Suasana ruang tunggu rumah sakit dingin dan pengap. Kania duduk diam, kedua tangannya mencengkeram tas lusuh di pangkuannya. Dari balik dinding kaca, Arka masih terbaring lemah. Matanya sesekali bergerak, menandakan ia belum benar-benar sadar. Mesin-mesin medis terus berbunyi monoton, seakan menghitung waktu yang tersisa.
Suster Nila mendekat, menyerahkan map berisi berkas rujukan yang telah ditandatangani.
"Ini sudah lengkap, Bu. Tapi rumah sakit tujuan ada di Jakarta. Biaya awal sekitar lima belas juta, belum termasuk transportasi dan rawat lanjutan," jelasnya hati-hati.
Kania menelan ludah. Lima belas juta. Jumlah itu lebih besar dari yang pernah ia pegang sekaligus sejak perceraian.
"Ada batas waktu, Sus?"
Suster Nila mengangguk. "Paling lambat tiga hari ke depan. Setelah itu kondisinya bisa menurun."
Kania mengangguk pelan. Dalam hati, ia sudah tahu jawabannya: ia harus bergerak sekarang juga.
Sore itu, Kania kembali ke rumah kontrakannya. Rumah kecil di gang sempit yang bahkan tak cukup untuk bernafas lega. Langit-langitnya retak, dindingnya lembap, dan hanya ada satu kipas tua yang berderit bila dinyalakan.
Ia menyimpan berkas rujukan di atas meja makan, lalu menarik napas panjang.
"Satu-satunya cara..." gumamnya, "...aku harus cari bantuan dari luar."
Tangannya meraih ponsel. Ia mulai menghubungi satu per satu teman lamanya. Mantan rekan kerja, sahabat masa kuliah, tetangga lama. Namun satu demi satu jawaban yang diterimanya nyaris seragam:
"Maaf, Ka. Aku juga lagi sulit."
"Aku ngerti posisimu, tapi aku belum bisa bantu."
"Nanti ya, kalau ada rezeki."
Sampai akhirnya ia duduk lunglai. Layar ponselnya masih menyala dengan kontak terakhir-Reza.
Ia ragu. Lelaki itu memang datang dengan niat baik, tapi ia masih orang asing. Tapi... Arka tidak punya waktu. Akhirnya ia kirim pesan:
"Pak Reza, ini Kania. Jika masih bisa, saya ingin tahu lebih lanjut soal bantuan dari yayasan Bapak."
Tak sampai sepuluh menit, ponselnya berdering.
"Assalamu'alaikum, Bu Kania?" Suara Reza terdengar di ujung sana.
"Wa'alaikumussalam... iya, Pak. Saya butuh bantuan itu."
"Besok pagi, kami ada pertemuan di kantor yayasan. Kalau Ibu bisa datang, saya bisa bantu sampaikan langsung ke bagian program. Bawa semua dokumen medis Arka."
Kania mengangguk cepat. "Baik. Terima kasih, Pak."
Begitu telepon ditutup, Kania tak bisa menahan tangis. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari... ia merasa ada sedikit harapan.
Keesokan Harinya
Kania mengenakan baju terbaik yang ia punya-kebaya sederhana berwarna cokelat muda dan rok panjang hitam. Rambutnya ia ikat rapi. Ia ingin terlihat sebaik mungkin. Bukan untuk impresi, tapi untuk menunjukkan bahwa ia ibu yang pantas diperjuangkan.
Kantor yayasan itu sederhana, terletak di sebuah ruko dua lantai. Logo di pintu kaca bertuliskan: Yayasan Cahaya Sehat – Menyentuh Hati, Menyembuhkan Harapan.
Reza sudah menunggu di lobi.
"Bu Kania, mari. Saya sudah jadwalkan dengan Bu Astri, ketua bidang bantuan medis."
Mereka masuk ke ruang rapat kecil. Di dalam, seorang wanita paruh baya dengan kacamata tipis menyambut mereka dengan senyum tenang.
"Silakan duduk, Ibu Kania. Boleh ceritakan sedikit soal kondisi anak Ibu?"
Kania membuka map-nya. Tangannya gemetar saat menjelaskan: riwayat penyakit Arka, proses pengobatan, surat dokter, dan hasil laboratorium. Suaranya lirih, sesekali tercekat. Tapi ia berusaha tegar.
Bu Astri menyimak dengan seksama, lalu mengangguk.
"Yayasan kami punya dua program. Bantuan penuh untuk pasien rawat jalan dan subsidi 50% untuk rujukan ICU atau tindakan besar. Karena kondisi Arka termasuk kategori kedua, kami bisa bantu separuh biaya awal, yaitu sekitar tujuh setengah juta rupiah. Sisanya... Ibu harus usahakan sendiri."
Kania menggigit bibirnya. "Tujuh setengah juta lagi..."
"Betul. Kami juga bisa bantu sebarkan penggalangan dana lewat platform sosial media yayasan. Tapi waktu terbatas."
Kania menunduk dalam-dalam. "Saya akan usahakan sisanya. Apa pun caranya."
Siang Itu
Setelah keluar dari kantor yayasan, Reza berjalan mendampingi Kania.
"Saya tahu itu belum cukup, Bu. Tapi kita punya awal. Sekarang tinggal cari separuhnya lagi."
Kania menoleh, menahan haru. "Terima kasih, Pak Reza. Saya nggak tahu harus bagaimana kalau nggak ada Bapak kemarin."
Reza tersenyum kecil. "Saya hanya perantara. Yang berjuang tetap Ibu."
Malam Harinya
Kania membuka lemari kecil di kamarnya. Ia mengeluarkan satu-satunya gelang emas peninggalan ibunya. Sudah lama ia simpan, untuk jaga-jaga. Mungkin inilah waktunya.
Keesokan harinya, ia pergi ke toko emas di pasar. Gelang itu ditaksir empat juta.
Tanpa ragu, ia menyerahkan gelang itu. Ia pulang dengan setengah dari kebutuhan biaya.
Empat juta. Masih kurang tiga setengah juta lagi.
Ia mulai membuat unggahan di media sosial. Mengisahkan perjuangannya, kondisi Arka, dan target dana yang dibutuhkan. Ia menyertakan bukti medis, foto Arka, dan nomor rekening.
Reza ikut membantu membagikan lewat akun yayasan.
Hari-hari berikutnya adalah perang emosi. Ada yang peduli, ada yang nyinyir. Beberapa menyebut ia "cari simpati", sebagian menyumbang diam-diam.
Dalam dua hari, total dana masuk ke rekeningnya mencapai tiga juta.
Kurang lima ratus ribu lagi.
Kania tak bisa berhenti menangis ketika melihat laporan rekening.
Di Rumah Sakit
Hari ketiga, Kania membawa semua bukti transfer ke bagian administrasi.
"Total dana sudah cukup, Bu. Kita akan mulai proses rujukan hari ini juga," kata petugas.
Suster Nila memeluk Kania. "Akhirnya kamu bisa bawa Arka ke rumah sakit yang lebih baik. Aku ikut senang."
Kania menatap anaknya di balik kaca ICU. Air mata mengalir pelan.
"Aku janji, Nak... Ibu akan lakukan apa pun untuk sembuhkan kamu."
Di Tempat Lain
Sementara itu, di sebuah kafe mewah, Bagas duduk bersama seorang wanita berpenampilan glamor.
"Anakmu itu sudah dibawa ke rumah sakit swasta?" tanya si wanita.
Bagas mengangkat bahu. "Entahlah. Terserah Kania mau ngapain. Aku nggak urus lagi."
Wanita itu tersenyum sinis. "Baguslah. Kita fokus aja ke hidup kita sekarang. Anak penyakitan kayak gitu cuma bikin hidup kamu ribet."
Bagas terdiam. Untuk sesaat, ada semburat rasa bersalah muncul di wajahnya. Tapi cepat ia tepis.
Malam Sebelum Keberangkatan
Kania duduk di tepi ranjang rumah sakit Arka. Anak itu mulai sadar, meski lemah. Tangannya bergerak pelan meraih tangan Kania.
"Mama... capek," bisiknya lirih.
Kania menahan isak. Ia mengusap kepala Arka lembut.
"Sebentar lagi kita ke tempat yang lebih baik. Di sana, kamu akan sembuh. Kamu kuat, Nak."
Arka tersenyum lemah.
Reza muncul di pintu, membawa koper kecil. "Saya bantu bawa barang-barangnya ya, Bu. Mobil ambulans akan datang jam tujuh pagi."
Kania mengangguk. "Terima kasih, Pak Reza. Saya nggak akan lupa semua bantuan Bapak."
Reza menatap Arka, lalu Kania. "Kita belum selesai, Bu. Ini baru langkah awal. Tapi saya yakin... Arka bisa sembuh."
Udara pagi masih dingin saat mobil ambulans berhenti di depan pintu masuk Rumah Sakit Bina Sehat, Jakarta. Kania turun lebih dulu, lalu membantu suster memindahkan Arka yang masih terbaring lemah di atas ranjang dorong.
Mata Kania menatap sekeliling. Rumah sakit ini jauh lebih besar, lebih modern, dan lebih bersih dibanding rumah sakit sebelumnya. Harapan yang sempat remuk mulai tumbuh kembali.
"Bu Kania?" Seorang perawat mendekat. "Saya dari tim ICU anak. Kami sudah terima berkas rujukannya. Silakan ikut saya."
Reza, yang menyusul dengan membawa koper kecil berisi pakaian dan perlengkapan Arka, berjalan di belakang mereka. Pria itu nyaris tak lepas dari sisi Kania sejak beberapa hari terakhir. Bukan hanya membantu soal dana, tapi juga jadi satu-satunya orang yang benar-benar hadir untuk Kania dan Arka.
Begitu masuk ruang ICU anak, tim medis segera bergerak. Kania hanya bisa menunggu di luar sambil menatap jendela kaca dengan jantung berdebar. Ia tak tahu seberapa besar peluang anaknya untuk pulih. Tapi ia sudah berikan segalanya.
Reza duduk di bangku tunggu, diam. Lalu ia menoleh pada Kania.
"Ibu harus istirahat. Wajah Ibu pucat sekali."
Kania memaksakan senyum. "Saya baik-baik saja."
"Tidak, Ibu tidak baik. Sudah berapa malam nggak tidur?"
"Dua. Atau tiga. Saya lupa," jawab Kania, berusaha meredakan kecanggungan dengan tawa kecil.
Reza menghela napas. "Saya pesan penginapan dekat sini. Kalau Ibu berkenan, bisa dipakai istirahat sementara. Saya bayar pakai dana operasional yayasan."
Kania menggeleng cepat. "Pak Reza sudah banyak bantu. Saya nggak enak."
"Ibu butuh energi. Arka butuh Ibu dalam kondisi terbaik," kata Reza tegas.
Kania menunduk, akhirnya mengangguk pelan.
Malam di Penginapan
Kania berdiri di balkon kecil penginapan sederhana itu. Angin malam berhembus lembut, membuat rambutnya tergerai. Ia menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap. Namun pikirannya jauh dari kata tenang.
Ia mengingat masa-masa awal menjadi ibu.
Saat Arka lahir, ia adalah bayi yang rapuh. Berat badannya di bawah normal, pernapasannya lemah. Sejak itu, hidup Kania diisi oleh rumah sakit, obat, dan kunjungan rutin ke dokter.
Awalnya, Bagas masih mendampingi. Tapi perlahan, ia menjauh. Setiap demam kecil membuatnya marah, setiap tagihan rumah sakit membuatnya menggerutu. Sampai akhirnya, perceraian itu terjadi.
"Aku butuh istri, bukan perawat anak sakit," kata Bagas saat itu.
Kata-kata itu masih membekas. Pedih. Mengoyak harga dirinya sebagai ibu sekaligus istri.
Kini, Kania menatap ke dalam kamar. Reza sudah tertidur di sofa, masih mengenakan jas tipisnya. Pria itu terlalu banyak membantu-lebih dari yang bisa ia harapkan dari orang asing.
Kania duduk di lantai, memeluk lutut. Tangisnya pecah pelan. Bukan karena lelah, tapi karena ia merasa... tak sendiri lagi.
Pagi Hari
Telepon dari rumah sakit membangunkan Kania. Suara dokter di ujung sana membuatnya hampir menjatuhkan ponsel.
"Bu Kania, Arka mengalami penurunan saturasi oksigen drastis semalam. Kami butuh izin segera untuk tindakan darurat. Jika terlambat, dampaknya bisa fatal."
Kania segera berlari keluar kamar. Reza yang terbangun ikut menyusul, tanpa tanya.
"Dok, lakukan apa pun yang perlu. Saya izinkan," kata Kania panik begitu tiba di ICU.
Dokter mengangguk. "Kami akan pasang alat bantu napas invasif. Ini prosedur terakhir sebelum opsi operasi."
Kania menahan napas. "Kalau sampai harus operasi..."
"Biayanya akan jauh lebih besar. Bisa ratusan juta. Tapi... mari kita berdoa tindakan ini cukup."
Reza menggenggam bahu Kania pelan. "Arka kuat. Kita percaya itu."
Sementara Itu, di Tempat Lain
Bagas menatap layar ponselnya lama. Ia membuka unggahan penggalangan dana Kania yang kini sudah menyebar luas. Di foto itu, Arka terlihat kurus dan pucat dengan banyak selang di tubuh mungilnya.
Komentar-komentar netizen penuh doa dan simpati.
Tapi ada juga yang mulai mempertanyakan:
"Ayahnya ke mana? Kok diam aja?"
"Mana tanggung jawab si ayah? Laki-laki nggak tahu malu."
Bagas mendengus, melempar ponselnya ke sofa. Tapi rasa gelisah sudah mulai merayapi dadanya. Ia bangkit dan mengambil kunci mobil.
Hari Ketiga di Rumah Sakit Baru
Arka masih terbaring, namun alat bantu napas mulai menunjukkan hasil. Saturasi oksigennya naik perlahan. Dokter bilang, kondisi Arka stabil tapi masih kritis.
Kania nyaris tak beranjak dari kursi tunggu.
Suatu siang, dokter spesialis jantung anak datang membawa kabar yang mengejutkan.
"Kami curiga Arka mengalami kelainan jantung bawaan. Tapi butuh CT scan khusus dan MRI untuk memastikannya. Biayanya tidak kecil, Bu."
Kania terdiam. Ia menatap Reza yang duduk di seberangnya.
"Berapa, Dok?" tanyanya lirih.
"Sekitar 18 juta untuk semua prosedur."
Angka itu membuat dunia Kania runtuh lagi.
Reza langsung bergerak. Ia membuka laptop, mulai menyusun proposal bantuan darurat untuk yayasan pusat.
"Saya nggak janji bisa penuhi semua, Bu. Tapi saya akan coba."
Sore Hari
Kania mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
"Aku di Jakarta. Besok aku ke rumah sakit."
Ia mengenali nomor itu. Bagas.
Kania tercekat. Kenapa tiba-tiba muncul?
Keesokan harinya, Bagas benar-benar datang.
Ia berdiri kikuk di depan ruang ICU. Reza berdiri di sisi lain, mengamati dengan tatapan hati-hati.
"Gimana dia?" tanya Bagas.
Kania menatap mantan suaminya itu dengan mata dingin. "Kenapa kamu datang?"
Bagas terdiam. "Aku lihat berita soal Arka. Aku... cuma mau tahu keadaannya."
"Kamu pikir aku butuh simpati kamu sekarang?"
"Ka... aku ayahnya."
"Bukan," Kania menatap tajam. "Ayah nggak ninggalin anaknya pas sakit. Ayah nggak nyalahin anak kecil karena dia lahir lemah."
Reza melangkah maju. "Maaf, Pak. Kania butuh ketenangan. Kalau hanya datang untuk membuka luka lama, lebih baik jangan."
Bagas menoleh, menatap Reza dengan tajam.
"Kamu siapa, sok bela-bela Kania?"
"Saya orang yang peduli. Yang tidak pernah pergi saat dia butuh."
Kania menahan emosi. "Sudah cukup. Aku nggak butuh pertengkaran di depan anakku."
Bagas mendesah. "Aku akan transfer uang. Nggak banyak, tapi semoga bisa bantu."
Kania tidak menjawab.
Malam Itu
Kania dan Reza duduk di taman kecil rumah sakit.
"Aku benci dia, tapi... mungkin aku juga salah," bisik Kania.
Reza menatapnya. "Ibu terlalu keras pada diri sendiri."
Kania mengangguk. "Aku cuma... ingin jadi ibu yang cukup."
Reza tersenyum. "Ibu lebih dari cukup. Dan Arka tahu itu."
Mereka terdiam. Angin malam menyapu pelan.
Penutup Bab
Hari keempat, hasil tindakan medis menunjukkan kabar baik. Arka menunjukkan respons signifikan terhadap perawatan.
Operasi mungkin bisa ditunda. Tapi ancaman tetap ada.
Di sisi lain, Reza makin dekat dengan Kania. Bukan karena iba, tapi karena kekaguman dan hormat. Namun perasaan itu mulai membuatnya ragu-ia tak ingin terlihat mengambil kesempatan di tengah penderitaan.
Sementara itu, Bagas mulai dihantui rasa bersalah. Ia melihat dunia luar memojokkannya, dan untuk pertama kalinya... ia bertanya dalam hati:
"Apakah aku benar-benar ayah?"