Bab 2

Aku terbangun, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan serba putih. Bau obat-obatan begitu menusuk indera penciumanku. Entah sudah berapa lama aku terbaring di sini.

"Ah, mengapa kepalaku sakit sekali?" ringisku seraya memejamkan mata, berusaha mengingat kejadian yang kualami terakhir kali.

Aku mendesah, sesak rasanya kala mengenang keadaan sebelumnya. Ya Rabb ... mengapa tak kau cabut saja nyawa ini? Kembali kupejamkan mata, buliran bening pun luruh di pipi.

Dari balik pintu samar-samar kudengar orang mengobrol, tak lama setelah itu pintu terbuka.

"Korbannya sudah bangun, Pa," ucap seorang wanita yang kutaksir berusia tiga puluh tahunan. Seorang lelaki berkepala plontos mengikutinya dari arah belakang, mendekati blangkarku juga menanyai keadaanku.

"Kamu gak apa-apa, Sayang?" tanyanya padaku.

Aku merespon dengan sebuah senyuman.

"Nama kamu siapa? Tinggal di mana?" tanyanya lagi.

Aku bergeming, menunduk lalu berpikir. Haruskah aku mengungkap identitasku? Sementara ... aku berusaha untuk pergi dari kehidupan orangtua yang pilih kasih. Pikiranku berkecamuk hebat, tirta netra tak dapat dihentikan lagi. Mengingat wajah mereka saja sudah cukup membuat batinku tertekan.

"Nak?" Aku menyeka air mata, lalu mendongak menatap mereka. Kulihat wajah wanita itu cemas, lelaki di sampingnya pun turut iba memandangku.

"Dok, bagaimana ini?"

"Sepertinya anak ini mengalami amnesia, Bu. Namun, jika dilihat dari kondisinya, nampaknya itu tidak akan lama."

Aku terkejut mendengar penuturan Dokter, mengapa ia bisa menyimpulkan demikian? Padahal ingatanku sangat jelas, tak ada kejadian yang tak kuingat sebelum ini.

"Ya Allah, Sayang. Maafkan kami." Wanita itu terisak, lelaki berkepala plontos memeluk seraya mengusap-usap punggungnya. Raut wajah mereka menggambarkan perasaan bersalah yang amat dalam. hatiku terenyuh. Haruskah aku jujur? Jika aku mengatakan yang sebenarnya, mereka akan berhenti menangis, tetapi selanjutnya aku yang akan menangis karena harus kembali pada orangtua egois.

"Pak, Bu, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Adik ini hanya mengalami benturan ringan, jadi ingatannya akan pulih dengan segera," ujarnya.

Pria itu mengangguk, sedang si wanita masih tersedu-sedu sebab rasa bersalahnya. Selepas dokter mengatakan demikian, ia pamit karena harus menyelesaikan tugasnya yang lain.

Pria itu menuntun si wanita untuk duduk di kursi, lalu mengambil sebotol air mineral dari kantong yang dibawanya.

"Minum dulu, Ma." Si wanita meraih botol itu dan meminumnya secara perlahan, lalu bersandar pada pundak si lelaki yang kutebak pastilah suaminya.

"Pa, aku gak nyangka kalau kita bisa seceroboh itu dalam mengemudi. Bersyukur anak ini hanya amnesia, bagaimana jika dia meninggal? Aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sampai kapanpun."

"Sudah, Ma. Semuanya akan baik-baik saja," sahutnya seraya memandang ke arahku.

"Pa, berhubung anak ini belum mengingat siapa dirinya. Bagaimana kalau kita ajak pulang saja dulu?"

Aku mendongak kala mendengar usulan wanita itu, nampaknya ini bisa jadi kesempatan terbaik untuk mengubah kehidupanku.

"Papa setuju, tapi ... apa adik ini mau ikut sama kita?"

"Coba mama tanya dulu ya, Pa." Wanita itu beringsut dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiriku.

Aku kembali menunduk, mempertimbangkan kembali langkah yang akan kuambil.

"Dik, kamu mau gak tinggal sama Tante?"

Aku masih terdiam, bisikan di hati perang antara memilih kebenaran atau kebohongan. Jika aku berbohong, suatu saat mereka pasti akan kecewa kala mengetahui yang sebenarnya. Jika aku jujur, besar kemungkinan aku akan diantarkan ke rumah orangtuaku. Aku menatap wajah wanita yang tengah berdiri di samping blangkarku, dilihat dari wajah dan bawaannya dia adalah orang yang baik. Aku tak tega jika harus mengecewakannya. Oleh sebab itu, apapun konsekuensinya aku lebih memilih berkata jujur padanya.

"Tante, maafkan saya," ucapku seraya menahan tangis.

Wanita itu kian mendekat dan memelukku.

"Maaf untuk apa? Kamu gak salah, Sayang. Tante yang seharusnya minta maaf."

"Sebenarnya ... sebenarnya saya tidak hilang ingatan." Wanita itu terkejut, pria botak yang sedari tadi duduk di sofa berdiri seketika, lalu bergegas menghampiriku.

"Maafkan saya telah membuat kalian khawatir, maafkan saya." Aku tak kuasa membendung tangis, aku pasrah jika mereka marah dan memulangkanku ke desa.

"Ka-kamu beneran gak amnesia?" tanya lelaki itu meyakinkan.

Aku menggeleng, lantas sebuah senyuman terlukis di wajah wanita itu.

"Alhamdulillah ...." Wajahnya teramat bahagia, berbanding jauh denganku yang harus jatuh kembali ke lubang penderitaan.

"Dik? Sepertinya kamu sangat sedih. Kamu rindu orangtua, ya?"

"Kalau begitu, kita antar pulang saja dengan segera," tukas lelaki itu.

Wanita itu mengangguk, lantas kembali beralih menatapku.

"Kamu sabar, ya. Kalau dokter sudah memperbolehkan pulang, kami pasti bakal antar kamu ke tempat tinggalmu," hiburnya seraya mengusap pucuk kepalaku.

Mereka pikir aku bersedih karena rindu keluarga, nyatanya aku sama sekali tak ingin kembali ke sana. Mereka akan memulangkanku karena tak tahu kondisiku yang sebenarnya, haruskah aku menceritakan semuanya?

"Dik?" panggil wanita itu, "kamu makan, ya? Biar Tante suapi."

"Terimakasih, Tante, tetapi saya tidak lapar."

Aku menghela napas, berusaha menetralkan perasaan yang sangat kacau. Aku tak ingin hidup dalam kedustaaan, lebih baik menelan pahitnya kejujuran daripada harus hidup dengan manisnya kebohongan.

"Tante, bolehkah saya meminta satu permintaan?"

"Apa itu, Dik?"

"Jika dokter sudah memperbolehkan saya pulang, saya minta diantar ke panti asuhan saja."

Sontak pasangan suami istri yang sedang berada di sampingku itu terkesiap, hening beberapa detik, lantaran penasaran akhirnya mereka banyak menanyaiku.

"Orangtua kamu sudah tak ada, Sayang?"

"Tidak, orangtua saya masih hidup."

"Lantas, kenapa kamu mau tinggal di panti asuhan?"

"Saya ingin punya kehidupan baru, ingin mandiri dan tak mau terus berada di bawah perintah mereka."

"Maksud kamu?"

Dengan berat hati, akhirnya aku mengungkapkan semua perlakuan ibu dan bapak selama aku tinggal bersama mereka. Tak ada satu pun yang aku tutup-tutupi kepada sepasang suami istri ini. Aku menceritakan semuanya secara detail, lalu menunjukkan lebam-lebam di beberapa bagian tubuhku.

Aku tidak bermaksud mengumbar aib keluarga, aku hanya ingin terbebas dari mereka dan mendapat kehidupan tanpa penyiksaan.

"Astaghfirullahaladzim ... aku gak nyangka di zaman yang sudah modern seperti ini masih ada kepahaman seperti itu, Pa. Kenapa orangtuanya begitu tega menghajar anaknya sendiri?" ujar wanita itu seraya terisak-isak.

Aku menunduk, hatiku jauh lebih tenang setelah mengatakan semuanya. Mereka juga sudah berjanji tidak akan menceritakan kisah pilu hidupku kepada siapapun. Setidaknya, setelah keluar dari rumah sakit aku bisa tinggal di panti asuhan dan mempunyai banyak teman dan belajar, seperti yang diceritakan oleh BI Inah tetanggaku.

Suami dari wanita itu menarik lengan istrinya menuju sofa, terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Ah, apapun yang mereka bicarakan bukan urusanku, tak baik jika aku mengupingnya walau suara mereka samar-samar terdengar.

Aku menatap langit-langit bangsal yang kutempati, melamun membayangkan kehidupan baru yang sebentar lagi akan menyapaku.

"Dik, kami ingin berbicara serius." Pandanganku beralih, duduk menyandar dan menatap ke wajah mereka dengan jantung yang berdebar kencang.

"Dik, apa benar kamu tak mau kembali kepada orangtuamu?" Aku mengangguk.

"Maaf, Dik. Kami tak bisa mengantar kamu ke panti asuhan." Mataku membulat, napasku tercekat. Buliran intan berwarna jernih berlomba-lomba keluar dan berjatuhan.

Apa alasan mereka tak mau mengantarku? Bukankah aku sudah menceritakan semua kepedihan hidupku, tetapi mengapa mereka tetap ingin memulangkanku?

To be continued

Bab 3

"Kamu jangan bersedih, Sayang. Kami tak akan mengantar kamu ke panti, tapi kami mau kamu jadi anak angkat kami," terang wanita yang kusapa tante itu.

Aku tercengang, tak yakin dengan apa yang baru saja kudengar. Benarkah mereka akan mengadopsiku?

"Kamu mau 'kan tinggal sama kami?" tanya pria yang kusapa om.

Aku yakin telingaku tak salah mendengar, oleh sebab itu tanpa menunggu lama aku langsung mengangguk setuju. Mereka terlihat senang, begitu juga dengan diriku. Biarlah aku dikata anak yang tak tahu diri karena meninggalkan orangtua kandung, daripada harus menjadi anak berbakti tetapi tersiksa lahir dan batin. Aku ingin memiliki kehidupanku sendiri, kesehatan mentalku jauh lebih penting dibanding berkhidmat yang salah kaprah.

"Umur kamu berapa sekarang?"

"Sepuluh tahun, Tante." Wanita itu mengernyit.

",Kamu seksrsng sudah jadi anak kami, jadi jangan panggil Om dan Tante lagi, tapi panggil kami dengan sebutan papa dan mama, ya?"

"Baik, Tan-, eh Mama." Mereka tersenyum puas.

"Nama kamu siapa?"

"Saya Sarinah."

"Sarinah, ya?" Orangtua angkatku saling memandang, lalu beralih krmbali memandangku.

"Kamu diganti namanya mau?"

"Mau," ucapku senang.

"Hmm ... kasih nama siapa, ya, Pa?"

Orangtua angkatku nampak berpikir, aku tak mau ikut memikirkannya. Nama apapun yang mereka beri, aku akan menerimanya dengan lapang hati.

"Kaku Alma saja bagiamana?"

"Rully?"

"Ya, gabungan dari nama kita berdua, Rusdi dan Selly."

Ibu angkatku tertawa geli, tapi ia menyetujui nama yang diusulkan oleh ayah angkatku.

"Kamu suka namanya, Sayang?" tanya mama padaku.

Aku mengangguk. Baru sebentar kenal dengan mereka, tetapi hidupku rasanya sudah bahagia.

Selama aku di rumah sakit, mama selalu berada menemani. Sementara papa, ia sibuk bolak-balik karena harus mengurus perusahaannya. Seumur hidupku, baru kali ini rasanya aku benar-benar merasa mempunyai kasih sayang dari orangtua. Baru kali ini juga aku merasa makan dengan hati yang tenang dan senang.

*****

Pov Ibu kandung

"Pak, si Inah nggak ada di rumah! Udah ibu cari ke sekeliling rumah, tapi gak ada juga."

"Apa? Pergi ke mana dia?"

"Ya, nggak tahu atuh, Pak."

"Kita harus cari dia, Bu!"

Aku mengangguk dan bergegas keluar rumah, bertanya pada tetangga juga melapor pada ketua kampung.

Tiga hari sudah aku dan Kang Enjang mengitari kampung, mencari keberadaan Sarinah yang kini entah di mana. Aku khawatir dia diculik dan ... ah, aku tak sanggup membayangkannya. Berkali-kali aku mendatangi ketua dusun dan mendesaknya agar seluruh warga mencari keberadaan putriku. Namun, ia menolak dengan alasan warga tidak akan mau sebab punya tanggungan tersendiri.

"Pak tolonglah, bujuk warga agar mau bergerak mencari keberadaan Sarinah. Saya taku dia diculik dan diapa-apain."

"Bu Titin, desa kita ini aman. Sudah berpuluh-puluh tahun kita hidup di sini belum ada satu kejadian pun anak yang diculik."

"Tapi Sarinah gak ada di rumah, Pak. Dia hilang!"

"Saya yakin Sarinah tidak diculik," ucap pak ketua dengan senyuman sinis.

"Kenapa Pak Ketua bisa ngomong begitu?"

"Ya, karena selama saya hidup di sini, bahkan semenjak orangtua saya tinggal di sini tak ada yang namanya anak diculik. Kecuali ...."

"Kecuali?"

"Kecuali kalau Sarinah kabur." Perkataan pak ketua membuatku terhenyak.

Benarkah Sarinah kabur dari rumah? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku melupakan Sarinah begitu saja?

Dengan perasaan gamang aku undur diri dari rumah pak ketua. Lalu melangkah gontai menyusuri jalan setapak yang licin sebab tanah yang diguyur hujan.

"Gimana kata pak ketua, Bu?" tanya Kang Enjang yang entah sejak kapan berada di belakangku.

"Beliau gak mau memaksa warga, katanya Inah bukan diculik, tapi kabur." Kang Enjang berhenti seketika, menurunkan keranjang yang dipenuhi pisang dan nangka dari pundaknya.

"Kabur bagaimana?"

"Nggak tahu, Pak. Respon pak ketua sama tetangga yang kemarin ditanyai sedikit menyinggung. Wajah mereka juga sinis, keliatan banget gak sukanya."

"Sudahlah, Bu. Mungkin karena kita bukan warga asli ini, makanya mereka berat untuk membantu."

"Entahlah!"

Kang Enjang menaikan keranjang ke pundaknya, lalu kami kembali berjalan menuju rumah.

Saat sampai di rumah, kepalaku begitu sakit melihat halaman yang berserak. Begitu masuk ke dalam, sakitku kian bertambah. Baju yang menumpuk, kamar yang belum dibereskan, dapur yang berantakan. Ah, andai Inah ada, sudah pasti kondisi rumah tidak akan separah ini.

"Bu, kenapa gak ada makanan di meja?" teriak suamiku dari dapur.

"Astaghfirullah, ibu belum masak, Pak."

"Ibu ini bagaimana? Bukannya masak didahulukan, ini malah keliling gak jelas."

"Loh, ibu bukan keliling gak jelas. Tadi pagi 'kan ibu jaga dagangan di pasar waktu Bapak pergi antar Dino sekolah. Habis itu ibu bantuin Bapak jualan sampai Dzuhur."

"Ya, harusnya pulang dari pasar itu ibu langsung masak! Bukan malah nyari Sarinah."

"Ibu tadi cuma ke rumah pak ketua, Pak. Gak ada keliling kampung buat nanya-nanya lagi."

"Ibu jangan banyak alasan! Pokoknya bapak mau ibu siapin makan sekarang juga, udah jam dua tapi makanan belum tersedia. Jam berapa bapak mau makan siang," gerutu suamiku.

"Maaf, Pak. Ibu bakal masak sekarang juga." Aku bergegas ke keranjang bumbu dan mengambil beberapa bahan yang tersedia. Menyiangi,mencuci dan memasaknya dengan segera.

Aku sibuk berjibaku dengan bahan di dapur, sementara Kang Enjang asyik menonton TV dengan tangan memegang cerutu. Sepanjang memasak, serasa ada sesuatu yang terlupa, tetapi entah apa.

"Pak, ini sambalnya sudah siap," panggilku seraya menaruh masakan di meja.

Kang Enjang berjalan menuju makanan yang telah terhidang, lalu duduk dan memakan makanan yang telah kusediakan.

Cih!

"Ibu bisa masak gak, sih?"

"Ke- kenapa memangnya, Pak?"

"Coba sendiri!" Kang Enjang membanting sendok ke mangkuk berisi sambel terasi. Tentu saja hal itu menyebabkan isinya menyiprat ke mana-mana.

Dengan tangan bergemetar aku mengambil sendok lain dan mencicipi masakanku satu per satu. Benar apa kata suamiku, semua masakanku terasa manis.

Kang Enjang berdiri dan meninggalkan makan siang, wajahnya yang merah padam membuatku takut sekaligus sebal. Aku melirik jam, tersadar olehku Dino yang belum dijemput.

"Pak, tunggu!"

"Ada apa? Kamu mau nyuruh aku menghabiskan makananmu yang rasa kolak itu?" sarkasnya.

"Bukan, Pak. Ibu baru ingat kalau Dino belum dijemput."

"Ya udah, jemput aja sana!"

"Sekolah Dino 'kan jauh, Pak."

"Kakimu masih sehat, kan? Masa berjalan dua kilometer saja tak mampu!" Aku termangu mendengar ucapannya. Bagaimana bisa suamiku setega itu? Ah, semua ini gara-gara Sarinah! Coba aja kalau dia tak hilang, sudah pasti aku tak perlu berlelah-lelah mengerjakan semuanya.

Dengan badan yang lelah dan perasaan yang kecewa, aku terpaksa menjemput Dino sendiri.

"Eh, Bu Titin, tumben nih jam segini keluar. Mau ke mana?"

"Jemput Dino, Bu Siti."

"Oh, gak dijemput sama Kang Enjang?"

"Nggak, Bu. Kang Enjang lagi banyak kerjaan," dustaku.

Ya, sengaja aku berbohong kepada tetanggaku agar nama baik Kang Enjang terjaga. Namun, dilihat dari wajah Bu Siti, nampaknya dia tak memercayainya.

"Sudah dulu, ya, Bu. Saya harus menjemput Dino segera, khawatir kesorean," pamitku padanya.

"Hati-hati, ya, Bu. Jangan sampai anaknya hilang lagi."

Deg!

Dari nada bicara Bu Siti barusan sepertinya ia mengejekku. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa hampir semua tetanggaku tak menyukaiku?

To be continued

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED