Bab 2

Layar monitor dengan lebar 17 inci yang menyala dipenuhi tulisan koding. Tulisan hijau itu terlihat sangat kentara diantara empat pasang mata yang sedang sangat fokus menatapnya. Terlihat dua perempuan dengan usia dua puluh delapan tahun dan yang satu lagi tiga puluh lima tahun. Perempuan tiga puluh lima tahun yang sepertinya adalah senior sedang berdiri dibelakang rekannya yang lebih mudah. Sedangkan sang rekan tanpa meninggalkan fokus, matanya menatap tulisan dilayar monitor tetapi tangannya cekatan mengklik tetikus yang dipegang disebelah kanan. Sedangkan disampingnya layar monitor sebesar 88 inci terpampang menampilkan gambar yang sama. Keduanya saling mengamati. Kadang-kadang sang senior berusaha mencocokan tulisan yang dipegangnya dengan gambar yang tertera pada layer monitor lebar itu.

“bagaimana?” ucap yang sang wanita umur tiga puluh lima.

“dari identitasnya sepertinya dia sangat cocok bu” ucap perempuan umur dua puluh delapan.

“Namanya Banyu, dia berumur dua puluh dua, telah lulus kuliah dan sekarang menganggur. Dari hasil pengamatan selama enam bulan terakhir dia berkepribadian introvert, lebih suka menyendiri. Hidupnya mengalir tanpa tujuan. pernah melamar sebanyak 56 kali diperusahaan dan semuanya gagal. Hidupnya tanpa ambisi sepertinya dia cocok untuk jadi avatar kita selanjutnya bu” tambahnya lagi.

Tangannya yang memegang tetikus kini telah selesai dan menekan tombol enter. Tulisan dilayar hijau itu kembali bergerak otomatis mengakses semua data-data dan angka kemudia muncullah sebuah foto lelaki muda dengan wajah tirus dan rambut ikal, warna kulitnya sawo matang, khas sepeti orang Indonesia.

“sialan penampilannya busuk sekali” gerutu sang perempuan muda.

“hehehehhe, sepertinya alergimu kumat lagi san” ucap seniornya sambil terkekeh.

“apakah kita ganti saja bu?” ucap Susan menimpali.

“kau gila ya, bukankah kita sudah mengamatinya, harusnya kamu juga tahu bahwa kondisinya seperti itu” ucap senior.

“aku kira tidak seperti ini bu, kurang jelas jika dilihat dari kamera” ucap Susan.

“mungkin mines mu bertambah, kamu harus periksa matamu lagi kedokter san” ucap sang senior.

Susan melepas kacamatanya lalu membersikan dengan kain putih yang dia ambil dari tepak optiknya. Mengabaikan apa yang dikatakan seniornyaitu Susan sedikit merasa tersinggung. “apa iya, min ku bertambah?” gerutunya dalam hati. Sang senior telah terlebih dahulu meninggalkan ruangan. Susan tilik jam dipergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 12:12 sudah kelewat dua belas menit waktunya makan siang. Ia putuskan untuk ikut meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan layer monitor yang masih menyala menampilkan gambar laki-laki yang kusut tidak karuan.

Awan dilangit masih menyimpanmendung yang agak gelap. Sepertinya hujan akan turun tidak berapa lma lagi. Susan dengan santai melipir pada tukang mie ayam seberang jalan yang sudah biasa dia kenal sebagai langganannya.mang Idham Namanya. Pria berusia lima puluh tahunan yang sudah berjualan mie ayam kurang lebih dua puluh lima tahunan, saat beliau masih belum memiliki istri yang sekarang sudah punya dua anak gadis yang masih sekolah SMA dan SMP. kursi kayu warna-warni yang disediakan pak Idham sudah ada dua pelanggan yang sedang makan. Sepertinya mereka karyawan dari kantor lain. Kantor multi nasional yang haga sahamnya sedang diburu oleh para investor karena estimasi kuentungannya sangat menggiurkan. Heuh… orang-orang sepertinya sudah tidak waras, demi uang mereka sampai seperti orang kesetanan. Uang adalah jurang paling berbahaya bagi umat manusia. Sejak adanya uang sifat serakah manusia berada pada puncak kurva paling tinggi dari sebelum-sebelumnya. Ada dua hal yang membuat manusia melakukan demikian. Satu adalah kekuasaan dan yang kedua adalah uang. Dengan kekuasaan mereka bisa seenaknya berbuat apapun bahkan nyawa manusia bisa dianggap sebagai pion yang tidak terlalu penting dalam papan catur. Sedangkan uang membuat siapa saja bisa berlutut menyembahkan. Bagi mereka yang tergelincir uang adalah narkoba. Dengan banyak uang ia merasa kebahagian dan ketenangan ia dapatkan, tetapi sebenarnya itu adalah awal kehancuran bagi dirinya sendiri. Walaupun aku sendiri juga sadar bahwa dalam hidup manusia sangat butuh pencapaian dan pengakuan dari orang lain, serta bagaimanapun juga manusia tidak bisa lepas dari kedua hal tersebut. Lalu bagaimana? Adakah jawaban untus permasalahan ini? Aku rasa setiap manusia punya anggapan sendiri mengenai hal tersebut. Dan tidak ada jawaban benar atau salah dari setiap pendapat atau pikiran seseorang karena tanpa kecuali mereka melakukan hal demikian. Seseorang pernah bilang kamu tidak akan pernah paham dengan apa yang aku alami. Aku mencari uang mati-matian sampai sikut sana, sikut sini adalah demi kebahagiaan keluargaku, aku juga sebenarnya tidak mau berbuat jahat, tetapi keadaanlah yang memaksaku demikian. Lantas apakah itu salah? Bagiku tidak juga, tetapi hanya saja aku heran apakah sang orang tua tega melihat anaknya menyakiti manusia lain hanya demi kebahagiaannya semata? Tetapi begitulah faktanya, terutama dinegara kami. Negara berkembang, sebenarnya kata berkembang juga hanya Bahasa halus karena jika dikatakan negara terbelakang rasanya seperti menghina. Hahahaha lucu sekali bukan?

“Pak biasa ya?” ucapku lalu duduk disalah satu kursi yang kosong.

“okey mbak, pake baso, mienya sedikir banyakin sawinya, sama tidak pakai msg kan?” Ucap pak Idham. Aku hanya mengangguk tanda setuju sambil memberekna rambutku dengan ikar rambut.

“padahal masakan lebih terasa lezat loh mbak kalo pake msg” ucap pak idahm dengan kesibukannya membuka panic dengan air mendidih lalu memasukan potongan sawi.

“kata orang-orang kalo keseringan msg bisa buat otak jadi bodoh pak hehehehe” ucapku sambal terkekeh

“oalah, baru tau aku hehehehe, kirain yang bikin bodoh itu hanya malas belajar ternyata msg juga toh hehehe” sahut pak idhma menimpali.

“harusnya sih emang gitu ya pak hehehehe” balasku sambil mengangguk setuju.

Selang beberapa menit.

“silahkan mbak” sambil hati-hati menaruh mangkuk mie dimejaku.

“ngomong-ngomong si-ibu kemana mbak?” tanyanya.

“tadi udah keluar duluan, kirain kesini pak, mungkin keruangan lain, masih ada beberapa hal yang perlu diurus kayaknya” ucapku santai sambil mengambil sumpit yang terletak diantara botol kecap dan saus.

“oalah, sepertinya lagi sangat sibuk ya mbak” sahut pakIdham lagi.

“kalo bapak ngajak ngobrol terus, saya kapan makannya nih pak” ucapku mendengus pelan.

“eh, maaf mbak, maaf. Silahkan dimakan mienya hehehe”

“nggak kok pak saya becanda doang hehehe”

Begitulah hubunganku dengan pak Idham. Agak sedikit aneh tapi begitulah faktanya. Bagiku obrolan dengan pak Idham adalah iburan tersendiri bagiku saat keadaan kerjaan sedang rumit. Dengan kalimat-kalimat polosnya yang terdengar seperti sarkas tetapi emang begitulah kepolosaanya bekerja.

Mie ayam telah tandas dari mangkuk masuk keperutku. sayangnya hujan telah lebih duluan turun sebelum aku membayar makananku. sepertinya mendung sudah tidak tahan lagi menahan bebannnya. Hujan yang cukup deras dengan cepat membasahi jalanan yang diaspal tipis itu, membuatnya cepat membentuk genangan, sepertinya aspal itu tidakrata karena sering ada mobil lewat yang membuat permukaan tanahnya cepat bergeser. Alhasil aku terjebak disini dengan pak Idham. hanya berdua saja.

“kalau didrama-drama korea harusnya kita romantis ya mbak hehehe” celetuk pak Idham saat aku hanya diam bengong menatap tetesan hujan yang tak kunjung redah.

“hah, gimana, gimana pak?” tanyaku kaget memasikan tidak salah dengar.

“iya yang seperti diserial-serial itu loh?” pak Idham memperjelas.

“bapak nonton juga pak, drama-drama korea?” tanyaku yang sekarang menyelidik lebih penasaran. Gila aja nih orang tua. Gumamku dalam hati.

“nggak kok mbak, hanya saja anakku yang paling gede, dia sampai lupa makan, lupa pekerjaan, lupa segalanya karena itu mbak”

“emang pak, film-film kora sekarang sedang naik daun” ucapku setuju.

“terlebih lagi mereka ganteng-ganteng loh pak, uunchh… gemesss deh, hehehe” tambahku sambal membayangkan wajah seong-jong-ki yang bertelanjang dada, dengan dada bidang dan perut seperti roti sobek.

“harusnya tiba-tiba datang cowo keren dan memberikan payung” gerutuku lagi.

“tapi sayangnya saya nggak punya payung mbak” sahut pak Idham.

“heh, siapa juga yang ngarepin bapak” ucapku mengelak.

“saya juga nggak mau mbak udah punya istri hehehehe”

Akhirnya tawa kami berdua pecah. Seperti mendung hari ini yang pecah oleh bebannya. Dengan obrolan absurd yang entah kenapa bisa tercipta. Dasar pak Idham.

“eh ngomong-ngomong cantikan mana pak aku, sama istri bapak?” tanyaku menggoda.

“kalo cantik, jelas cantik mbak, tapi saya cintanya sama dia hehehehe”

Kembali lagi tawa kami berdua pecah diantara deras hujan yang suaranya benar-benar mengganggu telinga. Untung saja hujan kali ini tidak ada petir. Hanya ada air. Iya air…..

Eh, tunggu bukankah nama agen yang diamati Namanya Banyu? Apakah ini?....

sebuah tanda.......

Bab 3

Ah, sialan sudah pagi lagi rupanya. Sepertinya waktu sekarang begitu terasa cepat berputar. Mau melakukan apa aku hari ini?. Beginilah nasib pengangguran, serba bingung. Sekitar dua bulan yang lalu aku lulus kuliah. Telat satu setengah tahun dari orang-orang kebanyakan. Sekarang aku hanya jadi beban untuk orang tuaku saja. Setidaknya ini adalah sepuluh bulan terakhir sebelum tamat sudah aku Kembali kekampung halaman jika tidak kunjung juga dapat pekerjaan. Oh, tidak. Tidak bisa kubanyangkan jika aku harus jadi petani. Aku bilang begitu bukan karena aku meremehkan atau merendahkan petani, karena aku juga seorang anak petani yang dibesarkan dan disekolahkan lewat jeri payah keringat hasil sawah bapak. Tapi perlu kalian tahu, pekerjaan petani sangatlah berat. Semuanya harus dikerjaan manual. Misal musim tandur, aku pernah ikut tandur sampai setengah hari. Bayangkan kau harus jongkok berjam-jam dan berjalan pelan kebelakang. Alhasil ketika sampai rumah pinggangku kaku semua. Aku juga kadang heran kepada bapak sama petani-petani lainnya yang sanggup melakukan hal-hal demikian dan masih bisa tersenyum. Apakah aku saja yang kurang bersyukur? Mungkin iya. Buktinya sekarang aku hanya bisa meracau dan mengeluh. Setiap lamaran yang aku tunda keperusahaan semuanya gagal walaupun belum sepenuhnya semua sih, masih ada beberapa lagi yang belum ada jawaban. Tapi ya sudahlah, apalah dayaku yang hanya bisa menunggu. Setidaknya jika memang begini akhirnya aku ingin menghabiskan sepuluh bulanku dengan kebahagiaanku dikosan sebagai pengangguran. Hehehehe.

Aku bangkit dari Kasur busa, aku masuk kekamar mandi dan menggosok gigi, cuci muka lalu menyalakan layar laptop untuk mengecek surel, siapa tahu ada email masuk dari salah satu perusahaan yang aku lamar. Memang begitu keseharianku sangat monoton sekali. Rutinitas yang bisa diblang sangat membosankan. bunyi mesin laptop berdesing, walaupun terbilang sudah sangat jadul dan ketinggalan zaman laptop ini sangat membantu dalam kegiatanku. Aku masuk pada kontak surelku, aku masukan password dan…… masih tidak ada balasan surel masuk. Karena penasaran aku coba refresh sampai lima kali dan hasilnya masih tetap sama. Tidak ada apapun dalam surelku. Heuh, mungkin besok. Hiburku dalam hati.

Akhrinya aku putuskan untuk keluar cari sarapan. setidaknya walaupun pengangguran juga harus tetap makan kan?

Udara pagi ini sangat segar dengan siraman cahaya Mentari yang mentereng cerah. Setidaknya ini sangat berbeda dari yang kemarin-kemarin. Karena lima hari terakhir hujan mengguyur tiada henti. Membuat semua aktifitas agak sedikit terhambat. Terkadang aku suka lucu melihat para pengendara motor yang memakai jas hujan dan helm, itu terlihat seperti orang-orangan sawah yang sering aku temui dikampungku. Menggelembung dan unik. Ketika hendak aku membuka pintu untuk keluar, dibawah kolong pintu ada sebuah amplop coklat. Aku ambil lalu aku baca. Tertulis untuk Banyu, tulisan yang ditulis menggunakan spidol hitam. Dengan penasaran akhirnya aku buka isi didalam amplop itu. Terdapat selembar surat dengan kertas warna putih. Aku masih berharap bahwa itu adalah surat dari salah satu perusahaan, yaitu surat panggilan untuk interview atau semacamnya.

Untuk: Banyu

Dari: kami

Selamat kamu adalah orang yang terpilih, setelah pengamatan selama enam bulan dari tim kami, kamu akan jadi avatar kami selanjutnya. Aku tahu asti ini membingungkan bagimu, tetapi simpan saja bimbangmu karena segala pertanyaan akan dijelaskan saat kau telah dating dikantor kami. Datanglah pada alamat jl. Lembayungkuning no 17 sebelah kantor MNG group.

Selamat pagi, maaf mengganggu waktumu.

Tulisan itu amat singkat dan absurd. Seketika kebingungan membanjiri kepalaku. Aku lipat lagi kertas itu dan aku putuskan untuk mencari sarapan dahulu. Disepanjang jalan akuterus kepikiran isi dari kalimat surat itu. Ini sangat mengganggu. Akhirnya aku putuskan untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku akan mendatangi alamat itu. Jika surat itu berbohong setidaknya aku bisa berfikir bahwa itu adalah tulisan orang iseng dan segera aku bisa melupakannya. Karena aku sendiri tidak yakin pernah meletakan surat lamaran pada perusahaan tersebut.

Siangnya sekitar pukul 13:00 setelah waktu sholat dhzuhur aku memutuskan untuk menuju alamat yang tertera pada surat itu. Aku naik angkot dengan kurang lebih setengah jam. Aku sampai pada jalan raya utama dan turun sebalah kiri. Terlihat ada tulisan Jl lembayungkuning no 17 dan sebelahnya kantor multinasional MNG group. Aku masuk kedalam jalan tersebut. Jalan yang luasnya kira-kira dua meter itu dipenuhi perumahan elite dengan bangunan-bangunan mewah. Sepertinya ini adalah tempat orang-orang kaya. Aku baru tersadar, harus kemanakah Langkah kaki ini. Aku sampai lupa bahwa tidak ada alamat khusus yang ditujuhkan. Ah, sepertinya aku dikerjain. Sudah sekitar setengah jam aku muter-muter komplek perumahan ini, tidak ada satu orang pun yang aku temui. Jalanan aspal ini sangat sepi. Lima menit yang lalu ada penjual mie ayam yang sepertinya tahu kalau aku sedang kebingungan. Ia menegurku.

“mas, cari siapa yah?” tanyannya sangat sopan

Mendengar ucapannya itu membuatku jadi kikuk sekaligus bingung.

“hmm, aku juga tidak tahu pak. Tadi pagi aku dapat surat dan disuruh ke sini” ucapku sambal memperlihatkan surat yang aku dapat tadi pagi.

“kok, Cuma nama jalannnya doang mas, nggak ada alamat spesifiknya?” ucapnya keheranan

“iya pak, aku juga bingung, kayaknya aku dikerjain nih sama orang yang ngirim surat ini” sambal menggaruk-ngruk kepalaku yang tidak gatal

“kalau begitu mah susah mas” jawab si bapak “ada nomor telepon yang bisa dihubungi nggak mas?” sambungnya

“nggak ada pak, saya juga heran. Apa sebaiknya saya pulang lagi aja ya pak?” ucapku.

“iya mas, sebaiknya ih begitu” jawab bapak penjual mie ayam setuju.

“yaudah, terimakasih ya pak” ucapku sambal menganggukan kepalaku.

“iya mas, sama-sama” jawabnya yang juga ikut menganggukan kepalanya.

Seperinya memang benar, aku dikerjain seseorang nih. Ah, sialan. Setelah bergelutsetengah jam akhirnya aku putuskan untuk Kembali. Kembali lagi pada awal jalan ini. aku duduk dibatu bulat yang terbuatdari semen yang terletak dipinggir jalan. Sambal munggu angkot , aku buka tas gendongku, aku ambil sebuah roti dan air mineral yang sempat aku beli sebelum menuju kesini. Setidaknya untuk ganjal perut ini cukup.

“gimana? Capek?” suara perempuan terdengar dari belakang. Sontak itu membuatku kaget dan tersedak oleh air yang aku minum.

“siapa kamu?” tanyaku bingung.

“sudah…. Habiskan dulu makananmu” ucap sang perempuan itu. Tanpa sadar aku menurut dengan napas yang dia ucapkan. Atau mungkin aku memang sangat lapar dan capek, jadi tanpa sadar melanjutkan sisa rotiku.

“perkenalkan namaku Susan. Aku adalah orang yang telah mengawasimu, dan yang telah mengirimi surat pagi tadi.” Ucapnya santai tanpa beban. Sedangkan aku masih focus dengan roti ditanganku lalu Kembali menyumpalkannya kemulutku. Hanya anggukan tanda mengerti untuk membalas ceritanya.

“ternyata benar yah…. Kau ini menyebalkan sekali” gerutunya tanpa beban.

“hah?” aku terkejut dengan pernyataannya barusan.

“iyah, lihat dirimu? Kau itu kumal, tidak terurus, berantakan , dan tidak punya sopan santun lagi denganku. Kau ini bisu atau gimana? Heuh, Seharusnya si-ibu menuruti usulku” ucapnya menjelaskan dengan mulut entengnya.

“bukankah kamu yang tidak punya sopan santun, menghina fisik orang dan bicara seenaknya tanpa disaring dulu, padahal aku baru tahu hanya sekedar namamu, bukan berarti kita sudah akrab yah…” ucapku sembarangan mengikuti gaya bicaranya.

“kalau kau sudah tahu posisimu, aku pastikan mulutmu tidak selancang barusan” ucapnya masih santai

“ya sudah, ayoo ikuti aku, biar kutunjukan tempatnya” sambungnya, lalu dia berjalan duluan. Aku dibelakang mengikutinya tanpa bicara.

Alhasil disepanjang perjalanan suasana kami berdua hening. Tidak ada percakapan yang keluar dari masing-masing, baik aku ataupun darinya. Heuh setidaknya ini lebih baik dari pada harus mendengarkan omongan sombongnya. Aku masih kagum dengan rumah-rumah ditempat ini. aku tengok sana, tengok sini memperhatikan dengan sangat mendetail. Tunggu dulu…. Sepertinya aku kenal jalan ini, bukankah aku barsan melewatinya?

“mbak Susan!!, bawa siapa tuh…?” sapa seseorang.

“ini pak Idham. biasa, orang suruhannya ibu” jawab Susan dengan gampangnya, seolah mereka sudah kenal lama.

“loh mas kan yang tadi muter-muter” ucap bapak-bapak itu.

“loh… bapak yang tadi yah…” balasku singkat.

Sialan, sepertinya aku dikerjain oleh perempuan sialan ini, gerutuku dalam hati. Awas aja nanti, dasar menyebalkan.

Aku akhirnya dibawah kesebuah kantor yang lebih mirip seperti rumah mewah. Sepertinya ini memang rumah salah satu kompleks yang sengaja disulap menjadi kantor oleh pemiliknya. Sepertinya ini adalah perusahaan rintisan. Aku menerka-nerka dalam hati. Tetapi dibalik rasa kesalku, ada Bahagia yang terselip. Karena aku sekarang akan bekerja, sudah tidak jadi pengguran lagi. Saat memasuki halaman rumah tersebut emosiku meluap seketika digantikan leh perasaan Bahagia yang tidak kentara. Grogi bercampur gugup bercampur cemas dan rasa ingin meledak kegirangan yang sepertinya sudah sampai diujung ubun-ubunku. Halamannya luas muat untuk parkir sepuluh mobil. Dindang rumah yang catdengan warna coklat cream membuat nuansa kalem, dengan pagar yang mengelilingi yang ditumbuhi tanaman menjelar, aku tidak tahu apa Namanya, dan beberapa pot bunga yang menghiasi rumah bagian depan. Ada yang digantung dan ada juga yang besar diletakan sebelum pintu masuk, seperti sengaja dipasang untuk ucapan selamat datang. Aku masuk keruang tamu, tempatnya lumayan luas dan ada sebuah meja Panjang dengan sekitarlebih dari sepuluh kursi yang melingkar. Dan diats dinding ada televisi dengan layer 88 inci, sepertinya ini digunakan untuk rapat. Gumanku dalam hati. Disamping ruang tamu ada ruangan seperti ruangan kerja yang setip sekatnya dibatasi dengan kaca bening. Jumlahnya sekitarsama dengan jumlah kursi yang ada diruang tamu. Terlihat ada enam orang yang sedang mengerjakan sesuatu ditempatnya masing-masing. Selebihnya kosong. Entah itu belum terisi atau pemiliknya sedang pergi. Aku masih mengikuti Langkah kaki Susan. Ia menaiki tangga ke lantai dua, aku masih membuntutinya dibelakang dengan ekspresi kagum dan tidak percaya bahwa aku bisa masuk dalam ruangan megah ini. memasuki lantai dua aku bertemu dengan seorang Wanita berusia setengah baya. Susan akrab memanggilnya dengan sebutan ibu. Menyambut kedatanganku ia senyum sangat hangat. Aku ditinggal oleh Susan, kini hanya kami berdua yang berada dalam ruangan ini. meja yang penuh dengan kertas entah itu dokumen apa. Aku duduk dikursi seperti layaknya hendak diinterieuw kerja. Keggupan Kembali melanda badanku, keringan dingin keluar tanpa disuruh mengalir dipelipis. Melihat hal tersebut tampaknya perempuan setengah baya itu menyadari kegugupanku. Ia beranjak pergi ketempat pemanas air

“mau kopi, atau teh?” ucapnya dengan senyu yang tenang itu

“eh, hmm, kopi boleh bu” ucapku gelagapan.

Dua cangkir kopi panas telah berada didepan pandangan kami. Cangkir itu mengeluarkan asap yang menyeruak dan menghilang.

“silahkan diminum, biar sedikit lebih relax” ucapnya menyilahkanku sembari ia lebih dulu menyeruput cangkir miliknya

“terimakasih bu” jawabku dengan menganggukan kepala, lalu menyeruput sedikit kopi dalam cangkir. Ada rasa manis yang pas dengan kehangatan yang masuk dalam tenggorokanku. Rasa hangat dan aroma kopi seketika membuat gugupku sedikit berkurang.

“santai, aja. Ini bukan intervieuw. Malah sebaliknya silahkan tanyakan apapun yang kau ingin ketahui” lagi-lagi ia mengucapkannnya dengan senyum tenangnya. Melihat itu setidaknya aku jadi tahu bahwa ia orang yang ramah.

“bu, ngomong-ngmong ini perusahaan apa yah? Sepertinya aku tidak pernah meletakan surat lamaran pada perusahaan ini” tanyaku

“ini, bukan perusahaan Banyu. Ini adalah sebuah tempat yang kau butuhkan” ucapnya sambal menangkupkan tangannya

“aku masih tidak mengerti bu” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal

“kau akan tahu jika sudah brgabung dengan kami Banyu” ucapnya singkat

“sepertinya benar yang dikatakn oleh Susan, kondisimu terlihat buruk. Baiklah kami akan menyiapkan jadwal Latihan untukmu. Untuk meningkatkna kondisi tubuhmu setidaknya menjadi lebih baik” lanjutnya dengan santai

“tunggu, saya belum memberikan jawaban apakah aku akan bergabung atau tidak?” sergahku

“baiklah, sekarang apa jawabanmu Banyu?” balasnya dengan santai sambal Kembali meneguk cangkir kopinya

“bagaimana dengan jobdesknya?” tanyaku lagi

“kau bekerja sangat fleksibel. Semuanya akan diatur tergantung kondisinya. Bukankah air sangat fleksibel?” jawabnya dengan senyum lembut.

Sepertinya orang yang ada didepanku benar-benar tahu semuanya tentangku. Jika benar, siapa sebenrnya mereka ini. gumamku dalam hati

“apakah anda benar-benar mengamatiku enam bulan terakhir?” tanyaku tertegun.

“tentu saja, bukankah Susan telah menjelaskannya padamu”

“heuh, okey baiklah. Sepertinya ini memang jalan yang dituntun oleh takdir. Saya setuju” ucapku tegas. Meyakinkandiri sendiri bahwa aku tidak akan menyesali keputsanku.

“baiklah, kamu tanda tangan disini dan pakailah ini” ia menyodorkan selembar surat seperti kontrak tapi hanya tertera namaku dan Namanya saja. Dari situ aku tahu bahwa Namanya adalah Ningrum. Serta ada sebuah disk yang bertuliskan namaku. Beliau menyuruhku menyimpannya sebagai tanda pengenal, yang kemudian aku bikin menjadi kalung sehingga bisa dibawah kemana-mana. Setelah aku selesai menandatangani perjanjian tersebut aku akhirnya pulang dan disuruh datang lagi pekan depan.

Setelah intervieuw yang aneh itu akhirnya aku Kembali ke-kosanku. Untuk hari ini saja aku sudah lumayan capek. Apakah ini gara-gara aku introvert? Entahlah. Tapi setidaknya tulisanku kini telah mencapai angka tiga ribu lima ratus kata. Angka demikian sudah cukup Panjang jika dijadikan sebuah cerita pendek. Tapi, sepertinya ini baru awal bagiku. Sepertinya ceritanya masih akan Panjang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED