Inggris, Desember 2010
Langit tertutupi awan membuat udara di Kota London terasa lebih dingin. Meski salju belum turun, seorang wanita memperbaiki posisi sarung tangan yang dipakainya agar pas dan dapat menghalau rasa dingin yang menusuk. Bulan desember selalu membuatnya mengusap kedua tangannya agar tetap hangat.
Wanita itu dengan gelisah melirik jam tangannya seolah terburu oleh waktu. Namun kegelisahannya itu bertambah ketika ponselnya berbunyi. Ia menarik napas sejenak sebelum mengangkat panggilan dari ayahnya, Thomas.
"Halo Ayah?"
"Kau sudah di bandara?" Suara berat laki-laki yang bertanya lembut dengan suara pelan.
"Ya, sebentar lagi akan berangkat."
"Aku tidak tahu kenapa kau malah meminta liburan ke Denmark untuk hadiah kelulusanmu," ujar Thomas membuat putrinya itu mengigit bibir bawah, menahan rasa gugup sekaligus cemas.
"Aku ingin merasakan bagaimana berada di negara yang katanya salah satu negara paling bahagia di dunia," ujar wanita itu sambil terkekeh kecil.
Thomas ikut tertawa pelan. "Baiklah aku mengerti, berhati-hatilah dan seperti aku akan sulit menghubungimu, karena akan bertugas di salah satu daerah terpencil di perbatasan Yordania."
"Tentu saja, Ayah juga berhati-hati di sana."
"Baiklah, aku akan merindukanmu. Cepat naik ke atas pesawat."
Wanita itu memutus panggilan terlebih dahulu. Ia kemudian bangkit dari kursi besi, namun sebelum melangkah sambil menarik kopernya, ia membuka passpornya terlebih dahulu.
Megan Charoline Guietto. Itulah nama yang tertulis.
Megan menarik napasnya sebelum melangkah pergi. Ia sebentar lagi akan terbang ke Norwegia. Benar, dirinya membohongi Thomas bahwa akan berangkat ke Denmark. Mau bagaimana lagi, ayahnya yang bekerja sebagai tentara aktif sangat melarangnya mengunjungi Norwegia, padahal masa kecilnya dihabiskan Negara Skandinavia tersebut.
Bukan tanpa alasan Megan mendatangi Norwegia, bahkan jika dilarang oleh Thomas. Itu semua bermula dari sebuah buku yang dikirimkan kepadanya setelah resmi lulus dari bangku kuliah. Buku yang tak seharusnya pernah dikirimkan. Buku yang nama pemiliknya adalah Helena Varie Guietto. Helena yang merupakan kakak perempuannya yang meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Megan telah berusaha keras mencari siapa yang mengirim buku tersebut. Namun ia tidak berhasil, satu-satunya yang kini coba dilakukannya adalah mendatangi Norwegia. Buku yang diterima seperti sebuah diari, di mana Helena seolah menuliskan kehidupan masa remajanya di sana, tepatnya pada Kota Bergen. Ia yakin dirinya juga berada di masa itu, tetapi masih kecil dan belum mengerti apa-apa.
Anehnya, Megan membaca tulisan Helena seolah kakak perempuannya itu berada pada masa yang lampau dan tulisan itu terputus tepat setelah Helena menuliskan bahwa wanita itu jatuh cinta kepada hal yang tidak seharusnya.
Sebenarnya Megan juga sedikit penasaran mengenai penyebab kematian Helena. Thomas hanya bercerita bahwa Helena meninggal, karena sakit. Namun seingatnya tentang Helena, kakak perempuannya itu sangat sehat dan aktif.
***
Setelah menempuh perjalanan di atas udara selama beberapa jam, Megan akhirnya sampai di Ibu Kota Norwegia bernama Oslo. Seperti Ibu Kota lainnya, kota tersebut ramai dan sangatlah modern. Hanya saja ia ingatan masa kecilnya tidak terlalu berguna untuk benar-benar bisa beradaptasi pada kota tersebut. Untung saja ia masih cukup fasih berbahasa Norsk, meski ia telah mendengar bahwa orang-orang Norwegia cukup fasih juga berbahasa Inggris.
Oslo bukanlah tujuan utama Megan. Ia masih harus melanjutkan perjalanannya, melainkan adalah daerah Hardanger yang berada dekat dengan kota terbesar kedua di Norwegia, yaitu Bergen.
Namun kali ini Megan memutuskan mengisi perbekalannya di Kota Oslo dan sambil menyusun rencana untuk tinggal di mana jika telah sampai di Hardanger nanti.
Megan memandang perbukitan berselimut salju dari balik kamar hotelnya. Berada di Negara Skandinavia membuatnya teringat akan sosok Luvita--ibunya yang berasal dari Norwegia. Ibunya yang meninggal bahkan sebelum dirinya bisa belajar berlari dengan benar.
Awalnya Thomas mengajak Luvita untuk tinggal di Inggris, tetapi setelah kelahiran Megan, ia tidak tega harus selalu meninggalkan istri dengan anaknya. Oleh karena itu, ia membawa Luvita kembali ke Norwegia di mana terdapat saudara perempuan Luvita bernama Ariana yang bisa menemani istrinya itu. Namun setelah Helena tiada, ia membawa kembali Megan ke Inggris.
Keesokan paginya Megan mulai bersiap untuk menuju Bergen. Udara dingin tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berangkat. Ia memilih memakai pesawat yang memiliki waktu tempuh hanya kurang lebih satu jam untuk sampai. Selanjutnya ia melanjutkan dengan memakai kereta api menuju Hardanger. Sebenarnya ia mengetahui bahwa Ariana--bibinya masih tinggal di Bergen. Hanya saja dirinya berniat berkunjung nanti setelah kembali dari Hardanger.
Megan memegang buku catatan milik Helena di tangannya. Ia sesekali membaca ulang tulisan kakak perempuannya itu sambil menoleh ke arah jendela. Namun pemandangan pegunungan yang tampak curam dan berbatu, tertutupi salju membuat matanya selalu takjub. Belum lagi jika jalur kereta melintasi sungai kecil di mana air mengalir.
Pemandangan yang menurut Megan tidak akan pernah ia jumpai di Kota London yang setiap harinya ramai dan hanya terdapat bangunan saling berdempet atau gedung pencakar langit.
Sembari membaca tulisan Helena, salah satu bagian menarik perhatian Megan.
Terkadang aku merasa ini tidak nyata, namun ternyata bukan mimpi.
Tak ubahnya dia tampak seperti pria lainnya.
Namun ketika bulan bersinar, jati dirinya mulai menampakkan siapa dia sebenarnya.
Aku tahu ini berbahaya, namun aku juga tidak bisa jauh darinya.
Megan menarik napas dalam. Ia jelas mengerti bahwa tulisan tersebut mengarah pada persoalan asmara Helena. Namun penggambar yang terdengar begitu puitis membuatnya penasaran, siapakah sosok dia dalam tulisan Helena tersebut?
Perjalanan yang membutuhkan dua jam akhirnya membawa Megan sampai di Hardanger. Ia yang telah memesan hotel yang dekat dengan Hardangerfjord. Dalam tulisan Helena banyak yang menggambarkan keindahan fjord, sebuah teluk akibat lelehan gletser yang membentuk danau terhubung ke laut di antara tebing-tebing yang terjal.
Begitu Megan melihat langsung fjord yang dimaksud oleh Helena. Kini ia merasa takjub dan terpukau. Setelah menaruh koper dan berganti pakaian ia segera menikmati makan siang di restoran yang berada di dalam hotel. Meski tubuhnya terasa lelah, namun ia tidak ingin menyia-yiakan kesempatan untuk terlelap pada siang hari yang terlihat cerah.
Megan memakai pakaian yang lebih tebal dan berniat untuk berjalan-jalan di luar. Tidak cukup jaket yang tebal, ia juga memakai syal, sarung tangan, kaus kaki dan sepatu boots serta kupluk untuk menutupi kepalanya.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya tadi, Megan mendengar bahwa bagian belakang hotel terdapat sebuah pedesaan kecil di mana penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Ia dengan rasa penasaran kemudian menuju ke desa tersebut setelah berhasil menyewa sebuah sepeda yang disediakan oleh pihak hotel.
Untung saja jalanan tidak selalu ditutupi oleh salju, sehingga membuat Megan cepat sampai ke pedesaan yang berada di pinggir pantai.
Salah satu penduduk yang mengetahui bahwa Megan merupakan turis asing kemudian disuguhkan sebuah minuman yang terdiri atas campuran anggur, vodka, brendi dan rum. Membuat minuman tersebut langsung menghangat tubuh Megan.
Megan juga mendengar beberapa kisah tentang pedesaan yang sudah lama ada serta cerita bangsa Viking yang memang terkenal berasal dari Norwegia. Namun karena penduduk tersebut harus kembali berlayar, akhirnya Megan memutuskan tur secara mandiri. Ia terus berjalan menjauh dari arah pantai menuju bagian pedesaan yang lebih dalam.
Ketika akan pulang Megan tidak sengaja melihat papan nama desa tersebut yang kemudian familier di kepalanya. Namun seketika ia sadar bahwa itu adalah salah satu nama tempat yang disebutkan dalam buku catatan Helena. Ia pun membuka tasnya di mana ia membawa buku tersebut dan mencari halaman tentang tulisan yang memuat desa bernama Dasford.
Dada Megan berdebar kala membaca bagian di mana adanya hutan Jazmore yang berada setelah desa Dasford. Ia seketika memacu sepedanya menuju hutan yang dimaksud Helena, berbekal tulisan, bukan peta digital pada ponselnya. Setelah sampai, dirinya hanya menemukan pepohonan yang tinggi, namun salah satu hal menarik perhatiannya. Yaitu tampak seperti reruntuhan bangunan di mana pada bagian tengah terdapat sebuah sumur.
Megan melihat sumur tersebut airnya hampir mencapai bagian atas, namun menjadi beku karena musim dingin. Sumur yang memiliki ukuran pendek membuatnya berjalan pada pinggiran sumur tersebut. Perlahan kakinya melangkah pada bagian yang membeku. Senyum langsung terukur di wajahnya begitu berhasil melakukannya, ini pengalaman pertamanya berdiri di atas sebuah sumur yang membeku.
Namun ternyata itu menjadi awal petaka bagi Megan. Sumur yang airnya membeku tampak begitu kokoh dan mustahil cair bahkan jika musim dingin berganti ke musim semi. Setidaknya perlu beberapa hari, namun ternyata air membeku tersebut retak seperti kaca dan menjadikan tubuh Megan terjatuh ke bawah.
Mata Megan membola bisa merasakan tubuhnya yang mulai basah, perlahan menjadi dingin yang menusuk tak tertahankan dan sebelum pandangannya memudar. Ia mengingat bahwa kenapa dirinya melangkah ke atas sumur beku tersebut, karena Helena menuliskan hal seperti itu juga dalam buku catatannya.
♧♧♧
Perlahan bola mata Megan bergerak meski masih terpejam. Sebuah suara lonceng bergema membuatnya tersentak hingga membuka spontan matanya. Namun mata itu segera terbelalak begitu melihat dua pasang mata lainnya tengah menatapnya saat ini.
Selain itu, Megan bisa merasakan seluruh tubuhnya yang basah. Ia perlahan mencoba bangkit dari posisinya yang saat ini tengah berbaring. Begitu berdiri tegak, ia mengedarkan matanya ke sekeliling tempat itu.
Masih sama, ada sumur di mana Megan berdiri di atasnya. Namun anehnya, penampakan sumur tersebut jauh dari sebelumnya yang penuh dengan lumut, kusam bahkan beberapa bagian telah retak.
Kali ini Megan melihat sumur itu seolah terawat dan ketika berjalan mendekatinya, airnya tidak membeku. Ia melongo tidak percaya, terlebih lagi ada bangunan kecil di samping sumur itu. Padahal seingatnya hanya ada pepohonan yang daunnya telah berguguran.
"Siapa kalian?" tanya Megan pelan.
Perhatian Megan teralihkan ke dua orang yang tadi dilihatnya ketika masih berbaring. Kedua orang berbeda jenis kelamin itu menatap heran dan curiga kepada Megan. Namun satu hal yang ditangkap wanita itu adalah cara berpakaian dari kedua orang tersebut.
Megan melihat sang wanita memakai gaun yang menampilkan siluet bentuk tubuh jam pasir yang ditutupi jaket, lalu dipadupadankan dengan sepatu hak rendah, lengkap dengan kaus kaki dan sarung tangan yang dipakainya. Sedangkan sang pria yang usianya sudah paruh baya yang memakai jas kulit panjang dan memakai topi.
"Siapa kau Nona?" tanya pria tersebut kepada Megan.
Megan bisa menangkap bahasa Norsk yang digunakan pria itu. "Apakah ini Dasford?" tanyanya dengan jari telunjuk menghadap ke bawah. Ia mencoba mengingat di mana terakhir kali dirinya berada. Pasalnya apa yang dilihatnya beberapa jam yang lalu kini sangat berbeda di matanya saat ini. Setidaknya langit telah gelap, tidak seperti dalam ingatannya bahwa matahari masih bersinar, meski langit cukup mendung karena salju yang turun. Dan ia baru menyadari bahwa tidak ada salju di tempatnya berdiri.
"Ya, ini Dasford dan apa yang kau lakukan di hutan Jazmore?" Kali ini sang wanita yang bertanya sambil menatap lekat Megan terutama cara Megan berpakaian yang cukup asing di matanya.
"Aku berjalan-jalan dari hotel setelah perjalanan dari Inggris," balas Megan dalam bahasa Norsk juga.
Mata wanita dan pria itu menjadi terbelalak. "Britania Raya?"
Megan mengangguk pelan. "Ya, tapi kenapa tidak ada salju?"
Kedua orang tersebut kembali terkejut. Namun kemudian tertawa pelan.
"Bagaimana mungkin ada salju? Sekarang masih maret, bunga-bunga masih bermekaran," balas wanita itu.
Kali ini Megan yang terperanjat mendengarnya. "Apa? Bukankah seharusnya desember?"
Sang wanita dan pria saling menatap satu sama lain, sebelum memandang Megan. Mereka tidak bisa memungkiri keanehan terhadap diri Megan.
Megan memejamkan matanya sekilas, lalu menarik napas dan menampar wajahnya sekali. Ia yang kembali membuka matanya, kemudian masih melihat kedua orang tersebut.
"Sial, ini bukan mimpi?" gumamnya dengan bahasa Inggris.
"Apakah dia sakit?"
"Atau mungkin gila?"
Megan mendengkus pelan mendengar pernyataan kedua orang itu. "Baiklah, jika ini desember, sekarang tahun berapa?" Ia telah memikirkan beberapa teori aneh dan gila di kepalanya. Terutama melihat cara penataan rambut wanita di depannya yang mengembang dan ditutupi oleh topi. Sedikit mengingatkannya akan Audrey Hepburn.
"Apa Nona lupa ingatan?" tanya pria memandang gugup dan cemas kepada Megan.
"Harap pertanyaanku dulu," pinta Megan dengan tatapan memelas.
"Tentu saja tahun 1945."
Megan membuka sedikit mulutnya mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal baginya. "Apa? 1945?" Ia mengingat dengan jelas bahwa sebentar lagi akan memasuki tahun 2011. Namun sekarang dirinya malah mundur 65 Tahun ke belakang.
Namun sebelum ketiganya kembali mengobrol, tiba-tiba terdengar suara sirene yang keras. Wajah wanita dan pria itu tampak terkejut sekaligus takut dan langsung menarik tangan Megan.
Megan yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya ikut berlari, karena kemudian sadar jika dirinya memang berada pada tahun 1945, artinya Perang Dunia II masih terjadi. Setidaknya ia masih mengingat kisah yang sering Thomas ceritakan padanya berulang kali. Maklum saja ayahnya yang seorang tentara suka menceritakan kisah peperangan masa lampau.
Kaki Megan terasa keram setelah berlari cukup lama. Ia kini masuk ke sebuah rumah terbuat dari bata berlantai dua, di mana penerangan masih menggunakan petromaks dan seluruh furniture masih dibuat dari kayu.
"Baiklah, namaku Megan," ujar Megan mengulurkan tangannya pertama kali.
Sang wanita menyambut ramah uluran tangan tersebut. "Aku Ann, ini Ayahku Rudo."
Rudo kemudian menjabat tangan Megan sambil tersenyum.
"Suara apa tadi itu?" tanya Megan kembali mengingat suara sirene tadi.
"Sepertinya mereka melihat pesawat milik Bangsa Jerman," jawab Rudo yang lebih tahu.
Megan menjentikkan jarinya. "Hah benar, Jerman masih belum kalah."
"Apa? Jerman akan kalah?" ujar Rudo dengan mata terbelalak.
"Kalian bilang sekarang maret bukan?" Megan kini memijat pelipisnya, mencoba mengingat sejarah yang Thomas selalu ceritakan padanya.
Ann dan Rudo mengangguk dengan cepat sambil menatap Megan menanti sebuah jawaban.
"Mei nanti Jerman akan menyerah tanpa syarat," balas Megan mengingat di mana pasukan Jerman akan menyatakan menyerah kepada sekutu.
Ann dan Rudo tampak ragu akan ucapan Megan. Namun raut wajah keduanya malah membuat Megan tertawa pelan.
"Kalian pasti tidak percaya kan? Lihat saja nanti, kau akan mendengar beritanya lewat internet, televisi--oh tahun 1945 hal seperti itu belum ada. Ah, radio. Kalian akan mendengar pasukan sekutu menyerbu Kota Berlin dan Jerman akan menyerah."
Meskipun Ann dan Rudo sulit mempercayai ucapan Megan. Keduanya menampakkan mata penuh harapan agar peperangan segera berakhir.
Hal berbeda justru dirasakan oleh Megan. Ia yang terlalu larut dalam ingatan kisah sejarahnya malah kini menjadi pusing dengan situasinya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Ann kini mempertanyakan kredibilitas ucapan Megan.
Megan tersenyum tipis. "Jika aku katakan bahwa diriku berasal dari masa depan, apakah kalian akan percaya?"
Ann dan Rudo seketika menggelengkan kepala membuat Megan terkekeh kecil.
"Faktanya beberapa jam yang lalu aku masih berada di tahun 2010 dan sekarang … tahun 1945?" Megan masih sulit mempercayai tentang bagaimana dirinya terlempar pada masa lampau. Lebih parahnya lagi adalah ketika Perang Dunia ll sedang memuncak. "Oh ya, bagaimana kalian menemukanku? Aku berada di bagian cukup dalam di hutan Jazmore?"
Ann tampak ragu akan menjawab. Membuat Megan kini beralih menatap Rudo.
"Sebenarnya pantang bagi kami untuk memasuki hutan Jazmore, terlebih ketika bulan purnama. Awalnya aku dan Ann ingin ke rumah kerabat yang baru saja merayakan pernikahannya, namun dalam perjalanan mendengar suara lolongan serigala. Lalu tanpa sadar kami malah berlari masuk ke daerah hutan Jazmore. Tepat berada di dekat sumur tersebut, kami melihatmu bersandar di dinding sumur, lalu berinisiatif mengecek keadaanmu," jelas Rudo dengan runtut.
Megan mengigit bibir bawahnya. "Berarti aku datang ke sini, bukan … aku melewati lorong waktu melalui sumur tersebut," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Ann dan Rudo.
Meskipun Megan masih tidak paham bahkan sangat terkejut akan situasi yang dialaminya, tetapi kini dirinya berada di dalam kamar Ann dan telah berganti pakaian dengan sebuah gaun tidur yang menurutnya sangat klasik.
"Aku merasa seperti berada di film Pride and Prejudice," ucap Megan memperhatikan dirinya dalam sebuah cermin besar yang terdapat pada kamar Ann.
"Kau terlihat sangat cantik," puji Ann dengan wajah polos membuat Megan tertawa.
"Jadi apakah kau benar-benar berasal dari Inggris? Negara Eropa itu?" tanya Anna memegang lengan Megan.
Megan mengangguk pelan. "Ya, aku datang ke Norwegia untuk berlibur dan menyelidiki sesuatu."
"Aku mendengar beberapa hal tentang Inggris, salah satunya tentang kerajaannya."
Megan terkekeh kecil. "Ya, bahkan hingga tahun 2010, Kerajaan Inggris masih ada. Ratu Elizabeth ll yang memegang tahta."
"Baiklah, ayo kita tidur. Aku lelah," ujar Megan mengajak Ann untuk berbaring di atas tempat tidur. Ia sebenarnya bukan benar-benar berniat istirahat, namun dirinya berharap bahwa mungkin saja ia hanya mengalami lucid dream. Bahwa apa yang dialaminya kini adalah kesemuan belaka.
Namun Megan tidak bisa tertidur. Ia mungkin memejamkan matanya, namun pikirannya masih berkelana dan mencari jawaban. Tidak tahan berbaring tanpa bisa tertidur membuatnya kembali terduduk dan melirik Ann yang sudah tertidur pulas di sebelahnya. Ia beruntung bisa bertemu dengan Ann dan Rudo yang hanya tinggal berdua dan berbaik hati menampungnya sementara.
Pandangan Megan lalu tertuju kepada jendela, di mana cahaya rembulan tampak menerobos masuk. Ia berjalan mendekat dan mencoba menatap keluar jendela. Ia berpikir bahwa di luar sana akan terlihat sangat gelap, karena tidak adanya lampu jalan. Namun ternyata dirinya salah, cahaya bulan menelisik ranting pohon yang membuatnya bisa melihat sebuah tempat duduk di bawah sebuah pohon.
Megan pada awalnya ingin mengabaikan itu dan menatap ke arah lain. Namun keningnya berkerut menyadari ada seseorang yang duduk di sana. Ia berpikir bahwa mungkin saja itu adalah Rudo, tetapi dirinya menjadi ragu kala orang tersebut bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekat ke arahnya.
Siluet cahaya bulan yang berada di atas orang tersebut membuat Megan tidak melihat dengan jelas wajah orang tersebut. Namun matanya terbelalak menyadari bahwa orang tersebut adalah seorang pria dan tidak memakai baju.
Megan juga bisa melihat tubuh atletis dari pria tersebut. "Apakah dia tidak kedinginan?" gumamnya lalu tersentak terkejut begitu merasakan sebuah tangan memegang pundaknya dari belakang. Ia berbalik badan dna menemukan bahwa itu adalah Ann.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Ann mengucek matanya.
"Tidak, aku hanya menengok ke luar dan melihat seorang …." Ucapan Megan terhenti begitu ia berbalik badan ke depan kembali dan sudah tidak melihat sosok pria itu lagi.
Seketika Megan merasa bulu kuduknya berdiri. Ia dengan berjalan cepat menuju tempat tidur lalu meringkuk di atas. Ann segera menyusulnya dan kembali tidur.
Nyatanya dada Megan berdebar kencang apa yang baru saja dilihatnya dan menghilang sekejap mata. Ia menarik napas dalam, berharap tidak ada hal aneh lain yang akan terjadi padanya. Namun suara lolongan serigala terdengar membuatnya membayangkan hewan buas itu berada di sekitarnya.
♡♡♡