Bab 2

Siang itu di tengah pelajaran bahasa indonesia berlangsung, hanya satu jam pelajaran di hari rabu, Farrel yang merupakan wakil ketua kelas, di minta mengumpulkan tugas teman-teman, sebab Rehan ketua kelas sedang izin tidak enak badan. Farrel mengumpulkan satu per satu tugas temannya, yaitu membuat Cerpen dengan tema 'Patah Hati'.

Saat setelah ia mengumpulkan dan menaruh di atas meja Rizky, tiba-tiba Farrel pingsan saat akan kembali ke meja tempat duduknya,

"Astaghfirullah hal 'adziim!" ucap, Rizky.

ia yang sebenarnya menyadari, muridnya nampak pucat, ia hanya memperhatikan.

"Anak-anak jangan berisik, lanjutkan tugasnya. Bapak bawa Farrel ke UKS dulu," Rizky mengintrupsi murid-muridnya.

Rizky berjalan dengan cukup kepayahan sebab ia menggendong tubuh Farrel yang lumayan berisi.

"Ada apa, pak?" Tanya salah satu guru. yang baru saja keluar dari kelas

"Muridku ada yang pingsan." Jawabnya, sambil tangannya mendorong pintu ruang UKS.

"Ah iya, pak. Semoga baik-baik saja," ucapnya. Lalu berlalu masuk ke kantor, khusus ruang guru.

Rizky dengan pelan meletakan tubuh Farrel di atas tempat tidur, lalu ia melonggarkan dasinya, dan mengambil minyak hangat untuk di balurkan ke tubuh Farrel yang kulit wajahnya nampak pucat

"Aah..." rintih Farrel, ia menyentuh perutnya, matanya masih terpejam.

"Farrel, bangun, apa yang kamu rasakan?" Tanya Rizky.

"Aah, perutku perih," katanya, dan ia seakan ingin muntah, namun tidak bisa, Dan ia kembali pingsan, tubuhnya lemas terkulai,

Rizkypun lari ke ruang kelasnya, dengan tergesa-gesa, untungnya ruang kelas 11 Bahasa, dekat dengan UKS.

"Tomy, dan Izmir ikut Bapak ya, temani Farrel, kita bawa ke rumah sakit,"

"Ke rumah sakit, pak?" Tanya Rasya.

"Iya, takut jika kenapa-napa, barusan bangun lalu pingsan lagi." terang Rizky. "Bapak siapkan mobil, bawa Farrel ke parkiran. pelan-pelan. Yang lain bisa membantu juga, siapa nanti yang ikut ke rumah sakit, dua anak saja ya," perintah Rizky,

Beberapa anak duduk di bangku depan kelas, hanya diam tidak menanggapi. Ia sibuk menulis tugas yang di berikan Rizky, pak gurunya.

Farrel di masukan ke mobil sang gurunya, mobil itu melaju pelan, keluar gerbang sekolah, menuju rumah sakumit terdekat.

Di rumah sakit,

Farrel di bawa ke UGD, langsung di tangani dokter yang jaga.

"Kalian sebelumnya pernah lihat Farrel pingsan?" tanya pak Rizky,

"Tidak pernah pak." jawab Tomy,

"Ada yang tahu orang tuanya?" tanya Rizky,

"Pak, Farrel itu anaknya pendiam, jarang berkumpul sama kita-kita," jawab Izmir.

"Ya kita tunggu hasilnya saja ya." sahut pak Rizky,

Dan tidak lama Dokter yang memeriksa keluar, dengan seorang perawat.

"Keluarga pasien?" tanya perawat tersebut.

"Saya Dok," jawab pak Rizky.

"Orang tuanya?" tanyanya,

"Biar saya yang mewakili. Saya Wali kelasnya, Bagaimana dengan murid saya?"

"Hhmm... Baik, pak. Silakan Bapak daftar ke bagian administrasi, murid Bapak harus di rawat, ada gejala magh akut, mungkin pola makan anak tersebut tidak teratur, Kondisi pasien sangat lemah, Selain itu pasien sepertinya kecapek'an dan stress," terang Dokter,

"Dia baru kelas sebelas, kecapek'an dan stress, ada apa?" batin pak Rizky, sebab anak seusianya seharusnya sedang masa-masa mencari jati diri, menikmati masa remaja, Mencari hal-hal yang baru.

"Iya,,Sus." jawab pak Rizky, singkat.

"Tomy Izmir, Bapak ke bagian administrasi dulu, salah satu dari kalian bisa pergi cari makan siang dulu dan satunya temani Farrel," pinta Rizky, ia ingin membuka dompetnya, mengambilkan sejumlah uang, namun Tomy dengan segera berkata.

"Bapak segera ke bagian administrasi saja, saya beli makan siang, biar Izmir temani Farrel, saya ada uang kok pak," Tomy menimpali.

Rizky menatap Tomy yang tingginya hampir sama dengan dirinya, lalu mengangguk sambil melempar senyum.

"Farrel akan di pindah di ruang perawatan, kamu temani sebelum Bapak kembali, Bapak sekalian menghubungi keluarganya, ya." terang Rizky, Izmir hanya mengangguk, Jika guru lain belum tentu mau membawa muridnya ke rumah sakit, sampai di belain menanggung biaya pendaftaran, batin Izmir, sebab ia sedikit mengenal guru-guru yang ada di SMA nya.

Di sisi lain, Qiila baru sampai di depan rumah sakit, ia turun dari taksi. Ia bertugas jam dua siang sampai jam lima sore, tergantung pasien yang datang, sebab ia di tugaskan di UGD.

Dari kejauhan, ia seakan melihat sosok yang ia kenal, yaitu suaminya, seharusnya masih jam sekolah tapi kenapa ada di sini, Qiila, membatin sambil melirik jam tangannya.

"Mas Rizky. Mas sedang apa di sini?" tanya Qiila, saat sudah dekat di depan ruang bagian pendaftaran

"Eeh sayang," panggil pak Rizky, Qiila menyambut uluran tangan suaminya, ia mencium punggung tangan suaminya, dan Rizkypun mencium intens kening Qiila. Kebiasaan saat bertemu atau saat pamit bepergian, tidak menghiraukan pandangan orang di sekitarnya.

"Muridku tadi ada yang pingsan." jawabnya.

"Terus sekarang?"

"Baru selesai di tangani, dan akan di pindah ke ruang perawatan, ayok ikut. Tugasnya belum mulai kan?" ajak pak Rizky, ia menarik lembut tangan Qiila. Qiila hanya menurut, Rizky juga sudah menyelesaikan pembayaran daftar masuk ruang perawatan Farrel.

"Tadi muridku pingsan, aku bawa ke UKS, sadar, terus pingsan lagi, nggak tega anak itu sangat pucat, jadi aku bawa ke sini di temani dua teman sekelasnya, aku lupa bawa ponsel, jadi susah mau menghubungi keluarganya, mau nanya ke sekolahnya buat di mintai alamat rumahnya, mungkin nunggu anak itu bangun, sekarang sudah di ruang perawatan'" terangnya panjang, namun ia juga bingung, anak seusianya bisa sakit karena kecapek'an dan stress. Padahal sekolah nya termasuk sekolah anak kalangan menengah ke atas. Susah bagi anak dengan kehidupan biasa masuk SMA tersebut, kecuali di dukung dengan otak cemerlangnya. Dan masuk jalur beasiswa. Ya memang Farrel masuk SMA dengan jalur beasiswa.

Di dalam ruang perawatan. Farrel masih tertidur, entah tidur entah masih pingsan. Nampak pucat wajahnya, tangan kirinya terpasang jarum saluran infus. pak Rizky masuk ke ruang rawatnya, dengan Qiila mengekor di belakangnya.

"Izmir, Bagaimana sudah bangun belum?" Tanya Rizky, saat ia masuk ruangan,

"Belum, pak." jawab Izmir, pandangannya teralihkan, ia melihat Qiila di sampingnya.

"Oh iya, ini istri Bapak, namanya Qiila," menyadari Izmir menatap kagum ke wanita si belakang gurunya, tanpa di minta Rizky memperkenalkan diri.

"Saya Izmir, Bu," ucap Izmir, sambil menyalami Qiila, Qiila merasa geli di panggil Ibu. Qiila hanya mengangguk, sambil mengulurkan tangannya.

"Di kelas, Farrel dekat sama siapa?" tanya Rizky,

"Hhm, si Rehan sih pak, tapi Rehan nya lagi tidak masuk, lagi sakit juga katanya," jawab Izmir.

"Rehan sama Farrel sama-sama pendiem, tapi Farrel lebih suka menyendiri," lanjut izmir.

"Begitu ya?"

"Mas, aku mau shalat dulu ya," pamit Qiila,

"Iya, bareng saja." jawab pak Rizky.

Namun saat Keduanya mau pamit sebentar ke Izmir, Farrel mengigau

"Aayah... ayah, jangan pergi.. ayah, Ayah Arel ikut, Ayah.. aah Ayah, Arel kangen...ayah...ay... yaah!" Igaunya, keringat dinginya merembes, keluar dari pori-pori. Napasnya tidak beraturan.

"Farrel, bangun.. Rel!" panggil Izmir.

"Farrel, dengerin suara Bapak, Farrel bangun. Farrel kembali." pak Rizky menepuk nepuk pipi Farrel. Sedangkan Farrel sendiri, masih di alam bawah sadar.

"Farrel bangun." ucap pak Rizky dengan lembutnya.

Dan mata Farrel terbuka tiba-tiba, pandanganya kosong, menerawang menatap langit-langit,

"Farrel sadar, Nak," ucap pak Rizky.

"Ayah, ayah...di mana Ayah?" tanyanya,

"Ini Bapak." ucap pak Rizky, Mencoba menyadarkan Farrel, meskipun sudah sadar, pikiranya kosong.

"Sini, Mas," Qiila menghampiri Farrel, Ia menyentuh lembut keningnya, Ia juga mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya,

Detak jantungnya tidak beraturan.

"Mas Farrel, dengar suara Ibu?" tanya Qiila lembut. Namun Farrel masih diam, dengan tatapan yang masih kosong, Qiila terpaksa menampar pipi Farrel cukup keras, untuk menyadarkan ingatanya, Lalu kemudian, tangisnya pecah, spontan Qiila menarik tubuh Farrel dan memeluknya.

"Ayah, Aku kangen Ayah," Katanya

"Di mana Ayahmu?" Tanya Qiila, ia mengelus lembut punggung Farrel, Izmir dan pak Rizky suaminya, hanya melihat tanpa bisa berkata apa-apa.

"Ayahku meninggal," jawabnya, tangisnya semakin pecah, Qiila membiarkan Farrel menangis di pelukannya, ia tidak mempedulikan kemeja dan jilbabnya sudah basah terkena air mata bercampur ingus Farrel.

Setelah ia sedikit tenang,, Farrel melepas pelukanya, Qiila hanya menatap iba.

"Maaf, anda siapa?" Tanya Farrel, setelah menyadari. Siapa yang di peluk.

"Saya Dokter di sini," jawab Qiila.

"Ini rumah sakit?" tanya Farrel. Qiila hanya mengangguk.

"Pulang aku mau pulang, kasihan Ibuku dan adik-adikku kalau aku di sini,.. aah." pekiknya, saluran infusnya terlepas, darahnya menetes di lantai.

"Kamu jangan bergerak dulu," Cegah Qiila.

"Mas, panggilkan Dokter!" Suruh Qiila, ia nampak khawatir. Tanpa banyak kata, Rizky lari keluar untuk memanggil Dokter. Izmir sendiri merasa kasihan dengan Farrel. Padahal kan istrinya 'kan dokter, memanggil dokter.

"Farrel, kamu tenang dulu." ucap Izmir, ia bingung mau berkata apa.

Farrel sendiri menjatuhkan tubuhnya di atas brankar, tubuhnya masih sangat lemas, darahnya menetes dari bekas jarum, saluran infus. Ia tidak bisa meronta lagi, Lalu ia kembali memejamkan mata.

Dokter masuk, ia memeriksa kondisi pasien.

"Dokter Qiila, apa dia adikmu?" Tanya Dokter yang mempunyai nama Angga, Dokter ahli bedah di rumah sakit ini.

"Tidak, dia murid suamiku," jawab Qiila.

"Suami?" tanya Dokter, memastikan.

"Saya, Dok." jawab Rizky, saat ia masuk ke ruangan Farrel di rawat.

"Selamat siang, Saya Dokter Angga, Dokter bedah dan penyakit dalam," Dokter memoperkenalkan diri,

"Saya Rizky, suaminya Qiila," sambut pak Rizky, dan Tomy pun masuk, tangan kanan dan kirinya membawa makan siang juga makanan ringan.

"Anak ini seperti sedang banyak pikiran, tadi di ambil sample darahnya, darahnya sehat, hanya saja tekanan darahnya sangat rendah. Dan ia ada infeksi di lambungnya," terang dokter Angga.

"Anak ini sedang tidur, nanti kalau sudah bangun, tolong di suruh makan dan minum obatnya," lanjut dokter kemudian.

"Baik, Dok." jawab Rizky, setelah memindahkan jarum saluran infus di pergelangan tangan kanan, Dokter tersebut keluar, Rizky lupa menebus obat yang tadi di berikan Dokter saat Farrel selesai di tangani di ruang UGD, sebab tadi ia bertemu istrinya.

"Kalian jaga Farrel ya, Bapak mau shalat dan sekalian nebus obatnya, nanti kalian shalat gantian." Pinta Pak Rizky

"Baik pak," jawa. Tomy dan Izmir

"Jaga temanmu ya, kalau ada apa-apa, panggil Dokter, nanti saya juga bisa temani kalian, kalau di UGD tidak terlalu ramai pasien masuk." Pesan Qiila.

"Ibu istrinya pak Rizky? " tanya Tomy, Qiila hanya mengangguk.

"Ternyata putri galaknya Cantik ya, Pak? eeh istrinya," Tomy keceplosan, ia langsung menutup mulutnya. Pak Rizky spontan melotot ke arah Tomy, Tomy salah tingkah, Qiila pun menatap Rizky, seakan siap menelannya hidup-hidup. Tanpa kata Qiila keluar dari ruangan Farrel di rawat, Rizky mengikutinya di belakang.

Saat sampai di depan pintu, Qiila menarik Rizky, ia mencubit pinggangnya

"Ini Putri galakmu, kan iya kan? bisa-bisanya kamu cerita begitu sama muridnmu, Mas!" protes Qiila, Rizky hanya meringis, menahan sakit.

"Maaf Sayang, tidak sengaja," Rizky membela diri.

"Awas tidak ada jatah malam ini," ancam Qiila.

"Duh Sayang, jangan gitu doonk, aku minta maaf," Iba pak Rizky, ia mengejar Qiila yang berjalan cepat menjuhi dirinya.

Rizkypun hanya garuk-garuk tak mengerti. Qiila berjalan menjauh, meninggalkan suaminya semakin jauh dan hilang di belokan lorong rumah sakit, Rizky berusaha ingin mengejarnya.

Qiila masuk ke dalam lift, Rizky mengikutinya.

"Sayang, kalau ngambek bikin gemes pengen ku kunyah," Ledeknya, Qiila menatap nyalang Rizky, ia marah kepada suaminya. Namun malah membuat Rizky geli. Istrinya akhir-akhir ini suka marah-marah. Membuat Rizky terkadang kuwalahan dengan sifat istrinya yang sering berubah-ubah.

"Mas.. Kamu tuh nyebelin banget sih!" Maki Qiila, ia tak mempedulikan beberapa orang yang ikut naik lift, ia memukul-mukul dada suaminya.

"Udah Sayang, jangan ngambek lagi ah," ucap Rizky, ia menangkap tangan Qiila dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.

"Aku ingin menghilangkan jejak muridku yang tadi kau peluk," Ucapnya tanpa ekspresi.

"Ish.. kamu cemburu sama muridmu sendiri?" Protes Qiila.

"Dia udah dewasa, Sayang. Lain kali jangan peluk-peluk sembarangan." Rizky menasehati,

"Nggak tega aja. Kayaknya banyak beban yang ia pikirkan," Jawab Qiila. Lalu bunyi lift berdenting, menandakan mereka sampai di lantai tujuan, tujuannya ke lantai dasar, sebab mushola rumah sakit ada di lantai dasar.

Qiila dan Rizky berjalan berdampingan, menuju mishola. Keduanyapun berpisah, sebab Rizky yang masuk ke tempat wudlu pria dan Qiila masuk ke tempat wudlu wanita.

Air dingin yang membasuh mukanya, terasa segar, bagaikan belaian kasih sayang Tuhan terhadapnya. Menyejukkan dan menenangkan jiwa.

Kemudian Qiila mengeluarkan mukena dari dalam tasnya, dan ia memakainya lalu mendirikan shalat dzuhur.

Bab 3

Selepas maghrib, Farrel yang baru bangun memaksa untuk pulang, Izmir dan Tomy sampai kuwalahan menahannya, beruntung Rizky masuk.

"Ada apa?" Tanya Pak Gurunya, ia baru selesai melaksanakan shalat maghrib.

"Farrel ingin tetap pulang." jawab Tomy,

Rizky menarik tubuh Farrel kedalam pelukannya. Membiarkan Farrel menangis di pelukannya.

Baru Rizky ketahui dari kepala sekolahnya, Farrel kehilangan Ayahnya saat menolong orang yang hampir kejatuhan bangunan yang runtuh saat berkeliling mengawasi pembangunan hotel, alhasil Ayah Farrel yang tertimpa runtuhan bangunan tersebut, dan Ayahnya meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit, kejadiannya saat Farrel sudah masuk SMA, Farrel yang sudah terlanjur masuk awalnya ingin keluar dan memilih bekerja untuk membantu keuangan Ibunya, Sebab ia anak pertama dan ia juga memiliki tiga adik. Adik pertama perempuan kelas tujuh SMP, adik kedua perempuan kelas lima SD, dan adik terakhir laki-laki kelas dua SD, memikirkan itu, Farrel yang merupakan anak pertama merasa bertanggung jawab atas kebutuhan Ibu dan adik-adiknya. Namun kebetulan orang yang di tolong ayahnya adalah donatur tetap di sekolah Farrel belajar, maka ia mendapat beasiswa dari sekolah tersebut, selain itu Farrel anak yang cerdas dan sangat sopan. Walaupun ia mendapat uang saku tiap bulannya, namun tetap tidak bisa menyukupi kebutuhan harian keluarganya, sehingga ia pun memilih bekerja sebagai buruh gosok di rumah tetangganya, terkadang ia juga membantu jadi kurir pengantar makanan pesanan tetangganya, walau dengan mengayuh sepeda, sebelum Ayahnya meninggal, kehidupan keluarganya sangat berkecukupan, namun sepeninggalan ayahnya, ekonominya menjadi kacau, sebab kebutuhan yang selalu meningkat setiap harinya. Ayahnya mendapat santunan kematian dia puluh lima juta, itu pun untuk merenovasi rumahnya yang memang atapnya banyak yang bocor. Dan sisanya untuk membuka warung jajanan di depan rumah.

Ibunya yang sangat lembut, semenjak di tinggal suaminya, ia terkadang menjadi sedikit kasar dan mudah marah. Sampai suatu fakta di ketahui 'Ibunya bukanlah Ibu kandungnya'.

Ibunya yang keceplosan merasa bersalah, dan terus meminta maaf kepada Farrel, namun Farrel yang bukan anak kecil lagi, ia terus menanyakan atas kebenaranya.

Ibu Farrel meninggal saat ia berusia dua tahun sebab kanker lambung. Sehingga Farrel tidak mengetahui sesosok Ibu kandungnya, dan Ibunya yang sekarang adalah Ibu tirinya, Ibunya sangat baik dan perhatian, sehingga Farrel merasa shock saat mengetahui ia bukan Ibu kandungnya. Meskipun begitu Ibunya sangat menyayangi Farrel selayaknya anak kandungnya sendiri. Sebab Farrel sudah di rawat sejak Ibu kandung Farrel sakit, sebab Ibu tirinya adalah adik Ibu kandungnya. Ayah Farrel menikahi adik istrinya sebab merasa ia akan menjadi ibu yang baik untuk Farrel. Akhirnya Ayah Farrel menikahi adik Ibunya yang kini menjadi ibu tirinya. Kebahagiaan mewarnai kehidupan mereka, Saat usia Farrel tujuh tahun, ia memiliki adik dari ibu tirinya, layaknya keluarga yang bahagia, tidak pernah menyangka Ibunya yang kini adalah ibu tirinya.

"Saya mau pulang, Pak." Farrel meronta, ingin melepaskan pelukan pak gurunya.

"Tenang, kamu harus sembuh dulu," ucap Rizky,

"Bagaimana dengan Ibu dan Adik-adikku, mereka pasti khawatir," katanya, menahan isak tangis.

"Minta alamat lengkap rumahmu, biar Bapak yang ke sana." pinta Rizky.

"Jangan, Ibu tidak boleh tahu, kasihan Ibu sudah kecapek'an merawat ketiga adikku," lanjutnya.

"Kalau begitu, kamu harus sembuh, jangan terlalu banyak pikiran,"

"Aku tidak mau merepotkan Bapak dan yang lainya," aku Farrel.

"Tidak sama sekali, kenapa kamu berpikiran kamu merepotkan?" tanya Rizky.

Farrel diam, air matanya masih mengalir, ia begitu rapuh sangat rapuh.

Farrel yang memang cerdas, bahkan pandai dalam semua bidang mata pelajaran, seharusnya masuk kelas IPA, namun ia milih kelas bahasa, sebab ia memiliki cita-cita, yang mungkin cita-cita yang selalu di pandang sebelah mata oleh orang lain, sebab keinginan dia adalah menjadi TKI, dengan niatan membantu perekonomian Ibunya, dan untuk masa depan adik-adiknya supaya memiliki pendidikan yang lebih baik. Itulah keinginan sederhananya.

"Bapak yang akan menjaga kamu. Kamu harus sehat, demi Ibu dan adik-adikmu," ucap pak Rizky, ia mengelus punggung Farrel. "sekarang makan lalu minum obat," suruh pak Rizky.

"Saya belum shalat," jawab Farrel.

"Iya, biar Bapak bantu tayamum, kamu masih lemas,"

"Saya bisa jalan, pak," jawab Farrel. Keras kepala.

"Baiklah, Biar Bapak bantu ya!" tawar pak Rizky,

Farrel hanya mengangguk. Ia pelan turun dari tempat tidurnya, Izmir dan Tomy yang sedari tadi hanya diam, ikut membantu Farrel turun, menuju kamar mandi.

Namun, pandangan Farrel seakan semua berputar, di kepalanya terasa pening, pandangannya kabur kemudian pandangannya terasa gelap, ia kembali pingsan.

"Astaga, Farrel!" seru kedua temannya,

"Kamu lemah seperti ini, namun masih memaksakan diri," gumam pak Rizky.

"Pak, saya panggilkan dokter ya?" tawar Izmir, Izmir segera berlalu, ia keluar menuju ruangan dokter.

Tidak lama kemudian Dokter masuk. Memeriksa keadaan Farrel, wajah pucatnya nampak berkerut. Seakan menahan sakit.

Dokter pun menyarankan untuk di rongten, takutnya ada penyakit dalam di dalam tubuh Farrel, sebab seharian ini sudah pingsan hingga lima kali.

"Kalian pulang saja ya, biar Bapak yang menemani Farrel," suruh Rizky.

"Tapi pak," Tomy ingin menolak, namun melihat Pak guru barunya yang diam-diam ia kagumi, merekapun menurut.

"Terimakasih ya, sudah mau menemani Farrel," ucap pak Rizky.

"Tidak pak, saya sangat bahagia, bisa menemaninya. Saya salut sama Bapak. Bapak guru baru, tapi sangat peduli dengan kami," ucap Izmir. Pak Rizky memandang kedua muridnya bergantian. Lalu memeluk keduanya.

"Kalian itu anak-anak hebat, generasi penerus bangsa, kalian amanah yang wajib di jaga, tetap jadi anak yang baik dan selalu jaga hati kalian, tetap berjalan di jalan yang dbiridlai Allah," Ucap pak Rizky, mengusap rambut kedua muridnya.

"Terimakasih pak, Bapak yang terbaik," ucap Tomy,

"Bapak yang kami teladani," sahut Izmir.

Rizky melepas pelukannya, memandang bergantian kedua muridnya dengan intens. Sambil mengacak rambut muridnya.

"Pulang ya, besok sekolah," suruh Rizky. "sampaikan sallam Bapak untuk kedua orang tua kalian," lanjut pak Rizky. Izmir dan Tomy mengangguk sambil melempar senyum.

Mereka menyalami Rizky sebelum pamit pulang,

"Eeh sudah mau pulang ya?" Qiila masuk, menyapa mereka.

"Iya Bu," jawab Tomy,

"Ibu bawakan nasi goreng, kalian bawa pulang atau mau makan di sini?" tanya Qiila, Izmir dan Tomy saling berpandangan, mereka merasa sungkan.

"Bawa pulang saja, nanti keburu malam," suruh Rizky.

"Ya sudah ini di bawa semua ya? ini juga ada jus alpukat, entah suka atau tidak, yang jelas jus alpukat sehat untuk kalian dimasa pertumbuhan." Qiila menyodorkan dua kantung kresek.

Walau sungkan, keduanya mau menerimanya.

"Mas, sebaiknya anterin mereka, kasihan nanti dibmarahin orang tuanya," suruh Qiila. "Biar aku yang jaga Farrel," lanjut Qiila

"Hmm iya juga, kan Bapak yang tadi membawa kalian ke sini." ucap pak Rizky.,

"Tak usah pak, kita bisa pulang pakai taksi," tolak Tomy.

"Eeith... tidak boleh nolak." ucap pak Rizky, ia merangkul kedua muridnya, selayaknya teman. Senyuman menghiasi kedua anak tersebut.

"Sayang, aku pergi dulu," pamit Rizky. Qiila hanya mengangguk.

"Nggak boleh rindu ya, cuma sebentar doang," ucap Rizky iseng, membuat pipi Qiila memerah karena merasa malu, apalagi tatapan geli kedua murid suaminya, membuatnya salah tingkah. Qiila menyalami suaminya, ia ingin menyium kening Qiila, namun Qiila menghindar sebab ada kedua muridnya, Qiila merasa menang, melihat Rizky yang malu.

Ketiganya pun keluar dari kamar Farrel di rawat, mereka bertiga berjalan beriringan, menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Menuju tempat parkir mobil pak gurunya, Farrel di rawat di lantai empat rumah sakit.

Sedangkan Qiila di dalam kamar rawat murid suaminya, mengambil sebuah alQur'an kecil dari dalam tasnya, lalu membacanya dengan penuh pengkhayatan. Farrel sendiri, masih memejamkan mata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED