DAVINA LAKSMI POV:
Sagara mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Matanya, yang selalu kubayangkan penuh cinta untukku, kini terasa seperti pisau yang mengiris hatiku.
"Aku minta maaf jika aku tidak membicarakannya denganmu sebelumnya, Sayang," bisiknya. "Tapi aku sudah membatalkan pendaftaranmu untuk kompetisi itu."
Dunia seolah berhenti. Kata-katanya menghantamku seperti bongkahan es, membuat napas tertahan di dadaku. Membatalkan pendaftaranku? Kompetisi yang telah kuhabiskan berbulan-bulan untuk persiapannya?
"Kenapa?" suaraku nyaris tak terdengar.
Sagara tersenyum lembut, senyum yang biasanya membuatku luluh, kini terasa menjijikkan. "Davina, kita sudah menikah lima tahun. Kapan kita akan punya anak? Ini saatnya kita fokus pada keluarga. Kompetisi itu hanya akan membuang-buang waktuku, waktumu, dan waktu kita berdua. Aku tidak ingin kau terlalu stres. Kau tahu sendiri, bagaimana kondisimu jika terlalu lelah."
Aku menundukkan kepala. Sebuah senyum pahit merekah di bibirku. Anak? Keluarga?
Mata ini kupejamkan erat, menahan air mata yang mendesak keluar. Selama bertahun-tahun, aku telah memohon padanya untuk punya anak. Aku menginginkan keluarga kecil kami sendiri. Tapi setiap kali, ia menolak.
"Nanti saja, Davina. Kita nikmati dulu masa berdua. Nikmati kebebasan kita," selalu itu alasannya.
Kini, ia menggunakan alasan anak sebagai tameng, sebagai pembenaran atas pengkhianatan ini. Ia tidak ingin aku berkompetisi. Ia tidak ingin aku menang. Ia tidak ingin aku mengalahkan Fiona.
Sagara bersedia mengorbankan impianku, karierku, bahkan harapan terbesarku, demi adik tirinya. Ia bersedia menghancurkan Davina yang ia klaim cintai, demi Fiona.
Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik di telingaku. "Maafkan aku karena tidak membicarakannya dulu. Jangan marah ya, Sayang. Ingat, besok adalah ulang tahun pernikahan kita. Aku akan menebus semuanya. Aku janji."
Hanya janjinya yang kosong.
"Aku akan memberimu kejutan besar besok," lanjutnya, suaranya dipenuhi rayuan palsu. "Aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu, Davina. Apa saja."
Aku tahu, ia tidak mengatakan itu untukku. Ia mengatakannya untuk dirinya sendiri, untuk membenarkan tindakan bejatnya.
Aku tersenyum tipis, senyum yang sama pahitnya dengan rasa di hatiku. "Oh, Sagara. Ulang tahun pernikahan yang kelima, ya? Tentu saja. Aku juga akan memberimu kejutan besar. Kejutan yang tidak akan pernah kau lupakan. Dan kau harus datang, Sagara. Kau harus ada di sana untuk melihatnya."
Sagara tersenyum puas, seolah ia telah memenangkan sesuatu. Ia mencium keningku. "Aku tidak sabar menunggu kejutanmu, Sayang."
Aku tidak ragu. Ia pasti akan menyukainya. Lalu ia akan bebas.
Sagara beranjak ke dapur, berniat menyiapkan makanan yang katanya akan membuatku sehat. Di atas meja nakas, ia meninggalkan jam tangannya. Jam tangan mewah yang selalu ia kenakan, hadiah dari orang tuanya. Aku menatapnya. Kutahan air mataku yang sudah menggenang.
Mataku tertuju pada ukiran di bagian belakang jam tangan itu. Sebuah ukiran kecil yang tersembunyi, yang selama ini tidak pernah kusadari.
Huruf 'F' dan 'S' terukir dengan indah, diapit oleh lambang hati yang rumit.
Fiona dan Sagara.
Dunia seolah runtuh di sekitarku. Bukan hanya kompetisiku, bukan hanya anak yang kuharapkan. Tapi seluruh pernikahanku. Seluruh hidupku. Itu semua adalah kebohongan.
DAVINA LAKSMI POV:
Pesta perayaan nominasi Fiona akan diadakan besok malam. Aku membantu Sagara memasang dasinya, jari-jariku gemetar. Ia tidak menyadarinya, atau pura-pura tidak menyadarinya.
"Sagara," kataku, suaraku setenang mungkin, "Aku ingin ikut ke pesta Fiona."
Ia menatapku, matanya menunjukkan sedikit keterkejutan. "Kau yakin? Maksudku, setelah kejadian terakhir kali..."
Ia tidak perlu melanjutkan. Aku tahu apa yang ia maksud. Pertengkaranku dengan Fiona di depan umum, yang berakhir dengan Fiona berpura-pura pingsan dan aku menjadi biang keroknya. Sejak saat itu, aku jarang muncul di acara sosial.
"Aku akan baik-baik saja," kataku, memaksakan senyum. "Aku janji tidak akan membuat keributan. Aku hanya ingin... mengucapkan selamat padanya."
Sagara tampak ragu. Ia tahu betapa aku membenci Fiona, dan ia tahu betapa Fiona senang melihatku menderita. Ia khawatir. Bukan padaku, tentu saja. Tapi pada Fiona.
"Tapi, ini mungkin akan membosankan untukmu," katanya, mencoba mengalihkanku. "Bagaimana kalau kita pergi menonton bintang setelah itu? Kita bisa menyelinap keluar."
Aku mengamati ekspresi wajahnya. Ada ketakutan di sana. Ketakutan bahwa aku akan merusak kebahagiaan Fiona. Ketakutan bahwa rencananya akan gagal. Aku menyadari, ia bukan hanya pelindung Fiona. Ia adalah perancang takdirku yang keliru, yang mengorbankanku demi kebahagiaan adik tirinya yang manipulator.
Tidak, aku tidak akan merusak kebahagiaan Fiona. Aku akan menghancurkannya.
"Tidak, Sagara. Aku ingin pergi. Aku ingin melihat adik iparku bersinar," kataku, suaraku penuh ironi yang tidak ia tangkap.
Sagara menghela napas, kalah. "Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan terlalu lama, ya."
Malam itu, aula pesta berkilauan dengan cahaya dan tawa. Fiona berdiri di tengah, dikelilingi kerumunan orang yang memujanya. Ia tampak sempurna, perutnya yang membesar sedikit menonjol, menjadi lambang kebahagiaan dan kesuksesannya.
"Selamat, Fiona! Kau pantas mendapatkannya!" seru seorang tamu, memeluknya. "Orang tuamu pasti sangat bangga!"
"Dan kudengar kau akan memainkan lagu yang sangat spesial malam ini. Lagu apa itu? Apakah itu biola Stradivarius yang kudengar kau dapatkan dari donatur misterius itu?" tanya tamu lain, matanya berbinar. "Aku tidak sabar mendengarnya! Bisakah kau memainkannya sekarang? Kami ingin mendengar lagu kemenanganmu!"
Fiona tersenyum angkuh. Ia membuka kotak beludru, memperlihatkan biola yang tergeletak di dalamnya. Matanya menyapu kerumunan, dan berhenti tepat padaku. Sebuah cibiran tipis tersungging di bibirnya sebelum ia mengubahnya menjadi senyum sedih.
Ia menatap Sagara, yang berdiri di sampingku. "Sagara... Aku tidak menyangka kau akan datang. Aku pikir kau tidak suka kehadiranku."
Sagara segera meraih tangannya. "Bukan begitu, Fiona. Jangan bicara yang aneh-aneh. Kau tahu aku selalu mendukungmu."
Aku berdiri diam, seperti patung es. Perhatianku tertuju pada biola itu. Biola hitam legam dengan ukiran rumit di bagian lehernya. Aku ingat biola itu. Sagara pernah menunjukkan fotonya padaku. Ia bilang ia sedang mencari hadiah spesial untuk ulang tahun pernikahan kami. Aku pernah bermimpi menggesekkan busur pada senar-senar itu, menciptakan melodi yang hanya kami berdua tahu.
Tapi, biola itu ada di tangan Fiona. Dan ia tersenyum padaku, senyum kemenangan.