Anna mengejar langkah Rio dengan napas tersengal-sengal, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahannya.
"Mas, kamu marah ya sama aku?" Tanya Anna, matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam, mencerminkan kegelisahannya yang mendalam terhadap hubungan mereka.
"Aku minta maaf sama sikap Papa kemarin."
"Aku harap kamu bisa ngertiin sikap Papa."
Rio menghentikan langkahnya tiba-tiba, ekspresinya gelap dan tegang saat Anna menyampaikan permintaan maafnya.
"Apa kamu paham maksud sikap Papa kamu kemarin sama aku?" tanya Rio dengan suara berat, matanya menatap tajam Anna.
"Kamu lupain aja lamaranku waktu itu ya."
"Maksud kamu?"
"Kenapa dibatalin Mas? Kamu udah gak sayang sama aku?"
"Aku sayang sama kamu, tapi emangnya kamu yakin kita bakalan bisa nikah?"
"Kenapa ngga Mas?" Balas Anna tajam.
"Kamu kenapa tiba-tiba ragu kayak gini?"
"Apa karena sikap Papa kemarin?"
"Papa emang kayak gitu, kamu gak perlu ambil serius sikap Papa sama kamu."
Terlihat jelas Anna masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Rio.
"Kamu yakin bisa ikuti ajaranku?"
"Anna, keluarga kita sama-sama penganut yang kuat, aku rasa gak mungkin salah satu dari kita bisa mengalah."
"Kalau kita masih keukeuh maksain, itu sama aja aku udah jadi pria teregois."
"Kamu yakin bisa memeluk agama yang sama denganku?" Tanya Rio menatap serius Anna.
"Ta-tapi aku gak mau hubungan kita berakhir gara-gara masalah ini Mas," balas Anna menggenggam kuat tangan Rio.
"Aku sayang banget sama kamu."
"Masalah agama ... aku akan coba pelan-pelan," terang Anna mencoba meyakinkan Rio.
***
Anna duduk sendirian di pojokan kafe, membenamkan dirinya dalam alunan lembut piano yang memenuhi ruangan. Setiap nada membangkitkan perasaannya yang kacau, mengingatkannya pada pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya.
Sambil menatap kosong ke arah jendela, Anna masih terperangkap dalam keraguannya sendiri, terombang-ambing di lautan ketidakpastian. Kata-kata Rio terus bergema di benaknya, menciptakan kekacauan dalam hatinya yang sudah terlalu penuh dengan kebingungan.
Waktu terasa berjalan lambat, seolah-olah berhenti sejenak untuk memberi Anna waktu yang ia butuhkan untuk merenung. Namun, bahkan setelah beberapa saat berlalu, Anna masih belum bisa menemukan jawaban yang ia cari.
Ketika alunan piano berganti dengan suara adzan yang memanggil untuk sholat ashar, Anna semakin tenggelam dalam keheningan yang menyelimuti hatinya. Suara adzan itu seperti mengingatkannya pada keagungan Tuhan, namun juga menambahkan beban pada keraguannya yang sudah terlalu berat.
Anna memejamkan mata sejenak, mencoba mencari ketenangan di dalam dirinya sendiri, namun pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab terus menghantui pikirannya. Bagaimana ia bisa memutuskan apa yang terbaik untuknya dan untuk hubungannya dengan Rio? Hanya waktu yang akan bisa memberikan jawaban, dan Anna harus bersabar menunggu saat itu tiba.
***
Di tempat lain, Rio pun duduk sendirian di sudut kafe, pikirannya terombang-ambing dalam pertimbangan yang sama seperti Anna. Selain masalah agama, Rio juga merenungkan perbedaan kasta keluarga Anna yang begitu jauh dengan dirinya. Baginya, rasanya tidaklah pantas jika ia, yang berasal dari latar belakang yang sederhana, meminang Anna yang memiliki darah biru di keluarganya.
"Ya Allah, kenapa baru kepikiran sekarang sih kalau aku ini gak pantes buat Anna...."
"Woi!! Kenapa lu?" Tiba-tiba teman akrab Rio datang menghampiri.
"Kagak, gue lagi capek aja."
"Dih serius lu?"
" ... Gimana lu udah nemuin tempat strategi buat bisnis parfum kita?"
"Gak taulah,pusing gue," ketus Rio.
"Gimana sih lu? Kan tugas lu yang nyari tempat."
"Iya maksud gue, gue masih belum nemuin lokasinya," Balas Rio.
"Udah lu tenang aja, pokoknya lu tahu beres aja."
"Bener ya?"
"Iya."
"Lu beneran gak ada masalah berat tuh?"
"Ayo lah, gue udah kenal lu lama kali."
"Hmm mentang-mentang dah kenal lama, lu jadi sok tahu gini ya," canda Rio.
"Kelihatan kali dari muka lu juga."
"Dahlah, fokus bahas bisnis kita," tegas Rio seraya memanggil waiters.
***
Sejak ucapan Rio kemarin, Anna selalu tidak semangat melakukan apapun. Banyak pemotretan yang Anna lewati, karena Anna lebih memilih untuk rebahan di kasurnya.
Anna membuka ponselnya, dan dengan gemetar mengetik pesan kepada Rio, mencoba menumpahkan kegelisahannya. Namun, ketika balasan dari Rio akhirnya datang, Anna merasa lebih terombang-ambing daripada sebelumnya.
Anna : "Mas, kamu masih marah sama aku?"
Anna : "Kok kamu kayak gini sih? Kamu yang ngajak nikah duluan, kenapa kamu jadi ragu gini?"
Anna : "Aku gak keberatan kok kalau harus ikut agama kamu."
Rio : "Aku gak mau egois, kalau dirasa terlalu berat buat kamu, aku gak mau memaksa."
Rio : "di agamaku, kamu harus ibadah 5x sehari, membaca kitab, berpuasa, zhikir, dan amalan lain."
Rio : "kamu yakin sanggup?"
Anna menyimpan ponselnya kembali, semakin merenungkan semuanya dengan hati yang berat. Anna merasa dirinya saat ini terjebak di antara cinta dan keterbatasan dirinya sendiri.
"Anna!! Ayo kita berangkat!!" Teriak Ibu Anna memanggilnya untuk ibadah, membuyarkan keheningan di dalam diri Anna. Dengan hati yang berat, Anna pum bangkit dari tempat tidurnya.
***
Disaat orang-orang sudah selesai dengan ibadahnya, Anna masih terpaku diam,
Anna menatap patung Yesus dengan tatapan yang lirih dan penuh kebimbangan.
"Apakah Tuhan akan marah padaku jika aku berpaling? Aku takut Tuhan akan menghukumku...." batin Anna
"Bagaimana jika Tuhannya Mas Rio tidak mau menerima hamba sepertiku?"
"Anna, kamu lagi ngapain?" Tegur Mama Anna mengejutkan Anna.
"Ayo Papa sama adek udah nungguin di mobil,"
"Anna masih mau disini Ma," terang Anna.
"Kamu lagi ada masalah?"
"Ngga Ma, cuma pengen curhat dikit ke Tuhan, bukan masalah serius kok."
"Beneran?"
"Iya, Anna ngerasa berdosa aja beberapa minggu ini terlalu sibuk sampe sering absen ke Gereja."
"Tuhan pasti ngerti kok, gak perlu kamu pikirin. Yang penting kamu masih mengingat Tuhan."
"Iya Ma," angguk Anna.
Setelah Mama Anna pergi, Anna kembali termenung memikirkan isi chat Rio pagi tadi.
***
Sementara itu di rumahnya, Rio tengah duduk santai membuka instagramnya.
Rio membalas satu persatu DM yang masuk, namun ada satu DM yang membuat semangat Rio tiba-tiba muncul.
DM itu berisi ajakan endorse dari sebuah brand pakaian yang mengajak Rio untuk bertemu untuk membicarakannya.
Tak mau menyiakan kesempatan, Rio langsung membalas DM tersebut dan siap-siap berangkat.
*Arborea Cafe : 13 : 40 P.M*
"Siang Mas"
Rio langsung beranjak bangun menyapa owner dzlo.clo.
"Eh siang," balas Rio mengajak berjabat tangan.
"Udah nunggu lama ya?" Tanyanya basa basi.
"Ngga kok"
"Hmm okee Mas kita langsung aja, jadi gimana, Mas Rio bersedia jadi brand ambassador dzlo.clo?"
"Saya sih gak keberatan ya Mas," jawab Rio.
"Kebetulan kita juga launching jaket baru yang menurut kita pas di badan Mas Rio."
Owner dzlo.clo menunjukan jaket hitam berbahan velvet.
"Kalau Mas setuju, nanti kita akan melakukan pemotretan bareng selebgram Clarissa. Nanti kita bisa atur waktunya kapan kalian bisa."
"Clarissa?"
"Iya, Mba Clarissa Morezzart, kita udah DM dia dan katanya dia bersedia jadi brand ambassador kita."
Rio yang tidak tahu siapa Clarissa, mengangkat sebelah alisnya.
***
Setelah dari Gereja, Anna pergi bersama Maaya untuk menenangkan pikirannya sejenak.
"Enaknya kita kemana nih?" Tanya Maaya namun Anna tidak menggubris.
"Ann?"
"Bentar lagi maghrib...."
"Ya terus?" Tanya Maaya tak paham.
"Kita mampir bentar ke Mesjid yuk."
"Hah?"
***
Anna dan Maaya turun dari mobil begitu sampai di salah satu Mesjid di Jakarta Selatan.
"Kita ngapain sih ke sini?" Tanya Maaya
"Kamu gak ada niatan buat itu kan?" Terlihat kekhawatiran di wajah Maaya.
"Ngga kok, aku cuma penasaran gimana sih cara orang muslim ibadah," ucap Anna.
Orang-orang mulai berdatangan ke Mesjid untuk menunaikan sholat maghrib. Anna melihat jika pria dan wanita beribadah terpisah.
Anna mengamati dengan serius setiap gerakan sholat yang mereka lakukan.
"Na, udah yuk, kita pergi," ajak Maaya.
"Gak enak banget kita disini," imbuhnya.
"Bentar May, tunggu mereka selesai," jawab Anna.
"Kamu ngapain sih fokus banget sama mereka?"
"Serius deh Ann, kamu gak ada niatan buat berpaling dari Tuhan kan?"
"Aku dan Mas Rio kan bentar lagi nikah, aku harus tahu ibadah Mas Rio tuh kayak gimana."
"Emangnya kalian sepakat nikah beda agama?" Tanya Maaya terkejut.
Anna diam termenung sedikit menundukan wajahnya.
"Maaya, kamu bisa gak rahasiain hal ini dulu? Terutama sama keluargaku."
"Maksud kamu?"
"Sebenernya aku... ada niatan ikut agama Mas Rio," ungkap Anna menatap Maaya yang syok.
*Bersambung*
"Jangan gila deh Ann!!" Semprot Maaya, suaranya dipenuhi dengan ketegangan.
Nampak kekecewaan dan putus asa di mata Maaya hingga suara Maaya terdengar gemetar.
"Jangan cuma gara-gara bucin sama cowo, kamu belok dari Tuhan."
"Kamu mau dicoret dari KK?"
"Lho salahnya dimana?" tanya Anna, mencoba menahan getaran dalam suaranya.
"Tuhan kita maupun Tuhan Mas Rio sama aja kan? Sama-sama Tuhan yang harus disembah?"
"Gak ada ya! Tuhan kalian berdua itu beda!" Tegas Maaya dengan keyakinan yang kuat.
"Kamu yakin Tuhan umat muslim itu nyata?" Kali ini ekspresi Maaya menunjukan keraguan.
"Maksudnya?" Anna menatap Maaya dengan pandangan tajam, mencoba mencerna kata-kata temannya tersebut.
"Setiap agama menegaskan Tuhan cuma ada satu, jika kamu percaya sama Tuhan, kamu harusnya mikir dong Tuhan Rio itu gak nyata."
"Nyelempeng kamu, makin ngawur," balas Anna mencoba menahan emosi yang memuncak.
"Aku gak suka sama cara pemikiran kamu, Maay."
"I-iya Maaf Ann, abis aku kaget banget."
"Emangnya kamu yakin orangtua kamu bakal setuju sama keputusan kamu?" Tanya Maaya meminta jawaban Anna.
"Aku emang gak yakin mereka setuju. Makanya aku tadi minta kamu buat rahasiain masalah ini," terang Anna dipenuhi rasa cemas yang mendalam.
***
Sementara itu, Rio masih duduk terpaku di cafe bersama ponselnya
"Clarissa Morrezart...." Rio mencoba mencari tahu siapa selebgram tersebut. Tapi sial, ada banyak pemilik nama akun tersebut dengan followers cukup banyak yang membuat Rio bingung, yang mana selebgram yang akan pemotretan dengannya nanti.
Tiba-tiba panggilan masuk dari Anna muncul di layar ponsel Rio.
Anna : "Mas, aku pengen bicara sama kamu. kamu dimana?"
Rio : "Kenapa Ann? Ada masalah?"
Rio : "Kamu sharelok, biar aku yang ke sana."
***
Rio tiba di lokasi dengan langkah cepat, pandangan cemas terpancar dari matanya saat dia melihat Anna.
"Kamu kenapa Ann?" tanya Rio dengan suara penuh kekhawatiran.
"Mas...." Anna perlahan menggenggam tangan Rio.
"Kamu mau kan bantu aku lebih mengenal agama kamu?" Pinta Anna, mengungkapkan keraguannya dengan hati terbuka.
"Aku pengen tahu jawaban apa yang nanti aku terima," tambah Anna, tatapannya tetap bertemu dengan Rio tanpa goyah.
"Kalau memang nantinya kita gak berjodoh karena tembok ini, aku gapapa."
Rio pun menatap Anna dengan penuh kelembutan, Rio menggenggam kuat tangan Anna mengelusnya lembut.
"Kamu yakin?"
"Aku sayang banget sama kamu, aku pengen nikah sama kamu."
Suara Rio mengalun penuh dengan kehangatan
"Kalau emang gak bisa, aku juga udah ikhlas." Tambahnya, menyiratkan kedewasaan dan keteguhan hatinya.
"... sekarang kita berjuang sama-sama yaa."
Anna tersenyum penuh harapan dan memeluk Rio dengan erat. Dalam pelukan itu, ia merasakan kehangatan dan cinta yang tak tergantikan. Ia berharap dan berdoa agar keputusan yang diambilnya dapat diterima oleh Tuhan, tanpa ada rintangan sulit apapun di depan mereka. Dengan Rio di sisinya, ia merasa mampu menghadapi segala hal.
***
Di tengah jam makan siangnya, Anna duduk dengan konsentrasi yang mendalam, matanya terpaku pada setiap gerakan sholat yang dipelajari melalui ponselnya. Sejak kemarin, Anna telah memulai perjalanan spiritualnya dengan mempelajari agama Islam melalui video di YouTube. Dari kejauhan, Maaya dan temannya, Diaz, terus memperhatikan setiap gerak-gerik Anna dengan tatapan waspada.
"Lu lihat, kayaknya si Anna beneran mau pindah agama deh," celetuk Maaya dengan nada cemas
"Ya emang kenapa?" Tanggap Diaz dengan sikap berbanding terbalik dengan Maaya.
"Emang kenapa lu bilang?" Sewot Maaya memukul ringan bahu Diaz.
"Sebagai teman, kita harus sadarin si Anna sebelum kelewat jauh," lanjutnya,
"Gue harus cepet-cepet telpon nyokap Si Anna, keburu dia makin dipengaruhi si Rio." Terang Maaya yang tatapannya masih fokus kepada Anna.
"Lah, Anna kan minta lu buat rahasiain ini," ucap Diaz sambil menahan Maaya.
"Kalau lu kasih tahu sekarang, yang ada bakalan kacau! Kesian Anna."
"Biarin dia nikah dulu sama si Rio," tambah Diaz memberikan saran bijak kepada Maaya.
"Lagian bukannya harusnya lu seneng kalau dia beneran pindah agama?"
"Maksud lu?"
"Dari dulu lu suka dokter pribadi keluarga si Anna kan?" Untuk mencairkan ketegangan, Diaz mencoba menggoda Maaya.
"Lu ngomong apaan sih" pipi chubby Maaya semakin terlihat besar karena rasa kesalnya.
"Haha, dahlah gue tahu kok," balas Diaz sambil tertawa.
"Kalau Anna pindah agama, otomatis dia gak mungkin bisa sama si dokter itu kan?" ejanya, mencoba menggoda Maaya lebih jauh.
"Udah biarin aja dia ikutin kepercayaan pacarnya."
"Atau, lu emang beneran senang kalau temen lu itu ribut besar sama keluarganya?" tebak Diaz sambil tersenyum, semakin membuat Maaya kesal.
"Lagian, gue juga gak terima ya lu terus-terusan sewot masalah agama. Agama gue gak buruk-buruk amat kayak di pikiran lu," ucap Diaz dengan nada yang meninggi, menunjukkan ketidaksetujuannya.
Dengan suara terbata-bata, Maaya mencoba menjelaskan.
"Ya bukan gitu maksud gue."
"Ma-maksud gue emang gak bisa agama masing-masing aja gitu. Si Anna gak perlu pindah agama segala."
"Ya gak bisalah. Di agama gue kalau nekat menikah beda agama itu sama aja kayak berzina seumur hidup."
"Udah ya, kita pesen makan aja. Laper nih."
"Iya, iya," tanggap Maaya dengan malas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dengan perut yang keroncongan, mereka akhirnya memesan makanan untuk mengakhiri diskusi yang panjang itu.
***
Jantung Anna berdegup begitu kencang, sensasi keringat dingin mulai mengalir turun dari pelipisnya saat ia merasa kebingungan. Dengan gemetar, Anna menarik nafas panjang berulang kali sebelum akhirnya ia memulai untuk mengucapkan sepatah-patah kalimat Syahadat.
"Kalau kamu emang gak yakin, gapapa, gak usah kamu terusin," ucap Rio dengan senyumannya yang penuh pengertian, mencoba meredakan ketegangan di udara.
Anna menatap mata Rio dengan tatapan penuh pertanyaan. Apakah Rio sangat berharap Anna bisa mengikuti agamanya?
"Aku boleh minta waktu 5 menit?" Pinta Anna sambil memandang Rio dengan harapan.
"Ya, gapapa, memang wajar jika masih ada keraguan di hati, karena memutuskan untuk berpindah keyakinan bukan hal yang mudah," ucap Ustadz dengan penuh pengertian, memberikan Anna waktu yang dia butuhkan untuk memutuskan langkahnya.
***
Di beranda mesjid yang tenang, Rio mendekati Anna dengan langkah hati-hati.
"Aku gak mau memaksa kamu-" Rio terhenti ketika Anna tiba-tiba memotong ucapannya.
"Emang gak bisa ya kita tetep nikah meski keyakinan kita beda?" protes Anna, suaranya penuh dengan kegelisahan.
Rio menatap Anna dengan penuh kelembutan, merasakan getaran yang tak terduga melintasi hatinya. Perlahan, ia menghela nafas. "Anna, sekarang aku tanya sama kamu," ucapnya dengan lembut. "Setelah beberapa hari kamu mempelajari Islam, apa yang kamu rasain?" tanyanya, matanya tetap bertemu dengan Anna, mencari jawaban di dalam tatapan wanita yang dicintainya.
"Jujur sih... aku belum ngerasain yang gimana-gimana," ungkap Anna dengan suara terbata-bata. "Tapi, setiap denger lantunan sholawat, hati aku lebih tenang dibanding aku berdoa sama Tuhan," tambahnya, mencoba mengungkapkan perasaannya yang rumit.
"Keputusan semua ada di diri kamu, kamu ikuti kata hati kamu," ucap Rio sambil tersenyum tipis, memberikan Anna kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.
"Kalau misalnya aku udah jadi mualaf dan kita menikah, kamu gak akan ninggalin aku kan, Mas?" tanya Anna dengan tatapan penuh harap.
"Gak, ketika kita udah nikah nanti, kamu udah jadi tanggung jawab aku sepenuhnya," jawab Rio dengan mantap. "Aku gak akan sia-siain pengorbanan kamu sekarang. Kalau kamu yakin, kamu ucap Bismillah yaa," tambahnya, memberikan dukungan penuh kepada Anna.
Anna termenung beberapa saat, matanya terus menatap wajah yang sangat dicintainya saat ini. Tanpa ragu lagi, ia menghela nafasnya. "Bis..millah," ucapnya perlahan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan yang tepat.
***
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin," sambungnya dengan penuh rasa syukur. Akhirnya, Anna berhasil melewati momen penting dalam perjalanan spiritualnya. Kini, dia merasa lega dan berharap bahwa keputusannya tidak akan salah.
"Kamu janji ya, Mas, gak akan ninggalin aku," bisik Anna dengan suara lembut, tatapannya penuh harap pada Rio.
"Iya," angguk Rio sambil tersenyum, memberikan janji dan dukungan penuh kepada Anna. Dalam senyumnya itu, Anna merasakan kehangatan dan kepastian bahwa mereka akan menghadapi segala hal bersama-sama.
***
"Ini." Rio memberikan seperangkat sajadah dan mukena berwarna putih kepada Anna.
"Kamu udah pelajari kan tatacaranya di youtube?"
"Tapi aku masih belum apal Mas," terang Anna dengan raut sedih.
"Gapapa, kamu pelan-pelan aja lihatin orang di sebelah kamu."
"Semangat ya, aku bakalan ikut bantu bimbing kamu," imbuh Rio tersenyum manis.
"Makasih ya, Mas," ucap Anna dengan senyumnya yang tenang, merasa lega karena memiliki dukungan dari Rio.
***
Bermodalkan headset dan ponselnya, Anna fokus menonton ceramah di YouTube, memperdalam pengetahuannya tentang agama yang baru dipelajarinya.
"Anna!!" Teriak Mama Anna dari lantai bawah, memanggil Anna untuk bersiap-siap.
"Iya Maa!!" Sahut Anna sambil segera turun ke bawah.
"Lho, kamu belum siap?" Tanya Mama Anna, melihat penampilan Anna masih berantakan.
"Anna kayaknya gak bisa ikut ke gereja deh, Ma, Pa, perut Anna sakit banget," terang Anna sambil meremas perutnya, mencoba menjelaskan keadaannya.
"Sakit apa? Paling sakit perut biasa itu, nanti kamu berdoa sama Tuhan juga bakalan sembuh," ucap Papa Anna dengan nada tidak percaya. "Ayo cepat siap-siap."
"Aduh, beneran Pa, perut Anna gak kuat sakit banget, kayaknya mau bulanan," tambah Anna dengan raut wajah yang kesakitan. "Anna berdoa di rumah aja ya."
"Yaudahlah Pa, biarin aja Anna istirahat di rumah," ucap Mama Anna membela Anna.
Anna merasa lega ketika diperbolehkan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Kok aneh ya Pa, udah 3x Anna gak mau ikut ke gereja," ujar Mama Anna setengah berbisik. "Kayak ada yang aneh gitu, Papa ngerasain juga kan?"
"Ya wong, kamu juga malah membela anakmu tadi. Kalau kamu gak percaya, kamu paksa dia ikut sama kita," balas Papa Anna.
"Ya, Mama masih mikir-mikir aja gitu, kasihan juga anaknya kalau kita paksa. Kalau beneran sakit, gimana?" ucap Mama Anna dengan nada penuh pertimbangan.
"Ah, udahlah, kita fokus ibadah dulu aja," balas Papa Anna seraya masuk ke dalam mobil, mencoba mengalihkan pembicaraan dan fokus pada ibadah mereka.
***
Anna berjalan ke ruang tengah dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Mas Rio bilang, kita bisa baca Al-Qur'an lewat aplikasi, coba install ah," celoteh Anna sambil membuka Google Play Store.
Setelah berhasil terinstall, Anna segera membuka aplikasi Iqro tersebut untuk melanjutkan apalannya.
"N... na... na... na," ucapnya pelan, sambil memperhatikan huruf-huruf di layar ponselnya.
"Na... ta... na...," lanjutnya, mencoba mengikuti langkah-langkah belajar yang diajarkan dalam aplikasi.
"Ba... na... na...," terdengar suaranya bergetar, mencoba memperdalam pengucapan.
Seketika, Anna tersentak dari konsentrasinya saat mendengar suara yang tidak terduga.
"Anna?"
Anna terkejut begitu memalingkan wajahnya, melihat Dokter Avan yang tiba-tiba muncul di ruang tengah. Ekspresi kaget dan malu tergambar jelas di wajah Anna, saat Dr.Avan menyadari bahwa dirinya sedang diam-diam belajar membaca Al-Qur'an.
*Bersambung*