“Baguss ....”
Lisa menghela napas. Hari ini adalah hari terakhir liburannya sebagai siswi SMP. Mulai besok ia harus memulai hari yang baru menjadi seorang siswi di SMA Nusa Bhakti, SMA Negeri yang terkenal biasa saja tapi cukup membuat gadis itu bernapas lega. Sebenarnya bukan tidak mungkin bagi dirinya untuk mendapatkan tempat yang lebih baik dari ini, hanya saja ini keputusannya dan Bima. Walaupun bukan SMA Favorit, tapi bagi Lisa bisa satu sekolah dengan Bima a.k.a sahabatnya sudah lebih dari cukup. Mengingat mereka memang selalu bersama semenjak TK, rasanya memilih sekolah yang sama sudah menjadi tradisi sejak dulu. Bahkan saat papi-mami Bima pindah ke Malaysia dua tahun lalu untuk urusan pekerjaan, lelaki itu lebih memilih tetap tinggal di sini bersama bibinya hanya demi agar tidak berpisah dengan Lisa.
Hari ini Lisa dan Bima pergi ke toko buku. Seperti biasa mereka akan berpisah sesaat setelah memasuki toko. Bima pergi ke rak komik, sementara Lisa ke bagian novel. Kali ini gadis itu iseng melirik ke bagian genre novel dewasa. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bima, Lisa mengintip buku dewasa berjudul ‘My Sexcretary’ yang sampul plastiknya sudah terbuka, lalu dengan sigap menculik buku itu dan mengendap-endap mengambil spot di dekat jendela, duduk bersila serta mulai membaca. Gadis itu terhanyut dari halaman satu ke halaman yang lain. Bahkan dari halaman awal saja sudah menunjukkan bahwa ini benar-benar novel dewasa. Lisa terkikik pelan. Dunia orang dewasa memang menyenangkan.
“My ... Sexcretary?”
Slap! Lisa terkejut buru-buru menutup bukunya dan menoleh. Ternyata pemilik suara itu adalah seorang lelaki berbadan jangkung tengah berjongkok di sebelahnya. Sejenak ia tercenung. Sorot mata lelaki itu tajam, hidungnya mancung tapi tidak berlebihan, kulitnya sawo matang, manis sekali. Lucunya, lelaki itu memiliki bulu mata yang lentik, seperti wanita. Satu hal yang menarik darinya adalah warna matanya, sungguh coklat sekali seperti kayu. Lisa mengerjapkan matanya pelan. Jarang-jarang ia menemukan orang dengan warna mata seunik itu, terlebih lagi dengan wajah Indonesia yang kental.
“Entah sudah sejauh mana kau membacanya, tapi tolong berikan buku itu!” katanya kemudian dengan nada memerintah.
Sadar bahwa dirinya tengah dipergoki, Lisa hanya melongo. Siapa sebenarnya lelaki ini?
Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya, kepalanya sedikit miring ke kanan. “Berikan!”
Lisa terperanjat dan beringsut mundur. Ia masih tidak bisa bereaksi apapun karena telah tertangkap basah. Di samping itu ia juga heran, berani-beraninya lelaki asing ini berniat merebut buku ini darinya.
“Mana?”
“Tidak, aku tidak akan memberikannya pada orang asing sepertimu,” akhirnya Lisa bersuara walau setengah takut. Baru kali ini ada seseorang yang berani mengusiknya saat di toko buku. “Memangnya siapa kau?”
“Siapa aku itu tidak penting, tapi tolong berikan bukunya,” kata lelaki itu dengan nada menyuruh, “Aku tau persis, kau belum cukup umur untuk itu.”
Lisa menyerngit heran. “Tau dari mana?” lalu ia memandang ke arah lain. “Lagi pula aku yang pertama kali mengambilnya.”
“Jadi kau benar-benar tidak tau siapa aku?” lelaki itu mendesah. “Cepat berikan atau aku yang akan merebut paksa.”
Dari perkiraan Lisa, sepertinya lelaki ini usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Mungkin hanya terpaut beberapa tahun di atasnya, atau hampir sepantaran dengannya? Entahlah, ia tidak tau pasti. Tapi intinya lelaki itu nampak masih muda dan segar. Lisa diam-diam memperhatikannya dari kepala hingga kaki. Menurut sepanjang ingatannya, gadis itu yakin bahwa ini adalah kali pertama mereka bertemu.
Sejenak Lisa menduga bahwa lelaki ini salah satu pekerja di toko buku, tapi pikiran itu segera hilang karena lelaki itu jelas tidak memakai seragam seperti pegawai lainnya. Dia hanya memakai celana jins putih tulang dengan atasan turtleneck sweater hitam. Dia nampak normal, seperti pengunjung pada umumnya.
“Memangnya siapa kau?” tanya Lisa sewot, “Penguntit, ya?!”
Lelaki itu tidak sabar, direbutnya buku itu dari genggaman Lisa.
“EHH??” Lisa terkejut. Tapi gadis itu pun tak mau kalah, ditariknya kembali buku itu ke dekapannya. Namun, lelaki itu justru balik merebutnya. Walhasil, keduanya saling berebut. Mungkin kejadian seperti ini akan lumrah jika terjadi pada orang lain entah karena stok bukunya terbatas karena buku itu adalah buku limited edition keluaran lama, bukan buku genre dewasa semi porno seperti sekarang ini. Sungguh perebutan yang sengit, tapi sekaligus menggelikan.
"Lepaskan!” Lisa menarik buku itu sekuat tenaga. “Lepaskan atau aku akan berteriak?!”
“Berteriaklah sesukamu!” lelaki itu menarik bukunya lebih kuat. “Kau yang harus melepaskan!”
Untungnya situasi toko buku itu lumayan lengang, jadi setidaknya mereka tidak jadi tontonan. Tragedi saling berebut buku itu sekilas seperti pertarungan kucing dan banteng, alias sama sekali tidak imbang. Jelas saja Lisa kalah kuat. Akhirnya buku itu pun berhasil direbut oleh sang cowok.
“EEEHHH?!!” pekik Lisa kesal. Gadis itu hampir terjengkang karena sangking kuatnya tenaga lelaki itu. “Apa-apaan sih??”
Alih-alih meminta maaf, lelaki itu malah tersenyum puas.
“Tunggu sampai waktunya tiba, kau baru boleh membaca buku seperti ini.”
Lisa melotot tidak percaya. Ini pertama kalinya ada seseorang yang belum dikenalnya tapi sudah membuat dirinya kesal luar biasa. Dadanya naik turun karena sibuk mengatur napasnya yang masih satu dua. Belum sempat merecoki lelaki aneh itu, tiba-tiba si pemilik tubuh jangkung itu mendekatkan wajahnya lalu berbisik pelan, “Nanti, kau akan menyesal jika tau siapa aku.”
Badan Lisa seketika menegang. Ia menelan ludah. Gadis itu mengerjap tidak mengerti. Namun kali ini ia tidak menanggapi lelaki itu lagi.
Setelah mengucapkan kalimat itu, lelaki itu buru-buru berdiri dan pergi meninggalkan Lisa. Tentu saja buku itu juga dibawanya. Melihatnya berlalu, rasa kesal gadis itu berlipat ganda. Ditambah lagi saat melirik rak buku yang ada di depannya, ia berdecak karena buku berjudul My Sexcretary yang dibawa lelaki tadi adalah buku yang terakhir.
“Apa-apaan barusan itu,” Lisa menggerutu, “Sial, memangnya dia siapa?!”
Lisa bangkit dari duduknya lalu buru-buru merapikan bajunya. Gadis itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai detik ini ia akan selalu mengingat wajah lelaki menyebalkan itu selamanya. Setidaknya, jika ada kemungkinan suatu saat bertemu lagi di tempat lain ia harus balas dendam.
Pandangannya tidak lepas dari punggung lelaki itu yang mulai berjalan menjauh. Alih-alih mengejarnya, gadis itu malah berdiri mematung. Sejenak ia berpikir, jangan-jangan lelaki itu benar-benar mengenalinya? Tapi, di mana?
***
Pramana tersenyum. Gadis itu. Ini kali kedua mereka tak sengaja bertemu. Ya, gadis tanpa nama itu lagi-lagi membuat dadanya berdesir. Gadis manis dengan lesung pipit yang tidak terlalu dalam itu mengingatkannya akan masa lalunya. Rasanya, gadis tanpa nama itu terlalu mirip dengan Anjani.
Tentu saja pertemuan kedua yang tidak disangka-sangka rupanya akan menjadi kenangan yang tidak menyenangkan bagi gadis itu. Tapi bagaimanapun juga Pramana tetap bersikukuh bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar dan sama sekali tidak menyesalinya. Lelaki itu tau persis bahwa suatu saat jika gadis tanpa nama sudah mengetahui siapa dirinya, pasti juga akan berpikiran sama. Tapi yang jelas, gadis itu akan terkejut setidaknya sampai besok di acara upacara penerimaan siswa-siswi baru di SMA Nusa Bhakti.
Pertemuan pertama mereka tepatnya terjadi dua hari lalu. Sebenarnya sama tidak sengajanya dengan hari ini. Namun sepertinya gadis itu tidak menyadari atau mungkin sama sekali tidak ingat. Padahal pertemuan yang remeh temeh ini nyatanya berhasil membuat Pramana tersenyum lagi. Tentu saja sejak setelah sekian lama kisahnya bersama Anjani berakhir.
Pertemuan awalnya adalah saat Pramana sedang melakukan cek ulang dan membuat list alat-alat olahraga untuk keperluan inventaris di ruang peralatan olahraga seorang diri. Sebagai guru olahraga muda, ini adalah kali pertamanya ia diterima bekerja di SMA Nusa Bhakti. Usai lulus dan menyandang gelar sarjana di jurusan olahraga, selama satu tahun penuh ia mendedikasikan dirinya sebagai asisten dosen sekaligus menyibukkan diri mengurus berkas-berkas persiapan S2-nya. Pada akhirnya di tahun keduanya berkuliah S2, ia memutuskan untuk mencoba mendaftarkan diri sebagai guru SMA dan di sinilah ia berada sekarang.
Kebetulan hari ini sekolah sedang disibukkan dengan kegiatan pendaftaran ulang bagi siswa-siswi baru yang sudah dinyatakan lolos. Hal itu membuat atmosfer sekolah menjadi lebih ramai, terbukti dari tadi pagi saat belum genap pukul delapan sudah banyak orang yang memadati aula. Dapat dipastikan mereka adalah calon siswa-siswi baru.
Usai menuntaskan pekerjaannya, Pramana menghela napas puas. Ia melirik jam tangan, jarumnya menunjukkan pukul sebelas kurang sedikit. Lelaki itu cukup senang tugasnya selesai lebih cepat dari dugaan. Ia pun menyambar tas ranselnya berniat untuk bergegas meninggalkan sekolah, terlebih lagi ia memang tidak tergabung di panitia penyelenggara pendaftaran ulang siswa baru. Jadi, intinya kali ini ia bebas pulang lebih awal.
Baru saja lelaki itu ke luar dari ruang peralatan olahraga, dari kejauhan matanya menangkap seorang anak laki-laki dan perempuan seumuran belasan sedang berlarian di lapangan basket. Menurut dugaannya, bisa jadi keduanya adalah calon murid yang akan melakukan daftar ulang. Anak laki-laki itu memiliki postur tubuh agak kurus namun lumayan tinggi, sedangkan yang perempuan bertubuh mungil dan rambutnya tergerai sebahu. Keduanya berlarian seperti anak-anak, sesekali saling menjewer telinga, kemudian saling mengejar lagi.
Pramana senyum tak acuh, menutup pintu ruang peralatan olahraga lalu menguncinya. Sayup-sayup ia mendengar suara celoteh mereka.
“Berhenti atau kubakar habis bulu kakimu!”
“Hahahahahahaaha!”
Pramana menoleh, ternyata suara gadis itu.
“Berhentiiiiii!!”
“Hahahahahahahaha!” nampaknya gadis itu tengah mengejar si anak laki-laki, tapi yang dikejar malah semakin berlari menjauhinya. “Tangkap aku, cepat tangkap!”
Pramana terkekeh sambil mengamati keduanya. Si anak gadis mulai ngos-ngosan dan berhenti mengejar. Sementara si anak laki-laki tetap berlari, tapi mulai melambat.
Wajah gadis itu merah sekali, sangat kontras dengan kulit lengannya yang putih. Sambil membungkuk memegangi lutut, gadis itu menatap temannya geram dengan napas tersengal. Sesaat kemudian gadis itu membuat gerakan tiba-tiba, dan … hap! Ia berhasil menangkap teman laki-lakinya, merangkul dengan gerakan sedikit memutar.
Pramana tergelak, tidak menyadari bahwa ia mulai menikmati apa yang dilihatnya. Nampak gadis itu meringis lalu terbahak. Sejenak jantung Pramana berdesir, senyum gadis itu manis dengan lesung pipi yang tidak terlalu dalam, hidungnya kecil dan matanya bulat sekali. Saat tertawa, gadis itu memamerkan gigi kelincinya dengan gesture imut yang tidak berlebihan. Anjani, senyum dan gelagat gadis itu mirip sekali dengan gadisnya. Pramana menggeleng cepat. Mungkin ini hanya kebetulan.
“Kena kau!” pekik gadis itu, masih dengan senyuman lebarnya. “Bilang maaf, tidak?!”
Pramana masih tersenyum mengamati mereka.
“Cepat katakan!” katanya lagi. Gadis itu menggaet leher temannya.
“Iya iya baweeel!”
“Cepetaaan!”
Pramana tersenyum lagi. Tubuh gadis itu memang kecil, tapi justru itu yang membuatnya terlihat manis sekali.
“Maaa-aaaf!” anak laki-laki itu meringis namun mulutnya berusaha berbicara, “Udah, maaf, aduh leherku sakit sekali.”
Gadis itu baru mau melepaskan rangkulannya.
“Bagusss.”
Tanpa sadar Pramana tersenyum. Tapi sepertinya gadis itu mulai ngeh jika tengah diperhatikan, lalu sedetik kemudian terkesiap menoleh. Gadis itu mendapati Pramana yang diam mematung di depan pintu ruang peralatan olahraga, tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Pramana tersenyum tipis, gadis itu mengangguk kecil dan tersenyum samar. Mata mereka saling beradu beberapa detik. Pramana menyipit, sepertinya ia harus menahan diri untuk tidak berpikir yang tidak-tidak, karena gadis itu bagaimanapun juga adalah siswinya nanti.
“Siapa dia?” tanya anak laki-laki itu, “Kau mengenalnya?”
Gadis itu menggeleng. Tapi tatapannya masih lurus ke arah Pramana.
Kejadian itu tak berlangsung lama, namun lucunya Pramana merasa degup jantungnya tiba-tiba menjadi berpacu dua kali lebih cepat, sehingga kemudian menjadi alasan mengapa ia mendadak jadi salah tingkah. Lelaki itu membenahi ransel di pundak, lalu buru-buru meninggalkan tempat itu.
Setelahnya, Pramana hanya berjalan lurus menuju parkiran dan tidak menoleh lagi. Degup jantungnya masih tak beraturan. Senyum gadis itu masih memenuhi pikirannya. Bagaimana bisa, dua wanita yang berbeda terlihat begitu sama hanya dengan melihat senyumannya?
Tanpa sadar mulutnya menggumam lirih, “Dia bukan Anjani. Mereka hanya mirip, sadarlah, Pramana.”
Pramana menyalakan mesin motornya dan meninggalkan sekolah. Sejak hari itu, ia akan terus mengingat dengan baik gadis pemilik senyuman dengan lesung pipi tidak terlalu dalam. Setidaknya, kali ini Pramana bisa menahan diri. Degup jantungnya adalah pertanda bahwa mungkin ini hanya sebatas rasa kagum, tidak lebih dari itu.
***
Lisa masih tidak habis pikir dengan kejadian aneh nan menyebalkan yang menimpa dirinya beberapa menit lalu di toko buku. Karena suasana hatinya menjadi buruk, akhirnya ia memutuskan untuk tidak membeli buku apapun. Bahkan ketika ia dan Bima sudah berpindah tempat ke Mcd, gadis itu masih memasang wajah kecut. Ia sedang berpikir keras. Bima yang sedari tadi bingung ada apa gerangan, hanya bisa menggeleng pasrah dan memilih untuk fokus saja dengan kentang goreng di hadapannya. Lelaki itu terlihat tidak begitu peduli.
“Bim, Bima.”
Di bawah meja, Lisa menendang pelan kaki Bima, tatapannya menerawang ke tembok sebelah meja mereka.
“Apa?” Bima menyerngit, lalu menyuap beberapa keping kentang goreng ke mulutnya.
Lisa menatap Bima lurus. “Menurutmu apakah aneh jika ada orang yang menguntitku?”
“Tentu saja,” jawab Bima mantap. “Karena itu tidak mungkin.”
“Kenapa bisa tidak mungkin?” Lisa mendengus.
“Sekarang lihat,” ujar Bima sembari menunjuk hidung Lisa dengan kentang goreng yang mulai agak layu di jemarinya, “Untuk apa ada orang menguntitmu? Memangnya kau ini siapa?”
Bima melanjutkan argumennya, “Coba pikir, memangnya ada, orang yang sangking kurang kerjaannya sampai-sampai harus mengikutimu ke mana-mana tentu saja kecuali … aku?”
Lisa mendengarkan Bima masih dengan tatapan menerawang, kemudian ia manggut-manggut. Sepertinya kata-kata Bima ada benarnya juga.
“Memangnya ada yang mengikutimu? Siapa?”
Lisa mengangkat bahu. “Entahlah, kurasa iya.”
“Jangan bohong,” Bima berkilah, kali ini ia menyuap kentang goreng lebih banyak.
“Memangnya aku pernah berbohong, ya?” Lisa melotot.
“Memangnya kau tipe orang yang seperti apa sampai-sampai ada orang yang menguntitmu? Dan aku yakin seribu persen, wajahmu tidak mencerminkan sebagai orang yang banyak uang sehingga harus diikuti.”
“Mulut ini yang tadi bicara, huh?!” Lisa mencubit bibir Bima hingga tubuh cowok itu tertarik maju.
“Brutal!!” sembur Bima.
“Yang terakhir itu namanya penghinaan!” Lisa menyalak ketus, “Semakin lama menghabiskan waktu denganmu aku jadi semakin yakin bahwa aku sungguh telah melakukan dosa besar.”
“Kau terlalu melebih-lebihkan,” Bima mencibir. “Lagi pula memangnya ada ya, hal yang tidak masuk akal begitu? Memangnya siapa yang berani mengganggumu? Di mana? Masih mengikuti sampai sini?!” cowok itu malah meledek Lisa dengan pertanyaan bertubi-tubi, sambil berlagak gaya memasang ekspresi was-was. Kepalanya sampai menoleh ke kanan kiri seolah-olah ketakutan, tapi tentu saja itu hanya pura-pura.
“Trust me, Bim. Ada seseorang yang menggangguku dan aku tidak berbohong.”
Bima menghentikan makannya, kali ini lelaki itu menatap Lisa serius. Yang tadinya mulutnya gatal ingin berceloteh, kini mengatup kembali. Sesaat Lisa ingin menertawakannya, tapi gadis itu memilih untuk menahannya sejenak dan melanjutkan ceritanya.
Lisa melipat lengannya di dada.
“Sebenarnya tadi di toko buku ada seseorang, hemm, entah siapa, dia tiba-tiba datang dan tanpa ba-bi-bu, mengambil buku yang sedang kubawa. Ya, aku tidak mengerti apa alasannya, intinya dia merebut bukuku.”
“Hah, yang benar?”
Lisa mendesah. “Iya, benar.”
“Itu sih namanya dia menginginkan buku itu, bukan ingin menguntitmu,” Bima mencibir.
Lisa menggeleng. “Orang itu bahkan berkata seolah-olah jika aku tau siapa dia, aku akan menyesal.”
“Kau yakin, tak mengenalnya sama sekali?” tanya Bima dengan nada meremehkan, “Memangnya buku apa yang kau bawa, sampai-sampai dia merebutnya darimu?”
“Yaa buku ... buku, novel, emm,” Lisa tergagap, lalu menggeleng cepat. “Ah, tidak. Lupakan saja deh.”
“Buku apa?” Bima malah penasaran. Matanya sampai membulat. “Serius nih, aku jadi penasaran.”
Lisa berdecak. Mana mungkin dia mengatakan pada Bima jika ia diam-diam membaca novel dewasa? Walaupun mereka memang bersahabat bertahun-tahun, tapi Lisa tidak mungkin membuka aibnya sendiri. Menceritakannya sama saja dengan upaya mematahkan harga dirinya sendiri.
“Ah, tidak. Lupakan saja,” tukas gadis itu. Lalu ia melanjutkan ucapannya, “Anggap saja tadi aku tidak menceritakan apa-apa.”
“Yee, aneh,” Bima mencibir. Disuapnya kembali kentang goreng terakhir yang ada di meja. Tapi sedetik kemudian lelaki itu menatap Lisa tajam. “Tapi berjanjilah padaku jika ada yang mengganggu atau pun menguntitmu, aku pasti akan menghajarnya.”
Sejenak Lisa memejamkan matanya. Tidak, pasti kejadian ini hanya kebetulan semata. Anggap saja lelaki yang merebut bukunya adalah benar-benar orang asing dan tidak akan ada lagi pertemuan kedua maupun ketiga. Lisa hanya bisa berharap seperti itu. Sungguh, ini pertama kali ada seseorang dalam hidupnya yang sudah membuatnya malu setengah mati, namun justru orang tersebut tidak dikenalinya sama sekali.
“Thanks, Bim. Tapi kurasa kau benar,” gumam Lisa, mengangguk kecil sambil meyakinkan dirinya sendiri. “Aku terlalu melebih-lebihkan. Anggap saja orang itu memang mengincar bukunya.”
***
Gadis itu memilih untuk tidak memikirkan kejadian buruk hari ini. Bahkan saat tiba di rumah dan bertemu Ibunya, wajahnya kembali ceria seperti biasanya. Mendekati pukul enam sore, Lisa buru-buru menyiapkan makan malam. Kali ini ia membuat sup ayam favoritnya. Seperti biasa, Lisa selalu memasak menu makan malam untuk dimakan berdua dengan bunda. Sejak kecil Lisa memang hanya tinggal berdua. Sementara ayahnya yang merupakan seorang fotografer yang cukup handal pada masanya meninggal dan menjadi salah satu korban hilang pada bencana tsunami di Jepang. Kejadian itu terjadi saat Lisa masih berumur lima tahun dan di Jepang sedang musim semi. Kebetulan itu adalah momen emas bagi para fotografer untuk mengabadikan momen sebagai salah satu karyanya di kontes internasional. Namun siapa sangka bencana itu datang, sehingga Lisa kehilangan sosok ayah dengan jalan seperti ini? Tentu saja kehilangan salah satu orang tua merupakan pukulan keras baginya, terlebih lagi Ibunya.
Usai makan malam, gadis itu pergi ke kamar menyiapkan alat tulis, buku, dan seragam untuk sekolah besok. Walaupun biasanya di hari pertama sekolah masih belum memulai pelajaran dan diisi dengan perkenalan, tapi mempersiapkan segala hal dari awal juga tidak ada salahnya. Hanya sebagai formalitas untuk berjaga-jaga.
“Hei, sweetheart!” suara Bunda terdengar lalu beliau muncul dari balik pintu hanya dengan menampakkan sedikit kepalanya.
“Bunda boleh masuk?”
“Tentu,” jawab Lisa sambil membuka almari pakaiannya dan mengeluarkan seragamnya.
Bunda membuka pintu lebih lebar lalu berjalan memasuki kamar. Sejenak mengedarkan pandangan, lalu ia duduk di atas kasur.
“Kau harus berjanji akan menjadi anak yang manis besok.”
Lisa terkekeh pelan. Kemudian mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
“Jadi, bagaimana persiapanmu?” Bunda tersenyum. Tangannya terlipat di depan dada.
“Sudah semua,” jawab Lisa enteng, gadis itu berkacak pinggang. “Mulai besok, Lisa akan jadi anak SMA.”
“Bagusss …,”
Gadis itu memeluk Bundanya. “Bunda,”
“Apa?”
“Karena Lisa sudah SMA, itu tandanya boleh?”
“Boleh apa?” alis Bunda menyergit.
“Sudah boleh pacaran?”
“No, honey!” Bunda menggeleng keras. Melihat Lisa mendesah, Bunda membuka mulutnya lagi, “Kenapa tiba-tiba ingin punya pacar? Bukannya sudah ada Bima yang selalu menemanimu ke mana pun?”
Lisa cemberut. “Bunda tau bahwa itu pengecualian.”
Bunda mengacak-acak rambut anaknya dengan sayang.
“Malam ini tidur dengan Lisa, ya?” Lisa memohon. Tapi Bunda menggeleng sambil terkekeh.
“Malam ini Bunda lembur. Banyak naskah yang harus ditinjau kembali, entahlah Bundamu ini juga tidak tau pasti kapan semua ini selesai,” eluh Bunda sambil mengangkat alis matanya. “So, mungkin besok atau lain kali kita bisa tidur bersama.”
Pekerjaan Bunda adalah seorang editor. Setiap hari ia harus memeriksa satu persatu naskah yang ada. Bunda termasuk spesies manusia yang selalu betah berada di depan layar komputer berjam-jam. Di mata Lisa, Bunda-nya itu memang seorang wanita pekerja keras.
Lalu tiba-tiba Bunda melepas pelukannya dan beranjak mendekati pintu. Sebelum benar-benar pergi ia membalikkan badannya dan berkata, “Jangan lupa untuk bangun lebih pagi, kau tau sendiri kebiasaan Bunda usai lembur, kan?”
“Bangun siang, tidak bisa diganggu seperti orang mati,” Lisa menjawab dengan ekspresi datar. Tapi justru karena ekspresi itulah membuat Lisa terlihat seakan akan mengejek, Bunda malah tertawa memegangi perutnya.
“Bunda selalu curang.”
"Ah, baiklah, tapi siapa tau kalau tiba-tiba Bunda bisa bangun lebih dulu? Walaupun kemungkinannya keciiil sekali. Tapi, bagaimana pun terima kasih, kau memang putri terbaik Bunda!”
“Bunda selalu curang!” Lisa mengulang kata-katanya lagi. Ciri khasnya jika sedang menekan seseorang.
Bunda menatap Lisa masih dengan sisa tawanya.
“Apa lagii?”
“Lisa boleh pacaran ya?”
“Kenapa dibahas lagi ...” ujar Bunda sambil berlalu dan pintu kamar pun tertutup.
Lisa meringis. Dalam hati gadis itu tersenyum. Bunda dan segala percakapan sederhananya. Satu hal yang paling disukai Lisa dari Bunda adalah sesibuk apapun Ibunya, ia akan selalu menengok dirinya ke kamar sebelum tidur, memastikan anak semata wayangnya baik-baik saja. Satu kebiasaan kecil yang membuat gadis itu menyadari bahwa tidak ada cinta yang lebih besar ketimbang cinta ibu pada anaknya.
***
Upacara penerimaan siswa-siswi baru dilaksanakan hari ini ini. Sesuai dengan hasil tes psikotes yang dilangsungkan bersamaan dengan hari pendaftaran ulang tempo hari, Lisa dan Bima sepakat untuk mengambil jurusan IPS. Dan sepertinya takdir kembali berpihak pada mereka karena nyatanya dari sekian kelas yang ada di IPS, mereka malah dipersatukan di kelas IPS-1.
“Panasss ...” Lisa berbisik pada Bima yang berbaris tepat di depannya. Padahal upacara apel belum dimulai, tapi gadis itu sudah mengeluh setidaknya empat kali.
“Kau pikir kita sedang di puncak?” balas Bima setengah berbisik. Sementara Lisa menggumamkan hal yang tidak jelas.
“Bertahanlah sedikit lagi,” ujar Bima masih berbisik, lelaki itu tidak menoleh sedikit pun. “Jika kau bisa diam tanpa mengeluh sampai upacara ini berakhir, aku berjanji akan mentraktirmu makanan enak.”
Lisa mendesah pelan. Ia sedikit menyesal karena pagi ini bangun kesiangan dan terpaksa tidak sarapan sebelum berangkat sekolah. Bahkan ia juga tidak membangunkan bundanya.
Beberapa saat kemudian upacara dimulai. Nampak segelintir guru dan staf mulai ikut berbaris sejajar menghadap barisan murid. Upacara nan membosankan itu berlangsung sekitar setengah jam, sebelum barisan murid dibubarkan kepala sekolah naik ke podium dan memperkenalkan guru dan staf satu persatu.
“Jadi di sebelah kanan saya ada Pak Aslam Subadyo, guru mata pelajaran sejarah. Beliau sudah menjadi guru di sekolah ini selama sepuluh tahun dan selalu menjadi guru terfavorit," ucap Pak Edi a.k.a kepala sekolah sambil mempersilahkan, kemudian yang ditunjuk tersenyum dan melambai. Tepuk tangan seluruh murid pun langsung terdengar riuh.
“Bim,” Lisa berbisik, “Bima ...,”
Bima tidak menyahut karena karena suaranya yang terlalu pelan. Tiba-tiba tubuh Lisa agak terhuyung, namun sesaat kemudian ia berusaha berdiri tegak. Gadis itu lapar. Dirabanya perutnya yang bergemuruh pelan, lalu ia mendesah lagi. Salah satu hal yang menjadi kelemahannya adalah ia tidak bisa menahan lapar. Sedari kecil gadis itu memang sudah memiliki lambung yang mudah bermasalah, bahkan waktu SD ia pernah dirawat inap di rumah sakit selama seminggu karena maag akut. Lisa mengatur napasnya yang terasa sesak. Sengaja melewatkan sarapan adalah kebodohan yang harusnya tidak ia lakukan.
“Kemudian ada guru olahraga kita yang baru, beliau masih muda sekali, umurnya 22 tahun dan hari ini adalah hari pertamanya mengajar. Namanya Pak Pramana Adi!” lanjut Pak Edi. Si pemilik nama itu pun tersenyum dan membungkuk sopan. Senyumnya manis sekali, hingga membuat barisan siswi perempuan sedikit riuh, tapi kemudian Pak Edi menyuruh mereka untuk kembali tenang.
Lisa melihat guru itu dan berpikir sejenak. Pramana Adi. Guru olahraga muda itu memakai seragam seperti guru yang lainnya. Lisa merasakan perasaan yang aneh, karena lelaki itu terlihat tidak asing. Bahkan gesture tubuhnya mengingatkan Lisa pada suatu ingatan yang mengganggu pikirannya.
Kepala sekolah pun melanjutkan pengenalan guru yang lain, namun mata Lisa masih tidak lepas dengan guru olahraga bernama Pramana itu, tubuh jangkungnya, senyumnya. Lisa terus berpikir keras. Tapi semakin diingat, malah menyiksa dan membuatnya semakin lapar. ia masih mengawasinya sambil mengingat-ingat. Terlihat bahwa Pramana tengah mengedarkan pandangan ke barisan murid masih dengan senyumnya yang lebar. Namun sedetik kemudian, tatapannya berhenti tepat pada Lisa. Untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertemu.
Lisa terbelalak. Mata coklat seperti kayu itu ....
Tiba-tiba Lisa mendadak pusing. Rasa lapar pada perutnya kini berubah menjadi mual yang luar biasa. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, ia mencoba untuk tetap berdiri. Lisa terhuyung pelan, pandangannya kabur.
“Bim,“ lirih Lisa sambil mencoba menggapai punggung Bima, tapi tidak sampai. Bima tetap bergeming karena sepertinya lagi-lagi lirihan Lisa hampir tidak terdengar olehnya.
Lisa yakin ini bukan kebetulan. Kejadian menyebalkan kemarin sore seketika muncul kembali di ingatannya, seperti ada layar televisi super besar tengah memutar ulang momen itu. Sepersekian detik kemudian gadis itu terhuyung ke belakang, badannya limbung. Rasa mual dan pusing itu semakin menguasai tubuhnya. Kali ini ia tidak bisa mempertahankan tubuhnya lagi. Lalu tak sampai semenit, semua mendadak gelap.
Tapi satu hal yang sempat diingatnya sebelum benar-benar pingsan, adalah sekelebat bayangan seseorang tengah berlari ke arahnya secepat kilat. Lisa ingin bertahan namun tubuhnya menolak. Andai ia tau bahwa seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah si pemilik mata sewarna kayu kemarin sore.
***