Bab 2

Ummi mengerjap-ngerjapkan matanya. Siapa bocah ini?

"Ehmm ... kamu siapa?" tanya Ummi bingung bercampur heran.

Gadis kecil itu masih saja memeluknya, membuatnya tambah bingung, tentu saja.

"Sa- sayang, kamu siapa? Kamu kesini sama siapa? Mama kamu mana?"

Lagi-lagi bocah itu masih tak menjawab.

"Ummi ...." Bocah itu kini mengangkat wajahnya.

"Emmm?"

Anak itu tahu namanya? Tapi kenapa dia sendiri merasa tak pernah kenal dengan anak ini? Ummi berusaha mengingat-ingat dan berpikir keras. Siapa tahu anak ini adalah anak dari salah satu staf Inanta Group yang pernah dibawa orang tuanya kesini. Tapi siapa?

Anak itu menatap Ummi dengan pandangan memelas yang membuat orang kasihan. Sementara sebaliknya Ummi menatapnya dengan dahi berkerut.

"Ummi ...."

Bocah itu tetap memanggil namanya. Dan kali ini sambil bersidekap dada, Ummi menatap anak itu dengan raut tegas.

"Sayang! Kamu tidak boleh memanggil nama orang yang lebih tua seperti itu, ya! Itu dosa! Panggil aku Kakak! Atau setidaknya Tante!" omel Ummi, pura-pura tegas.

"Ummi ... Ais lindu (rindu)," lanjut bocah itu dan kini membenamkan kembali kepalanya dalam pelukan Ummi.

Tunggu, tunggu, tunggu! Sebenarnya ada apa sih ini? Rindu katanya? Memangnya sebelumnya mereka pernah dekat, ya? Meski heran tetapi kemudian Ummi pasrah saja dipeluk oleh gadis kecil itu. Dielus-elusnya kepala yang ditutupi hijap itu.

"Ya sudah, ya sudah. Nanti kakak antar kamu cari orang tuamu, ya. Tapi kakak lanjutin makan dulu, oke?" kata Ummi sembari menggendong anak itu agar duduk di pangkuannya.

Anak perempuan itu menatapnya dengan mata beningnya yang polos.

"Jadi namamu Ais?" tanya Ummi sambil menggulung mie ke sendok garpu plastik yang memang tersedia dalam kemasan mie instan berbentuk cup itu.

"Ummi lupa Ais, ya?" tanya bocah itu lugu terdengar agak sedikit kecewa.

Nah, sudah diajari memanggil kakak, eh masih saja ini bocah memanggilnya dengan nama. Ummi menghembuskan napasnya.

"He em. Lupa! Tapi, Sayang .... kamu jangan panggil Ummi donk. Kakak kan lebih tua. Panggil kakak, ya?" bujuk Ummi.

"Dak mau. Ais mau panggil Ummi. Ummi kan Umminya Ais!" Tak disangka gadis kecil itu menolak permintaan Ummi mentah-mentah.

Nah, nah loh? Umminya? Maksudnya? Jadi sekarang dia miliknya bocah ini, begitu? Ummi semakin tidak mengerti. Namun dari pada pusing, Ummi memilih untuk melanjutkan makannya dan menyuap mie yang telah bergulung di garpu tadi ke mulutnya.

"Ummiii, Ais uga lapaal (Ais juga lapar)," rengek gadis kecil itu lagi.

"Sayang, ini mie instan. Anak kecil nggak boleh makan mie. Nanti kalau Kakak sudah selesai makan, kita cari mamamu ya. Nanti biar mamamu yang belikan makanan. Soalnya Kakak nggak ada uang lagi buat belikan kamu makanan," ujar Ummi.

"Ais, matan itu nda apa-apa, Ummi. Ais lapal," pinta Aisyah lagi. Kali ini perutnya berbunyi dan seakan ikut menuntut Ummi untuk membagi jatah makanannya pada bocah itu.

"Benar nggak apa-apa makan mie? Nanti Kakak dimarahin sama mamamu, gimana?"

Ais menggeleng.

"Nda malah kok. Ummii ... bagi Ais, yaaa ..."

Yah ... padahal Ummi pun masih lapar, sudah ada saja yang memalak dia untuk memberikan jatah makan siangnya. Ya sudahlah, dia bagi sedikit saja untuk gadis kecil ini! Nampaknya, anak ini juga benar-benar terlihat lapar.

"Baiklah, kita bagi dua saja. Kalau gitu Kakak suap ya. Aaaa ... "

Ummi mengangakan mulutnya lebar-lebar untuk mengajari Aisyah agar membuka mulutnya juga.

"Gimana? Enak?" tanya Ummi.

Aisyah mengangguk.

"Aaaa .... lagi! Tapi walaupun enak, kamu nggak boleh sering-sering makan mie, ya! Orang besar aja nggak boleh makan mie sering-sering. Apalagi anak kecil loh," Ummi memperingatkan sambil menyuapkan lagi mie instan itu ke mulut Aisyah.

Aisyah dengan patuh mengangguk. Sungguh anak yang sangat manis. Rasanya Ummi ingin menculiknya sekarang. Padahal dia sejujurnya tidak terlalu suka dengan anak-anak. Tetapi anak ini benar-benar menggemaskan dengan mata bulat besarnya dan pipi chubby itu. Sampai Ummi rasanya ingin sekali mencubit pipi Aisyah.

***

Rapat itu akhirnya selesai dengan keputusan bulat yang diambil dari seluruh peserta rapat bahwa penanaman karet baru akan mulai dilakukan pada awal Februari. Hanif sebagai Chief Executif Officer tentunya yang mendominasi suara hingga peserta rapat manut dan mengikuti pendapat pejabat tinggi perusahan itu.

Begitu rapat itu usai, Hanif buru-buru keluar dari ruang rapat dan mendatangi Dian.

"Aisyah mana, Dian?" tanyanya sambil melihat sekelilingnya.

"Hah?" Dian yang sedari tadi sangat fokus pada pekerjaannya menginput data, spontan menjadi linglung. Namun begitu sadar, dia spontan memekik. "Astaghfirullah!! Aissss!!!"

Air wajah Hanif langsung berubah marah saat menyadari orang yang telah dia titipi putrinya sangat lalai.

"Apa maksudnya, Dian? Mana Aisyah?!!" tanyanya menahan geram.

"Tunggu,tunggu sebentar, Pak! Saya akan cari. Tadi dia ada di sini aja kok! Nggak kemana-mana. Ya Tuhaaan!!!" jerit Dian panik.

Jelas saja Dian merasa panik. Masa depannya yang cerah di perusahaan ini bisa terancam kalau terjadi sesuatu pada anak CEO ini. Meski Hanif bukanlah pemilik perusahaan ini, tetapi Hanif adalah wajah perusahaan yang bahkan lebih punya pengaruh jika dibandingkan dengan pemiliknya.

"Kamu itu gimana sih? Kamu bisa-bisanya lengah menjaga Ais!!! Kamu cari sekarang juga!!!"

"I-iya, Pak!"

Kepanikan langsung melanda Hanif, terlebih-lebih Dian saat tak menemukan Aisyah di mana-mana di lantai 54 ini.

"Gimana? Ada Ais apa nggak?" tanya Hanif pada Dian saat mereka kembali bertemu setelah berpencar mencari Aisyah.

"Be-belum, Pak! Ini saya udah nyari kemana-mana. Saya juga udah minta bantuan security untuk ikut bantu cari," kata Dian panik.

Hanif berkacak pinggang dengan sebelah tangannya dan mengusap wajahnya dengan tangannya yang satunya lagi, pertanda dia sedang merasa kalut saat ini.

"Hubungi pihak announcement sekarang! Buat pengumuman anak hilang! Saya nggak mau tahu, kalau ada apa-apa dengan Ais, kamu mesti tanggung jawab ya, Dian!"

Arghhhh!!! Matilah aku! pikir Dian panik. Dia harus menemukan Aisyah bagaimana pun caranya.

Tak menemukan Ais di lantai 54, Hanif pun memutuskan untuk mencari di lantai lain gedung itu, sekalian dia ingin ke ruang monitor CCTV untuk melihat dimana sebenarnya putri kecilnya itu berada.

Tak menggunakan lift, Hanif memilih turun lewat tangga, siapa tahu Aisyah bermain di tangga karena bosan. Namun hingga turun beberapa lantai gadis kecil nakalnya itu tetap tak kelihatan juga.

Hanif sudah berada di tangga darurat lantai 50 saat Dian meneleponnya. Dengan sigap Hanif mengangkat telepon itu.

"Gimana? Ais ketemu?" tanyanya cepat.

"Saya sudah berada di ruang monitor CCTV, Pak. Bapak dimana? Aisyah terlihat ada di ruang pantry," lapor Dian. Rupanya dia telah lebih dulu sampai di ruang monitor CCTV dengan menggunakan lift.

"Pantry?!!" tanya Hanif sedikit bingung bercampur lega.

"Iya, Pak! Tetapi ... ya Tuhaaan? Kenapa itu??" Tiba-tiba Dian memekik panik histeris.

"Kenapa? Kenapa Dian? Apa yang terjadi?" tanya Hanif ikut panik.

"Nggak tau, Pak! Nggak tahu Ais kenapa. Ya ampun. Pak ...."

***

Bersambung ...

Bab 3

"Jadi namamu Aisyah?" tanya Ummi sesaat setelah mie instan dalam kemasan cup yang baru saja mereka makan itu telah habis.

"Hu uh. Masya Ummi lupa syiihh?" protes Aisyah.

"Kakak Ummi loh bukan Ummi. Nggak sopan, tau!" omel Ummi lagi masih keberatan dipanggil dengan nama saja oleh Aisyah.

"Ummi masya dipanggil kakak syiih?" balas Aisyah juga dengan mimik keberatan.

"Ya harus donk. Kakak Ummi, gitu!"

Kesalahpahaman di antara mereka masih saja berlanjut. Ummi yang dimaksud oleh Aisyah pastinya adalah ibu, sementara Ummi mengira Aisyah memanggilnya dengan panggilan nama saja tanpa tutur kata yang benar pada orang dewasa. Entah siapa orang tua anak ini, bisa ngajarin anak berhijab, tapi tak bisa mengajari anak memanggil orang dewasa dengan tutur kata yang benar, batin Ummi.

"Udah kenyang, kan? Sekarang kamu bilang, orang tua kamu kerja di bagian mana? Kakak antar kamu kesana!" ujar Ummi lagi.

"Ndak mau. Ais masyih mau main di syini," rengeknya.

"Aisyah, sekarang udah mulai sore, Sayang! Kakak juga masih mau kerja, biar cepat pulang. Udah deh, Kakak antar kamu ke mama kamu. Jadi Mama kamu ruangannya di mana?" tanya Ummi mulai sebal.

Aisyah menunjuk langit-langi pantry dengan jari telunjuknya.

"Di atas, hihihi!!!" jawab Aisyah dengan tawa khas bocahnya itu.

"Di atas?" tanya Ummi sambil manggut-manggut. "Ok, Kakak antar kamu ke atas! Ayo!"

Ummi menurunkan Aisyah dari pangkuannya. Setelah membuang cup mie instan ke tempat sampah dan mengelap meja yang sedikit kotor akibat tertumpah kuah mie, akhirnya Ummi siap mengantar anak itu ke atas.

"Ayo .... astaga, kamu kenapa, Dek ...?" pekik Ummi histeris.

Aisyah nampak berjongkok di lantai sambil memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari keningnya.

"Syakiiiit .... Ummi, sakiiiit. Pelut Ais syakiiitt ...," rintih gadis kecil itu.

"Dek! Dek!! Astaga, kamu kenapa? Tolong!Aduuuh ...."

Ummi jadi panik sendiri. Dia berniat bangkit dan ingin mencari pertolongan di luar, tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya lagi karena tak tega meninggalkan Aisyah sendiri.

"Please, Dek! Jangan nakut-nakutin Kakak," seru Ummi panik.

Bagaimana ini? Teman-temannya sesama OB dan Office Girl pun entah kenapa saat ini satu pun tak ada yang terlihat.

Melihat kondisi Aisyah yang semakin mengucurkan keringat, gadis itu pun akhirnya memutuskan mengangkat tubuh Aisyah dan mengangkatnya keluar dari pantry.

Sementara itu di ruang monitor CCTV, Dian yang lalai dan menyebabkan putri bosnya hilang terbelalak melihat seorang Office Girl yang terlihat menggendong Aisyah. Dia yang sedang bertelepon dengan sang CEO itu menjadi memekik dan tak sadar telah membuat seorang ayah itu menjadi khawatir dan panik akan keadaan putrinya.

"Kenapa? Kenapa Dian? Apa yang terjadi?" tanya Hanif ikut panik.

"Nggak tau, Pak! Nggak tahu Ais kenapa. Ya ampun. Pak ...."

"Kenapa? Cepat ngomong!!! Ais kenapa?!!" bentak Hanif.

Hanif yang sebenarnya jarang bersikap kasar pada orang lain apalagi pada wanita, kali ini menjadi seperti orang yang kehilangan kontrol.

"I-itu. Ada Office Girl yang menggendong Ais dari ruang pantry, Pak. Sepertinyanya ada sesuatu yang terjadi pada Ais," ujar Dian melaporkan.

"Sekarang kamu bilang, dia dimana? Mereka dimana?!!" desak Hanif menjadi tidak sabar.

"Anu ... mereka ada di lantai berapa, Pak?" tanya Dian, ia berpaling pada petugas monitoring CCTV.

"Lantai 18, Mbak. Sekarang mereka kelihatannya akan naik lift," lapor petugas lelaki itu.

Hanif yang mendengar percakapan Dian dengan petugas itu di telepon menimpali dengan berteriak.

"Cek CCTV lift, mereka menuju ke lantai mana!" bentaknya.

"I-iya, Pak! Mereka menuju lantai berapa, Pak?" tanya Dian lagi pada petugas itu.

"Lantai dasar, Mbak," jawab petugas itu.

"Lantai sa ..."

Tuuttt .... tuuut ...

Belum selesai Dian berbicara, Hanif telah memutuskan sambungan telepon. Hanif telah mendengar jawaban petugas itu di telepon dan dia tak ada banyak waktu untuk mendengar jawaban ulang dari Dian. Dan kini dengan setengah berlari, Hanif melompati anak-anak tangga, bahkan melompati sampai tiga anak tangga sekaligus demi agar bisa turun dan mencapai lift.

Beralih ke Ummi, dia begitu panik dengan keadaan Aisyah. Anak itu nampaknya merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya hingga dia bahkan tak kuat lagi untuk menangis dan merengek. Hanya sesekali terdengar suara rintihan dan kadang-kadang memanggil namanya.

"Ummi .... syakiiit ...." rintih Aisyah lirih dengan mata terpejam dan wajah terlihat meringis kesakitan.

Pikiran Ummi tak lagi jernih saat ini. Entah mengapa yang terpikirkan saat ini adalah segera membawa Aisyah ke rumah sakit. Tak terpikir lagi untuk memanggil security atau yang lainnya, yang kira-kira bisa membantunya. Seseorang yang tidak tahu mungkin akan berpikir kalau dia adalah ibu dari anak itu melihat tingkat kepanikan yang tinggi dan sangat terukir jelas di wajahnya.

"Sabar, Sayang. Kakak akan bawa kamu ke rumah sakit," ujar Ummi mencoba menenangkan sambil tangannya semakin erat menggendong Aisyah di pelukannya.

Dengan susah payah, Ummi membawa Aisyah hingga ke parkiran di mana dia memarkirkan sepeda motornya. Dan dengan penuh keyakinan masih dengan menggendong bocah itu di depan, Ummi memutar kunci dan menyalakan motornya.

"Sayang, pegangan ya! Peluk Kakak yang erat," suruhnya sambil menuntun tangan Aisyah untuk memeluk pinggangnya.

Hanya selisih beberapa detik, saat Ummi mulai menjalankan sepeda motornya, Hanif keluar dari dalam gedung dan berteriak memanggil Aisyah yang telah dilarikan oleh Ummi ke rumah sakit.

"Aissss!!!" seru Hanif.

Tak menyerah begitu saja, Hanif pun segera mendatangi security yang berjaga di depan pintu gedung.

"Pinjam motormu! Aku nggak bawa kunci ke sini!"

Security itu langsung memberikan kuncinya tanpa berniat bertanya macam-macam pada Bos CEO itu.

"Ini, Pak! Motornya ada di dekat situ!" tunjuk security itu.

Tanpa banyak babibu, Hanif pun langsung merampas kunci itu dari pemiliknya.

"Aku pinjam dulu, nanti kubalikin!" katanya.

"Nggak apa-apa, Pak. Pakai aja! Jangan lupa helmnya."

Sebelum menyalakan mesin motor, Hanif menyempatkan diri untuk menelepon Dian. Tak lama telepon itu pun diangkat oleh karyawati itu.

"Pak, gimana ..."

"Dian! Kamu cari tahu siapa office girl yang membawa Aisyah itu. Kamu cari nomor handphonenya, kamu telepon dia dan tanya kemana dia membawa Aisyah!" perintah Hanif.

"Baik, Pak! Tunggu sebentar, saya akan cari tahu," ujar Dian menjawab suruhan dari atasannya itu.

"Ku tunggu!"

Setelah mengatakan itu, Hanif pun langsung menyalakan mesin motor dan membawanya ke arah jalan kemana Aisyah dibawa oleh Office Girl tak dikenalnya itu.

Beberapa jauh keluar dari gedung Inanta Group, Hanif tak lagi sempat melihat kemana putrinya Aisyah dibawa oleh wanita itu. Semoga Dian segera dapat menemukannya, harapnya. Dan benar saja, tak lama panggilan telepon dari Dian pun telah menggetarkan ponselnya yang berada di dalam kantong.

"Pak, saya sudah cari tahu. Office Girl itu bernama Ummi Aida, dia ..."

"Tidak perlu kasih tau identitasnya dulu. Kamu sudah telepon dia belum? Kemana dia membawa Ais?" tanya Hanif tak sabar.

"Sudah, Pak. Saya sudah telepon. Katanya dia bawa Aisyah ke rumah sakit Rindu Ibu," jawab Dian.

****

Bersambung ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED