Bab 2

“Hah! Tidak apa. Semoga saja kata-kata yang anda keluarkan tulus,” timpal Yasti santai.

“Yasti,” bisik Ara sambil menyenggol tanggannya Yasti.

“Maaf, maksudnya kami tidak apa-apa, Kak. Tidak perlu mengkhawatirkan ini,” ucap Ara karena merasa tidak enak dengan perilaku Yasti.

“Baiklah, kami tidak akan mengulanginya lagi. Saya berjanji pada kalian. Jika memang kejadian ini terulang lagi tanpa sepengetahuan saya, kalian bisa langsung melaporkannya pada saya dan saya akan menindak tegas mereka,” Ketua Osis terlihat sedikit terkejut dengan Respon yang Yasti berikan. Ketua Osis melirik kearah teman disampingnya, yang tidak suka dengan kedua murid baru ini dan dia juga seperti benar-benar merasa bersalah atas perilaku anggotanya, tapi merasa tidak enak hati untuk memaksa temannya untuk berbuat lebih.

“Tidak apa, Kak. Kami juga minta maaf. Karena ini terjadi karena tadi saat pengarahan kami juga tidak mendengarkannya. Jadinya, Kak Lesti, sebagai Wakil Ketua Osis hanya ingin memberi kami teguran semata. Setidaknya ini bisa menjadikan pengalaman berharga untuk kami, agar kedepannya dapat lebih baik. Jadi mari kita anggap tidak terjadi apapun dan berdamai,” tanpa basa basi Ara mengatakannya. Dia hanya ingin masalah ini cepat selesai.

“Oh, ok. Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu yah. Sampai jumpa lagi nanti.”

“Iyah. Terima kasih, Kak,” balas Ara ramah dengan senyuman diwajahnya.

“Kesel banget gua. Dasar jal*ng!” celoteh Yasti setelah kedua orang tadi pergi dan menghilang.

“Sabar, Yas. Sudah ah, jangan marah-marah terus. Yukk kita ke kantin. Gua laper nih. Gue traktir deh, jadi lu bisa pesen apa aja sepuas lu dikantin nanti,” ucap Ara agar Yasti berhenti menggerutu didepannya.

“Bener yah?! Yess!!!”

“Pffttt, gini aja seneng lu,” timpal Ara sambil terkekeh sekaligus menggeleng kepala melihat kelakuan sahabatnya

“Hahaha. Iyah dong, mana ada orang yang nolak dikasih makan gratis. B*go aja kalau ada,” tawa Yasti puas.

Perjalanan ke kantin tidak memakan waktu lama. Karena posisi keduanya tadi memang tidak jauh dari kantin. Lalu, karena mereka datangnya telat gara-gara Ketos sama Wakilnya tadi, jadi tidak mendapat tempat.

“Gimana dong, Yas. Kita mau duduk dimana nih,” padahal kantinnya sangat luas, tapi bisa-bisanya mereka tidak kebagian tempat untuk duduk.

“Itu ada beberapa yang kosong disebelah sana, Ara,” kata Yasti sambil menunjuk dengan wajahnya.

“Mana? Oh, iyah ada. Gak keliatan. Hehe,” kekeh Ara malu.

“Makanya mata dipakai, Ra! Jangan dipajang saja,” ledek Yasti hingga membuat Ara merasa kesal padanya.

“Isshh!” decak Ara kesal.

Lalu keduanya memesan makanan dengan cepat dan menuju ke meja kosong yang disebut Yasti tadi.

“Selamat makan!” ucap Ara padanya dan Yasti pun membalasnya.

“Oi! Kalian berdua!” panggil seseorang pada kedua gadis yang tengah menikmati semangkok bakso.

“Uhukk..uhukk! Gembel! Siapa sih!? Orang lagi makan dikagetin!” kesal Yasti.

“Hai Obet dan Obby juga,” sapa Ara pada si kembar. Teman sekelas mereka saat SMP dulu.

“Ah elah, ternyata lu berdua. Kambing lu pada. Gua jadi keselek kan. Mana pedas lagi,” protes Yasti yang masih merasa kesal. Karena gara-gara mereka berdua, dia jadi tersedak kuah bakso yang rasanya pedas bukan main.

“Buakakaka!! Makanya Yas kalau makan yang bener jangan kayak badak! Hahahah,” tawa Obet puas melihat Yasti.

“Pfft,” Ara pun tertawa mendengarnya.

Mereka berdua, Yasti dan Obet, kalau bertemu lucu sekali. Bagaikan anjing dan kucing yang selalu berkelahi tanpa henti.

“Mau ngapain lu pada disini?!” celetuk Yasti.

“Numpang meja, hehehe. Lihat, pada penuh semuanya kan. Boleh ya?” ucap Obert sambil nyengir kuda. Padahal belum diijinkan, tapi keduanya sudah duduk disana dengan santai tanpa peduli mereka diijinkan atau tidak.

“Penuh pala lu peyang. Noh masih ada disebelah sana. Kesono aja!” imbuh Yasti kesal.

“Lagi ngapain pakai ijin segala, belum diijinin juga sudah langsung pada duduk, 'kan,” timpal Yasti sekali lagi yang melihat mereka berdua sudah duduk santai tanpa dosa.

“Tapi sudah didudukin beberapa orang, Yas. Disini kan cuma lu berdua. Pelit amat sih,” balas Obert dan mulai menyeruput minumannya.

“Sudahlah Yas nggak apa. Jangan gitu ah,” ucap Ara melihat mereka yang sudah duduk diantara Yasti.

“Seperti itu dong. Ara memang terbaik deh!” teriak si kembar bersama sambil mengacungkan jempol.

Obert dan Obby kembar identik. Mereka biasanya memanggil Obert dengan panggilan Obet, karena lebih pas dengan tingkah lakunya.

Keduanya adalah kembar identik yang katanya susah banget dibedain sama orang-orang, tapi sebenarnya mereka bisa dibedakan, kalau dilihat lebih cermat lagi. Seperti dari cara berperilaku atau gaya bicara mereka berdua, cara berpakaian dan kebiasaan yang biasa mereka lakukan. Semua berbeda meski mereka kembar.

“Kok tadi gua sama Yasti nggak liat lu berdua? Kemana aja kalian?” tanya Ara pada Si Kembar.

“Paling ngaret lagi, Ra. Lu memangnya tidak tahu seperti apa mereka," timpal Yasti.

“Iihh, sensi. Lagi dapat yah, bu?!” balas Obert seolah menantang perkataan Yasti.

“Pfttt, Obert sama Yasti kalau pacaran pasti lucu, ramai dan seru yah, By. Secara mereka berantem terus kan kerjaannya setiap kali bertemu,” Tawanya melihat Obert sama Yasti yang selalu bertengkar setiap saat mereka bertemu.

“Bisa jadi kapal karam Ra hubungan mereka. Cakar-cakaran terus, hahaha," balas Obby atas perkataan Ara tentang hubungan Yasti dan Obert. Jika, seandainya mereka berdua menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih.

“Sialan lu, By. Kucing kali cakar-cakar!” timpal Obert.

“Lou, disini!” Obert memanggil seseorang.

"Lou?! Siapa itu?" gumam Ara pelan.

Obert teriak memanggil nama seseorang yang arahnya berada dibelakang Ara. Dia berpikir hanya mereka berdua dan Finn, yang mungkin saja akan bergabung dengan mereka.

“Ra, maaf yah. 2 orang lagi numpang duduk yah disini," ijin obert pada Ara dengan senyuman canggung dan bersalah.

“Ha..haha, iyah sudah,” tawanya setengah hati dan terpaksa.

Obert dan Obby bukannya tidak tahu. Kalau Ara bukan tipe orang yang gampang atau cepat beradaptasi dengan orang baru. Setidaknya, setelah satu tahun yang lalu. Makanya mereka meminta maaf lebih dulu, tapi terlambat

“Gua bilang juga apa tadi, Ra. Yah sudah, gua pindah kesebelah situ,” ngomel Yasti sama Ara, lalu saat hendak berdiri untuk pindah kesamping Ara, tiba-tiba sudah ada nampan yang ditaruh disamping Ara dan mereka bertiga cuma saling menatap satu sama lain secara bergantian.

“Halo," sapanya pada Ara setelah meletakkan nampannya. Suara berat dan dingin itu hanya didengar oleh Ara tanpa menoleh kearah pemilik suara tersebut.

“Itu . . . ," Ara melihat Yasti yang mau berbicara sesuatu pada orang disampingnya, tapi langsung saja Ara hentikan dengan menggelengkan kepala kepada Yasti dan mencoba menyapa balik orang tersebut dengan ramah. Karena merasa tidak enak dan terkesan tidak ramah, jika orangnya sudah diusir, hanya untuk memintanya pindah tempat.

“Oh, ha..halo,” sapa Ara.

“Finn mana, Lou?” tanya Obby pada teman baru mereka yang dipanggil dengan nama Lou ini.

“Masih antri beli minuman,” balas Louise singkat.

“Oh, oke,” balas Obby dan kembali menyantap makanan yang ada dihadapannya.

“Oh, iyah Lou, kenalin mereka teman SMP kami yang bersekolah disini juga sebelumnya. Ini Yasti dan yang disamping lu, Arabella.” Obert mengenalkan Louise pada Ara dan Yasti.

“Halo, gua Yasti Radinka,” jawab Yasti singkat dan seadanya sembari melirik kearah Ara dengan cemas.

Dia sebenarnya bukan orang yang seperti ini sejak awal mereka bertemu, saat dibangku SMP. Tapi, setelah mereka duduk dikelas tiga, tepatnya lima bulan setelahnya. Ara mulai berubah menjadi sosok yang tidak mereka kenali, seperti orang yang memiliki trauma atau fobia terhadao orang baru, terlebih kalau itu cowok.

Awalnya mereka tidak tahu apa penyebab Ara seperti itu, bahkan dia sampai mengurung dirinya dikamar. Lambat laun akhirnya mereka semua tahu apa penyebabnya. Karena itu mereka semua lebih perhatian, peduli dan menjaga Ara karena kejadian itu.

“Halo, Louise Savero. Panggil aja Lou seperti Obert dan Obby. Lalu lu siapa?” tanya Louise pada Ara. Berusaha ramah walaupun dia tidak menyukai hal-hal seperti itu. Karena dia memiliki tujuan. Tujuannya untuk mengetahui semua hal tentang Ara.

“ ....... " Ara hanya diam dan bingung harus menjawab apa. Karena mulutnya, tiba-tiba saja tidak mau terbuka dan tidak sama dengan pikirannya.

“Dia, Arabella. Arabella Raveen. Lu bisa panggil dia Ara. Mungkin? Hehehe,” sahut Obert memecah suasana dengan candaan garingnya.

“Oh, hai Ara. Boleh kan ikutan manggil Ara? Biar kita bisa cepet akrab,” Louise hanya bingung karena Ara hanya diam, bahkan tidak menoleh sedikit pun kearahnya.

“Ha..hai, iyah, tidak apa-apa kok,” jawabnya singkat dan senyum seadanya tanpa menoleh kearah Louise.

“Hahaha, Ara memang anaknya pemalu. Tolong dimaklumin yah, Lou,” ucap Obby agar Louise tidak berpikiran yang aneh-aneh tentang Ara.

“Iyah, Obby bener, hehehe. Oh, Itu Finn,” Timpal Obert mengalihkan suasana yang mulai canggung itu.

“Finn, disini!! Nah ini dia orang kedua yang bakal ikut makan disini, kaget ‘kan?! Hahaha," tawa Obert berharap agar keheningan dan kecanggungan ini berakhir.

“Biasa saja tuh,” Yasti sembari memasang muka datar pada Obert.

Lalu mereka melihat Finn yang datang dari arah seberang. Finn adalah teman Ara sejak kecil. Jika Ara bersahabat dengan Yasti sejak SMP, maka Finn adalah teman masa kecilnya. Ara dan Finn sudah saling mengenal satu sama lain, sejak mereka masih TK. Karena kebetulan sekali, rumah keduanya bersebelahan.

“Hai, Ra. Oh ada Yasti juga. Kita ketemu lagi yah ternyata,” kekeh Finn.

“Oi Finn,” sapa Yasti padanya sambil memberi kode lewat mata, tapi lagi-lagi gagal dan membuat Yasti mengumpatinya didalam hati.

“Kenapa mata lu, Yas? Sakit? Ke UKS gih kalau sakit. Bet, anterin gih,” ucap Finn yang sebenarnya melihat kode dari Yasti, tetapi dia berpura-pura tidak melihatnya.

Bab 3

”Ih, kenapa harus gua. Lu saja,” balas Obert dengan nada penuh penolakkan.

“Yah sudah Obby saja kalau begitu,” melempar tugas yang tidak seharusnya dilakukan ke Obby.

“Kampret! Gua lagi makan,” timpal Obby acuh tak acuh.

“Wkwkkwk, yah sudah, Yas. Lu sendiri saja. Karena tidak ada yang mau mengantar,” tawa Finn puas setelah sengaja meledek Yasti.

“Kambing lu semua. Gua sudah kayak bola saja dioper sana sini. Lagian, lu datang-datang ngapain sih ngatain gua sakit mata!” Yasti menghela napas lega. Karena Finn sadar dan bisa memecah suasana supaya tidak canggung lagi.

“Wkwkwkk, lagian lu seperti ikan kurang air, terus matanya kayak kebakaran jenggot,” tawanya puas setelah secara sadar dan sengaja mengejek Yasti.

“Pffttt," kekeh Ara menahannya. Finn memang lucu. Ara sudah berpikir, jika Finn menyadari ada sesuatu disini makanya dia seperti itu. Terlebih Yasti pasti tadi sudah memberi kode padanya.

“Eh, ada Ara lagi ketawa. Duhh, langsung deh diabetes gua,” Finn beralih pandangan ke Ara. Menatapnya hangat sembari tersenyum.

“Hahaha, mulai lebay,” balasnya pada Finn yang memang narsis dan berlebihan.

Louise hanya menatap Ara bingung dan tidak suka. Dia berpikir, jika sikap Ara itu aneh. Padahal jelas-jelas dia mengabaikan Louise, tapi bisa-bisanya tertawa seperti itu pada yang lainnya.

Walau terbesit sekilas dipikiran Louise kalau senyuman dan tawa Ara tadi terlihat sangat cantik dan manis dimatanya, tapi Louise yang terkejut dengan pikirannya sendiri langsung menghilangkan pikiran aneh itu dalam sekejap. Karena itu tidak seperti dirinya.

“Lama banget lu, Finn,” ucap Obby.

“Iyah, antri tadi,” balasnya pada Obby.

“Eh, iyah. Ini Ra, buat lu, jus semangka. Tadi gua lihat Obet sama Obby mendatangi kalian, jadi gua sekalian beli buat lu,” katanya sembari memberikan segelas jus semangka pada Ara.

“Makasih finn,” ucap Ara padanya.

“Ehem, ehem! Bilangnya sih kalian, tapi yang dibelikan Ara saja, gua tidak,” protes keras dari Yasti yang merasa dianak tirikan oleh Finn.

“Maaf Yas, lu minta Obet saja beliin. Dia pasti mau,” sembari terkekeh melihat kearah Obert yang langsung mengernyitkan dahi saat itu juga.

“Dih, enak saja,” menimpali perkataan Finn.

••••

Jam istirahat telah selesai, lalu mereka semua berkumpul lagi di lapangan sesuai dengan kelompok masing-masing.

Ternyata Finn, Obet dan teman baru mereka berada dalam satu kelompok, hanya Obby sendiri yang terpisah.

Setelah berkumpul dan diberi arahan oleh para pengurus osis, mereka bergegas melakukannya agar dapat selesai lebih cepat dan pulang.

“Haa, akhirnya kelar juga hari pertama. Sisa besok hari terakhir. Tapi, bukannya biasa umumnya tiga hari yah? Lalu kenapa ini hanya dua hari?” ucap Yasti pada Ara yang berada tepat disampingnya.

“Hem, mungkin disini berbeda. Lagian mana gua tahu, gua juga baru pertama sama seperti lu, gimana sih,” celetuk Ara pada sahabatnya, Yasti.

“Halo semuanya, terima kasih untuk kerjasama kalian hari ini. Orientasi hari pertama sudah selesai tanpa masalah berkat kalian semua. Lalu saya ingin menyampaikan, bahwa lusa kita akan berpergian ke pegunungan dan mengadakan camping selama tiga hari dua malam. Dimohon untuk kalian menyiapkan segala keperluan berkemah. Maaf baru menginfokan hal ini sekarang. Dikarenakan baru mendapat konfirmasi dari kepala sekolah dan kalian tidak perlu khawatir soal ijin orang tua. Karena kepala sekolah dan para guru sudah meminta ijin langsung pada orang tua kalian masing-masing. Saat kita pergi pada hari yang ditentukan nanti, tetap didampingi oleh para guru dan kepala sekolah. Karena Lusa kita akan berkemah, jadi untuk segala kegiatan besok akan diliburkan. Saya, Reas Navvaro, selaku Ketua Osis mengucapkan terima kasih atas kehadirannya hari ini,” jelas Reas pada para siswa yang sedang berbaris ditengah lapangan. Kemudian, setelah pengarahan selesai, Reas pun membubarkan barisan dan mempersilahkan mereka semua untuk kembali ke rumah masing-masing.

“Wah, kok mendadak begitu?! Mana bisa kita menyiapkan dalam sehari?” gerutu Yasti tentang kemah dadakan tersebut.

Sejujurnya, Ara tidak terlalu suka ide tentang berkemah, tapi mereka tetap harus ikut tanpa protes, kalau tidak ingin kehilangan poin.

Di sekolah ini ada juga sistem poin. Jika poin kurang dari yang ditentukan, maka para siswa atau siswi akan dikeluarkan dari sekolah ini. Kebijakan sekolah ini memang sangat ketat. Maka dari itu, selama masa sekolah semua murid harus bersikap baik dan menambah poin masing-masing dari segala kegiatan yang disediakan oleh sekolah.

Sekolah menerapkan aturan seperti ini agar para muridnya berusaha dengan baik, giat dan tidak bermalas-malasan dalam segala hal yang menyangkut pendidikan mereka di sekolah.

Sebenarnya baik, tapi kalau untuk hal seperti ini Ara tidak terlalu menyukainya.

Karena berkemah itu merepotkan sekali. Bukannya tidak suka, tapi rasanya tidak nyaman. Karena pasti akan tidur dalam satu tenda atau satu ruangan dengan orang yang tidak dikenal dan harus berbaur dengan semuanya. Walau tujuannya mungkin baik, tapi tetap saja tidak nyaman.

Itu semua karena Ara memiliki alasannya tersendiri, kenapa dia tidak dapat berbaur dengan yang lain.

“Yah sudah, Yas. Kita siapkan mulai hari ini saja, gimana? Lagian besok libur,” ucap Ara pada Yasti. Mengajaknya mempersiapkan keperluan dan kebutuhan untuk berkemah lusa nanti.

“Kesal gue, Ra!” gerutu Yasti.

“Kita tidak punya pilihan lain, Yas. Pengurangan poinnya cukup besar kalau tidak ikut," bujuknya pada Yasti.

Karena Ara tidak suka juga hal seperti ini dan terpaksa mengikutinya. Poin akan berkurang sebanyak sepuluh poin jika tidak mengikuti kegiatan kemah tersebut. Sementara, poin awal para murid baru yaitu lima belas poin. Jika mereka hanya tersisa lima poin, akan diberi peringatan pertama dan terakhir. Jika poin dibawah tiga, maka mereka akan langsung dikeluarkan tanpa pemberitahuan apa pun dan itu sebuah keputusan mutlak pihak sekolah.

“Ok, kalau begitu. Tapi kita pulang dulu ya. Gue mau mandi soalnya. Parah sekali ini, gua terlihat sangat kumel. Kok bisa lu tetap terlihat cantik seperti itu, Ra. Iri deh gue. Hiks," ucap Yasti saat melihat Ara masih terlihat segar dan cantik.

“Cantik kepala lu peyang! Gua juga kumel tahu, memang lu tidak lihat? Atau mau coba cium ketiak gua? Siapa tahu saja ada bau kecut asam, terus lu suka kan, hahaha,” balas Ara sembari meledek dan menyodorkan ketiaknya pada Yasti.

“Kambing lu, Ra. Tega sekali minta gua nyi . . . ,” belum Yasti selesai ngomong tiba-tiba Reas menghampiri Ara dan Yasti.

“Hai, kenapa belum pulang? Bagaimana tadi?” sapa Reas ramah pada Ara dan Yasti.

“Tskk!” decak Yasti tidak suka. Karena masih kesal jika mengingat kejadian sebelumnya. Itu karena Yasti adalah anak yang sedikit pendendam.

Melihat Yasti ketus tanpa memperdulikan Reass, Ara menyenggol sedikit lengannya. Setelah itu, barulah Yasti membalas sapaan Reas.

“Ha..haha.. Seru kok, Kak,” tawa canggungnya Ara yang tidak bisa ditutupi.

Menurut pendapat Ara ini tidaklah seru dan lebih terasa seperti di Neraka. Dari pagi sampai siang mereka hanya diminta untuk bersih-bersih, lalu olahraga tidak jelas dan kegiatan lainnya yang menguras tenaga.

“Sepertinya tidak. Wajah kalian tidak bisa berbohong. Maaf yah atas perlakuan Anggota Osis yang lain,” ucap Reas sekali lagi beserta permintaan maafnya.

“Tidak apa-apa, Kak. Sudah berlalu juga. Kami tidak mengambil hati lebih dari ini. Kejadian seperti ini bisa saja terjadi kok,” senyum ramah Ara pada Reas

“Baiklah, terima kasih yah," balas Reas ramah.

“Sama-sama, Kak,” ucap Ara.

“Tidak usah diambil hati, Kak. Dia orangnya memang seperti itu, hehehe. Tapi, anaknya baik kok,” ucap Ara sekali lagi saat melihat Reas menatap Yasti cemas. Karena terlihat jika Yasti masih merasa tidak adil atas perlakuan yang dia terima tadi.

“Oh, baik," Reas tidak lagi ingin memperpanjang soal Yasti. Karena ada yang lebih penting saat ini. Untuk tujuan itulah dia menghampiri keduanya.

"Lalu, boleh minta nomor telepon kamu tidak?” ucap Reas tiba-tiba. Niatnya mendekati mereka berdua tadi memang untuk meminta nomor ponsel Ara. Karena Reas tertarik dan menyukainya.

Ara yang tidak tahu harus merespon bagaimana hanya diam. Karena Reas yang meminta nomornya, sekaligus memberikan ponselnya pada Ara.

Sejenak Ara ragu untuk memberikan nomornya dan tidak tahu bagaimana cara menolaknya, tapi untunglah ada mereka, teman-teman yang lainnya, yang datang menghampiri. Lalu sengaja mengalihkan pandangannya kearah Finn yang memanggilnya cukup kencang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED