Silvi duduk di belakang Arlyn dengan tenangnya, sepeda motor yang dibawa Arlyn melaju dengan santai.
"Lyn," panggil Silvi dari balik maskernya. "Arlyn! Arlyna Virgolin sayang."
"Apa?" Yang dipanggil melihat ke samping sebentar.
"Kita mampir sebentar ke Toko Roti Daisi," jawab Silvi.
"Ngapain ke Toko Roti?"
"Ke toko roti, tentu saja untuk beli roti, Arlyna. Masa beli material! Bodoh banget sih!" jawab Silvi kesal.
Arlyn bukannya sakit hati dikatain bodoh, malah tersenyum dibalik masker putihnya. "Toko rotinya di mana?"
"Itu! Itu di depan, Toko Roti Daisi!" Tunjuk Silvi ke sebuah bangunan yang terlihat unik, berbeda dari bangunan lainnya.
Arlyn memperlambat sepeda motornya dan berhenti tepat di depan Toko Roti bercat putih. "Yang ini?"
"Iya betul." Silvi langsung turun dan melepas helmnya. "Kamu mau ikut masuk atau tunggu di sini?"
"Tunggu di sini saja, tapi jangan lama! Beliin juga aku roti coklat."
"Ok, Nona Arlyn!" Silvi segera pergi setelah memberikan helmnya pada Arlyn yang tidak turun dari sepeda motornya.
Cuaca panas dari terik matahari membuat Arlyn melepas helm yang dipakainya. "Gerah banget, aku bisa mandi keringat kalau begini," gumamnya sendiri.
Pandangan Arlyn mengedar ke sekeliling, melihat orang-orang yang berlalu lalang, ada juga pedagang asongan sedang sibuk menawarkan dagangannya.
Menit ke menit telah berlalu, tapi Silvi belum ke luar juga. Entah sudah berapa ratus kali Arlyn melihat ke arah pintu Toko Roti Daisi, tapi yang ditunggu tak kunjung nongol.
"Lama banget si Silvi! Apa dia ketiduran di dalam?" gumam Arlyn melihat jam hello Kitty kesayangan yang melingkar di tangannya.
Lama ditunggu Silvi tak kunjung ke luar, Arlyn akhirnya memutuskan untuk menyusul Silvi. Setelah menaruh helm dan memastikan sepeda motornya aman, Arlyn melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko.
"Arlyn," panggil Silvi sedang duduk dengan manisnya di sudut ruangan.
Arlyn langsung datang mendekat. "Malah duduk manis di sini. Aku di luar kering kerontang kayak ikan asin dijemur!"
"He-he. Roti yang aku pesan masih dipanggang," jawab Silvi menarik kursi disebelahnya "Duduk sini."
"What?! Jadi, dari tadi kamu nungguin roti yang masih dipanggang?!" tanya Arlyna dengan suara keras sehingga membuat beberapa pelayan toko melihat ke arah mereka berdua.
"Iya, Arlyna. He-he." Silvi garuk-garuk kepala melihat ekspresi wajah Arlyn kesal. "Sorry Arlyn."
Arlyn menghela napas, mau marah juga percuma, nanti yang ada malah jadi tontonan para pelayan toko.
Pintu toko tiba-tiba dibuka dari luar, masuk seorang pria dengan postur tubuh tinggi bersama wanita yang lebih tua darinya.
Silvi menyenggol lengan Arlyn. "Lihat pria bertopi yang baru masuk itu."
Arlyn sedang menunduk melihat layar ponselnya, ada panggilan masuk dari Mamanya. "Aku mau angkat telepon sebentar." Bergegas Arlyn menjauh dari Silvi yang selalu kepo.
Pria bertopi terlihat mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh ruangan yang didesain klasik, sesekali bicara dengan wanita tua yang ada di depannya.
Arlyn selesai menelepon, langsung duduk kembali di sebelah Silvi.
"Siapa yang telepon?" tanya Silvi tanpa mengalihkan pandangannya dari pria bertopi.
"Nyokap," jawab Arlyn melihat Silvi. "Lihat siapa sih?! Matamu sampai tidak berkedip."
"Tuh lihat," bisik Silvi menunjuk dengan matanya. "Menurutmu, pria bertopi itu ganteng atau tidak?"
Arlyn langsung melihat ke depan. "Yang mana? Pria bertopi ada dua, topi hitam atau putih?"
"Kamu ini!" Silvi kesal. "Pria bertopi hitam! Kalau yang satu lagi, itu pelayan toko! Dasar tulalit. Ngapain aku tanya pelayan toko?!"
"Oh, pria tinggi itu." Mendadak seluruh aliran darah Arlyn berdesir ketika iris matanya beradu dengan iris mata yang sedang diperhatikannya.
"Iya, menurutmu dia ganteng atau tidak?" tanya Silvi. Tidak tahu, jika Arlyn sedang membenahi jantungnya yang mendadak berdetak kencang.
Tidak jauh berbeda dengan pria yang sedang diperhatikan Arlyn, jantungnya juga berdetak dengan kencang seakan mau meloncat ke luar. "Ya Tuhan, kenapa dengan jantungku? Apa aku sedang terkena serangan jantung?"
Melihat Arlyn hanya diam membisu, Silvi kembali menyenggol lengannya. "Arlyn! Kenapa sih?!"
"Eh .. I.. iya, iya apa? Kamu tanya apa tadi?" tanya Arlyn gugup membenahi hatinya yang tidak karuan.
"Kamu kenapa?" tanya Silvi heran melihat kegugupan Arlyn. "Kamu sakit?"
"Sa .. sakit? Aku? Tidak ... tidak. Aku baik-baik saja," jawab Arlyn semakin gugup.
Silvi mengernyitkan alisnya. Mau bertanya, tapi seorang pelayan toko datang mendekat dan langsung memberikan semua pesanan roti punya Silvi.
Setelah selesai membayar semua rotinya, Silvi segera menarik tangan Arlyn ke luar dari toko. Jantung Arlyn semakin berdetak kencang ketika melewati pria bertopi hitam yang sedang melihat dirinya.
"Ada apa denganmu?" tanya Silvi setelah mereka sudah berada di atas sepeda motor yang sedang melaju.
"Ada apa, apanya?" tanya Arlyn bingung.
"Kamu menjadi aneh di toko roti tadi," jawab Silvi. "Kayak orang yang kerasukan."
"Hah?! Jangan ngada-ngada!" Bantah Arlyn. Padahal apa yang dikatakan Silvi memang benar, dirinya seperti sedang kerasukan sesuatu yang tidak dipahaminya, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
Tiba di depan halaman rumahnya, Arlyn langsung masuk membuka pintu pagar. Sementara Silvi melanjutkan perjalanannya yang masih jauh.
"Sudah pulang?" tanya Mama begitu melihat putrinya baru saja masuk lewat pintu utama.
"Iya," jawab Arlyn langsung pergi begitu saja melewati Mama.
"Kenapa dengan anak itu?" gumam Mama heran melihat Arlyn tidak seperti biasanya. "Apa dia sakit?"
Arlyn melempar tasnya ke atas kasur kemudian membuka sepatu sneaker putih yang dari pagi dengan setia menemani kakinya. "Gerah sekali, aku mau mandi."
.....
Di tempat lain, di dalam rumah yang banyak ditumbuhi tanaman hias di dalam pot. Pria bertopi baru saja sampai.
"Bi, bibi!" Panggilnya pada asisten rumah tangganya.
"Iya Tuan." Bibi datang dengan celemek yang masih terpasang.
"Simpan ini Bi."
Semua barang belanjaan yang ada dibeberapa kantung langsung Bibi bawa ke belakang.
"Kamu sudah pulang, Tian?" Oma baru ke luar dari kamarnya.
"Iya Oma."
"Mommy kamu mana?" tanya Oma melihat Tian hanya sendirian.
"Mommy tadi langsung ke salon, jadi aku pulang sendirian. Malas banget harus nungguin Mommy di salon."
"Terus nanti pulangnya bagaimana?" tanya Oma khawatir.
Tian mendekati Oma. "Mommy itu sudah besar Oma, bahkan bukan besar lagi, tapi sudah dewasa banget, masa sampai pulang saja tidak tahu harus bagaimana?"
"Eh, jangan salah. Mommy kamu itu tidak pernah pergi kemana-mana sendirian, dia selalu diantar sopir. Kalau kamu tinggalkan sendirian di salon, nanti dia tidak tahu arah jalan pulang."
Tian percaya tidak percaya dengan apa yang Omanya ucapkan. "Masa sih Mommy tidak tahu arah jalan pulang? Jangan ngarang Oma."
"Apa gunanya Oma ngarang? Mommy kamu itu selalu pergi dengan sopir."
Tian tiba-tiba tersenyum. "Gampang, kita telepon Mommy. Nanti aku jemput kalau sudah selesai. Oma bikin aku jadi tegang saja."
Oma mengambil sesuatu dari saku bajunya. "Ini ponsel Mommy kamu ketinggalan, Bastian Pisceso!"
"OMG! Ini ponsel Mommy." Tian mengambil ponsel warna silver yang ada di tangan Oma. "Kenapa ada pada Oma?"
"Tadi, Oma lihat ada di atas meja makan. Mommy kamu memang begitu, selalu lupa dengan ponselnya."
"Jadi gimana dong Oma?" Tian sekarang yang kebingungan.
"Kamu balik lagi ke salon! Itu juga, kalau kamu tidak mau kehilangan Mommymu."
"Yaelah." Tian menarik napas. "Mana salonnya jauh banget."
"Terserah kamu. Kalau tidak mau Mommy kamu hilang ditelan bumi, sekarang juga kamu balik lagi ke salon. Tapi, kalau mau Mommymu hilang, ya sudah, tidur saja, tidak usah ke sana," Oma pergi meninggalkan Tian dengan wajah bingungnya.
Tian menghela napas. "Ya sudah, aku balik lagi ke salon, tapi mau mandi dulu. Tubuhku rasanya lengket."
Oma tersenyum mendengar ucapan cucunya. "Anak baik."
......
Di tempat lain, Arlyn sedang duduk manis dibalkon rumahnya sambil menikmati roti coklat yang tadi dibelikan temannya, Silvi.
"Arlyn. Arlyna!"
"Aku dibalkon Ma," jawab yang punya nama dengan mulut penuh roti.
"Kamu sedang apa?"
"Ini." Arlyn memperlihatkan sepotong roti di tangannya. "Makan roti coklat."
"Roti dari siapa?" Mama langsung duduk di samping putrinya.
"Dari Silvi, tadi aku antar Silvi ke toko roti, pulangnya dibeliin ini," jawab Arlyn. "Ada apa Ma?"
"Mama minta antar."
Arlyn melihat Mama dan baru menyadari Mama sudah berpakaian sangat rapi. "Antar ke mana?"
Beberapa detik Mama terdiam, berpikir jawaban apa agar putrinya mau mengantar. "Antar Mama shopping."
Mendengar kata shopping, mata Arlyn langsung melebar. "Mau, mau Ma! Aku mau antar Mama shopping!"
Mama tersenyum lebar. "Bersiaplah! Ganti bajumu itu, jangan pake celana pendek!"
"Ok, siap!" Arlyn langsung meloncat turun dari kursi lalu memberikan roti sisa bekas makannya. "Ini roti buat Mama saja. Habiskan!"
"Anak kualat. Masa Mama dikasih roti sisa?!" ucap Mama melihat roti yang ada di tangannya.
"He-he-he. Itu tanda sayang putri cantikmu ini Ma," jawab Arlyn dari dalam kamar.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap, Arlyn dan Mama sudah duduk manis di dalam mobil.
"Mang Didin. Kita ke Mall," ucap Arlyn.
"Siap Non," jawab sopir melihat putri majikannya dari kaca spion dalam.
"Kita tidak langsung shopping ya," ucap Mama melihat putrinya. "Antar Mama ke salon dulu."
"Salon?" Arlyn kaget. "Mau apa Mama ke salon?!"
"Mama mau panjat tebing di salon!" jawab Mama ketus.
Wajah Arlyn langsung memelas. "Kenapa Mama baru mengatakannya sekarang? Aku malas kalau ke salon."
"Kenapa sih, kamu ini anti banget ke salon?! Biasanya, anak perempuan itu paling seneng kalau diajak ke salon. Kamu malah sebaliknya, aneh! Mama mau melakukan perawatan."
Ingatan Arlyn langsung teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu disaat mengantar Mama ke salon, duduk berjam-jam seperti orang bego tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Malah bengong!"
"Aku malas ke salon." Arlyn merengut. "Tahu akan ke salon, aku tidak mau ikut!"
"Nanti kamu juga bisa nyalon kayak Mama. Kamu bisa manicure pedicure biar kukumu sehat dan terawat atau kamu bisa nail art biar kukumu terlihat cantik, atau juga kamu bisa creambath agar rambutmu semakin indah terawat."
Arlyn hanya bisa menghela napas. "Aku tidak menyukai semua hal itu Ma. Aku rapi, bersih dan wangi sudah cukup buatku."
"Anak perawan kok susah sekali dibilangin. Ya sudah! Nanti Mama kasih uang agar kamu bisa jalan-jalan di mall sementara Mama nyalon."
Wajah yang merengut kembali tersenyum. "Nah gitu dong! Mama nyalon, aku jalan-jalan."
Mang Didin hanya senyum-senyum sendiri mendengar interaksi kedua majikannya, yang tua seneng nyalon yang muda malah sebaliknya.
Mall yang cukup besar dan terkenal sekarang telah nampak di depan mata. Arlyn dan Mama langsung turun dari mobil setelah memberitahu Mang Didin agar tidak pergi jauh-jauh dan selalu mengaktifkan ponselnya.
"Tumben mall sepi pengunjung," ucap Arlyn begitu menjejakkan kakinya ke dalam mall.
"Iya." Mama hanya melihat beberapa orang yang berlalu lalang.
"Kita ke lantai berapa Ma?" tanya Arlyn.
"Lantai 6," jawab Mama langsung menuju ke eskalator.
"Kenapa tidak naik lift saja Ma?"
"Apa kamu tidak lihat, orang begitu banyak di depan lift," jawab Mama.
Arlyn mengikuti Mama dari belakang menuju ke eskalator. Pandangannya mengedar ke sekeliling, melihat suasana mall yang tidak terlalu ramai.
Tiba di lantai 6, Mama langsung masuk ke salon yang sudah menjadi langganannya.
"Selamat datang Jeng Dewi," sapa wanita yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Mama, langsung datang menghampiri.
"Eh, Jeng Siska. Tumben ada di salon." Mama cipika cipika seperti kebanyakan Ibu-ibu kalau say hello. "Saya dengar katanya sedang di Singapura."
"Iya, kebetulan baru kemarin pulang dari Singapura."
"Wah, enak ya kalau punya suami seorang diplomat, kerjanya bisa menjelajah ke berbagai negara," ucap Mama.
"Biasa saja." Jeng Siska melihat Arlyn berdiri di belakang Mama. "Ini pasti Arlyna."
Mama langsung memperkenalkan putrinya. "Iya, ini Arlyna. Sekarang sudah kuliah, sebentar lagi skripsi."
"Oh, sudah besar ya. Cantik! Kalau Tante punya anak laki-laki, pasti sudah Tante jodohkan dengan anak Tante." Jeng Siska melihat Arlyn dari atas sampai bawah.
Arlyn tersenyum, tapi hatinya menggerutu. "Untung Tante Siska tidak punya anak cowok. Dijodohkan? Ogah banget! Tidak ada dalam kamus hidupku yang namanya perjodohan!"
Menyadari cukup lama berdiri, Tante Siska mengajak Mama masuk untuk segera melakukan perawatan, tapi dengan cepat Arlyn segera menarik tangan Mamanya.
"Ada apa Arlyn?!"
"Mana?" tanya Arlyn.
Mama melihat tangan Arlyn yang minta sesuatu. "Apa?!"
"Ih, Mama! Uang."
Mama menghela napas lalu membuka tas tangannya. "Kalau urusan uang, kamu ingat!"
"Iya dong! Mama sudah janji."
"Ini! Pake saja kartu kredit, tapi ingat! Jangan membeli yang aneh-aneh!" Mama memberikan salah satu kredit card-nya.
Arlyn tersenyum lebar. "OMG. Thank you. Love you!"
"Jangan pergi jauh-jauh! Selalu aktifkan ponselmu. Kalau kamu lapar, cari makan sendiri ya! Dan ingat, jangan beli yang aneh-aneh!"
"Siap komandan!" Arlyn mencium pipi Mama kemudian bergegas pergi dengan kredit card di tangan.
Di tempat parkir, di mall yang sama dengan Arlyn. Tian baru saja ke luar dari mobil kesayangannya. Langkah tegasnya langsung menuju ke pintu depan mall.
Beberapa pasang mata nampak tidak berkedip melihat Tian dengan postur tubuh tinggi serta wajah yang rupawan. Beberapa gadis yang berpapasan dengannya banyak yang terkagum, tapi Tian tidak menghiraukan semua itu.
"Aku paling malas kalau ke mall, jadi tontonan banyak orang. Dipikirnya, aku ini manusia paling aneh diplanet bumi," gerutu hati Tian ngomel sendiri. "Semua ini karena Mommy!"
Tian menaiki eskalator, tujuannya ke lantai 6 tempat di mana Mommy nya sedang melakukan perawatan di salon langganannya.