Cynthia tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, lalu memeluk anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan dirinya. "Tidak apa-apa, mami tidak sakit kok. Adi, tidak sakit kan?'
Adi menangis ketakutan lalu menggeleng kecil dan memeluk maminya.
Sementara kembarannya hendak memukul Kinara.
"ARI!"
Tubuh Kinara tersentak, dia mengenali suara itu dan menoleh.
Adit terkejut sesaat ketika melihat sosok Kinara lalu mengabaikannya dan menggendong anak kecil bernama Ari.
Ari menangis lalu menunjuk Kinara. "Dia jahat sama mami, dia dorong mami sampai jatuh!"
Kinara menatap bingung anak kecil yang sudah menuduh dirinya, jelas-jelas ibu mereka jatuh karena anak kecil tapi ada yang lebih penting dari sekedar tuduhan- dia melihat punggung pria yang paling dicintai di dunia ini.
Adit balik badan dan menatap balik Kinara. "Kenapa kamu di sini?"
Hanya? Hanya itu yang akan kamu ucapkan padaku, setelah bekerja keras?
Air mata Kinara mengalir ketika melihat Adit menatap tidak suka dirinya. "Mas."
"Papi, dia jahat sama mami. Papi hukum dia, pecat dia!"
"Ari jangan begitu," tegur Adit dengan lembut.
Benak Kinara berkecamuk. "Kenapa-"
"Pulanglah, Kinara."
Kinara hendak menyentuh suaminya tapi ditepis Adit. "Mas-"
Adit membelakangi Kinara lalu bertanya pada Cynthia. "Kamu baik-baik saja?"
Cynthia berdiri dengan bantuan orang lain dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa."
"Hati-hati dengan anak di perut kamu."
Cynthia mengangguk kecil lalu menatap cemas Kinara.
Kinara tidak salah dengar, Cynthia hamil. "Hamil? Dia hamil anak kamu, mas?"
"Pulanglah, Kinara. Tidak ada yang perlu dibahas lagi."
"Mas yang pulang, aku istri mas."
"Istri harus tunduk kepada suami, kenapa aku harus mengikuti kamu? Pulang dan urus anak-anak, jika kamu ingin mempertahankan pernikahan ini. Reputasi kamu sudah buruk di depan umum, jangan menambah lagi."
Bibir Kinara bergetar lalu menatap sekeliling, orang-orang hanya menatap diam bahkan ada yang mencemooh dirinya. Dia berjalan mundur dua langkah lalu berlari menuju taxi.
Aku sudah berjuang keras mendapatkan kamu,
Aku sudah berjuang keras membantu keluarga kamu,
Aku sudah berjuang keras mengorbankan segalanya demi kamu,
Dan inikah hasilnya? Hasil yang harus aku dapatkan setelah dua belas tahun.
Di sore hari, kedua anak Kinara sudah pulang sekolah dan mengerjakan tugas rumah dari sekolah di depan TV supaya tidak sepi. Para pelayan mengerjakan tugas sendiri tanpa mengganggu mereka berdua.
Bella mendengar suara sepatu dan mendongak. "Mama?"
Edward mengerutkan kening lalu menoleh. "Mama?"
Kinara berjalan dengan limbung sambil membawa sesuatu di dalam kantong plastik lalu masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu.
Bella dan Edward saling menatap heran.
'Artis terkenal Cynthia tertangkap keluar dari hotel bersama Adit, mantan aktor sekaligus pengusaha hotel. Perut sang artis terlihat besar. Apakah Cynthia hamil dan menjalin hubungan kembali bersama Adit?'
Kinara melempar tv kamarnya yang mati dengan remote ac, tidak peduli suara yang keluar adalah tv ruang keluarga. Dia menenggak satu botol alkohol dan duduk di atas tempat tidur berhadapan dengan depan cermin satu badan, dekat meja rias.
Dimana letak kesalahanku?
Aku cantik, bisa bekerja, punya anak-anak lucu. Tapi kenapa suami aku selingkuh dengan mantannya?
Kinara berteriak kencang lalu melempar botol alkoholnya ke cermin itu.
Aku lelah, lelah, lelah.
"Mama!"
Mama? Jangan panggil aku mama!
"Mama, tolong buka!"
Lalu apa? Kalian tidak bisa apa-apa dan menyuruh aku membuka pintu?
Kinara membuka sebuah bungkusan dan menelan banyak pil bersamaan dengan alkohol baru.
Lebih baik aku merasakan sakit untuk mati, daripada sakit untuk bertahan hidup!
BRAK!
"NARA!"
Siapa?
"NARA! INI KAKAK! JANGAN MATI!"
"MAMA! MAMA!"
Edward memeluk adiknya yang menangis dan berontak, untuk mendekati ibu mereka.
Kakak? Ah, kalau tidak salah- aku memang punya kakak, kakak yang menyayangi aku dan aku khianati demi Adit. Maaf, kakak. Jangan cari aku, lebih baik aku mati daripada melihat suamiku bersama wanita lain.
-----------
Kinara membuka mata perlahan dan melihat langit-langit kamar yang dulu diingatnya. "Apakah ini neraka?"
"Biasanya orang bertanya, apakah ini surga? Kenapa kamu malah bertanya ini neraka?"
KInara menoleh dan terkejut begitu melihat wajah kakaknya berdiri tepat di depan, dia mengangkat tangan dan melihat selang infus di tangannya.
"Kamu bodoh atau gimana? Hanya karena satu pria lalu bunuh diri? Lalu bagaimana dengan mama dan papa yang sudah mengurus kita dari bayi?" Dimas mengomel kepada adiknya. "Untung saja Fumiko mengajak aku ke sana, sehingga melihat kamu bertengkar dengan Adit, sudah kakak bilang bukan? Jangan mengejar pria brengsek i-"
Dimas terdiam begitu melihat adik satu-satunya menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mama, kenapa mama menangis?" Bella berjinjit di depan Dimas. "Om dokter, mama kenapa dibuat menangis?"
Edward menatap cemas Kinara. "Ma?"
Tangisan Kinara semakin besar ketika mendengar suara kedua anaknya, Dimas menjadi panik lalu menyuruh istrinya menarik Edward dan Bella keluar."
"Bella mau lihat mama," tolak Bella sambil memegang erat tempat tidur.
"Tapikan kalian belum sarapan, biar mama istirahat dulu."
Edward menarik tangan Bella dengan lembut. "Ayo."
Bella menatap enggan tempat tidur lalu mengikuti kakaknya.
Setelah mereka bertiga keluar, Dimas mulai mengomeli adiknya. "Apakah kamu ingin mati? Kamu tidak kasihan dengan anak-anak?"
"Aku mencintainya."
"Lalu bagaimana dengan anak-anak? Kamu tidak mencintainya?"
"Aku-"
"Saat istriku melihat kamu di lokasi syuting Cynthia, kami segera membuntuti kamu. Dan benar saja, kamu berupaya bunuh diri. Nara, aku kakak kamu, kenapa kamu tidak bicara pada kakak?"
Kinara menggeleng. "Aku ingin menjaga rumah tanggaku, aku tidak mau aib tersebar luar."
"Suami kamu yang membuat aib, kenapa kamu harus melindunginya?"
"Kakak, aku sudah menjadi istri sekarang. Aku harus menjaga nama baik suami aku."
"Kamu menjaga suami baik sementara kamu sendiri hancur dan bunuh diri!" bentak Dimas yang semakin marah dengan kelakuan adiknya. "Kamu punya keluarga, kenapa kamu tidak lari ke kami?"
"Seorang wanita yang sudah menikah, adalah milik suaminya. Aku-" Kinara menjadi bingung, dia merasakan sakit hati karena penghianatan Adit, tapi juga tanpa sadar membelanya.
"Demi mengejar seorang pria, kamu meninggalkan keluarga sendiri. Apakah kamu merasa malu kembali kepada kami?"
"Bukan begitu-" Kinara tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Waktu itu benar-benar di luar dugaannya. Dia terlalu lelah bekerja dan ingin istirahat, lalu begitu mendengar nama Cynthia yang disebut, entah kenapa kakinya harus mengejar wanita itu, lalu- hatinya hancur ketika melihat suami yang dia cintai bersama wanita itu. "Aku- mencintainya kak."
Dimas memeluk adiknya. "Kakak tahu kamu cinta dia, tapi kenapa harus sampai bunuh diri? Kenapa kamu harus merasa hancur? Perasaan yang kamu rasakan sekarang, sama dengan kami waktu itu."
Kinara yang tidak berani menyentuh kakaknya, terkejut. "Apa?"
"Kami hancur karena kamu memilih pergi meninggalkan kami." Isak Dimas.
Kinara tidak tahu itu, waktu itu dia berpikir keluarganya sudah memiliki semua jadi kehilangan dia tidak akan begitu berarti. Tapi ternyata-
"Mama sama papa masih mengharapkan kamu kembali," kata Dimas. "Tanpa Adit." Tambahnya.
Sementara di tempat Edward, Bella dan Fumiko. Sarapan dengan makanan kantin rumah sakit.
"Tante, mama gak kenapa-kenapakan?" tanya Edward.
Fumiko yang sedang menyuapi perempuan kecil menggemaskan itu sontak menatap laki-laki kecil yang duduk di berseberangan dengannya tanpa menyentuh jatah makan.
"Siapa nama kamu?" tanya Fumiko dengan nada gemas.
"Edward, mama biasanya panggil saya Ed dan adik saya namanya Bella."
Fumiko mengangguk singkat. "Ah, mama kamu fansnya novel vampire itu. Dulu kecilnya, dia suka menjadi putri terus ada anak tetangga kompleks yang menjadi pangeran. Sayangnya anak itu sudah pindah rumah."
"Mama suka princess, di kamarnya banyak buku princess," kata Bella yang membanggakan mamanya lalu mendadak cemberut.
Fumiko yang melihat itu menjadi sakit hati. "Kenapa sedih sayang?"
Bella menggeleng sedih. "Mama jarang pulang, terus gak mau bicara sama kami."
"Itu karena mama dan papa sibuk," kata Edward.
"Tapi papa sering bawa temannya ke rumah sama bawa teman buat kakak."
"Bella." Nada bicara Edward berubah.
Fumiko yang menyadarinya, mencoba mengorek secara halus sambil membelai rambut panjang bergelombang dan lembut Bella. "Bella tahu siapa nama temannya papa?"
Bella menggeleng. "Papa sering bilang tapi Bella lupa, jadinya Bella disuruh panggil mami."
"Mami?" tanya Fumiko lalu melirik Edward.
Edward mengalihkan pandangannya. Ia merasa kesal begitu mengingatnya.
"Tante apanya mama?" tanya Bella dengan mata berbinar dan mulut belepotan es krim dan cokelat.
"Jadi, mama kalian punya kakak dan kakaknya itu suami tante." Fumiko mengelap wajah Bella dengan lembut.
Bella bingung. "Bella gak ngerti."
Fumiko tertawa kecil. "Nanti Bella tahu sendiri."
Edward menyipitkan matanya. "Tante bukan temannya papa?"
Fumiko tersenyum lalu menggeleng. "Tante tidak pernah bertemu papa kalian."
"Papa itu ganteng lho, tante. Tapi, jangan ambil papa ya, papa itu punyanya mama sama Bella sama kak Ed," kata Bella.
Fumiko mencubit gemas hidung mungil Bella. "Tante 'kan sudah punya suami."
"Bella juga punya pangeran suami."
Fumiko tertawa renyah.
Edward menatap cemas Fumiko. "Tante belum jawab pertanyaan saya."
Fumiko mengalihkan pandangannya ke Edward. "Wah, maaf ya. Mama kalian baik-baik saja kok, sebentar lagi masa pemulihan jadi kalian harus bisa jaga mama."
"Tapi nanti mama marah." Cemberut Bella
Edward mengangguk. "Setiap pulang kerja, mama selalu mengurung diri di kamar atau ruang kerja. Kalau kami dekati, mama menjauh. Kalau kami bertanya, mama melemparnya ke papa atau mbak di rumah. Kalau kami berisik, mama pergi."
Fumiko tidak menyangka adik iparnya separah itu. "Mama kalian sangat lelah, jadi mungkin minta waktu sendiri. Sekarang 'kan kalian bisa sekolah bagus, beli mainan banyak berkat kerja sama papa dan mama."
"Jadi, mama tidak benci kami?" tanya Bella.
"Tentu saja tidak, nanti coba saja tanya ke mama kalian." Fumiko sangat yakin Kinara mencintai kedua anaknya, hanya saja anak itu terlalu canggung menghadapi kedua anaknya.
Edward menatap makanannya dengan sedih. "Bagaimana dengan papa?"
Fumiko tidak bisa menjawab. "Tante tidak tahu. Oh ya, soal mami itu-"
Edward menghela napas panjang. "Papa bilang kami harus menghormatinya tapi gak bilang siapa dia, cuma mbak di rumah bilang kalau itu temannya papa."
"Teman tapi panggil mami ya?" curiga Fumiko. "Kalian tidak pernah cerita ke mama?"
Bella dan Edward sama-sama menggeleng.
"Papa bilang, mama tidak boleh tahu. Soalnya mama sibuk dan tidak boleh direpotkan hal kecil," kata Edward yang disambut anggukan setuju Bella.
"Mama sibuk kerja," kata Bella.
Fumiko tersadar, Bella dan Edward tidak mungkin cerita karena Kinara bersikap menjauh terhadap anak-anaknya, mungkin itulah kesempatan yang diambil Adit. Manipulasi anak-anaknya dengan dalih tidak boleh mengganggu Kinara, licik juga pria ini. Tidak pernah berubah!
"Mama tidak suka kalau kami dekat," kata Bella.
Edward mengangguk setuju.
Fumiko mengambil handphone dan menghubungi suaminya ketika anak-anak sibuk makan.
Setelah bersikeras merasa sehat dan ingin cepat-cepat pulang, Dimas mengalah dan memberikan syarat, membawa salah satu orang kepercayaan keluarga Salim untuk menjaga anak-anak dan mengawasi Kinara.
Pada awalnya Kinara menolak, dia tidak mau merepotkan keluarga yang hubungannya sudah terputus selama dua belas tahun, tapi pada akhirnya luluh karena ancaman Dimas.
Setelah Dimas mendapat kepastian dari dokter bahwa Kinara boleh rawat jalan, Dimas terpaksa mengantar adiknya keluar bersama sang istri, Fumiko. Mereka semua berdiri di depan lobby, menunggu taxi datang.
Fumiko berjongkok di depan keponakan dan menasehati mereka. "Jangan beritahu soal ini ke papa kalian, bilang saja mama sendirian di rumah sakit dan kelelahan."
"Kenapa?" tanya Bella tidak mengerti.
"Untuk melindungi mama kalian, selama kami berdua tidak ada, tolong lindungi mama kalian," kata Fumiko dengan harap-harap cemas.
Bella dan Edward melirik mama mereka yang duduk di kursi roda dengan wajah pucat dan sorot mata melamun, mama yang tidak pernah mereka lihat selama ini.
"Sifat Nara itu pemalu dan canggung terhadap orang asing karena dulunya lebih suka belajar daripada komunikasi dengan orang lain," kata Fumiko.
Bella mengangkat kepala dan menatap kakaknya. "Seperti kakak."
Edward menatap lurus mamanya tanpa berkomentar.
Dimas mengacak rambut Edward. "Sepertinya sifat Nara menurun ke anak ini, lihat wajahnya yang sok dewasa dan kaku ini."
Edward menatap takjub Dimas. Aku mirip mama? Dulu aku selalu bertanya-tanya, sifatku yang dianggap menyebalkan oleh papa mirip siapa, ternyata mirip mama.
Dimas berjongkok di hadapan Edward. "Saat ini kamu satu-satunya pria yang bisa melindungi mama kamu."
Edward mengangguk ragu.
Dimas ragu meninggalkan adik kesayangannya ke anak-anak, pulang ke rumah saja saja bertemu dengan sumber penyakit, tapi Dimas tidak mungkin mengatakan itu di depan anak-anak. Biar bagaimanapun Adit adalah ayah kandung mereka.
Edward bisa melihat keraguan Dimas. "Saya harus panggil anda apa?" tanyanya.
Dimas membelai dagunya. "Pak de?"
Dahi Fumiko berkerut tidak setuju. "Kedengarannya tua sekali."
Dimas tertawa kecil. "Kamu tidak setuju?"
Fumiko mendengus kesal. "Panggil tante saja gak keberatan kok, Nara belum resmi pulang ke rumah, panggilan itu tidak umum kecuali untuk keluarga. Jangan sampai orang itu tahu kamu kakak Nara, setidaknya jangan sekarang."
Dimas menunjukan ekspresi tidak percaya. "Mhm?"
Fumiko berdehem malu. "Setidaknya ada waktu buat aku terima panggilan itu."
"Kalian dengar 'kan permintaan budhe?"
Fumiko memukul lengan atas Dimas.
"Itu berarti kami tidak boleh bicara tentang kalian di depan papa dan lainnya?"
"Ya. Tentu saja," kata Fumiko dan Dimas bersamaan.
Edward melirik adik kecilnya yang sedang menguap, "Bella ngantuk?"
Bella menggosok mata dan mengangguk singkat.
Edward menarik Bella untuk mendekat. "Saya tidak akan bicara, Bella juga mungkin lupa besoknya."
Fumiko dan Dimas menghela napas lega.
Dimas menyentil kening Kinara.
Kinara mendecak kesal lalu mengusap keningnya.
"Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu. Dulu kamu meninggalkan keluarga demi cinta, itu tidak masalah karena kami masih bisa berdiri tapi kamu tidak bisa melakukannya ke anak-anak kamu."
Kinara melirik kedua anaknya yang sedang bercengkrama dengan kakak ipanya. "Nara tahu."
Dimas menghela napas. "Kamu yakin tetap pulang kesana? ini saja kalau nggak mas yang.."
"Kenapa mas bisa ke rumah?"
Dimas menggeleng miris. "Salah satu pekerja di rumah kamu itu mata-mata Fumi."
Dahi Kinara berkerut tidak suka.
Dimas buru-buru menjelaskan. "Fumi tanpa sengaja melihat artis itu masuk ke dalam rumah kalian saat kamu sedang di luar kota. Firasat Fumi pasti ada sesuatu makanya dia terpaksa turun tangan karena hapal dengan kenekatanmu, jangan salahkan dia. Dia itu sayang sama kamu."
Kinara memejamkan mata sebentar lalu membukanya dengan berat. "Maaf."
Dimas mengacak rambut adik kesayangannya. "Bilang itu ke mama dan papa nanti."
Kinara mengangguk.
"Fumi sudah menjelaskan orang rumah kalau kami rekan kerjamu, jadi tidak perlu khawatir. Hanya saja sepertinya suami kamu sudah mulai-"
"Nara tahu, mas Adit tidak, Adit sengaja memanggil media lalu membuat seolah-olah mereka tertangkap. Adit tidak sebodoh itu sampai bisa ketahuan."
"Yah, pantas saja- mantan aktor."
"Mantan aktor atau tidak, orang licik tetap saja licik,"
"Nara, mobilmu sudah datang." Fumiko mengingatkan Kinara.
"Istirahat yang banyak dan langsung makan tapi jangan berat-berat, dokter sudah menguras isi perutmu," ceramah Dimas.
Kinara bengong sesaat lalu tersenyum sedih. Sudah lama tidak ada yang mengingatkan dia hal kecil seperti ini, mungkin memang ini teguran Tuhan.
---------
Sesampainya di rumah, banyak mobil parkir di halaman rumah. Kinara dan Ed hanya diam saja begitu turun dari mobil sementara Bella tertidur di pangkuan Kinara.
Begitu masuk, Kinara melihat keluarga Adit sudah berkumpul di dalam rumah. Kalau diingat kembali aktifitas kemarin, pagi ia keluar dan bertemu tetangga lalu siang hari datang ke lokasi syuting untuk memperingatkan Cynthia dan malam hari suami dan pelakor ke gap media keluar dari hotel bersamaan dengan itu, ia bunuh diri.
Dan ini sudah kembali malam, tanpa ada yang mengkhawatirkan dia sementara keluarga suami berkumpul mengelilingi Cynthia dan seorang anak kecil.
Edward yang melihat itu semua, tidak merasa terganggu hanya saja...
"Ma, bukankah itu gaun mama yang dibeli di Paris?" tanya Edward yang sengaja membesarkan suaranya dan membuat perhatian semua orang teralihkan, "Bukankah itu juga kalung mama dari nenek?"
Kinara menyipitkan kedua matanya. Benar, itu gaun dan kalungnya. Kalung itu disimpan di brankas pribadi, yang tahu kode hanya dirinya dan mas Adit.
Kinara segera memberikan Bella ke baby sitter yang diberikan Fumiko lalu bergegas ke kamarnya.
Saat lebih memilih Adit dan memutuskan hubungan keluarga, Kinara tidak membawa apapun kecuali perhiasan yang diberikan ibunya untuk hidup mandiri.
Karena Kinara tahu tidak bisa bertemu ibunya kembali, dia menyimpan baik-baik semua perhiasan itu.
Di dalam kamar, dia menjatuhkan diri dari kursi roda dan membuka brankas yang ditanam di bawah meja nakas.
Tidak ada perhiasan. Kosong.
"Kenapa?"
Kinara menitikan air mata. Aku tidak pernah membeli perhiasan, selama ini aku hanya mengandalkan perhiasan milik mama, gaun mahal pun semuanya hadiah dari teman atau menabung beberapa bulan. Aku tidak bisa sembarangan memakai uang karena memikirkan manajemen hotel.
Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku? kalau memang kamu mencintainya, harusnya kamu bilang dari awal sehingga aku bisa mundur, aku tidak segila itu!
"Mama?" Edward masuk ke dalam kamar dan mencari mamanya. Ia berjalan mengikuti suara tangisan yang tidak pernah didengarnya.
Kedua tangan Edward mengepal begitu melihat wanita yang melahirkannya duduk di depan brankas kosong, dia tahu tempat itu adalah tempat penyimpanan perhiasan mamanya. Perhiasan peninggalan nenek.
"Ma, jangan menangis."
Kinara memutar kepala dan menarik Edward masuk ke dalam pelukannya, ia terisak sedih. "Maafin mama selama ini."
Edward bisa merasakan kesedihan mamanya. Selama ini meskipun mama tidak pernah bercengkrama dengan dirinya dan Bella, tidak pernah menghadiri wali sekolah dan jarang di rumah tapi Edward tahu selama ini mama berjuang supaya dia bisa hidup nyaman bersama papa.
"Ma, nanti tanya papa ya."
Kinara menggeleng. "Papa pasti sudah memberikan semuanya ke wanita itu."
Edward tidak berani mengatakan apapun, tak lama terdengar suara tangisan Bella.
Kinara dengan susah payah naik ke kursi roda dengan bantuan tangan kecil Edward yang menahan tumpuannya.
"Apakah itu sakit?" tanya Kinara yang mengusap bahu kecil Edward.
Edward menggeleng dan berbohong. "Tidak sesakit perasaan mama saat ini."
Kinara tersenyum sedih setelah itu bersama dengan Edward keluar dari kamar.
Jantung Kinara serasa berhenti berdetak, dia melihat dua orang anak sedang menangis dan dipeluk suami dan wanita itu masing-masing sambil berjongkok sementara Bella menangis dan berusaha ditenangkan baby sitter.
"Keluar dari kamarku!" bentak Bella.
"Astaga, cucuku yang malang. Sakit kepalanya?"
Suara ini adalah suara ibu Adit.
"Kinara, apa kamu tidak bisa mendidik Bella dengan baik? melempar anak kecil dengan boneka!" bentak ibu mertuanya sambil membelai kepala anak kecil yang dipeluk Adit.
Kinara melihat boneka beruang berukuran medium tergeletak di bawah kaki Adit. "Ed, ambilkan boneka itu."
Ed menuruti permintaan ibunya dengan wajah ingin tahu lalu memberikannya ke Kinara.
Kinara yang duduk di kursi roda menghela napas dan bertanya ke Bella dengan suara rendah seperti biasa, tidak membentak ataupun marah. "Bella, jangan menangis."
Bella terdiam sambil menatap mamanya dengan tatapan tidak adil.
Adit menghela napas lega dan tersenyum. "Ayo, Bella. Minta maaf ke kakak."
Belle cemberut marah dengan bibir kecil bergetar. "Kalau dia memang kakak Bella, dia tidak akan mendorong dan mengusir Bella dari kamar Bella sendiri!"
"Ya ampun, mana mungkin putraku melakukan hal jahat itu. Ini pasti cuci otak mamanya," kata Cynthia.
Kinara memiringkan kepalanya dan tertawa sambil mengambil handphone di saku jaket Edward. "Di rumah ini ada cctv."
Cynthia menjadi salah tingkah, Adit merampas handphone Kinara lalu memutar cctv. Benar yang dikatakan Bella, anak Cynthialah yang memulai duluan.
Baby sitter mulai angkat suara. "Bella tadi masuk ke dalam kamar sambil mengantuk lalu tiba-tiba didorong dan diusir keluar dari kamarnya."
"Kalian dengar?" tanya Kinara lalu mengambil handphonenya dari tangan Adit dengan bantuan baby sitter.
Tidak ada yang berani membantah.
"Lalu-" Kinara melihat boneka di tangannya lalu melempar ke Adit dengan sekuat tenaga. "Apakah itu sakit?"
Adit yang tidak menduga hal itu menjadi terkejut.
"Tenagaku lebih besar dari Bella, kenapa kamu tidak menangis? ah, Ed. Coba lempar boneka ke anak-anak itu."
Dengan sigap Edward mengambil dan melemparkannya ke anak-anak Cynthia sebelum ada orang dewasa yang mengganggunya.
"KINARA!" bentak Adit.
Anak-anak Cynthia menjadi marah dan berusaha menyerang Edward bersamaan. Cynthia dan para orang dewasa tidak ada yang melindungi Edward yang sudah tergeletak di bawah menahan serangan dua anak laki-laki sementara para orang dewasa hanya meneriakan dua nama dengan panik, tidak ada yang menyebut nama Edward.
Dari sini Kinara sudah mulai paham. Wajar jika mereka benci Kinara tapi tidak wajar mereka membenci kedua anak kandung Adit.
Hanya Bella yang membela dan berusaha melindungi kakaknya dengan gagah berani.
Baby sitter hanya berdiri di belakang Kinara tanpa melerai, selama tidak ada perintah dari atasannya, dia tidak akan ikut campur.
Adit dan Cynthia berhasil memisahkan anak-anaknya dan memastikann tidak ada luka di tubuh mereka sementara Edward yang berhasil melindungi wajahnya berusaha menahan perih dari luka cakaran di tangan dan rambut Bella sudah berantakan.
"Kamu tidak melihat Edward dan Bella? mereka jauh lebih terluka daripada kedua anak itu."
Adit mennoleh dan melihat kedua anaknya yang duduk di lantai dengan wajah dan sorot mata terluka.
Adit mulai menggeram marah. "Kamu yang memulai."
"Bukankah anak itu yang memulai? kalau aku tidak datang, tidak ada yang membela Bella meskipun ayah kandungnya ada disini," kata Kinara.
"Kalau saja kamu tidak melempar anakku dengan boneka-" Cynthia menuding Kinara.
Kinara mencibir. "Yang melempar itu Ed, bukan aku. Aku hanya menyuruh Ed untuk membalas siapapun yang mengganggu adiknya, tidak hanya duduk diam melihat orang jahat beraksi."
"Siapa yang jahat?!" Cynthia mulai histeris panik.
Kinara menunjuk santai Cynthia. "Kamu! tadikan kamu yang menjambak rambut Bella, padahal aku tidak menyentuh anak-anak kamu sama sekali seperti yang dituduhkan Adit tadi pagi."
Cynthian mulai panik dan meminta bantuan ke Adit. "Mas-" rengeknya.
Adit menatap tajam Cynthia.
"Selain itu aku harus meningkatkan keamanan rumah ini, mas.Brankas di kamarku kosong dan perhiasanku tidak ada semua lalu gaunku- sepertinya ada yang meminjam tanpa ijin."
"Aku meminjamkannya ke Cynthia," kata Adit.
Cynthia tidak terima. "Tapi mas-"
"Sampai mengosongkan brankas?" tanya Kinara sambil menatap seluruh keluarga Adit yang mengelilingi mereka. "Bukankah di keluarga mas Adit selalu mengajarkan untuk meminta izin, dulu saja aku pinjam gelas harus bilang dulu ke ibu."
Ibu mertua berdehem keras. "Kamu pelit sekali, apa salahnya meminjamkan ke Cynthia."
Kinara pura-pura terkejut dan kedua tangannya diletakan ke dada seolah kena serangan jantung. "Astaga, ibu yang selalu marah kalau saya menyentuh gelas dan piring di rumah ibu sekarang bicara begitu?"
"KINARA!" bentak Adit.
Ibu Adit menunjuk Kinara dengan marah. "Itu sebabnya aku tidak suka punya menantu seperti kamu, dasar wanita yang tidak jelas asal usulnya."
"Memangnya Cynthia asal usulnya jelas?" tanya Kinara yang menatap takjub mertuanya.
"Dengar ya, ibu dan ayah Cynthia itu pns, kakak-kakaknya juga tentara, kehidupan mereka lebih terjamin."
"Mhm." Kinara mengangguk lalu menyuruh baby sitternya membawa Bella dan Edward ke dalam kamar.
"Tapi di dalam ada koper dan mainan mereka," kata baby sitter.
Kinara menatap lurus suaminya. "Kamu berencana memasukan mereka ke rumahku?"
"Ini rumahku, Kinara. Aku kepala keluarga dan bisa mengambil keputusan, aku tidak bisa membiarkan anak-anak dan istriku hidup tidak aman diluar sana."
"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya KInara.
Adit menggertakan giginya dengan marah. "Aku tidak mengusirmu dari rumah ini."
"Tapi kamu mengusir anak-anak dari kamarnya dan mengambil barang-barangku tanpa izin," Kinara tidak mau mengalah. Biarlah dia dinilai jahat.
"Seharusnya Ed dan Bella bisa mengalah ke kakak-kakaknya, mereka masih kecil untuk menempati kamar seluas itu," Cynthia berusaha bersikap adil.
Kinara tertawa jahat. "Memang kamu siapa?"
Cynthia menatap Adit untuk meminta tolong.
"Bella dan Ed bisa mengalah." Adit mengambil keputusan.
Kinara berusaha menelan kesedihan dan kekecewaannya. Ini suami yang harus menjadi pelindung anak-anaknya sendiri, terlihat jelas bagaimana biasnya mas Adit.
"Kalau begitu keluarkan barang-barang Ed dan Bella sekarang dari kamar." Kinara mengambil kesempatan.
Adit menghela napas lega. Inilah istri yang diinginkannya, ia juga mencintai Kinara meskipun masih ada rasa cinta ke Cynthia, ia ingin kedua istri dan anak-anaknya bisa akur di satu rumah lalu ia bisa bersikap adil.
Sayangnya harapan Adit runtuh dalam sekejap.
"Bawa anak-anak ke dalam kamarku, mulai hari ini mereka tidur di dalam kamar kita berdua. Kecuali kamu ingin tidur dengan Cynthia di luar."
Cynthia menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
"Kenapa Cynthia? setelah mengambil barang-barangku, mengusir anak-anakku dari kamar, kamu masih ingin tidur di kamarku?" tanya Kinara.
"Aku juga istri mas Adit."
Dahi Kinara berkerut jijik menatap Cynthia. "Kamu ingin kita tidur bertiga?"
Adit berdehem keras.
"Kinara, Cynthia sedang hamil besar seharusnya kamu bisa perhatian, anak Adit juga anakmu. Kamarmu cocok untuk kesehatan ibu hamil." Nasehat kakak perempuan Adit.
"Semalam aku habis bunuh diri karena mas Adit selingkuh dan punya anak dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku," Kinara mulai membuka suara,
Suasana sontak menjadi hening begitu mendengar Kinara bicara, tatapan mereka ada yang tidak percaya dan ada juga yang menatap kasihan dirinya.