"Jadi, kapan kamu mau menceraikan istri kamu itu, Mas? Aku kan nggak sabar lagi buat pindah ke rumah mewah kamu itu. Aku udah lihat rumah kamu. Rumah kamu itu mewah banget. Yang pantas tinggal di rumah itu tuh aku, bukan istri kamu."
Saat ini Adit sedang berada di kamar sehabis memadu cinta dengan wanita cantik bernama Lisna.
Wanita bertubuh mungil berambut panjang itu dia kenal di sebuah club' malam di Jakarta. Pada hari itu dia dan teman-temannya menghabiskan malam di sebuah klub besar di Jakarta. Di club itu ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang dancer striptise.
Hal yang dilihat Adit adalah tubuh indah Lisna yang begitu luas berlenggak-lenggok di atas panggung. Pada waktu itu, dia membuka seluruh pakaian bagian atasnya sehingga hanya menyisakan segitiga pengamannya saja.
Memang seperti itulah dancer striptis di Jakarta. Biasanya mereka akan menari atau melakukan show selama 30 menit di atas panggung. 15 menit pertama biasanya dancer-dancer itu masih berpakaian lengkap. Kemudian seiring berjalannya waktu satu persatu pakaiannya akan mereka lemparkan begitu saja.
Dan biasanya di 5 menit terakhir maka mereka akan melepaskan penutup dadanya sehingga kedua bukit kembar mereka akan terlihat kemana-mana.
Bahkan di malam-malam tertentu mereka akan melepaskan seluruh pakaiannya sehingga hanya menyisakan sepatu boot mereka saja.
Dancer striptis seperti ini biasanya adalah anak-anak yang masih muda. Usia mereka dimulai dari 19 tahun sampai 25 tahun. Ada yang masih gadis tetapi sudah tidak bersegel ada pula yang sudah janda tetapi masih memiliki tubuh yang kencang.
Dan Lisna adalah seorang janda. Usianya 18 tahun ketika dia menikah dengan seorang lelaki.
Suaminya yang pertama bernama Ujang. Ujang adalah seorang juragan di Cianjur. Dia memiliki banyak sawah dan juga toko kelontong besar. Tetapi, Ujang tiba-tiba saja meminta izin untuk menikah lagi dengan kembang desa sebelah yang bernama Nining.
Tidak ingin dimadu, Lisna meminta cerai. Padahal Ujang sudah mati-matian menolak cerai. Tetapi, Lisna memang tidak mau dimadu dia pun keukeh meminta cerai. Sehingga mau tidak mau Ujang mengabulkan permintaan Lisna.
Setelah bercerai dia berkenalan dengan seorang Mami yang kebetulan datang ke salon tempat dia bekerja. Setelah bercerai, Lisna merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah salon. Anak Lisna dirawat oleh kedua orang tuanya di Cianjur.
Gaji Lisna cukup lumayan karena memang dia pintar menata rambut dan make up.
Mami Diana adalah seorang mami di club' malam. Saat melihat tubuh indah Lisna dan juga wajah cantiknya dia mengajak Lisna menjadi dancer striptis.
Awalnya Lisna tidak mau mengingat menjadi dancer itu harus mengobral tubuh ke mana-mana. Tetapi, pada akhirnya dia pun mau karena melihat uang yang dihasilkan cukup banyak. Apa lagi dia juga ingin membuktikan kepada mantan suaminya jika dia bisa memiliki gaji yang besar meski dia sudah bercerai.
Setelah bekerja di club malam, dia pun berkenalan dengan Adit. Malam itu Adit datang bersama teman-temannya. Adit yang memang terkenal hedon dan suka mentraktir teman-temannya menghabiskan banyak uang di meja untuk mentraktir semua temannya.
Bahkan dia memberikan uang saweran kepada Lisna saat wanita itu sedang berlenggak-lenggok di atas panggung.
Sejak saat itulah, Lisna menjadi kekasih simpanan Adit. Dia tidak belajar pada kesalahan yang pertama. Bagi Lisna yang penting adalah hidup hedon bisa memiliki apartemen, mobil dan uang banyak. Dia hanya ingin membuktikan jika dia juga bisa kaya raya kepada mantan suaminya itu.
"Aku pasti akan menceraikan istriku sayang. Tapi, kamu harus bersabar ya. Saat ini aku sedang ada bisnis dengan ayah mertuaku. Lumayan dia akan memberikan uang modal untuk membuka usaha."
"Emangnya ayah mertua kamu itu kaya raya?" Tanya Lisna sambil mengelus dada Adit.
"Iya jelas dia kaya raya. Kalau nggak mana mau aku menikah dengannya?" Kata Adit.
Lisna sama sekali tidak tahu jika sumber kekayaan Adit itu adalah dari sang istri. Ayah Kalina memang seorang pedagang tadinya.
Kedua orang tua Kalina memiliki toko emas yang cukup besar. Dari toko emas itulah kedua orang tuanya menyekolahkan Kalina dan juga adiknya Echa. Bahkan Echa menjadi seorang arsitek yang cukup pintar.
Sementara bakat dagang keluarganya menurun kepada Kalina. Awalnya Kalina hanya memiliki sebuah butik kecil. Tetapi butik tersebut berkembang karena desain-desain Kalina sangat disukai oleh orang banyak.
Kalina memang kuliah di bidang design. Tata busana. Sehingga dia pandai membuat pakaian yang cantik-cantik, elegan dan berkelas. Sehingga dari mulut ke mulut akhirnya dia berhasil menjadi seorang designer muda yang top. Berawal dari butik kecil hingga butik itu menjadi besar dan juga bisa memiliki salon kecantikan dan spa juga.
Bahkan yang datang di butik Kalina bukan hanya orang-orang kaya biasa tetapi banyak artis terkenal dan juga istri pejabat.
"Apa istri kamu itu punya butik modolnya dari kamu juga?" Tanya Lisna.
"Kalau itu nggak sayang. Kalina punya butik itu sebelum menikah denganku. Tapi kalau usaha franchise milikku itu ya punya aku. Sudahlah kamu nggak usah mengutak-atik harta istriku. Nanti kalau kita bercerai kita akan mengelola restoran yang akan aku kelola. Makanya, kamu harus tunggu dengan sabar, ya," kata Adit.
"Iya Sayang, aku bakalan nunggu kamu. Tapi, hari ini aku mau belanja. Kamu belum transfer ke aku loh," kata Lisna.
Adit mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya kemudian memberikannya kepada wanita cantik dalam pelukannya itu.
"Kamu pakai aja kartu kredit ini. Kamu boleh belanja apa aja tapi nanti kembalikan kartu kreditnya kepadaku. Buat kamu nanti aku buatkan kartu kredit yang lain. Sementara kamu boleh pakai kartu kredit ini."
Tentu saja dia merasa sangat senang karena kartu kredit yang diberikan oleh Adit itu adalah kartu kredit dengan limit yang cukup besar.
"Makasih ya sayang. Nanti malam aku balikin deh kartu kreditnya. Habis yang ini aku mau belanja dulu. Oh ya Kamu nggak pergi ke restoran?"
"Iya aku mau pergi ke restoran sebentar lagi. Sekarang satu ronde lagi dong, Sayang," kata Adit.
Lisna pun dengan senang hati melayani nafsu bejad Adit.
Dan sore itu, Kalina mengerutkan dahi saat melihat laporan kartu kreditnya. Dia tidak merasa berbelanja di mall dengan nominal yang cukup banyak sehingga wanita itu pun mengerutkan dahinya.
"Ada apa Bu?" Tanya asisten Kalina.
"Aneh ya ini tiba-tiba ada laporan transaksi masuk. Kartu kredit saya kok ada yang pakai," kata Kalina.
Wanita itu pun bergegas membuka dompetnya. Dan ternyata kartu kreditnya tertukar dengan kartu kredit milik sang suami.
"Mas, kamu ada belanja pakai kartu kredit hari ini? Kok nominalnya besar sekali ya. Bahkan ada pembelian tas yang harganya hampir empat puluh juta. Emang kamu beli tas apa?"
Adit mengerutkan dahinya, Bagaimana mungkin sang istri bisa mengetahui jika Lisna baru saja berbelanja tas dan juga sepatu.
"Kok kamu tahu?"
"Kartu kredit kita ketuker. Kamu lupa ya kemarin aku sempet pinjem kartu kredit kamu dan aku kasih kamu kartu kredit ku dulu untuk sementara. Kartu kredit aku itu kan kalau misalkan dipakai ada laporan yang masuk ke handphoneku. Ya ... aku tahu lah, Mas," jawab Kalina sambil terkekeh.
'mati aku,' gumam Adit dalam hati.
"Astaga rupanya kartu kredit kita tertukar? Maafin Mas, Sayang, jadi kebetulan aku habis belanja ke mall. Temen aku kebetulan ketinggalan dompet jadi minta dibayarin dulu. Tapi uangnya udah ditransfer ke rekening aku kok untuk gantinya. Dia mau bikin kejutan untuk istrinya jadi beliin tas sama sepatu. Ya udah nanti aku kasih kartu kredit kamu balik ya," kata Adit dengan cepat.
"Ya. Nggak masalah lah Sayang kalau misalkan kartu kredit itu ada di kamu. Kan sama aja."
"Ya masa setiap aku belanja nanti ada laporan ke handphone kamu. Kalau misalkan aku mau bikin kejutan buat kamu jadinya nggak surprise lagi dong," kata Adit.
Ah, Bagaimana mungkin dia bisa ceroboh seperti itu. Seharusnya sebelum memberikan kartu kredit itu kepada Lisna, Adit sudah memeriksanya terlebih dahulu. Sial!
"Ya udah deh terserah kamu aja. Aku mungkin pulang malam ya. Soalnya hari ini ada beberapa klien aku yang meminta dibuatkan desain. Mereka baru bisa datang ke butik sore. Maklumlah mau nikah sama artis ... jadi ya begitu deh," kata Kalina.
"Iya, nggak masalah sayang. Kamu hati-hati ya pulangnya," kata Adit.
"Kalau kamu pulang duluan tolong suruh Mbak Nur untuk kasih makan Cindy buah, ya. Cindy itu kalau nggak diingetin selalu lupa makan buah-buahannya," kata Kalina.
"Iya sayang kayaknya aku pulang cepat kok hari ini. Ya udah, aku mau cek pembukuan dulu ya. Sampai nanti malam," kata Adit.
Adit pun cepat-cepat menutup telepon. Hari ini Dia terpaksa mampir lagi ke apartemen Lisna untuk mengambil kembali kartu kreditnya. Dia tidak mungkin menggunakan kartu kredit milik Kalina untuk dipakai Lisna terus-menerus.
"Gimana Mbak Kalina, apa kata suami Mbak?"
"Katanya sih dia habis pakai kartu kredit itu untuk belanjain temennya. Tapi yang aku nggak habis pikir Mas Adit itu kan jarang punya temen cowok. Seingatku teman dekat Mas Adit itu hanya Robby. Robby juga belum punya istri," kata Kalina.
Rina, asisten Kalina mengerutkan dahinya. Sebenarnya Rina sudah mengetahui jika Adit memiliki simpanan. Wanita itu pernah melihat Adit jalan bersama dengan seorang wanita sambil bergandengan tangan mesra.
Tetapi, Rina enggan untuk memberitahu hal itu kepada bosnya. Rina bukanlah tipe orang yang suka mengadu dan juga ikut campur dengan urusan orang lain.
Tetapi, jika sudah begini rasanya dia tidak tega. Namun dia harus memberitahu Kalina dengan cara yang berbeda.
"Mbak, dulu kan Pak Adit itu menikah dengan mbak nggak punya usaha apa-apa. Ya aku tahu Pak Adit itu orang yang baik ya. Dia juga kelihatan penyayang dan juga pekerja keras. Tapi nggak ada salahnya loh kita sebagai istri berhati-hati. Selama ini kan Mbak selalu percaya sama Pak Adit. Nggak ada salahnya Mbak kalau mbak sadap aplikasi chatnya. Ya Kita kan nggak tahu ya Mbak kalau misalkan di luar sana ada pelakor-pelakor yang mendekati Pak Adit. Mbak nanti kan bisa tahu Pak Adit meladeni atau enggak," kata Rina.
Kalina memicingkan matanya, tidak biasanya asistennya berkata seperti itu. Dia sangat mengenali Rina dengan baik. Gadis yang masih single dan sudah 6 tahun menjadi asistennya itu tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Bahkan sangat jarang berkomentar tentang masalah pribadinya. Tetapi kali ini mengapa Rina terlihat berbeda dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Rina, saya tahu sifat kamu itu seperti apa. Kamu orang yang tidak pernah mau ikut campur urusan orang lain. Tapi hari ini tiba-tiba saja kamu membicarakan soal mas Adit. Apakah kamu tahu sesuatu tentang suami saya?"
"Eh, itu ... Ng- nggak kok, Mbak. Aku tuh cuman kebanyakan nonton infotainment aja Mbak. Beberapa artis kan digosipkan punya simpanan wanita di luar sana. Bahkan ada artis perempuan yang selingkuh sama suami orang. Jadi nggak ada salahnya kan kalau sebagai seorang istri kita jaga-jaga, Mbak. Apalagi Mbak kan punya usaha yang cukup besar dan juga Mbak wanita karir yang sukses. Saya cuman-"
"Saya nggak suka kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari saya. Saya kenal kamu itu bukan sehari dua hari Rina. Kita sudah bekerja sama selama enam tahun. Jadi, lebih baik kamu katakan kepada saya apa yang kamu ketahui," kata Kalina dengan tegas.
Rina menghela nafas panjang. Pada akhirnya dia pun tidak tega kepada Kalina. Wanita di hadapannya itu sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Sebagai karyawan dan adik angkat yang baik, Rina Tentu saja tidak rela jika atasannya itu diperlakukan tidak adil.
"Maafkan aku, Mbak. Tapi, aku bilang gini untuk kebaikan Mbak juga. Lebih baik, mbak selidikin deh Mas Adit itu. Aku sudah dua kali memergokinya pergi bersama seorang perempuan yang sama. Tapi, Mas Adit nggak lihat aku waktu itu. Awalnya aku pikir itu bukan Mas Adit dan mungkin kebetulan aja. Tapi, pada saat kedua kalinya aku melihat, aku ...."
"Oke saya ngerti. Ya udah kamu lanjut kerja lagi. Saya mau selesaikan desain ini buat klien.
Rina pun segera mengganggukan kepala dan meninggalkan ruangan kerja Kalina dengan perasaan yang tidak enak. Sementara Kalina sendiri Langsung menghembuskan nafas dengan berat ketika asistennya itu meninggalkan ruangannya.
"Rasanya, nggak mungkin Mas Adit selingkuh. Selama ini dia nggak pernah menyembunyikan apapun dari aku. Dia juga nggak pernah nggak pulang ke rumah. Kalau sesekali dia pergi malam aku tahu teman-temannya siapa. Tapi ...."
Kalina terdiam, otaknya sibuk berpikir. Dia merasa jika saat ini dia harus menyelidiki semuanya. Dia tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini dan menerka-nerka sesuatu yang tidak pasti.
Wanita pintar itu pun kemudian memainkan ponsel di tangannya dan menghubungi seseorang lewat chat. Dia tahu langkah awal apa yang harus dia lakukan untuk menyelidiki semuanya.
"Sepertinya aku harus melakukan saran yang diberikan oleh Rina. Mungkin aku harus menyelidiki Mas Adit mulai dari ponselnya," gumam Kalina.
Seketika, konsentrasinya buyar. Untung saja design yang ia persiapkan untuk klien sudah selesai.