Bab 2

Orang bilang pertemuan pertama selalu kebetulan, tapi bagaimana caramu menjelaskan pertemuan pertemuan selanjutnya?

Apakah ada Tuhan campur tangan di dalamnya?

~Orizuka~

Pagi ini, Manda sudah siap dengan segala bawaannya. Mulai dari beberapa potong pakaian, sendal, sepatu, laptop, dan beberapa buku yang selalu dia baca di waktu luang.

"Udah semua kayaknya. Apalagi, ya, yang kurang," gumamnya sambil menatap koper yang akan dia bawa ke Medan.

Suara klakson mobil terdengar nyaring. Hingga akhirnya berhasil membuat Manda beralih menatap ke jendela kamarnya. Di luar sana, Kevin sudah menunggu dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.

"MANDAAAA ... BURUAAAAAN! TELAT NANTI KITAAA! " teriaknya sambil berlagak melirik jam tangan.

Manda mendengus sebal lalu segera menutup koper dan menariknya keluar kamar. Kedatangan Kevin memang cukup mengejutkan, apalagi dengan sikapnya yang terburu buru, membuat Manda menjadi tergesa gesa.

"Bawel deh ya. Baru juga jam segini. Udah teriak - teriak. Nggak bakal telat kali, Vin!" gerutunya kesal.

"Lapar gue, Man. Sarapan dulu loh. Lo masak nggak? Numpang makan deh," rengeknya sambil terus memegangi perut dengan tatapan memelas.

"Nggak masak gue. Makan di Bandara aja deh. Apa warteg nanti di jalan," ucap Manda sambil memasukan kopernya ke mobil Kevin.

Tak lama Pak Budi turun dari kursi kemudi dan membantu Manda. Pak Budi adalah supir Kevin.

"Biar saja, Mbak," sergah Pak Budi sambil mengambil alih koper yang di bawa Manda.

"Eh, Pak Budi, Makasih ya ...." ucap Manda sungkan.

"Tidak apa-apa. Mbak Manda masuk saja," suruh Pak Budi.

Manda pun masuk ke dalam mobil tidak peduli Kevin yang masih merengek kelaparan di luar.

Sampai di Bandara, mereka segera mencari cafe terdekat, dan segera sarapan sambil menunggu Vita yang tak kunjung datang.

"Hai ...," sapa Vita begitu sampai Cafe tempat Manda dan Kevin berada.

"Sarapan dulu, Vit," tawar Manda.

"Udah dong tadi di rumah. Eh, jam berapa kita berangkat?"

"Satu jam lagi."

"Oh, oke deh."

Setelah selesai sarapan, mereka segera boarding, karena sebentar lagi pesawat akan segera berangkat menuju Medan.

Di dalam pesawat, hati Manda sedikit gundah. Medan mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.

HAGANA

Seorang pria yang dikenalnya dulu. Pria yang dicintainya dari awal mereka bertemu hingga sampai detik ini. Mereka bertemu lewat udara, dengan hobi Manda yang suka menulis, membuat mereka bertemu di sebuah forum dunia maya, yang merupakan salah satu forum terbesar di Indonesia. Haga seorang pria yang umurnya jauh lebih muda dari Manda. Tapi Manda selalu merasa nyaman jika didekatnya. Mereka menjalani hubungan LDR cukup lama.

Awalnya Haga selalu setia membaca tulisan Manda. Karena hobi Manda yang sering menulis cerita. Hingga mereka saling bertukar nomer telpon dan makin akrab.

Akhirnya keakraban mereka makin erat. Sering curhat, ngobrol, chatting, bahkan telponan sepanjang malam kerap mereka lakukan. Hingga Haga mengungkapkan perasaan nya ke Manda. Dan Manda pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Sejak Manda berpisah dengan mantan suaminya, dia memang tidak mudah membuka hatinya untuk laki laki lain. Namun kehadiran Haga mampu melebur semua pikiran negatif terhadap pria. Manda nyaman dengan Haga. Dan selama beberapa bulan mereka menjalin hubungan jarak jauh, hubungan mereka pun makin erat. Namun, setahun setelahnya, mereka terpaksa berpisah karena Haga di jodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Padahal mereka sudah serius terhadap hubungan ini, tidak peduli perbedaan umur, status, bahkan jarak sekalipun. Haga mampu menerima keadaan Manda dengan tulus dan apa adanya. Bahkan Haga berniat menemui Manda saat itu. Tapi rupanya takdir berkata lain. Cinta mereka harus kandas di tengah jalan. Seperti layaknya kisah kisah remaja lain yang menjalani hubungan jarak jauh. Sepertinya hubungan jarak jauh, memiliki banyak kekurangan.

Sampai sekarang perasaan Manda tidak pernah berubah sedikitpun. Dia masih mencintai Haga seperti dulu. Sekalipun mereka sudah tidak lagi bersama, dan tidak berkomunikasi seperti biasanya, namun semua kenangan yang ditinggalkan Haga, masih tersimpan rapi di memori otak, hati dan ponselnya. Entah sudah berapa banyak rekaman suara Haga yang masih ada di ponsel Manda. Foto foto bahkan semua puisi yang mereka buat bersama masih ada di akun milik Manda yang dipakai bersama oleh mereka berdua sampai sekarang. Dan jika rasa rindu melanda, Manda selalu membaca kembali tulisan tulisan mereka berdua. Haga juga seorang penulis namun tulisan nya hanya dia tujukan untuk Manda seorang. Entah sudah berapa banyak puisi yang dia berikan untuk Manda.

Dan kini, Manda akan menginjakkan kakinya di kota itu. Kota kelahiran Haga. Ada sedikit terbesit dalam pikiran Manda untuk bisa mencari Haga. Dia sangat rindu, benar benar rindu. Tapi, Manda tidak tau alamat Haga. Akhirnya dia kubur dalam dalam harapan untuk bertemu Haga. Medan kota yang sangat luas. Apa mungkin mereka dapat bertemu dengan tanpa sengaja?

Tak lama pesawat pun landing di Bandara Kuala Namu. Saat turun dari pesawat, Manda berhenti sejenak sambil menarik nafas dalam dalam.

Hmm.. Medan. Akhirnya aku bisa ke sini juga. Batinnya diringi senyum tipis di wajahnya.

Ternyata seseorang telah menunggu mereka sejak tadi.

ANDRE!

Dari kejauhan pun sudah jelas terlihat bahwa itu adalah Andre dengan gaya khas nya. Setelan suit abu abu, sepandan dengan sepatu pantofel yang senada. Tidak lupa ponsel selalu ada di genggamannya. Rambut klimis dengan barisan jambang tipis di wajahnya menambah kesan maskulin pemilik wajah itu.

Dia melambaikan tangan ke Manda, Kevin dan Vita dengan senyum tipis.

"Gimana? Lancar, kan? penerbangan nya?" tanya Andre sambil berpelukan dengan mereka satu persatu.

"Alhamdulillah, Bos. Aman terkendali."

"Kamu sendirian, Ndre?" tanya Manda sambil celingukan.

"Ya iyalah ... Sama sopir doang sih. Yuk buruan ke mobil, udah siang nih. Langsung ke Kantor baru," ajak Andre.

Selama beberapa menit mereka di dalam mobil, Andre menjelaskan bagaimana kondisi kantor baru itu, dan apa saja yang harus mereka lakukan selama di sini.

"Nah itu. Kita udah sampai," tunjuk Andre ke sebuah bangunan bertingkat di depan.

Setelah mereka turun, Manda segera meraih ponselnya karena ada beberapa pesan yang masuk. Walau matanya fokus pada layar ponsel itu, tapi kakinya terus mengikuti teman temanya berjalan.

Hingga saat mereka masuk ke bangunan tadi, sudah ada beberapa orang yang menyambut mereka.

"Selamat datang Pak Andre dan kawan kawan," sapa seorang pria tua berkepala botak.

Manda hanya sekilas menatap ke mereka yang ada di sana, karena dia masih fokus pada beberapa pesan WA dari teman dan saudara.

Pria tua tadi adalah manager yang bertanggung jawab di kantor ini. Dia lalu mengenalkan karyawan yang ada di sini satu persatu. Manda tidak terlalu memperhatikan, karena dia rasa itu tidak penting baginya.

Hingga, saat orang terakhir memperkenalkan diri ...

"Saya, Hagana Putra Siregar, panggil saja Haga," ucap seseorang yang suaranya familiar di telinga Manda.

Alhasil, Manda yang awalnya cuek pada orang orang di hadapannya itu, akhirnya beralih menatap pemilik suara barusan.

Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang, tangan nya gemetar dan sedikit basah oleh keringat yang tiba tiba saja muncul. Badannya bahkan panas dingin tidak karuan.

Wajah ini ... Dia masih sangat hafal. Suara ini, dia masih sangat mengenal nya. Bahkan baru saja dia dengar saat masih di pesawat tadi. Rekaman suara Haga selalu dia dengarkan berulang ulang tanpa bosan saat dia merasa rindu sosok pria itu. Dan kini, pria yang dia rindukan justru sudah ada di depan matanya.

Haga pun menatap Manda dalam dalam. Matanya berkaca kaca dan bibirnya bergetar menahan luapan perasaan yang selama ini tertahan.

Ponsel telah lepas dari genggaman Manda saat dia benar benar yakin, bahwa itu adalah Haga-nya. Haga yang di kenal nya dulu. Haga yang dia cintai sampai saat ini, Haga yang selalu dia rindukan bahkan sampai membuat tangisnya pecah seketika jika mengingatnya.

Pria itu kini ada di hadapannya.

"Loh? Man? Kenapa?"tanya Kevin sambil terus menatap Manda dengan keheranan.

Manda kembali ke kesadarannya yang sempat hilang sesaat karena Haga, lalu dengan segera mengambil ponsel yang dia jatuhkan tadi.

"Nggak apa apa kok. Aku cuma laper aja kali yah, hehe" elak Manda.

Semua orang menatap mereka berdua, Andre melanjutkan kalimatnya.

"Dan mereka bertiga adalah orang kepercayaan saya, Kevin Pratama, ini Vita Azkia dan yang itu," tunjuk Andre pada Manda yang ada di ujung, "Amanda Rhea."

Ai, apa benar itu kamu? Aku kangen kamu, Ai. Kangen banget. Batin Haga sambil terus menatap Manda tanpa kedip.

Ai adalah panggilan sayang Haga untuk Manda, di ambil dari bahasa jepang. Yang artinya sayang.

Di sisi lain, Manda pun merasakan hal yang sama.

Bee, itu kamu? Beneran kamu? Akhirnya ketemu juga. Aku kangen.

Bee juga panggilan sayang Manda untuk Haga.

Setelah perkenalan singkat itu, semua kembali ke lantai atas, berkutat dengan pekerjaan masing masing. Masih dengan perasaan tidak karuan di antara dua sejoli tadi. Tapi mereka tetap harus bersikap profesional, dan sama sama melanjutkan pekerjaan mereka masing masing.

Manda tidak menyangka kalau hal yang sejak tadi dia bayangkan, ada di depan mata. Dia benar benar bertemu dengan Haga. Seseorang yang sangat ingin dia temui lebih dari siapa pun juga. Tapi dia sadar kalau kondisi mereka tidak lagi sama seperti dulu. Jadi Manda pun berusaha menjaga sikap. Dia akan bersikap wajar, berusaha untuk meredam perasaannya sendiri. Yah, seharusnya dia sudah melakukan hal itu sejak lama. Sejak Haga meninggalkan dia dan menikah dengan wanita lain pilihan orang tuanya.

Bab 3

Rindu adalah perasaan terbesar yang kini kurasakan. Berharap kamu dapat mengenaliku dari kejauhan.

Agar kamu tau, bahwa aku disini menunggumu dalam kesendirian.

Perusahaan ini ada 6 divisi. Di divisi ini, ada sekitar 5 orang termasuk Haga. Saat semua naik ke lantai atas, Haga terus memperhatikan Manda. Setiap gerak gerik Manda selalu diperhatikan oleh Haga.

" Eh, toilet mana yah?" tanya Manda.

"Di ujung, Kak." tunjuk Ridho ke ujung koridor ruangan.

"Oh iya. Makasih ya. Vit. .. Nitip tas. Aku mau pipis."

"Temenin gak? "

"Gak usah! "

Manda berjalan seorang diri ke toilet. Beberapa langkah menjauh dari teman teman nya, dia masih berjalan santai. Namun saat mendekat ke toilet, dia memelankan langkahnya.

Dia menekan tengkuknya sambil tengak tengok ke sana ke mari. Perasaan nya menjadi was was, seperti ada yang sedang mengawasinya namun dia belum tahu apa. Sampai di depan toilet, dia menggenggam handle pintu lalu diam beberapa saat.

Dia melirik ke samping kiri dan kanannya, lalu menatap sepanjang koridor. Hening. Tidak nampak satu pun manusia sepanjang lorong. Entah kenapa hawa di tempat ini berubah menjadi agak panas.

Dug ... Dug ... Dug ...

Terdengar suara dari ruangan di depan toilet. Seperti ada yang menendang atau memukul. Manda beralih menatap ruangan yang dia pikir adalah gudang. Hatinya diliputi perasaan tak karuan namun dia tetap memasang ekspresi tenang. Ini bukan hal aneh baginya jika memasuki tempat baru. Karena di semua tempat pasti ada penghuninya. Hawa sekitarnya makin panas saat dia mendekati gudang itu.

"Ai ..., " sapa Haga yang tiba tiba muncul di belakang nya.

Dan anehnya, hawa panas itu hilang berganti rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Manda menoleh sambil mengernyitkan kening. Pikiran nya berkecamuk. Antara bingung, senang, marah jadi satu.

"Kenapa? " tanya Manda sinis.

Haga salah tingkah di tanya hal seperti itu. Dia sedikit terhenyak melihat reaksi Manda yang seakan tidak menyukai pertemuan mereka.

Melihat Haga yang tidak bereaksi lagi, Manda lalu segera masuk ke toilet. Di dalam toilet, dia sempat merenung.

Kenapa dia bertemu Haga lagi di sini? Ini sungguh di luar dugaan. Dia memang rindu, tapi rasa kecewa dan benci lebih banyak dia rasakan.

Saat hati dan pikiran nya tidak karuan, ada hal ganjil di toilet ini.

Salah satu bilik toilet terbuka dengan derit pintu yang terdengar nyaring. Di sini toilet nya ada empat bilik dengan cermin besar di depannya. Mirip toilet umum yang biasa ada di pom bensin atau mal.

Manda menoleh mengamati tiap bilik toilet ini. Dan tiba tiba ada sebuah pergerakan di bilik paling ujung. Dengan langkah perlahan, dia mendekat. Manda mendorong pintu itu pelan pelan. Merasa was was jika ada pergerakan mendadak dari dalam, dia pun harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk nya.

Derit pintu kembali terdengar nyaring. Manda berpikir, Andre terlalu sibuk mengurusi perusahaan, tapi fasilitas toilet seakan terbengkalai. Dia alan protes pada atasannya itu nanti.

Saat pintu terbuka lebar, Manda terkejut melihat apa yang ada di hadapannya.

Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa saat. Ada seorang wanita sedang duduk di bak mandi dengan posisi menunduk. Manda menelan ludah berkali kali. Karena berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan.

Takut? Sedikit.

Dia sudah cukup terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Walau tetap saja dia akan merasakan hal itu mengerikan dan menakutkan, tapi dia akan menghadapinya dengan berani.

Tak lama wanita itu mendongak dengan gerakan cepat, lalu tersenyum lebar. Selebar lebarnya. Rongga mulutnya sampai terlihat semua. Darah menetes dari mulut itu diikuti bau busuk yang menyengat. Manda lalu segera keluar karena malas menghadapi makhluk seperti ini. Asal mereka tidak mengganggu, maka dia tidak akan bertindak apa apa. Penampakan makhluk seperti tadi bukan salah mereka, karena Manda juga salah. Dia bersalah karena bisa melihat para makhluk tak kasat mata. Walau kemampuan ini Manda anggap sebagai kutukan. Tapi dia tidak bisa membuang semuanya begitu saja. Tentu sulit.

Saat di luar, Haga masih menunggunya. Nafas Manda agak tersengal sengal. Wajahnya sedikit pucat.

"Hei ... Kenapa? Kamu sakit?" tanya Haga cemas sambil berusaha mendekat ke Manda.

Manda malah mundur dan menyuruh Haga menjauh.

"Stop! Aku gak apa apa!" ujarnya.

Manda lalu berjalan kembali ke ruangan, namun sebelumnya dia menoleh ke toilet sambil bergidik ngeri.

Haga menatap Manda bingung dan beralih ke toilet sambil menggaruk kepalanya.

Lalu segera mengejar Manda yang sudah lebih dahulu berjalan menjauhinya.

"Ai ... Ai ... Tunggu sebentar .... "

Manda berhenti lalu menoleh ke Haga dengan tatapan sebal.

"Mau apa lagi?" tanya Manda jengah

Haga terdiam beberapa saat.

"Bisa kita ngobrol sebentar?"

Manda hanya menaikkan sebelah alisnya. "Buat apa? Udah nggak penting!"

Manda kembali berjalan meninggalkan Haga yang diliputi rasa kecewa. Haga paham kenapa Manda semarah itu. Manda belum tau masalah yang sebenarnya kenapa Haga meninggalkan nya dulu. Itulah yang ingin di sampaikan Haga tadi.

Di ruangan, semua sudah berkumpul. Andre akan menyampaikan satu dua hal di depan anak buahnya.

"Maaf ...," kata Manda saat memasuki ruangan.

Diapun segera duduk di kursi samping Kevin. Haga pun tak lama masuk dan duduk di deretan teman teman kantornya.

Selama rapat berlangsung Haga dan Manda sesekali mencuri pandang satu sama lain.

Hingga rapat selesai, semua kembali ke pekerjaan masing masing.

Vita, Kevin dan Manda juga ikut bekerja seperti yang lain. Beberapa kali Haga berusaha mendekat ke Manda, namun Manda terus saja menghindar. Akhirnya Haga pasrah.

Sampai jam istirahat makan siang, semua akan makan bersama di salah satu restoran tak jauh dari kantor mereka. Andre ingin agar semua makin akrab, karena kedatangan Manda dan kawan kawan tidaklah sebentar. Mereka akan sebulan di sini. Jadi mungkin maksud Andre agar semua saling mengenal lebih baik lagi.

Sampai di tempat makan. Andre menjauh sebentar karena ada panggilan masuk dari ponselnya.

Semua duduk di meja yang sudah di reservasi sebelumnya. Satu meja ada 6 orang, sisanya di meja lainnya.

Manda menarik kursi tepat di samping jendela. Di sebelahnya Kevin lalu Vita. Di depan mereka Ridho, Ian, dan Haga.

Tak lama seorang waiters datang membawa buku menu.

"Makan apa, yah?" Gumam Kevin sambil mengelus dagunya.

"Sok sok'an mikir. Doyan semua juga," sahut Vita.

"Beb, elu kan tau, sekarang gue kagak boleh makan sembarangan," timpal Kevin.

"Bebek!" Cibir Vita kesal lalu segera memesan makanannya. Mereka berdua memang kerap bertengkar seperti tadi.

"Eh, Man ... Makan apa Lo? Bengong aja. Kayak ayam galau," sindir Kevin sambil menoleh ke Manda yang sedang menatap ke luar jendela yang sedang gerimis.

"Pilihin deh. Terserah!" ucap Manda lemas.

"Pilihin? Hmm .. Oke deh. Eh, mau ngopi nggak? Kali aja mood Lo balik lagi habis ngopi?" tanya Kevin masih sibuk menatap buku menu.

" Iya deh, boleh." Manda masih terlihat lesu sambil bertopang dagu masih menatap keluar jendela.

"Biasanya makanan sini, yang paling enak apa ya, Bang?" Kevin beralih bertanya pada orang orang di depannya.

"Banyak kok enak Bang, mau yang halal atau yang olahan daging B1 dan B2 juga ada kok Bang," tutur Ridho.

"Hah? B1 , B 2? Kayak vitamin," kekeh Kevin dengan tampang polosnya.

Manda menoleh ke Kevin lalu menoyor kepalanya.

"Daging babi sama anjing, Bego!" Celetuk Manda kesal.

Kevin lalu berohria sambil cengengesan yang membuat Manda geleng geleng kepala. Dan mereka pun tertawa karena ulah Kevin.

"Kalau Kak Manda mau kopi, di sini ada kopi sidikalang. Enak kok" tambah Ian.

Manda tersenyum, " oh gitu yah? Boleh deh. Sama mie aceh aja ya, Mbak," pinta Manda ke waitres yang sudah menunggu sedari tadi.

Haga menatap tajam Manda. Namun manda seolah tidak memperdulikan nya.

"Elu tau makanan sini juga ya, Man ...." tanya Kevin.

"Lah, lupa, Vin? Kan Manda pernah sama orang sini. Siapa tuh Man, namanya kok aku lupa. Kamu nggak mau nyari dia? Mumpung kita lagi di Medan loh Man."

Deg!

Manda menoleh ke Vita lalu melotot agar Vita berhenti membicarakan masa lalunya.

"Oh iya yah. Kok gue lupa sih. Pantesan elu uring uringan," ledek Kevin sambil tertawa garing.

Plak!

Satu pukulan mendarat ke lengan Kevin, "Nggak usah ketawa gitu juga kali. Dasar comel kalian berdua!" umpat Manda kesal.

Ponsel Manda berdering. Dia menatap layar ponselnya sebentar dan terlihat berfikir sejenak. Namun, dia pun mengangkat telepon itu juga pada akhirnya.

"Assalamualaikum, Bib," sapa Manda ramah pada seseorang di ujung telepon.

"..."

"Udah, alhamdulillah."

"...."

"Hmm ... Iya nggak apa apa kok. Kenapa emang?"

"...."

"Iya, Bib. Aku bakal ingat semua. Kalau ada apa apa, nanti aku kabarin kamu langsung ya."

"...."

"Oke. Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,"

Setelah telepon berakhir, Manda tampak menjadi cemas. Dia berkali kali melihat ke arah jendela lalu kembali ke ponselnya. Manda juga mengigit bibirnya yang menjadi kebiasaannya ketika sedang dalam kondisi takut, dan cemas akan sesuatu.

Tanpa Manda sadari, Haga sejak tadi terus menatap wanita itu. Haga tahu, kalau ada sesuatu yang terjadi pada Manda. Sudah empat tahun berlalu, dan mereka tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Haga yakin, banyak hal yang terjadi pada gadis itu. Hanya saja Haga enggan menanyakannya, atau bahkan, Haga merasa itu bukan lagi urusannya. Apalagi saat melihat reaksi Manda yang terkesan muak saat melihatnya. Haga sadar, jika Manda pasti membencinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED