"Mas, ini ATM kamu aku kembalikan" ujarku sembari menyerahkan sebuah kartu anjungan tunai mandiri miliknya yang selama ini diserahkan padaku untuk membiayai keperluan rumah tangga.
Setiap bulan tidak lebih dari satu juta rupiah sisa gajinya masuk ke dalam rekening itu untuk biaya hidup kami bertiga. Juga untuk keperluan ibu dan adiknya, Mira. Gadis berusia dua puluh tahun yang saat ini masih kuliah semester lima di sebuah perguruan tinggi swasta.
Setiap bulan semua uang itu kuberikan pada mertua. Kadang malah kutambahi karena aku merasa penghasilanku sendiri lebih dari cukup untuk biaya hidup kami sekeluarga.
Bagiku tak masalah memberi semua gaji suamiku pada ibunya karena beliau seorang janda yang dalam agama wajib disantuni, apalagi beliau masih harus menanggung hidup putri bungsunya yang sedang kuliah.
Pun beliau adalah mertuaku sendiri, jadi kupikir sudah seharusnya berbuat baik kepada wanita yang telah melahirkan Mas Arya ke dunia itu, meski seringkali ibunya protes mengapa hanya diberi satu juta rupiah saja sedangkan menurutnya gaji anaknya besar dan minta ditambahi yang tentu saja berasal dari penghasilanku menulis novel online.
Sayang, semua pengabdian itu tidak berarti apa-apa di mata Mas Arya, sehingga saat ini aku memutuskan mulai hari ini tak mau lagi ikut campur urusan keuangan suamiku itu. Biar saja ia kekurangan. Kalau itu terjadi, silakan mencari penambalnya sendiri.
Sudah cukup aku berkorban selama ini. Tak akan kuulangi lagi!
"Kenapa dikembalikan? Kamu gak butuh nafkah lagi? Oke kalau begitu. Biar kamu rasakan hidup tanpa uang. Biar kamu tahu cari uang itu gak gampang. Hidup sudah dijamin suami kok masih gak bersyukur!" ketusnya.
Lalu dengan kasar Mas Arya mengambil ATM dari tanganku dan menyimpannya dalam dompetnya.
Aku hanya mengulum senyum melihatnya.
"Oh ya, Mas. Sebentar lagi 'kan gajian Mas. Karena ATM sudah aku kembalikan, jadi mulai bulan depan Mas atur sendiri keuangan di rumah ini ya. Aku masak kalau ada yang dimasak. Kalau nggak, ya kita puasa dulu, oke?" ucapku sambil menahan perasaan tersayat dalam hati.
"Puasa? Apa maksud kamu? Ngapain puasa? Kamu pikir cuma kamu saja yang bisa mengatur keuangan rumah tangga? Mas juga bisa! Ibu apalagi! Jadi nggak usah berlebihan ngomongnya!" Mas Arya mencibirkan bibirnya dengan ekspresi mengejek.
Melihat ekspresinya itu aku hanya tersenyum tipis.
"Ya, siapa tahu aja Mas, soalnya selama ini Mas tahunya semua beres 'kan? Ya, udah aku mau keluar dulu ya, ada perlu ke minimarket sebelah. Masakan sudah aku masakin di meja makan. Kalau mau sarapan sebelum berangkat ke kantor, sarapan aja ya sendiri. Aku pergi dulu sebentar sama Via. Gak papa 'kan?"
Mas Arya hanya mengangguk acuh tak acuh.
Aku pun bergegas menyiapkan Via dan mengeluarkan motor maticku ke halaman. Tak ingin menemani dirinya sarapan pagi dan melayaninya seperti biasanya karena rasa sakit ini masih menggunung dalam dada.
Apalagi melihatnya begitu arogan dan tidak sedikitpun merasa menyesali perbuatannya telah berkhianat di belakangku, makin sebah saja rasanya hati ini.
Sengaja di tiga hari terakhir bulan ini, aku menghidangkan masakan enak kesukaan Mas Arya. Seperti tadi, beberapa masakan ala restoran mahal telah kuhidangkan dengan cepat. Ada ayam lada hitam, gurame asam manis, udang saus pedas dan salad buah serta sayur juga susu segar sebagai pelengkap.
Kelak jika ia sudah mengatur keuangan sendiri, ia pasti akan merasa heran bagaimana bisa dengan sisa gajinya yang tidak seberapa lagi itu, setiap hari aku bisa menghidangkan makanan enak kesukaannya, pun hingga akhir bulan seperti ini yang seringkali jadi momok menakutkan bagi kaum hawa bergelar isteri untuk tetap bisa menghidangkan makanan sehat di kala keuangan sudah semakin menipis pada keluarga.
Aku ingin ia merenung dan kapok dengan segala tingkahnya yang tidak tahu diri itu. Sudah dibantu istri tapi tidak sadar. Menyakitkan!
Tapi ya sudahlah. Biar saja ini menjadi pelajaran bagi hidupnya kelak, meski saat ia sadar dan menyesal nanti, mungkin aku sudah pergi jauh dan keluar dari hidupnya, tetapi setidaknya bisa menjadikan pelajaran hidup yang berharga untuknya.
Ya, sebenarnya ingin sekali aku pulang ke rumah orang tua untuk mengobati luka hati dan menenangkan diri, tetapi aku tak ingin orang tuaku jadi curiga dan bertanya-tanya ada apa dengan rumah tanggaku saat ini.
Lagipula aku ingin tahu saat aku sudah meletakkan tanggung jawab yang seharusnya ia emban selama ini kembali padanya, bagaimana ia akan menafkahi anak istri dan ibu serta adiknya dengan sisa gaji yang hanya satu juta rupiah itu ya?
Apakah ia masih bisa tertawa dan tersenyum bahkan bersikap sombong dan arogan seperti ini atau tidak ya?
Kita lihat saja nanti!
Hari ini tanggal satu bertepatan hari Senin. Hari dimulainya aktivitas kantor setelah dua hari libur kerja.
Meski semalaman kulihat Mas Arya tidak tidur, asyik video call dengan istri mudanya yang kudengar-dengar bernama Maya tanpa peduli sakitnya hatiku mendengar kemesraan mereka, tetapi pagi-pagi ini wajahnya kulihat begitu sumringah. Tampak sangat bercahaya. Mungkin karena hari ini tanggal satu. Tanggal gajian.
Dari percakapan mereka berdua di kamar sebelah tadi malam yang sempat aku curi dengar, Mas Arya mengatakan akan memberikan uang gajinya itu pada istri mudanya itu.
Tak tanggung-tanggung, ATM yang kemarin kukembalikan padanya katanya juga akan diberikan pada wanita itu agar Maya juga bisa merasakan enaknya menjadi seorang Nyonya Arya. Bisa ke salon, ke mall, belanja dan jalan-jalan di hari libur seperti yang biasa kulakukan. Begitu yang aku dengar dari percakapan mereka.
Entahlah, aku merasa Mas Arya memang sengaja bicara dengan suara keras tanpa rem, karena mungkin ingin membuatku cemburu dan menyesali keputusanku mengembalikan ATM itu kepadanya.
Tapi tidak! Jangankan menyesal, sedih saja tidak. Justru saat ini aku merasa sangat plong sudah bebas dari tanggungjawab berat yang sebenarnya selama ini kupikul diam-diam atas nama iba dan sayang pada suami sendiri. Ingin ia bahagia dan tidak kalut memikirkan kebutuhan hidup yang semakin melambung sementara gajinya sudah habis untuk membayar cicilan hutang. Tapi Mas Arya tak pernah mensyukuri itu.
"An, kamu gak masak?" tanya Mas Arya saat membuka tudung saji dan mendapati isinya kosong karena mulai pagi ini aku memang berjanji tidak akan masak kecuali ia belanja dan menyiapkan bahan untuk dimasak.
"ATM 'kan sudah aku kembalikan. Kamu lah belanja, biar nanti aku masakin," sahutku singkat sembari membuka ponsel, mengecek jumlah pencapaian terakhir bulan lalu yang biasanya akan ditransfer ke rekening penulis beberapa hari lagi oleh bagian akunting platform tersebut.
Jumlah pencapaian bulan lalu meningkat cukup drastis. Aku bahkan berkesempatan masuk dalam jajaran sepuluh besar peraih penghasilan tertinggi bulan ini di platform bersangkutan. Suatu prestasi yang tidak kusangka-sangka akan terjadi dalam karier kepenulisan ku yang patut disyukuri.
Mas Arya tidak boleh tahu itu!
"Oh gitu? Jadi karena ATM sudah kamu kembalikan, terus hari ini juga tanggal satu, jadi kamu nggak mau masak? Sisa uang bulan kemarin kamu simpan? Buat apa? Buat jalan-jalan? Ke salon? Shopping? Ya ... nikmati saja kesempatan terakhir kamu senang-senang karena besok gak akan bisa lagi!" ketus Mas Arya sembari tersenyum sinis.
Aku hanya menahan senyum dan tawa sekaligus terluka di dalam hati.
Ya, Tuhan. Bagaimana bisa tidak tahu dirinya suamiku ini. Dikira sisa gaji satu juta itu besar sekali. Bisa dipergunakan untuk biaya makan enak selama sebulan, ngasih ibu dan adiknya selama sebulan, bayar kontrakan, listrik dan WiFi, serta jalan-jalan dan shoping sepuasnya setiap hari? Geleng-geleng kepala aku dibuatnya.
Aku memilih diam dan tak menanggapi ucapannya. Memilih masuk ke kamar karena sebentar lagi setelah ia pergi ke kantor aku juga akan mengajak putriku keluar, cari sarapan di luar.
Biarlah untuk sementara ini aku tidak masak dulu di rumah. Aku tak mau Mas Arya tahu aku punya simpanan uang, apalagi kembali makan hasil jerih payahku menulis. No. Tidak ada lagi belas kasihan untuk orang yang tidak pantas dikasihani!
Beberapa saat kemudian Mas Arya keluar rumah, tentu saja dengan mobil kesayangannya yang dibeli dari hasil pinjam bank.
Sepintas lalu suamiku itu memang terlihat kaya. Tongkrongannya mobil baru. Penampilannya pun selalu rapi dan wangi dengan seragam kantor yang membuat silau banyak orang yang mengidamkan bekerja di tempat bersih dan nyaman di perkantoran.
Apalagi sudah jamak anggapan di masyarakat, jadi pegawai negeri itu hidupnya emak dan terjamin. Kerja gak kerja gaji tetap full dibayarkan. Ada jaminan masa tua dan lain-lain hal menggiurkan yang membuat banyak orang tua menginginkan anaknya bekerja di sana.
Mereka tidak tahu, kalau jadi pegawai negeri itu sebuah pengabdian. Jangan berharap kaya karena janji semula bekerja adalah demi mengabdi pada negara, memajukan negeri dengan semangat dan etos kerja. Bukan dengan khayalan dan angan-angan seperti yang Mas Arya lakukan.
Tebar pesona dan berharap kaya dengan menyetorkan SK pengangkatan ke bank, sehingga sisa gaji tidak lagi mencukupi.
Namun, alih-alih bersyukur dibantu istri, malah sombong dan arogan tidak karuan.
Sekarang tunggu saja tiba masanya suamiku itu gigit jari. Pusing tujuh keliling mencukupi keperluan sehari-hari dengan uang satu juta rupiah di tangannya.
Apakah cukup atau harus gali lobang tutup lobang untuk mencukupinya? Apalagi sekarang sudah ada mulut satu lagi yang harus diberi nafkah dan mungkin dimanjakan dengan materi seperti janji-janji Mas Arya malam tadi saat video call dengan istri diam-diamnya itu.
Istri yang merasa begitu surprise saat diberi tahu akan diberi kartu ATM yang berisi gaji bulanan suamiku itu.
Ia tak tahu bahwa selama ini ada istri lain yakni aku yang pusing tujuh keliling cara membagi uang sebesar itu untuk mencukupi keperluan rumah tangga kami yang banyak hingga harus merogoh kocek sendiri untuk menambalnya.
Sekarang apakah istri diam-diamnya Mas Arya itu akan melakukan hal yang sama sepertiku atau justru akan mengeluh dan minta dikembalikan ke pangkuan orang tua karena tak sanggup lagi harus kali-kali sisa gaji yang tidak seberapa lagi itu?
Aku pun ingin tahu.