“Selamat datang, Pak Wiratama,” ucap Pak Wildan menyadarkanku kalau ini bukanlah mimpi atau halusinasiku.
“Panggil saya Dave,” ucapnya tetap datar tanpa ekspresi, tatapannya mengarah kepadaku. Aku mampu merasakan kalau tatapan tajamnya menyusuri seluruh tubuhku seperti menelanjangiku. Ya Tuhan, pria brengsek ini, beraninya dia.
“Oh iya, Pak Dave, saya Wildan Handiansyah. Saya manajer di Divisi Marketing dan ini Agneta Laurinda Aretina, dia pegawai terbaik di divisi marketing di perusahaan ini,” jelas Pak Wildan.
Aku masih menatapnya penuh kebencian, bahkan aku mengepalkan kedua tanganku di kedua sisi tubuhku. Luka yang sudah lama aku kubur, kini kembali mencuat ke permukaan. Ada rasa sakit yang begitu membekas di relung hatiku. Luka yang teramat sakit karena pria di hadapanku ini.
Dia membalas tatapanku dengan tatapan tajam penuh intimidasi miliknya. Sama sekali tak ada yang berubah, dia tetaplah Dave yang sama seperti lima tahun yang lalu. Dia berjalan ke arahku, membuatku mundur selangkah untuk memberi jarak di antara kami. Dia terus mendekatiku seakan ingin menghapus jarak di antara kami. Aku segera menundukkan kepalaku karena tak sanggup lagi membalas tatapannya yang menakutkan dan juga mampu meluluhkan hatiku.
“Lama tak jumpa, Neta!” bisiknya membuatku meremang dan menelan ludahku sendiri.
Aku masih tak ingin membalas tatapannya yang mengintimidasi itu. Sungguh aku membenci pertemuan ini, aku membencinya, sangat membencinya.
“Aku merindukanmu,” bisiknya tepat di telingaku dan beranjak pergi. Membuat napasku berhenti sesaat.
Setelah kepergiannya, kali ini Pak Wildan yang menatapku penuh tanda tanya. Sepertinya dia penasaran atas perilaku Davero barusan.
“Saya permisi, Pak!” ucapku karena tak ingin membahas apa pun tentang Davero kepada Pak Wildan.
***
Saat ini aku tengah duduk di kursi yang ada di kafetaria kantor. Aku tengah menikmati makananku. Untunglah Aiden sedang ada pekerjaan, jadi dia tidak bisa makan siang bersamaku. Tidak, lebih tepatnya aku tengah mengaduk-aduk makananku sendiri tanpa selera. Pikiranku melayang memikirkan pria itu. Bagaimana bisa dia datang kembali? Pria yang sangat ingin kumusnahkan dari muka bumi ini, tetapi berada satu kantor sebagai atasanku. Apa aku harus keluar dari kantor ini? Apa itu tidak terdengar berlebihan? Sungguh, aku sangat sangat membencinya. Pria yang bahkan untuk menyebut namanya saja aku tak sudi.
“Woy! Malah melamun. Lagi mikirin abang Aiden, ya?” goda Sonya, itu menyadarkanku. Aku pun segera memperbaiki posisi dudukku dan raut wajahku.
“Tidak,” jawabku.
“Lo kenapa sih, Ta? Apa lo lagi marahan sama Aiden?” tanya Sonya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku tak bersemangat.
“Apa ini ada hubungannya dengan Regan? Regan baik-baik saja, 'kan?” tanyanya lagi, Sonya tampak khawatir.
“Dia baik-baik saja, Sonya.”
“Terus lo kenapa?” Dia menyentuh keningku, membuatku mengernyit. “Enggak panas,” ucapnya.
“Gue baik-baik saja, Sonya sayang,” ucapku meyakinkannya.
Sonya adalah sahabatku sekaligus tetanggaku, dia yang paling dekat denganku. Setelah insiden itu terjadi, aku tidak pernah mau lagi memiliki teman ataupun sahabat karena semuanya hanya manis di depan. Sonya pun tak tahu mengenai kehidupan di masa laluku; Sonya tau aku adalah seorang single parent yang ditinggalkan oleh suamiku dan membesarkan Regan seorang diri. Dia juga yang membantuku masuk ke perusahaan besar ini hingga aku mampu bertemu dengan Aiden. Aiden tahu kisahku, tetapi dia tak meninggalkanku. Dia masih menerimaku apa adanya walau aku belum mengatakan semuanya. Hubungan kami sudah memasuki satu tahun, tetapi aku berkali-kali menolak niat baik Aiden untuk menikahiku. Entah apa yang aku pertimbangkan lagi, tetapi yang pasti hatiku belum sepenuhnya untuk Aiden.
Masih ada dia. Pria yang menjadi cinta pertamaku. Pria yang kucintai sekaligus kubenci. Pria yang tidak pernah ingin aku temui seumur hidupku, tetapi sekarang dia menjadi atasanku dan sialnya dialah pewaris tunggal dari perusahaan besar ini. Kenyataan pahit lainnya adalah dia sepupu dari Aiden kekasihku. Ya Tuhan, apa maksud dari semua ini?
“Malah ngelamun lagi, mood lo lagi jelek banget, ya, sekarang,” ucap Sonya membuatku sadar kembali bahwa dia masih berada di depanku.
“Iya. Hancur banget malahan,” jawabku asal.
“Tetapi setidaknya tetap makan dong,” ucapnya dan aku mengangguk.
Tatapanku mengarah keluar jendela kafetaria, di sana terlihat jelas pria itu tengah berjalan menuju lobi kantor.
“Lihatlah bos baru kita! Tampan sekali, 'kan? Inilah yang disebut pengeran sempurna, sudah tampan dia juga seorang miliuner. Perusahaannya ada di beberapa negara maju, pastinya banyak sekali wanita yang rela merendahkan diri hanya untuk bisa tidur bersamanya,” ucap Sonya berlebihan, entah kenapa itu membuat dadaku terasa terhantam dan merasa nyeri.
“Tidak semua wanita seperti itu,” ucapku kesal. Tersinggung dengan ucapannya.
“Heh, Lo kenapa, kok kayak emosi gitu? Apa kesan dia nggak baik buat Lo? Tapi memang sih dia agak cuek, bahkan buat senyum aja dia nggak bisa,” kata Sonya panjang lebar dan aku hanya bisa mendengus.
Bagaimana bisa pria tak berperasaan itu disebut pangeran sempurna. Yang benar saja!
***
Keesokan hari aku datang terlambat ke kantor karena Regan entah kenapa pagi tadi rewel sekali dan tak ingin kutinggalkan di sekolah. Aiden juga tidak bisa mengantarkan karena sedang ada meeting di luar kota. Terpaksa aku menungguinya dulu selama satu jam sampai dia kembali membaik dan membaur bersama teman-temannya. Setelah masuk ke lobi, aku tergesa-gesa menuju lift tanpa memperhatikan sekitar agar bisa masuk ke dalam lift yang nyaris tertutup rapat. Aku segera menekan tombol angka tujuh untuk menuju ke ruanganku, tetapi aku mencium parfum maskulin yang tak asing di indra penciumanku. Parfum? Aku menengok ke belakang dan damn it! Aku tak sadar telah masuk ke dalam lift khusus untuk para pejabat tinggi dan pria brengsek itu berdiri tepat di belakangku dengan tatapannya seperti biasa, tajam penuh intimidasi. Aku segera menekan tombol lift berkali-kali untuk menghentikan lift dan segera keluar dari ruangan sempit dan menyeramkan ini.
“Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama,” ucapnya dengan angkuh.
Aku tak ingin meresponnya sama sekali dan terus mencoba menekan tombol lift sambil melafalkan doa-doa agar setan di belakangku lenyap dan hilang dari peradaban dunia. Aku tersentak saat dia menarik lenganku dan menghimpit tubuhku ke dinding lift. Mau apa dia? Takut? Yah, itulah yang saat ini aku rasakan. Bayangan lima tahun lalu kembali mengusik pikiranku. Insiden menyakitkan yang berhasil memorak-porandakan kehidupanku.
“Apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku dengan sinis
“Ada apa?” Dia menunjukkan seringainya, sebelah alisnya terangkat. Masih terlihat sama seperti dulu, tak ada yang berubah.
“Menyingkirlah!” ucapku tajam.
Dia mungkin berpikir aku masih Agneta lima tahun lalu yang dengan mudahnya dia tipu dan bodohi. Sekarang aku adalah Agneta yang tak akan pernah kalah lagi. Cinta? Cih, aku tak ingin mengenal kata cinta itu lagi. Sudah cukup semua rasa sakit itu!
“Kau terlihat semakin cantik saja. Di mana kacamata tebalmu itu?”
Ucapannya membuatku membuang muka karena tak ingin menatapnya lagi. “Maaf, Pak Davero yang terhormat. Bisakah Anda menyingkir? Kalau orang lain melihat kita seperti ini maka gosip tak sedap akan menyebar dengan cepat. Anda tak ingin digosipkan sampai masuk majalah dan koran karena tepergok berlaku tak senonoh pada bawahannya,” ucapku dengan tegas tanpa ingin menunjukkan ketakutanku
Tentu saja, dia hanya tersenyum manis padaku, bukan senyum manis seperti orang biasanya. Itu adalah senyuman manis yang menyimpan sebuah racun mematikan di dalamnya, senyum penuh misteri yang malah membuatku bergidik ngeri.
“Aku tidak peduli,” ucapnya.
Ia semakin mendekatiku, bahkan sedikit saja aku bergerak, mungkin hidung kami akan bersentuhan. Napas mint-nya menerpa wajahku, menggelitik kulitku. Ya Tuhan, tolong aku. Sekarang aku merasa sangat takut, keringat dingin memenuhi sekujur tubuhku. Kepingan bayangan di masa lalu kembali memenuhi pikiran, otak yang sebelumnya sudah aku hapus dan menggantinya dengan kenangan indah bersama Regan dan Aiden, kembali terserang virus dari pria ini. Aku menunduk takut, tak ingin melihat sorot mata yang mampu memperdaya. Seluruh tubuhku terasa membeku dan merinding,
Aarghhh! Lepaskan! Sakitt! Tolong jangan lakukan ini, kumohonnn! Hiks. Jeritan demi jeritan mengusik ingatanku kembali.
Ting!
Syukurlah, pintu lift terbuka tepat waktu. Sekuat tenaga kudorong tubuh besar Davero dan segera berlari keluar dari lift tanpa ingin menoleh lagi ke belakang. Aku langsung menuju toilet yang berada dekat ruanganku dan menangis di salah satu kubikel. Dadaku terasa terhimpit, rasanya sangat sesak. Kepingan menyakitkan itu sedikit demi sedikit mencuat ke permukaan.
Kenapa? Kenapa Tuhan tak mengabulkan doaku? Kenapa dia harus kembali? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku keluar dari sini dan memilih pergi sejauh mungkin?
Tidak, Agneta. Kamu sangat sulit masuk ke perusahaan ini, bahkan hanya mengandalkan ijazah SMA-mu. Kamu harus kuat, Agneta. Kalau kamu lemah, bagaimana dengan Regan? Mau diberi makan apa kalau kamu sampai keluar dari pekerjaan yang sudah membantu kelangsungan hidupmu dan Regan selama ini. Kamu bukan lagi wanita lemah seperti lima tahun yang lalu, Agneta. Kamu wanita kuat dan kamu harus kuat demi Regan.
Ya, semuanya hanya demi Regan seorang. Hanya dia dan untuk dia! Putra semata wayangku. Itu yang kupikirkan ketika menangisi segalanya.
***
Malam ini aku baru saja selesai memasak untuk Regan. Aku segera duduk di sampingnya yang asyik belajar menulis.
“Wah, anaknya Bunda sudah bisa menulis huruf A, ya. Regan pinter sekali,” pujiku sambil mengusap kepalanya.
“Iya, Bunda. Kata Bu Gulu, Egan sudah pintal menulis,” ucap Regan dengan cadelnya, itu membuatku tak ingin melewatkan untuk selalu mencium pipi tembamnya.
“Prince-nya Bunda lapar, tidak?” tanyaku.
“Lapal banget-banget, Bunda. Egan mau makan,” ucapnya dengan bersemangat.
“Kalau begitu, ayo kita terbang ke meja makan!” Aku mengangkat tubuh mungil Regan dan mendudukkannya di kursi meja makan. “Pendaratan berhasil,” ucapku membuatnya terkekeh.
“Bunda masak apa?” tanyanya menatap makanan di atas meja.
“Bunda masak ayam goreng kesukaannya Egan,” ucapku mengambilkan nasi dan paha ayam kesukaannya.
“Asyik! Soalnya kalau di lumah tante Ilen, Egan nggak makan ayam goleng,” ucapnya.
Aku tersenyum dan menyodorkan makanan kepadanya. “Makan yang banyak ya, Sayangnya Bunda.”
Aku belum kasih tahu siapa itu Iren. Iren adalah adik kandung Sonya. Keluarga Sonya begitu baik kepadaku dan Regan. Mereka membantuku mengurusi Regan selama aku bekerja. Setelah keluargaku membuangku, keluarga lain merangkulku. Ya, Ironis memang. Lima tahun sudah berlalu, tetapi aku masih belum tahu bagaimana keadaan keluargaku di Semarang saat ini. Aku berharap mereka mencariku. Meski itu tampak mustahil setelah apa yang terjadi.
“Bunda, kenapa tidak makan juga?” Suara Regan menyadarkanku.
Aku tersenyum padanya.
“Bunda senang lihat Egan makan. Mau tambah lagi?” tanyaku padanya dan dibalas anggukan antusias.
Aku mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Regan. Regan kembali memakannya, tetapi seketika dia menyodorkan makanan ke arahku.
“Aaaaak, Bunda!” bujuk Regan.
Aku membuka mulut untuk menerima suapan darinya dan Regan berkata lagi, “Bunda halus makan yang banyak, bial Bunda kuat. Bunda kan halus kelja buat bayal sekolah Egan.”
Sungguh kepolosannya membuatku berkaca-kaca. Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau sudah memberiku seorang malaikat kecil yang mampu menguatkan hatiku. Kumohon jangan pisahkan kami berdua, Tuhan. Sungguh, tak pernah kubayangkan jika itu terjadi. Aku meneteskan air mata.
“Bunda, kenapa nangis? Apa makanannya tidak enak?” tanya Egan.
“Tidak, Sayang. Ini sangatlah enak. Bunda hanya terharu saja melihat perhatianmu,” ucapku.
“Kalena Egan sayang Bunda. Bunda jangan nangis ya!” Regan menghapus air mata di pipiku. Aku mengangguk dan memeluk tubuh Regan.
Aku tidak boleh terlihat lemah di depan Regan. Aku harus menjadi seorang wanita kuat untuk malaikat kecilku ini.
***
Keesokan harinya aku sibuk mengerjakan beberapa laporan yang diminta Pak Wildan.
“Sibuk, ya?” Sonya sudah berdiri di luar kubikelku.
“Hmm. Ini harus selesai sore ini,” ucapku masih sibuk mengerjakan pekerjaanku.
“Eh, Ta, Pak Dave ternyata masih single lho. Dia belum memiliki tunangan dan belum juga menikah. Kemarin gue ketemu dengan sekretarisnya dan dia bilang semua itu. Bahkan di kantor langsung ada grup Dave Lovers. Gue seneng bisa gabung di grup itu.”
Celotehannya membuatku muak untuk mendengarnya.
“Apa tidak ada hal yang lebih menarik lagi yang bisa lo ceritakan selain bos kesukaan lo itu?” ucapku meliriknya sekilas.
“Oh, ayolah, Agneta sayang. Lo nggak kepikiran buat pindah haluan, 'kan?” ucapnya membuatku menghentikan pekerjaanku dan menatap tajam ke arahnya.
“Oh, ayolah, Nona Sonya yang cantik. Bisakah kau mengubah topik pembicaraan? Telingaku berasa mau pecah mendengarkanmu yang terus mengoceh mengenai bos baru itu,” ucapku dengan nada bercanda padahal hatiku sudah sangat kesal.
Dia terkekeh kepadaku.
“Kalo gitu, bagaimana kalau kita bahas Pak Aiden? Bagaimana sekarang kelanjutan hubungan lo sama dia. Lo kangen dia karena dia ada pekerjaan di luar kantor beberapa hari ini, 'kan?” ucapnya membuatku menghela napas.
“Apaan sih, Lo?,” ucapku.
“Apaan, tapi pipinya blushing, cieee!” ejeknya membuatku memutar bola mataku malas.
Aku merapikan laporan yang baru saja aku print-out dan memasukannya ke dalam map biru.
“Sudahlah. Jangan berceloteh terus, gue mau ke ruangan Pak Wildan dulu,” ucapku sambil bergegas meninggalkan Sonya yang masih saja meledekku seperti anak remaja.
Aku memasuki ruangan Pak Wildan setelah ada izin dan segera menyerahkan dokumen yang baru saja diselesaikan kepadanya.
“Good,” pujinya saat dia memeriksa berkas laporan.
Aku tersenyum dan merasa puas mendengar komentar tersebut. Tentu saja karena aku selalu berusaha bekerja sebaik mungkin tanpa ingin mengecewakan siapa pun.
“Neta, tolong kamu berikan laporan ini langsung ke ruangan Pak Dave, ya!” perintah Pak Wildan, membuatku membeku di tempat.
“Sa-saya, Pak?” gumamku tercekat.
“Ya, Pak Dave ingin memeriksanya langsung. Apa ada masalah?” tanya Pak Wildan menatapku curiga.
Aku segera menggeleng, tak ingin Pak Wildan menaruh kecurigaan apa pun.
“Baiklah, Pak. Saya akan antar dokumen ini ke ruangan Pak Davero,” ucapku sambil mengambil kembali dokumen itu.
“Neta,” panggil Pak Wildan ketika aku hendak beranjak pergi. “Kamu baik-baik saja, 'kan?”
“Iya, Pak. Saya baik-baik saja,” ucapku dan bergegas pergi.
Aku menaiki lift dan menekan tombol 29 untuk menuju ruangannya kemudian meremas-remas tangan karena gugup dan rasa takut.
Kamu bisa, Agneta. Kuatkan dirimu, pasti bisa untuk melakukannya. Itu yang kuucapkan pada sendiri sambil menunggu pintu lift terbuka.
Ting!
Lamunanku buyar saat pintu lift terbuka dan menampakan karpet beludru merah nan mewah. Aku berjalan menyusuri karpet itu hingga bertemu dengan ruangan cukup luas dan di sana ada Rachel, sekretaris Davero. Dia tersenyum hangat menyambutku.
“Ingin bertemu Pak Dave, ya?” tanyanya dan aku mengangguk sebagai jawaban. “Masuklah, dia sudah menunggu,” ucapnya membuatku tersenyum miris.
Apa yang diinginkan pria brengsek ini?
Aku masuk ke dalam ruangannya setelah diizinkan. Di sana merupakan sebuah ruangan mewah dan luas dan ini kali pertamanya aku memasuki ruangan CEO, sang bos besar. Sebelumnya mana pernah karyawan rendahan sepertiku memasuki area bos besar seperti ini. Sekarang, di sinilah aku. Terlihat berbagai piala dan penghargaan yang diraih oleh perusahaan ini di ruangan yang baru pertama kali kumasuki selama bekerja dua tahun di sini. Pandanganku mengarah kepada sosok yang begitu kubenci. Dia tengah mengetik sesuatu di laptopnya ketika aku berjalan mendekati meja kebesarannya.
“Ini laporan yang Anda minta, Pak,” ucapku seraya menyodorkan dokumen itu di atas mejanya.
“Hmm,” jawabnya.
“Kalau begitu, saya permisi.” Aku mundur hendak berbalik untuk keluar.
“Agneta, tunggu!”
Ucapannya menghentikan gerakanku yang sudah berbalik. Dia berdiri dari kursinya dan menatap tajam ke arahku. Tatapan itu selalu membuatku membeku dan melemahkan. Dia meraih dokumen yang kuberikan dan membukanya sambil kemudian duduk di sisi mejanya untuk membaca dokumen itu.
Lima tahun berlalu, tetapi tak ada yang berubah darinya. Dia tetaplah iblis tampan yang sudah menghancurkan hidupku. Wajahnya terlihat semakin tampan dan jauh lebih dewasa, apalagi ditambah bulu-bulu halus yang memenuhi rahangnya. Bulu matanya tetap lentik, mata abunya yang tajam dan penuh intimidasi, sudah kukatakan untuk kesekian kalinya. Dia memang tetaplah Dave yang kukenal.
“Good,” ucapnya sambil melirik ke arahku.
Aku masih menatapnya dengan dingin.
“Ternyata benar adanya bahwa kau memang karyawan terbaik di sini. Pantas saja manajermu itu selalu membanggakanmu. Pekerjaanmu patut diberi pujian,” ucapnya.
“Terima kasih,” jawabku.
Dia masih menatapku. “Lima tahun sudah berlalu. Cukup lama, 'kan?”
Tentu saja ucapannya tidak membutuhkan tanggapanku. Dia kembali berdiri dan berjalan mendekatiku. Itu membuatku mundur beberapa langkah dan terus berjalan mundur hingga pantatku menabrak kepala sofa di belakang. Dia mengungkung tubuhku dengan kedua tangannya yang berpegangan ke kepala sofa membuatku tak dapat berkutik dan menahan napasku.
“Maaf, Pak. Saya harus segera pergi. Pekerjaanku masih banyak,” ucapku sambil berusaha beranjak, tetapi dia tidak bergerak sedikit pun.
Tangannya yang kotor membelai pipiku, lalu jempolnya mengusap bibir merah.mudaku.
“Aku merindukanmu,” ucapnya masih terus mengusap bibirku.
Dia hendak menciumku, tetapi aku langsung mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Plak!
“Tolong jaga sikap Anda, Tuan Davero yang terhormat!” pekikku yang terus berusaha beranjak.
Dia kembali menahan pergelangan tanganku dan menarikku hingga tubuh kami merapat satu sama lain.
“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Agneta. Selama ini aku mencarimu, hingga seluruh kota Semarang kutelusuri untuk mencarimu!” ucapnya penuh penekanan.
Untuk apa dia mencariku? Tidak cukupkah luka yang selama ini ditorehkan di hatiku olehnya?
Sekuat tenaga aku kembali mencoba menjauhkan tubuhnya dan berlalu pergi meninggalkan ruangannya dengan kesal. Rachel menatapku dengan kebingungan, tetapi biar sajalah. Aku mempercepat langkah menuju memasuki lift. Tubuhku bergetar hebat di dalam lift. Sentuhannya. Aku ingin melupakan kejadian menakutkan itu. Tolong jauhkanlah dia dariku, ya Tuhan.
Tubuhku merosot ke lantai lift dan menangis sejadi-jadinya di sana. Aku mengingat bagaimana dia menciumku dengan paksa, bagaimana dia merusak masa depanku.
Aku membencinya! Aku sangat membencinya!
Tolong beri aku kekuatan. Tolong beri aku kekuatan untuk tetap berpijak dan tetap melangkah di hadapan iblis itu. Ya Tuhan, kumohon kuatkan aku.
***