Bab 2

"Maya!"

Ku dengar Bang Dirga berteriak memanggil namaku saat aku baru memasuki rumah ini. Pasti dia akan marah lagi. Sudah ku tebak dari intonasi dia memanggilku.

"Ada apa, Bang?" tanyaku mendekatinya.

"Dasar istri gak berguna. Istri gak becus. Bisa-bisanya ya kamu ninggalin aku yang masih tidur sampai aku telat masuk kerja hari ini. Kamu tau gak gara-gara kamu aku sampai gak di bolehin masuk sama satpam tempatku kerja," teriaknya. Terlihat sekali Bang Dirga tengah marah terhadapku.

"Aku sudah membangunkanmu, Bang tapi kamu sendiri yang tidak mau bangun," belaku untuk menghindar dari amukannya.

"Dasar istri sialan. Nyaut aja bisanya. Diem bisa gak. Aku ini lagi marah-marah sama kamu, dasar istri tidak berguna," teriaknya dengan lantang di depan wajahku.

"Iya, Bang. Iya maaf," ucapku lirih seraya menunduk.

"Bikinin aku minum sana! Capek aku teriak-teriak sama kamu," titah Bang Dirga dengan napas ngos-ngosan.

Rasanya jika aku tidak ingat bahwa seorang istri harus melayani suami. Sudah ku tendang Bang Dirga sekarang. Dia fikir aku tidak capek apa. Tidak pegal apa. Baru pulang bukanya di sambut malah di marah-marahin. Masih di suruh-suruh juga. Dia fikir aku kerja untuk siapa. Ya untuk diriku sendiri lah tapi kan aku juga menggaji mereka yang bermain di dramaku.

Aku bergegas ke dapur membuatkannya minum. Teh hangat seperti kesukaannya tapi saat aku membuka toples gula isinya zonk. Lah kemana ini semua gula-gulaku. Rasanya tidak mungkin jika semut membawa semua gulaku mengingat tadi pagi masih ada setengah toples.

"Ini, Bang tehnya" aku menghidangkan teh buatanku ke hadapan suami tercintaku. Ah sosweet pikiranku.

"Hmm, Dek," Bang Dirga memanggilku setelah menyesap tehnya.

"Iya, Bang?" Sahutku halus. Sengaja ku manja-manjakan suaraku.

"Kok tehnya beda yah. Gak seperti yang biasanya," ucap Bang Dirga seperti sedang mencecap sisa rasa teh buatanku.

"Ah sama kok, Bang. Mungkin karena tehnya baru jadi rasanya agak berbeda," aku menahan diri agar tidak tertawa di hadapan Bang Dirga. Bisa kacau nanti kalau aku kelepasan tertawa di depannya.

Aku terkikik dalam hati. Ya jelas beda lah itu teh ku buat tidak dengan gula. Tapi dengan permen yang ada di toples milik Bang Dirga. Tanpa sepengetahuan Bang Dirga aku mengambil tiga biji permennya. Kan tidak apa aku mengambilnya toh untuk dia bukan untuk diriku sendiri. Karena selama ini Bang Dirga begitu pelit dengan isi setiap toplesnya.

"Ya sudah ya, Bang aku mau ganti baju dulu terus masak," ucapku undur diri agar Bang Dirga tidak menanyaiku hal yang lain-lain lagi.

"Kamu masak untuk dirimu saja sendiri, Dek. Itu masih ada mi di dalam almari. Tadi Abang, Ibu sama mbak Sinta sudah makan," serunya saat aku hampir memasuki kamar.

Selalu saja seperti itu. Mereka pasti makan sebelum aku pulang dan sengaja menyimpan sisa makanannya di dalam lemari kamar Ibu. Padahal jika aku tidak makan malam ini pun aku masih kenyang karena sebelum pulang aku sudah makan dengan klien.

Jika kalian ingin tahu. Selama ini kamar yang aku tempati itu berbeda dengan kamar yang Bang Dirga tempati. Mengapa demikian. Aku juga tidak paham yang jelas Bang Dirga melarangku untuk satu kamar dengannya karena baginya aku ya hanya sebatas babu di rumah ini. Pernikahan hanya status yang tidak penting bagi Bang Dirga. Tapi itu memudahkanku untuk menjalankan drama ini.

Dengan malas aku membuka isi almari yang hanya terdapat beberapa bungkus mie instant murahan. Padahal jika di bandingkan dengan gajiku yang mereka nikmati harga satu kardus mie instan ini hanya secuil tapi entah mengapa bagianku hanya satu kardus mie ini untuk satu bulan.

"Eh udah pulang, May?" tiba-tiba mbak Sinta mengagetkanku yang tengah membuka plastik mie instan murahan ini.

"Udah, Mbak. Kenapa?" tnyaku acuh sambil merebus mie instant yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Uang yang lima ratus ribu dong," ucapnya sambil menengadahkan tangan kepadaku yang ku balas dengan menaikkan satu alisku.

"Kan sudah ku bilang, Mbak. Gajiku semuanya di transfer ke ATM sedangkan ATM ku ada sama Bang Dirga. Aku gak pegang sepeserpun. Hanya untuk naik angkot untuk berangkat kerja saja. Kan tau sendiri pulangnya aku harus jalan kaki," kelasku karena memang setiap pulang ke rumah aku selalu jalan kaki dari ujung gang.

Selama ini Bang Dirga hanya memberiku uang untuk ongkos berangkat bekerja. Sedangkan pulangnya ya untung-untungan. Kadang nebeng temen kadang naik angkot kadang jalan kaki.

"Dasar pelit kamu, May," sinis Mbak Sinta sambil menoyor kepalaku ke belakang hingga aku hampir terjungkal.

Mereka pikir aku mesin ATM apa bisa di mintai duit seenak jidat mereka. Sudah untung mereka aku biarkan menikmati secuil dari gajiku masih aja ngelunjak.

Aku membawa mie buatanku ke depan tv. Berniat memakan mie ini sambil menonton tv. Sejenak melepaskan lelah mumpung sedari aku pulang aku tidak melihat keberadaan ibu sama sekali. Toh TV yang akan ku tonton juga hasil pemberianku.

"Enak banget yah makan sambil nonton tv kayak gitu," sindir ibu saat baru datang dengan membawa tas belanjaan yang cukup banyak di kedua tangannya.

"Istirahat sejenak lah, Bu. Aku capek baru pulang kerja," ucapku sambil nyengir.

"Enak aja katamu istirahat. Gak ada istirahat-istirahatan. Gak liat apa rumah berantakan kayak gini. Masih ongkang-ongkang kaki santai-santai makan," Ibu meletakkan tas belanjaannya dengan keras di atas meja.

"Iya, Bu nanti aku bereskan semuanya," jawabku menunduk pura-pura menurut.

"Ngomong-ngomong ibu habis dari mana, keliatannya abis belanja, Bu?" tanyaku mengalihkan perhatian ibu.

"Ya iyalah abis belanja. Ibu abis dari mall. Memangnya kamu, orang miskin mana pernah ke mall. Paling cuma pernah ke alpa. Itu aja udah seneng banget pasti. Norak," jawab Ibu membanggakan dirinya yang sering ke mall.

Memang jika di gabungkan gajiku dengan gaji Bang Dirga pastilah cukup untuk hidup semua orang di runah ini dengan makanan yang layak. Tapi karena kebiasaan ibu yang sering belanja menjadikan uang yang ada cepat habis tak tersisa.

"Itu baju baru, Bu?" tanyaku saat ku lihat Ibu mengeluarkan satu gamis dari salah satu paper bag yang beliau bawa.

"Ini gamis keluaran terbaru tau. Hanya orang kaya dan modis saja yang cocok pakai gamis seperti ini. Orang kampung dan miskin kayak kamu mana cocok. Cocoknya pakek karung beras," tawa ibu menggelegar mengisi seluruh ruangan.

"Mana, Bu coba Sinta lihat!" sambar Mbak Sinta saat keluar dari kamar.

"Ini coba lihat gamis ibu, Ta. Bagus kan. Ini juga ada satu buat kamu," Ibu memberikan sebuah gamis dengan merek senada kepada Mbak Sinta.

"Wah bagus, Bu. Ini juga bagus gamis yang buat aku. Makasih ya, Bu," ucap Mbak Sinta sambil melihat-lihat gamis yang di belikan Ibu untuknya

"Eh Maya, ngapain kamu lihat-lihat. Kamu iri sama gamis aku dan ibu?" tanya Mbak Sinta dengan membelalakkan matanya.

Iri dengan gamis mereka? Yang benar saja. Uang yang di pakai ibu untuk membeli semua belanjaannya juga pastilah uangku. Hari ini yang gajian itu aku mengingat gajian Bang Dirga masih seminggu lagi. Yang harusnya saat ini belanja karena telah gajian. Uangku yang malang!

Bab 3

"Loh, Bang kok jam segini belum berangkat?" tegurku saat ku lihat Bang Dirga masih asyik duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan permainan di gawainya

"Berisik kamu. Lagi males kerja aku ini," jawabnya santai dengan pandangan yang tak lepas dari gawainya.

"Kok malah nyantai sih, Bang. Abang kan harus kerja nanti kalo terlambat terus Abang di tegur loh. Kan kemarin abis terlambat sampai gak masuk kantor," ucapku memperingati tentang dirinya yang kemarin bisa di bilang bolos karena tidak di ijinkan masuk oleh satpam kantor.

"Halah paling cuma teguran. Lagian kalo aku di pecat kan masih ada kamu yang kerja. Ngapain aku susah-susah kerja. Kan ada kamu," jawabnya santai yang membuatku ingin mengetuk kepalanya menggunakan palu godam.

"Loh, aku kan cuma istri, Bang. Tugasku hanya membantu bukan harus jadi yang utama jadi tulang punggung," jawabku tidak terima dengan ucapannya.

"Bawel banget jadi bini. Aku ceraikan baru tau rasa kamu!" ancamnya kepadaku.

"Ceraikan saja, Bang!" jawabku sambil berlalu keluar rumah karena hari sudah semakin siang dan aku harus ke kantor.

Pagi yang sangat menyebalkan dan suami yang tidak kalah menyebalkannya. Memangnya dia lupa tugas seorang suami itu seperti apa. Masa harus aku yang jadi tulang punggung keluarganya. Mana cukup dengan gaji yang selama ini di transfer ke rekeningku jika Bang Dirga menganggur. Untuk makan saja pas-pasan apalagi utuk memenuhi gaya hidup Ibu dan Kakaknya yang selalu ingin terlihat wah. Bisa terancam makan batu dan pasir aku ini.

Dengan wajah bersungut-sungut aku melangkah meninggalkan rumah. Ku sumpahi hidup kalian tidak akan bahagia, Bang. Rutuku secara tidak sadah. Eh jangan ding, jangan sekarang. Aku masih ingin membuat mereka tertawa sebelum mereka mengetahui kebenarannya.

"Mari, Bu kita ke kantor," ucap Pak-Pak. Aduh Pak siapa sih ini. Aku tau dia salah satu supir yang aku pekerjakan tapi aku lupa namanya.

"Eh iya nama Bapak siapa ya, Pak?" tanyaku saat bapak tersebut baru duduk di belakang kemudi.

"Parman, Bu," jawabnya sopan.

"Oh iya Pak Parman, sebelum ke kantor kita mampir ke restoran dulu ya saya belum sarapan. Bapak sudah sarapan apa belum kalo belum kita barengan," tawarku dengan merasakan perut yang keroncongan.

Ya beginilah aku. Hidupku tidak ku jadikan ribet. Jika ada orang yang baik terhadapku akan aku perlakukan dengan baik. Tapi jika ada yang menyakitiku akan aku tunjukan rasa sakit itu sendiri. Toh bagiku aku dan semua karyawanku itu sama yang beda hanya muka dan tempat tinggal. Nggak juga deng maksudnya yang beda hanya amal ibadah. Begitu.

¤¤¤

Di kantor aku terus memikirkan bagaimana kelanjutannya hidupku. Lama-lama aku sudah mulai bosan dengan drama ini. Ingin ku akhiri namun belum saatnya ingin ku lanjutkan aku kelaparan. Ah bodo amat lah aku lanjutkan saja drama ini. Biarkan aku makan enak selama di kantor saja dulu di rumah harus rela jadi gembel.

Tring tring

Gawaiku berbunyi. Itu gawai jeleku yang biasa aku gunakan saat di rumah mertua. Gawai dengan harga murah yang kacanya sudah retak sana sini. Pemberian dari Bang Dirga saat baru menikah dulu. Jangan mengira dia membelikanku gawai secara cuma-cuma ya. Aku harus merelakan gawaiku yang lebih mendingan dari ini untuk di jual dan di gantikan oleh gawai yang mungkin sudah seribu kali berciuman dengan lantai bahkan aspal jalanan. Miris sekali.

"Iya, halo assalamualaikum, ada apa, Bang?" Ucapku

"Heh Maya. Tadi ku lihat kamu naik mobil bagus. Itu mobil siapa?" tnya Bang Dirga to the point.

"Mobil kantor, Bang aku numpang," jawabku berbohong. Tidak mungkin kan aku bilang itu mobilku. Bisa-bisa di jual Bang Dirga nanti.

"Owh ya sudah," singkat padat dan jelas.

Tit

Sambungan terputus

Apa-apaan ini. Ngapain Bang Dirga menelfonku hanya menanyakan soal ini. Membuang waktuku saja. Lebih baik aku kembali mengecek beberapa berkas yang harganya milyaran.

Tapi jika di pikir-pikir. Bang Dirga seperti mencurigakan. Bagaimana mungkin Bang Dirga tau aku tadi naik mobil sedangkan saat aku berangkat pun aku masih menyaksikan Bang Dirga yang sedang nge-game di ruang tamu. Ada yang tidak beres ini.

Saat aku tengah melamun tiba-tiba satu ide terlintas di isi kepalaku. Ternyata isi kepala yang sudah semrawut ini masih bisa untuk berfikir. Aku tertawa dalam hati.

"Akan aku buat kalian kelabakan. Apa yang bisa kalian lakukan tanpa bantuan gajiku," tawaku membahana di ruangan.

Ceklek.

"Kamu kenapa, May" tiba-tiba Ilham datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Heh kutu kupret. Kalo masuk itu pintunya di ketok dulu bisa gak sih?" sungutku,

Ilham ini temanku dari masa kanak-kanak dan dialah yang paling menentang rencana pernikahanku dulu dengan Bang Dirga. Ilham mengatakan Bang Dirga itu tidak sesuai dengan aslinya. Iya memang sih perkataannya benar semua. Ternyata selama pacaran sikap Bang Dirga jauh berbeda dengan setelah menikah. Aku menyesal.

"Santai aja, Non. Ini aku bawa berkas yang harus kamu periksa," ujarnya sembari menyerahkan berkas kearahku.

"Berkas apa itu?" tanyaku dengan menaikkan sebelah alisku.

"Biasa, berkas pengajuan kerja sama. Ini dari Bank Surya Cipta untuk perusahaan kita," jawabnya santai sambil berjalan lalu duduk pada sofa ruang kerjaku tanpa ku persilahkan duduk. Sekali lagi ku pertegas ya. Tanpa ku persilahkan duduk.

Songong banget kan itu karyawan satu. Seenak jidatnya masuk ke ruangan atasan lalu duduk tanpa permisi dan sekarang coba kita lihat dia sedang mengacak-acak isi kulkas pribadi yang sengaja aku taruh di samping sofa untuk menyimpan berbagai macam minuman dingin dan makanan sebagai pengganjal perut saat tugasku masih menumpuk dan belum sempat makan.

"Tunggu-tunggu. Bank apa tadi katamu?" tanyaku memastikan.

"Bank Surya Cipta," jawabnya sambil memakan buah apel yang baru saja di dapatkannya dari dalam kulkasku.

Bang Surya Cipta. Menarik juga. Bank itu adalah Bank tempat dimana Bang Dirga bekerja menjadi salah satu staf berpengaruh di sana. Aku tidak tau posisinya apa hanya tau tempat kerjanya dan Bang Dirga sudah mewanti-wantiku untuk jangan sampai datang ke tempat kerjanya untuk mencarinya. Aneh.

"Iya aku terima. Ini sudah aku tanda tangani. Silahkan keluar dari ruanganku!" dengan cepat ku tanda tangani proposal pengajuan kerja sama ini.

Uhuk uhuk

"Kamu serius, Ya?" Ya dia memanggilku Aya. Seperti panggilanku selama ini di rumah maupun di kantor. Tapi tanpa embel-embel Bu seperti bawahan ke atasannya. Cukup sopan bukan untuk bawahan kurang ajar seperti Ilham ini.

"Serius dong. Sekarang silahkan kamu pergi dari ruanganku. Pintu keluar ada di sebelah sana Bapak Ilham yang terhormat!" ku persilahkan karyawan yang tidak ada sopan santunnya ini untuk pergi.

¤¤¤

"Assalamualaikum," ucapku sambil membuka pintu rumah. Seperti yang selama ini ku dapatkan. Pemandangan pertama yang tersaji setelah aku pulang bekerja adalah rumah yang berantakan sekali. Kapal pecah pun lewat.

"Tumben masih sore udah pulang," jawab Bang Dirga yang sedang menonton tv.

"Iya, Bang. Ini ada surat dari kantor," ku serahkan sebuah amplop yang tadi siang ku cetak. "Aku masuk dulu ya mau ganti baju," imbuhku seraya berlalu dari hadapan Bang Dirga setelah meletakan amplop tersebut di atas meja.

Ku lirik Bang Dirga mulai membuka amplop tersebut dan membacanya. Ku amati perlahan ekpresinya mulai berubah menjadi keruh.

"APA?" Teriaknya menggelegar di seluruh penjuru ruangan.

Aku hanya terkikik geli di dalam kamar. Pasti Bang Dirga telah selesai membaca surat itu. Rasakan kamu, Bang!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED