Bab 2

Pagi ini tidak seperti biasanya, Elena terlambat bangun pagi. Dan ia terbangun saat waktu menunjukkan pukul delapan lagi.

“Aduh.., kesiangan dah gue,” Elena bermonolog kala dilihat jam pada dinding kamarnya menunjukkan pukul delapan pagi.

Gegas Elena berjalan keluar kamarnya seraya mengambil apel dan roti coklat yang ada di nakasnya menuju dapur untuk memasak sarapan dan makan siang nanti.

Herlina yang masih di kamarnya dan baru saja terbangun, merasa kalau ia belum mencium aroma masakan dan mendengar suara dari kedua anaknya, maka ia pun beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju dapur.

Dilihat Elena baru menyiangi sayuran belum mulai memasak lalu Herlina pun menyapa putrinya, “Kesiangan yaa.., kita semua.”

“Iyaa Maa.., mungkin karena suasana libur, jadi matanya juga tau yaa.., hehehehehe,” canda Elena di pagi itu.

“Apa Mama mau minum kopi?” tanya Elena pada Herlina.

“Uhm.., boleh juga,” sahut Herlina.

Elena pun membuatkan kopi untuk Herlina dan pada saat Elena menuangkan air panas pada kopi dan gula pada cangkir, tercium aroma kopi yang menusuk hidungnya hingga rasa mual pun muncul seketika.

Namun, Elena segera memberikan kopi yang telah diseduh itu ke meja makan, agar aroma kopi yang menyengat itu tidak membuat perutnya bertambah merasakan mual.

Setelah itu, Elena mulai memasak sarapan dan makanan untuk makan siang. Usai menikmati secangkir kopi, Herlina membantu Elena memasak di dapur dengan menyiapkan sarapan terlebih dahulu, lalu menu makan siang pikirnya.

Keberadaan Herlina di dapur, membuat Elena menahan rasa mual yang luar biasa pada dirinya.

Bulir keringat dingin keluar dari pori-pori tubuh Elena saat menahan rasa mual yang luar biasa, terlebih aroma masakan menusuk hidungnya dan menciptakan rasa mual.

Sampai akhirnya Elena pun berlari ke toilet yang ada diluar, memuntahkan buah dan roti yang ia makan sewaktu bangun tidur.

Herlina yang tidak pernah sekali pun berpikir kalau putri cantiknya muntah-muntah karena hamil, membuatkan teh hangat, meminta Elena beristirahat di kamar dan ia berpikir untuk mengajaknya ke rumah sakit usai sarapan di pagi hari ini.

“Elena.., nanti kita ke rumah sakit aja yaa, Mama takut terjadi apa-apa sama kamu.., sayang, sekarang kamu istirahat aja di kamar. Selesai Mama masak, kita ke rumah sakit,” tutur Herlina mencemaskan keadaan putrinya yang muntah-muntah sejak pulang sekolah kemarin.

“Lena nggak kenapa-napa kok Maa.., memang asam lambungnya aja bermasalah. Maaf ya Maa.., Lena di kamar dulu. Nanti kalau udah enakkan Lena bantu di dapur lagi,” ujar Elena, kasihan melihat posisi Herlina yang baru saja pulih dari cedera dua tahun lalu.

Herlina keluar dari kamar Elena bersamaan dengan terdengarnya bel yang berdenting keras di dalam rumah itu.

Tok... Tok... Tok...

“Setya.., Setya.., bangun..!” perintah Herlina seraya mengetuk pintu anak lelakinya yang belum terjaga dari lelapnya, kala dilihat jam telah menunjukkan pukul delapan pagi.

Setya yang juga libur usai pengambilan rapor keluar dari kamar dengan mata masih terkantuk-kantuk dan berkata, “Ada apa sih.., Maa..”

“Setya.., mau kamu sekolah atau libur.., biasakan bangun pagi..! Coba liat siapa yang datang, Mama masih mencuci perabot di dapur,” perintah Herlina.

Setya membasuh wajahnya pada wastafel di samping dapur. Ketika tidak dilihat kakaknya, Setya pun bertanya pada Herlina, “Dimana kak Lena.., Maa.”

Kembali bel pada rumah itu berbunyi, usai berhenti sesaat. Gegas Setya berjalan keluar rumah untuk melihat tamu yang datang hari ini. Tampak Herlambang telah berada diluar pintu pagar.

Setya pun berlari dan membuka pintu pagar yang masih tergembok itu dan mempersilakan Herlambang masuk ke dalam rumah.

“Pagi.., Om.., silakan masuk,” sapa Setya saat membukakan pintu pagar dan tersenyum pada Herlambang. Kebetulan Om datang, dari kemarin kak Elena sakit. Pagi ini juga lak Elena belom keliatan, mungkin masih sakit,” sapa Satya yang langsung menceritakan kondisi Elena.

“Yaa.., Pagi Setya.., gimana kabar semuanya?” tanya Herlambang basa-basi, masuk ke dalam halaman dengan meminta sopir taxi untuk menunggu di halaman rumah Elena..

“Mama dan Setya sih baik-baik aja. Uhm... ya itu tadi Om.., cuman kak Elena saja dari kemarin dan barusan kata mama, pagi-pagi kak Elena muntah lagi lalu tidur lagi. Untung aja Om datang, tadi mama bilang sih mau dibawa ke rumah sakit,” ucap Setya menceritakan kondisi Elena.

“Apa..? Kak Elena masih muntah-muntah sampai sekarang?” tanya Herlambang cemas seraya melangkah lebar mendahului Setya masuk ke dalam rumah.

“Elena.., Lena..,” panggil Herlambang saat cemas dan lupa kalau Herlina ada di dalam rumah itu.

Herlina yang mendengar suara Herlambang keluar dari dapur, berjalan menuju ruang tamu dan menyambut Herlambang dengan senyuman.

“Selamat pagi Pak Her.., tumben pagi sekali sudah ke rumah. Apa Elena yang menghubungi bapak karena dia kurang enak badan? Manja sekali lama-lama anak itu sama Pak Her..,” sapa Herlina memandang sekilas lelaki tampan yang usianya lebih muda lima tahun darinya.

“Iyaa Mbak.., tadi Elena menghubungi saya,” sahutnya berbohong dan pandangannya menyapu beberapa ruangan untuk mencari keberadaan Elena dengan hati penuh kecemasan.

“Aduh.., itu anak bikin susah dan repot Pak Her saja. Dia cuman muntah-muntah saja. Kemungkinan asam lambungnya naik. Nanti saya akan antar ke rumah sakit setelah sarapan. Silakan duduk dulu Pak.., saya panggil Elena dulu,” ujar Herlina menjelaskan seraya mempersilakan Herlambang duduk.

Herlambang yang sejak turun dari pesawat mencemaskan keadaan Elena tidak bisa duduk dan ia meminta izin pada Herlina untuk melihat kondisi Elena.

“Biarkan Elena istirahat di kamarnya. Hemmm.., maaf.., boleh saya masuk ke kamarnya untuk melihat kondisinya, Buu...?” tanya Herlambang ragu-ragu meminta izin pada Herlina.

“Silakan Pak.., Monggo silakan.., Bapak itu sudah kami anggap anggota keluarga sendiri. Dan maaf kalau Elena manja sama Pak Her.., karena sejak papanya wafat, dia sering kangen sama papanya. Silakan Pak..,” tutur Herlina seraya mengantar Herlambang ke kamar Elena.

Mereka pun masuk ke kamar, terlihat Elena terlelap kembali di tempat tidurnya. Terlihat wajah cantik Elena memucat lalu saat Herlina ingin membangunkannya dari tidur, Herlambang pun melarangnya.

“Biarkan saja dia tidur.., apa boleh saya tunggu di kamar ini..?” tanya Herlambang menatap Herlina seraya memohon pengertiannya.

“Iyaa.., Pak Her. Silakan.., saya jadi terharu karena Bapak begitu memperhatikan Elena. Uhmm.., dia sekarang ini jadi menemukan sosok Papanya yang perhatian dan begitu dekat dengan dia. Selama ini saya kurang memperhatikannya karena penyakit saya dan kehidupan kami. Terima kasih, Pak.”

Herlina berkata pada Herlambang dengan mata berkaca-kaca. Sejak kedatangan Herlambang ke rumahnya di gang kecil di pemukiman kumuh nan padat dengan polusi luar biasa itu, Herlambang telah mem-proklamirkan dirinya sebagai papinya Erlangga yang menganggap Elena juga seperti anaknya sendiri.

Herlina pun meninggalkan Herlambang yang mengambil kursi pada meja belajar Elena, duduk persis disisi tempat tidurnya.

Dipandangi wajah cantik nan pucat itu. Dengan kasih sayangnya tangan Herlambang mengelus dahi dan rambut yang terurai lepas. Digenggamnya pula jemari lentik Elena.

Diciumnya jemari Elena dengan lembut seraya berkata, “Sayang..., bertahanlah. Kamu harus kuat jalani kehamilan ini.”

“Cup..!”

Herlambang dengan kasih sayang mengecup kening Elena dan mengusap lembut pipinya yang putih bak pualam nan lembut. Lalu Herlambang juga mengikuti garis bibir Elena dengan telunjuk tangannya disaat si empunya bibir terlelap.

Dalam hati Herlambang meradang, kala teringat kalau gadis yang dicintanya adalah kekasih putra sambungnya. Dalam hati Herlambang pun berbisik lirih.

‘Bagaimana kalau Elena mengandung anakku..? Apa memang aku bukan pria mandul? Ooh.., aku harus bagaimana bersikap pada Erlangga jika memang yang dikandung adalah putraku? Bagaimana mungkin kejahatan Tiara membuat Elena harus menderita seperti ini?’

Elena yang tangannya dalam genggaman Herlambang dan terus diciumnya terbangun dan mendapati Herlambang telah berada di hadapannya dengan menunduk dan mencium tangannya.

“Om Her...,” sapanya lirih membuat Herlambang melepas genggamannya dan menatap lekat gadis cantik yang kini dikasihi dan sering dirindukan.

Sejak dua minggu lalu, usai kejadian terakhir disaat mereka melewati pagi hari dengan hasrat liar dalam gelora yang membara antara dirinya dan Elena.

Herlambang memenuhi janjinya tidak menemui Elena, namun dua garis pada test pack Elena membuat Herlambang harus menemui gadis cantik jelita ini.

“Sayang.., apa masih mual?” tanya Herlambang dengan hati-hati mengusap lembut pipi Elena.

Elena menganggukkan kepalanya dan berbisik lirih, “Om.., apa bisa kita ngomong masalah ini diluar? Lena takut mama tahu kalau..?”

Herlambang pun menganggukkan kepalanya dan berkata, “Yaa.., sekalian Om mau ajak kamu ke dokter kandungan. Om mau kamu dan bayi yang kamu kandung baik-baik saja. Apa Erlangga ada ngomong atau menghubungi kamu pagi ini?”

Elena menggelengkan kepalanya dan menceritakan hal yang dikatakan oleh Erlangga saat ia mengatakan dirinya hamil semalam. Setelah mendengar penuturan Elena atas diri putra sambungnya, Herlambang pun meminta Elena untuk bersiap-siap keluar bersamanya.

“Sekarang Om tunggu kamu diluar yaa..,” ujar Herlambang, mengelus rambut Elena dan tersenyum samar. Dan Elena menjawab permintaannya dengan menganggukkan kepalanya lalu Herlambang berlalu dari dalam kamar Elena.

Herlambang pun keluar dari kamar Elena dan menyambangi Herlina yang tengah menyiapkan sarapan pagi saat jam telah menunjukkan pukul sembilan kurang.

“Buu.., saya yang akan membawa Elena ke rumah sakit hari ini. Jadi Ibu tinggal tunggu kabar aja. Saya rasa Elena akan baik-baik saja,” ucap Herlambang yang berdiri menghadap ke arah Herlina yang berdiri pada sisi pintu dapur.

“Sarapan dulu, Pak Her..,” ajak Herlina bersamaan kedatangan Elena ke ruang makan.

Herlambang melihat penolakan pada mata Elena saat Herlina memintanya untuk sarapan. Mengetahui hal itu Herlambang pun berdusta, “Nanti saja... biar kami cari bubur ayam saja, Kemungkinan pencernaan Elena bermasalah. Jadi dia harus makan makanan yang lembut.”

“Ooh.., begitu.., iyaa betul bisa jadi Elena lambungnya menolak makanan kasar dan aroma yang kuat,” sahut Herlina membenarkan apa yang di sampaikan oleh Herlambang.

Setelah itu, Elena pun berpamitan pada Herlina dengan mencium punggung tangannya, “Maa.., Lena jalan dulu yaa.., Mama jangan kuatir Lena baik-baik aja kok Maa..”

Herlambang pun berpamitan dan mereka pun keluar bersama diantar hingga teras rumah itu. Lalu Herlambang meminta Elena masuk ke dalam taxi yang menunggunya dan ia menutup pintu pagar rumah Elena.

Ketika taxi mulai berjalan meninggalkan kompleks perumahan menuju rumah sakit terdekat, Elena duduk di bagian belakang dan Herlambang duduk disisi sopir. Elena mulai kembali merasakan rasa mual pada perutnya.

Dan Elena yang menahan rasa mual dengan keringat dingin yang membasahi dahinya meminta pada sang sopir untuk menepi pada bahu jalan.

“Pak.., apa bisa menepi sebentar saja? Saya mau muntah..,” pinta Elena menahan mual.

Seketika mobil taxi pun menepi disisi kiri jalan. Herlambang yang mendengar keluhan Elena pun ikut keluar saat Elena berjongkok di tepi jalan dan memuntahkan isi perutnya yang hanya diisi dengan roti dan buah. Karena sejak merasa sering mual, Elena mendadak tidak menyukai nasi.

Herlambang ikut berjongkok dan memegangi tangan Elena yang muntah-muntah di tepi jalan. Usai memuntahkan seluruh isi perutnya, Herlambang dengan kasih sayang menyeka keringat pada dahi dan menyeka bibir Elena dari sisa muntah dengan sapu tangannya.

“Sebentar lagi kita sampai.., kamu yang kuat yaa,” pinta Herlambang merapikan rambut Elena yang tergerai.

Lalu mereka masuk pada bagian bangku penumpang. Kini Herlambang duduk disisi Elena dengan merangkulnya.

Elena pun menyandarkan kepalanya pada bahu Herlambang yang merengkuh dirinya. Ada rasa nyaman saat ia berada dalam dekapan Herlambang dan Elena merasa rasa mual nya hilang seketika saat dalam dekapannya.

Dalam hati terdalam Elena pun bergumam, ‘Hmmm., Kenapa gue kagak mual lagi? Apa karena Om Her... Ayah dari bayi yang gue kandung ini? Yaa.., Tuhan.., tolong jangan hukum diri ini atas kesalahan maminya Er.., kasihan Erlangga dan Om Her.’

Bab 3

Taxi yang membawa Elena dan Herlambang sampai pada sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar. Lalu Herlambang membayar biaya taxi serta mengambil koper kecil berwarna silver miliknya.

Sembari menarik koper yang dibawa, Herlambang pun merangkul pundak Elena untuk masuk ke dalam rumah sakit dengan pintu kaca yang bisa terbuka dengan sendirinya.

Lalu, Herlambang meminta Elena duduk pada ruang tunggu yang berada di depan bagian pendaftaran pasien baru.

“Lena ., Om minta KTP kamu..,” pinta Herlambang pada gadis cantik, yang seketika membuka tas gendongnya lalu mengambil KTP yang ada pada dompetnya.

Herlambang tersenyum dan bertanya, “Apa masih terasa keras mualnya?”

“Udah nggak.., mungkin udah habis semua makanan yang di perut.., Om,” sahut gadis cantik nan jelita itu dengan polosnya.

Herlambang yang mendengar hal itu tersenyum lebar dan berucap, “Ya sudah kamu tunggu disini. Om mau daftar ke dokter kandungan dulu.”

Herlambang melangkahkan kakinya kebagian pendaftaran pasien baru dengan menyerahkan KTP Elena dan meminta untuk konsultasi ke dokter kandungan. Usai memilih dokter kandungannya, Herlambang pun mendapatkan nomor antrean ketiga.

“Silakan Pak.., nomor antrean 3. Ruang dokter kandungannya ada di lantai 4. Jadi gunakan saja lift yang berada di kanan untuk pengunjung dan lift yang kiri untuk staf rumah sakit. Dan ini KTP nya saya kembalikan,” singkat petugas bagian pendaftaran itu memberitahukan ruang dokter yang dituju oleh Herlambang.

“Maaf Buu.., Apa dokternya sudah ada dilantai 4?” tanya Herlambang seraya melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. Terlihat saat itu jam masih menunjukkan jam 9 pagi.

“Dokternya sudah datang. Tetapi, beliau mulai praktik jam sepuluh, jadi harus menunggu satu jam lagi,” ucap petugas pendaftaran tersebut.

“Uhm.., baiklah.., apa ada disini kafetaria atau kantin dan sejenisnya?” tanya Herlambang.

“Ada Pak.., dilantai 4. Jadi sekalian saja ke atas, jadi kan sekalian menunggu panggilan nomor antrean, Bapak bisa mencari makanan dan minuman di sana,” sahut petugas bagian pendaftaran tersebut dengan ramah.

Kini rasa lapar dirasakan olehnya, karena sejak berangkat dari Perth kemarin sore lalu transit di Bandara Ngurah Rai subuh tadi lanjut terbang ke Jakarta hingga mendarat di Bandara Sukarno Hatta, tidak ada sedikit makanan yang memenuhi lambungnya.

Hingga Herlambang menuju ke rumah Elena dan melihat kondisi gadis cantik yang terlihat pucat, tidak sedikit pun perutnya merasa lapar, karena yang dipikirkan oleh Herlambang, bagaimana ia bisa secepatnya bertemu Elena, membawanya ke rumah sakit. Terlebih isak tangis gadis itu selalu terngiang di otaknya.

Mendapati gadis yang membuat cemas hati dan pikirannya telah tampak tidak mengawatirkan, Herlambang pun mengajak Elena menuju lift lantai 4, usai petugas pendaftaran mengatakan kalau dilantai tersebut ada sebuah restoran yang cukup terkenal pula.

“Lena.., ayo kita ke lantai 4. Sembari menunggu nanti kita cari makanan ringan,” ajak Herlambang menarik kopernya dan menggenggam jemari Elena menuju lift untuk sampai di lantai 4.

Ting...!

Mereka pun sampai dilantai 4. Setelah melihat arah tanda tempat restoran itu berada, Herlambang pun berjalan dan menarik koper kecilnya dengan tangan kiri dan menggenggam tangan Elena dengan tangan kanannya.

Mereka masuk ke restoran tersebut dan seorang pramusaji mencarikan tempat duduk untuk mereka lalu memberikan daftar menu pada keduanya.

“Elena.., makanlah walau sedikit,” pinta Herlambang usai ia memesan tongseng kambing yang terkenal pada restoran tersebut.

“Tapi.. Om.., saya takut mual lagi,” rajuknya menggelengkan kepalanya.

“Yaa.., udah minum jeruk hangat yaa..? Atau mau otak-otak..? Atau empek-empek kapal selam ini enak,” tunjuk Herlambang pada daftar menu.

Yang ada dipikiran Herlambang saat itu, bila Elena makan yang agak asam dan sedikit pedas dari bumbu kacang otak-otak, maka mual dan selera makannya akan kembali.

Lalu Elena pun mengangguk perlahan, menyetujui permintaan Herlambang. Sekitar lima belas menit kemudian, pesanan pun datang.

Tampak Herlambang menikmati tongseng kambing berikut nasi dan berisi acar timun serta wortel yang dipesannya.

“Lena.., makan otak-otaknya. Sini Om buka’in yaa.., ini bumbu kacangnya. Atau kamu mau makan empek-empek nya dulu?” tanya Herlambang disela menikmati makanannya dengan perut yang sejak kemarin tidak diisi.

“Elena liat..,, makanan yang dimakan Om keliatannya enak. Boleh Elena cicip sedikit?” tanya Elena dengan air liur yang ditelannya berulang kali, saat menghirup aroma tongseng kambing yang dinikmati oleh Herlambang.

Deg..!

Dalam hati Herlambang berbisik, ‘Apa bayi yang dikandung Elena.., anakku? Sejak berada dalam pelukanku di taxi tadi, dia udah nggak mual. Lalu.., makanan ini aroma kambingnya sangat kuat. Tapi, kenapa dia ingin mencicipinya? Apa ini yang namanya bawaan bayi? OMG!’

“Om.., nggak boleh yaa..?” rajuk Elena dengan raut wajah cemberut.

“Ayoo.. buka mulutmu.., biar Om suapi kamu. Kalau kamu suka, kita order lagi,” pinta Herlambang seraya menyodorkan sendok berisi nasi, daging tongseng dan Elena dengan malu-malu menerima suapan dari Herlambang.

“Kamu suka..? Om pesan lagi yaa? Nanti kita makan berdua,” tawar Herlambang disambut dengan anggukan Elena.

Herlambang yang melihat anggukan kepala Elena, merasa yakin kalau janin yang dikandung Elena adalah benihnya.

Herlambang yang tidak dapat menyembunyikan rasa harunya, memandang wajah Elena yang disuapi dengan kabut tipis yang menutupi netra hitamnya.

“Om kelihatan sedih..? Kenapa?” tanya Elena sembari menikmati suapan Herlambang.

“Om bahagia.., kamu akhirnya bisa makan. Tadi Om cemas.., sekarang Om pesan lagi yaa.., karena Om juga masih laper banget ini,” ujar Herlambang berbinar bahagia saat melihat Elena bisa makan dan terlihat manja padanya.

Satu jam pun berlalu, usai menghabisi seluruh makanan yang dipesannya bersama-sama. Mereka pun berjalan menuju ruang tunggu dokter kandungan yang berada di sisi kanan dari restoran tersebut.

Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang perawat dari dalam ruangan dokter kandungan keluar dan memanggil nama Elena.

“Elena..!” panggil perawat tersebut.

Elena dan Herlambang masuk bersama-sama dengan meninggalkan koper kecil di kursi yang mereka tempati dengan menitipkan pada seseorang yang menunggu giliran masuk.

“Selamat pagi.., silakan duduk pak.., dan Ibu.., silakan naik ke tempat tidur. Saya akan periksa bagian perutnya yaa,” Dokter wanita itu dengan ramah meminta Elena naik ke tempat tidur pemeriksaan.

Herlambang ikut berdiri memandang pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan yang membuka perut Elena dan meraba bagian di bawah pusar Elena.

Lalu, dokter kandungan itu berkata, “Baiklah Pak, silakan duduk.

"Barusan saya sudah memeriksa bagian kandungan istrinya. Dan benar istri bapak telah hamil selama dua minggu. Untuk pemeriksaan dengan USG dua minggu lagi baru bisa saya lakukan. Dan untuk saat ini ada keluhan?” tanya Dokter wanita itu tersenyum memandang wajah cantik Elena yang terlihat malu, banyak menunduk dan terdiam.

“Dokter.., mualnya itu buat dia nggak makan. Tapi, barusan sih sudah bisa makan dan banyak juga,” ucap Herlambang melirik ke arah Elena yang membisu tanpa berani menatap wajah dokter wanita itu.

Dalam pemikiran dokter kandungan dan perawat itu jelas menyatakan, kalau Elena adalah istri muda dari Herlambang saat dilihat dari kartu berobatnya berusia sembilan belas atau bisa dikatakan, menginjak dua puluh tahun, saat di bulan Mei, empat bulan lagi.

“Mual itu memang sudah jadi ciri khas orang hamil semester pertama. Masa ngidam dan apa bapak baru pertama kali akan punya anak dari istri bapak?” tanya dokter saat dilihatnya Herlambang sama sekali tidak punya pengetahuan.

Padahal kalau dilihat dari usia Herlambang, seharusnya lelaki seumurnya, sudah pernah punya anak.

Walaupun berwajah tampan namun kedewasaan yang terpancar pada cara berbicara dan raut wajahnya sudah bisa memperkirakan usainya. dan itu membuat dokter wanita ini bertanya atas pengalaman Herlambang.

“Baru pertama kali, dokter..,” ucap Herlambang menggenggam jemari tangan Elena yang terasa dingin.

“Ooh.., begitu.. selamat Pak.., selamat. Mungkin saja.., si jabang bayi lebih suka makan bareng Papanya yaa..,” senyum dokter tersebut melihat wajah Elena yang kian merunduk menahan malu.

“Baik.., saya buatkan resep penguat janin dan obat anti mual yang akan diminum bila mual. Ada lagi yang akan ditanyakan?” tanya dokter tersebut memandang Herlambang.

Herlambang pun berbisik pada Elena, “Lena.., kamu udah bisa keluar.., Om mau bertanya hal lain dengan dokternya.”

“Dokter.., terima kasih saya permisi dulu,” ucap Elena yang baru berani menatap wajah dokter tersebut saat berdiri dan keluar dari ruang pemeriksaan.

“Ada yang mau bapak tanyakan perihal kehamilan istri bapak?” tanya dokter wanita itu menyelidiki Herlambang yang terlihat ragu dan bimbang atas apa yang harus diutarakan.

“Uhm.., maaf Bu Dokter.., sebenarnya saya mau tanya, kapan kita bisa melakukan test DNA atas bayi yang dikandung. Apa harus menunggu lahir, dan kira-kira di usia kehamilan berapa bulan bisa melakukan test DNA?” tanya Herlambang seraya menelan saliva nya saat tatapan tajam curiga sang dokter mengulitinya.

“Untuk test DNA dapat dilakukan pada usia kandungan 12 minggu. Menggunakan pemeriksaan plasenta (CVS) mengambil cairan vili chorialis lalu dilakukan analisis dan perbandingan profil dari DNA kedua orang tua. Itu pun harus dilakukan oleh dokter yang sangat ahli,” ungkap dokter tersebut.

“Berarti.., usia kandungan Elena, baru dua minggu yaa Dokter. Jadi harus menunggu 10 minggu lagi?” tanya Herlambang kembali.

“Iyaa.. baru dua minggu. Jadi perlu waktu sepuluh minggu lagi, atau dua bulan setengah pada saat usia kandungannya tiga bulan. Maaf.., apa bapak mencurigai istri bapak selingkuh dengan yang lain?” tanya dokter tersebut.

“Ooh.., bukan dokter.., bukan begitu.., saya hanya takut kalau yang dikandung Elena adalah anak dari putra saya..,” ucap Herlambang, tanpa sengaja ucapan atas kecemasannya keluar begitu saja di depan dokter dan di dengar oleh perawat yang ada disana.

“Apa..?!” pekik dokter dan perawatnya terkejut dengan ucapan Herlambang.

“Ooh.. bukan begitu maksud saya Dokter. Maaf saya salah bicara.., baik terima kasih Dokter.., Hemm.., permisi,” ujar Herlambang meralat kata-katanya yang meluncur begitu saja.

Diruang itu dokter dan perawat yang terkejut dengan ucapan Herlambang hanya mampu saling berpandangan satu dan lainnya karena terkejut atas apa yang dikatakan Herlambang.

Gegas Herlambang mencari Elena yang duduk di samping kopernya.

Mereka pun berjalan menuju bagian administrasi untuk membayar biaya Dokter dan berjalan menuju Apotek dengan memberikan resep yang harus ditebus.

Saat mereka sedang menunggu di depan Apotek, ponsel Elena berdering. Terlihat Erlangga menghubunginya dan Elena yang takut ketahuan, kalau saat ini ia sedang bersama Herlambang, memperlihatkan panggilan Erlangga padanya.

“Om.., bagaimana ini.., Erlangga telepon. Saya harus jawab apa?” tanya Elena dengan wajah sepucat kapas.

Herlambang menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. dilihatnya Erlangga kembali menghubungi, usai Elena mengabaikannya.

Lalu mereka saling berpandangan satu dan lainnya. Saat untuk ketiga kalinya Erlangga menghubungi Elena, terlihat gadis cantik itu kian panik, gelisah dan tampak kian pucat pasi pada wajahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED