"Mas, siapa yang tadi kamu telepon? Pake panggil yank-yank segala?" Mas Johan sepertinya kaget melihat kedatanganku yang tiba-tiba dari dalam rumah.
"Apaan sih kamu ngagetin saja!"
"Katakan padaku, Mas siapa dia?! Selingkuhanmu kan itu?"
"Jangan ngarang kamu! Nuduh nggak ada bukti!"
"Aku tadi mendengar semua percakapanmu dengannya lewat telepon. Tega sekali kamu Mas kepadaku!"
"Oh jadi kamu sekarang sudah berani menguping pembicaraan suami ya. Mau jadi istri durhaka kamu?! Jangan campuri urusanku atau kamu akan kuceraikan dan menjadi janda! Seperti ibumu kamu pun akan mati sia-sia, hahaha."
"Jahat sekali kamu Mas, apa kurangnya aku? Semua telah kukorbankan untukmu dan juga keluargamu. Lalu ini kah balasan yang harus kuterima?!"
"Mangkanya ngaca! Kamu itu banyak banget kekuranganya, kurang cantik, kurang seksi dan pokoknya kurang bisa menyenangkan hati suami! Dan satu lagi jangan pernah ungkit jasa-jasa mu pada keluargaku. Karena itu memang sudah menjadi kewajibanmu mengabdi padaku dan keluargaku!"
"Jahat sekali kamu, Mas. Aku menjadi jelek seperti ini juga karena kamu, yang tak pernah memberi nafkah untukku dan menjadikanku pembantu serta mesin pencetak uang saja!"
Plakk
Sebuah tamparan kuterima di pipi sebelah kiri.
"Sudah kubilang jangan durhaka pada suami. Ingat ridho Tuhan itu tergantung dari ridho suami. Kalau kamu masih seperti ini maka aku akan benar-benar mencearikanmu!"
Mas Johan kemudian pergi mengendarai motornya dengan kencang, meninggalkanku yang masih menangis di teras sendiri.
Aku bingung harus bagaimana? Sakit rasanya hati ini ketika semua pengorbananku hanya dibalas dengan perselingkuhan. Jika hanya dihina dan diperas tenaga dan uangku, aku masih bisa sabar. Tetapi ketika suamiku telah selingkuh, sungguh aku tak bisa menerimanya.
Hari ini kuputuskan untuk tak masuk kerja, perasaan hatiku sedang tak karuan. Aku pun menghubungi bos di tempatku kerja dan kembali berbaring di kamar.
Tak henti-hentinya aku mengucap istighfar dan menyebut asma Allah. Aku mencoba mengurai kembali benang kusut yang selama ini membelengguku. Kenapa aku harus takut menjadi janda? Apa hanya karena aku takut akan bernasib sama seperti Ibu? Bukankah takdir setiap manusia itu berbeda-beda dan telah digariskan oleh Allah semenjak kita berada di dalam kandungan?
Kenapa juga aku selama ini terlalu bodoh? Karena telah mempertahankan pernikahan yang tidak sehat ini demi menjauhi kata 'janda'.
Tidak, aku harus bangkit. Tak perlu takut lagi menjadi janda, lebih baik berpisah dari pada harus terus tersiksa, apalagi Mas Johan juga mulai main api di belakangku.
Selama ini aku mampu hidup sendiri, dan malah aku bisa menghidupi tiga nyawa lainnya. Berarti aku pun tak bisa jika nanti akan hidup sendiri karena sudah menjadi janda. Percuma juga punya suami, jika tak bisa mengayomi dan malah memanfaatkanku saja.
Mulai sekarang aku tak akan menjadi orang yang lemah lagi. Mereka yang telah memanfaatkanku selama ini, akan segera tahu bahwa akulah bos disini. Mas Johan dan keluarganya tak akan kubiarkan menyakitiku lagi.
Perselingkuhan Mas Johan membukakan mataku, bahwa tak selamanya pengorbanan yang kita berikan akan dibalas dengan kebaikan. Kali ini aku harus menemukan bukti yang kongkret atas perselingkuhan Mas Johan.
Suara motor berhenti di depan rumah, aku hafal sekali suara motor milikku. Berarti mertua dan iparku sudah pulang. Aku harus memakai motor itu sekarang juga menuju pangkalan Mas Johan, banyak hal yang harus ku ketahui hari ini.
"Heh, kamu Wulan kok nggak kerja sih? Malah enak-enakkan di kamar!" kata Ibu mertuaku saat melintas di depan kamar.
"Lagi pingin libur Bu, capek kerja terus," jawabku cuek.
"Capek kamu bilang? Mau makan apa kalau kamu nggak kerja?" Ibu mertuaku itu berkacak pinggang di depan pintu kamar sambil melotot ke arahku.
"Ya makan nasi lah Bu, masak iya makan batu!"
"Sudah berani jawab ya kamu sekarang! Pakai malas-malasan kerja lagi. Kuadukan pada Johan baru tahu rasa kamu, biar langung diceraikan kamu!"
"Adukan saja Bu, terserah sesuka hati Ibu. Tolong minggir sedikit, aku mau ke kamar mandi."
Saat aku ingin keluar beliau malah menjambak rambutku.
"Aww sakit, Bu. Apa-apaan ini? Tolong jangan main kasar!" Aku pun mencoba melepaskan tanganya dari rambutku.
Karena mungkin aku lebih muda, jadi tenagaku lebih kuat dan aku berhasil lepas darinya.
"Jangan pernah main tangan lagi kepadaku Bu, atau aku akan melaporkan perbuatan Ibu kepada polisi!" ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Sepertinya Ibu mertuaku itu shock dengan perkataanku barusan, karena selama ini setiap beliau menjambak rambutku atau mencubitiku, aku tak pernah melawan. Dan aku akan memohon-mohon agar beliau melepaskan tanganya dari tubuhku.
Maaf, Bu. Bukannya aku tak sopan pada orang tua, namun sikap kalian selama ini sudah keterlaluan padaku , dan mulai hari ini Wulan yang lemah itu sudah mati. Berganti Wulan yang kuat yang siap membalas perbuatan orang yang pernah menyakitinya dan tak takut lagi jika mendengar kata 'cerai' dan 'janda'.
"Mbak, buatin aku mie goreng dong, pake cabe satu ya!" ucap Selfi memerintah.
"Ibu juga buatin sekalian Lan! Yang kuah ya. Nggak pakai lama." Ibu mertuaku pun tak mau kalah dengan anak perempuannya.
Langsung saja aku membuatkan pesanan mereka, tapi kali ini aku akan membuatkan mie yang spesial untuk merek berdua.
Setelah mie siap, aku pun mengantar ke ruang tamu, tempat dimana mereka berdua sedang duduk santai sedang memainkan ponsel. Kuletakkan makanan itu diatas meja lengkap dengan dua gelas teh hangat, kemudian aku masuk lagi untuk mengambil kunci motor yang ada di atas kulkas.
"Wulannnn! Mie apa ini? Kamu mau membunuh kami?!" Teriak Ibu mertua yang diikuti oleh Selfi.
"Sudah pedas, asin banget lagi!!" Selfi tak kalah keras teriakannya.
Aku menghampiri mereka ke ruang tamu, sambil menahan tawa.
"Aduh maaf banget ya, mungkin tadi aku lupa masukin bumbu. Cepat minum teh hangatnya biar rasa pedasnya hilang Bu, Sel," perintahku pada mereka.
Mereka pun langsung mengambil gelas masing-masing, namun seketika mereka kembali berteriak sambil terbatuk.
"Benar-benar kurang ajar kamu ya Wulan!!" kata Ibu mertuaku sambil berjalan menuju kulkas, yang diikuti oleh Selfi.
Aku yang melihat kejadian itu, tertawa terbahak-bahak. Sungguh lucu tingkah mereka, setelah mencoba mie dan teh hangat yang telah kucampur dengan setengah kilo cabe dan satu bungkus garam. Rasain!
"Dasar kamu memantu durhaka! Akan kuadukan pada Johan nanti!" Mertuaku itu terus saja mengomel sambil mulutnya terus mendesis kepedasan, sama halnya dengan Selfi.
"Aduin saja Bu, aku nggak takut tuh. Ingat ya kalian itu cuma numpang di sini, jangan sok berkuasa. Sudah tinggal dan makan gratis masih saja sok! Mulai sekarang aku tak mau lagi jadi pembantu kalian, mau makan ya masak aja sendiri! Dan satu lagi, aku tak akan memberi sepeser uangpun pada kalian!"
Kulangkahkan kaki ke depan meninggalkan mereka berdua yang masih bengong dan mungkin heran dengan jawaban yang baru saja kuberikan. Segera kunaiki motor dan memakai hwlm, tujuanku kali ini adalah pangkalan ojek Mas Johan.
"Eh, Mbak Wulan mau kemana sih? Sembarangan saja pakai motor! Mau kupakai main nih!" ucap Selfi di depan pintu.
"Suka-suka akulah, kan ini motorku! Ingat ya Sel, mulai hari ini motor ini tak boleh dipakai siapapun kecuali aku!"
"Terus aku kalau kuliah dan main gimana? Lagian ya STNK nya 'kan masih ada padaku, hehehe" Selfi tersenyum jahat.
"Kata siapa ada padamu? Nih lihat sekarang sudah ku pegang! Terserah kamu lah, mau ngampus naik bis atau jalan kaki, emang gua pikirin!"
"Hiihhh dasar pelit! Jadi Mbak Wulan sudah berani mengambil STNK itu dari tasku ya?"
"Ya iya lah. Toh yang kuambil juga barang pribadiku kok. Kamu saja yang gak tau malu! Udah ah aku mau pergi dulu! Ingat nanti kalau aku pulang kerumah, tak boleh ada piring kotor di dapur, semau wajib bersih! Dah Selfi cantik," ucapku berlalu sambil melambai ke arahnya.
Terlihat dia sangat kesal dengan semua ucapanku tadi.
Kutancap gas menuju tempat tongkrongan Mas Johan dan sesama tukang ojek online lainnya. Jangan tanya dari mana aku tahu tempat pangkalan itu? Ya karena aku sudah sering melewatinya, kebetulan searah dengan tempat kerjaku.
Kutaruh motor di pinggir jalan, dan turun ke warung kopi yang jadi pangkalan itu. Hanya ada seorang penarik ojek di sini yang sedang makan. Lalu di mana suamiku? Sedangkan motornya saja terparkir di sini.
"Mas, lihat Johan nggak?," tanyaku pada pria yang sedang makan tadi.
"Mbak ini siapa?," jawabnya sembari makan.
"Temannya Mas, aku punya pekerjaan untuk Johan."
Terpaksa aku bohong, karena jika tau aku istri Johan, pasti pria ini tak akan memberitahuku.
"Tuh, di dalam sana. Biasa jam segini dia lagi pacaran," katanya sembari menunjuk ruang tamu di rumah penjual kopi itu.
Aku pun langsung masuk kedalam, dan pemandangan di depanku benar-benar di luar akal sehat. Johan dan
selingkuhannya sedang bercumbu mesra di atas kursi.
Spontan ku lempar helm yang dari tadi kupegang.
BRAKK
Dam sontak mengenai tubuh mereka.
"Aww sakit! Apaan sih ini?!"
Perempuan itu memekik sambil memegang kepalanya yang terkena lemparan helm.
"Sakit?! Dasar pelakor tak tahu malu kamu, bermesraan dengan suami orang!" ucapku.
Mendengar suaraku Johan pun langsung kaget.
"Wulan?! Ngapain kamu di sini?"
"Ngapain kamu bilang?! Justru aku yang harusnya tanya, ngapain kamu di sini dengan perempuan ini?! Ini kan selingkuhanmu?!"
Plakkk
Sebuah tamparan dilayangkan Johan ke pipi kiriku. Sakit.
"Pergi dari sini sekarang juga! Ini bukan urusanmu!"
"Ini urusanku, karena kita masih sah menjadi suami istri! Hey kamu pelakor! Dimana harga dirimu?!"
Aku mendekatin perempuan itu, geram rasanya melihat dia yang dari tadi mengengam tangan suamiku.
"Mau ngapain kamu?! Cepat pergi dari sini sekarang juga! Atau akan ku ceraikan kamu!" ancam Johan.
"Silahkan ceraikan aku sekarang juga! Aku tak takut menjadi janda! Bahkan hidupku akan lebih bahagia jika jauh dari parasit sepertimu!"