Bab 2

"Ma ... Ara nggak mau terima pernikahan ini," sahut Ara begitu mereka--- Axel, Azura, Luna dan Ara sampai di halaman rumah mereka sepulang dari rumah Keluarga Suryantara.

Azura melirik sinis Ara yang nampak menggusah sebal. Tangannya menarik lengan sang putri keras atau bisa dibilang menekannya kuat seolah hendak meremukkan.

"Saya nggak butuh penolakan kamu." Azura menjawab tegas.

Berikutnya, perempuan tua itu memasuki rumah bersama Luna. Menyisakan Axel yang memandangnya kasihan. Pria itu sangat sadar adiknya yang satu ini begitu dibedakan. Tapi, Axel tidak pernah bertanya kenapa atau paling tidak sedikit membelanya.

"Maaf, Dek. Kak Axel nggak bisa bantu kamu dalam hal ini," sahut Axel sembari mengusap lembut puncak kepala Ara.

Ara menghela berat berikutnya menyunggingkan senyum tipis hingga lesung pipitnya muncul. "Iya, nggak papa kok."

Mungkin, mulut Arabella bisa berkata demikian. Tapi, tidak dengan hatinya yang sudah menjerit meminta keadilan.

'Lalu jika bukan Kak Axel, siapa yang mau nolong Ara?!' teriak perempuan dengan dress putih selutut itu dalam hati begitu frustasi.

Bayangkan saja, sudah beberapa tahun dia mengabdi di perusahaan sang Mama. Mengurus banyak cabang keluarga mereka sendiri tanpa bantuan keluarga yang lainnya. Lalu, malah Axel yang dijadikan pewaris perusahaan. Pria itu juga yang mendapat jabatan tinggi setelah segala pencapaian yang dihasilkan Ara. Sedangkan dirinya, tetap pada jabatan yang sama--- Sekretaris Kakaknya.

Okey, Ara bisa menerima hal itu. Tidak apa-apa tidak mendapat jabatan, toh dia adalah perempuan. Bekerja di kantor bukan hal yang bakal dikerjakannya selalu ketika sudah menikah nanti. Tentu saja atas semua hal yang dilakukannya, Ara mengambil upah layaknya karyawan pada umumnya. Azura memperlakukannya di kantor seperti bukan anaknya sendiri.

Ara tetap terima. Sampai Azura membedakan kasih sayangnya secara gamblang antara Luna -Axel dan Ara, perempuan itu tetap mencoba berlapang dada.

Tapi, kali ini masalahnya berbeda. Dia bakal menikah dengan pria sombong dan seperti Yutaka Hikaru Suryantara loh. Pria yang setelah Ara selidiki akun sosmednya selama acara tadi rupanya adalah titisan playboy yang gonta-ganti pacar beberapa hari sekali.

Ara benar-benar tidak akan mau menikah dengan pria seperti itu!

Masuk ke rumah, langkahnya justru kembali dicegah oleh Azura yang memanggilnya untuk duduk guna bicara di ruang tengah. Ara menghampiri dengan malas-malasan.

"Saya mau kamu nikah sama dia, kamu harus terima kalau pria playboy itu suami kamu." Azura menitah tegas.

Ara memandang sang Mama tidak habis pikir. Dia tahu Yuta adalah pria yang tidak cukup baik. Lalu, kenapa Mamanya malah semakin berniat melihatnya menikah dengan pria itu?

"Mama aja udah tau dia playboy, ya aku nggak mau lah." Ara menolak mentah-mentah.

"Kalau kamu nggak mau, yasudah, jangan anggap saya Mama lagi. Saya sudah bukan Mama kamu," putus Azura final.

"Kok gitu sih, Ma? Kenapa nggak suruh si Luna aja? Kenapa harus aku?" tanya Ara heran.

Azura menyeringai.

"Nggak mungkin saya relain anak saya sendiri buat masuk ke kandang buaya."

Ara menghela napas kasar. 'Terus kalau aku berarti rela-rela aja gitu?' batin perempuan itu menyadari hal menyakitkan dari arti kalimat yang dilontarkan sang Mama.

"Yasudahlah, mau nolak juga nggak bisa. Aku terima aja." Baru saja Ara akan berbalik, tapi, Azura kembali mencekal lengannya.

"Satu lagi, jangka pernikahan kalian 6 bulan. Kalau dalam 6 bulan kamu nggak bisa rebut atau paling nggak jatuhin perusahaan keluarga Suryantara, kamu juga sudah bukan anak saya lagi." Azura memutuskan semena-mena.

Bari saja akan menyanggah, Azura lebih dulu melenggang meninggalkan Ara di ruang tengah sendiri. Perempuan tua menyebalkan yang nyatanya Mamanya tersebut berjalan sembari bersenandung kecil--- seolah kesulitan Ara memang bukan masalah besar baginya.

"Oh iya, besok Yuta bakal jemput kamu ke rumah jam 9 pagi. Siap-siap, ya! Kalian harus pendekatan dulu baru bisa nikah, sekalian saya kasih kamu cuti kerja deh. Jarang-jarang 'kan Mama kamu ini baik begini?"

Ara mengepalkan jemarinya guna meredam amarah yang hampir meledak. Baik dia bilang? Mana ada seorang Mama yang baik tapi tega menyerahkan anaknya sendiri pada seorang buaya darat macam Yuta.

Karena merasa terlalu lelah, Ara melangkah menaiki tangga cepat guna kembali ke kamarnya. Besok, hari-hari menyebalkan bakal datang lebih banyak daripada biasanya. Jadi, Ara setidaknya sudah mempersiapkan diri.

"Semangat, Arabella!" teriaknya pada diri sendiri.

****

Ara dan Yuta duduk di dalam mobil berdua. Jam 9 tepat, pria itu sudah memarkirkan mobil mewahnya di halaman rumah.

Tentu saja dengan tujuan menjemput Ara dalam rangka pendekatan a.k.a PDKT seperti perintah Pak Devardo--- ayahnya. Tapi, yang dijemput malah tidak menunjukkan reaksi berarti begitu Yuta menjalankan mobil dan memberhentikannya di ujung gang komplek perumahan.

"Kamu mau jalan-jalan sama saya atau mau pergi cek gigi yang sakit ke dokter? Mukanya enggak keren banget." Yuta bertanya sekaligus menyindir.

"Apa yang perlu disenengin dari jalan berdua sama playboy kayak kamu?" tantang Ara berani.

Yuta terkekeh geli.

"Kalau kamu tahu saya playboy, berarti kamu tertarik sama saya. Soalnya kamu pasti habis stalker akun sosmednya saya." Tebakan pria agak sipit itu kontan membuat Ara menoleh kepadanya dan melotot tidak terima.

"Saya merasa pendosa paling jahat kalau sampai suka sama kamu," jelas Ara tidak mau kalah.

"Jaga bicaramu, Nona Hanzie. Kesempatan minta maaf itu ada banyak, loh. Tapi jika berurusan dengan saya, kesempatanmu sudah hangus detik ini."

Bukannya merasa takut, Ara justru malah semakin mengejek dengan terbahak nyaring.

"Oh lihatlah wajah memerahmu! Hanya dikatai playboy saja sudah naik darah begitu." Ara semakin mengejek.

"Terserah kau mau mengoceh apa, Nona. Yang jadi masalah, kita akan jalan-jalan ke mana sekarang? Ayah menyuruh saya untuk mengajakmu bersenang-senang kemana saja." Yuta bertanya mencoba mengalah. Padahal dalam hati, ingin sekali menjambak rambut perempuan menyebalkan di sampingnya.

"Tidak usah kemana-mana, di sini saja. Yang penting Pak Devardo dan Mama Azura tidak melihat kita." Ara memutuskan malas-malasan.

"Tapi---"

"Sudah, jangan mengajak saya berdebat, Tuan Suryantara. Saya ngantuk, mau numpang tidur dulu, ya."

Ara segera memotong kalimat pria itu sebelum Yuta mengajaknya adu mulut lebih banyak. Ara sedang tidak cukup berniat berdebat detik ini.

Semalaman dia memikirkan cara agar tidak jadi menikah dengan pria playboy di sampingnya. Tapi, sampai pagi pun dia tidak menemukan caranya.

Justru, yang Ara dapati hanya sakit kepala karena perempuan itu yang sangat jarang begadang. Sekalinya begadang, malah memikirkan hal unfaedah seperti Yuta dan nasib masa depannya yang bakal jadi istri pria itu.

Menyebalkan sekali!

Membiarkan Yuta yang memandangnya sebal, Ara sepersekian detik kemudian sudah terlelap. Dengkuran halusnya bahkan terdengar hingga telinga Yuta. Membuat pria itu yang tadi sempat berniat jahil mengganggu tidur Ara, malah mengurungkan niatnya.

Ara sepertinya memang sangat mengantuk.

Bab 3

Arabella mendengkus sebal begitu hari ini harus bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi. Pagi-pagi sekali, Yuta sudah diperintahkan sang Ayah untuk menjemput Ara guna mencari gaun untuk pernikahan mereka yang bakal diadakan beberapa hari lagi.

Beberapa minggu terus dihadapkan dengan pria sipit di sampingnya, Ara cuma bisa menghela pasrah. Bagaimana tidak? Memang dia menjemput Ara untuk pergi keluar bersama. Tapi, di pertengahan jalan pasti bakal ada perempuan lain yang naik juga ke mobil. Tentu saja itu adalah pacar Yuta. Lalu, Ara bakal disuruh pindah ke kursi belakang kemudian terpaksa menyaksikan kemesraan menjijikkan pria tersebut dan pacarnya.

"Kali ini kamu nggak mau jemput pacar kamu lagi?" tanya Ara begitu memasuki mobil mewah Yuta.

"Tidak bisa, Ayah menyuruh saya buat pergi ke sebuah butik milik kenalan dia untuk dibuatkan baju pernikahan kita." Yuta menjelaskan sembari masih sibuk menyetir.

"Kita---" Kalimat Ara terpotong.

"Iya, Sayang. Kenapa?" Yuta mengangkat ponselnya yang berbunyi kemudian menempelkan di telinga sebelum Ara menyelesaikan kalimatnya.

"...."

"Tentu saja aku mencintaimu, 'kan? Memangnya kenapa?" Arabella rasanya ingin muntah sekarang juga mendengar kalimat pria itu.

"...."

"Tidak bisa, Sayang. Hari ini aku sedang ada urusan."

"...."

"Oh yasudah kalau tidak mau mengerti, kamu kira perempuan kamu saja? Mulai detik ini, kita selesai sampai di sini. Jangan hubungi saya lagi!"

Ara melotot tidak habis pikir dengan perubahan gaya bicara dan nada suara pria itu. Gampang sekali dia memutuskan pacarnya. Seolah ganti pacar sama dengan ganti baju. Eh, tapi Ara tahu sih, selingkuhan Yuta terlalu banyak. Jadi, berkurang satu tidak akan cukup berpengaruh baginya.

"Makannya kalau punya pacar itu jangan terlalu banyak, jadi kalau mau menyelesaikan hubungan harus satu-satu dulu. Ribet 'kan jadinya," nasehat Ara sok bijak.

"Itu cuma prinsip orang yang tidak laku, dan dari prinsipmu itu saya sadar kalau kamu memang setidak laku itu." Yuta mendecih meremehkan.

"Saya memang tidak cukup cantik, tapi saya juga tidak cukup buruk untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal bernama pacaran yang membuang-buang waktu seperti kamu." Arabella membela diri dengan nada tenang.

"Halah, bilang saja tidak laku. Mana ada perempuan tepos seperti kamu bakal dilirik sama pria," sindir Yuta terang-terangan.

Ara kontan memeluk tubuhnya sendiri waspada. "Kamu memperhatikan hal yang seharusnya tidak pantas kamu lihat. Lancang sekali!" teriak Ara murka.

Yuta terkekeh sinis.

"Percaya diri sekali, lagipula untuk apa memandangi tubuh gadis tepos sepertimu. Membuat sakit mata saja."

Ara baru saja akan kembali melakukan pembelaan diri kalau saja mereka tidak segera sampai di butik yang dimaksud. Tanpa berkata, Yuta segera turun. Ara mengekori saja dalam diam.

"Ohayou, Yuta-kun. Lama tidak bertemu, ya." Baru memasuki butik, Yuta sudah dipeluk oleh seorang perempuan tua berwajah seperti orang jepang.

"Doumo, Oba-san. Gomen ne, baru bisa mampir ke sini lagi." Yuta berucap penuh sesal.

"Daijoubu, kamu datang saja Bibi sudah sangat senang ... eh, ini calon istrimu, 'kan?" tanya perempuan cantik itu sembari tersenyum hangat ke arah Ara.

Ara mengangguk kikuk. Agak bingung juga dengan bahasa yang digunakan kedua orang di depannya. Yuta bukan hanya keturunan Jepang, tapi juga bisa bahasa Jepang ternyata.

"Ara Ara!" ucap perempuan itu yang membuat Ara menggaruk kepala bingung.

"Dia bilang 'sini sini!', " jelas Faraz berbisik pada Ara.

"Ooo ... okey," sahut Ara linglung. Berikutnya, gadis itu pasrah saja ditarik-tarik Bibi Yuta yang ternyata bernama Kana tersebut guna diukur sekaligus ditanyai banyak hal.

****

Hari pernikahan sudah tiba. Ijab kabul sudah dilakukan. Hanya tinggal resepsi pernikahan di sebuah gedung yang disewa Pak Devardo dengan tamu undangan yang lumayan banyak.

Tidak ada binar bahagia dalam wajah Ara. Perempuan itu hanya menyorot kosong tamu yang terus berdatangan. Berbeda sekali dengan Yuta yang masih bisa haha-hehe bersama sahabat-sahabatnya yang lain.

Sedangkan, Ara bisa dibilang tidak mempunyai sahabat ataupun teman dekat. Hanya ada rekan sekantor dan itupun mereka bertemu ketika di jam bekerja saja. Tapi, setidaknya Ara lumayan akrab dengan mereka karena gadis itu yang terkanal baik dan juga ramah oleh para pekerjanya.

"Waah ... Kak Ara cantik banget deh. Ihh nggak nyangka ya udah nikah aja." Febi--- salah satu rekan sekantor yang dulu menjadi sekretarisnya, memuji heboh.

Ara memeluk gadis itu sembari tersenyum senang.

"Kamu dateng?" heran Ara dengan wajah bahagia. Pasalnya, dari sekian banyak rekan sekantor, hanya Febi yang paling dekat dengan Ara meski mereka hanya bertemu saat bekerja saja.

"Tentu saja aku datang lah, Kak. Ya meski hampir nggak bisa datang sih, soalnya mendadak banget. Pantes aja meski kerjaan kantor lagi banyak-banyaknya, Kak Ara nggak pernah dateng ke sana lagi." Febi curhat dengan wajah cemberut.

"Ya maaf, Feb. Aku juga kaget karena secepet ini." Ara menyahut lesu.

"Yaudah ya, Kak. Aku mau nyusul si Bima dulu," pamit Febi terburu-buru.

"Eh ... kamu dateng sama dia? Kalian jadian?" tanya Ara kaget.

"Ya ... gitu deh. Yaudah, Kak. Aku pergi dulu!"

Ara menyunginggkan senyum begitu Febi menghilang di antara kerumunan. Rasanya bahagia sekali melihat mereka akhirnya bersatu. Selama ini, memang cuma Ara yang tahu seberapa mereka berdua saling suka sejak awal bekerja.

"Wajahmu cepat sekali tersenyum hanya karena melihat orang lain jadian, lah melihat kita duduk di pelaminan begini sedari tadi, kamu malah murung. Seolah menikah dengan saya adalah neraka saja." Yuta berbisik di telinga Ara.

Ara mendelik sinis.

"Memang, memang neraka." Ara ikut berbisik sembari berjinjit agar bisa menyejajarkan tingginya dengan telinga pria itu.

Hal itu justru terlihat romantis di mata para tamu yang hadir di sana.

"Lihatlah, mereka bisik-bisikan. Aih romantis sekali!"

"Istrinya cantik ya, tidak salah Pak Devardo Suryantara memilih dia menjadi menjadi calon menantu."

"Dengarlah, kau disebut cantik. Padahal tubuhmu tidak menggoda sama sekali, tepos begitu. Selera orang-orang di sini memang jelek."

"Yutaka Hikaru sialan!" sinis Ara sembari mencubit pinggang Yuta hingga pria itu meringis kesakitan.

"Di hari pertama kita resmi menjadi suami istri, kau malah sudah berani menganiayaku begini, ya. Awas saja, Nona Hanzie!" ancam Yuta sebal.

"Awas apa? Saya nggak takut sama buaya darat kayak kamu."

Keduanya terus berdebat sampai Aldo tiba-tiba datang dan mengulurkan tangan ke arah Ara. Gadis pendek itu mendongak menatap wajah sahabat Yuta yang terlihat muram, tidak sepeerti biasanya.

"Tidak mau bersalaman?" tanya Aldo masih mengulurkan tangan di hadapan Ara.

"Eh bukan begitu," Ara segera meraih tangan pria itu, "terimakasih ..."

"Aldo, panggil saya Aldo. Salam kenal ya, Arabella Belinda Hanzie." Ara mengangguk singkat menanggapi kalimat pria itu.

Berikutnya, Aldo menjabat tangan Yuta tanpa berucap apa-apa. Tapi, sebelum pergi, pria itu berbisik pada telinga sahabatnya.

"Ternyata saya kalah cepat, padahal saya suka Istri kamu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED