu kenapa kesini?” Dave menatap lekat, tidak menyangka jika anak tirinya berada di di kantornya.

“Memangnya kenapa kalau aku ke sini, Pa?” Clara menatap papanya dengan sebelah bibir terangkat. “Papa takut kalau aku tahu semua ini? Papa takut kalau aku tahu mengenai perselingkuhan Papa dengan wanita itu?” lanjut Clara, menatap ke arah Hayu yang masih berdiri di sebelah Dave.

Dave yang mendengar berdecak kecil da mendesah kasar. “Jangan asal bicara, Clara,” sahut Dave, tidak terima dengan apa yang baru saja Clara katakan.

“Aku tidak asal bicara, Pa. Aku melihatnya sendiri dan aku benar-benar kecewa dengan Papa,” kata Clara dan langsung membalikkan tubuh. Kakinya melangkah lebar, menuju ke arah mobilnya berada dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Rasanya benar-benar sakit ketika melihat pria yang selama ini dia kagumi menghianati sang mama.

Dave yang melihat mendesah kasar. Kakinya baru terayun dan siap menyusul Clara, tetapi terhenti ketika wanita di dekatnya meraih pergelangan tangannya dan menatap lekat.

“Dia siapa, Dave?” tanya Hayu.

“Dia anak tiriku, Hayu,” jawab Dave. “Dan sekarang aku harus menjelaskan mengenai kesalahpahaman ini dengannya.”

“Kenapa?” Hayu mengerutkan kening dalam, bingung dengan sikap Dave yang terlalu peduli dengan pandangan putri tirinya.

“Aku tidak mau dia salah paham denganku. Jadi, aku harus menjelaskan dengannya dan maaf kalau aku harus meninggalkan kamu,” jawab Dave dan langsung melepaskan genggaman di pergelangan tangannya. Hayu yang berniat melarang pun gagal karena Dave yang sudah melangkah pergi.

Dave melebarkan langkah dan mengejar Clara. Dia tidak ingin jika pandangan gadis tersebut dengannya menjadi buruk. Dia juga tidak ingin nama baiknya menjadi buruk. Bagaimanapun dia tidak berselingkuh sama sekali. Hingga dia melihat Clara hendak membuka pintu mobil, membuatnya dengan cepat berlari dan menghentikan niat gadis tersebut.

“Kamu harus dengarkan penjelasan papa, Clara. Kamu tidak bisa mengambil kesimpulan sendiri dan menganggap apa yang kamu lihat adalah benar,” ucap Dave dengan tegas.

***

Hening. Dave hanya diam, menatap ke arah Clara yang saat ini tengah duduk di sofa, bersebelahan dengannya. Terlihat air mata yang belum mengering di pipi gadis tersebut, sesekali, terdengar sesenggukan dari arah Clara.

“Sekarang Papa jelaskan denganku, kenapa Papa berpisah dengan Mama,” ucap Clara, di sela tangisnya.

“Apa wanita tadi jauh lebih segalanya dari Mama?” tanya Clara dengan tatapan lekat. Bahkan, Dave sendiri belum sempat menyahut ucapan Clara yang pertama.

Dave yang ditanya menarik napas dalam dan membuang perlahan. Dia mulai membuka mulut dan siap mengatakan sesuatu, tetapi terhenti karena ketukan pintu yang terdengar. Dia mulai mengalihkan pandangan, menunggu seseorang yang ada di luar. Hingga pintu terbuka, menghadirkan wanita muda dengan pakaian rapi dan rambut sepundak yang dibiarkan tergerai.

“Maaf, Pak. Saya membawakan minuman pesanan anda,” ucap Vika—sekretaris Dave.

“Letakan di meja,” perintah Dave yang langsung mendapat anggukan dari arah Vika.

Vika mulai melangkah, memasuki ruangan dan meletakan gelas berisi minuman yang sudah Dave pesan. Sesekali, menik matanya melirik ke arah Clara yang masih terlihat menangis, membuatnya merasa penasaran dengan apa yang terjadi sampai gadis tersebut menangis. Namun, Vika tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan atasannya, membuatnya memilih meletakan cangkir di meja dan melangkah keluar. Dia masih cukup sadar diri dengan posisinya di dalam perusahaan.

Sepeninggalan Vika, Dave kembali menatap ke arah Clara. Dengan tenang, dia meraih gelas di depannya dan mengulurkan ke arah Clara.

“Coklat hangat untuk meredam emosi kamu,” ucap Dave.

Clara yang mendengar hanya diam dan memilih meraih gelas di tangan Dave. Memang sudah kebiasaannya jiak dalam emosi memuncak, dia akan mencari coklat hangat untuk meredam. Entah sebuah kebetulan atau memang begitu fungsinya, tetapi Clara selalu merasa lebih baik setelah meminumnya.

“Sudah membaik?” tanya Dev memastikan, sebelum dia menjelaskan mengenai keputusannya untuk berpisah.

Clara yang ditanya pun hanya diam dan menganggukkan kepala, masih asyik menikmati coklat kesukaannya.

Dave yang melihat isyarat yang diberikan Clara langsung membuka ponsel, menekan salah satu foto dan meletakan di depan Clara. Clara yang saat itu tengah asyik menyeruput minuman pun langsung diam dengan kedua mata melebar. Dengan cepat, dia meletakan cangkir di meja, beralih meraih ponsel dan menatap lekat.

“Papa berpisah dengan mama kamu karena memang hubungan kita yang tidak bisa dipertahankan, Clara. Mama kamu memiliki kekasih lain di belakang papa,” ucap Dave dengan tenang, masih memperhatikan Clara yang tidak juga mengalihkan pandangan. “Mengenai wanita yang kamu lihat di luar, dia hanya sahabat papa. Dia baru datang dan pelukan yang kamu lihat hanya sebagai sambutan untuk melepas rindu. Kami tidak memiliki hubungan apa pun selain seorang sahabat. Papa tidak memiliki perasaan apapun dengannya,” tambah Dev dengan tenang.

“Selain itu, Papa juga merasa memang seharusnya sudah mengakhiri pernikahan ini,” lanjut Dev, menarik perhatian Clara.

“Kenapa?” tanya Clara, menatap lekat.

Sejenak, Dev hanya diam dan menatap Clara lekat. Ada hal yang tengah dia pertimbangkan kali ini. Namun, sesaat kemudian dia mendesah kasar dan menatap Clara dengan raut wajah berubah serius.

“Karena sepertinya papa mulai menyukai kamu,” jawab Dev, membuat Clara langsung membelalakan kedua mata lebar.

***

Bab 3

Karena sepertinya papa mulai menyukai kamu.

Dave yang kembali mengingat ucapannya langsung mendesah kasar dan menyandarkan tubuh di punggung kursi. Rasanya bingung harus bertingkah seperti apa setelah mengatakannya. Selain itu, melihat reaksi Clara yang langsung diam dan keluar dari ruangannya membuat Dave benar-benar tidak tenang sama sekali.

Apa dia marah denganku, batin Dave dengan raut wajah gusar. Berulang kali dia mengusap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan kecemasan yang sejak tadi menyelimutinya.

“Astaga, apa yang baru saja aku pikirkan? Kenapa aku malah bilang dengannya?” Dave mencoba menerka pikirannya yang jelas tidak sesuai dengan keinginannya.

Namun, tidak bisa Dave pungkiri jika kali ini dia merasa lega karena sudah mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Perasaan yang selama beberapa tahun sudah dia pendam akhirnya terucap dengan sendirinya. Ya, Dev memang menyukai Clara. Mendapat perhatian dan kasih sayang dari putri tirinya membuatnya lupa dengan statusnya kali ini. Katakanlah jika dia tidak bermoral, tetapi dia sendiri tidak bisa membendung perasaannya. Semakin dia berusaha melupakan, semakin membuncah rasa cintanya dengan gadis tersebut.

Dave yang mengingat kebodohannya mendesah kasar. Dia mulai mendongak, menatap langit ruangannya dengan pandangan kosong. Jika dulu dia masih bisa melihat dan dekat dengan Clara, kali ini Dave merasa berbeda. Dia yakin, Clara akan menjauh darinya atau malah enggan dekat dengannya. Kali ini, dia benar-benar kehilangan cintanya. Mengingatnya membuat Dave tertawa kecil.

“Kamu benar-benar bodoh, Dev,” gumam Dev, tanpa membuka mata.

“Itu benar. Memangnya kamu baru sadar?”

Dev yang mendengar suara lain di ruangannya mulai membuka mata dan menatap ke asal suara. Dia langsung berdecak kecil ketika melihat seseorang yang dikenalnya mulai melangkah mendekat. Tidak ada raut wajah semangat, terlebih ketika pria dengan pakaian rapi tersebut duduk di depannya.

“Kenapa kamu di sini, Julian?” tanya Dev dengan tatapan lekat.

Julian—sahabat Dev tersebut langsung mengulas senyum lebar dan menyilangkan sebelah kaki. “Aku dengar kalau kamu akan berpisah, Dave. Jadi, aku khusus datang ke sini untuk melihat kondisi kamu,” jawab Julian yang membuat Dave langsung berdecak kecil dan memutar bola mata pelan.

“Aku serius, Dave,” ucap Julian, memasang raut wajah serius. “Aku awalnya pikir kamu akan biasa saja, tetapi ternyata kamu benar-benar frustasi karena mau bercerai. Beruntung aku datang ke sini. jadi, aku bisa menghibur kamu,” lanjut Julian dengan penuh percaya diri.

Lagi-lagi, Dave yang mendengar berdecak kecil. Pasalnya, kedatangan Julian kali ini bukannya menghibur, tetapi malah semakin membuatnya pusing. Dia tidak bisa memikirkan langkah selanjutnya. Selama ini dia memendam cintanya. Jadi, ada perasaan tidak rela ketika dia harus melepaskan begitu saja. Ditambah dengan Clara yang langsung pergi dan tidak memberikan jawaban, membuat Dave semakin penasaran.

Sebenarnya aku ditolak apa diterima, batin Dave. Meski dia tidak memaksa, tetap saja dia butuh kejelasan agar hatinya menjadi lebih tenang.

“Dave, apa kamu begitu mencintai Dara sampai terlihat begitu frustasi?” tanya Julian, penasaran karena sahabatnya yang sejak tadi terlihat banyak pikiran. Selain itu, Dave sudah lama mengetahui mengenai Dara yang berselingkuh. Jadi, seharusnya Dave tidak perlu begitu terkejut seperti kali ini, kan?

Lalu, kenapa dia seperti tertekan, batin Julian, semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran Dave.

“Aku tidak frustasi karena itu, Julian,” jawab Dave, masih asyik dengan pikirannya sendiri.

“Terus, kalau bukan karena perceraian kamu, karena apa?” tanya Julian, semakin menatap penuh curiga.

“Karena aku baru saja mengatakan isi hatiku dengan Clara,” jawab Dave tanpa sadar.

“Apa?” pekik Julian dengan kedua mata melebar.

Seketika, Dave yang sejak tadi sibuk dengan lamunannya langsung tersadar dan menatap ke arah Julian. Keduanya matanya mulai melebar dan menelan saliva pelan ketika melihat sahabatnya sudah menatap penuh selidik.

“Katakan denganku, Dave. Apa yang kamu maksud dengan mengatakan isi hati? Kamu mencintai Clara?” Julian langsung memberondong dengan pertanyaan dan menatap lekat. Kali ini, dia harus menuntaskan semua rasa penasarannya.

Sedangkan Dave yang ditanya langsung mendesah kasar. Astaga, aku yakin ini akan lama, batin Dev dengan raut wajah frustasi.

***

Karena sepertinya papa mulai menyukai kamu.

Clara yang mengingat kalimat tersebut berulang kali langsung mendesah kasar. Sejak tadi dia berusaha melupakan, tapi berulang kali juga kalimat yang sama terus berulang, berdengung dan benar-benar sulit untuk dilupakan. Bahkan, selama mengikuti materi, pikirannya tidak bisa fokus dengan apa yang dosen terangkan.

Sejenak, Clara menarik napas dalam dan membuang perlahan, berusaha mengatur kembali degup jantungnya yang tidak karuan. Selama ini dia tidak pernah menyangka jika papanya akan memiliki perasaan lebih dengannya. Clara menganggapnya sebagai Papa, meski sempat terlintas dalam pikirannya jika dia begitu mengagumi sang papa tiri. Namun, mengingat statusnya, Clara langsung mengabaikan. Sayangnya, saat mendengar ungkapan tersebut secara langsung Clara kembali merasakan detak tidak karuan.

Astaga, aku tidak mencintai papa, kan, batin Clara dengan tangan mengepal, merasa benar-benar tidak karuan sama sekali. Berulang kali dia mencoba menenangkan hatinya, tetapi tetap saja hal tersebut tidak berhasil. Hingga suara pergeseran bangku di depannya terdengar, membuat pikirannya teralihkan.

“Kamu kenapa, Clara?” tanya Diandra—sahabat Clara.

Clara yang ditanya langsung mendesah kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. Namun, mulutnya masih saja bungkam, bingung harus mengatakannya dengan Diandra atau tidak. Pasalnya, dia merasa malu sekaligus takut kalau sahabatnya akan mengatakan dengan sang mama mengenai masalahnya kali ini.

“Cla, kenapa hanya diam?” tegur Diandra karena tidak juga mendapat jawaban dari Clara.

Clara tersentak kaget, membuat lamunannya buyar. Manik matanya masih memperhatikan sahabatnya, seakan menimang apa yang akan dia lakukan. Hingga lagi-lagi Clara mendesah kasar, mencoba meringankan beban yang sejak tadi bersarang di dadanya. Dia mulai mencondongkan tubuh, mendekat ke arah Diandra dan memberikan isyarat agar sahabatnya tersebut mendekat.

Diandra yang mengerti pun langsung menuruti. Dia mencondongkan tubuh, mendekat ke arah Clara dan menatap lekat, menunggu apa yang akan dikatakan sahabatnya. Sedangkan Clara, dia sedang sibuk mengamati sekitar, seakan apa yang akan dikatakan adalah rahasia negara dan jika ada yang tahu akan menimbulkan masalah besar. Hingga dia yang merasa aman mendekat dan menatap lekat.

“Aku mau mengatakan sebuah rahasia, Dian. Tapi aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini,” ucap Clara setengah berbisik, agar tidak terdengar siapa pun.

Diandra yang mendengar hal tersebut langsung menganggukkan kepala tanpa berpikir lebih dulu.

“Sebenarnya tadi aku baru dari perusahaan Papa untuk menanyakan mengenai alasan dia dan mama bercerai. Tapi ternyata di sana papa malah …,” Clara menjeda ucapannya sejenak dan menata kearah Diandra lekat. “mengatakan kalau dia mencintaiku,” lanjut Clara dan langsung memejamkan mata.

“Apa?!” pekik Diandra dengan kedua mata yang langsung melebar.

Sedangkan Clara hanya diam dengan mulut tertutup rapat. Astaga, seharusnya aku memang tidak cerita dengannya, batin Clara, merutuki kebodohannya.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED