"Maaf, Den. Saya ndak tahu, di mana kamar Den Bian."
"Tepat di ujung lorong sana, itu kamar Abian! Bawa putraku ke kamarnya dan layani dia dengan baik karena mulai detik ini, kamu adalah budak yang harus melayani semua keinginan putraku! Termasuk urusan ranjangnya!"
Setelah berkata demikian, wanita paruh baya itu segera berlalu untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti ketika melihat sang putra dituntun oleh Nada. Sementara wanita belia itu nampak meneteskan air mata, seiring kepergian wanita paruh baya yang merupakan ibu mertuanya, yang sama sekali tidak mempedulikan perasaan Nada. Nada merasap
begitu terhina, tetapi sayangnya dia tidak dapat berbuat apa-apa.
"Tidak usah menangis, Dik, karena itu percuma. Jalani saja peranmu sebagai istri adikku. Kamu boleh datang padaku jika kamu butuh sandaran, kalau ada yang menyakitimu."
Kata-kata yang kemudian diucapkan oleh seorang pemuda yang diyakini Nada sebagai kakak Abian karena mereka berdua memiliki garis wajah hampir serupa, membuat Nada sedikit merasa lega. Setidaknya, masih ada yang peduli pada Nada di rumah besar keluarga Ndoro Brata. Nada pun tersenyum pada pemuda yang baru saja menghampiri mereka berdua.
"Terutama, jika kamu merasa kesepian karena adikku tidak mampu memuaskanmu di atas ranjang," lanjut pemuda itu dengan senyuman seringai di wajah, yang membuat Nada seakan terjun bebas dari ketinggian, lalu terempas oleh kenyataan jika di rumah besar ini tak ada seorang pun yang sudi membelanya.
"Astaghfirullah ... kupikir, dia adalah orang baik."
"Kamu beruntung sekali, Bro. Istrimu cantik dan masih polos," kata pemuda itu kemudian, pada sang adik.
"Kalau Mas Aji suka, ambil aja. Bian juga enggak minat sama sekali dengan gadis kampung seperti dia. Bian 'kan terpaksa nikahi dia karena enggak mau membuat keluarga menjadi malu," jawab Abian tanpa merasa berdosa. Padahal, apa yang baru saja dia katakan berhasil melukai perasaan Nada.
Wanita belia itu pun semakin tertunduk dalam. Sehina inikah menjadi anak dari orang yang tak punya apa-apa hingga seenaknya mereka menginjak-injak harga diri Nada?
"Hem, really? Tapi aku enggak yakin kamu akan menolaknya jika nanti kamu bisa melihat lagi, Bro. She is so beautifull," puji Aji seraya melirik Nada yang masih tertunduk.
"Tidak ada gadis yang secantik Zizi, Mas!" tegas Abian.
"Ck ... dia lagi. Udahlah, Bro. Kamu itu harus bisa move on."
"Enggak semudah itu, Mas. Mas tahu 'kan aku dulu seperti apa? Hanya Zizi yang benar-benar mampu menaklukkan hatiku.
Perkataan Abian barusan tentang Zizi yang diyakini Nada sebagai mantan tunangan pemuda itu, yang kabur tepat sepuluh hari sebelum pernikahan, membuat Nada merasa semakin insecure berada di sana.
"Mbak Zizi itu pasti sangat cantik dan berpendidikan tinggi. Dia juga pasti berasal dari keluarga kaya, seperti keluarga Ndoro Brata."
"Kalau Mas Aji mau pakai dia, pakai aja, Mas. Mau malam ini juga, silakan," lanjut Abian, membuat Nada seketika mendongak menatap pemuda yang baru saja menikahinya dengan tatapan tidak percaya.
"Sip, lah, kalau begitu," sahut Aji cepat.
Nada menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, Den! Sa-saya, saya bukan ...."
Aji tergelak melihat raut wajah Nada yang ketakutan. "Jangan khawatir, Manis! Aku bukan tipe pemaksa. Aku akan buat kamu jatuh cinta dan bertekuk lutut, lalu memohon sendiri padaku untuk kupuaskan."
Nada merinding mendengar perkataan Aji. "Sepertinya, kakaknya Den Bian ini orang yang sangat berbahaya. Aku harus berusaha untuk selalu menghindarinya."
"Maaf, Den Bian. Mari, saya antar ke kamar," ajak Nada kemudian, sengaja ingin menyudahi obrolan dengan Aji.
Nada buru-buru membimbing Abian untuk melanjutkan langkah menuju kamar pemuda itu. Wanita berwajah ayu tersebut terkesima ketika membuka pintu kamar yang berukuran luas dan melihat interiornya. Kamar Abian begitu mewah bak kamar hotel berbintang lima, yang pernah Nada lihat pada layar kaca di rumah.
Nada masih berdiri terpaku di ambang pintu ketika suara Abian membuyarkan lamunannya. "Aku mau ganti baju, cepat siapkan!"
"I-iya, Den," jawab Nada tergagap, lalu menuntun Abian untuk duduk di tepi ranjang berukuran besar yang polos tanpa taburan mawar, selayaknya ranjang pengantin baru.
Nada pun menyentil keningnya sendiri dengan pikiran yang baru saja terlintas di kepalanya. "Bagaimana mungkin ada taburan mawar? Aku 'kan bukan pengantin yang diharapkan oleh Den Bian."
"Enggak pakai lama! Siapa tadi nama kamu?" sentak Abian ketika Nada masih saja terdiam di dekatnya.
"Saya Nada, Den. Baik, akan saya siapkan segera."
Nada hanya bisa menghela napas panjang. Bagaimana mungkin pemuda yang sudah menjadi suaminya itu melupakan nama yang tadi Abian sebutkan ketika mengucap kata qabul saat akad nikah? Sekali lagi, Nada harus menerima kenyataan jika kehadirannya di rumah besar ini bagai serpihan debu yang tak berarti apa-apa, bahkan tak terlihat.
Setelah menyerahkan pakaian ganti untuk Abian, Nada lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Akan tetapi, langkah Nada terhenti di ambang pintu bertepatan dengan hadirnya seorang pelayan di rumah besar keluarga Ndoro Brata.
"Ada apa, Bu?" tanya Nada pada wanita berusia sekitar 40 tahun itu.
"Maaf, Den. Bibi disuruh Ndoro Putri Brata untuk memindahkan pakaian Neng Nada ke kamar Aden." Bukannya menjawab pertanyaan Nada, pelayan itu malah berbicara pada Abian yang nampak mengerutkan dahi mendengar kedatangannya.
Sang pelayan lalu membungkuk hormat pada pemuda yang tak dapat melihat apa yang dilakukannya itu, sebelum masuk ke kamar Abian. Sepertinya, semua pelayan di rumah besar itu diharuskan untuk memberikan penghormatan kepada seluruh anggota keluarga Ndoro Brata.
"Maksud Bibi? Gadis kampung itu tidak mungkin sekamar denganku, kan?" tanya Abian dengan nada protes.
"Sebagai babu yang akan melayanimu 24 jam, dia harus tinggal di kamar yang sama denganmu, Nang. Itu semua demi kebaikan kamu," kata Ndoro Putri Brata yang menyusul ke kamar sang cucu.
"Terserah Eyang sajalah," kata Abian pada akhirnya karena setiap ucapan sang eyang adalah perintah yang harus dituruti oleh semua orang.
"Ayo, Mur, kita keluar! Biar dirapikan sendiri pakaian anak itu!"
Setelah kepergian Ndoro Putri Brata dan pelayannya barusan, Nada masih berdiri mematung. Gadis belia itu terlihat bingung, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Nada memandangi koper berukuran kecil miliknya yang hanya berisi beberapa potong pakaian saja, yang barusan diantarkan pelayan.
"Maaf, Den. Apa boleh, saya menyimpan baju-baju saya di lemari?" tanya Nada kemudian yang terdengar ragu.
"Hem."
Nada menghela napas lega, meski hanya gumaman yang dia dapatkan dari Abian. Tanpa berkata-kata lagi, Nada segera merapikan pakaian miliknya di lemari yang masih kosong.
Setelah rapi, Nada segera menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Namun, di dalam kamar mandi wanita belia itu bukannya segera berganti, tetapi malah menangis. Nada menumpahkan segala kesedihan hatinya di sana.
Entah berapa lama Nada menangis, tahu-tahu kumandang adzan maghrib terdengar dari kejauhan. Nada pun buru-buru mengganti pakaian, lalu berwudhu.
"Maaf, apa Den Bian sudah sholat maghrib? Kita sholat berjama'ah, yuk!" ajak Nada dengan suara yang terdengar sangat lembut, tetapi tak ada respon apa pun dari Abian hingga beberapa saat Nada menunggu. Akhirnya, Nada pun menggelar sajadah di sudut ruangan, lalu sholat maghrib sendirian.
Nada pun melanjutkan dengan tadarus Al-qur'an ketika dilihatnya Abian sedang tidur. Nada mengaji sampai waktu isya' tiba, lalu lanjut mengerjakan sholat empat rakaat tersebut. Usai berdo'a dan merapikan mukena serta sajadah, Nada kembali dibuat bingung.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menawarkan diri untuk melayani Den Bian?"
Meski pernikahan mereka berdua bukan karena cinta, tetapi kini Nada telah menjadi seorang istri, dan wajib baginya melayani jika Abian menginginkan. Begitulah yang Nada pelajari ketika masih mengaji di pesantren. Meski ragu, Nada kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah ranjang.
Baru saja Nada berjalan beberapa langkah, terdengar suara ketus Abian yang membuat Nada kembali terluka.
"Kamu ingat 'kan, apa yang sudah mama dan eyangku katakan tadi? Kamu itu hanya babu yang harus melayani semua keperluanku! Maka, jangan pernah berani kamu menawarkan diri, apalagi menggodaku karena aku tidak tertarik padamu!"
bersambung...
Hari-hari selanjutnya, dilalui Nada dengan penuh duka, dan nestapa. Berbagai macam cacian, hinaan, menjadi makanan wanita belia itu sehari-harinya. Tidak ada satu pun dari mereka semua yang tinggal di rumah besar Ndoro Brata, yang peduli pada Nada. Termasuk para pelayan yang jumlahnya belasan.
Nada juga tidak dapat mengadukan nasibnya pada sang ibu. Bagaimana mungkin dia akan mengadu jika keluar dari rumah besar itu saja, Nada tidak diperbolehkan? Kehidupan Nada bahkan lebih buruk dari binatang peliharaan, yang berada di kandang besar milik sang majikan.
Setiap saat, setiap waktu, Nada harus siap melayani keinginan Abian yang terkadang di luar nalar. Belum lagi Nada harus mematuhi perintah anggota keluarga Ndoro Brata yang lain, yang seringkali seperti sengaja mempersulitnya. Dan yang paling membuat Nada kesal meski tak berani dia tunjukkan, sehari-harinya dia harus berhadapan dengan si mesum Aji, kakak dari Abian.
"Ayolah, Manis. Duduk sini dan temani mas sebentar aja. Bian pasti takkan keberatan," pinta Aji ketika Nada menjemput Abian di taman belakang.
Malam ini, keluarga besar Ndoro Brata sedang berkumpul melingkari api unggun dalam rangka malam terakhir kebersamaan mereka. Sebab, keesokan harinya kedua orang tua Abian, beserta Aji akan kembali ke kota. Begitu pula dengan anak-anak Ndoro Brata lainnya, mereka juga akan kembali ke kediaman masing-masing.
"Maaf, saya ke sini karena dipanggil Den Bian yang ingin segera beristirahat. Permisi," pamit Nada. Wanita belia itu senantiasa berusaha menghindar dari Aji.
"Nad, tunggu!" seru Aji.
"Buruan, Nad! Aku lelah, aku udah ngantuk!"
Perintah Abian selanjutnya, menyelamatkan Nada dari pemuda yang memiliki tatapan mesum itu. Nada pun buru-buru mendorong kursi roda yang diduduki Abian untuk masuk ke dalam.
Ya, selama hampir seminggu Nada berada di rumah besar Ndoro Brata, Kakak dari Abian itu terus saja merayunya dengan berbagai cara. Pemuda itu bahkan tak canggung menggoda Nada di depan keluarga lainnya seperti yang Aji lakukan barusan. Anehnya, mereka semua tak ada yang memperingatkan Aji, padahal status Nada adalah adik ipar pemuda tersebut.
"Sadar, Nad. Kamu ini istri dan menantu yang tak diharapkan di rumah ini. Jadi, jangan pernah bermimpi jika mereka akan memikirkan bagaimana perasaanmu," bisik Nada dalam hati sambil mendorong kursi roda yang diduduki Abian.
"Nad, buatkan aku jahe hangat dulu sebelum kembali ke kamar! Perutku tiba-tiba saja mual." Perintah dari Abian, mengurai lamunan Nada. Wanita berhijab itu pun segera menghentikan kursi roda, tepat ketika mereka tiba di meja makan.
"Maaf, Den Bian mau menunggu di sini atau di kamar saja?" tawar Nada dengan suaranya yang selalu lembut.
"Di sini tak mengapa. Dari pada kamu harus bolak-balik ke dapur."
Nada tersenyum senang karena tak biasanya Abian bersikap baik seperti sekarang. "Baik, Den. Tunggu sebentar, nggih. Akan segera saya buatkan."
Sebelum Nada berlalu menuju dapur, terdengar helaan napas panjang dari Abian. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda yang telah sah menjadi suaminya itu, Nada tak dapat menebaknya.
"Jahe hangatnya mau diminum di sini atau di kamar saja, Den?" tawar Nada, setelah beberapa saat.
"Oh, sudah jadi. Sekarang aja, Nad. Sini!"
Nada segera mengangsurkan gelas yang berisi jahe hangat yang telah dicampur dengan madu, pada Abian. Dalam sekejap, isi gelas tersebut telah habis tanpa sisa. Setelah menyimpan gelas tersebut di atas meja makan, Nada kembali mendorong kursi roda itu menuju ke kamar Abian.
Setibanya di kamar, Abian langsung menjatuhkan tubuh di atas pembaringan empuk miliknya. Sementara Nada menggelar sajadah lalu mengambil air wudhu sebelum tadarus Al-qur'an. Kebiasaan yang dilakukan Nada setiap malam, sebelum kemudian tidur di atas sajadah tersebut.
Ya, selama beberapa hari menjadi istri Abian, pemuda itu tidak mengizinkan Nada tidur di ranjang yang sama dengannya. Nada tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru, Nada merasa senang karena Abian tak berminat untuk menyentuhnya. Dari pada, dia harus melayani suami yang menikahinya tanpa ada cinta.
Di kamar Abian memang terdapat sofa panjang nan empuk. Namun, Ndoro Putri Brata pernah membentak Nada ketika wanita belia itu duduk di sana. Karena itulah, Nada lebih memilih untuk tidur di lantai dengan beralaskan sajadah. Toh, Nada tidak pernah benar-benar dapat memejamkan mata karena harus selalu siaga jika sewaktu-waktu Abian membutuhkan bantuannya.
Nada masih melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an ketika rungunya menangkap suara Abian yang meracau tidak jelas, seperti sedang mengigau. Nada buru-buru menutup kitab sucinya lalu beranjak untuk melihat keadaan Abian. Benar saja, pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala seperti gelisah dalam tidurnya.
Nada mendekat. "Cuaca dingin seperti ini, tapi kenapa dia berkeringat?" gumam Nada ketika melihat bulir-bulir keringat di kening Abian.
Tangan Nada pun reflek terulur lalu menyeka keringat tersebut. Di saat yang sama, Abian terbangun lalu menangkap tangan Nada. Tentu saja Nada menjadi takut. Dia khawatir Abian akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Benar saja, pertanyaan Abian dengan suara meninggi, menggambarkan jika pemuda itu tidak suka dengan apa yang dilakukan Nada barusan.
"Ma-maaf, Den. Saya hanya mengusap keringat Den Bian. Sepertinya, Den Bian demam. Tadi, tidur Aden gelisah dan keringat dingin bercucuran," terang Nada yang terdengar takut-takut.
Nada memang selalu patuh pada setiap perintah dari keluarga besar Ndoro Brata. Dia juga takut jika melakukan kesalahan. Sebab, sebelumnya Nada telah diancam jika dia melakukan sedikit saja kesalahan atau berani memberikan perlawanan, maka keselamatan sang ibu yang menjadi taruhan.
Abian tak lagi bersuara. Begitu pula dengan Nada. Hingga keheningan pun sejenak tercipta di sana.
"Maaf, Den. Apa Aden mau minum obat?" tawar Nada, mengurai keheningan.
"Aku tidak suka obat." Setelah menjawab demikian, Abian tiba-tiba bangkit.
"Bantu aku ke kamar mandi. Sepertinya, aku mau muntah," pintanya kemudian.
Nada pun dengan sigap membantu Abian menuju kamar mandi. Benar saja, baru saja sampai di ambang pintu kamar mandi, Abian telah mengeluarkan semua isi perutnya. Meski ragu, Nada memberanikan diri untuk memijat dengan pelan tengkuk Abian yang terasa panas di telapak tangannya.
"Sepertinya, Aden masuk angin berat," kata Nada, setelah membantu Abian kembali ke pembaringan. "Jika Aden tidak suka minum obat, lalu Aden membutuhkan apa agar bisa segera enakan?"
Tak ada jawaban dari bibir Abian. Yang terdengar hanyalah helaan napas kasar.
"Kalau anggota keluarga kami ada yang masuk angin, biasanya dikerokin, dan tak lama kemudian segera enakan, Den. Apa ... Aden mau saya kerokin?" Nada menawarkan bantuan dengan ragu-ragu.
"Dikerokin? Seperti apa itu?" tanya Abian dengan dahi berkerut dalam.
Nada lalu menjelaskan bagaimana caranya dan Abian mengangguk, mengiyakan. Wanita belia itu lalu mulai melakukan aktifitasnya. Nada melakukannya dengan perlahan karena takut menyakiti Abian.
Nada lalu meratakan minyak angin sisa kerokan di punggung Abian dengan tangan, sambil memijatnya perlahan. Tidak terdengar protes dari pemuda itu. Bahkan, Abian sepertinya sangat menikmati pijatan lembut tangan Nada.
"Sudah, Den. Sekarang bagian perut."
"Perutnya juga dikerokin?"
"Tidak, Den. Hanya saya baluri minyak angin agar perut Aden lebih enakan."
"Oh, oke." Abian segera berbalik lalu tidur telentang. Baru kali ini Abian menuruti perintah Nada.
Dada bidang dengan bulu-bulu halus itu terpampang nyata di hadapan Nada dan nampak begitu menggoda. Akan tetapi, fokus wanita belia itu tidak di sana. Dia murni ingin mengobati Abian dengan caranya, bukan untuk menggoda atau tergoda.
Telaten, Nada membaluri perut Abian dengan minyak angin, dan meratakan dengan tangan seperti tadi. Di bagian perut, Nada tidak berani memijatnya.
"Sudah, Den."
"Tidak dipijat?" tanya Abian yang terdengar tidak rela Nada menyudahi semuanya.
"Kalau perut, saya tidak berani, Den. Takut salah urut, nanti bisa berbahaya."
"Kalau begitu, pijat kepalaku! Kamu berani, 'kan? Kepalaku pusing."
"I-iya, Den, jika Aden berkenan."
Setelah Abian memakai piyamanya kembali, Nada lalu duduk di tepi pembaringan, dan mulai memijat kepala Abian. Nada terus melakukannya hingga pemuda itu terlelap. Nada bahkan tidak berani melepaskan tangannya karena takut Abian akan terjaga. Wanita belia itu pun ketiduran dengan posisi tangan masih berada di atas kepala Abian.
Entah bagaimana caranya dan siapa yang memulai, ketika Nada terjaga, wanita belia itu sudah berada dalam dekapan hangat Abian. Tentu saja Nada sangat terkejut, sekaligus takut. Reflek, Nada melepaskan tangan Abian yang melingkar di perut rampingnya dengan tergesa hingga membuat pemuda itu terjaga.
"Kenapa, Nad? Apa hari sudah pagi?"
"Be-belum, Den. Maaf, sa-saya tidak tahu kenapa saya bisa tidur di sini."
"Memangnya kenapa, kalau kamu tidur di sini? Bukankah, kita ini pasangan suami istri?"
bersambung ...