Aku melamun, memandang kuburan Ayah dengan tatapan kosong. Semua yang terjadi seolah mimpi belaka. Tiba-tiba dimasakin makanan kesukaan oleh beliau. Menikah secara mendadak tanpa bertemu sama sekali. Dan terakhir ... kepergian Ayah yang secepat ini?
Belum ada air mata mengalir pada pelupuk mata. Sudah kubilang, rasanya seperti mimpi. Tolong, sadarkan aku secepatnya. Katakan bahwa semua ini adalah kenyataan.
Dirasa orang-orang mulai pergi meninggalkan area pemakaman, barulah aku berjongkok, memegang pusara Ayah. Pikiran berkecamuk, jantung berdenyut sakit, dan kepala perlahan menunduk. Menyembunyikan tangisan tanpa mengeluarkan suara. Semua aku keluarkan diiringi hujan mulai rintik-rintik membasahi bumi.
"Ayah?" Satu suara terucap dari mulutku bersamaan jantung semakin sesak. Nafas pun kian susah sampai ada seseorang memayungi tubuh lemahku.
"Sampai kapan saya harus menunggu kamu di sini?"
Deg
Suaranya begitu dingin, dan serak.
"Tidak ada yang menyuruhmu!" balasku tak kalah dinginnya.
"Kamu sudah sah menjadi istri saya!" Enam kata terucap tegas juga penuh penekanan. Bulu kuduk dibuat meremang mendengar kata istri dari mulutnya secara langsung.
"Pulang. Kemasi barang-barang kamu." Tubuhku berdiri tegap. Pertama kali menatap netra tajamnya. Bola mata cokelat, hidung mancung, alis tebal, dan memiliki bibir tipis serta se k si. Cepat-cepat aku menghalau pikiran ko t or tersebut.
"Aku mau tetap tinggal di rumah Ayah!" Aku mengucapkannya dalam satu tarikan nafas. Kulihat dia--ah, lebih tepatnya Tuan Ethan, menaruh asal payung hitam. Alhasil tubuhku ini kembali basah, begitu juga dengan pria jangkung di depanku.
"Perjanjian pertama, perempuan yang sudah sah menjadi istri saya, harus tinggal bersama di mansion milik Ethan Alexander Wilson." Memutar bola mata, aku tak merespon perkataannya.
"Tapi saya-- "
"Kalau tidak menurut, maka segeralah bayar hutang-hutang Ayah kamu." Dia sangat berhasil membungkam mulutku serapat mungkin.
Ayah? Beliau memiliki hutang kepada pria dingin macem Ethan??
Kenapa Ayah tidak memberitahu semuanya kepadaku?
Jika masih di bawah lima juta, aku sanggup-sanggup aja. Tapi, kalau nominalnya fantastis? Seperti milyar bahkan triliun??
Oh ya Tuhan. Apa gegara hutang, aku dinikahkan sama dia? Supaya lunas kayak di novel-novel yang pernah ia baca, "Hutang Ayah kamu lima puluh juta." Ujarnya seperti tau isi pikiranku.
"Allahuakbar!!" Refleks mengucap takbir seraya menutup mulut. Banyak banget lima puluh juta. Aku enggak ada uang segitu Ya Allah.
Namun heran, uangnya Ayah gunakan untuk apa ya? Kok jadi penasaran gini, "Bayar tagihan kredit Kakak kamu, Evelyn." Wah, percaya deh semisal Ethan seorang cenayang. Bisa ketebak mulu. Alih-alih keren, aku malah takut sendiri.
"Ayo pergi sekarang. Saya gak punya waktu banyak untuk bicara omong kosong seperti tadi. Pekerjaan saya lebih penting dari kamu." Ck, bisa ngibul juga dia. Bilangnya aku istri dia loh tadi. Sekarang ngomongnya aku gak penting di mata dia.
Bodo amat, gak akan aku pikirin. Udah keburu pusing duluan.
"Ya." Menghadap batu nisan sang Ayah, aku pamitan pergi lewat batin.
Yah, pria pilihan Ayah modelannya super dingin persis kulkas dua pintu. Menghela nafas gusar, mulai beranjak berdiri mengikuti langkah lebar Ethan. Gak apa-apa manggil dia nama doang. Paling penting tetap jaga kesopanan.
Tadinya mau panggil, Om sih. Cocok sama penampilannya. Wajah dewasa, badan kekar tinggi, wangi pula. Kapan-kapan mau tanya, apa nama parfumnya Ethan. Enak di ci um. Bukan tipe bikin mual, mendadak pusing kepala.
Membuka pintu rumah, aku mencari keberadaan Ibu. Enggak lupa menyilahkan Ethan agar duduk atas sofa legend. Lanjut pergi ke dapur, sekedar bikin minuman jus jeruk pun memanggil kembali nama sang Ibu.
Evelyn?
Cih, aku m u ak karena sikapnya. Ayah meninggal justru dia mementingkan acara seminar di kampusnya. Katanya gak bisa izin lah, itu lah. Heiii, kutahu itu cuma alasan aja!!! Yang ada di pikiran Evelyn yaitu kuliah semester akhir tapi lama wisudanya. Shopping sampai puluhan juta. Outfit mahal nomor satu, urusan ada uang belakangan.
"Beresin gih. Kalau perlu jangan sampai ada sisa baju kamu di lemari." Ucapan ketus dan menohok membuatku berhenti menatap foto sang Ayah pada layar ponsel. Rupanya Ibu tengah mengusirku secara yah ... begitulah. Kadang berpikir, aku ini anak kandung beliau apa bukan.
"Tenang aja, gak usah khawatir soal baju." Imbuhku mematikan benda pintar, kemudian memasukan ke dalam tas. Setelan baju dari atas hingga bawah sudah dikemas, ditaruh dalam koper pemberian Ayah dua tahun lalu. Warna putih gading--warna favoritku.
Persoalan baju sudah semua. Tinggal perintilan sandal, sepatu, minyak wangi, juga lain-lainnya. Membutuhkan waktu setengah jam. Itu pun diburu-buru sama Ethan.
Keluar kamar seraya menarik koper ukuran besar, tas jinjing, tas selempang, headphone yang melingkar di belakang leherku. Kening mengkerut manakala tidak menemukan keberadaan Ethan.
Dia sengaja ninggalin aku?? Batinku tak sadar mendecak ketika Ibu lewat.
"Kenapa mendecak begitu? Gak sopan banget jadi anak." Cebik Ibu sengaja mengipasi wajah menggunakan kipas portable.
Mulutku diam, namun hatiku sangat berisik.
Bebas dong beliau. Enggak ada so s ok parasit lagi di rumah dia, bukan-bukan, lebih tepatnya rumah peninggalan Ayah, "Warisan gak usah dipake buat semena-mena, Bu. Pikirin acara tujuh harinya Ayah, empat puluh hari, satu tahun... "
"Mulutnya encer bener, Neng? Mau serasa jadi orang maha benar, hah?" Lah, dia kali yang pertama gitu.
"Rahel?" panggil Ethan menghentikanku mengomel balik sang Ibu.
Ditungguin sedari tadi ternyata baru nongol bos?
"Hm." Ethan mencium punggung tangan Ibuku, "kita pergi dulu." Senyuman Ibu terpancar manis, beda jika berhadapan denganku beberapa menit lalu.
"Manusia muka dua." Cibirku tetap takdzim mencium tangannya, "tujuh harinya Ayah, aku ke sini lagi, boleh?" Tanyaku kepada Ethan. Enggak pakai embel-embel, Mas atau apalah itu. Masih agak canggung. Malah ikutan dingin bila berdekatan sama Ethan. Alias terlampau dingin.
Ethan tampak mengangguk, "Boleh. Asal jangan menginap." Timpalnya menatap dua detik wajahku. Setelahnya dia melihat sembarang arah.
"Selamat atas pernikahan kalian ya. Hati-hati di jalannya." Lalu Ibu memegang erat lenganku, "semoga betah di sana, Nak." Senyuman lembut itu, kurasa hanya acting aja.
"Iya, Bu." Memberi salam, kami berdua gegas masuk dalam mobil BMW hitam keluaran terbaru.
Bahkan aku tahan mati-matian supaya tidak membuka mulut apalagi menetes air liur, saat sudah duduk sempurna di dalam sana. Satu kata dariku, mewah!! Dibuat tidur enak kali. Please, gak usah hujat! Iya tau kok aku kampungan. Baru sekali ini merasakan hawa dingin kendaraan milik Ethan.
"Di pakai jaketnya kalau merasa dingin." Ethan menyuruhku ambil jaket yang dia taruh paper bag putih atas dasbhoard.
Masih ada cap nya masa. Gila sih!! Susah ditebaknya. Sampe bela-belain beli jaket dadakan? Duh, jadi terharu.
"Tadinya mau saya kasih ke seseorang. Karena kamu lebih membutuhkan, ya silahkan dipakai. Enggak perlu melototin saya." Mengerjap mata tiga kali, aku menghadap depan sepenuhnya. Kepedean dong aku? Merutuk diri sendiri, pun nggak sadar menghentakan kedua kaki.
"Kita makan siang bentar di restoran." Alhamdulillah, malu deh perutku keroncongan. Apakah suara perut mungilku tidak menembus indera pendengarannya Ethan?
"Jika tidak lapar, tunggu sini. Tapi akan saya kunci otomatis mobilnya." Udah dingin, irit ngomong, ngeselin pula.
Jahat kali Ethan. Berasa jadi orang ketiga.
Bagaimana tidak!! Ethan rupanya ada janji makan siang bersama seseorang. Pakaian mereka serasi. Keduanya sama-sama memakai baju formal warna biru gelap. Sementara aku? Kaus putih polos dibalut jaket yang warnanya nabrak, atau tidak sesuai. Jadi, bukan merasa orang ketiga. Melainkan ba bu.