Bab 2

Jeff mengambil tempat duduk di meja makan yang sudah disiapkan dengan lauk pauk yang lezat. Istrinya, Viyone, duduk di sebelahnya dengan wajah sedikit cemas. Suasana ruang makan terasa hening dan berat, seolah ada ketegangan yang tak terucapkan.

"Di mana Chris, kenapa tidak turun makan?" tanya Viyone, mencoba mengisi keheningan yang menyelimuti ruangan.

"Biarkan dia mengerjakan tugasnya, semasa kecil kita harus mendidik dengan keras. Agar dewasa dia bisa mengerti betapa kerasnya hidup ini," jawab Jeff dengan nada tegas dan dingin.

Viyone menatap suaminya dengan pandangan sedih, "Jeff, Chris baru 5 tahun. Kenapa kamu sering menghukumnya? Padahal selama ini dia sangat patuh."

Jeff menggenggam garpu dan pisau dengan erat, "Kita harus melatihnya sejak dini, agar dia menjadi pribadi yang tangguh. Kita tak bisa memanjakannya seperti anak kecil yang lemah."

Di lantai atas, Chris berdiri di kamar menatap jendela sambil menghitung dengan teliti. Tangannya gemetar, dan air mata mengalir di pipinya. Anak kecil itu merasa diabaikan dan takut akan kemarahan ayahnya jika ia melakukan kesalahan.

Viyone menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara lebih lanjut, "Jeff, aku tahu kamu ingin yang terbaik untuk Chris. Tapi, bukankah ada cara yang lebih baik untuk mendidiknya? Kita bisa memberinya kasih sayang dan perhatian, bukan hukuman."

Jeff menatap istrinya dengan dingin, "Kita sudah membahas ini sebelumnya, Viyone. Aku tak ingin berdebat lagi tentang hal ini."

Viyone menghela napas, menundukkan kepalanya dengan berat. Mereka melanjutkan makan siang dalam keheningan

"Sisakan saja lauk untuknya, Jangan terlalu memanjakan dia. dan jangan memaksakan diri untuk bekerja sendiri. Minta Chris membantumu karena dia adalah anak laki-laki!" ucap Jeff dengan tegas.

"Tenang saja! Chris sangat patuh, Dia selalu perhatikan apa yang aku kerjakan. Kemudian dia bisa membantuku," jawab Viyone yang sedang menyisihkan makanan untuk putranya.

Chris yang tengah serius menghitung ketika matanya tertuju pada laptop ayahnya yang tergeletak di ruang keluarga.

"Sepertinya tadi papa terburu-buru menutup laptopnya, apakah dia menyembunyikan sesuatu?" tanya Chris dalam batin. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekati laptop itu dan membukanya.

"Harus masuk kata sandi," gumam Chris sambil berusaha mengingat sandi yang pernah dia lihat beberapa hari lalu saat ayahnya sedang membuka laptop di hadapannya.

"Aku sudah ingat, angka120490," batin Chris sambil mengetik dengan cepat. Sesaat kemudian layar monitor berubah dan berhasil dibuka. Chris menelan ludah, berharap tidak menemukan sesuatu yang buruk di dalamnya.

Namun, tiba-tiba ia menemukan beberapa file yang tersembunyi dengan nama aneh. Chris merasa ragu, apakah sebaiknya dia membuka file tersebut atau tidak? Namun, rasa penasarannya mengalahkan segalanya. Chris pun membuka salah satu file tersebut dan ternyata berisi foto-foto yang mengejutkan anak 5 tahun itu. Selain foto, juga berisi pesan-pesan yang membuat Chris membaca hingga dari awal sampai akhir.

***

Setelah selesai menghitung Chris menyantap makanannya yang disisihkan oleh ibunya. Ia berusaha menelan makanan tersebut walau sangat sulit baginya. Wajah tampan anak itu sangat murung dan tidak tahu apa yang dia lihat dan dia baca tadi.

Viyone sejak tadi memperhatikan anaknya yang diam tanpa sepatah kata pun.

"Chris, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu hanya murung dari tadi!" tanya Viyone yang duduk di sampingnya.

Chris meletakan sendok dan garpunya, ia menoleh ke ibunya dan bertanya," Ma, mana papa?"

"Papamu sudah berangkat kerja," jawab Viyone dengan senyum.

"Kenapa belakangan ini papa sering pulang larut malam dan terkadang tidak pulang sama sekali, apakah bisnisnya sangat besar sehingga tidak ingat rumah dan mama yang hamil besar?" tanya Chris dengan nada sedikit kesal.

"Chris, kenapa kamu bicara seperti itu, sayang? Papamu bekerja demi kita juga. Tidak lama lagi adikmu akan dilahirkan. Kita butuh banyak biaya," ujar Viyone dengan senyum.

"Kita bukannya kekurangan uang, Papa sanggup membeli rumah, Mana mungkin tidak cukup biaya untuk adik," jawab Chris.

"Rumah itu dibelikan papa untuk kita di masa depan, Jadi, tidak ada salahnya kalau papa masih berusaha mengumpulkan uang," jawab Viyone.

"Dasar penipu," batin Chris.

***

Sebuah kota di San Fransisco menjadi saksi bisu perang antar geng mafia yang terjadi di malam yang pekat. Kelompok Dragon, yang dikenal sebagai geng paling ditakuti, terlibat dalam pertempuran sengit dengan kelompok mafia lainnya.

Di tengah kekacauan, seorang pria yang memiliki tatapan aura membunuh berdiri dengan gagahnya sambil memegang sebilah pisau tajam. Di sekitarnya, suasana mencekam semakin terasa. Darah bercampur debu di tanah, mayat-mayat berserakan di sepanjang jalan, dan beberapa anggota kelompoknya terluka parah. Namun, pria tersebut tetap tegar menghadapi puluhan lawan yang siap melumpuhkannya.

Pisau tajam di tangan pria itu bergerak cepat dan mematikan. Dalam sekejap, beberapa lawan berhasil ia taklukkan dengan menikam tubuh dan leher mereka. Teriakan kesakitan terdengar bergema di antara bunyi senjata yang saling beradu. "Aahh!" jerit salah satu lawan yang tak mampu menahan rasa sakit akibat tikaman pisau pria itu.

Wajah pria kejam itu tampak tegar, matanya tajam menatap lawan-lawannya yang terkapar di tanah, tubuh mereka lemas tak berdaya setelah mengalami pertarungan sengit. Darah segar mengalir dari luka-luka di tubuh mereka, merah mencolok berpadu dengan debu yang menutupi tubuh mereka. Pisaunya yang berlumuran darah itu menetes ke atas tanah, menciptakan suara jatuh yang hening namun menggema di telinga semua yang ada di sana.

"Ingin menantang Dragon, seharusnya kalian ukur dulu badan kalian sendiri," ucapnya dengan suara berat, sambil mengelap darah yang menempel di pisaunya menggunakan ujung baju lawannya. Suara itu mengandung nada ejekan dan keangkuhan yang membuat para lawannya merasa hina.

"Bos." seorang anggota kelompok Dragon yang selama ini ikut bertarung menghampirinya, wajahnya penuh keringat dan nafasnya terengah-engah. "Mereka telah dilumpuhkan, dan saudara kita yang lain sudah mulai menyerang markas lawan. Bos mereka ada di sana juga. Kali ini mereka tidak akan bisa kabur," kata anggotanya itu dengan nada penuh keyakinan.

Mendengar laporan itu, Ia tersenyum sinis, seolah dia sudah bisa merasakan kemenangan dalam genggamannya. "Lenyapkan mereka malam ini juga," perintahnya dengan suara tegas dan dingin, tanpa sedikit pun rasa belas kasihan.

Pria tersebut yang tak lain adalah Wilson Zavierson, dirinya yang telah berusia 41 tahun, Wajahnya masih terlihat muda dan tampan. menjadi Ketua Mafia Dragon, terkenal di dunia bawah tanah.

Mafia Dragon, yang berdiri di bawah kepemimpinan Wilson, telah mengalahkan banyak kelompok mafia lainnya. Setiap kemenangan mereka semakin mengukuhkan posisi kelompok ini sebagai yang terkuat di dunia gelap. Tentu saja, ini membuat Wilson menjadi sosok yang sangat dihormati dan ditakuti oleh banyak pihak. Dibalik wajah dingin dan tatapan tajamnya, terselip kecerdasan dan strategi yang mumpuni. Ia mampu mengendalikan dan mengatur setiap gerak-gerik anggota kelompoknya dengan baik, sehingga mereka selalu berhasil menjalankan misi dengan sempurna.

Bab 3

Di tengah-tengah mansion mewah yang luas, terdapat seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang tampak sedang berlari ke sana kemari dengan tawa gembira. Anak tampan itu tampak menikmati kebebasan yang ia rasakan saat ini, dengan mengelabui beberapa pria dewasa yang merupakan pengawalnya. Ia meliuk-liuk, merangkak di bawah meja, dan melompat ke sofa dengan lincah.

Para pengawal berusaha keras mengejar anak itu, namun mereka selalu terlambat beberapa langkah. Raut wajah mereka menunjukkan kekhawatiran, tetapi mereka juga tak bisa menahan senyum melihat keceriaan anak tersebut. Sementara itu, pelayan rumah tangga yang melihat kejadian ini dari kejauhan, juga merasa cemas jika anak tersebut terjatuh atau terbentur. Mereka tidak ingin anak itu terluka karena kenakalannya yang kadang sulit untuk ditebak.

"Hehehehe!" tawa anak tampan itu terdengar di seluruh ruangan, membuat suasana menjadi lebih hidup dan ceria. Para pengawal dan pelayan rumah tangga harus berusaha lebih keras untuk menjaga dan melindungi anak tersebut, karena mereka tahu jika anak itu sampai terluka maka konsekuensi yang mereka terima akan jauh lebih berat.

"Kalian tidak akan bisa menangkapku," ejek anak itu sambil melempar mainannya hingga berserakan di lantai sana.

"Tuan muda, bagaimana kalau istirahat sebentar! Tidak lama lagi tuan akan pulang," ujar salah satu pengawal yang bernama Luis.

"Paman Luis selalu saja kalah dariku," ucap anak itu dengan melirik tajam pada pengawalnya.

Sementara dua pelayan rumah tangga kewalahan dan berhenti sejenak.

"Apakah tuan muda memiliki kepribadian lain?" bisik salah satunya pada temannya itu.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya temannya.

"Tuan muda sering berubah suasana hatinya, Terkadang sering diam dan menangis tiba-tiba. Sekarang berubah lagi menjadi lincah dan terlalu aktif," jawabnya.

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan rambut pirang dan mengenakan dress pendek berwarna merah muda mendatangi rumah mewah itu.

Anak laki-laki itu menghentikan permainannya dan melirik tajam pada tamu yang tak diundang. Langkahnya terhenti, ia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang. "Bibi siapa dan cari siapa? Kenapa datang tanpa diundang?" tanya anak itu dengan nada tegas dan tatapan curiga.

Wanita itu tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana yang agak tegang. "Apakah kamu adalah putra Wilson?" tanyanya dengan lembut.

Anak laki-laki itu mengerutkan dahinya, "Siapa papaku itu adalah privosi hidupku. Bibi tidak boleh bertanya," jawabnya dengan nada tegas dan sedikit marah.

Pengawal bernama Luis berbisik pada anak itu, "Tuan muda, yang benar adalah 'privasi', bukan 'privosi'."

Wanita itu kemudian menghampiri anak itu dan berkata, "Maafkan kedatanganku yang mendadak. Namaku Molly, teman baik papamu. Aku hanya ingin menjenguk dan melihat kabarmu. Apakah bisa tahu siapa namamu?" tanya Molly.

"Nama tuan muda kami ada--," Luis hendak memberitahu nama anak itu, namun dengan sigap anak itu langsung memotong perkataannya. "Ups, Paman jangan beritahu namaku adalah Vic Zavierson, Bibi ini hanya ingin mendekati papa. Salah satu rubah berekor 19," ujar anak itu dengan nada sinis sambil melirik tajam pada Molly.

Luis tersenyum simpul, "Tuan muda sudah memberitahu nama sendiri."

"Kenapa tidak melarangku, Ini adalah kelalaian paman sebagai pengawal!" ujar Vic dengan nada tinggi, seolah tidak ingin kalah dalam pertengkaran ini.

Molly tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana, "Vic Zavierson adalah nama yang bagus," puji Molly dengan tulus.

Namun Vic menatap Molly dengan dingin, "Tidak perlu memujiku, namaku memang bagus. aku adalah anak yang paling jenius dan tampan. Tapi aku tahu niatmu, jadi jangan berpura-pura baik hati padaku," ucap Vic dengan tegas, masih belum bisa menerima kehadiran Molly di kehidupan mereka.

"Vic, aku hanya ingin berteman denganmu," bujuk Molly yang berusaha mengambil hati anak itu.

"Jangan buang-buang waktu! di sini tidak ada lowongan untuk menerima ayam merah." Ejek Vic yang melihat warna rambut wanita itu." Silakan pergi! Papaku sudah memiliki wanita yang lebih cantik darimu. Jadi, Bibi tolong pergi dari sini!" ucap Vic dengan tegas

"Ayam merah? Siapa yang kamu maksudkan?" tanya Molly.

"Paman, keluarkan bibi ini dari sini!" perintah Vic tegas.

Mendengar perintah tuan mudanya, mereka langsung menarik wanita itu keluar dari rumah itu.

"Selalu saja ada bibi yang datang mendekati papa, kenapa papaku begitu tampan dan kaya. Aku sebagai anaknya harus selalu mengawasinya. Agar tidak ada yang bisa mengantikan posisi mamaku!" gerutu Vic.

Tak lama kemudian Wilson kembali ke mansionnya, Begitu melangkah masuk, Wilson langsung disambut dengan pemandangan berbagai mainan yang berserakan di lantai. Vic, yang menyadari kepulangan ayahnya, langsung berlari dengan semangat menghampiri pria berwajah tegas yang tengah menatap tajam ke arah mainan-mainan itu.

"Papa...," teriak Vic dengan wajah ceria. Namun, Wilson tak bisa menyembunyikan aura marah yang kini menyelimuti dirinya.

"Kamu membuat mainanmu berserakan seperti ini! Simpan kembali ke tempatnya!" perintah Wilson dengan tegas sambil menunjuk ke arah mainan yang bertebaran.

"Apakah Papa mengalahkan musuh lagi, kenapa tidak mengajakku pergi bersama?" tanya Vic.

"Kamu baru 5 tahun, Apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Wilson dengan mengejek.

"Jangan meremehkan aku, Aku adalah anak paling imut dan kuat. Aku bisa mengantikan papa menjadi seorang mafia kelas bawah," jawab Vic.

"Yang benar adalah kelas atas, bukan bawah," ujar Wilson.

"Papa, tadi ada bibi yang bernama Molly datang mencarimu. Sudah aku usir karena aku tidak menyukainya. Di dunia ini hanya mama yang layak menjadi istrimu," ujar Vic dengan semangat.

Wilson tersenyum sedih, mengelus lembut rambut anaknya. "Kamu merindukan mamamu?" tanyanya lembut.

"Iya, Pa. Kapan kita bisa menemuinya?" tanya Vic dengan berharap.

"Segera! Papa juga ada kejutan lain untukmu! Kemas barangmu dan kita akan ke California!" ujar Wilson yang melangkah menuju anak tangga.

"Kejutan apa, Pa? Dan kenapa kita ke sana? Cepat beritahu aku, jantungku tidak kuat. Jangan membuat aku penasaran hingga overdosis!" rengek Vic sambil mengejar Wilson.

Wilson berhenti sejenak, menoleh ke arah Vic dengan senyum misterius. "Kita akan menemui mama, dan kejutan itu... hmm, nanti saja kamu tahu di sana, ya. Ayo, segera siapkan barangmu!" ujar Wilson dengan semangat.

Wilson berjalan menaiki anak tangga dan berpikir dalam hati," Sudah enam tahun berlalu. Sudah saatnya aku merebut kembali milikku!" batinnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED