Chapter 1
Revenge
Ares Miguel Torrado membelokkan mobilnya ke area Santo Domingo kemudian memasuki pekarangan rumah yang luas milik Leya Jacson.
Ia baru saja membanting pintu mobilnya saat pintu rumah terbuka, Leya mengenkan crop top dipadukan dengan rok super mini. Seperti biasa wanita itu berambut pirang itu tersenyum lebar untuknya seraya berlari menyongsong kedatangannya lalu melingkarkan lengannya di leher Ares.
"Aku merindukanmu," kata Leya.
Ares tersenyum miring, lengannya melingkar rendah di pinggang Leya dan meremas bokong wanita cantik itu kemudian tanpa menanggapi ucapan Leya, Ares mencium bibir Leya.
Ditutupnya pintu rumah Leya menggunakan kakinya kemudian didorongnya Leya ke pintu, dicengkeramnya kedua pergelangan tangan Leya menggunakan satu telapak tangannya dan ditekannya ke daun pintu sementara bibirnya terus mencumbui bibir Leya seolah tidak memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk sekedar beberapa detik menghirup oksigen.
Tangan kanan Ares menyelisik masuk ke dalam rok Leya kemudian ujung-ujung jemarinya menggoda kewanitaan Leya dengan gerakan yang membuat Leya tidak mampu untuk menolak dan wanita itu merentangkan pahanya.
Ketika Ares memasukkan salah satu jemarinya ke dalam kewanitaannya, Leya melenguh. Wanita membusungkan dadanya dan Ares melepaskan cengkeraman tangan Leya. Ditariknya dari atas pakaian Leya dan bibirnya berpindah ke payudara Leya yang menyembul.
Ketika suasana semakin bergairah, dan Ares menarik ritsleting celana, Leya menggelengkan kepalanya.
"Tidak di sini, asistenku bisa melihat kita," kata Leya.
Mata biru Ares menatap Leya dengan tatapan dingin kemudian meletakkan lengannya di lipatan kaki kanan Leya dan mengentakkan pinggulnya, menyatukan tubuh mereka kemudian mengentak-entak berirama sementara Leya hanya bisa menahan rintihannya agar asistennya tidak mendengar suaranya.
***
"Apa hari ini pegawai kantormu membuatmu jengkel?" tanya Leya kepada Ares yang sedang mengendurkan dasinya.
Tiga tahun mengenal Ares, Leya dapat mengenali kebiasaan Ares yang memerlukan seks kilat untuk melampiaskan kemarahannya, atau kelelahan seusai bekerja.
Pria pemilik bola mata berwarna biru itu menerima gelas berisi wiski yang diberikan Leya. "Ada banyak pekerjaan di Light Sport hari ini."
"Bukannya musim tahun ini baru saja berakhir, ada masalah?" tanya Leya seraya menuangkan wiski ke dalam gelas yang di pegangnya kemudian mengangkat gelasnya, mengajak Ares bersulang.
Ares merupakan seorang Chief Executive Officer di Torrado Company dan dia juga menjadi bos promotor sebuah ajang olahraga bergengsi MotoGP, Light Sport. Hal itu membuatnya sangat sibuk hingga terkadang melupakan jika sekarang usianya telah memasuki tiga puluh lima tahun.
Ia mengangkat gelasnya untuk bersulang dan menenggak wiskinya. "Ada sedikit masalah."
"Ya. Masalah akan selalu datang selama kita hidup," ucap Leya.
Ares tersenyum masam. Dia setuju dengan pernyataan Leya, masalah akan selalu datang entah dari mana saja. Bahkan terkadang saat seseorang tidak memiliki masalah, orang lain justru menghampiri dan melimpahkan masalah.
"Aku berencana untuk pindah ke rumah ayahku," ucap Ares.
Leya kembali menuangkan wiski ke gelas Ares dan gelasnya. "Jadi, kau ke sini untuk memberitahu itu?"
"Aku datang untuk bercinta denganmu," jawab Ares dengan acuh dan duduk di kursi berbentuk bulat.
Leya tersenyum, menganggap lumrah jawaban Ares dan tidak sedikit pun merasa tersinggung. Mereka telah menjalani hubungan tanpa status selama tiga tahun.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Leya.
"Ibuku baik-baik saja."
Dua bulan yang lalu orang tuanya bercerai, ibunya tidak tahan lagi setelah bertahun-tahun ayahnya diduga berselingkuh dengan salah satu anggota partainya. Belum genap satu bulan perceraian mereka, ayahnya menikahi wanita jalang itu. Fakta tersebut membuat kondisi kesehatan ibunya menurun hingga sebagai seorang anak sudah sepantasnya Ares mendampingi masa-masa sulit yang sedang dialami ibunya.
Namun, Ares tidak bisa hanya sekedar mendampingi ibunya berobat. Setiap kali menyaksikan kesedihan dan kekecewaan di mata ibunya, dada Ares terasa dipanggang di atas tungku yang membara hingga ingin sekali rasanya menghabisi wanita yang membuat luka di batin ibunya.
Ares sangat tidak terima atas apa yang dilakukan ayahnya. Sebagai pria berumur seharusnya menghargai pernikahan yang telah dilalui selama tiga puluh tujuh tahun, dan seharusnya menghargai ibunya yang telah mendampingi dalam suka maupun duka.
Kenangan indah dari tahun ke tahun seolah tidak berbekas, bahkan mungkin foto-foto di bingkai yang tergantung di dinding rumah mereka tidak lagi membangkitkan kenangan di mata ayahnya. Ayahnya lebih memilih Tania, wanita yang tentunya lebih muda jika dibandingkan dengan ibunya. Kehadiran Tania bagiakan badai yang memorak-porandakan keluarga Torrado.
"Jadi, sampai berapa lama kau tinggal di sana?" tanya Leya kemudian menenggak wiskinya dan meletakkan gelasnya di meja bar rumahnya.
"Hanya sementara."
"Jika aku merindukanmu, apa aku boleh ke rumah ayahmu?"
Ares menatap wajah cantik Leya. "Tentu, datang saja atau kau bisa ke kantorku."
Meskipun itu hanya sebuah pemanis, Ares tidak akan pernah membiarkan Leya datang. Ia memiliki rencana untuk menggunakan pesonanya kepada ibu tirinya, meniduri wanita jalang itu kemudian mencampakkannya. Ares bahkan berencana membuat ayahnya menyaksikan sendiri perselingkuhan Tania.
Namun, jika Leya datang ke rumah itu, rencananya mungkin tidak akan berjalan mulus atau mungkin akan hancur karena tidak mungkin seorang Leya Jacson datang menemuinya kalau bukan karena mereka memiliki skandal.
Leya terkekeh pelan dan menggeleng. "Aku tidak ingin menimbulkan gosip yang membuat diriku dikejar-kejar pemburu berita dengan datang ke kantormu dan aku tidak ingin jika ayahmu juga berpikir aku adalah kekasihmu."
Leya telah bergelut di dunia perfilman sejak usia enam belas tahun itu memang selalu menjaga privasinya hingga usianya dua puluh tujuh tahun, belum pernah terdengar ada berita tentang percintaan apa lagi skandalnya, setiap kali muncul di media, Leya hanya menyuguhkan prestasi terbarunya.
Ares menyukai wanita yang berpendirian teguh, mandiri, dan cerdas. Leya memiliki semua itu, bahkan wanita itu memiliki kelebihan yang jarang sekali dimiliki orang yang bergelut di dunia hiburan. Leya sangat pandai meletakkan batas antara kehidupan pribadi dan kariernya sehingga kehidupannya terlihat berjalan dengan sangat mulus dan stabil. Sayangnya, Leya tidak ingin terikat dengannya meskipun tidak terhitung berapa kali mereka melakukan hubungan seks.
"Jangan berpikir selama aku di rumah ayahku, aku tidak memiliki waktu untuk mengunjungimu. Jangan harap kau bisa membawa pria lain ke sini," kata Ares, nada dan tatapannya mengancam.
Leya tersenyum menggoda. "Aku bukan milikmu."
"Kau, milikku," kata Ares.
"Aku tidak pernah sepakat," kata Leya.
Namun, Ares tidak pernah peduli dengan ucapan Leya. "Jangan membuatku melakukan hal yang tidak kau suka."
Selama dirinya masih menyukai Leya, maka hanya dirinya pria yang boleh menyentuh tubuh Leya dan Leya tahu aturan yang dibuat Ares.
"Jika kau tidak ingin aku membawa laki-laki ke sini, beri aku alasan selain aku milikmu," kata Leya dengan nada dan tatapan menggoda.
Ares menatap wiski di gelasnya beberapa detik kemudian tersenyum dan menatap Leya. "Kau tidak memiliki waktu untuk memikirkan pria lain, dan hanya aku pria yang bisa memuaskanmu."
Leya tersenyum, Arse memang selalu dapat memuaskannya dan dirinya memang tidak memiliki waktu untuk memiliki waktu untuk memikirkan pria lain. Bahkan Ares sekali pun.
Leya tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan asmara, jika dirinya mengizinkan Ares datang ke tempat tinggalnya, itu hanya karena dirinya merasakan kecocokan dalam beberapa hal. Tetapi, untuk memulai membuka hati, Leya tidak berani karena terakhir memiliki hubungan cinta, kekasihnya justru nyaris menjadi ancaman dalam hidupnya.
"Tapi, jujur saja aku sedikit heran karena kau tiba-tiba ingin tinggal bersama ayahmu," kata Leya.
Meskipun mereka telah menjalani hubungan selama tiga tahun bukan berarti dia memiliki niat membicarakan tujuannya tinggal di rumah ayahnya kepada Leya.
Ares kembali menenggak wiskinya lalu meletakkan gelas di atas meja bar. "Aku harus mengenal keluarga baruku."
Leya mengedikkan bahunya dan menatap Ares. "Wow! Itu luar biasa. Tidak semua orang bisa berpikir sepertimu."
Tentu saja tidak seorang pun karena Ares justru memiliki niat untuk menghancurkan keluarga baru ayahnya. "Bagaimanapun itu pilihan ayahku, kami harus menghargainya."
Leya melingkarkan lengannya di leher Ares. "Kau benar. Tapi, bagaimana kau bisa berubah pikiran secepat ini?"
Karena Leya tahu jika awalnya Ares sangat terpukul saat orang tuanya memutuskan bercerai dan Ares juga sangat marah saat mendengar ayahnya akan menikahi Tania.
Ares menyingkirkan sejumput rambut ke belakang telinga Leya. "Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan ayahku."
Leya menatap Ares seolah mencari sesuatu di sana. "Keselamatan?"
"Ya."
"Kurasa kau sedikit berlebihan, Tania tidak mungkin berani mencelakai ayahmu."
Mendengar nama Tania disebut, aliran darah Ares seolah menggelegak. Ia mencengkeram rahang Leya dengan kasar, menatap Leya dengan tatapan dingin seolah wanita di depannya adalah Tania.
"Ares?" desah Leya membuat kesadaran Ares kembali.
Chapter 2
Sassy Girl
"Uuh...," erang Lavanya Leonora Callas seraya memegangi sikunya yang lecet hingga mengeluarkan darah akibat didorong oleh temannya hingga terjatuh dan sikunya mencium lantai.
"Mau kuantar ke ruang kesehatan?"
Pemilik bola mata berwarna biru dengan bingkai hitam itu mendongak dan mendapati Dario Clooney, teman sekelasnya mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.
"Sial! Lihat saja nanti, akan dibalas Tammy," gerutunya tanpa menerima uluran tangan temannya.
Dario menekuk kakinya di depan Vanya. "Kudengar kemarin kau menyiram kepala Tammy di toilet."
"Dia terus-terusan menyindirku. Jadi, kutantang untuk berbicara langsung di depanku." Vanya meniup luka di sikunya beberapa kali.
"Dia berani?"
"Tammy membawa geng sampahnya itu untuk menyerangku di toilet."
Dario terkekeh sambil menggaruk pelipisnya. "Kau bisa dikeluarkan dari sekolah jika terus-terusan bertengkar dengan Tammy dan gengnya."
Selama sekolah menengah atas, bukan pertama kali Vanya masuk ruangan konseling dan yang pasti sudah tidak terhitung berapa kali dia harus menjalani hukuman. Tetapi, dua bulan terakhir menjadi rekor tertingginya.
"Peduli amat," ucap Vanya seraya bangkit posisinya.
Dario juga bangkit. "Kita sudah kelas tiga dan ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi, jika kau dikeluarkan, kau akan sulit untuk...."
"Aku tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini, apa pun yang terjadi," ucap Vanya dengan nada angkuh dan berjalan menuju ruang kesehatan siswa.
Tentu saja tidak mungkin pihak sekolah mengeluarkannya karena ayah tirinya adalah donatur terbesar di sekolahnya. Tetapi, Vanya sama sekali tidak bangga dengan hal itu karena sejak ibunya menikah dengan pria tua itu, dirinya semakin digunjing, dan dijadikan bahan olok-olok musuh-musuhnya.
"Ya. Mungkin karena ayah tirimu itu, tetapi jika orang tua murid lain...."
Vanya berbalik ke arah Dario dan matanya melotot. "Stop bertingkah seperti ibuku yang terus-menerus menceramahiku!"
Dario mengedikkan bahunya. "Kau sepertinya semakin tidak nyaman dengan keadaan di rumahmu sekarang."
Vanya melengos seraya mendengus. Kehidupannya sama sekali tidak menyenangkan semenjak dulu, semenjak dilahirkan karena ayahnya tidak memperlakukannya seperti memperlakukan Julio dan dia harus menghadapi ibunya yang diktator sendirian.
"Aku tidak meminta kau mengomentariku," kata Vanya.
"Kenapa tidak pergi saja dari rumah?"
"Ide yang brilian. Apa kau pikir tinggal sendirian tidak memerlukan uang?" tanya Vanya dengan nada ketus.
"Kenapa tidak tinggal bersama ayah kandungmu?"
Seperti yang dikatakan ibunya, ayahnya hanya peduli pada kakak laki-lakinya dan sekarang ayahnya memiliki kekasih yang berasal dari dunia yang sama. Seorang wanita bernama Vanessa yang berprofesi sebagai presenter berita olahraga dan Vanya sedikit setuju sekarang dengan pendapat ibunya yang mengatakan jika ayahnya itu benar-benar tidak berguna.
"Ayahku sudah mati," ucap Vanya dengan ketus seraya mendorong pintu ruangannya kesehatan di sekolah.
Dario berjalan ke arah tempat penyimpanan kotak obat untuk mengambil sebotol antiseptik dan kapas kesehatan. "Aku akan mencarikanmu pekerjaan agar kau bisa membayar sewa apartemen."
Vanya menatap luka di sikunya. "Ibuku tidak akan mengizinkan aku pergi dari rumah dan tinggal sendirian."
"Kita delapan belas tahun, kita sudah dewasa dan berhak menentukan hidup kita sendiri," ucap Dario seraya meneteskan cairan antiseptik ke atas kapas lalu mulai mengobati luka Vanya.
"Ibuku tidak ingin aku bernasib seperti dirinya," kata Vanya dan gadis itu meringis menahan perih karena alkohol yang disapukan oleh Dario. "Kakakku lahir saat ibuku berusia enam belas tahun dan dia masih kelas satu SMA."
"Kau punya Kakak?"
Vanya hanya mengedikkan bahu seraya duduk di tepi tempat tidur pasien yang berada di ruangan itu. Siapa yang tidak tahu dengan Julio Javi Callas? Pembalap berusia dua puluh tahun yang kini mewakili Spanyol di ajang bergengsi MotoGP? Tetapi, tidak seorang pun kecuali keluarga inti yang tahu jika Julio memiliki adik perempuan.
Hal itu adalah aturan yang dibuat oleh Tania, wanita itu sangat menentang profesi yang digeluti Julio sehingga ia tidak ingin Vanya maupun dirinya disangkutpautkan dengan Julio maupun Leandro.
"Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Dario lagi.
"Dia pergi bersama ayahku," jawab Vanya dengan muram kemudian bangkit dari duduknya. "Terima kasih atas bantuanmu, aku harus kembali ke kelas."
Dario melemparkan kapas bekas ke dalam tempat sampah. "Kembali ke kelas? Yang benar saja."
"Aku tidak ingin membersihkan kolam renang lagi," kata Vanya karena baru tempo hari dia dihukum membersihkan kolam renang.
Dario terkekeh dan menyusul Vanya melangkah lalu menyodorkan sebatang rokok untuk Vanya. "Bagaimana jika menaiki motor besar ke Hutan Apel?"
Vanya mengambil rokok yang diberikan Dario kemudian menyeringai. "Tunggu apa lagi!"
Keduanya tertawa senang kemudian berlarian menuju tempat parkir dan menaiki sebuah motor besar lalu Dario mengendarainya menuju ke arah Taman Hutan Apel di mana keluarga Dario memiliki sebuah Villa di sana.
Di sana kedua anak muda itu duduk di sebuah sofa berukuran panjang di depan televisi layar lebar dan memegangi stik PS, tertawa dan bercengkerama seraya menikmati rokok hingga tidak terasa senja telah menguning di ufuk barat.
Vanya melongok ke arah jendela. "Sial! Kita harus kembali ke sekolah."
"Biarkan saja tas kita di sana, lagi pula besok juga kita kembali ke tempat sialan itu."
"Ponselku di dalam tas."
"Kau mengunci lokermu, 'kan?"
"Tapi ibuku akan menanyakan di mana ponselku, dia pasti sudah menelepon ribuan kali. Aku berani bertaruh."
Dario meletakkan stiknya. "Ck, ibumu benar-benar menyebalkan."
Vanya bangkit dari sofa. "Sekarang kau juga harus mencarikanku alasan kenapa aku pulang terlambat."
Dario menghidupkan korek api untuk membakar rokoknya. "Bilang saja kau pergi menyemangatiku bertanding bisbol."
Terakhir Vanya menonton Dario bermain bisbol sebulan yang lalu, terjadi kerusuhan di lapangan dan Vanya memukul salah satu penonton menggunakan tongkat bisbol. Ibunya harus mengeluarkannya dari kantor polisi kemudian melarang Vanya bergaul dengan Dario.
"Ide yang payah!" ucapnya kemudian Vanya memasang sepatu.
Mereka kembali ke sekolah dan pintu gerbang telah dikunci, tetapi kedua remaja itu tidak kehilangan akal untuk memasuki area sekolah dan memanjat pagar kemudian mengendap-endap menuju tempat penyimpanan barang siswa.
Vanya memilih kembali ke tempat tinggalnya menggunakan bus karena jika Dario mengantarkannya, Vanya yakin khotbah ibunya akan memenuhi telinganya. Terlebih lagi Vanya tiba di rumah sudah mendekati pukul delapan malam.
Vanya mendorong pintu tempat tinggalnya yang menyerupai istana dengan hati-hati dan waspada dan mengumpat di dalam benaknya. Jika bisa memilih Vanya lebih senang tinggal di rumahnya yang dulu meskipun tidak seperti istana, sayangnya ibunya menyewakan rumah itu agar Vanya tidak bersikeras menempatinya sendirian.
Gadis berambut sebahu dengan warna coklat terang itu berjalan dengan santai seperti biasa selayaknya remaja pulang sekolah, tas punggungnya menjuntai ke bawah karena hanya satu tali yang dicantolkan di bahunya dan mulutnya terisi oleh lolipop yang tangkainya dipegangi.
"Vanya!"
Suara itu menggema mengisi ruangan dan ketika Vanya mendongak, ia mendapati ibunya berdiri di tengah tangga mengenakan gaun sutra yang tentunya harganya bisa untuk membeli satu kontainer roti. Vanya mendengus dan melanjutkan langkahnya tanpa niat memedulikan ibunya.
"Vanya, dari mana saja kau?" tanya Tania seraya menuruni tangga.
"Apa kau tidak melihat aku baru pulang sekolah?" tanya Vanya dengan nada ketus.
"Kau bertengkar lagi di sekolah dan hari ini kau tidak mengikuti pelajaran."
Vanya mengedikkan bahunya. "Mr. Stanton sudah memberitahumu?"
"Vanya! Bisakah kau tidak membuat masalah dalam sehari saja?"
Vanya menghentikan langkahnya di depan ibunya. "Kenapa? Takut aku tidak lulus?"
Tania memijat kepalanya dan menghela napasnya dengan berat. "Bisakah kau bersikap normal sampai ujian kelulusanmu selesai?"
Vanya memutar bola matanya. "Jangan khawatir, aku akan lulus dengan nilai terbaik."
Tania sudah bisa menebak apa yang ada di kepala Vanya. "Raul tidak akan membantumu jika kau tidak bersikap baik!"
"Memangnya siapa yang meminta bantuan...."
Sebuah deheman pria menginterupsi ucapan Vanya dan saat menoleh ke arah sumber suara, Vanya mendapati seorang pria tampan dengan perawakan tinggi mengenakan kemeja berwarna putih dan celana panjang berbahan kain seraya memegangi cawan berisi anggur berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.