Sudah satu minggu berlalu sejak Alisha menyaksikan kejadian menyakitkan itu. Sedetik pun bayangan dua orang yang teramat serasi itu tak pernah hilang dari ingatannya. Di malam saat Alisha terdiam di tepi ranjang dengan kedua lutut tertekuk, dia mencoba menghubungi Rama. Namun, panggilannya tak kunjung dijawab. Dering ponsel yang disusul oleh suara operator mengiringi malam yang dia lewati dalam gelap.
Hari ini, akhirnya dia mendapat kabar dari Rama. Pria itu mengirim pesan bahwa dia akan pulang karena jadwal suting diundur selama satu minggu. Alisha hanya membaca pesan singkat itu tanpa membalas.
Hingga akhirnya suara mesin mobil yang teramat ia hapal menelisik di antara dinding-dinding yang mulai dingin. Kedua kakinya kembali bergetar. Kedua tangan Alisha segera mendarat di atas kaki berbalut rok putih itu.
Mencoba mengatur nafas, Alisha memejamkan mata. Sofa yang dia duduki kini seakan tertanam paku tajam dan mampu mengoyaknya hingga ke dalam hati. Memunculkan rasa perih yang menjalar ke mata, mengundang lapisan bening yang ia tahan agar tak sampai menetes.
“Alisha.”
Suara berat itu menyebut namanya. Suara yang sama yang mengucap ijab di hari paling bahagianya beberapa bulan lalu. Alisha tak menyahut. Suaranya tertahan di tenggorokan. Saat telinganya bisa menangkap langkah kaki yang mulai mendekat, tangan Alisha bergerak-gerak mencari tiga lembar foto yang dia cetak dua hari lalu.
“Alisha?”
Punggung yang tertutup kerudung itu menegang. Sungguh, Alisha sekarang membenci suara itu. Ingatan saat Rama membisikkan kata cinta pada perempuan lain mengusik kepalanya.
“Kamu ngapain? Suami pulang setelah lembur kerja, malah kamu abaiin?”
Rama berdecak. Dia melempar jaketnya ke sofa lain dan duduk di sana. Di hadapan Alisha. Dia mengenakan kaus polos dan celana hitam. Wajahnya terlihat kusut, padahal hari ini jelas dia tidak merekam adegan apapun.
“Ambilin minum,” perintah Rama.
Gigi Alisha bergemeretak. Namun, dia tetap berdiri. Kaki lemasnya ia paksa berjalan menuju dapur. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas dan kembali ke hadapan suaminya itu. Sebelum meletakkan gelas kaca itu Alisha menyelipkan ketiga lembar foto yang sedari tadi ia genggam di bawahnya.
Rama tak memperhatikan. Tangannya segera meraih gelas yang mulai dipenuhi embun. Dia menghabiskan seisi gelas dalam beberapa tegukan. Saat hendak meletakkan kembali gelas itu di atas meja matanya menangkap beberapa lembar foto dalam keadaan terbalik.
“Apa lagi ini?” tanyanya dengan tangan yang bergerak meraih lembaran persegi itu.
Dengan kedua alis bertaut dia membalik foto pertama. Betapa terkejutnya ia mendapati potretnya dan Rindi yang tercetak di lembaran itu. Foto itu jatuh dari jepitan jari Rama dan tergeletak di atas karpet bulu yang tadi pagi Alisha bersihkan.
Melihat ekspresi Rama Alisha hanya diam. Saat laki-laki itu mengambil lembar foto yang tersisa dan membukanya, lalu merobek semuanya pun dia hanya diam. Dia terus menatap Rama yang sekarang bangkit dari duduknya dengan muka memerah.
“Apa-apaan ini, Alisha?”
Rama berteriak membuat Alisha memejamkan mata. Laki-laki itu bergerak gelisah. Tangannya menyisir rambut, lalu mengusaknya kasar di detik selanjutnya. Bukan hanya wajahnya, matanya pun ikut memerah.
“Jawab!”
Alisha mengambil nafas dalam. Dia mendongak, menatap Rama yang gusar.
“Seharusnya aku yang tanya.”
“Kamu mau ancam aku, Alisha? Bilang, dari mana kamu dapat foto ini?” Telunjuk Rama terarah tepat di depan hidung Alisha.
“Aku ada di sana, Mas. Di kafe Cempaka.”
Rama diam. Dua detik berselang dia berteriak frustrasi, berbalik dan menjambak rambutnya. Kepalanya penuh oleh kemungkinan buruk. Maka, dia memutari meja dan berdiri tepat di depan Alisha. Kedua matanya melotot lebar.
“Kamu mau apa? Maksud kamu apa lakuin ini, hah?” Rama kembali berteriak, kini tepat di depan Alisha.
Alisha hingga memejamkan mata dan menahan nafas. Bau menyengat alkohol keluar dari mulut lelaki di depannya ini. Melihat reaksi Rama yang sangat sensitif, sepertinya benar dia mabuk.
Kedua tangan Alisha mengepal. “Kamu habis minum?"
“Apa? Kenapa? Terserah aku, nggak usah ngatur-ngatur!”
Alisha mengangguk. Biasanya Alisha akan mengomeli Rama dan berakhir menangis agar suaminya itu tak menyentuh minuman keras lagi. Namun, kali ini berbeda. Ia merasa tak punya hak. Dan ia merasa tak perlu mengingatkan lagi setelah terlalu sering diabaikan.
“Kamu mau ngancam aku, iya? Kamu mau apa? Jangan diem aja!”
“Aku butuh penjelasan kamu, Mas. Kenapa kamu lakuin ini?
Setiap kata yang keluar dari bibirnya ia tekan agar Rama benar-benar mendengarkan. Alisha tak ingin mengakhiri pernikahannya begitu saja. Mungkin Rama akan meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Kalau pun tidak, setidaknya dia bisa mendapat penjelasan. Alisha sungguh ingin mendengar alasan dari pengkhianatan Rama juga sifat suaminya itu yang berubah.
“Aku cinta sama dia,” ucap Rama menunjuk foto yang sudah terbagi menjadi beberapa keping.
Mulut Alisha terkatup rapat. Dia memalingkan kepalanya, tak ingin melihat Rama. Rasa panas merambat ke matanya. Hanya butuh satu kedipan dan cairan bening di sana akan turun membasahi pipi. Dengan sekuat tenaga Alisha menahan tangisnya.
“Lalu aku ini apa, Mas? Aku ini kamu anggap apa?” lirihnya.
Rama mundur hingga terduduk di atas meja. Dia menatap Alisha lurus. “Kamu istriku,” jawabnya enteng.
Tentu itu bukanlah jawaban yang Alisha duga akan terlontar dari mulut Rama. Kepalanya berpaling cepat, kembali menatap Rama. Mulut Alisha terbuka, tapi tak satu pun kata bisa ia ungkapkan. Setelah mengakui bahwa ia mencintai perempuan lain, bagaimana bisa Rama menjawab seperti itu.
“Kamu benar-benar nggak peduli perasaanku, Mas? Sedikit pun, pernah kamu anggap aku sebagai istri yang perlu dihargai?” Air mata Alisha mengering. Emosi di dadanya meluap, membuatnya tanpa sadar menaikkan suara.
“Kamu berani bentak suami kamu?” Rama berdiri. Terlihat jelas amarahnya kembali.
Alisha ikut berdiri. Dengan sejengkal jarak di antara mereka, Alisha berani mengangkat wajah. Dia membalas tatapan penuh amarah Rama. Dia yang lebih berhak kecewa dan marah di sini.
“Kenapa? Apa aku salah? Aku selama ini menahan semua perubahan kamu. Kamu nggak pernah pulang, nggak pernah kasih kabar. Kamu pun sering bentak-bentak aku. Aku nggak pernah protes maupun marah, Mas. Tapi … nggak dengan perselingkuhan.”
Mata Rama bergetar. Alisha bisa melihat amarah besar di sana. Mungkin Rama sedang merasa harga dirinya direndahkan hanya karena ucapan Alisha yang sepenuhnya benar.
“Alisha! Kamu berharap apa? Kamu pikir aku bisa bertahan dan setia sama perempuan kayak kamu? Aku malu punya istri kayak kamu!” teriak Rama.
“Semua selebriti punya istri yang cantik, pintar, seksi. Sedangkan kamu? Kamu pikir aku bahagia nikah sama kamu?”
Terlalu banyak. Terlalu banyak yang Rama katakan. Kaki Alisha lemas. Dia mundur perlahan dan jatuh terduduk di atas sofa yang masih hangat. Tanpa bisa ia cegah air matanya menetes.
“Mas—“ Alisha tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Rama diam. Dia berkedip dan baru menyadari apa yang dia katakan. Dia menjambak rambut untuk menghilangkan pening akibat alkohol. Matanya memejam kuat. Apa yang sudah dia katakan pada Alisha?
Dengan langkah sedikit goyah Rama meraih jaketnya di atas sofa. Sebelum pergi ia menatap pundak Alisha yang bergetar lalu beralih pada potongan foto di atas karpet. Dia menggeram pelan.
“Tunggu!” seru Alisha dengan suara serak. Dia menghapus air mata di wajahnya dan hanya meninggalkan hidung juga mata yang memerah.
“Apa lagi?” Rama bertanya tanpa berbalik. Tangannya mengais udara untuk mencari dinding sebagai penopang tubuh. Pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Sudah lama dia tidak menegak minuman berbau menyengat itu, membuat tubuhnya bereaksi berlebihan saat kembali menegaknya dalam jumlah banyak.
“Seperti ini akhirnya, Mas? Pernikahan kita … hanya sampai sini saja?”
Suara bergetar Alisha menelisik ke dalam telinga Rama. Pria itu menggertakkan gigi dengan tangan mengepal kuat.
“Kamu yang ingin begitu, kan?”
Alisha memutar tubuhnya hingga bisa menatap punggung Rama. “Aku?” tanyanya lemah.
“Kalau kamu nggak lakuin hal kayak gini, pernikahan kita bakal tetep baik-baik aja.”
Mendengar ucapan Rama Alisha langsung bangkit berdiri. Dia tertawa miris dengan mata menatap lurus punggung Rama.
“Ini diri kamu yang sebenarnya, Mas? Ternyata yang selama ini kamu tunjukkin ke aku itu cuma topeng?” Alisha mendongak, menatap langit-langit yang seakan bergerak semakin dekat. Menjepitnya.
“Terserah kamu ngomong apa.” Rama melirik singkat.
“Oke, kalau itu mau kamu.” Alisha menarik nafas dalam. “Detik ini juga … talak aku, Mas.”
Dulu, Alisha pernah berkata dengan angkuh pada layar televisi yang menayangkan berita perceraian selebriti. Dengan badan tegak dan tatapan mata lurus pada pengacara sang artis, Alisha mengatakan ia tak akan membiarkan rumah tangganya di kemudian hari goyah. Dengan seluruh tenaga ia akan mempertahankan ikatan suci yang belum pernah ia rasa.
Namun, hari ini, tangannya yang bertaut bergetar walau sekuat tenaga ia tahan. Senyum kecil di bibirnya tak bisa menutupi tatapan penuh luka dari mata hitam legamnya. Alisha memandang lurus tangan kekar sang suaminya, Rama, yang tengah menggenggam pulpen hitam. Di antara keduanya ada secarik kertas di atas meja yang telah Alisha bubuhi tanda tangan. Kini giliran Rama.
“Alasan perceraian kita karena ketidak cocokkan, Mas. Bukan perselingkuhan. Tidak akan ada media yang terlibat. Bahkan seekor lalat pun mungkin nggak akan mendengar berita perceraian kita,” ucap Alisha, menyadari kekhawatiran Rama.
“Karier aku sedang naik-naiknya, Alisha. Aku tidak akan membiarkan kamu kalau—“
“Aku tidak memberitahu siapa pun atas perbuatan kamu, Mas. Kamu pun tahu, bahwa hanya segelintir orang yang tahu tentang pernikahan kita.”
Miris. Alasan pernikahan mereka bukanlah karena cinta, tapi sebuah perjodohan. Ibu Rama, Sinta, menyukai Alisha dan menginginkannya menjadi menantu. Rama tidak menolak. Dia tidak berani menolak permintaan Ibunya. Sikapnya yang manis selama masa perkenalan membuat Alisha mantap menerima lamaran lelaki itu. Bahkan setelah menikah pun, Rama bersikap layaknya suami idaman. Namun, itu semua hanya berlaku di 3 bulan pernikahan mereka.
Rama mulai menunjukkan watak aslinya. Dia mulai suka menuntut Alisha akan banyak hal. Mulai dari penampilan hingga performanya sebagai Ibu rumah tangga. Dan, di bulan ke-6 pernikahan mereka Alisha mendapati sebuah rahasia luar biasa. Dengan kedua matanya dia menyaksikan Rama bersama perempuan lain. Dan bukannya menyangkal, lelaki itu malah mengatakan segalanya. Tentang perasaannya dan betapa dia muak memiliki Alisha sebagai istrinya.
“Bagaimana aku bisa percaya sama kamu, Alisha? Bisa saja kamu mengatakan segalanya pada media dan menghancurkan karierku.”
Tangan Alisha mengepal di atas pangkuan. Dia memejam sejenak, berusaha tenang sekaligus menghalau air mata yang memaksa keluar.
“Untuk apa?” tanyanya. “Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?”
Rama mengeraskan rahang. Bukannya menatap Alisha, matanya justru terpaku pada tanda tangan cantik istrinya itu. Sejak sekitar 2 minggu yang lalu–saat Alisha memergoki perbuatannya–ia tak pernah lagi menatap mata gelap perempuan itu.
“Ada banyak alasan, Alisha. Salah satunya adalah sebab dari perceraian kita. Mungkin kamu ingin … balas dendam. Aku tidak bisa percaya ucapan kamu begitu saja.”
Rasanya menyakitkan. Di sini, Alisha adalah korban dan Rama malah memperlakukannya seakan pelaku yang patut dicurigai. Padahal yang Alisha butuh kan hanya tanda tangan dari laki-laki itu. Sudah dua jam ia duduk di sini, di sofa yang dulu sangat nyaman baginya. Dua koper besar milik Alisha sudah tersiap di sampingnya.
“Aku harus melakukan apa untuk membuktikan ucapanku? Apakah di sini, aku adalah pihak yang perlu membuktikan sesuatu? Bukannya itu hal yang seharusnya kamu lakukan, Mas?”
“Jangan mengubah pembicaraan, Alisha. Tidak ada yang perlu aku buktikan.”
“Kalau begitu sudahi saja semuanya. Jangan dipersulit. Taksiku sudah menunggu sejak 20 menit yang lalu,” ucap Alisha tak sabar.
Ia bukanlah wanita suci yang akan rela saat melihat perselingkuhan suaminya. Ia bukan perempuan lemah lembut yang hanya akan meratap saat tahu bahwa pernikahan 6 bulannya hanya suaminya anggap sebagai beban. Ia bukan wanita yang hanya akan berpasrah dan menerima saat diduakan. Ia hanya wanita biasa, yang merasa marah, kesal, dan benci. Dadanya terasa panas saat melihat wujud suaminya yang masih baik-baik saja bahkan setelah mematahkan hatinya.
Rama diam. Matanya tertuju pada kata-demi kata dalam surat cerai di hadapannya. Jarinya memutar-mutar pulpen dalam genggaman. Seharusnya ini mudah. Perceraian adalah hal yang selama ini ia inginkan. Seharusnya ia hanya perlu menanda tangani selembar kertas itu dan membiarkan Alisha menyelesaikan semuanya. Ia tak perlu khawatir. Alisha bukan wanita yang akan melakukan kejahatan hanya karena sebuah kemarahan. Namun, sejak kertas tipis itu Alisha hamparkan di atas meja, Rama tak juga lepas dari rasa bimbang.
“Aku akan pergi dari rumah ini, juga dari hidup kamu. Nggak akan ada yang tahu tentang alasan … perceraian kita.”
Rama mengangkat kepala. Seketika mata gelap Alisha mengunci maniknya. Dia tenggelam dalam netra kelam yang biasanya terlihat lembut. Namun, kini berbeda. Semakin lama Rama menatap mata Alisha, maka semakin terasa pula nyeri di dadanya. Segera Rama memutus pandang, menggeleng pelan mengusir pemikiran bahwa ia merasa bersalah.
“Ya sudah. Lebih cepat lebih baik. Aku pegang omongan kamu,” ujar Rama, sebelum menggoreskan tanda tangannya yang terlampau sederhana. Hanya sebuah huruf R dan beberapa lekokkan. Aneh rasanya karena Rama membutuhkan waktu terlalu lama hanya untuk merangkai tanda sederhana itu.
Kertas berisikan kalimat bertinta hitam itu kini telah terisi dua tanda tangan. Mata Alisha tak bisa teralih dari goresan tanda tangan Rama yang dulu pernah ia tertawakan. Tak ia sangka pernikahan yang selalu ia bangga-banggakan kini berakhir miris. Sebuah perselingkuhan, bahkan Rama tak berniat merayu maupun meluruskan perbuatannya. Alisha marah. Sedikit pun Rama tak menghargai perasaannya.
“Lucu, ya,” gumam Alisha, terkekeh pelan.
Rama mendengarnya walau samar. Kerutan muncul di keningnya. Sebuah perceraian yang didasari perselingkuhan, tak ada lucu-lucunya. Ditatapnya mata Alisha yang kini dilapisi kaca bening. Rama berdecak, membuang muka.
Alisha tak ingin menangis, apalagi di hadapan Rama. Maka, ia segera meraih kertas di atas meja, memasukkannya ke dalam amplop coklat lalu berdiri. Dia menyampirkan tas di bahu, lalu meraih kedua koper besarnya. Sebelum pergi Alisha berbalik untuk melihat Rama. Lelaki itu, yang akan menjadi mantan suaminya, tak menatapnya sedikit pun.
“Selamat tinggal, Mas. Aku harap, nggak satu pun cerita hidup aku yang diisi kehadiran kamu di masa depan nanti.”
Setelahnya Alisha melangkah mantap keluar dari rumah yang sudah ia tempati 6 bulan ini. Tempat ia tertawa saat bahagia dan menangis saat gundah. Sekarang ia akan meninggalkan segala beban masa lalunya di sini. Di rumah yang menjadi saksi sehancur apa dirinya setelah mendapati sang suami mendua.
Sebelum masuk ke dalam taksi, sekali lagi Alisha menatap rumah megah berlantai dua itu. Bibir mengukir senyum, sedangkan cairan bening mulai berjatuhan dari mata sayunya. Tak seperti yang pernah ia gaungkan. Ternyata Alisha tak mampu mempertahankan rumah tangganya. Bukan, ia tak ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia tak ingin menggenggam ikatan suci yang telah Rama nodai. Rumah yang ia kira kuat, ternyata selama ini berdiri tanpa fondasi. Hanya berisi dinding-dinding hampa yang berusaha Alisha isi dengan cinta dan harapannya.
Kini semuanya sudah selesai. Pernikahan yang ia pikir akan bertahan selamanya, kini tinggal menunggu hari hingga mendengar suara palu di pengadilan. Dulu, Alisha selalu tersenyum saat berpikir Rama adalah pangeran berkuda yang mengubah hidupnya. Benar, Rama mengubah hidupnya. Membuatnya menjadi seorang wanita yang jauh lebih tangguh, bahkan saat hatinya lebur.
Alisha mengusap air matanya. Sopir taksi yang ia tumpangi baru saja kembali ke kursi kemudi setelah menata koper Alisha dalam bagasi. Sekali lagi meyakinkan hati bahwa ini pilihan terbaik. Alisha mengukir senyum lembut untuk mengakhiri segala keburukan yang menimpanya saat ini. Tangan kecilnya bergerak menekan tombol di pintu mobil, membiarkan kaca transparan di sampingnya itu bergerak naik. Tepat sebelum kaca mobil tertutup seluruhnya, Alisha dapat melihat Rama yang memandangnya dari balik jendela berjeruji. Pria itu berdiri diam dengan raut yang tak bisa Alisha artikan.
Alisha membuang muka. Ia benar-benar berdoa agar tak lagi disatukan dengan Rama dalam hal apapun. Dia menutup mata rapat-rapat. Hingga saat taksi mulai melaju, kelopak tanpa riasan itu perlahan terbuka. Alisha menyandarkan punggungnya yang terasa lelah. Beberapa kali ia menghela napas berat. Menyakitkan dan memalukan. Diselingkuhi dan tak mendapat permintaan maaf sama sekali.
Taksi yang Alisha tumpangi berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Alisha melempar pandangan keluar jendela di pinggir jalan di mana terdapat sebuah papan iklan produk kosmetik. Ada potret sorang perempuan cantik berpose manis dengan tangan menggenggam sebuah lipstik.
Segera, Alisha mengalihkan pandangan. Dadanya sesak. Perempuan itu, dia Rindi, aktris terkemuka yang beberapa kali menjadi lawan main Rama. Mereka selalu terlihat serasi. Dalam film, maupun dalam ingatan Alisha. Saat Rama memeluk Rindi sambil membisikkan kata cinta, lalu mereka tertawa bersama, tanpa tahu ada sosok Alisha yang tengah susah payah menahan tangis di balik dinding.
Ucapan Rama beberapa hari lalu tiba-tiba terngiang di kepalanya. Tentang kecemburuannya dengan selebriti lain yang memiliki istri yang teramat sempurna. Tangan Alisha terangkat menyentuh pipi. Telunjuknya menelusuri hidung mancungnya, bibir tipisnya, hingga garis rahang. Alisha tidak merasa dirinya cantik, apalagi pintar. Namun, bukan berarti Rama dapat menghinanya sedemikian rupa. Tak pernah terbayangkan sedikit pun olehnya, mulut yang dulu mengucap kata manis bisa mencelanya dengan begitu buruk.
“Kamu aktor yang hebat, Mas. Bahkan dalam pernikahan kita,” lirih Alisha.