"Fera," ucap seseorang lelaki berkulit putih dan bertubuh tinggi semampai serta, berwajah rupawan kala netranya berhasil menemukan wajah gadis yang tengah di sapanya itu.
"Ar ..."
Ucapan Fera tidak berlanjut karena suaminya tiba-tiba saja datang ke sana dan langsung membantu mengambil pakaian yang sempat jatuh ke lantai waktu tadi. Reza memberikannya pakaian itu pada sang pemilik.
"Makasih," ucap lelaki itu.
Reza mengangguk pelan, lalu membawa istrinya pergi dari sana yang membuat lelaki terus memperhatikan sampai mereka berdua tidak terlihat lagi.
"Maaf, Mas. Gara-gara aku kamu harus ngambil pakaian orang," ucap Fera yang selalu merasa bersalah jika apapun terjadi.
"Aku tahu kalau kamu pasti gak sengaja jatuhin pakaian orang itu," timpal Reza sambil mengelus kepala istrinya.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai berbelanja dari sana kedua insan itu membawa cukup banyak sekali barang-barang. Irene melihat itu sehingga ia memandang heran.
Ia merasa kalau lama-lama menantunya berada di sana sudah pasti uang anaknya akan cepat habis. Apalagi, Fera adalah orang biasa yang Irene pikir akan senang jika berada di rumah orang kaya.
Itu akan menjadi kesempatan untuk Fera mengambil dan menguasai segalanya. Tentu saja Irene tidak mau hal itu terjadi. Irene mulai berpikir bahwa dirinya harus bisa mengendalikan Fera, sebelum dirinya yang justru akan dikendalikan oleh gadis itu.
"Oh ya, Ma. Kita juga beli sesuatu buat Mama," ucap Reza sambil melirik ke arah istri dan ibunya secara bergantian.
"Apa itu?" tanya Irene mencoba memasang ekspresi wajahnya yang baik-baik saja agar Reza tidak curiga padanya.
Reza memberikan paper bag berwarna cokelat dengan motif bunga-bunga, Irene menerima pemberian dari anaknya itu. Ia mengeluarkan barang dari dalam sana, isinya adalah sandal dengan model kesukaan Irene, model yang sederhana, tetapi tidak jelek.
"Gimana, Ma. Mama suka, kan?" tanya Reza sambil tersenyum memperhatikannya.
Irene merasa kesal, ia tidak senang dengan pemberian tersebut karena melihat banyaknya barang yang Reza belikan untuk istrinya, tetapi untuk sang Ibu hanya satu barang saja.
Irene merasa tidak adik dengan sikap Reza yang kini justru malah berubah ketika sudah memiliki istri. Segalanya pasti yang diutamakan adalah Fera, bukan ibunya lagi seperti dahulu.
Ya tentu saja dalam satu istana tidak akan mungkin dihuni oleh dua ratu, sehingga salah satu di antara mereka pasti ada yang merasa keberatan jika ada yang dibedakan.
"Barangnya sangat bagus, Mama suka banget." Irene menjawab pertanyaan dari anaknya.
Reza tersenyum senang mendengar ucapan sang Ibu, lalu lelaki itu memutuskan untuk pergi ke kamarnya karena ingin membersihkan tubuhnya, ditambah cuaca yang cukup panas membuat lelaki itu tidak bisa bertahan dalam keadaan belum mandi setelah keluar dari rumah.
Setelah kepergian Reza yang tidak nampak lagi, Irene menarik paksa belanjaan yang masih dipegang oleh menantunya. Fera terkaget-kaget dengan sikap Irene kali ini.
"Kamu tidak berhak untuk memakai semua barang-barang ini," ucap Irene yang membuat Fera mengerutkan alisnya.
"Kenapa, Ma?"
"Barang-barang ini adalah milik saya karena anak saya yang membelinya," ucap Irene sambil membawa beberapa paper bag.
Fera berusaha menghentikan langkah wanita itu sambil meminta barang itu untuk dikembalikan karena ditakutkan suaminya akan menanyakan kemana hilangnya barang yang dibeli untuknya.
"Itu urusan kamu, kamu atur aja sendiri. Oh ya, jangan bawa-bawa saya dalam hal ini atau hidup kamu akan saya persulit."
Wanita itu menghembuskan nafasnya, lalu ia kembali mengambil beberapa barang yang masih tersisa di atas sofa. Fera melangkah dengan pelan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, ia berpikir bagaimana jika suaminya mengetahui kalau barang itu tidak ada.
Tidak beberapa lama setelah Fera berada di tempat itu, sang suami pun baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum ketika mendapati istrinya yang sudah adadi sana.
"Kenapa kamu membiarkan semua barang ini tetap dalam wadahnya?"
Fera sedikit tersenyum, lalu ia mengambil satu-persatu benda itu dan dikeluarkan. Reza sengaja membelikan beberapa sepatu, sandal, baju, dan pernak-pernik wanita khusus istrinya.
"Kenapa cuma segini? Di mana sepatu dan baju yang aku beli buat kamu?"
Wanita itu terdiam sejenak, ia tahu kalau barang itu dibawa oleh mertuanya. Fera tidak mau menceritakan kejadian yang sesungguhnya, tetap jika tidak berkata jujur pada suaminya tentu saja itu adalah hal yang tidaklah baik.
"Fera?"
"Tadi diambil sama Mama, mungkin dia akan menyimpannya untuk dipakai olehku nanti."
"Kenapa begitu? Kamu ada di sini, dan kamu bisa memakainya kapan pun."
Fera menggelengkan kepalanya, Reza pergi untuk menemui ibunya. Istirnya sempat melarang dan mengatakan agar tidak berkata buruk pada Irene. Namun, Reza tidak menggubris ucapannya istrinya, ia tetap pergi.
"Ma ..." Berulang kali Reza memanggil ibunya.
Irene pun keluar dari kamarnya, "Ada apa?"
Reza pun protes pada ibunya karena memang belanjaan untuk istrinya tanpa sepengetahuan Irene. Irene menjelaskan bahwa dirinya sengaja mengambil beberapa barang itu untuk disimpan yang kemudian akan diberikan kembali pada Fera, ia hanya tidak mau kalau Fera terlalu dimanja sehingga nanti ia akan terus meminta banyak belanjaan, jika sampai minta belanja atau baju baru maka Irene akan memberikan barang tadi padanya.
"Tapi, Ma. Reza bisa beli lagi jika memang Fera mau barang baru lagi," protes Reza.
"Kamu jangan terlalu memanjakan dia, kamu tahu kehidupan dia sebelumnya seperti apa? Mama harap kamu jangan terlalu berlebihan sama Fera, Mama gak ada maksud apa-apa cuma Mama sekedar ngasih tahu aja sama kamu."
Reza hanya mengangguk saja, ia tidak bisa menyangkal ucapan ibunya.
"Mama sayang sama kamu dan Fera, jadi tolong percaya pada setiap apa yang dilakukan Mama buat kebaikan kamu sama dia juga. Jadi Mama harap kamu jangan salah paham sama Mama, Mama udah anggap Fera seperti anak Mama sendiri."
"Iya, Ma. Makasih udah sayang saka Fera," ucap Reza yang diangguki oleh Irene.
"Kalau gitu Reza ke atas dulu," pamit lelaki itu sambil melangkah pergi.
Irene masih berdiri di hadapan pintu kamarnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Reza-Reza, kamu bisa saja dibohongi, Mama jadi takut kalau kamu akan mudah terpengaruh oleh Fera yang pura-pura baik jadis istri kamu. Baru nikah saja dia udah menghabiskan banyak uang untuk belanja, apalagi jika sudah lama dengan Reza pasti uangnya lama-lama akan cepat habis sama tu perempuan."
Irene hanya berpikir buruk saja pada Fera, padahal itu terlalu jauh uny Fera pikirkan. Ia tidak bisa berpikir sejauh itu, ia hanyalah seorang gadis kampung yang lugu dan tidak tahu apa-apa apalagi perihal menguasai harta orang lain. Irene tidak bisa mengenal Fera secara baik-baik.
Pagi sekali Reza sudah pamit pergi ke kantor karena harus kembali bekerja lagi seperti biasanya. Ia tidak bisa libur terlalu lama atau perusahaan akan tercoreng jelek di mata yang lainnya.
"Sayang, kamu jangan mengerjakan pekerjaan apapun di sini. Tetap diam layaknya seorang ratu di rumah ini, kamu istriku." Reza berkata sebelum memasuki mobilnya.
Irene menatap kesal dengan ucapan Reza yang baru saja ia dengar. Selepas lelaki itu pergi, Irene melemparkan beberapa pakaian kotor ke hadapan Fera yang masih berdiri diambang pintu melangkah masuk. Wanita itu tersentak kaget ketika kakinya sudah dipenuhi pakaian. Ia tidak mengerti apa maksud dari mertuanya itu.
"Ini pakaian siapa, Ma?" tanya Fera.
"Cuci semua pakaian itu," titah Irene.
"Apa?"
"Jangan banyak bertanya, tugas kamu di sini masih banyak. Semua pekerjaan rumah ini kamu yang harus menyelesaikannya."
"Tapi kata Mas Reza saya tidak boleh bekerja," ucap Fera yang tidak mau membantah perintah dari suaminya.
"Saya ini mertua kamu, harusnya kamu juga bisa mendengarkan apa yang saya perintahkan. Harus saya bilang sama kamu, kalau saya terpaksa menyetujui pernikahan kamu sama anak saya, saya tidak mau mempunyai menantu miskin dan kampungan kayak kamu!"
Fera benar-benar tertegun dengan pernyataan dari Irene, sungguh hatinya merasa sakit kala ucapan itu terdengar jelas di telinganya. Ia tahu hidupnya tidak semewah kehidupan Irene, tetapi Fera juga berhak untuk dihargai.
"Jangan pernah menyangkal apa yang saya katakan!"
Fera tidak mau berdebat apalagi dengan mertuanya, lalu ia pun mengambil semua pakaian itu dan mencucinya. Setelah mencuci, Irene juga memerintahkan pada wanita itu membersihkan halaman depan rumah.
Tanpa membantah, Fera juga melakukannya. Ia menyapu daun-daun di dekat pagar rumahnya, tetapi kefokusannya beralih pada Ibu-ibu yang terus memperhatikan ke arahnya. Fera merasa heran, sehingga ia cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan masuk ke rumah karena mereka berbisik-bisik dengan yang lainnya.
Wanita itu memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi Fera rasa mereka sedang membicarakannya. Saking terfokus pada orang tadi, sehingga Fera pun berhasil menabrak asisten rumah tangga.
"Ya ampun, maaf-maaf Bi. Saya benar-benar gak sengaja," sesal Fera.
"Gak apa-apa, Non. Lah, kok Non Fera bawa sapu buat apa?"
"Ini saya barusan abis nyapu halaman depan, Bi."
"Ngapain sih, Non? Kan udah ada Bibi di sini, lagian semua pekerjaan yang ada di sini adalah tugas Bibi."
"Gak apa-apa kok, Bi. Itung-itung saya bantuin meringankan pekerjaan Bibi aja," ucap Fera sambil tersenyum membuat asisten rumah tangga menggelengkan kepalanya.
Wanita itu mengambil sapu yang masih ada di tangan Fera, "Biar Bibi aja yang lanjutin, Non Fera istirahat aja."
Fera pun mengucapkan terima kasih yang kemudian masuk ke rumah. Sedangkan, asisten rumah tangga itu keluar dari pagar rumah tersebut untuk membuang sampah, ia tidak sengaja mendengar beberapa orang yang lewat membicarakan Fera.
Orang itu bilang kalau Fera adalah menantu yang tidak bisa apa-apa, ia hanya bisa shopping. Fera tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus menantu, mungkin niatnya menikah hanya untuk mengambil harta Reza.
"Apa maksud kalian membicarakan Non Fera seperti itu?" tanya asisten rumah tangga tersebut.
"Heh, kamu itu cuma pembantu jadi gak usah ikut campur, deh."
"Saya berhak ikut campur jika kalian membawa nama baik majikan saya!"
"Bukan urusanmu jika kita membicarakan majikanmu itu!" tegas salah satunya seraya pergi diikuti oleh yang lainnya.
Wanita itu tidak berbicara lagi, ia hanya diam sambil memikirkan bahwa siapa yang sudah menyebarkan berita tidak benar ke masyarakat. Sedangkan, Fera saja selama menikah dengan Reza tidak kunjung pergi keluar untuk berinteraksi dengan mereka.
"Jangan sampai Non Fera mendengar hal ini atau dia akan merasa kesal," ucapnya sambil masuk kembali ke area tempat itu.
Ia dikagetkan oleh Irene yang sudah berada di hadapannya tepat di ambang pintu masuk ke rumah itu.
"Ibu," ucapnya.
"Ina, Fera mana?" tanya Irene.
"Dia tadi masuk ke dalam, mungkin Nona ada di kamarnya."
Irene menatap kesal, lalu bergegas ke tempat yang dimaksud. Ia mengetuk pintu kamar Reza dengan kasar, sehingga Fera cukup terkejut.
"Iya, Ma?" tanya Fera sambil membuka pintu.
"Ada apa kamu bilang? Kerjaan kamu itu masih banyak, jangan seenaknya diam di kamar aja!"
"Maaf, Ma."
Irene membelalakkan matanya, lalu ia menyuruh Fera untuk menyeterika pakaiannya. Ia pun melakukannya, tetapi ternyata hasil dari pekerjaannya tetap saja tidak dihargai oleh Irene, ia bilang kalau Fera tidak bisa bekerja. Menyetrika baju saja tidak rapi sedikit pun.
Fera adalah orang biasa, ia tidak menggunakan seterika ketika berada di rumahnya karena memang tidak punya. Sehingga, ketika saat ini menggunakannya Fera pun tidak tahu.
"Dasar gak becus kerja, lain kali kamu belajar."
Wanita itu hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datarnya. Bahkan, ketika Irene pergi pun Fera masihh berdiri menatap kepergiannya. Irene berbalik melihat ke arah gadis itu sambil mengatakan agar Fera melakukan pekerjaan lain.
"Kamu siapkan buat makan malam aja, nanti Reza pasti pulang pengen makan."
"Iya, Ma. Fera akan masak sekarang," jawab Fera.
Ia bergegas memasuki dapur, mencuci bahan-bahan untuk memasak, memotong beberapa sayuran dan melakukan hal yang lainnya. Ina datang ke sana karena ketika ia masih bersih-bersih ternyata mencium bau makanan dari dapur.
"Non Fera, ngapain masak? Udah-udah, Non. Biar Bibi aja yang masak, Non duduk aja di situ." Ina berbicara sambil mengambil pisau dan sayuran yang sedang dipotong oleh Fera.
Namun, tiba-tiba Irene datang ke sana menegur Ina agar tidak ikut campur memasak karena Fera mau membuat makanan untuk suaminya.
"Tapi, Bu. Kasian Non Fera kalau disuruh masak," protes Ina.
"Heh, saya itu majikan kamu. Saya yang menentukan nasib kamu di sini, jadi sebaiknya kalau bicara sama saya pikir-pikir dulu."
"Bi, udah saya aja yang masak." Fera berbicara pada wanita itu.
Dengan berat hati Ina pun mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Irene pun berkata pada Fera agar melanjutkan pekerjaannya.
"Iya, Ma."
Ina berada di tempat lain, ia sedang merapikan beberapa hiasan yang ada di rumah itu. Ia memikirkan Fera, Ina merasa kasihan pada wanita itu karena selalu mengerjakan tugasnya sedangkan di pandang jelek oleh orang sekitar padahal itu tidaklah benar karena Ina tahu sendiri kenyataannya seperti apa?
'Saya tidak akan mungkin bisa melawan Ibu agar Non Fera tetap diam saja, tapi saya kasihan dia sebagai menantu malah harus bekerja keras di sini.' Ina membatin.
'Berbicara sama Pak Reza pun rasanya gak mungkin, gimana kalau dia gak percaya sama saya?'