Bab 2

Semua berawal ketika dua bulan lalu Alisha mengiyakan ajakan dari sang kekasih untuk merayakan kelulusannya di salah satu villa milik keluarga Dwisastro yang ada di puncak Bogor. Tak hanya berdua, tapi dengan beberapa teman dekat Arya juga. Sekitar tiga pasang sahabat Arya yang mengajak pasangannya masing-masing dalam acara dadakan itu.

"Kamu sering ngadain party-party gini ya, Mas?" tanya Alisha begitu Arya mendekat setelah kalah main billiards melawan Rakha.

"Nggak sering sih, sesekali aja kalau ada moment special. Wisuda aku kan special," jawab Arya menerima uluran susu cokelat hangat dari kekasihnya. "Kemarin kan udah ngerayain wisuda sama keluarga, naah kalau hari ini giliran sama bocah-bocah itu." Arya mengendik pada Rakha dan Dimas, dua temannya yang masih asik melanjutkan permainan billiard. Sedang seorang lainnya sedang bergurau dengan kekasihnya.

"Ngerayain berdua sama kamu belum juga kan? sibuk belajar terus sih kamunya." Arya mencubit pipi kanan kekasihnya.

"Ya harus dong, biar nanti lulusnya tepat waktu, nggak molor kayak Mas Arya," jawab Alisha terkikik pelan.

Selain harus lulus tepat waktu, Alisha juga ingin menunjukkan pada sang ayah dan kakak satu-satunya kalau ia bisa dibanggakan meskipun bersikukuh kuliah di luar kota dan jauh dari mereka. Alisha ingin menghapus predikat gadis manja kesayangan yang selalu dikekang ayahnya karena tak mampu hidup secara mandiri.

Padahal sebenarnya hal itu sangatlah wajar terjadi. Alisha adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, Airlangga, kakak lelakinya sudah menikah dan hidup terpisah meski masih terbilang dekat dengan rumah kedua orang tuanya. Sedangkan sang ibu, sudah menghembuskan napas terakhir dua tahun silam karena menyerah dengan penyakit diabetes yang sudah lama menyerang tubuhnya.

"Iya, bener. Jangan ditiru bagian yang molornya ya. Mahasiswi rajin dan serba sempurna kayak kamu harusnya lulus tepat waktu dengan predikat terbaik, jangan kebanyakan bolos kayak aku." Arya tergelak lantas mengacak rambut Alisha.

Arya memang terbilang malas dan mengulur waktu saat menempuh kuliah. Terlalu sering dimanja membuat pemuda itu kerap kali seenak hati saat menjalani studi. Malah dengan santinya lebih sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong dengan teman-temannya yang sudah lulus mendahului dirinya. Sampai di satu titik, kedua orang tuanya mulai geram dan menarik separuh dari fasilitas mewah yang selalu ia terima.

"Jangan mentang-mentang udah dijamin pegang Galeea, kamu malah sepelekan kuliah kayak gini, Dek." Arya teringat sangat sang ibu yang mendadak mengomel saat mendapat lapiran dari asiaten piribadinya tentang kenakalan putra bungsunya.

"Aku nggak pernah sepelekan, Ma. Dosen-dosen itu aja yang nggak ada belas kasih sama sekali kalau ngasih tugas." Arya tak suka disalahkan, jadi ia tuduh saja kalau dosen-dosennya itu yang kurang mumpuni dalam memberi materi.

“Kamu aja yang malas, Dek. Jangan sampe mama dapat laporan dari Ghidan kalau kamu asik pacaran mulu sampe kuliah keteteran! Kalau tahun depan belum lulus juga, mama hapus nama kamu dari kartu keluarga!” Salah satu ancaman Hanami yang membuat Arya patuh seketika.

Ghidan, ajudan yang selama ini mengikutinya dari jauh memang orang kepercayaan Hanami. Tak ayal, kegiatan Arya yang sering berganti kekasih dari satu gadis ke gadis lainnya sering bocor ke telinga sang mama. Syukurlah tak lama setelahnya Ghidan diperintahkan untuk mengawal Irawan, kakak keduanya, sehingga mau tak mau Arya memilki ajudan baru yang bisa ia sogok dan ancam sesuka hati agar hanya patuh padanya saja.

Namanya Yoshi, pemuda berkulit gelap yang usianya hanya terpaut tiga tahun di atas Arya. Bisa jadi karena jarak usia yang tak terlalu jauh itu pulalah, ia dan Yoshi bisa lebih akrab layaknya teman.

“Sampe lo bilang ke nyokap tentang hubungan gue sama Alisha, gue jamin kerjaan lo yang sekarang tinggal kenangan, jangan lupakan juga kalau elo bakalan gue tuntut ratusan juta karena penyebaran informasi pribadi.” Arya mulai memainkan perannya saat pertama kali Yoshi tahu tentang hubungan dekatnya dengan Alisha. Gadis manis nan lugu yang ia kenal lewat Marissa, teman satu angkatan yang menjadi kekasih Henry. “Dari sini paham ka—”

“Emang dibolehin gitu sama orang tua Mas Arya?” lamunan Arya pecah saat suara Alisha kembali mengalun di indera pendengarannya.

“Eh, gimana-gimana?”

“Emang sama orang tua Mas Arya dibolehin gitu ngadain acara gini di villanya?”

Alisha sama sekali tak tahu menahu perihal latar belakang keluarga Arya yang tersohor di kalangan pebinis tanah air. Gadis itu hanya tahu kalau kekasihnya itu berasal dari kalangan berada yang disegani di kampus mereka.

“Astaga, Sha. Aku udah gedhe lho ini, hampir 24 tahun. Ya kali apa-apa masih ijin sama orang tua kayak anak balita. Asalkan mereka tau aku aman dan nggak aneh-aneh, semuanya sih aman.” Arya menjeda kalimatnya ketika menandaskan cokelat hangat di tangannya. "Lagi pula ya, kita tuh perlu lebih banyak menghabiskan waktu berdua kan, Sha? Beberapa bulan lagi aku terbang ke New York, tadi pagi kamu lihat sendiri gimana hasilnya. Aku berhasil lolos S2 di NYU."

Alisha mengangguk pelan seraya mengeratkan tautan jemarinya di tangan Arya. "LDR-an dong kita ya… duuh, berat kayaknya, Mas," seru gadis itu lirih, "baru juga jalan bareng berapa bulan udah ditinggalin aja aku."

"Nggak ditinggalin ah, cuma jarang ketemu aja nanti. Akan aku usahakan tiap beberapa bulan balik ke Indo biar kita bisa ketemu." Semudah itu Arya mengucap janji yang langsung dihadiahi lengkungan lebar di bibir merah muda kekasihnya.

"Janji nih?!" Alisha mengangkat jari kelingking. “New York ke Jakarta jauh lho, bukan kayak Jakarta –Bandung.”

"Apa sih yang nggak buat kamu, Sha. Terus, apaan deh ini, janji kelingking tuh kayak anak SD.” Arya malah terkikik melihat tingkah kekasihnya yang kekanakan dan cenderung menggemaskan. “Kalau udah segede kita, janjinya tuh kayak gini.."

Tanpa basa-basi Arya langsung menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir mungil Alisha. Membuat gadis itu terkesiap dan merona seketika. Apalagi setelah mendengar sorak sorai dari teman-teman Arya yang masih ada di sekitarnya.

"Woii, kamar kosongnya banyak kali!" teriak Rakha dan Henry semakin membuat Alisha malu dan salah tingkah.

"Mas ih," Alisha sontak mendorong dada Arya agar sedikit menjauh.

"Sorry, sorry … sampe lupa sih kalau masih ada-ada di sini," gelak Arya langsung pecah juga.

"Udah ah, aku mau ke kamar dulu. Ngantuk banget."

"Masih jam segini, Sha," cegah Arya setelah melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Beneran ngantuk atau malu sama anak-anak tengil itu? nggak usah didengerin mereka," lanjut Arya menahan senyum saat melihat pipi Alisha semakin merah bak tomat masak.

"Dingin banget, Mas. Dari pada aku beku cuma jadi penonton billiard di sini mending aku ke kamar aja sama Mbak Marissa." Sejak tiba di villa kemarin sore, Alisha memang berpasangan dengan Marissa menempati kamar di lantai atas. Sedangkan dua gadis lainnya menampati kamar tamu di lantai bawah.

“Paling Marissa masih sibuk pacaran sama Henry tuh,” Arya melirik Henry yang berjalan menghampiri Marissa di teras sebelah.

“Nggak apa-apa, aku tunggu di kamar aja,” pungkas Alisha langsung melesat pergi dari hadapan Arya. Memang ia menikmati ciuman singkat dengan kekasihnya, tapi tidak dengan ledekan dan canda tawa dari sahabat-sahabat Arya. Menurutnya itu adalah hal yang sangat memalukan.

Melihat kekasihnya memilih kabur karena malu Arya hanya bisa tergelak kecil. Baru kali ini ia berhubungan dengan gadis cantik yang selugu Alisha. Kekasih-kekasihnya yang terdahulu malah bisa dibilang lebih ‘berani’ memulai kontak fisik dengannya. Alisha ini satu-satunya gadis yang mudah sekali merasa salah tingkah dan merona.

Alisha yang sudah sampai di kamarnya, memilih langsung merebahkan diri di tepian tempat tidur. Tak berniat menunggu Marissa, gadis itu memilih memejamkan mata demi menjemput lelap. Hingga menjelang tengah malam, ia merasakan ranjang yang ia tempati memantul pelan.

‘Itu pasti Marissa.’ Alisha masih berat membuka mata hanya untuk memastikan siapa.

Namun ternyata ia salah terka begitu merasakan lengan kekar yang dengan pelan melingkari perutnya dari belakang. Ini jelas bukan lengan Marissa, melainkan lengan milik prianya. Arya.

***

Bab 3

Semula, Arya tak ingin melakukan apa-apa selain memejamkan mata dan terlelap di sebelah Alisha. Namun entah setan dari mana yang datang dan menarik tangannya hingga tergoda untuk memeluk Alisha dari belakang dan menemukan kehangatan yang begitu nyata di sana. Semua gara-gara Rakha yang seenak jidatnya saja membawa Marissa tidur di kamar yang awalnya ia tempati dengan sahabatnya itu. Arya tak mau digulung dingin sepanjang malam, jadi ya … tentu saja ia memilih tidur di kamar Alisha yang masih luas dari pada harus pegal-pegal jika tidur di sofa.

“Ma- Mas…”

Seharusnya, suara Alisha terdengar biasa saja kan? tapi berkat konspirasi di antara teriakan setan di kepala Arya, bercampur dengan udara dingin, temaram ruangan, juga tubuh yang mendadak butuh kehangatan, suara Alisha yang seharusnya biasa saja itu mendadak menjadi godaan terbesar yang membuat pemuda itu gelisah.

“Kamu kok di sini sih, Mas?” Alisha berbalik sehingga posisinya terlentang. Matanya yang masih sayu karena mengantuk justru terlihat memukau dan dengna cepat menghipnotis Arya.

Terkejut dengan pergerakan Alisha, Arya menarik tangannya yang tadi melingkari tubuh kekasihnya. “Sorry ya, jadi ganggu tidur kamu. Tapi Rakha bawa Marissa ke kamar kami, jadi yaa … aku butuh tempat lain untuk istirahat malam ini.” Arya tak asal beralasan, dia memang mengatakan yang sebenarnya terjadi.

“Hmm, boleh kan aku tidur di sini malam ini aja?” tanya Arya dengan suara sedikit bergetar. “Kamu nggak mungkin tega kan nyuruh aku tidur di sofa depan?”

Masih dalam keadaan pening karena terbangun tiba-tiba, Alisa memaksakan senyumnya. “Ini kan villamu, Mas. Terserah Mas Arya sih mau tidur di mana,” jawabnya lalu kembali memejamkan mata.

“Buruan tidur lagi gih, udah malem banget ini.” Arya menarik selimut lebar yang ada di batas lutut hingga menutupi batas leher kekasihnya. Mencegah Alisha dari sergapan udara yang semakin malam semakin dingin.

“Hmm, Mas juga buruan tidur gih, besok kan kita harus bangun pagi banget kalau mau keliling ke kebun teh.”

Entah karena Alisha masih belum sepenuhnya terjaga atau menganggap sosok Arya yang di depannya saat ini hanya pantulan mimpi semata. Karena ia seakan tak peduli kalau sekarang ia justru meringkuk ke arah yang salah. Bukannya membelakangi Arya, Alisha justru dengan berani menghadap Arya dan mendekatkan wajahnya ke dada sang kekasih. Meringkuk kedinginan bak seorang bayi mungil yang mencari kehangatan ibunya.

“Sha,” lirih Arya mendadak kaku saat Alisha yang masih menutup mata kian mendesak tubuhnya semakin rapat.

“Hmm ….”Gadis itu bahkan hanya bergumam pelan.

“Ka- ka- kamu kedinginan, Sha?” Arya menelan ludah susah payah. Gadis dalam dekapannya ini sungguh menjadi cobaan yang sangat nyata.

“Hu umm, villa di puncak gini harusnya punya penghangat ruangan.” Kalimat Alisha lebih terdengar seperti seseorang yang sedang mengigau. Apalagi jika melihat wajah polosnya ketika tidur seperti ini.

Arya terkekeh pelan karena gemas dengan kelakuan Alisha yang baru kali ini ia lihat secara langsung. “Mau dibikin hangat nih ceritanya?”

“Huu umm,” Alisha mengangguk pelan masih setia merapatkan kelopak mata. “Ambilin selimut lagi, Mas.”

“Ngapain pake selimut lagi, pake yang lain.” Arya memberanikan diri mengusap punggung Alisha naik turun beraturan. Gerakan sederhana yang justru dengan cepat mengambil alih hasrat yang sedari tadi ia tekan kuat-kuat.

“Hmmm, terserah,” gumam Alisha terdengar tak begitu jelas di telinga Arya.

Namun anggukan pelan gadis itu diartikan sebagai persetujuan oleh pria di depannya. Hingga hanya dalam hitungan detik, Arya menundukkan wajah hingga sangat dekat dengan wajah polos kekasihnya. Pun lengan kekarnya kini semakin menarik tubuh Alisha agar semakin erat padanya. Arya sadar apa yang ia inginkan adalah langkah awal menuju kenkmatan sesaat yang berujung dosa. Namun apa dikata, iblis dalam kepalanya mulai menebar racun, racun yang bisa saja membuat Arya gila jika tak melanjutkan hasrat terlarangnya.

Dengan hati-hati ia belai pipi halus sang kekasih. Membuat pipi mulus itu mengeluarkan semburat merah muda yang kian menggoda.

“Mas,” lenguh Alisha mulai terlena. Gadis itu berpikir ini hanya bunga tidur semata, karena Arya sangat jarang memeluknya begitu erat sampai-sampai ia merasakan gelenyar aneh seperti ini.

“Boleh ya, Sha? Ak- ak- aku, pasti tanggung jawab kok, ujung hubungan kita pasti akan menikah kan? Ka- ka- kamu nggak perlu cemas ya…” Pria dan segala janji buayanya. Seharusnya Alisha harus terjaga sepenuhnya dan mulai waspada. Bukan malah mengangguk lagi dan memberi celah pada godaan hasrat yang kini mulai memeluk keduanya hingga tak kuasa mengelak penyatuan yang membelenggu mereka.

“Sakit, Sha?” tanya Arya dengan napas putus-putus. Pemuda itu dilanda cemas tatkala melihat Alisha yang meringis di bawah naungannya.

“Eng- enggak, Mas.” Alisha sempat terbelak untuk beberapa detik ketika benda asing memasukinya dengan hentakan pelan. Namun sejurus kemudia ia menitikkan air mata, karena tersadar mudah menyerah hingga terjerat dosa. Tangis lirihnya tak bisa ia artikan entah untuk kesakitan atau penyesalan tiada guna. Atau bisa jadi, Alisha memang menangisi keduanya, juga merutuki keputusan dangkal yang mudah luluh dengan rayuan kekasih pujaannya.

“Aku akan tanggung jawab, Sha. Percaya ya,” bisik Arya di sela-sela amukan gairah. Janji sebatas janji yang hanya terucap di atas nafsu birahi. Janji yang nyatanya tak bisa ia penuhi di beberapa waktu setelah kejadian yang sempat ia anggap mimpi ini.

***

“Mas, semalam itu…” Alisha menggigiti bibir bawahnya salah tingkah ketika terbangun di pagi hari. Kejadian semalam itu bukanlah mimpi. Karena nyeri yang menyerang bagian bawah tubuhnya terasa begitu nyata hingga ia tak berani bergerak kemana-mana selain bersandar di sandaran ranjang dengan Arya yang ada di sampingnya.

“Maaf, Sha. Semalam … aku berengsek banget ya, aku salah karena nggak bisa nahan diri.” Arya menoleh pada sang kekasih yang kini menunduk dalam sambil menautkan jemari lentiknya. “Ka- kamu … hmmm, kamu nggak sedang masa subur kan?”

Pertanyaan macam apa itu? Alisha bingung harus menanggapi bagaimana.

“Semalam itu aku yang salah, tapi … kita sama-sama terbawa suasana. Jadi…” Arya menggantung kalimatnya lalu menggenggam telapak tangan Alisha yang terasa dingin di kulitnya.

Alisha menegakkan pandangan lalu mengangguk cepat. “Ak- aku nggak tau, sedang masa subur atau enggak. Karena jadwal bulananku nggak pernah rutin, Mas,” jawabnya tanpa pikir panjang. Padahal dalam hati kecilnya ia paham ke arah mana pertanyaan itu dilontarkan Arya.

“Hmm, semalam itu aku juga ikut salah, Mas.” Alisha kembali menambahkan. “Andai aku sedikit berkeras, seharusnya aku masih bisa menjaga apa yang seharunya aku jaga sebagai seorang perempuan baik-baik.”

Arya menggeleng pelan. Hatinya mencelos melihat raut wajah ketakutan bercampur khawatir yang ditampilkan kekasihnya. “Kamu perempuan baik-baik, Sha. Kamu perempuan baik-baik,” serunya memeluk Alisha. Ia tak ingin Alisha merasak dirinyalah yang paling bersalah.

“Maafin aku ya, aku yang salah, aku yang berengsek!” Arya memohon setulus hati. “Aku janji hal ini nggak akan terulang lagi. Aku janji, nggak akan menempatkan kamu di situasi serba salah seperti ini lagi, Sha. Please jangan nangis.”

“Aku takut, Mas.” Alisha mencoba sekuat tenaga menahan isak tangisnya. “Ak- aku udah ngecewaian ayah sama Mas Angga, juga … mendiang bunda.” Tangis pilunya justru semakin menjadi tatkala bayangan keluarga tercinta lewat di benaknya.

Pasti ayahnya terpukul jika mengetahui anak gadis kesayangannya lalai menjaga diri. Airlangga pasti akan kecewa jika mengetahui adik tersayangnya tak kuasa menolak rayuan kekasihnya. Mendiang bundanya pasti akan menangis juga melihat kelakuannya dari atas sana. Astaga … tangis Alisha semakin menjadi saja. Lalu setelahnya air matanya habis ia bisa apa? Tidak ada. Karena semua yang sudah terkoyak tak bisa dikembalikan seperti semula.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED