Hari demi hari dia lewati tanpa kehadiran Predi lagi, dalam kepedihan dan kepiluan hatinya, Shinta mencoba menerapkan kata-kata itu dan menyimpan dalam relung hatinya yang terdalam. Dia memang harus tabah. Tabah dalam menjalani segala macam cobaan, termasuk pertemuan yang tanpa sengaja dengan Predi.
Saat itu, Shinta baru saja selesai belanja di sebuah mini market, dan ia baru saja akan menyetop sebuah angkot ketika sepasang matanya tiba-tiba saja melihat mobil yang dikendarai Predi berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sudah lebih dari satu bulan ia tidak bertemu cowok itu, maka itu betapa gembira hatinya saat melihat kembali kehadiran cowok tampan yang pernah menguasai perasaan dan menghuni hatinya itu. Dan Shinta bermaksud menghampiri Predi yang diperkirakan tidak melihatnya, kalau saja dari pintu mobil sebelah kiri keluar seorang gadis cantik dengan dibalut kaos ketat warna merah yang nampak kesexsyan tubuhnya.
Seketika Shinta merasa jantungnya bergerumuh cepat dan dadanya seakan bertalu-talu begitu mengenali siapa gadis itu. Yah, dia memang Putri gadis yang sempat dilaporkan teman- temannya sering jalan bareng Predi belakangan ini.
" Tunggu sebentar ya. Aku enggak lama kok."
Shinta sempat mendengar kata,-kata itu di ucapkan Putri yang kemudian masuk kedalam mini market. Tinggalah Predi seorang diri di dalam mobilnya.
Melihat kesempatan baik itu, Shinta pun segera menghampiri mobil merah yang di parkir ditepi jalan itu.
"Predi,"panggilnya ketika sudah berada di dekat pintu mobilnya yang kacanya dibiarkan terbuka.
Mendengar namanya dipanggil, cowok itu segera menoleh. Alangkah terkejutnya ia begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Shitna,"desisnya dengan suara hampir tak terdengar. Dilepaskannya kacamata hitamnya.
"Kamu!
"Sudah lama kamu tidak datang ke rumahku lagi. Kenapa?"tanya Shinta tanpa basa-basi lagi. Ia berpikir, lebih baik berterus terang ketimbang berbasa- basi karena hanya akan membuang-buang waktu saja.
" Aku,-" Predi kelihatan bingung dan tak tahu harus menjawab apa.
Melihat sikap cowok itu, seulas senyum sinis tersungging di bibir Shinta. Meski Predi tidak mengataknnya, tapi ia tahu apa yang ada di kepala cowok itu. Laporan-laporan yang diterima Shinta dari teman-temannya serta apa yang dipergokinya kali ini, telah menjawab semua yang menjadi pertanyaan dalam hatinya. Predi bermaksud melupakannya dan berpaling pada gadis lain.
"Kamu kelihatan gugu," Shinta berusaha menenangkan hatinya yang dilumuri kekecewaan . "Padahal, kalau saja kamu mau berterus terang mengatakan semuanya, pasti aku akan menerimanya dengan hati lapang. Aku sadar dengan keberadaanku sekarang, Pred. Aku memang bukan gadis yang pantas untukmu. Tapi... Sungguh aku kecewa dengan sikapmu yang tak berani berterus terang. Dengan sikapmu yang seperti itu, secara tidak langsung kamu telah membuat hatiku semakin sedih dan kecewa. Kamu telah mempermainkan hati dan perasaanku."
"Shin-" Predi merasa tenggorokannya benar- benar tercekat. Sungguh ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Shinta. Dalam hatinya yang paling dalam, ia pun mengakui, kalau apa yang dikatakan Shinta tadi adalah benar. Secara tak langsung, ia telah membuat hidup gadis itu semakin merana dan nalangsa. Ah, mengapa sulit rasanya untuk berterus twrang?
"Aku tahu yang terjadi padamu sekarang" Shinta berusaha menekan kepedihan dalam hatinya dalam-dalam. "Ternyata apa yang dilaporkan teman-teman benar, kamu mulai berpaling dengan yang lain. Tapi... Aku tidak menyalahknmu sepenuhnya, Pred. Kamu memang berhak melakukan apapun yang kamu suka Sementara aku, Aku tidak punya hak lagi untuk menentang apa lagi melarang keinginanmu. Kamu... Kamu sudah bukan milikku lagi."
Sisa-sisa Shinta menahan air mtanya agar tidak menerobos keluar. Namun bersamaan dengan itu, ia pun segera membalikan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Predi yang masih terhenyak di tempatnya.
Puas dan lega rasanya telah bisa mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal dalam hatinya. Namun begitu, Shinta juga merasa ada yang tiba- ltiba hilang dari relung hatinya selesai mengucapkan kalimat tadi. Yah, predi memang sudah bukan miliku lagi .
Cowok tampan itu sudah bukan lagi kekasihnya yang dulu, yang pernh menguasai perasaan dan menghuni relung hatinya yang paling dalam. Ah, sedih sekali bila membayangkan itu.
Shinta tidak tahu, kalau pada waktu bersamaan saat ia meninggalkan Predi Futri pun keluar dari dalam mini market dengan membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman.
Gadis berambut cepak itu hanya menyeringai dengan senyum sinis saat pandangannya yang lurus bertemu dengan wajah Shinta, yang segera meninggalkan tempat itu.
"Mau apa perempuan itu menghampirimu, Pred?" Tanyanya ketika sudah berada kembali di dalam mobil.
"Siapa?" Predi pura-pura tidak tahu sambil tangannya segera menghidupkan kembali mesin mobilnya.
"Siapa lagi kalau bukan Shinta, perempuan miskin itu?" Futri mencibir. Parasnya yang seketika mengeruh memperlihatkan betapa bencinya ia pada Sinta, gadis yang pernah menjadi rivalnya dalam memperebutkan cinta predi dulu.
"Jangan berkata begitu ah." Kilah Predi kemudian, merasa tak enak Shinta dikatakan sebagai perempuan miskin.
"Lho, dia memang miskin kan? Tinggalnya aja di tempat sempit rumahnya juga jelek banget, itu kan namanya orang miskin. Lagian kamu mau aja pacaran sama perempuan miskin?" Putri tetap ngotot.
"Siapa sih yang mau hidup susah, Predi mencoba menahan hatinya untuk tidak emosi, Shinta toh pernah menjadi kekasihnya. Tidak enak juga bila mendengar gadis yang pernah dicintainya itu sampai dihina sedemikian rupa.
"Sejak dulu ia sudah tahu kalau Putri memang amat sangat membenci Shinta. Terutama sejak ia memilih Shinta dan menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.
Dan sekarang, bukan salah Putri kalau ia merasa menang dalam segala hal. Mungkin dalam hati gadis itu bersorak senang bisa melihat penderitaan dan kepahitan hidup Shinta, sekaligus berhasil menggaet cinta Predi, yang juga adalah kekasih Shinta.
Malam harinya, Predi masih memikirkan kata -kata Shinta yang terus terngiang dalam telinganya. Ada perasaan bersalah yang menguasa hatinya. Betapa kejamnya ia yang telah menyia-nyiakan dan meninggalkan gadis itu begitu saja. Padahal, Shinta gadis yang begitu baik. Selama ini Shinta selalu menjaga cinta dan kesetiaannya, namun Predi malah membalasnya dengan penghianatan pelan-pelan tanpa sepatah kata pun yang terucap sebagai keputusan yang bisa dipegang.
Pikir Predi, dengan sikapnya yang seperti itu, ia tidak akan melukai hati Shinta lebih parah lagi dan berharap hubungannya bisa berakhir dengan baik-baik. Tapi, siapa yang sangka ternyata Shinta tak menginginkan itu. Gadis itu lebih suka kalau ia secara gentleman mengatakan semuanya, sehingga malah akan lebih cepat selesai tanpa meningalkan rasa kecewa di hati masing-masing. Bukan malah menggantung semuanya dengan sikap diam-diam seperti tak terjadi suatu apapun.
Kini Predi menyesali, mengapa ia tak bisa berterus terang mengatakan hal-hal yang mengganjal perasaannya? Kenapa lidahnya selalu terasa kelu setiap kali keinginannya timbul untuk menemui Shinta dan membicarakan semuanya ? Sehingga keinginan-keinginan itu akhirnya terkubur dengn sendirinya, bahkan muncul suatu keengganan untuk mengunjungi rumah Shinta dan mengapeli gadis itu seperti dulu.
Melihat sikap Shinta tadi, yang kelihatan begitu menderita dan menyimpan banyak prsoalan, Predi sadar kalau dirinya secara tidak langsung telah menyakiti danbiat penderitaan gadis itu semakin mendalam. Padahal dulu, ia amat mencintai dan mengasihi Shinta. Untuk mendapatkan Shinta pun, ternyata bukan hal yang mudah, karena ia harus bersaing mengalahkan pemuda-pemuda lainnya.namun setelah ia berhasil menjadikan gadis itu sebagai keksihnya, bahkan pernah berencan untuk menukuhkan tali cinta merek di gerbang pernikahan,
Beragam pertanyaan memenuhi kepala Predi. Pertanyaan demi pertanyaan yang tak bisa di jawabnya denan tuntas. Pertanyaan demimi pertanyaan yang menunjukn dirinya bukanlah seorang lelaki yang gentelmen dan adil. Pertanyaan demi pertanyaan yang menunjukan betapa culas, lemah dan tak berarti dirinya.
Predi merasa dirinya tak berdaya. Sama tak berdayanya saat ia tak kuasa menolak kedatangan Putri kembali, yang pernah di ketahuinya menyimpan sejuta hasrat yang mendalam terhadap dirinya.
Dan Predi tak berdaya untuk menolak kemesraan cinta yang pernah ditawarkan gadis itu padanya. Bahkan ia juga tidak kuasa untuk menolak ketika suatu malam Putri datang padanya dan memberikan kehangatan cinta,
Lain dengan Shinta, kali ini Putri datang dengan godaan- godaan. Sehingga Predi pun tergoda dengan rayuan Putri.
Yah, malam yang semakin di sertai hujan rintik-rintik yang turun sejak tad,i semakin membuat keduanya terlena oleh suasana yang menghanyutkan. Baik putri maupun predi. Sama-sama mereka puas dengan apa yang telah mereka lakukan itu.
Apa yang mereka lakukan itu bukan hanya sekali terjadi. Hampir setiap bertemu, sepertinya Predi merasa tidak puas kalau belum bermesraan. Apalagi Putri pun tidak pernah menolak keinginan itu, sebaliknya ia merasa senang dan bangga krena telah berhasil membuat orang yang dicintai dan didambakannya merasa puas dan semakin dalam masuk dalam pelukannya.
Begitulah yang terus terjadi.Predi semakin terseret jauh dalam pusaran permainan cinta Putri, dan tidak memperdulikan Shinta lagi. Lelaki yang sudah dimabuk kemesraan itu sepertinya lupa, kalau dalam sisa-sisa kehidupnnya dulu pernah hadir seorang gadis yang mat dicintai dan dikasihinya.
Kini tinggalah Shinta yang terus meratapi nasibnya yang malang. Lelaki yang di harapkannya dapat menghibur hatinya. Malah kabur bersama perempuan lain. Sunghuh, nalangsanya Shinta saat ini. Dihianati oleh kekasih yang amat dicintinya itu.
Kamu telah mempertimbangkan keputusan ini, Shin. Dina memandang perhatian . Ada kesedihan yang membayangi paras wajahnya. Sementara Shinta masih asik merapihkan pakaian-pakaiannya dan memasukannya kedalam koper. Keputusannya bulat sudah. Ia harus meninggalkan kota kelahirannya yang banyak meninggalkan kenangan pahit dan manis untuk merantau mencari pengalaman di kota lain.
" Aku terpakasa meninggalkan kota ini, Din. Penyebabnya, pasti kamu sudah tahu kn?" Shinta menghentikan pekerjaannya sebentar dan balas menatap wajah sahbat baiknya.
Mendengar jawaban itu, Dina cuma bisa menghela napas. Ia memahami apa yang dirasakn Shinta saat ini menjadi Shinta pun, tentu ia mempunya keinginan yang sama dengn gadis itu. Cepat- cept meninggalkan kampung halaman yang hanya akan membuat jiwanya semkin lara dan nalangsa.
" Aku sedih karena harus kehilanganmu, Shin. Bagaimanapun, kamu adalah sahabatku yang terbaik. Di jaman sekarang, susah mencari sahabat sebaik kamu, ucap dina lirih.
Jangan memujiku terlalu berlebihan ah," Shinta hanya tersenyum kecil dan meneruskan kembali pekerjaannya.
" Bener,Shin. Aku sedih karena tidak bisa berkain bersama-sama denganmu lagi. Bahkan, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi ya? Kalau sudah berhasil di perantauan nanti, mungkin kamu tidak akan pulang kekampung ini lagi," nada suara itu terdengar begitu penuh keluhan. Sekali lagi Shinta mengulas senyum tipis untuk menenangkan perasaan sahbatny itu.
Jangn ngomong begitu ah Din. Kamun pikir, aku bakl mati apa, sehingg kita tidak pernah bertemu lagi? Enggak, Din. Pada saatnya nanti, aku akan kembalinlaginke kota ini. Kan masih ada ibuku di sini? Selama aku belum mapan. Biar ibuku tinggal di sini dulu.nanti kalau aku sudah punya rumah dan kehidupan cukup di perantauan, baru akunakan mengajak ibuku," katanya kemudian.
"Jadi! Kamu akan pergi sendiri?" Dina terkesiap.
Shinta mengangguk mantap.
Dengn siapa kamu akan tinggl disana nanti?
" Kamu kenal Susi kan? Itu lho, bekas temnku waktu SD dulu. Nah, dialah yang mengirimku peaan t hp ku dan mengajakaku dan mengikuti jejaknya. Kebetulan sekali ya? Di saat aku sedang frustasi dan tak tahu apa yang harus kunkerjakan, eh, dia membawa kabar baik."
" Memang Susi kerja apa di sana?"
" Katanya sih ia menjadi seorang pelayan di reustoran jepang. Kebetulan tempatnya ia bekerja itu sedang memburuhkan pegawai baru. Jadi akubd ajaknya," sahut Shinta ceria.
"Oya? Hebat dong kalau begitu. Kalau ada lowongan lagi aku juga mau ikut, Shint. Biar bisa dekat- dekat dengan kamu,"
" Tenang aja. Sesampainya di sana aku nanti menemukan lowongan kerja lago, akan ku kabarkan kamu secepatnya."
" Ya, Shin? " Pinta Dina serius.
" Ya iya dong. Aku mana pernahbboong sih?"
Aseulas senyum senang segera tersungging di bibir Dina . Kendati begitu ia merasa sedih juga karena harus kehilangan Shinta dalam waktu yang tak bisa d tentukan.
Esok paginya, ketika Shinta harus berangkat dengn keretanapi, Dina pun turut mengantar kepergian sahabatnya itu bersama ibu Shinta.
" Hati- hati d perantauan ya, Nak," wanita separuh baya itu memeluk putrinya dengan air mata berlinang. Shinta pun membalas pelukan ibunya dengan keharuan yang mendalam. Sepsang matanya yang bening nampak berkaca- kaca.
" Do ibu selalu Shinta harapkan.doakan biar Shinta cept berhasil ya, Bu," bisiknya di telinga ibunya.
" Tentu saja, Nak," sang Ibu mengangguk-angguk sambil mengerjab- ngerjabkan matanya yang basah. Saat berpelukan dengan Dina pun, Shinta tak dapat menahan keharuan dan kesedihannya.
" Selamat jalan, Shinta. Semoga kamu cepat berhasil, dan jangan lupa ajak- ajak aku kalau kamu sudah berhasil," kata Dina dengan wajah ceria. Sepasang matanya memandang Shinta penuh harap.
" Beres," Shinta mengangguk pasti.
Ketika suara pengumuman terdengar bahwa kereta siap berangkat, Shinta pun segera masuk ke dalam kereta melambaikan tangannya. Dina dan ibu Shinta membalas lambaian tangan itu dengan hati sedih dan rasa kehilangan. Dua hari yang lalu, Shinta sempat melarang ibunya untuk memberitahukan prihal keberangkatannya itu pada saudara-saudara lain. Hanya dina saja yang d beritahu Shinta tentang kepergiannya untuk merantau di kota lain. Maka itu mengapa hanya mereka berdua yang hadir dan melepas kepergian Shinta.
Ada kepedihan yang membekas di hati wanita separuh baya yang kini harus tinggal seorang diri itu.ia memaklumi mengapa Shinta tega meninggalkannyadengan mengmbil keputusan untuk pergi merantau.
Yah, kalau saja putri semata wayangku itu tidak di hianti oleh kekasihnya. Tentu Shinta tak akan pernah tega meninggalkannya. Tentu anak yang dikasihinya itu masih akan terus berada di dekatnya.
Namun, kepiluan yang di alami Shinta menentukan lain. Bukn wanita itu tak tahu , betap sedih dan terpukulnya hati Shinta. Kalau membiarkan Shinta terus berada dalam keadaan itu, ia takut putrinya itu akan putus asa dan melakukan sesuatu hal yang tak diinginkannya. Satu-satunya jalan terbaik, ia harus merelakan putri tercintanya itu meninggalkan dirinya dan mencari pengalaman di kota lain.
Semoga saja nasib Shinta bisa berubah menjadi lebih baik di sana. Begitu harapan sangbibu.
Tak terkirakan betapa girangnya hati Susi saat menerim kedatanagan Shinta. Dengan wajah berseri-seri diajaknya sahabat lamanya itu masuk kedalam rumah.
" Beginilah rumahku, Shin mungil dan tidak bagus seperti rumah-rumah lainnya.
Tapi, memang baru bisa seginilah yang bisa ku beli dari hasil jerih payahku sendiri,"
kemudian sambil membiarkan Shinta melihat-lihat keadaan rumahnya.
" Kamu harus bersyukur bisa mempunyai rumah sendiri dikota sebesar ini, Sus biarpun kecil, tapi kalau rumah sendiri, kan lebih nyaman. Justru aku suka dengan keadaan rumahmu ini, tenang, bersih dan rapih," puji Shinta tulus."Ya , itu kan karena aku tinggal sndiri disini jadi rumaku kelihatan bersih terus. Susi teraenyum kecil.
"Untung juga kamu belum berkeluarga, Sus. Kalau enggak, tentu aku merasa tidak enak hati sama suami kamu disini," canda Shinta sambil ikut tersenyum.
"Tenang aja, Shin. Yang pasti, kamu akan merasa nyaman dan tenang tinggal di sini. Kalau enggak percaya, rasain deh sendiri. Oya, ngomong-ngomong kamu mau minum apa?"
" Apa aja deh, terserah kamu. Kaya tamu aja."
Lho kamu memang tamuku kok. Tamu kan harus d hormati. Tunggu sebentar ya, akan ku buatkan air jeruk dingin untukmu," kata Susi sambil nb ergegas pergi ke dapur.