Bab 2

BARU hari pertama kerja tubuhnya sudah terasa tidak keruan. Bukan karena jumlah pekerjaan yang mematikan, melainkan karena stamina tubuhnya yang kurang.

Jeanne baru tiba kemarin di Jakarta. Dalam keadaan lelah sehabis perjalanan panjang, dia masih harus mengemasi barang-barang juga membersihkan tempat tinggal barunya. Kalau tahu bakal begini akhirnya, dia pasti pergi dari jauh-jauh hari saja.

Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah telanjur. Dengan tubuh lelah dia terpaksa menyeret kakinya untuk berangkat bekerja. Berkenalan dengan rekan kerja barunya yang untungnya tidak ada intimidasi serius dari mereka, karena Jeanne berasal dari kantor cabang.

Mereka bahkan langsung menyerukan pesta penyambutan nanti malam yang ingin sekali Jeanne tolak, tapi dia tidak mungkin bisa menolaknya, lantaran dialah bintang utama dalam perayaan itu.

J : Gue beneran mau balik cepet, terus bobok cantik, Bek!

J : Tapi kenapa masih ada pesta penyambutan segala macam, sih?

Jeanne mengeluh lagi pada kekasih bebek sawahnya yang ada di seberang sana. Walaupun dia sudah mengeluh seharian dan hanya dibalas dengan satu dua kata saja, nyatanya dia tetap mengulangi keluhannya tanpa jeda.

F : Sabar.

J : Iya, Bek. Kurang sabar apa gue coba? Punya pacar macam bebek sawah dari kutub aja gue bisa, apalagi cuma nahan capek setengah jam aja?

F : Niat banget.

J : Nggak terima, Bek?

F : Terima.

J : Syukurlah! Ntar gue pas balik sambil nyari cowok baru boleh, nggak?

F : Silakan!

J : Serius, nih?!

F : Canda.

J : Cih, kirain beneran boleh?

F : Mau nyoba macam-macam sama gue, Je?

Jeanne tersenyum tipis. Kemudian mengembuskan napas lega. Ternyata kekasihnya walau cuek bebek dan kadang keterlaluan jawabannya itu masih bisa peduli juga padanya.

J : Nggak, serem kalau lo lagi serius, gitu!

F : Pinter.

J : Izin ngilang dulu, ya, Paduka Bebek. Calon bini lo ini mau minum-minum sampai teler dulu.

F : Hati-hati.

Jeanne tersenyum membaca pesan itu. Inginnya sih menelepon dan bicara secara langsung, tapi si Fredy sibuknya kadang bisa sampai ngalahin CEO di perusahaannya sendiri. Dia bahkan membalas pesan Jeanne sambil mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan begitu.

Entah percaya atau tidak, tapi Fredy beneran sering sibuk sekali. Jeanne sudah pernah melihat kesibukannya berulang kali. Makanya dia suka heran sendiri.

F : Jaga diri!

Satu pesan tambahan itu membuat senyuman Jeanne makin lebar dan penat yang dirasakan tubuhnya dengan perlahan memudar. Satu perhatian cowok cuek itu benar-benar bisa melelehkan hati siapa pun. Termasuk Jeanne.

"Senyam-senyum mulu, lagi kesurupan lo?" Tantri, rekan kerja baru Jeanne langsung mengomentari tindakannya.

"Ini karena pacar gue. Tumben-tumbenan dia bisa perhatian gitu, padahal biasanya mah amit-amit!" cibir Jeanne.

Tantri mengernyitkan dahi sambil menatap Jeanne dengan tatapan seperti mengatakan, 'Pacar kayak gitu kok masih lo pertahanin?'

"Ganteng banget, ya, orangnya?" tanya Tantri hati-hati sambil mengerjapkan kedua matanya takjub. Dia cukup syok mengetahui seorang Jeanne yang cantik dan energik itu ternyata punya pacar yang cuek bebek.

"Lumayan, sih, tapi isi kantongnya beneran bikin ngiler." Jeanne nyengir dengan wajah tanpa dosa yang sukses membuat Tantri menjatuhkan kepalanya di atas meja.

"Gue nggak nyangka lo orangnya matre banget, Je! Sumpah!"

"Ya mau gimana, ya? Hidup di zaman sekarang itu kalau cowoknya nggak ada duit dan nggak mau kerja, terus dia mau modal apa? Modal tampang doang sama cinta? Emang tampang bisa bikin perut kenyang?! Emang cinta bisa bikin rumah mewah?"

"Real." Tantri juga setuju. Memang yang satu itu tidak bisa didebat oleh siapa pun termasuk dirinya. "Kira-kira gantengnya pacar lo sekelas siapa?" tanyanya, karena anak divisi mereka rerata memang punya tampang di atas rata-rata.

"Kalau anak satu divisi kita sih, mungkin masih sekelas sama si Govan kali, ya? Yang jelas dia lebih ganteng daripada CEO kita." Jeanne berkata dengan wajah tanpa dosa andalannya.

"Heh, Pak Alan maksud lo?" Tantri menegakkan tubuh dan langsung menatap Jeanne syok.

Sumpah ini si Jeanne mikir kalau Govan kelasnya ada di atas rata-rata CEO perusahaan yang jadi idaman banyak perempuan? SUMPAH?! Matanya si Jeanne nggak rabun, kan? Padahal CEO itu duitnya pasti lebih banyak daripada Govan yang anak departemen pemasaran seperti mereka.

"Iya, Alan si sad boy yang gagal nikah itu!" Jeanne tertawa tanpa dosa. "Udah jadian belum dia sama sekretarisnya? Katanya dia pernah selingkuh sama sekretarisnya dulu, kan?"

Tantri mengerjap dengan tatapan horor. Dia benar-benar syok mendengar berita itu keluar dari mulut seorang Jeanne. Lagian Jeanne tahu dari mana? Jeanne kan bekerja di kantor cabang yang berada di Bandung? Kenapa dia bisa tahu gosip CEO kantor pusat yang ada di Jakarta?

Belum sempat merespon apa-apa suara lain menyahut di antara percakapan mereka. "Sejak kapan kamu suka mencampuri urusan pribadi saya, Jeanne!"

Alan. Dengan wajah datar dan tatapan yang teramat mengancam serta mematikan. Keberadaannya saja sanggup membuat semua orang di ruangan itu tak berkutik. Bahkan Tantri yang sebelumnya hendak menyahuti ucapan Jeanne dan menanyakan kebenarannya jadi urung melakukannya.

Dia lebih takut dipecat oleh atasannya yang super duper galak di luar akal sehat itu. Sumpah, dulu si Risa pakai pelet apa sampai bisa menaklukan atasannya ini yang sadisnya tidak perlu ditanya lagi ini?

"Selamat sore, Pak Alan! Ada yang bisa saya bantu?" Jeanne dengan wajah tanpa dosa tengah tersenyum manis ke arah Alan yang sedang memelototinya.

Alan mengembuskan napas panjang. Percuma juga dimarahi, tidak akan mempan dan malah bikin dia jadi emosi sendiri. "Pekerjaan kamu bagaimana kabarnya?"

"Udah kelar, dong!" jawab Jeanne dengan bangganya.

Alan menyipitkan kedua matanya. "Yakin?"

Jeanne mengangguk mantap. "Saya kan baru masuk hari ini Pak. Jadi pekerjaan saya cuma sedikit. Ini mau cepat-cepat dikelarin juga karena temen-temen mau bikin pesta penyambutan gitu buat saya. Bapak mau ikutan, nggak?"

Tawaran itu sukses membuat seisi divisinya menarik napas berat. Pikiran mereka semua berkecamuk. Terutama soal Jeanne yang entah bagaimana bisa terlihat cukup akrab dengan atasan mereka yang garangnya bukan main itu.

"Oh, kalau begitu saya ikut."

"Heh?!" Jeanne tampak kaget.

Ini cuma basa-basi, ya?! Cuma basa-basi aja dan pasti udah kelihatan jelas banget, kan, ya? Kok dia bisa-bisanya nerima ajakan absurd Jeanne ini?

Bukan hanya Jeanne saja yang kaget, melainkan semua yang ada di sana. Mereka terlonjak dan refleks berteriak kaget mendengar jawaban Alan sebelumnya.

Alan menatap satu per satu karyawan kantornya dengan wajah tanpa ekspresi andalannya. "Apa ada larangan kalau saya tidak boleh ikut? Bukannya tadi saya sudah ditawari dengan jelas oleh teman kalian ini?"

Jeanne hanya tersenyum masam. Ekspresi wajahnya jelas-jelas sedang menunjukkan, 'Lo udah tahu kalau tawaran tadi cuma basa-basi, kenapa malah lo iyain, hah?'

Alan hanya mengangkat sebelah alis merespon isyarat Jeanne untuknya. Isyarat pasti yang mengatakan bahwa dia tidak peduli mau basa-basi atau tidak, itu bukan salah dan masalahnya.

Lagi pula, malam ini dia memang tidak punya kerjaan lain selain pulang ke apartemennya. Jadi tidak ada masalah jika dia akan ikut bergabung dengan pesta anak-anak dari divisi pemasaran.

Bab 3

JEANNE langsung berdiri karena Alan tak kunjung merevisi jawabannya tadi. Tanpa ragu apalagi merasa malu, Jeanne menarik tangan Alan dan memaksa pria itu untuk keluar dari ruangan divisi. Sekali pun kini mereka menjadi pusat perhatian, Jeanne sama sekali tidak peduli.

Begitu sampai luar, Jeanne langsung membawa Alan menuju tempat yang sepi. Dia memojokkan pria itu ke dinding lalu berbicara dengan nada menyebalkan seperti setiap kali dia bicara pada pria itu selama ini.

"Lo udah tahu kalau yang tadi cuma basa-basi aja, ngapain masih lo terima, sih! Bikin suasananya jadi nggak enak banget tahu!" omel Jeanne langsung.

Jeanne tidak takut dipecat, karena dia tahu pasti Alan bukan tipe CEO yang akan memecat pegawainya tanpa alasan jelas-semisal karena seorang pegawai yang telah membentak dan memarahinya habis-habisan-seperti itu.

Kalau Alan memang tipe CEO seperti itu, sudah sejak lama Jeanne hengkang dari perusahaan cabang, bukannya malah mendapat promosi dan dipindah ke perusahaan pusat seperti ini.

"Bukannya lo yang nawarin gue lebih dulu?" tanya Alan balik dengan wajah datar tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Lagian malam ini gue lagi senggang. Jadi gue bisa gabung sama kalian," lanjutnya serius.

"Aduh Pak CEO!" jerit Jeanne frustrasi. "Kalau Bapak jadi ikut, kita-kita mana ada yang berani keliaran di kelab? Lihat muka situ di ruangan aja udah bisa bikin semuanya kena serangan jantung!"

"Emang apa yang salah sama muka gue?" Alan memegangi wajahnya sendiri. "Perasaan muka gue masih ganteng, Je. Masih banyak yang muji kayak gitu akhir-akhir ini."

Jeanne menepuk jidatnya sendiri. "Auk ah, gelap banget ngomong sama lo! Lagian lo ngapain di ruangan kerja gue? Nggak biasanya CEO bisa mondar-mandir nggak jelas di divisi orang kayak gitu. Lagi kurang kerjaan ya, bos?"

"Hm." Alan memasang wajah berpikir. "Gue sebenarnya ada perlu sama direktur pemasaran. Dia udah bikin janji sama gue, tapi tiba-tiba aja nggak bisa dihubungi. Kurang ajar banget, kan, direktur lo itu?"

Jeanne menyipitkan kedua matanya. "Dia nggak ada di ruangannya, lho!"

"Serius?"

Jeanne mengangguk. "Tadi pagi waktu gue masuk dia masih ada, tapi abis itu dia keluar, gue nggak tahu dia pergi ke mana. Yang jelas dia pergi sama asistennya apa sekretarisnya, ya? Gue lupa masa!"

"Oh!" Alan hanya menggumam dengan tatapan yang tampak menyeramkan.

"Emang lo ada perlu apa sama dia? Jangan bilang lo mau ngelamar anak perawannya setelah gagal nikah dua kali sebelumnya?" tebak Jeanne.

Alan langsung memelototinya. "Gue nggak segila itu juga sampai mau nikahin bocah SMP. Lagian lo tahu dari mana kalau dia punya anak cewek?"

Jeanne memasang ekspresi tidak enak saat membalas kata-kata Alan. "Yah, tadi waktu kenalan sama gue, dia sempat nawarin anak sulungnya yang baru mau lulus kuliah tahun ini. Terus dia ceritain sekalian anak ceweknya ke gue."

"Ck, cewek mulut cabe rawit kayak lo gitu mau dijadiin mantu? Masih waras itu om-om satu!" decak Alan sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir.

"Waras banget, dong! Cewek cantik kayak gue gini kan limited edition!"

Alan memasang ekspresi menahan mual saat Jeanne mengatakannya dengan penuh percaya diri.

Hubungan mereka selama ini tergolong biasa saja. Setelah mengerjakan proyek pernikahan Risa dan Alva bersama-sama, mereka bisa disebut sebagai rekan atau teman. Walaupun tidak begitu dekat karena mereka lebih sering berdebat. Namun, bibir Jeanne yang suka bicara seenak jidat memang paling enak jika diajak bersilat.

"Lo baru pindah hari ini?" tanya Alan kemudian.

Alan tidak mendengar kabar adanya pertambahan personel dari kantor cabang. Namun, keberadaan Jeanne di sini jelas bukan karena perempuan itu ingin bermain-main di tempat ini.

"Gue pindah kemarin, kalau kerja emang baru hari ini. Kenapa? Lo nggak percaya kalau kerjaan gue selama ini bagus, makanya gue dimutasi ke sini, ya?" Jeanne menatap Alan penuh selidik.

"Gue cuma nggak denger kabarnya." Alan memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Mungkin udah ada beberapa perubahan terbaru yang belum sampai ke telinga gue akhir-akhir ini."

Jeanne menyipitkan kedua matanya dan menatap Alan dengan tatapan aneh. CEO bisa ketinggalan berita tentang perusahaannya, ini benar-benar sesuatu sekali. Memangnya dia tidak punya asisten pribadi? Apa sekretarisnya tidak bekerja sama sekali?

Walaupun Jeanne sangat penasaran, tapi dia sama sekali tidak ingin mencampuri pekerjaan Alan yang pastinya sangat sibuk sekali.

"Buat pesta perayaan kalian malam ini, kalau kalian emang mau ke kelab, gue bisa pinjemin card gue kalau lo mau," tawarnya tiba-tiba.

"Lo serius?" Jeanne menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sumpah si Alan mau meminjaminya kartu kelab miliknya?

"Ya, daripada nggak kepakai juga. Gue udah lama nggak pernah ke sana, jadi sekalian aja kalau lo sama anak-anak lain mau pergi, kan?" Alan mengeluarkan dompet dari balik saku celana hitamnya.

Saat dia membuka dompet hitam legam yang terlihat mewah itu, diam-diam Jeanne turut melirik isi dompetnya. Bagaimanapun juga dia cewek matre. Dia cukup penasaran berapa gaji Alan sebagai CEO kantor pusat yang besar ini tiap bulannya, jika gaji kekasihnya yang bekerja di perusahaan biasa saja bisa sampai puluhan juta dalam sebulan.

Alan menyadari lirikan itu dengan jelas, karena tatapan Jeanne sangat terang-terangan sekali. Cewek seperti Jeanne memang benar limited edition. Cantik, punya mulut pedas, blak-blakan dan anti manipulatif. Cewek sepertinya tidak akan bisa selingkuh, karena dia sama sekali tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari orang lain.

"Penasaran?" Alan mengambil card hitam miliknya, lalu dia berikan kepada Jeanne yang menerimanya dengan senyum lebar di bibirnya. "Masuknya ntar sama gue, biar cepet pemeriksaannya. Anak baru kayak lo pasti bakal makan waktu kalau mau diperiksa."

"Anak baru kayak gue gimana? Gue kan nggak pernah bawa senjata!" Jeanne menatapnya kesal.

Alan hanya tersenyum tipis meresponnya. "Kalau gitu gue balik dulu, masih ada banyak kerjaan yang menunggu."

"Iyain biar cepet ngilang." Jeanne meleletkan lidah, mengejek Alan yang hanya melambaikan sebelah tangan sembari melangkah menjauhinya.

Namun, sebelum sosok pria itu benar-benar hilang. Alan tiba-tiba saja berhenti dan berteriak dengan keras. "Oh ya gue lupa bilang, harga card-nya gue potong dari gaji lo secara berkala, ya?!"

"Hah, apa?!" Jeanne menatap card di tangannya. Warna hitam ini terlihat mengkilap dan agak berbeda dari kartu kelab pada umumnya. "Jangan bilang card ini yang harganya sampai puluhan juga itu?"

Jeanne mengerjap. Dia menatap ke arah kepergian Alan yang saat itu sedang tertawa sebelum sosoknya menghilang di balik lift yang menuju lantai atas.

Alan sengaja melakukannya. Dia sengaja menawari Jeanne dan memberikan card-nya, karena dia ingin memotong gaji Jeanne tiap bulannya.

Pria itu sangat tahu betul kalau Jeanne suka uang. Dia suka gaji yang besar. Lalu saat gajinya dipotong untuk melunasi hutang ....

"Dasar CEO keparat!" umpatnya sembari membanting kartu itu ke lantai, tapi kemudian dia memungutnya lagi karena sayang. Kartunya mahal.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED