“Syifa hanya masuk angin biasa Bu, sebentar lagi juga sembuh," jawab Syifa sambil berbaring di tempat tidur.
"Kamu yakin … besok Ibu antar ke puskesmas ya," ajak ibu sambil membelai rambut Syifa dengan lembut.
"Tidak perlu Bu … istirahat sebentar juga sembuh," jawab Syifa sambil tersenyum ke arah sang ibu.
"Kamu yakin Nak, kondisimu sepertinya lemas sekali," ucap sang ibu sambil terlihat khawatir.
"Iya Bu … Syifa baik-baik saja kok," jawab Syifa sambil meyakinkan sang ibu.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu ke sawah dulu ya mau bantuin Bapak sekalian antar makanan, kamu istirahat saja, makanan sudah Ibu siapkan di atas meja," jelas sang ibu sambil mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kamar.
Setelah Bu Sari berangkat ke sawah untuk bekerja dan mengantar makanan ke Pak Ruli yang saat itu berangkat terlebih dahulu, Syifa pun melanjutkan tidurnya. Setelah sampai di sawah, Bu Sari langsung menyiapkan makan siang untuk sang suami. Setelah makan siang Bu Sari mulai menceritakan tentang kecurigaannya terhadap kondisi Syifa kepada sang suami.
“Pak, Ibu kok curiga sama Syifa ya," ucap Bu Sari sambil menumpuk rantang bekas makanan.
“Memang Syifa kenapa sampai Ibu curiga sama Syifa, Bapak lihat Syifa baik-baik saja,” jawab Ruli sambil membersihkan giginya dengan tusuk gigi.
“Tadi pagi Syifa bolak-balik muntah di kamar mandi, Ibu jadi curiga jangan-jangan Syifa hamil Pak,” ucap Sari yang langsung mengagetkan sang Suami.
“Hust, kamu jangan asal bicara, tidak bagus mendoakan anak seperti itu," jawab Ruli sambil sedikit kaget.
"Memang siapa yang doakan Syifa hamil, ‘kan Ibu hanya bilang seperti orang hamil," jelas sang istri ketus.
"Sudah tidak perlu dibahas, Bapak mau turun lagi," jawab Ruli sambil mulai berjalan ke arah sawah.
Setelah mendengar jawaban sang suami, Bu Sari langsung mengikuti langkah Pak Ruli ke sawah. Sambil sedikit kesal Bu Sari mulai menanam bibit-bibit padi ke tanah yang sudah dibajak oleh sang suami. Setelah hari beranjak sore Pak Ruli dan Bu Sari pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah sambil membawa satu karung rumput untuk kambing-kambing Pak Kades yang sengaja dipelihara di halaman belakang rumah Syifa .
***
Pembicaraan antara Pak Ruli dan Bu Sari ternyata didengar oleh salah satu sahabat Rudi yang bernama Anjas yang saat itu tidak sengaja melintas di dekat Bu Sari dan Pak Ruli. Setelah mengetahui apa yang terjadi kepada Syifa, Anjas memutuskan untuk segera pulang dan menceritakan apa yang telah diketahuinya. Rudi yang saat itu sedang memainkan gitar kesayangannya tiba-tiba dibuat kaget dengan teriakan Anjas yang sedang berlari menghampirinya.
"Rudi!" teriak Anjas sambil berlari ke arah Rudi.
"Kamu kenapa sih, lari-lari seperti dikejar anjing saja," ucap Rudi sambil memainkan gitarnya.
"Ini lebih gawat dari dikejar anjing, Syifa …" jawab Anjas sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Kenapa dengan Syifa!" bentak Rudi saat mendengar Anjas menyebut nama Syifa.
"Aku tadi tidak sengaja mendengar percakapan antara Pak Ruli dan Bu Sari, mereka bilang kalau akhir-akhir ini Syifa seperti orang hamil, apa jangan-jangan kamu sudah bongkar mesin sama Syifa?" tanya Anjas sambil duduk di samping Rudi yang berusaha tetap tenang.
"Ah ngawur kamu, aku tidak ada nafsu saat melihat Syifa yang hanya gadis desa miskin," jawab Rudi sambil melirik ke arah Anjas.
"Kamu yakin,” ledek Anjas sambil menatap wajah Rudi.
Rudi yang merasa ketakutan langsung berdiri dan masuk ke kamarnya, sedangkan Anjas masih terus berteriak memanggil Rudi yang sedang berjalan ke arah kamar. Rudi yang sudah di dalam kamar mulai cemas dengan apa yang telah dia lakukan kepada Syifa.
"Bagaimana kalau seluruh warga kampung tahu jika aku yang menghamili Syifa, apa lebih baik aku pulang sekarang saja, tetapi tugasku disini belum selesai," ucap Rudi sambil mondar mandir di dalam kamarnya.
"Lebih baik aku pura-pura tidak tahu apa-apa," pikirnya sambil menarik nafas dalam-dalam.
***
“Assalamualaikum,” ucap Bu Sari dan Pak Ruli secara bersamaan sambil masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Syifa yang saat itu sedang duduk di meja makan sambil mendengarkan siaran radio kesukaannya.
"Kamu sudah sehat Nak?" tanya sang ibu sambil berjalan ke arah dapur.
"Alhamdulillah, sudah Bu," jawab Syifa sambil menoleh ke arah ibunya sesaat.
"Ibumu khawatir itu, dipikir Ibu kamu hamil," celetuk sang bapak sambil keluar dari kamar mandi.
“Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang, sampai kapan aku harus menutupi kehamilanku ini dari Bapak dan Ibu,” pikir Syifa sambil mendengarkan sebuah lagu di radio.
Syifa tidak menjawab ucapan sang bapak, dia hanya tersenyum sambil menikmati lagu kesukaannya yang sedang diputar di radio. Di rumah Syifa tidak ada barang mewah yang terlihat, hanya ada sebuah sofa tua yang diletakkan di ruang tamu, dan sebuah radio tua milik sang bapak sebagai penghilang lelah. Sambil sedikit lemas Syifa berjalan ke arah dapur untuk membantu sang ibu yang sedang memasak makan malam.
"Apa yang bisa Syifa bantu Bu?" tanya Syifa sambil duduk di depan kompor kayu agar tubuhnya sedikit lebih hangat.
"Gak usah, kamu istirahat saja dulu, badanmu sepertinya belum sehat benar," jawab sang ibu sambil memasukkan beberapa kayu ke dalam kompor.
“Alhamdulillah Syifa sudah sehat, Bapak kok gak ada?" tanya Syifa sambil mencari keberadaan sang bapak.
"Bapak ada di belakang, sedang sibuk sama kambing-kambingnya," jawab sang ibu sambil terus meletakkan kayu dalam tungku.
Syifa pun mulai berdiri dan berjalan ke arah kursi kayu yang tidak jauh dari kandang kambing. Bapaknya memang sangat rajin dalam merawat kambing-kambing milik Pak Kades. Sebagai upah kerja bapak, Pak Kades memberikan seekor anak kambing, tergantung berapa jumlah anak kambing yang di dapat. Bahkan terkadang Pak Kades memberikan sejumlah uang kepada bapak. Setiap kambing diberikan sebuah nama dengan alasan agar lebih mudah dikenali.
"Lagi ngapain Pak?" tanya Syifa kepada sang bapak yang mulai masuk ke dalam kandang kambing.
"Lagi bersih-bersih kandang, kamu kok gak istirahat," tanya sang bapak saat melihat Syifa duduk di sebuah kursi kayu.
"Gak Pak, capek kalau harus tidur terus," jawab syifa.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat, hingga tanpa terasa usia kehamilan Syifa memasuki usia 7 bulan. Untuk menutupi perutnya yang sudah mulai membesar, Syifa selalu menggunakan pakaian yang sedikit lebih besar dari badannya terkadang dia juga menggunakan jaket untuk menutupi perut buncitnya. Hingga suatu hari sang ibu tanpa sengaja melihat perut buncitnya di dalam kamar.
"Assalamualaikum," ucap Syifa sambil masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab sang ibu sambil berjalan ke arah ruang tamu.
Syifa yang saat itu sudah merasa panas dengan jaket tebal yang dia pakai langsung bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera melepas jaketnya. Setelah melepas jaketnya dia pun mulai membelai perut buncitnya. Saat Syifa sedang sibuk berbincang-bincang dengan anak di dalam kandungannya tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan sang ibu dan suara seperti gelas jatuh.
“Sabar ya Nak, Ibu yakin sebentar lagi Ayahmu akan mengakuimu sebagai darah dagingnya,” ucap Syifa dengan sedikit berbisik dan mengusap perutnya yang telah membuncit.
“Pak … Bapak, cepat kesini Pak!" teriak sang ibu yang langsung membuat Syifa menoleh ke arah suara.
"Ibu!" ucap Syifa kaget.
"Ya Allah, apa yang sudah terjadi kepadamu?" tanya sang ibu.
"Ada apa sih rame-rame, di dengar tetangga nggak enak kalau teriak-teriak?" tanya sang bapak yang tiba-tiba masuk ke kamar Syifa sambil terlihat khawatir.
"Itu Pak … lihat perutnya Syifa," jawab sang ibu sambil menangis dan menunjuk ke arah perut Syifa yang membuncit.
Dengan perlahan Pak Ruli mulai melihat ke arah perut Syifa dengan rasa penasaran. Ruli yang saat itu terkejut melihat kondisi Syifa langsung berjalan ke arah sang istri yang sedang menangis sambil duduk diatas tempat tidur. Dengan perlahan Ruli dan Sari meminta Syifa untuk duduk di samping mereka.
"Siapa Ayah dari anak itu?" tanya sang bapak kepada Syifa.
"Cepat Nak, katakan siapa yang sudah menghamilimu," paksa sang ibu.
Syifa yang saat itu takut hanya bisa menangis dan menunduk tanpa berani melihat wajah orang tuanya. Berkali-kali Ruli dan Sari bertanya kepada Syifa, tetapi Syifa tetap tidak mau menjawab pertanyaan orang tuanya. Hingga sang bapak merasa kesal dan mulai membentaknya.
"Syifa, cepat katakan siapa Ayah dari anak yang kamu kandung!" bentak sang bapak hingga membuat Syifa ketakutan.
"Ayah anak ini adalah Mas Rudi pak," jawab Syifa sambil menangis.
"Rudi, kontraktor yang sedang membangun perumahan di desa kita itu Nak," tanya sang ibu memastikan.
Syifa hanya mengangguk kecil mendengar pertanyaan sang ibu, sedangkan Ruli yang sudah dipenuhi dengan amarah langsung keluar kamar dan menuju ke rumah Pak Kades. Dengan maksud untuk meminta bantuan kepada beliau agar Rudi mau bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Syifa. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya Ruli dan Pak Kades langsung menemui Rudi dan teman-temannya yang saat itu tinggal disalah satu rumah milik Pak Kades.
“Maafkan Syifa, Bu," ucap Syifa sambil menangis.
***
"Assalamualaikum," ucap Pak Kades dan Ruli secara bersamaan.
"Waalaikumsalam, ada apa ya pak?" tanya salah satu teman Rudi yang bernama Anjas.
"Mana bajingan yang bernama Rudi!" bentak Ruli sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Maaf Pak sebenarnya ada apa ini, kenapa Bapak-Bapak mencari kawan saya?" Anjas bertanya dengan kebingungan.
"Cepat katakan di mana Rudi, dia telah menghamili Putriku jadi dia harus bertanggung jawab," jawab Ruli sambil menatap Anjas tajam.
Anjas yang mendengar ucapan Ruli langsung berlari ke arah salah satu kamar. Setelah hampir 10 menit Anjas pun keluar dengan Rudi dan 1 orang temannya yang lain. Melihat Rudi berjalan menghampirinya pak Ruli langsung mendekatinya dan memukul wajah Rudi.
"Bajingan kamu, apa yang sudah kamu lakukan kepada Syifa hingga dia hamil!" bentak Ruli sambil memukul wajah Rudi berkali-kali.
"Bapak jangan asal nuduh ya, siapa tahu anak itu anak laki-laki lain, dan sampai kapanpun saya tidak akan bertanggung jawab," jawab Rudi sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Ruli.
“Jaga mulutmu bajingan, kamu pikir Putriku perempuan gampangan sampai kamu bisa menghinanya seperti itu,” ucap Ruli sambil menarik kerah baju Rudi.
"Apa ada buktinya jika saya yang telah menghamili putri Bapak," jawab Rudi sambil melepaskan tangan Ruli dari bajunya.
Ruli yang tidak terima dengan penghinaan Rudi langsung menghajar Rudi di depan Pak Kades. Perkelahian antara Rudi dan Ruli pun tidak dapat dihindarkan lagi. Reno dan Anjas yang kebetulan ada di ruang tamu berusaha melerai Rudi dan Pak Ruli.
Melihat situasi yang begitu mencekam Pak Kades pun mulai memisahkan mereka dan mulai mencari jalan keluar untuk masalah ini dengan cara musyawarah yang baik. Awalnya Pak Kades meminta Pak Ruli menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Syifa. Setelah Pak Ruli selesai menjelaskan tentang apa yang menimpa Syifa, kini giliran Rudi yang tetap mengelak jika anak itu bukan karena perbuatannya.
Karena dirasa belum ada titik temu dalam masalah ini, Pak Kades meminta salah satu teman Rudi untuk menemui Syifa dan ibunya, agar mereka segera datang ke rumah. Beberapa saat kemudian Syifa pun datang bersama sang ibu, dengan perlahan dan sambil menangis Syifa mulai menceritakan kronologi tentang hubungan terlarangnya dengan Rudi. Mendengar penjelasan Syifa, Pak Kades pun meminta Rudi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Anak ini memang anak Mas Rudi, saat itu kami melakukan hubungan terlarang itu di gubuk tua yang ada di tengah sawah," jelas Syifa kepada Kepala Desa sambil menangis.
"Aku tahu kalian ingin bersekongkol untuk memeras ku 'kan, karena kalian tahu aku ini orang kaya, jadi kalian menggunakan kehamilan putri kalian ini," jawab Rudi sambil berdiri.
"Apa maksudmu Mas, sampai kapan kamu tidak mengakui anak yang ada dalam kandunganmu ini sebagai darah dagingmu!" bentak Syifa sambil menatap ke arah Rudi.
"Kamu yakin itu anakku, bisa saja 'kan jika itu anak laki-laki lain dan sekarang kamu akui sebagai anakku," ucap Rudi dengan suara lantang.
"Hai bajingan … jaga ucapanmu, Semua warga desa tahu jika Syifa ini gadis baik-baik, jadi kamu jangan sembarangan bicara ya!" bentak Bu Sari sambil menampar Rudi.
"Gadis baik-baik jika di depan kalian, siapa tahu di belakang kalian dia berzinah dengan laki-laki lain dan sekarang aku yang harus menanggung getahnya," jawab Rudi sambil berdiri dan melihat ke arah Syifa yang sedang menangis.
"Kamu boleh tidak bertanggung jawab, tapi tolong jangan pernah kamu memfitnah ku seperti itu," ucap Syifa sambil menampar wajah Rudi.
secara hukum Rudi pun bersedia menikahi Syifa dan membawanya ke kota untuk tinggal bersama keluarga Rudi. Terlihat raut wajah bahagia dari syifa saat mendengar Rudi bersedia bertanggung jawab atas anak yang dia kandung.Tetapi pernikahan yang akan dilaksanakan itu hanya dapat dilakukan secara agama dan tidak secara negara.
"Baik saya akan menikahi Syifa, tapi hanya pernikahan yang sah dimata agama bukan negara," ucap Rudi kepada semua orang yang ada di situ.
"Kenapa harus menikah secara siri, tidak sah secara negara saja?" tanya Pak kades saat mendengar ucapan Rudi.
“Karena saya masih ingin mengembangkan karir dan usaha keluarga, jadi saya tidak mau pernikahan ini diketahui banyak orang sehingga menghancurkan apa yang sudah saya capai saat ini," jawab Rudi sambil bersandar di sofa.
"Baik kami ikuti apa yang menjadi permintaanmu, asalkan kamu bersedia bertanggung jawab atas kehamilan Syifa," ucap Pak Ruli sambil melotot ke arah Rudi.
Untuk menghindari omongan miring dari para tetangga orang tua Syifa sengaja menggelar pernikahan itu secara tertutup. Pernikahan yang digelar secara tertutup itu hanya dihadiri orang tua Syifa dan Kepala Desa. Setelah sah menjadi istri Rudi, Syifa pun dibawa untuk tinggal di rumah yang telah disewa Rudi dan teman-temannya. Syifa yang kini telah resmi menjadi istri sah dari Rudi Handoko merasa bahagia, mimpi dan harapan tentang sebuah rumah tangga yang indah dan bahagia sudah tergambar jelas dalam mata Syifa.
"2 minggu lagi aku akan kembali ke kota, jadi persiapkan semua barang-barang yang akan kita bawa," jalas Rudi kepada Syifa yang sedang sibuk merapikan tempat tidurnya.
"Apa pekerjaan mu di sini sudah selesai sampai kita harus ke kota secepat ini ?" tanya Syifa kepada Rudi.
"Untuk pekerjaan di sini aku sudah serahkan kepada Anjas dan Reno, karena aku akan mengawasi proyek pembangunan di kota," ucap Rudi sambil berjalan keluar kamar.
Syifa yang saat itu sangat mencintai Rudi hanya mengangguk saat mendengarkan penjelasan Rudi. Syifa yakin Rudi akan menjadi imam dan suami yang baik untuknya, bahkan dia sudah bermimpi tentang kasih sayang tulus dari sang mertua. Syifa yang sudah terlanjur bahagia mendengar kabar bahwa dia akan ikut dengan sang suami ke kota langsung menemui sang ibu di rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Syifa sambil masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Ruli dan sang istri secara bersamaan.
"Bagaimana kabarmu Nak," tanya sang bapak saat melihat Syifa masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah baik Pak," jawab Syifa sambil mencium tangan bapak dan ibunya.
"Apa Rudi memperlakukanmu dengan baik Nak, dia tidak menyakitimu ‘kan?" tanya sang ibu sambil mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah, Mas Rudi begitu menyayangi Syifa dan anak kami Bu," jawab Syifa sambil tersenyum.
"Lalu apa …," baru saja sang bapak ingin bertanya kepada Syifa, Namun sang istri sudah memotong ucapannya.
"Lebih baik kita makan dulu, kamu dan anakmu pasti sudah lapar ‘kan," ajak ibu sambil membantu Syifa berdiri.
Memang sejak Syifa dan Rudi menikah Pak Ruli dan Bu Sari hanya tinggal berdua saja. Syifa yang sudah sangat merindukan masakan sang ibu langsung bergegas ke meja makan. Setelah selesai makan Syifa pun menjelaskan maksud kedatangannya kepada orang tuanya.
“Sebenarnya kedatangan Syifa kesini hanya ingin memberitahukan jika dua minggu lagi Mas Rudi akan mengajak Syifa tinggal bersama keluarganya di kota,” ucap Syifa sambil tersenyum bahagia.
Mendengar ucapan Syifa Pak Ruli dan Bu Sari langsung terdiam dan saling memandang. Ada rasa khawatir di hati orang tua Syifa ketika akan melepaskan putri semata wayangnya untuk tinggal bersama keluarga Rudi di kota. Apalagi selama ini baik Syifa dan keluarga Rudi belum pernah saling mengenal dan bertemu.
"Apa tidak sebaiknya Syifa tinggal bersama kita di desa Pak," tanya sang istri yang terlihat berat untuk melepaskan Syifa.
"Nak … apa tidak sebaiknya kamu tinggal bersama Bapak dan Ibu saja di desa, apalagi kan kamu akan melahirkan," ucap sang bapak sambil menatap Syifa.
"Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, Syifa yakin Mas Rudi dan keluarganya akan memperlakukan Syifa dan anak ini dengan baik," jawab Syifa yang terlihat tidak sabar untuk segera berangkat ke kota.
"Tapi Nak …," Belum selesai sang bapak bicara Syifa langsung memotong ucapan sang bapak.
"Bapak tenang saja, Syifa tidak akan melupakan Bapak dan Ibu, Syifa juga akan sering-sering main ke desa ini," jawab Syifa seolah meyakinkan kedua orang tuanya.
***
Dua minggu kemudian Syifa dan Rudi berangkat ke kota dengan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan Syifa terlihat sangat tidak sabar untuk bertemu mertua dan saudara Rudi. Rudi adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan semua adiknya adalah perempuan, informasi itu Syifa dapatkan dari Rudi beberapa bulan yang lalu jauh sebelum dirinya hamil.
Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam, Syifa dan Rudi akhirnya tiba di kota. Tampak sebuah rumah yang sangat mewah dan indah dihadapan Syifa, hingga membuat mata Syifa begitu terpikat dengan keindahan dan kemewahan rumah yang terlihat seperti sebuah istana. Rudi yang melihat tingkah kampungan Syifa langsung memintanya untuk diam.
"Ingat jangan membuatku malu dengan tingkah kampunganmu itu," perintah Rudi sambil menggandeng tangan Syifa.
"Iya Mas, aku janji tidak akan mempermalukanmu,” jawab Syifa sambil tersenyum bahagia.
“Bagus, sekarang kita masuk ke dalam untuk bertemu dengan keluargaku,” ucap Rudi sambil membawa tas mereka.
Setelah Syifa mengangguk mereka pun mulai masuk ke halaman rumah yang sangat luas itu, rumah yang terlihat begitu asri dengan begitu banyak pepohonan yang tumbuh subur di halaman depan. Terlihat sebuah pos penjagaan di pojok halaman depan, sehingga menunjukkan jika pemilik rumah adalah orang kaya. Saat Syifa masuk ke dalam rumah itu, Syifa begitu terpanah dengan ruangan yang begitu besar dan mewah.
“Rudi,” panggil seorang perempuan separuh baya sambil memeluk Rudi.
“Bagaimana kabar Mama dan yang lain?” tanya Rudi sambil melepaskan pelukannya.
“Kami semua baik, kamu terlihat kurus dan sangat dekil,” ejek sang mama sambil terlihat jijik.
“Mama,” jawab Rudi sambil tertawa.
“Ini siapa?” tanya sang mama dengan tiba-tiba.
Sesaat Rudi hanya terdiam mendengar pertanyaan sang mama, dia terlihat memikirkan jawaban yang akan dia berikan. Sekilas Ningrum melihat ke arah Syifa dengan tatapan penuh dengan hinaan. Hingga membuat Syifa merasa sangat risih dengan tatapan ibu mertuanya itu.
"Ini … ehm," jawab Rudi ragu.
“Kenalkan ini Syifa, dia adalah salah satu warga di Desa Ronggo Lawuh," jawab Rudi sambil memperkenalkan Syifa kepada Bu Ningrum.
"Assalammualaikum Tante," sapa Syifa sambil tersenyum ke arah Ningrum.
"Lalu kenapa kamu bawa dia ke rumah kita?" tanya Ningrum penasaran.
Syifa yang mempunyai sifat ramah dan baik kepada semua orang menghampiri Ningrum dengan maksud untuk mencium tangannya. Belum juga tangan Syifa menyentuhnya Ningrum langsung menghindar dengan cara membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah sofa. Perlakuan Ningrum kepada Syifa ternyata tidak membuatnya sakit hati, Syifa berpikir bahwa hal itu sangat wajar mengingat mereka yang belum pernah bertemu.
"Mungkin Ibu mertua terkejut dengan kedatangan ku yang tiba-tiba, karena 'kan dia belum mengenalku, jadi aku harus bisa sedikit bersabar menghadapi ibu mertua ku," pikir Syifa sambil berjalan di belakang Rudi yang sedang menggandeng tangan sang mama.
"Sekarang kamu jelaskan kepada Mama, kenapa kamu bawa perempuan kampung ini kemari," desak Bu Ningrum kepada putranya.
"Syifa diusir dari kampungnya karena hamil, dan parahnya laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab," jawab Rudi sambil memijat tangan sang mama.
“Bukannya Mas Rudi adalah ayah dari anak ini, lalu kenapa dia justru bilang bahwa Ayah dari anak ini tidak bertanggung jawab,” pikir Syifa sambil mengerutkan dahinya.
"Mama sudah tahu maksudmu, kamu mau menampung dia di rumah kita 'kan," tebak sang mama sambil menarik tangannya dari Rudi.
"Iya Ma, 'kan bisa buat bantu-bantu Mbok Inah di sini," jawab Rudi sambil memeluk sang mama.
"Tidak! Mama tidak setuju, lebih baik kamu antar dia ke kampungnya atau bawa dia ke rumah temanmu, siapa tahu mereka ada yang membutuhkan seorang pembantu!" teriak sang mama sambil berjalan meninggalkan Rudi dan Syifa.
"Apa pembantu?" batin Syifa sambil terus mendengarkan percakapan Rudi dan Ningrum.
Syifa yang melihat pertengkaran Rudi dan Ningrum hanya bisa berdiri mematung di ruang tamu. Rudi yang sangat mengerti sifat sang mama langsung berjalan menghampiri Ningrum yang sedang marah. Namun, apa yang dilakukan Rudi justru membuat sang mama semakin marah.
"Ayolah Ma, biarkan Syifa tinggal di sini untuk menjadi pembantu di rumah kita," ucap Rudi sambil terus mengejar sang mama.
“Pembantu? Kenapa lagi-lagi Mas Rudi bilang kalau aku ini pembantunya, ya Allah kenapa Mas Rudi tidak mengakuiku sebagai Istrinya,” batin Syifa sambil menatap Rudi yang sedang merayu Bu Sari.
"Kamu gila ya, kamu lihat perutnya ... apa mungkin dia bisa bekerja dengan perut buncit seperti itu, Mama tidak mau tahu kamu bawa dia pergi dari rumah ini sekarang!" bentak Ningrum kepada Rudi.
"Rudi yakin dia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah di sini, lagipula selama ini Syifa juga sering membantu orang tuanya di sawah, benarkan Syifa?" ucap Rudi sambil menoleh ke arah Syifa yang berada di belakangnya.
"Tapi Mas … bukannya aku itu is …." Belum selesai Syifa berbicara Rudi sudah memotong ucapannya.
"Ayolah Ma, sekali ini saja Rudi mohon kabulkan keinginan Rudi," ucap Rudi kepada sang mama sambil bersujud.
"Mama heran, kenapa kamu begitu ngotot agar perempuan ini bisa tinggal bersama kita, apa jangan-jangan kamu yang telah menghamili perempuan ini," ucap sang mama sambil mengerutkan dahinya.
"Mama, Rudi hanya kasihan kepada Syifa saja!” bentak Rudi yang mulai hilang kesabaran.
Melihat Rudi yang begitu marah Ningrum langsung menghampiri sang putra. Sambil memeluknya Ningrum yang tadinya menolak kehadiran Syifa kini memberikan izin kepadanya. Namun, dengan syarat sang mama tidak mau direpotkan dengan kehamilan Syifa.
“Mbok! Mbok Inah,” teriak Ningrum sambil memanggil nama asisten rumah tangganya.
“Iya Nya,” jawab Mbok Inah sambil berjalan ke arah Ningrum dan Rudi.
“Bawa perempuan itu ke paviliun belakang, dan jelaskan apa saja yang harus dia kerjakan,” perintah Ningrum kepada Mbok Inah sambil menatap Syifa dengan penuh kebencian.
"Paviliun, tempat apa itu, kenapa aku harus dibawah kesana," Syifa semakin terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
"Mbok, kembali saja ke dapur biar saya saja yang mengantar Syifa ke kamarnya," ucap Rudi sambil berjalan ke arah paviliun belakang.
“Baik Den,” jawab Mbok Inah singkat.
“Mas, kenapa aku dibawa ke paviliun, tempat apa itu … apa itu kamar mu,” tanya Syifa kepada Rudi sambil sedikit berbisik.
Rudi yang mendengar pertanyaan Syifa langsung menggandeng Syifa dan segera mengantarnya ke paviliun. Ningrum yang sudah lelah karena emosinya kepada Rudi meminta Mbok Inah untuk membuatkan secangkir teh hangat. Sedangkan syifa dan Rudi mulai berjalan ke arah paviliun belakang, setelah sampai di paviliun Rudi segera membuka pintu dan jendela kamar Syifa. Nampak sebuah kamar yang cukup sempit dan hanya terdapat sebuah lemari, tempat tidur dan kipas angin dinding untuk menghilangkan rasa panas.
"Kamu tinggal di sini saja, ingat jangan sampai ada yang tahu tentang pernikahan kita," ucap Rudi kepada Syifa.
“Kenapa aku harus tidur dikamar ini Mas, memangnya kenapa kalau mereka tahu bahwa aku ini istrimu?” tanya Syifa kepada Rudi yang sedang membuka jendela kamar Syifa.
"Diam, jangan banyak bicara, mulai sekarang kamu adalah pembantu di rumah ini," jawab Rudi sambil mendekat ke arah Syifa.
"Tidak! Aku tidak mau menjadi pembantu di rumah ini, lagi pula aku ini kan istrimu,” ucap Syifa sambil sedikit berteriak.
“Kalau kamu tidak mau, silahkan tinggalkan rumah ini dan jangan harap aku mau bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandunganmu," jawab Rudi sambil menarik tangan Syifa keluar kamar.
"Bagaimana Ini, aku tidak bisa berbohong jika aku adalah istri dari Mas Rudi. Namun, kalau aku mengaku lalu bagaimana dengan nasib anak ini," pikir Syifa sambil berdiri di hadapan Rudi.
"Malah bengong, bagaimana apa kamu mau pura-pura menjadi pembantu di rumah ini!" bentak Rudi kepada Syifa hingga membuat Syifa kaget.
"Baik Mas, aku mau jadi pembantu di rumah ini," jawab Syifa yang terlihat sangat terpaksa dengan jawaban itu.
"Bagus, sekarang kamu istirahat dulu, nanti malam aku kemari lagi," ucap Rudi yang langsung meninggalkan Syifa.
***
Siang itu tidak banyak yang dilakukan Syifa selain merapikan pakaiannya dan membersihkan ruangan yang kini menjadi kamarnya. Malam hari saat Syifa sedang menyiapkan makan malam tanpa sengaja dia melihat Rudi sedang bercanda dengan adik perempuannya. Tiba-tiba Syifa yang saat itu sedang serius melihat keakraban Rudi dan adik perempuan dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki paruh baya.
“Kamu siapa Nak,” tanya Andre Baskoro kepada Syifa.
“Selamat malam Tuan, saya Syifa pembantu baru di rumah ini,” jawab Syifa kaget.
“Kerjanya hati-hati ya Nak, kasihan bayimu jika kamu tidak hati-hati,” jawab Andre sambil berjalan ke arah Rudi dan adiknya.
Syifa yang melihat kebaikan sang ayah mertua langsung bersyukur bahwa masih ada yang memperhatikannya. Andre Baskoro memang berbeda dengan keluarga Rudi yang lain, kehidupan masa kecil yang penuh dengan air mata dan kesulitan ekonomi membuat Andre belajar banyak hal. Sehingga kekayaan yang dia miliki saat ini tidak membuatnya menjadi manusia yang sombong dan angkuh.
“Rudi, siapa perempuan yang bernama Syifa itu?” tanya Andre kepada Rudi yang sedang bergurau dengan Shania adik terkecilnya.
“Iya, siapa sih dia Mas, sudah dekil bau lagi,” tambah Shania dengan memandang Syifa dari kejauhan.
“Shania jaga mulutmu, dia juga manusia sama seperti kita, jadi hormati dia seperti kamu menghormati kami!" bentak Andre kepada putri bungsunya.
"Oh Syifa, dia adalah salah satu warga di desa Ronggo Lawuh, karena dia hamil diluar nikah maka warga mengusirnya, dan Terpaksa Rudi membawanya ke rumah kita, kasihan 'kan kalau dia pergi tanpa tujuan dengan kondisi hamil besar seperti itu," jawab Rudi sambil meletakkan ponselnya.
“Memangnya di desa itu dia tidak memiliki keluarga, sehingga tidak ada yang bisa membelanya?” tanya sang ayah yang membuat Rudi terdiam.